Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Demand Bus Bandara pada Bandar Udara Internasional Kertajati Muhammad Galih; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.39 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.46706

Abstract

Di era globalisasi seperti saat ini, waktu untuk sampai ke tempat tujuan menjadi suatu hal yang penting. Transportasi udara menjadi solusi terbaik untuk bepergian jarak jauh dengan waktu yang singkat. Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara sudah menerima penumpang melebihi kapasitas yang sudah direncanakan. Oleh karena itu perlu dibangun Bandar Udara Internasional Kertajati sebagai penyangga untuk membantu memudahkan lalu lintas udara pada kedua bandar udara tersebut. Keberadaan Bandar Udara Internasional Kertajati masih kurang dimanfaatkan yang disebabkan oleh letak bandara yang cukup jauh untuk dijangkau. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemudahan masyarakat dalam menjangkau letak Bandar Udara Internasional Kertajati adalah dengan pengadaan transportasi massal seperti bus bandara. Analisis demand penumpang bus diperlukan agar jumlah bus yang direncanakan bisa sesuai dengan kebutuhan. Terdapat dua skenario yang direncanakan dalam menentukan jumlah demand penumpang bus bandara. Direncanakan sebanyak 100% dan 75% dari penumpang Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara akan pindah ke Bandar Udara Internasional Kertajati saat jalan akses Tol Cisumdawu mulai beroperasi. Akan dilakukan analisis jumlah demand dan supply bus bandara pada dua periode yang berbeda. Pertama, pada saat jalan akses Tol Cisumdawu mulai beroperasi dan kedua adalah saat Bandar Udara Internasional Kertajati beroperasi secara optimum. Perkiraan jumlah pengguna bus bandara dilakukan dengan mengacu pada studi terkait persentase pengguna bus untuk periode pertama dan menggunakan forcasting untuk periode kedua. Untuk periode pertama, didapatkan perkiraan jumlah pengguna bus bandara sebanyak 505.350 orang per tahun pada skenario satu dan sebanyak 379.012 orang per tahun pada skenario dua. Sedangkan, untuk periode kedua didapatkan perkiraan jumlah pengguna bus bandara sebanyak 927.513 orang per tahun pada skenario satu dan sebanyak 802.535 orang per tahun pada skenario dua.
Perencanaan Pengembangan Sisi Udara Bandara Internasional Minangkabau Muhammad Rezky Ridwan; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.674 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.48180

Abstract

Bandar Udara Internasional Minangkabau memiliki ukuran runway 2.750 x 45 m. Bandar Udara ini direncanakan pemerintah sebagai bandara embarkasi haji di wilayah Provinsi Sumatera barat, Provinsi Bengkulu dan sebagian Provinsi Jambi meliputi: Kab. Merangin, Kab. Kerinci, Kab. Sorolangun, Kab. Bungo, dan Kab. Tebo. Oleh karena itu, Bandar Udara Internasional Minangkabau perlu melakukan pengembangan khususnya disisi udara sehingga dapat melayani pesawat rute luar negeri seperti Boeing 777-300ER.Dalam perencanaan ini, penelitian dilakukan menggunakan data sekunder dengan data ramalan selama 10 tahun kedepan dan menggunakan metode runtun waktu dengan model dekomposisi aditif sehingga didapatkan jumlah pergerakan pesawat 10 tahun mendatang sebesar 57.451. Selanjutnya studi ini meninjau kesesuaian antara PCN Bandara Internasional Minangkabau dengan ACN pesawat Boeing 777-300ER. Dari analisa kesesuaian ACN-PCN didapatkan bahwa pesawat Boeing 777-300ER dapat beroperasi pada Bandara Internasional Minangkabau dengan syarat jumlah keberangkatan pertahun tidak melebihi 5% dari jumlah keberangkatan tahunan.Lalu dilakukan perencanaan ukuran runway, taxiway, dan apron dengan menggunakan hasil ramalan yang ada dan data pesawat rencana yaitu Boeing 777-300ER yang perencanaanya mengacu pada standar ICAO dan FAA. Dari hasil analisa yang dilakukan didapatkan kebutuhan panjang runway sebesar 3550m x 45m. Untuk taxiway didapatkan lebar sebesar 25m dengan lebar bahu taxiway sebesar 10m pada setiap sisinya. Letak exit taxiway berada pada 2 titik seperti keadaan eksisting serta sudut untuk exit taxiway sebesar 90o. Luas apron dibutuhkan sebesar 92040,43m2. Dari analisa lokasi berdasarkan KKOP didapatkan adanya ketinggian daratan yang melebihi standar pada jarak 8km dan berada pada kawasan dibawah permukaan horizontal luar sehingga perlu diberikan tanda. Pada perencanaan ini perhitungan tebal perkerasan menggunakan bantuan aplikasi FAARFIELD. Didapatkan bahwa tebal total untuk perkerasan lentur sebesar 67,31cm-97,33cm dan untuk total perkerasan kaku sebesar 70,71cm-74,48cm
Perencanaan Terminal Khusus Penumpang Umrah Bandara Internasional Juanda Wajdino Arfa Rajawidad; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i1.51141

