Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Strategi Pembelajaran Sejarah Abad 21: Kajian Literatur Irfan Swanto Yusni; Wafa Kamila; Indah Ramadhani; Rani Oktapiani; Syarifuddin Syarifuddin; Sani Safitri
Educational Journal Vol. 1 No. 3 (2026): FEBRUARI-APRIL
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/p2tvmj03

Abstract

Perkembangan pendidikan abad ke-21 menuntut strategi pembelajaran sejarah yang menggeser praktik konvensional menuju pembelajaran berpusat pada peserta didik, penguatan keterampilan berpikir historis, serta integrasi teknologi digital dan literasi sumber. Artikel ini bertujuan mengidentifikasi, membandingkan, dan menganalisis strategi pembelajaran sejarah yang dibahas dalam jurnal ilmiah nasional. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka sistematis (systematic literature review) terhadap studi-studi relevan. Hasil kajian menunjukkan konsistensi temuan bahwa model pembelajaran inovatif seperti problem-based learning, project-based learning, diskusi analitis, serta pemanfaatan arsip dan sumber daring berkontribusi pada peningkatan kemampuan analisis, interpretasi sumber, argumentasi historis, dan literasi digital siswa. Namun, implementasi masih dibatasi oleh kompetensi digital guru dan keterbatasan kemampuan evaluasi sumber oleh peserta didik. Implikasi praktisnya meliputi kebutuhan pelatihan guru, penyediaan infrastruktur digital, serta desain pembelajaran yang menekankan literasi sumber dan keterampilan historis
Karakteristik Ideal Bahan Ajar dalam Meningkatkan Keterlibatan dan Pemahaman Peserta Didik M. Zalva Zakira; Indah Wulandari; Herni Mandala Putri; Sani Safitri; Rani Oktapiani
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 12 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i12.22096

Abstract

Materi pembelajaran merupakan elemen esensial dalam proses pendidikan yang memiliki peran krusial untuk meningkatkan partisipasi dan penguasaan materi oleh siswa. Studi ini menganalisis ciri-ciri optimal materi pembelajaran yang mampu memaksimalkan efektivitas proses belajar mengajar. Pendekatan studi pustaka diterapkan untuk menelaah berbagai teori, kegunaan, dan ciri-ciri materi pembelajaran berdasarkan pandangan para pakar dan temuan riset yang relevan. Temuan kajian mengindikasikan bahwa materi pembelajaran yang optimal memiliki ciri-ciri pokok yakni dapat dipelajari secara mandiri, memuat konten yang lengkap, berdiri sendiri, dapat beradaptasi, serta mudah digunakan. Materi pembelajaran yang tersusun dengan tepat tidak semata-mata berperan sebagai sarana penyaluran pengetahuan, melainkan juga sebagai instrumen yang mampu mendorong siswa menjadi lebih proaktif, inovatif, dan otonom dalam aktivitas belajar. Keterkaitan antara materi pembelajaran dengan partisipasi dan penguasaan siswa memiliki sifat resiprokal, di mana materi pembelajaran yang memikat, kontekstual, dan dinamis mampu menumbuhkan partisipasi siswa yang optimal, yang kemudian memberikan dampak konstruktif terhadap pendalaman pemahaman konseptual. Kajian ini menyarankan supaya para pengajar senantiasa melakukan inovasi dalam merancang materi pembelajaran dengan memerhatikan dimensi visual, penggunaan bahasa, relevansi dengan realitas siswa, dan penggabungan teknologi guna mewujudkan pembelajaran yang produktif, menggembirakan, dan substansial.
Asesmen Digital: Solusi Inovatif untuk Evaluasi Pembelajaran yang Lebih Efesien Vivi Widia Wati; Aulan Aulan; Dapid Ariyando; Syarifuddin Syarifuddin; Rani Oktapiani
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 2 (2026): MARET 2026
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/77syph64

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mendorong transformasi sistem evaluasi pembelajaran melalui penerapan asesmen digital sebagai bentuk penilaian berbasis teknologi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep, implementasi, serta tantangan dan dampak asesmen digital terhadap kualitas pembelajaran. Asesmen digital dipahami sebagai proses evaluasi yang memanfaatkan perangkat dan platform daring untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, serta pengelolaan data hasil belajar. Dibandingkan dengan asesmen konvensional, asesmen digital menawarkan keunggulan berupa efisiensi waktu, otomatisasi penilaian, kemudahan analisis data, serta pemberian umpan balik yang cepat dan akurat. Implementasinya di sekolah dan perguruan tinggi dilakukan melalui berbagai Learning Management System (LMS), Google Form, dan aplikasi evaluasi berbasis teknologi lainnya dengan strategi yang disesuaikan pada capaian pembelajaran. Meskipun demikian, penerapannya masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, rendahnya literasi digital, serta isu keamanan data. Secara keseluruhan, apabila diterapkan secara terencana dan didukung kesiapan sumber daya, asesmen digital berpotensi meningkatkan objektivitas, transparansi, dan kualitas pembelajaran berbasis data.  
Model Pembelajaran Sejarah Berbasis Teknologi Sebagai Inovasi Peningkatan Minat Belajar Siswa di Sekolah Menengah Atas Muhammad Bagas Hidayatullah; Fadhilah Fadhilah; Syarfira Syarfira; Syarifuddin Syarifuddin; Rani Oktapiani
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 2 (2026): MARET 2026
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/2t6kpz18

