Claim Missing Document
Check
Articles

Inspection of Leveling and Verticality of Silo Foundations Due to Settlement Based on SNI 8460: 2017 Citra, Zel; Gede Ananda Kusuma, I Dewa; Adistana, Herlis Sweta; Lumingkewas, Riana Herlina; Haifan, Mohamad
CIVED Vol. 11 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/cived.v11i2.600

Abstract

The foundation is the most essential structural element of a building structure. A solid and stable foundation is a critical factor in ensuring the sustainability and safety of a building. Proper planning and calculations are essential in designing the foundation to withstand the structural loads from the building above it and ensure that the foundation does not experience dangerous settlement or collapse. In this research, the author conducted a study or examination of the condition of Silo Foundation PT XYZ is located in the Tangerang. The number of silo foundations built was 7 units (silo 17, silo 18, silo 19, silo 20, silo 21, silo 22 and silo 23). This silo is a vertical storage structure that functions as a place to store raw materials for animal feed. The condition of the silo foundation structure is known to have decreased after being filled to a maximum capacity of 5000T. To determine the condition of the foundation structure, it is necessary to carry out a measurement survey by checking levelling and verticality using reference standards or rules used by SNI 8640:2017. The results of foundation levelling tests for silo 17, silo 18, silo 19, silo 20, silo 21, silo 22 and silo 23 in Balaraja District, Tangerang Regency, there is the most significant elevation difference occurring at silo 19, namely 127 mm, which is based on SNI Geotechnical 8460-2017 Maximum building settlement is included in High Risk because the settlement is > 75 mm. The elevation differences in the other silos fall into the Small Risk to Medium Risk categories. Meanwhile, based on the results of checking verticality, it was found that the slope value of the structure in Silos 18, 19 and 21 experienced a slope that exceeded the maximum required permit limit of 20mm. Therefore, it is necessary to carry out regular inspections to monitor the movement or decline of the silo foundation so as not to cause risks or conditions of structural failure.
Risk Assessment on The Bandung Hilton Hotel Construction Project Utilizing The FMEA and FTA Methods Kholida, Lily; Melina Lubis, Nadia Tutur; Citra, Zel; Hasdian, Elhazri
CIVED Vol. 11 No. 2 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/cived.v11i2.604

Abstract

Risk is the possibility or uncertainty of unexpected events occurring during the implementation of work which could harm the party carrying out the activity, the example is a risk of work accidents. The potential risk of work accidents also occurs in the Hilton Hotel Construction Project in Kota Baru Parahyangan - West Bandung. The project is a high-rise building with a height of 23 floors which of course has a fairly high risk of work accidents. This research aims to find out the dominant risk and its factors.This research applied two methods in analyzing, those methods are Failure Mode and Effect Analysis Method (FMEA) and Fault Tree Analysis Method (FTA). Having can be identified and analyzed that risks by using those methods, this research did some steps by using Method for Obtain Cut Set (MOCUS) for finding basic event combination.The results of this research are to determine the dominant risk of work accidents using the FMEA method, namely the activity of workers falling from a height during glass installation work with an RPN value of 26,3. Based on the FTA method, it produces 16 basic events are feeling unwell, lack of concentration, lack of enthusiasm for work, excessive joking, not seeing signs, lack of communication, lack of supervision time, lack of K3 training, less comfortable using PPE, limited amount of PPE, lack of training, lack of experience, signs that are too small, signs blocked by objects, slippery roads due to rain, and a messy work environment.
Integrasi Pemanfaatan Sumur Biopori Sebagai Drainase Vertikal dan Pengolahan Sampah Organik di Kelurahan Kembangan Meruya Selatan Citra, Zel; Malinda, Yosie; Wibowo, Paksi Dwiyanto; Elza, Suci Putri; Fitriansyah, Erlangga Rizqi
Jurnal Pengabdian West Science Vol 3 No 05 (2024): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v3i05.1141