Abstract

Dengan jumlah penduduk Kota Surabaya yang sebanyak 2.499.467 jiwa adalah pemeluk agama islam, dan terus meningkatnya pertumbuhan angka ekonomi Jawa Timur. Semakin meningkat pula kemampuan daya beli masyarakat Jawa Timur dalam melaksanakan ibadah umrah. Selama ini untuk penerbangan umrah masih menggunakan Terminal 1 Bandar Udara Internasional Juanda yang pada fungsi awalnya Terminal 1 diperuntukkan operasional penerbangan domestik, meskipun ada beberapa penerbangan internasional di Terminal 1 Bandar Udara Internasional Juanda, namun untuk memenuhi jumlah penumpang umrah fasilitas – fasilitas yang sudah ada terbilang cukup kurang dalam melayani banyaknya jumlah penumpang umrah. Untuk menjawab permasalahan ini diperlukan perencanaan terminal terkait fasilitas – fasilitas yang diperlukan untuk menunjang penumpang umrah. Dalam tugas akhir ini dilakukan 2 perencanaan, yang pertama adalah perencanaan hanya menggunakan peak hour penumpang umrah, yang kedua adalah menambahkan peak hour penumpang domestik pada perhitungan namun hanya pada fasilitas yang bersinggungan. Hasil perhitungan pada tugas akhir ini menunjukkan luas terminal khusus penumpang pada skenario 1 adalah 16090,135 m² sedangkan pada skenario 2 adalah 16357,135 m². Hasil perhitungan nilai LOS menunjukkan bahwa fasilitas seperti hall keberangkatan, ruang tunggu keberangkatan, dan hall kedatangan sudah memenuhi kriteria nilai LOS berdasarkan IATA dengan skor A/B (Overdesign). Sedangkan untuk fasilitas passport area pada emigrasi maupun imigrasi masih dibawah standar nilai LOS dengan skor D/E (Subdesign). Evaluasi pada nilai LOS dilakukan pada fasilitas yang masih dibawah standar nilai LOS, maka luasan standar menggunakan skor minimum yaitu skor C (Optimum). Langkah terakhir adalah mendesain layout terminal khusus umrah di terminal 1 Bandar Udara internasional Juanda.
Analisis Bandar Udara Sam Ratulangi di Manado Sebagai Bandar Udara Super Hub untuk Jembatan Udara di Wilayah Indonesia Timur Ditinjau dari Konektivitas Kargo Widhi Utomo Megantoro; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69750

