Claim Missing Document
Check
Articles

Analysis of Regulations Regarding Interfaith Marriages According to a Religious Perspective, Marriage Law and Decision No. 916/Pdt.P/2022/Pn.Sby Elrika, Elrika; Sudirman, Maman; Djaja, Benny
JIHAD : Jurnal Ilmu Hukum dan Administrasi Vol 6, No 4 (2024): JIHAD : Jurnal Ilmu Hukum Dan Administrasi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jihad.v6i4.7583

Abstract

Marriage in Indonesia is carried out by obtaining legal recognition from religion and the state. The Marriage Law stipulates that a legal marriage must follow the religious beliefs that are believed in. In Indonesia, the practice of interfaith marriage that is not allowed is Islam and Hinduism, while Catholicism and Protestantism, Buddhism and Confucianism are four religions that allow marriage with different religions. The Compilation of Islamic Law and SEMA dated January 30, 2019 number 231/ PAN/HK.0  1/2019 also regulates not recognizing interfaith marriages so that such marriages cannot be registered. However, Court Decision No. 916/Pdt.P 2022 /PN.Sby granted the applicants' request to legalize and register and record the marriage of the parties. Thus, for the parties who are married of different religions in the case. Have a valid marriage before the law and the state for interfaith marriages. However, in 2023, SEMA Number 2 of 2023 was issued on July 17, 2023 concerning Instructions for Judges in Adjudicating Cases of Applications for Marriage between People of Different Religions and Beliefs, which are prohibited from being granted by the court.
PENERAPAN KLAUSUL BAKU DALAM PEMBAYARAN DIGITAL: KONSEP DAN PENGATURANNYA DI INDONESIA Samuel, Yoel; Djaja, Benny; Sudirman, Maman
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 11 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i11.2024.4806-4814

Abstract

Zaman sekarang terjadi perubahan sistem alat pembayaran dari konvensional ke digital. Saat ini orang banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, inovasi yang terus meningkat telah menyebabkan banyak kemudahan, dan sekarang sistem pembayaran telah berubah gaya. Gaya hidup Cashless Society semakin banyak di masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial. Dalam hal menggunakan uang elektronik, setiap orang harus terlebih dahulu menyatakan persetujuannya untuk tunduk dan terikat pada syarat dan ketentuan yang terkandung dalam perjanjian baku. Perjanjian baku yang dibuat secara sepihak oleh pelaku usaha biasanya mengandung klausula yang menguntungkan pihak-pihak pelaku usaha. Negara Indonesia merupakan negara berlandaskan hukum yang memiliki peraturan perundang-undangan yang melindungi masyarakatnya sebagai konsumen dari pelaku usaha yang curang. Salah satu undang-undang yang dimaksudkan adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). Dengan adanya UUPK dapat memberi tahu masyarakat Indonesia tentang hak dan kewajibannya sebagai konsumen atas pelaku usaha barang dan/atau jasa. Dengan mengetahui hak dan kewajiban tersebut, masyarakat Indonesia diharapkan dapat melindungi dirinya sendiri sebagai konsumen.
NOTARIS DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK: SUATU KAJIAN TENTANG IMPLEMENTASI CYBER NOTARY Lukita, Hans; Sudirman, Maman; Djaja, Benny
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 12 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i12.2024.4977-4986

