Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Transformasi Pola Pengasuhan Santri: Studi Kasus Penerapan Religious Authoritative Parenting di Pesantren Islam Hidayatunnajah Dessy Wahyuni; Suparto
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 3 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v3i3.1376

Abstract

Pengasuhan di lingkungan pesantren memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter santri secara holistik, baik secara spiritual, emosional, maupun sosial. Namun, masih banyak pesantren di Indonesia yang menerapkan pola pengasuhan otoriter yang minim dialog dan kurang responsif terhadap kebutuhan psikologis santri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji transformasi pola pengasuhan santri di Pesantren Islam Hidayatunnajah dari pendekatan otoriter menuju Religious Authoritative Parenting, serta menilai efektivitas dan tantangannya dalam membangun relasi pengasuhan yang seimbang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Religious Authoritative Parenting mampu menciptakan kedekatan emosional, meningkatkan kedisiplinan berbasis kesadaran, serta membentuk iklim pengasuhan yang lebih dialogis dan religius. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa model pengasuhan berbasis ketegasan dan empati sangat relevan untuk diterapkan dalam sistem pesantren, serta mendukung kebijakan nasional tentang pengasuhan ramah anak berbasis nilai-nilai Islam
Analisis Kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar, Upaya Pemerintah Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia Ahmad Sulaeman Nagib Ridlwan; Suparto
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 2 No 1 (2025): 2025
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v2i1.300

Abstract

Perubahan kurikulum di Indonesia merupakan respons terhadap dinamika sosial dan tantangan global yang memengaruhi mutu pendidikan nasional. Salah satu reformasi terkini adalah penerapan Kurikulum Merdeka yang dirancang untuk memberikan keleluasaan pembelajaran sesuai konteks lokal dan kebutuhan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis arah kebijakan Kurikulum Merdeka dan strategi implementasinya sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur terhadap sumber-sumber ilmiah, dokumen kebijakan, serta artikel akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran berbasis proyek, penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila, fleksibilitas bagi sekolah, serta pemanfaatan teknologi digital. Kendala utama dalam penerapan kurikulum ini meliputi kesiapan guru, keterbatasan infrastruktur, dan ketimpangan mutu pendidikan antarwilayah. Implikasi dari temuan ini menunjukkan perlunya kebijakan yang konsisten, dukungan pelatihan, serta kolaborasi lintas sektor guna memastikan keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka secara merata dan berkelanjutan
Clause structure and distribution changes: A translation analysis of adjective clauses in the kite runner Dewi, Rika Erlin; Suparto
Communications in Humanities and Social Sciences Vol. 5 No. 1 (2025): CHSS
Publisher : Komunitas Ilmuwan dan Profesional Muslim Indonesia (KIPMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21924/chss.5.1.2025.89

Abstract

This study analyzes the translation of English adjective clauses into Indonesian in The Kite Runner by Hosseini (2003) and its translation by Nugrahani (2008). Using Chesterman's (2000) translation strategies framework, this descriptive analytical study explores how syntactic, semantic, and pragmatic translation strategies are applied to adapt complex English grammatical structures to Indonesian. The study focuses on identifying the strategies employed—such as literal translation, transposition, unit-shift, synonymy, antonymy, and cultural adaptation—and evaluating their effectiveness in preserving the meaning of the source text while ensuring accuracy, readability, and fluency in the target text. The findings show that syntactic strategies, including literal translation and transposition, were commonly used to accommodate the structural differences between the two languages, while semantic and pragmatic strategies were employed to enhance readability and cultural relevance. The quality of the translation was assessed using Nida and Taber’s (1982) principles of dynamic equivalence, with high ratings in accuracy and readability. This study contributes to translation practice by offering insights into effective strategies for translating adjective clauses across languages with divergent grammatical rules and suggests directions for future research on clause translation in various genres.
Gerakan Dakwah Organisasi MUI Melalui Fatwa Muhammad Farid Abi Ardiansyah; Suparto
Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu Vol. 2 No. 11 (2024): GJMI - NOVEMBER
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjmi.v2i11.1092

