Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Error Analysis On The Pronunciation Of Past Tense Endings (-ED) By Eleventh Grade Students At SMA N 14 Medan Hia, Orani Adel Valentina; Simarmata, Rina Octavia; Manurung, Lastri Wahyuni
Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 7 No. 3 (2026): Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP)
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Almatani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/jkip.v7i3.2293

Abstract

This study investigates the types and causal factors of pronunciation errors in the realization of the regular past tense suffix -ed among eleventh-grade students at SMA Negeri 14 Medan. Adopting a qualitative descriptive approach, this study employed Error Analysis as its primary analytical framework, guided by Corder (1981) and the Surface Strategy Taxonomy of Dulay, Burt, and Krashen (1982). Data were collected from ten purposively selected students of class XI.2 through an oral pronunciation test comprising 60 regular past tense verbs representing the three allophones of -ed (/t/, /d/, and /ɪd/), yielding a total corpus of 600 pronunciation tokens. Semi-structured interviews were subsequently conducted to triangulate the findings and identify the sources of error. The results reveal three types of pronunciation errors: misformation (50.50%), addition (21.17%), and omission (10.00%), with an overall error rate of 81.67%. A cross-categorical analysis demonstrated a clear hierarchy of difficulty: /t/ (100%) > /d/ (87%) > /ɪd/ (58%), reflecting an inverse relationship between allophonic difficulty and orthographic transparency. Two interacting causal factors were identified: interlingual interference from Indonesian, manifested through orthographic reading habits and the absence of word-final voicing distinctions in L1, and intralingual overgeneralization driven by the near-total absence of explicit phonological instruction. These findings underscore the urgent need for targeted phonological instruction that explicitly addresses the voiced-voiceless distinction and the allophonic conditioning rules governing -ed pronunciation.
INVESTIGATING COOPERATIVE PRINCIPLE VIOLATIONS IN THE PODCAST “PENDIDIKAN INDONESIA TERLALU SANTAI” ON GITA WIRJAWAN’S YOUTUBE CHANNEL Banjarnahor, Juliva Viona; Saragi, Chiristina Natalina; Simarmata, Rina Octavia
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v9i1.1433

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelanggaran Prinsip Kerja Sama dalam podcast “Pendidikan Indonesia Terlalu Santai” pada kanal YouTube Gita Wirjawan, dengan penekanan khusus pada bagaimana penutur membangun makna dalam konteks percakapan digital. Penelitian ini secara khusus berfokus pada identifikasi berbagai jenis pelanggaran maksim, menentukan jenis yang paling dominan, serta menjelaskan alasan yang mendasari dominasi tersebut dalam wacana yang dianalisis. Penelitian ini menggunakan teori Prinsip Kerja Sama dari Grice (1975), yang mencakup maksim Kuantitas, Kualitas, Relevansi, dan Cara sebagai pedoman dasar dalam komunikasi yang efektif. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang memungkinkan analisis mendalam dan interpretatif terhadap data bahasa yang terjadi secara alami, dengan data berupa 71 tuturan yang diambil dari satu episode podcast yang telah dipilih secara cermat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran maksim Kualitas merupakan yang paling dominan (49,30%), diikuti oleh maksim Kuantitas (28,17%), Relevansi (14,08%), dan Cara (8,45%), yang menunjukkan adanya kecenderungan tertentu dalam perilaku komunikasi para penutur. Dominasi pelanggaran maksim Kualitas terjadi karena penutur sering menyampaikan pernyataan yang bersifat subjektif, pandangan pribadi, serta klaim yang tidak sepenuhnya didukung oleh bukti yang konkret, sebagai cara untuk memperkuat pendapat atau memberikan efek retoris. Lebih lanjut, penelitian ini menyimpulkan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut tidak selalu menunjukkan kegagalan dalam komunikasi, melainkan berfungsi sebagai strategi pragmatik yang efektif untuk menekankan argumen, menyampaikan makna tersirat, mengungkapkan kritik, menjaga alur percakapan tetap berjalan secara alami, serta melibatkan audiens dalam interaksi yang lebih dinamis dan bermakna.