Abstract

Pembelajaran sejarah di Sekolah Menengah Atas sering kali dipersepsikan sebagai pembelajaran yang membosankan karena dominasi metode konvensional yang berpusat pada guru dan menekankan hafalan fakta. Kondisi ini berdampak pada rendahnya minat dan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model pembelajaran sejarah berbasis teknologi sebagai inovasi dalam meningkatkan minat belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas satu orang guru sejarah dan peserta didik kelas XI di salah satu Sekolah Menengah Atas yang telah menerapkan pembelajaran berbasis teknologi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem-Based Learning (PBL), Project-Based Learning (PjBL), dan Blended Learning yang terintegrasi dengan media digital dan audio-visual mampu meningkatkan partisipasi aktif, motivasi belajar, serta kemampuan berpikir kritis siswa. Pemanfaatan teknologi menjadikan pembelajaran lebih interaktif, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, pembelajaran sejarah berbasis teknologi dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan kualitas dan daya tarik pembelajaran sejarah di era digital.
Integrasi Teknologi Deep Learning untuk Transformasi Kemampuan berpikir Kritis Siswa di Era Digital Gerasela Gerasela; Muhammad Al-Aziz Akbar; Yuri Olivia Br Tarigan; Syarifuddin Syarifuddin; Rani Oktapiani
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 2 (2026): MARET 2026
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/v0hvwn67

Abstract

Transformasi digital memicu paradoks informasi berupa information overload dan fenomena echo chamber yang mengancam objektivitas kognitif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana integrasi teknologi Deep Learning dapat mentransformasi kemampuan berpikir kritis siswa sebagai bagian dari Higher Order Thinking Skills (HOTS) di era digital. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan serta menganalisis data dari artikel jurnal dan buku elektronik yang relevan dengan kecerdasan buatan serta pedagogi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi Deep Learning melalui model Blended Learning 2.0 dan Project-Based Learning mampu menggeser peran guru menjadi desainer pengalaman belajar yang memfasilitasi diskusi reflektif. Penggunaan sistem kecerdasan buatan adaptif dan literasi algoritma membantu siswa mengevaluasi bias informasi serta memvalidasi data secara kritis. Simpulan penelitian menegaskan bahwa kolaborasi human-in-the-loop antara guru dan teknologi sangat krusial untuk membangun karakter digital yang bertanggung jawab.    
Strategi Pembelajaran Sejarah Untuk Mengembangkan Kesadaran Sejarah Peserta Didik di Era Kontamporer Anggita Novi Ariyanti; Fanisa Putri Anggraini; M. Andre Ansyah; Syarifuddin Syarifuddin; Rani Oktapiani
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 2 (2026): MARET 2026
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/dxk8bg26

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis strategi pembelajaran sejarah untuk mengembangkan kesadaran sejarah peserta didik di era kontemporer. Perkembangan teknologi dan dinamika sosial menuntut pembelajaran sejarah tidak lagi berorientasi pada hafalan fakta, tetapi pada pemahaman kritis dan reflektif mengenai hubungan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Artikel ini membahas tiga strategi utama. Pertama, pemanfaatan digital storytelling dan arsip digital yang mendorong peserta didik menyusun narasi sejarah secara aktif melalui analisis berbagai sumber digital. Kedua, pendekatan isu kontroversial yang dikaitkan dengan konteks masa kini untuk menumbuhkan relevansi, empati, dan kemampuan berpikir multiperspektif melalui diskusi serta analisis sumber. Ketiga, internalisasi nilai melalui model historical empathy yang membantu peserta didik memahami peristiwa masa lalu sesuai dengan konteks zamannya sehingga terbentuk kesadaran yang reflektif dan humanis. Melalui ketiga strategi tersebut, pembelajaran sejarah diharapkan mampu membentuk peserta didik yang kritis, empatik, dan memiliki kesadaran historis dalam menghadapi tantangan kehidupan kontemporer.
Strategi Pembelajaran Sejarah Berbasis HOTS dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Rimadia Rimadia; Maulidya Dwi Melantika; Bilal Bilal; Syarifuddin Syarifuddin; Rani Oktapiani
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 2 (2026): MARET 2026
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/e7apzz74