Abstract

MUI adalah sebagai suatu studi penelitian dalam sistem fatwa fatwa yang bermaslahatan dengan Islam, studi ini berusaha mempelajari sifat sifat fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari dua tingkat analisis: perumusannya secara metodologi dan lingkungan sosial politik dan kebudayaan yang mengitarinya. Sehingga terbukti bahwa perumusan fatwa fatwa MUI senantiasa terikat oleh beberapa faktor yang sebagainya bersifat politik. Oleh karena itu masyarakat berharap ulama-ulama yang berada di suatu lembaga keislaman yaitu MUI harus lebih memperhatikan lagi tentang keagamaan agar masyarakat lebih efektif dalam memahaminya, meningkatnya kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika komunikasi dakwah MUI sebagai pedoman masyarakat dalam meningkatkan kualitas pemahaman tentang keagamaan agar menjadi suatu pemahaman yang baik pada masyarakat agar tidak terjerumus kepada jalan kesesatan. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini mengungkapkan pentingnya pemahaman tentang ajaran Islam kepada masyarakat minoritas dan awam akan keislaman.
Three Tier Test Diagnostik untuk Mengidentifikasi Kategori Miskonsepsi Siswa pada Materi Statistika Fajri, Chusshila; Yanti, Aning Wida; Suparto; Supranoto
Polinomial : Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : Papanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56916/jp.v4i4.2738

Abstract

This study aims to identify misconceptions among 10th grade students at MAN 1 Lamongan regarding statistics, particularly the concept of data centralization. The study uses a qualitative descriptive method with a sample of 30 students selected through random sampling. The instrument is a three-tier diagnostic test consisting of five items. The test not only assesses correct or incorrect answers but also evaluates students' reasoning and level of confidence. Misconception indicators were analyzed based on a combination of answers at three levels, resulting in the following categories: understanding the concept, misconception, guessing, lucky guess, and lack of knowledge. The level of misconception was then classified into low (0%-30%), medium (31%-60%), and high (61%-100%). The results of the study show that students' misconceptions are in the moderate category, namely 58%, particularly in the concept of calculating data values based on average values. This is influenced by a lack of understanding of the meaning of the concept of average and the minimal variation in contextual questions given by teachers. The three-tier test instrument has been proven to be able to identify specific categories of misconceptions, so that it can be used as a reference for teachers in designing more appropriate learning strategies that are oriented towards conceptual understanding.
Resistensi Dan Adaptasi Gerakan Dakwah Persis Di Tengah Tantangan Modernitas Yoga Agus Yulianto; Suparto
Journal of Religion and Social Community | E-ISSN : 3064-0326 Vol. 2 No. 2 (2025): Oktober - Desember
Publisher : GLOBAL SCIENTS PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika Persatuan Islam (Persis) sebagai gerakan sosial-keagamaan modernis yang bertahan lebih dari satu abad melalui dialektika antara resistensi dan adaptasi. Dari aspek teologis, resistensi Persis diwujudkan melalui kritik terhadap praktik keagamaan tradisional seperti tahlilan dan ziarah kubur berlebihan yang dianggap menyimpang dari prinsip tauhid murni. Pada ranah sosial-politik, Persis menunjukkan sikap kritis terhadap kebijakan kolonial maupun negara yang dipandang mengancam kebebasan beragama dan nilai keadilan sosial. Sementara itu, bentuk adaptasi Persis tampak dalam pendirian lembaga pendidikan modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan umum, pemanfaatan media cetak maupun digital sebagai instrumen dakwah, serta keterbukaan terhadap isu-isu global kontemporer seperti demokrasi, hak asasi manusia, gender, lingkungan hidup, dan pembangunan berkelanjutan dengan kerangka maqasid al-shari‘ah. Temuan ini menunjukkan bahwa resistensi berfungsi menjaga prinsip purifikatif Persis, sedangkan adaptasi berperan memastikan relevansi dakwah dalam konteks sosial yang terus berubah. Dengan sinergi keduanya, Persis mampu mempertahankan eksistensinya sebagai gerakan Islam modernis yang konsisten pada misi purifikasi, sekaligus responsif terhadap tantangan zaman. Kata Kunci: Persatuan Islam, resistensi, adaptasi, purifikasi, gerakan sosial, maqasid al-shari‘ah.
Manajemen Gerakan Dakwah Intelektual ICMI dalam Membangun Peradaban Islam Modern di Indonesia Istianah; Suparto
Journal of Religion and Social Community | E-ISSN : 3064-0326 Vol. 2 No. 2 (2025): Oktober - Desember
Publisher : GLOBAL SCIENTS PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen gerakan dakwah intelektual yang dilakukan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sebagai organisasi strategis dalam membangun peradaban Islam modern di Indonesia. ICMI didirikan pada tahun 1990 oleh B.J. Habibie sebagai wadah berhimpunnya para intelektual Muslim guna mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis studi pustaka terhadap kiprah ICMI dalam ranah sosial, politik, dan dakwah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ICMI memainkan peran penting dalam manajemen dakwah berbasis intelektual dengan mengedepankan nilai rasionalitas, etika, dan modernitas Islam. Namun demikian, ICMI menghadapi tantangan besar dalam era digital seperti lemahnya regenerasi kader, fragmentasi ideologis, serta rendahnya adaptasi terhadap teknologi informasi. Artikel ini menekankan perlunya revitalisasi manajemen dakwah ICMI melalui strategi digitalisasi dakwah, kolaborasi lintas generasi, dan penguatan literasi keislaman ilmiah.
Insan Paripurna As the Final Goal of Islamic Education Akbar, Akbar Tanjung; Shidiq, Sapiudin; Suparto; Nata, Abuddin
Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam Vol 16 No 2 (2025): Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/atjpi.v16i2.29408