Abstract

Akibat curah hujan yang cukup tinggi di Indonesia, maka muncul persoalan genangan air hujan yang terlalu lama di halaman rumah masyarakat. Hal ini tidak dapat dipandang remeh karena dapat menimbulkan beragam penyakit. Penyebabnya merupakan dampak minimnya resapan air di ruas-ruas ruang terbuka di kawasan tersebut yang semakin memperparah dampak limpasan air hujan yang ditimbulkan. Berdasarkan data dari KLHK tahun 2020, sampah rumah tangga juga jumlahnya sangat banyak. Dalam rangka memberi solusi bagi persoalan air hujan, lingkungan dan kesehatan masyarakat serta pengolahan sampah limbah warga di sekitar Kelurahan Kembangan Meruya Selatan tersebut maka diusulkan program pengabdian berjudul “Integrasi Pemanfaatan Sumur Biopori Sebagai Drainase Vertikal dan Pengolahan Sampah Organik”. Hasil pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Prodi Teknik Sipil Universitas Mercu Buana kepada Mitra, dimana hasilnya mitra merasa cukup puas dengan tingkat harapan sebesar 95% dan kepuasan mencapai 98%.
Peningkatan Pemahaman Masyarakat terkait Manfaat Sumur Biopori sebagai Drainase Vertikal dalam Mengatasi Banjir di Kelurahan Meruya Selatan Malinda, Yosie; Citra, Zel; Wibowo, Paksi Dwiyanto; Wibisono, Anom
Jurnal Pengabdian West Science Vol 3 No 05 (2024): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v3i05.1142

Abstract

Topografi Jakarta bervariasi, namun sebagian besar berada pada dataran rendah dengan kemiringan antara 0-2% dan ketinggian rata-rata sekitar 7 meter di atas permukaan air laut. Musim penghujan dimulai pada Oktober-Maret, sedangkan musim kemarau biasanya dimulai pada bulan April-September. Curah hujannya rata-rata 920,1 milimeter pertahun. Menurut Badan Nasional Penanggulan Bencana (2020), Jakarta Barat dengan 18 kelurahan, 2.887 orang mengungsi, Jakarta Utara dengan 5 kelurahan, 738 orang mengungsi, Jakarta Timur dengan 6 kelurahan, 3.640 orang mengungsi, Jakarta Pusat dengan data nihil dan Jakarta Selatan dengan 10 kelurahan, 4.209 orang mengungsi dan ketinggian air mencapai 0,3-1,2 meter. Banjir di Jakarta sudah menjadi masalah yang kerap terjadi terutama dengan adanya faktor sekunder dan faktor primer. Faktor sekunder adalah intensitas hujan yang tinggi. Faktor primer adalah kebiasaan masyarakat membuang sampah pada saluran air perkotaan, banyak saluran drainase yang menyempit oleh padatnya bangunan, menebalnya sedimentasi yang terakumulasi oleh sampah di aliran badan air, sehingga air tidak bisa mengalir dengan lancar. Oleh karena itu, munculah ide pembuatan lubang resapan biopori dimana bahan utamanya adalah sampah organik. Lubang resapan biopori (LRB) itu sendiri merupakan lubang vertikal silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan ukuran diameter 10-30 cm, dengan kedalaman 50-100 cm atau bila permukaan air tanahnya dangkal, maka tidak sampai kedalaman air tanah. Pemberdayaan kepada masyarakat menekankan pada aspek keterampilan, pengetahuan, keahlian untuk meningkatkan kapasitas dirinya yang cukup, sehingga jika terjadi suatu bencana banjir maka masyarakat sekitar dapat diberdayakan secara mandiri untuk mengatasinya. Teknik yang sederhana dalam mengatasi banjir, maka diusulkan program pengabdian berjudul “Peningkatan Pemahaman Masyarakat terkait Manfaat Sumur Biopori sebagai Drainase Vertikal dalam Mengatasi Banjir di Kecamatan Kembangan Meruya Selatan”.
Implementasi Pembuatan Konstruksi Sumur Biopori Di Kelurahan Meruya Selatan Wibisono, Anom; Citra, Zel; Malinda, Yosie; Dwiyanto WIbowo, Paksi
Jurnal Pengabdian West Science Vol 3 No 05 (2024): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v3i05.1151