Abstract

Dalam era transformasi industri 4.0 yang kini berkembang menjadi Society 5.0, profesi notaris telah mengalami banyak perubahan signifikan yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Salah satu wujud dari perkembangan tersebut adalah munculnya konsep cyber notary. Sebagai fenomena baru, cyber notary menarik perhatian untuk dibahas lebih lanjut, mulai dari proses perkembangan dan kemunculannya, hingga potensi manfaat, tantangan dalam penerapannya, serta risiko yang mungkin dihadapi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif dengan pendekatan studi literatur yang melibatkan bahan hukum primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, hingga saat ini, Indonesia belum memiliki regulasi yang secara khusus mengatur penerapan cyber notary ataupun aplikasi yang mendukungnya. Meskipun demikian, Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang Jabatan Notaris memberikan "kewenangan lain" yang dapat menjadi dasar hukum bagi implementasi profesi cyber notary. Cyber notary memungkinkan proses pembuatan akta dan dokumen hukum dilakukan secara online, memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas layanan notaris. Namun, penerapan cyber notary juga menghadirkan tantangan besar, terutama terkait serangan siber yang dapat mengancam keamanan data dan integritas dokumen yang dikeluarkan. Risiko lain yang timbul adalah penggunaan artificial intelligence, yang meskipun dapat meningkatkan produktivitas, juga menimbulkan kekhawatiran akan keamanan data dan potensi penyalahgunaan. Oleh karena itu, diperlukan adanya mekanisme perlindungan dan strategi penanggulangan lanjutan untuk memastikan keamanan para pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses penandatanganan akta notariil secara elektronik.
PEMANFAATAN KOTORAN SAPI MENJADI BIOGAS DI DESA CILEMBU KABUPATEN SUMEDANG Sudirman, Maman; Adamy, Zulham; Enceng, Enceng; Setiana, Nana; Igiriza, Miftahunnisa
Indonesian Journal of Engagement, Community Services, Empowerment and Development Vol. 4 No. 3 (2024): Indonesian Journal of Engagement, Community Services, Empowerment and Developme
Publisher : Yayasan Education and Social Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53067/ijecsed.v4i3.175

Abstract

Cow dung is still a waste that has not been widely utilized by farmers, even though cow dung can be used as an alternative fuel called biogas. Cilembu is an agribusiness village known for its sweet potato and livestock production. Despite having great potential in livestock, cow dung is often disposed of without being processed first. This Community Service (PkM) was carried out in Cilembu Village, Sumedang Regency. This activity consisted of counseling on the benefits of biogas, the benefits of cow dung, and processing cow dung into biogas. The counseling activity was attended by 25 participants with five livestock families selected as pilot subjects. The participants were given counseling and practical work on biogas production.
Protection of The Notary Position in Monitoring Beneficial Ownership to Prevent The Misuse of Issued Documents Puspita, Lidya; Sudirman, Maman; Djaja, Benny
Jurnal Hukum dan Kenotariatan Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Hukum dan Kenotariatan
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/hukeno.v8i3.22618

Abstract

A notary is a public official authorized to create authentic deeds and perform other actions in accordance with the law. Given the significant responsibilities they bear, notaries require legal protection while performing their duties, particularly in applying the Principle of Identifying the Ultimate Beneficial Owner of a legal entity. This protection is crucial for reducing legal risks and supporting the implementation of Presidential Regulation Number 13 of 2018, which aims to combat Money Laundering and Terrorism Financing. This paper analyzes issues related to the application of the Principle of Identifying the Ultimate Beneficial Owner by notaries, including the importance of applying this principle and how the Beneficial Ownership Declaration can protect notaries from legal claims. The study uses a normative juridical method with a comparative approach, concluding that the application of this principle is important for notaries. Position of Notary Act as gatekeepers who can help prevent or mitigate undesired risks by obtaining accurate information about the parties involved. However, the legal protection provided by the Beneficial Ownership Declaration is not entirely effective.
Pertanggung Jawaban Notaris Atas Pembuatan Akta Otentik Berdasarkan Dokumen Palsu Oleh Para Pihak Julianti, Lili; Djaja, Benny; Sudirman, Maman
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Ilmu Multidisiplin
Publisher : Jurnal Ilmu Multidisiplin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53935/jim.v1.i1.5

Abstract

Notary is a public official authorized to make authentic deeds and has other authorities as referred to in Article 1 point 1 of Law Number 2 of 2014 concerning Amendments to Law Number 30 of 2004 concerning Notary Position. If there is a denial and/or denial related to the deed made by the Notary regarding the documents and/or information obtained during the making of the deed turns out to be false, then this is the responsibility of the party who submitted the documents or provided the false identity. This is because the deed that has been made by the notary contains written statements from the confrontants. there is no reason whatsoever for the Notary not to apply the precautionary principle in carrying out his/her position because the Notary is obliged to uphold the precautionary principle. This implies that all actions made in the context of making authentic deeds must be in accordance with the applicable laws and regulations so that they can be legally accountable. In making an authentic deed, the Notary must be held responsible if the deed he/she makes contains errors or violations that are intentionally committed by the Notary. Conversely, if the element of error or violation occurs from the confronting party, then as long as the Notary exercises his authority in accordance with the regulations, the Notary concerned cannot be held liable because the Notary only pours into the deed the matters submitted by the client or the parties.
AKIBAT HUKUM WANPRESTASI KREDITUR TERKAIT PENYERAHAN SERTIPIKAT YANG MENJADI JAMINAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH Indah, Syiva Puspa; Sudirman, Maman; Fitrian, Achmad
Case Law : Journal of Law Vol. 6 No. 1 (2025): Case Law : Journal of Law | Januari 2025
Publisher : Program Studi Hukum Program Pasca Sarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/caselaw.v6i1.4777