Abstract

Islamic education in Indonesia faces significant challenges related to moral decadence among students and alumni. Although education has successfully produced intelligent, skilled, and independent individuals, spiritual and moral aspects are often neglected. This article discusses the concept of Insān Paripurna in Islamic education and its relevance to the goals of national education in Indonesia. This research uses a qualitative approach with a desk study to analyze related literature. Insān Paripurna is defined as a human being who achieves perfection by actualizing his spiritual, intellectual, and moral potential, which is reflected in a good and balanced character. Islamic education aims to shape individuals who are not only intelligent but also possess deep spiritual awareness, thus aligning with the constitutional goals of national education. This research finds that Islamic education has the potential to realize Insān Paripurna in line with the goals of national education, namely to create people who are faithful, have noble character, and are responsible as caliphs on earth. Therefore, synergy between Islamic education and national education is needed to achieve these goals holistically.
Gerakan Dakwah Mualaf Centre Indonesia di Kota Padang Handayani, Nur Annisa Tri; Suparto
Himada: Jurnal Mahasiswa Dakwah dan Komunikasi Vol 1 No 2, Juli-Desember (2024): Global Communico: Jurnal Mahasiswa Komunikasi dan Dakwah
Publisher : Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mualaf Center Indonesia Peduli (MCIP) in Padang focuses on mentoring and supporting new converts, providing religious education and guidance to strengthen their faith and understanding of Islam. This organization organizes religious mentoring programs in mosques to help new converts overcome internal conflicts and adapt to their new beliefs, ensuring they do not return to their previous religion. The research methodology used in this study is qualitative descriptive (Library Research). The term convert refers to non-Muslims who have converted to Islam and need guidance to increase their faith in Allah, who often face challenges from family and relatives from their previous religion. Factors that encourage someone to convert to Islam include spiritual search, dissatisfaction with previous beliefs, marriage to a Muslim partner, and guidance from social and cultural influences. Based on the research conducted, it can be concluded that in the da'wah movement at MCIP in Padang city, namely the socialization and study guidance program, spiritual services including personal and Islamic consultations, which programs have benefits for converts in increasing religious understanding and strengthening faith.
Asset Recovery For Victims of Investment Fraud in Money Laundering Offenses: A John Rawlsian Perspective Erdiansyah Erdiansyah; Suparto; Surizki Febrianto
Journal of Law, Politic and Humanities Vol. 6 No. 4 (2026): (JLPH) Journal of Law, Politic and Humanities
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jlph.v6i4.3393

Abstract

The growth of digital investment has contributed to a significant increase in investment fraud, resulting in substantial and collective financial losses for the public. In practice, proceeds of such crimes are frequently concealed through various money laundering schemes, thereby complicating the tracing and return of assets to victims. Although Law Number 8 of 2010 on the Prevention and Eradication of Money Laundering provides effective instruments for asset tracing, seizure, and forfeiture, its normative orientation and law enforcement practice remain predominantly focused on forfeiture for the benefit of the state. Consequently, asset recovery for victims does not operate as an automatic legal consequence of proving money laundering, but rather depends on other legal mechanisms that are fragmented and often ineffective. This study aims to critically examine asset recovery for victims of investment fraud in money laundering cases in Indonesia by applying John Rawls’ theory of justice as fairness. Employing a normative juridical approach with prescriptive and evaluative analysis of legislation and judicial practice, the study finds a structural imbalance in asset recovery mechanisms that remains state-centered and has not yet reflected substantive justice for victims as the most disadvantaged group. Therefore, the study underscores the need for normative reconstruction and policy reorientation toward a victim-oriented asset recovery mechanism to ensure that victims’ economic rights are restored in a fair, proportionate, and meaningful manner.