Abstract

Pada saat ini terdapat 34 bandara internasional di Indonesia, akan tetapi tidak semua bandar udara yang berstatus internasional memiliki penerbangan internasional. Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub dalam sebuah forum ilmiah menyampaikan rencana evaluasi status 34 bandar udara tersebut dan mengubah konsepan bandara internasional di Indonesia menjadi bandara Hub dan Super Hub. Bandar udara Sam Ratulangi di Manado, Sulawesi Utara direncanakan menjadi bandar udara Super Hub bidang logistik untuk mendukung jembatan udara wilayah Indonesia Timur. Di sisi lain, selama ini Bandar Udara Sultan Hasanuddin di Makassar, Sulawesi Selatan merupakan Hub untuk menghubungkan pergerakan penumpang dari wilayah Barat ke wilayah Timur Indonesia. Selama ini kargo diangkut bersamaan dengan pesawat penumpang. Apabila hub karhgo dipusatkan pada Bandar Udara Sam Ratulangi, maka perlu ada studi terkait konektivitas antar bandara Sam Ratulangi dan Sultan Hasanuddin. Pada Tugas Akhir ini dilakukan analisis mengenai indeks konektivitas Bandar Udara Sam Ratulangi dan Bandar Udara Sultan Hasanuddin sebagai pembanding. Perhitungan Indeks konektivitas ini menggunakan model NetScan yang diciptakan oleh SEO Economics. Data yang diperlukan meliputi data bandara koordinator wilayah (korwil), data jadwal pergerakan pesawat beserta bandar udara yang dilayani, data jenis pesawat yang melayani, dan data jarak antar bandar udara. Hasil dari analisis menunjukkan Bandar Udara Sultan Hasanuddin memiliki nilai konektivitas yang lebih baik, pada penerbangan langsung memiliki nilai konektivitas sebesar 79,4 dan nilai konektivitas penerbangan tidak langsung sebesar -470. Sedangkan nilai konektivitas Bandar Udara Sam Ratulangi pada penerbangan langsung sebesar 31,5 dan pada penerbangan tidak langsung sebesar -552. Akan tetapi Bandar Udara Sam Ratulangi memiliki jarak tempuh rata-rata yang lebih dekat yaitu 1807,1 km dibandingkan dengan jarak tempuh rata rata dari Bandar Udara Sultan Hasanuddin yang memiliki jarak rata- rata 2107,4 km.
Analisis Perbandingan Travel Cost dan Travel Time Bandara SAMS Sepinggan dan Bandara APT Pranoto sebagai Akses Masuk Menuju Ibu Kota Negara Maulina Indah Harvianti; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69238

Abstract

Usulan pemindahan ibu kota negara Republik Indonesia merupakan hal yang sudah didiskusikan sejak kepresidenan Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Alasan direncanakan pemindahan ibu kota negara yaitu menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2015 menyebutkan bahwa sekitar 56,56% masyarakat Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa. Lokasi calon ibu kota negara yaitu berada di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Lokasi calon ibu kota negara tidak jauh dengan Bandara SAMS Sepinggan yang berada di Kota Balikpapan dan Bandara APT Pranoto yang berada di Kota Samarinda. Dalam penulisan ini dilakukan analisis radius penerbangan setiap tipe pesawat, perhitungan biaya operasi pesawat dan tarif pesawat dengan menggunakan Peraturan Menteri Nomor 126 Tahun 2015, analisis perbandingan waktu tempuh dan biaya perjalan dari ibu kota provinsi menuju ibu kota negara, dan analisis proporsi Bandara SAMS Sepinggan dan Bandara APT Pranoto. Hasil dari analisis perbandingan travel cost dan travel time dari ibu kota provinsi menuju ibu kota negara melalui Bandara SAMS Sepinggan berdasarkan penerbangan langsung didapatkan travel cost sebesar Rp. 730.303 dan travel time sebesar 2,28 jam pada Provinsi Sulawesi Tengah. Untuk rute eksisting melalui Bandara SAMS Sepinggan didapatkan travel cost sebesar Rp. 456.568 pada Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk rute eksisting pada Bandara APT Pranoto travel cost didapatkan sebesar Rp. 1.076.301 pada Provinsi Jawa Timur dan travel time sebesar 3,17 jam pada Provinsi Sulawesi Selatan. Proporsi bandara dilakukan dengan membandingkan jarak tempuh penerbangan langsung didapatkan sebesar 76% untuk Bandara SAMS Sepinggan dan 24% untuk Bandara APT Pranoto. Sedangkan berdasarkan rute eksisting, proporsi bandara didapatkan sebesar 100% untuk Bandara SAMS Sepinggan dan 0% untuk Bandara APT Pranoto.
Analisis Konektivitas Transportasi Udara Antar Ibukota Provinsi di Indonesia Akibat Pandemi Covid-19 Udyani Salma Widyaswari; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69241

