Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

INTEGRASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM SISTEM PEMERINTAHAN BERBASIS ELEKTRONIK: STUDI EVALUASI PADA DINAS KOMUNIKASI, INFORMATIKA DAN PERSANDIAN ACEH Depita Kardiati; Abdul Hafiz; Jamiati KN; Yuli Santri Isma; Syarifah Chairunnisak; Sarrah Kurnia Fadhillah; Fitria Akmal
JOURNAL OF INFORMATICS AND COMPUTER SCIENCE Vol. 11 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Ubudiyah Indonesia University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jics.v11i1.4836

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mendorong transformasi digital dalam tata kelola pemerintahan, termasuk penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Pemerintah Aceh, melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh, berupaya mengimplementasikan SPBE guna meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas pelayanan publik. Namun, dalam penerapannya, masih terdapat kendala seperti keterbatasan sumber daya manusia, infrastruktur teknologi yang belum optimal, serta belum terintegrasinya berbagai aplikasi yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi SPBE di Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi, serta memberikan rekomendasi strategis untuk meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan berbasis elektronik di tingkat daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi langsu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi SPBE di Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh masih menghadapi beberapa kendala utama, di antaranya: keterbatasan sumber daya manusia dengan kompetensi teknis yang sesuai, belum optimalnya infrastruktur jaringan dan kapasitas bandwidth, serta kurangnya integrasi antar aplikasi pemerintahan yang menyebabkan duplikasi data dan ketidakefektifan layanan. Rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas SPBE, direkomendasikan adanya penguatan kapasitas SDM melalui pelatihan berkala, peningkatan infrastruktur teknologi informasi, serta integrasi sistem dan aplikasi guna menciptakan layanan digital yang lebih efisien dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. 
Pemanfaatan Instagram Sebagai Media Promosi Wisata Kota Tuo Pasar Bengkulu Sarrah Kurnia Fadhillah; Fitria Akmal; Jamiati KN; Yuli Santri Isma; Amaul Husna; Syarifah Chairuunisak; Depita Kardiati; Yeni Kartika
MEUSEURAYA - Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (Desember 2025)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/meuseuraya.v4i2.6325

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan Instagram sebagai media promosi Wisata Kota Tuo Pasar Bengkulu. Kelompok Pemanfaatan dan Pemeliharaan (KPP) Kawasan Wisata Kota Tuo menghadapi tantangan dalam memanfaatkan media sosial untuk menarik minat wisatawan dan mempromosikan potensi wisata lokal. Melalui pendekatan partisipatif, program ini memberikan pelatihan strategi media sosial, teknik fotografi dan videografi, serta desain grafis untuk pembuatan konten Instagram yang menarik. Kegiatan dilaksanakan pada Januari-Februari 2023, melibatkan anggota KPP yang aktif menggunakan media sosial dan berusia di bawah empat puluh tahun. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, workshop, pelatihan praktis, dan pendampingan pengelolaan akun Instagram. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman tentang pentingnya media sosial dalam promosi wisata, peningkatan keterampilan produksi konten (foto dan video), serta terwujudnya akun Instagram resmi Wisata Kota Tuo. Program ini berhasil memberdayakan masyarakat dalam pemasaran digital dan diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Tuo Pasar Bengkulu.
PENGABDIAN MASYARAKAT BERBASIS PENDATAAN PARTISIPATIF DALAM PERCEPATAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASCABENCANA BANJIR DI GAMPONG GLUMPANG PAYONG, KECAMATAN BAKTIYA, KABUPATEN ACEH UTARA Pangeran Putra Perkasa Alam Nasution; Amiruddin Ketaren; Yuli Santri Isma; Rakhmadsyah Putra Rangkuty; Shira Thani
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 6 (2026): 2026 Juni
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i6.1141

Abstract

The flood disaster that struck Glumpang Payong Village, Baktiya District, North Aceh Regency, in November 2025 caused significant physical damage, economic losses, and disruptions to community activities. These conditions highlighted the need for accurate data to support post-disaster rehabilitation and reconstruction planning. This article aims to describe a community service program employing participatory damage and loss assessment after flooding and to analyze its contribution to community-based recovery governance. The program adopted a participatory and collaborative approach involving university lecturers, students, village officials, and affected residents. Data collection methods included field observations, structured interviews, community-based verification, and documentation of damage conditions. The results indicate that the participatory assessment successfully identified 70 flood-affected households with a data completeness rate of 100 percent. The collected information covered housing conditions, household asset damage, and estimated economic losses experienced by residents. The participatory approach enhanced data validity, transparency, and community engagement in post-disaster recovery planning. In addition to producing a comprehensive database, the program strengthened collaboration among universities, village governments, and local communities in supporting more targeted rehabilitation and reconstruction efforts. Therefore, participatory assessment can be recommended as a community service model for strengthening inclusive, accountable, and sustainable post-disaster recovery governance.
POWER ASYMMETRIES IN PEATLAND RESTORATION: A POLITICAL ECOLOGY PERSPECTIVE ON MULTI-STAKEHOLDER PARTICIPATION IN THE MENDAHARA–BATANGHARI PEAT HYDROLOGICAL UNIT Pangeran Putra Perkasa Alam Nasution; Amiruddin Ketaren; Yuli Santri Isma; Rakhmadsyah Putra Rangkuty
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 6 (2026): 2026 Juni
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i6.1186