Abstract

Tindakan untuk meminimalisir kejadian genangan atau banjir di wilayah DKI Jakarta serta meningkatkan konservasi air untukterjaminnya ketersediaan air bersih di Kota Jakarta, maka salah satu solusinya dengan Pekerjaan Pembuatan Lubang Biopori dan Sumur Resapan di wilayah di Kota Jakarta. Biopori adalah teknik sederhana untuk melindungi tanah dan menghasilkan kualitas air yang bersih. Biopori dibuat dengan prinsip ekohidrologi, yaitu untuk memperbaiki kondisi tanah sehingga fungsi hidrologi ekosistem terjaga. Teknik ini bisa digunakan pada area padat pemukiman dan tidak memiliki lahan terbuka sama sekali, atau area persawahan di area perbukitan. Dalam rangka memberi solusi bagi persoalan air hujan, lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar Kelurahan Meruya Selatan tersebut maka diusulkan program pengabdian berjudul “Implementasi Pembuatan Konstruksi Sumur Biopori Sebagai di Kelurahan Kembangan Meruya Selatan”.
Penyuluhan Terkait Bahan dan Peralatan Pembuatan Biopori kepada Masyarakat Kembangan Meruya Selatan Frangklyn Sinulingga, Jef; Sinulingga, Jef Frangklyn; Dharmapribadi, Ernanda; Kinasih, Reni Karno; Citra, Zel; Malinda, Yosie; Wibisono, Anom; Wibowo, Paksi Dwiyanto
Jurnal Pengabdian West Science Vol 3 No 05 (2024): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v3i05.1162

Abstract

Pertumbuhan kota Jakarta yang pesat dan pembangunan bangunan gedung meningkat, maka resapan air hujan menjadi berkurang. Pada musim hujan, banjir terjadi dalam jumlah besar, dan pada musim kemarau, kekeringan terjadi karena kurangnya air di tanah. Dengan teknologi pembuatan lubang resapan biopori jumlah kapasitas atau volume air yang meresap akan meningkat. Kegiatan pengabdian masyarakat itu menjadi ajang untuk mendorong inovasi dan pembelajaran berkelanjutan. Melestarikan air tanah dengan membuat biopori di rumah-rumah sebagai drainase vertikal Meruya Selatan. Pengabdian masyarakat merupakan upaya mewujudkan perubahan positif bagi lingkungan dan pembuatan biopori merupakan sebuah inovasi ini diharapkan dapat memberikan solusi bagi tantangan lingkungan sekitar.
Penyuluhan tentang Bahan Bangunan yang Berkualitas untuk Rumah Aman Gempa Citra, Zel; Malinda, Yosie; Wibisono, Anom; Wibowo, Paksi Dwiyanto; Apdeni, Risma
Jurnal Pengabdian West Science Vol 3 No 12 (2024): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v3i12.1825

Abstract

Indonesia merupakan wilayah yang sangat berpotensi terkena gempa bumi. Karena posisinya yang diapit lempeng Eurasia, Indo Australia dan Pasifik. Kondisi wilayah Indonesia masuk ke dalam kategori wilayah yang sangat rawan bencana gempa bumi. Oleh sebab itu, pemerintah melalui menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengingatkan supaya tercipatanya rumah dengan konstruksi ramah gempa bagi masyarakat dengan menggunakan bahan konstruksi atau material bangunan dengan kualitas yang baik serta harga terjangkau bagi masyarakat untuk pembuatan struktur bangunan seperti pondasi, sloof, kolom, balok, dinding, serta atap bangunan. Hasil pelaksanaan pengabdian masyarakat di SMK Negeri 4 Tangerang, peserta terutama siswa sudah mampu untuk memahami dan menjelaskan bahan bangunan yang baik dan berkualitas bangunan untuk konstruksi rumah yang aman terhadap gempa. Bahan bangunan yang dipergunakan seperti pasir, batu, bata, semen, besi, kayu, dan air.
Implementasi Pemasangan Geotextile Non Woven untuk Biopori Resapan Air Hujan di Kembangan Utara Malinda, Yosie; Citra, Zel; Wibowo, Paksi Dwiyanto; Wibisono, Anom
Jurnal Pengabdian West Science Vol 4 No 01 (2025): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v4i01.1853