Abstract

Perkuatan konektivitas transportasi dibutuhkan untuk meningkatkan akses masyarakat seluruh Indonesia yang merupakan negara kepulauan, sehingga produktivitas dan daya saing dapat meningkat serta merata. Sejak Maret 2020, penerbangan menjadi salah satu sektor yang terdampak Covid-19 yang mendorong diterapkannya berbagai kebijakan untuk mengurangi penyebaran virus. Penurunan penerbangan dapat berdampak pada perusahaan pengelola bandara dan maskapai penerbangan, seperti berkurangnya pendapatan yang dapat berpengaruh pada dana pemeliharaan. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis tingkat indeks konektivitas transportasi udara antar ibukota provinsi di Indonesia saat terdampak pandemi Covid-19. Analisis tingkat konektivitas dilakukan dengan Graph Theory, menggunakan data sekunder berupa daftar bandara dan pergerakannya serta data pembanding. Data pergerakan direpresentasikan dalam grafik model jaringan dan matriks konektivitas. Kemudian dihitung indeks konektivitas yang ditunjukkan oleh indeks alfa, indeks beta, dan indeks gama. Dilakukan juga analisis perubahan pendapatan bandara saat Covid-19. Dari hasil pembuatan matriks konektivitas yang meninjau penerbangan langsung, didapatkan mayoritas perubahan tingkat konektivitas saat Covid-19 merupakan penurunan dan penurunan terbesar adalah 78% pada Bandar Udara Sultan Thaha. Sementara itu, berdasarkan Graph Theory yang meninjau penerbangan langsung dan tidak langsung, didapatkan indeks konektivitas terbesar pada Bandar Udara Internasional Juanda yaitu indeks alfa 0,857, indeks beta 2,559, dan indeks gama 0,906. Mayoritas perubahan saat Covid-19 merupakan penurunan dan penurunan terbesar terjadi pada Bandar Udara Rendani yaitu indeks alfa 119,4%, indeks beta 57,8%, dan indeks gama 57,8%. Hasil analisis perubahan pendapatan bandara adalah penurunan pendapatan, dengan penurunan terbesar pada Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara yaitu 77%.
Analisis Potensi Rute Penerbangan Bandar Udara Singkawang Terkait Keberlangsungan Operasional Bandar Udara William Bunkharisma; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69320

Abstract

Kota Singkawang memiliki potensi pariwisata yang besar dikarenakan keragaman budaya dan keindahan alamnya. Dalam meningkatkan potensi pariwisata Kota Singkawang, pemerintah berencana untuk membangun bandar udara di Kota Singkawang untuk meningkatkan aksesibilitas menuju Kota Singkawang. Pembangunan suatu bandar udara memerlukan biaya yang besar agar bandar udara dapat beroperasional untuk melayani maskapai penerbangan dan pengguna jasa angkutan udara. Salah satu sumber pemasukan terbear dari suatu bandar udara adalah jumlah jasa angkutan udara yang terdapat di bandar udara tersebut. Oleh karenanya mengetahui potensi rute penerbangan di suatu bandar udara dapat menentukan keberlangsungan operasional di sebuah bandar udara. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah dengan menganalisis potensi rute penerbangan berdasarkan daerah tangkapan, biaya dan durasi penerbangan tiap rute. Dari hasil analisis Penelitian ini diperoleh pesawat dengan jangkauan penerbangan optimum terbesar yang dapat beroperasi di bandar udara Singkawang adalah Boeing 737 8 – Max. Kemudian berdasarkan pesawat yang dapat beroperasi di bandar udara Singkawang, terdapat 39 rute penerbangan domestik potensial. Untuk mengetahui rute potensial digunakan analisis daerah tangkapan dari tiap bandar udara di Indonesia untuk memperoleh jumlah populasi dan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) yang akan berpengaruh dengan besarnya potensi penerbangan antar dua bandar udara. Daerah tangkapan bandar udara Singkawang akan melayani 1.119.861 orang dan PDRB sebesar Rp 1.389.941 miliar pada awal beroperasional. Untuk biaya penerbangan tiap rute termasuk cukup kompetitif, sebagai contoh untuk rute penerbangan bandar udara Singkawang menuju bandar udara Soekarno – Hatta dengan pesawat Airbus A320 – 200 memerlukan biaya jasa penerbangan sebesar Rp 1.296.149/seat. Adapun bandar udara yang memiliki potensi tertinggi untuk dibukanya rute menuju bandar udara Singkawang seperti Soekarno – Hatta, Husein Sastranegara, Ahmad Yani, Radin Inten II dan Sultan Mahmud Badaruddin II.
Analisis Transportasi Seaplane terhadap Konektivitas Antar Pulau di Kabupaten Halmahera Selatan Raihan Akbar Ghifari; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69458