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menelaah pendekatan pengajaran sejarah yang menggunakan Higher Order Thinking Skills (HOTS) untuk memperbaiki kemampuan berpikir tingkat tinggi pada murid dengan metode penelitian melalui kajian tulisan. Informasi diperoleh dari analisis berbagai jurnal, buku akademis, dan studi relevan yang berhubungan dengan konsep HOTS, esensi pembelajaran sejarah dengan pendekatan HOTS, strategi penerapannya, serta efeknya terhadap kemampuan berpikir pelajar. HOTS diartikan sebagai kemampuan berpikir pada tahapan analisis, evaluasi, dan kreasi yang mengharuskan siswa tidak hanya menguasai fakta sejarah, tetapi juga dapat menginterpretasi, mengkritik, serta merekonstruksi arti peristiwa dengan cara rasional dan berbasis bukti. Pembelajaran sejarah dengan pendekatan HOTS mendorong siswa untuk berperan aktif melalui pemanfaatan sumber sejarah primer dan sekunder, serta penerapan metode seperti Problem Based Learning, Inquiry Learning, Project Based Learning, dan diskusi sejarah. Temuan dari kajian ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut memiliki pengaruh signifikan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif siswa, sehingga pengajaran sejarah menjadi lebih relevan dan sesuai dengan tuntutan zaman modern abad ke-21.  
Pembelajaran Sejarah Abad 21 Berbasis Teknologi Digital dan Penguatan Karakter Peserta Didik Syaffrizal Aziz; Ranti Sabariani; Dhaifah Khairunnisa Bilge; Syarifuddin Syarifuddin; Rani Oktapiani
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 2 (2026): MARET 2026
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/z4662x61

Abstract

Perkembangan teknologi digital di masa kini mengharuskan perubahan dalam cara proses belajar, termasuk cara belajar sejarah. Artikel ini ingin membahas tentang kebutuhan belajar sejarah di abad ke-21, peran teknologi digital dalam membantu proses belajar, penggunaan model pembelajaran yang inovatif berbasis teknologi, pembentukan karakter siswa, serta cara melakukan penilaian secara digital dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode riset kepustakaan, yaitu dengan menganalisis berbagai jurnal ilmiah dan bahan bacaan akademik yang berkaitan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah di abad ke-21 perlu difokuskan pada pengembangan empat keterampilan utama yaitu berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif (4C), serta meningkatkan literasi digital dan kemampuan berpikir historis. Menggunakan teknologi seperti sistem pembelajaran online, video, dan aplikasi penilaian digital bisa membuat siswa lebih tertarik dan aktif dalam proses belajar. Model pembelajaran inovatif seperti pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, dan metode kelas terbalik yang didukung oleh teknologi digital sudah terbukti membantu mengembangkan keterampilan abad ke-21 serta meningkatkan kemampuan belajar mandiri. Selain itu, belajar sejarah memiliki peran penting dalam memperkuat kepribadian seseorang dengan menerapkan nilai-nilai seperti nasionalisme, toleransi, dan rasa tanggung jawab. Dengan menggabungkan teknologi dan bimbingan pembelajaran yang tepat, pembelajaran sejarah bisa lebih sesuai, bermakna, dan efektif dalam membentuk generasi yang cerdas dan memiliki karakter di tengah era digital.
Pengaruh Project Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreativitas Peserta Didik pada Pelajaran Sejarah Sabitah Salwa Al Farras; Pradita Ataza; M. Rizky Kurniawan; Syarifuddin Syarifuddin; Rani Oktapiani
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 2 (2026): MARET 2026
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/fkm7n977

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji dampak penerapan Project Based Learning (PjBL) terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreativitas siswa dalam pembelajaran sejarah. Latar belakangnya adalah dominannya metode teacher-centered dan hafalan yang belum mampu mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen proyek siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PjBL mendorong pembelajaran yang lebih kolaboratif dan investigatif, di mana siswa aktif mengidentifikasi masalah, menganalisis sumber sejarah, serta menyusun argumen berbasis bukti. Proses ini memperkuat kemampuan berpikir kritis sekaligus mengembangkan kreativitas melalui proyek kontekstual dan pemanfaatan media digital. Meski memerlukan perencanaan matang dan pengelolaan waktu yang efektif, PjBL terbukti relevan dengan Kurikulum Merdeka dan tuntutan kompetensi abad ke-21. Dengan demikian, PjBL berpotensi menjadi strategi inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah secara berkelanjutan.
Peran Guru Abad 21 dalam Menerapkan Model Pembelajaran Sejarah Inovatif dan Berorientasi pada Student-Centred Ragil Pangestu; Aqilah Fakhriyati Auliya; Siti Nurbaya; Sani Safitri; Rani Oktapiani
Jurnal Terapan Pendidikan Dasar dan Menengah Vol. 6 No. 1 (2026): Volume 6, Nomor 1, Maret 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/jtpdm.v6i1.2283

Abstract

Artikel ini mengkaji peran guru abad ke-21 dalam merancang kurikulum sejarah yang menempatkan siswa sebagai pusat proses pembelajaran. Fokus bahasan mencakup kemampuan guru merancang strategi aktif, kolaboratif, dan berbasis teknologi yang relevan dengan kebutuhan literasi historis masa kini. Analisis menunjukkan bahwa efektivitas pembelajaran sejarah bergantung pada kreativitas guru dalam memfasilitasi eksplorasi sumber, aktivitas analitis, serta pemecahan masalah kontekstual. Artikel ini menegaskan bahwa transformasi peran guru dan penguatan kompetensi pedagogis merupakan prasyarat penting untuk mewujudkan pembelajaran sejarah yang inovatif, partisipatif, dan berkelanjutan.