Abstract

The research aims to analyze the legal consequences of creditors for failure to submit mortgage guarantee certificates that have been paid off which are analyzed using collateral law theory. The research method uses normative juridical with a statutory approach, conceptual approach, analytical approach, and case approach. The technique for collecting legal materials is carried out by identifying and inventorying positive legal rules, book literature, journals and other sources of legal materials. The analysis technique for legal materials is carried out using grammatical and systematic legal interpretation, as well as the analogous legal construction method. The research results concluded that the legal consequences of a creditor's default in submitting a KPR guarantee certificate that has been paid off violates Article 1238 of the Civil Code and can harm the debtor. The debtor has the right to demand that the bank immediately submit the certificate and, if this is not fulfilled, can sue through legal channels, either through a lawsuit for breach of contract (Article 1243 of the Civil Code) or an unlawful act (Article 1365 of the Civil Code). If the debtor experiences losses due to delays in submitting the certificate, the bank may be required to pay compensation
TANGGUNG JAWAB PPAT TERHADAP PEMBUATAN AKTA JUAL BELI TANPA PERSETUJUAN DARI PEMILIK (STUDI PUTUSAN NOMOR 3/PDT.G/2023/PN.BAN) Rafliansyah, Rafliansyah; Djaja, Benny; Sudirman, Maman
Semarang Law Review (SLR) Vol. 5 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slr.v5i2.10548

Abstract

This research aims to investigate the roles that Land Deed Making Officials (PPAT) play in the purchase and sale of land, particularly in cases where the legal owner is not present. Normative Legal Research is the research method employed to analyse the case of Decision Number 3/Pdt.G/2023/PN. Tyres are used as case studies to show the legal implications of actions that violate the landowner's consent in a sale and purchase transaction. The results showed that Decision Number 3/Pdt.G/2023/PN. Ban, PPAT has a big responsibility in ensuring legal land sale and purchase transactions. The sale and purchase deed was executed without the landowner's consent, so because PPAT neglected to carefully fulfil its obligations, it is void. PPAT responsibilities include civil, criminal, and administrative aspects. PPAT can be punished if you make a false deed, and can be subject to administrative sanctions. This ruling confirms the importance of PPAT compliance with legal procedures to maintain legal certainty in property transactions. The legal consequences of this ruling emphasize the importance of valid consent in property transactions to prevent unlawful acts.AbstrakStudi ini bertujuan untuk mempelajari tanggung jawab Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam proses transaksi jual beli tanah, terutama dalam kasus di mana transaksi terjadi tanpa persetujuan pemilik yang sah. Fokus penelitian ini adalah kasus putusan Nomor 3/Pdt.G/2023/PN.Ban. Metode penelitian hukum normatif digunakan. Ban yang digunakan sebagai studi kasus untuk menunjukkan implikasi hukum dari tindakan yang melanggar persetujuan pemilik tanah dalam transaksi jual beli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Putusan Nomor 3/Pdt.G/2023/PN.Ban, PPAT memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan transaksi jual beli tanah legal. Tanggung jawab PPAT mencakup aspek perdata, pidana, dan administratif; namun, jika PPAT tidak melakukan tugasnya dengan benar, akta jual beli tersebut menjadi batal secara hukum karena tidak adanya persetujuan dari pemilik tanah. Jika PPAT membuat akta palsu, mereka juga dapat dikenai sanksi pidana dan administratif. Putusan ini menegaskan pentingnya kepatuhan PPAT terhadap prosedur hukum untuk menjaga kepastian hukum dalam transaksi properti. Akibat hukum dari putusan ini menekankan pentingnya persetujuan sah dalam transaksi properti untuk mencegah perbuatan melawan hukum.
Perlindungan Hukum Anak Luar Kawin Yang Diakui Sah dalam Pembagian Waris Vianka, Maria Ibella; Sudirman, Maman; Djaja, Benny
SUPREMASI : Jurnal Hukum Vol 7 No 1 (2024): SUPREMASI : Jurnal Hukum 2024
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/supremasi.v7i1.2542