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Dunia. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, dimana hanya sekitar 7.000 pulau yang berpenghuni. Untuk negara yang terdiri dari banyak pulau seperti Indonesia, diperlukannya konektivitas transportasi yang baik. Namun, tidak dapat dipungkiri lagi masih banyak pulau-pulau yang sangat jarang disinggah karena keterbatasan transportasi, waktu tempuh perjalanan yang begitu lama, dll. Kabupaten Halmahera Selatan adalah kabupaten yang memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah terbesar di Provinsi Maluku Utara. Seaplane sebagai alat transportasi yang dapat memanfaatkan laut sebagai tempat pendaratan diharapkan bisa memenuhi kebutuhan berpergian antar pulau di Kabupaten Halmahera Selatan. Oleh sebab itu, pada penelitian ini dilakukan analisis transportasi seaplane terhadap konektivitas antar pulau di Kabupaten Halmahera Selatan. Pengerjaan penelitian ini dilakukan dengan memodelkan grafik representasi, membuat matriks konektivitas jaringan dan mencari travel time, travel cost serta kapasitas antara transportasi kapal dan seaplane, kemudian dianalisis dengan cara membandingkan travel time, travel cost dan kapasitas antara penggunaan transportasi kapal dengan transportasi seaplane dalam berpergian antar pulau. Dari hasil analisis penelitian ini didapatkan jarak tempuh dan travel time antar pulau di Kabupaten Halmahera Selatan menggunakan kapal dan seaplane. Kemudian didapatkan dari memodelkan grafik representasi dan membuat matriks konektivitas jaringan didapatkan pulau mana saja di Kabupaten Halmahera Selatan yang tidak memiliki direct koneksi dengan pulau yang memiliki bandar udara yaitu Pulau Bacan ada 3 pelabuhan. Kemudian dari hasil analisis travel time, travel cost, dan kapasitas didapatkan perbandingan antara transportasi kapal dan seaplane, yang mana transportasi seaplane dapat menghemat travel time sangat jauh dibandingkan menggunakan transpotasi kapal seperti dari Labuha ke Waikyon yang biasanya menggunakan kapal selama 331 menit, namun dengan menggunakan seaplane hanya selama 41 menit, akan tetapi harus mengeluarkan travel cost yang jauh lebih mahal dan hanya memiliki kapasitas terbatas dibanding dengan menggunakan kapal.
Analysis of Stiffness Modulus of Asphalt Concrete Mixture by Using Artificial Aggregates Gusti Made Bagus Baskara; Ervina Ahyudanari; I Nyoman Arya Thanaya
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.023 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.49666

Abstract

The type of damage to the pavement layer is cracking and permanent deformation. The mechanism of cracking in the pavement layer occurs because of the tensile force at the bottom of the pavement layer due to the wheel load of the vehicle. One parameter of a mixture to achieve strength and durability as needed is the relationship of stress and strain which shows the stiffness of a mixture. Indirect Tensile Strength is a method used to show the stiffness of a mixture. As infrastructure development in Indonesia continues to increase, the availability of natural aggregate materials is decreasing. One of the uses of geopolymer can be used as artificial aggregates to replace the depleted natural aggregates. The purpose of this study was to review the stiffness modulus of concrete asphalt mixture with the use of artificial aggregates made from geopolymer by using open gradations of BBA (Beton Bitumineux pour chausees Aeronautques). From the test results using the Dynapave UTM30 tool at 20 °Celsius and 60 °Celsius, stiffness modulus values of the asphalt mixture are 3542 MPa and 147 MPa. The increase in temperature causes a decrease in the stiffness modulus value of 96%, so that the increase in temperature will be accompanied by a decrease in the stiffness modulus.
PENGARUH RENCANA INDUK BANDAR UDARA DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN TERHADAP JUMLAH PENUMPANG ANGKUTAN UDARA PADA TAHUN 2020 DAN 2030 Eriza Islakul Ulmi; Ervina Ahyudanari
Journal of Civil Engineering Vol 34, No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.024 KB) | DOI: 10.12962/j20861206.v34i1.5176