Abstract

Sistem drainase yang buruk merupakan suatu masalah sehingga genangan air sering muncul terutama di kota-kota yang padat penduduk. Sebagai civitas akademis yang memiliki tanggung jawab moral untuk menangani dan memecahkan masalah-masalah tersebut dengan menggunakan IPTEK. Salah satunya yaitu membangun sumur resapan. Sumur resapan digunakan untuk meresapkan air permukaan jika terjadi hujan atau genangan masuk ke dalam tanah. Saat ini, salah satu teknologi resapan yaitu modular tank tau geotextile non-woven yang dibuat dari polimer berbahan dasar polypropylene. Pada hari Sabtu tanggal 18 Januari 2020 dan Sabtu tanggal 29 Januari 2020, pelaksanaan pengabdian masyarakat dengan pengenalan geotextile non-woven dan praktik pemasangannya telah dilakukan di lima lokasi seperti Kantor Kelurahan Kembangan Utara, RT 01 RW 01 Kelurahan Kembangan Utara, RT 01 RW 02 Kelurahan Kembangan Utara, RT 01 RW 03 Kelurahan Kembangan Utara, dan RPTRA Kelurahan Kembangan Utara.
Integration of Java Programming-Based Pert and Earned Value Management Methods Based on Residential Precast Case Study to Improve Project Cost Efficiency Citra, Zel; Wibowo, Paksi Dwiyanto; Malinda, Yosie; Pranoto, Rodliyan Yusuf; Pitaloka, Fanny
Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 1 (2024): Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 1
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2024.018.01.3

Abstract

The need for residential houses is still high for property and construction commodities. The availability of land and market prices for residential houses continue to increase yearly. Only 45.04% of Jakarta residents had a home ownership status in 2020. 2021 is the precast building mode. It is justified that precast construction structures can save 35% on construction costs and are 27.33% more reliable than ordinary concrete structures. The research examines the integration of the PERT method and earned value management (EVM) based on Java programming in residential precast case studies. The results of this study are that the implementation of the PERT method can increase the efficiency of project duration by 6%, and the implementation of the EVM method can increase project cost efficiency by 7% with the indicators Schedule Performance Index (SPI) = 1.01 (under schedule) and Cost Performance Index = 1, 07 (Under Budget)
Inspection of Foundation Structures with Pile Integrity Test (PIT) of Steel Tower Building Citra, Zel; Malinda, Yosie; Dwiyanto Wibowo, Paksi; Ferial Ashadi, Reza; Wibisono, Anom; Apdeni, Risma
Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 2 (2024): Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 2
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2024.018.02.10

Abstract

Pile Integrity Test (PIT) is a tool from Pile Dynamic Inc. (PDI), consisting of a mini-computer, accelerometer, and hammer. Integrity testing on piles using PIT equipment is carried out by analyzing one-dimensional wave propagation provided by hammer blows on the pile head. An accelerometer sensor installed on the pole will read the reflection that occurs during wave propagation on the pole head. The wave propagation speed that occurs in concrete will range from 3,500 m/s to 4,200 m/s. The PIT test results indicate the reduction in impedance in the pole by the BTA value, which compares the theoretical impedance value to the residual impedance. From the results of the Pile Integrity Test carried out at three pile points, it was found that all samples experienced a reduction in impedance around a depth of ± 3.0 meters below the sensor with BTA values of 75%, 78%, and 72% and fell into the damaged category. The reduction in impedance at a depth of 3 meters is most likely part of the connection between piles because one pile point uses 2–3 spun piles, with the length of 1 spun pile being 9 meters. From the results of visual observations, it can be seen that the condition of the existing spun pile and pile cap is still quite good.