Abstract

Tidak adanya bukti pencatatan pernikahan menimbulkan sejumlah dampak, tidak hanya kepada pasangan suami dan istri, tetapi berdampak kepada anak-anak hasil perkawinan tersebut. Sebagaimana kewajiban warga negara Indonesia yang baik setiap peristiwa penting di dalam kehidupannya wajib untuk dilaporkan dan dicatat kepada dinas penduduk dan pencatat sipil. Pernikahan yang tidak tercatat akan mempengaruhi kedudukan status hukum seseorang dan berdampak pula pada pembagian warisan ketika salah satu pihak meninggal dunia. Akta perkawinan memberikan perlindungan kepada ahli waris jika sewaktu waktu terjadi gugatan. Sehingga dalam penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya peristiwa pernikahan untuk dicatat oleh negara dan mengetahui negara melindungi hak pembagian waris bagi anak luar kawin yang diakui sah oleh orangtuanya. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif bersumber dari peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan nomor 44/Pdt.G/2021/PN Jkt.Pst, buku, artikel dari website serta jurnal. Dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa anak luar kawin yang diakui sah tetap mendapatkan bagian haknya sesuai hukum waris golongan I atau pertama yang berhak mewaris secara penuh sebelum turunnya waris kepada golongan II, dimana putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 46/PUU-VIII/2010 telah mengubah ketentuan Pasal 43 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan terhadap status keperdataan anak luar kawin juga mempunyai hubungan perdata dengan ayahnya sepanjang dapat dibuktikan 
Perlindungan Hukum Terhadap Pemilik Sertipikat Terkait Penyalahgunaan Akta Kuasa Persetujuan Kredit Yang Dibuat Dihadapan Notaris Tanpa Persetujuan Pemilik Sertipikat Mauli, Tiur; Sudirman, Maman; Francisca, Wira
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 2 No. 8 (2023): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v2i8.438

Abstract

Pada dasarnya notaris dituntut untuk membekali diri dengan memiliki kualitas standar pendidikan yang memuaskan, mempunyai kewenangan bertindak secara bebas dan mampu mengendalikan diri. Namun pada kenyataannya masih terdapat penyalahgunaan atas Akta Kuasa terhadap Persetujuan Kredit tambahan yang dibuat oleh Notaris dengan dibuatkannya akta kuasa tanpa sepengetahuan pihak ke tiga Dalam penelitian ini membahas bagaimana akibat hukum dan perlindungan hukum atas penyalahgunaan akta kuasa terhadap persetujuan kredit tambahan yang dibuat oleh notaris dengan dibuatkannya akta kuasa tanpa sepengetahuan pihak ke tiga. Teori hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori akibat hukum dari R. Soeroso sebagai teori pendukung dari teori utama yaitu teori Teori Perlindungan Hukum menurut Menurut Satjipto Rahardjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum yuridis normatif. Adapun pendekatan penelitian yang dipergunakan yaitu Pendekatan Perundang-undangan, Pendekatan Konseptual, Pendekatan Analis, Pendekatan Kasus dan teknik pengumpulan bahan hukum. Serta teknik analisa bahan hukum dilakukan Penafsiran Gramatikal, dan Penafsiran Sistematis. Akibat Hukum penyalahgunaan atas Akta Kuasa terhadap Persetujuan Kredit tambahan yang dibuat oleh Notaris dengan dibuatkannya akta kuasa tanpa sepengetahuan pihak ke tiga yaitu dapat dimintakan sanksi Administratif jabatan berupa peringatan tertulis kepada majelis pengawas notaris terhadap Notaris yang melanggar tersebut. Adapun tambahan perlindungan hukum menurut peneliti Terhadap Pemilik Sertipikat Atas Penyalahgunaan Akta Kuasa Persetujuan Kredit Yang Dibuat Oleh Notaris bahwa penggugat dapat meminta kepada Hakim dalam gugatannya yaitu tidak dijadikan tambahan yang berkedudukan sebagai subjek gugatan di kemudian hari jika pihak salah satu para tergugat dikemudian waktu melakukan upaya hukum kembali. Sebagai bentuk dari perlindungan hukum represif bagi pemilik sertifikat selaku pemberi kuasa.