Abstract

Peatland ecosystems play a strategic role in global climate change mitigation through their capacity for carbon sequestration and hydrological regulation. However, peatland degradation in Indonesia demonstrates that environmental degradation is not merely an ecological issue but is also closely associated with power dynamics, public policies, and political-economic interests. This study aims to examine the dynamics of multi-stakeholder participation in peatland restoration and to analyse how power relations influence the effectiveness of restoration policy implementation within the framework of the peat hydrological unit. A qualitative research approach employing a participatory action research (PAR) design was adopted. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), and document analysis in the Mendahara–Batanghari peat hydrological unit, Jambi Province, Indonesia. The data were analysed using thematic analysis integrated with a political ecology perspective to examine power relations and conflicts of interest among stakeholders. The findings reveal that multi-stakeholder participation in peatland restoration remains largely procedural rather than substantive, as decision-making processes continue to be dominated by government institutions and corporate actors. Although local communities possess high legitimacy and valuable ecological knowledge, they remain marginalised due to limited access to resources and decision-making power. Furthermore, conflicts between economic development objectives, particularly the expansion of oil palm plantations and the ecological goals of peatland restoration, constitute a major obstacle to the effectiveness of restoration programs. Peatland degradation is rooted in unequal power structures and broader political-economic processes that facilitate resource exploitation. Co-management-based multi-stakeholder participation that emphasises power redistribution, the strengthening of local institutions, and the integration of ecosystem-based policies through the peat hydrological unit framework is expected to enhance the long-term effectiveness of peatland restoration while promoting more equitable, inclusive, and sustainable natural resource governance.
CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF THE CONSTRUCTION OF POVERTY REDUCTION POLICIES IN THE 2025–2029 RPJMA ACEH Alfian; Yuli Santri Isma; Fitria Akmal; Sarrah Kurnia Fadhilah; Asmaul Husna
International Journal of Social Science, Educational, Economics, Agriculture Research and Technology (IJSET) Vol. 5 No. 9 (2026): AUGUST
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Poverty remains a major development issue in Aceh despite the province's substantial fiscal space through the Special Autonomy Fund. This study aims to analyze how poverty, development actors, and collaborative governance are constructed in the Aceh Medium-Term Development Plan (RPJMA) 2025–2029. This study uses a qualitative approach with a constructivist paradigm and Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis method . The research data source is the Aceh RPJMA 2025–2029 document, which is analyzed using Fairclough's three dimensions: text analysis, discursive practices, and social practices. The results show that poverty in the Aceh RPJMA is constructed as an issue structurally subordinate to the agenda of Aceh's identity and uniqueness. The discourse of collaborative governance is not strongly and consistently present in the strategic formulation of poverty alleviation policies, in contrast to issues such as health, education, and research-innovation, which explicitly present collaborative narratives. Furthermore, fragmentation of accountability is found through the use of separate poverty indicators between the macroeconomic and social welfare domains without a clear integration mechanism. These findings demonstrate a gap between development rhetoric that ambitiously targets poverty reduction and the limited collaborative institutional design. This research contributes to the development of public policy studies by demonstrating that development planning documents constitute a discursive arena that represents power relations, development priorities, and the construction of policy governance.
Collaborative Governance dalam Mengatasi Kekerasan Seksual pada Anak di Kabupaten Langkat Yusril Ihza Mahendra Lubis; Muklir Muklir; Yuli Santri Isma; Aiyub Aiyub; Syamsuddin Syamsuddin
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2026): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/f4szp831

Abstract

Collaborative governance merupakan arena strategis yang mempertemukan institusi publik, sektor swasta, dan masyarakat dalam sebuah kerangka kerja untuk menyelesaikan persoalan publik yang kompleks, termasuk kekerasan seksual pada anak. Penelitian ini mendeskripsikan proses collaborative governance dalam mengatasi kekerasan seksual pada anak di Kabupaten Langkat serta mengkaji mengapa kasus yang dilaporkan terus meningkat meskipun kolaborasi antarpemangku kepentingan telah diterapkan. Penelitian ini menggunakan kerangka teori Ansell dan Gash (2008) yang meliputi dialog tatap muka, membangun kepercayaan, komitmen terhadap proses, pemahaman bersama, dan hasil antara. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap aktor kunci dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A), Unit PPA Polres Langkat, Dinas Sosial, serta Lembaga Aliansi Sumut Bersatu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi telah menghasilkan kemenangan kecil (small wins), terutama meningkatnya keberanian masyarakat untuk melapor, namun belum sepenuhnya mampu menekan angka kekerasan seksual karena rendahnya pemahaman masyarakat mengenai prosedur pelaporan, faktor sosial-budaya berupa keengganan keluarga untuk terbuka, serta belum adanya pengaturan kelembagaan formal yang mengintegrasikan aktor nonpemerintah ke dalam struktur kolaborasi.