Abstract

The Minister of Transportation Regulation No.69 of 2013 set the national master plan of the airport in 2020 and 2030 including the airports in the Province of South Kalimantan. This causes a change in the role of the airport in South Kalimantan so effected on travel pattern change and affect on passengers trip distribution. Therefore, an analysis is needed to predict passenger travel patterns in the future. Data of passenger movement from Syamsudin Noor Airport, Gusti Syamsir Alam Airport, and Bersujud Airport analyzed by Exponential Smoothing Forecasting Method. While Tanjung Warukin airport is analyzed by multiple regression analysis method. The result of this study is in 2020 there is a new route that is Tanjung-Kotabaru predicted as many as 1.773 passengers using the route, it gives influence on demand of airport in Kotabaru that is from 299.203 people will be 300,976 people. The newly operated Tanjung-Banjarmasin route has the potential to survive as indicated by the number of passengers in 2020 of 5942 people.
Co-Authors Abdallh. A. A. Lhwaint Abrahem A Ali blash Adhyaksa Adha Rahman Aditiya Rendra Riawan Aditiya Rendra Riawan Aditya Sutantio Aftoni Alvin Fahmi Akbar Bayu Kresno Suharso Akhmad Ittang Anwarsyah Amani, Farrell Zata Andree Noviar Pradana Anwar Efendy Artin Finalita Ary Wahyudi Baskara, Gusti Made Bagus Caristyan, Griselda Amadhea Catharina Tiffani Wulandari Christiono Utomo Deanty Putri Maritsa Dian Ayu Wicahyani Dimas Bagus Satriyo Wibowo Dimita Brilian Zahra Doddy Arief Wibowo Edi Supriyono Eriza Islakul Ulmi Faisal Esa Arighi Fajrin Ramadhani Febriliyan Samopa Fitria Putri Luthfiyani Freedy Kristiawan Gumbiratno Widiatmoko Gunawan Kunto Bhasworo Halim Prasetyo Hutomo Hariyadi, Hariyadi Hendra Annisa Putri Lintang Hestuningrum Hendrawan Setyo Warsito Hera Widyastuti Hersanti Rahayu Hidayatul Amri Hitapriya Suprayitno, Hitapriya Hutapea, Sean Ivander Sahata I Gede Mardawa I Nyoman Arya Thanaya I Putu Artama Wiguna Ida Bagus Barawakya Iik Radevi Burhamsi Putri Ilham Siara Indra Denny Priatna Indrasurya B. Mochtar Istiar Istiar Jaballah, Danish Inayat Jaelani, Lalu Muhamad Januarti Jaya Ekaputri Karyawan, I Dewa Made Alit Kevin Andrea Larri, Rossan Fadel Lilla Anjani Birahmatika Ma’ruf, Buana Maulina Indah Harvianti Maulina Indah Harvianti Mirza Al Mahbubi Mohmed Alshekh A. M. Hmade Muhammad Galih Muhammad Irfan Ardiansyah Muhammad Nursalim Muhammad Rezky Ridwan Muhammad Yuanto Permana Muhtadi, Adhi Nur Iriawan Nursakti Adhi Pratomoadmojo Ofel Simon Pangestu, M. Agus Prastyanto, Catur Arif R. Haryo Triharso Seno Raihan Akbar Ghifari Rita Ambarwati Rizky Fitri Amalia Istighfaroh Rohmatul Maghfiroh Rosman Hidayatulloh Rungkat, Jersey Jehezkiel Elison Ruffi Salsabila, Dhea Lutfiyah Sekartadji, Ratih Shoffan Abdi Tunggal Stefanus Stefanus Sulaksmono, Haris Sulhan Sulhan Supriyanto, Supriyanto Suryawan Murtiadi, Suryawan Syarif, Iif Ahmad Taftazani Hakim Udyani Salma Widyaswari Wahyu Herijanto Wajdino Arfa Rajawidad Wasono, Sapto Budi Widhi Utomo Megantoro Widodo, Alvian Wahyu William Bunkharisma Windy Ariesna Wardhani Wiryanta, Wiryanta Youngky Riantara Putra