Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

EFEKTIVITAS TEKNIK FADING DENGAN MEDIA BONEKA TANGAN DALAM MENURUNKAN PERILAKU MENANGIS AKIBAT PERPISAHAN PADA ANAK USIA DINI: STUDI SUBJEK TUNGGAL DI PAUD LAB SCHOOL UNIVERSITAS NEGERI PADANG Jantika, Gita; Feny Rahayu, Wirza
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.46581

Abstract

Crying behavior due to separation anxiety in early childhood is still a challenge in the adaptation process in the school environment, while interventions that integrate behavioral approaches and play media are still limited. This study aims to test the effectiveness of fading techniques with hand puppet media in reducing crying behavior in 4-year-old children at the PAUD Lab School, Padang State University. This study uses a single-subject experimental method with an A–B–A' design, which includes the baseline, intervention, and post-intervention stages. Data collection was carried out through observation and interviews with a focus on the duration of crying behavior when the child was separated from his parents. Intervention is provided through gradual exposure supported by the use of hand puppet media as a means of storytelling. The data was analyzed using visual analysis including changes in levels, trends, and overlaps between phases. The results showed a consistent decrease in the duration of crying behavior, from 28–24 minutes in the baseline phase to 22–13 minutes in the intervention phase, and further decreased to 12–5 minutes in the post-intervention phase. These findings show that the integration of fading techniques and hand puppet media is effective in supporting children's emotional regulation and can be an applicable intervention strategy in the context of early childhood education.
Efektivitas Program Intervensi SERASI (Sekolah Ramah Inklusi) Berbasis Psikologi Islam dalam Meningkatkan Sikap Orang Tua terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus di PAUD Inklusi Wirza Feny Rahayu; Shafra Shafra
Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam Vol 17, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/alqalb.v17i1.14036

Abstract

Sikap orang tua merupakan determinan kunci dalam keberhasilan pendidikan inklusif, namun masih ditemukan persepsi negatif terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia. Intervensi yang ada umumnya berfokus pada aspek kognitif dan belum mengintegrasikan dimensi nilai yang berpotensi memperkuat perubahan sikap secara mendalam. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas program intervensi SERASI (Sekolah Ramah Inklusi) berbasis psikologi Islam dalam meningkatkan sikap orang tua terhadap siswa berkebutuhan khusus. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen one-group pretest-posttest yang melibatkan 38 orang tua siswa PAUD inklusi di Kota Padang. Intervensi mengintegrasikan psikoedukasi, experiential learning, serta internalisasi nilai rahmah (compassion), sabr (patience), dan tawakkul (trust). Pengukuran dilakukan menggunakan skala PATCH. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada sikap orang tua, dari skor rata-rata pretest (M = 78,42; SD = 7,12) menjadi posttest (M = 85,76; SD = 8,90), t (37) = -6,214, p < 0,001, dengan effect size besar (d = 1,01). Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi SERASI efektif dalam membentuk sikap inklusif melalui integrasi psikoedukasi, pengalaman langsung, dan nilai psikologi Islam. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan intervensi berbasis nilai yang kontekstual dalam pendidikan inklusif PAUD serta menegaskan pentingnya pelibatan orang tua dalam membangun ekosistem inklusi.
Kontribusi Adverse Childhood Experiences Terhadap Self-Criticism Pada Emerging Adulthood Di Kota Padang Aura Ansri; Mario Pratama; Iftita Rahmi; Wirza Feny Rahayu
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol. 9 No. 2 (2026): Februari
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/psi.v9i2.7645

Abstract

This study aimed to ex amine the contribution of ACEs to self-criticism among emerging adults in Padang City. A quantitative correlational design was employed with 101 emerging adults aged 18–25 years who had experienced at least one form of ACE, selected using purposive sampling. Data were collected online using the Forms of Self-Criticizing/Attacking and Self-Reassuring Scale (FSCRS) and the World Health Organization Adverse Childhood Experiences International Questionnaire (WHO ACE-IQ). Multiple linear regression analysis. The findings indicated that ACEs significantly contributed to self-criticism. Partially, the dimensions of childhood maltreatment and family/household dysfunction showed significant contributions, whereas violence outside the home did not demonstrate a significant effect. These results suggest that adverse experiences occurring within the family environment play a critical role in shaping self-critical tendencies during emerging adulthood. This study highlights the importance of early prevention and psychological interventions targeting individuals with a history of childhood adversity.
Gambaran Kemampuan Kognitif Anak Disabilitas Intelektual : Studi Literatur Nadila Salza Putri; Aditya Briliant Ananta; Ana Yuliani; Fitria Lestari; Wirza Feny Rahayu
CAUSALITA : Journal of Psychology Vol 4 No 1 (2026): CAUSALITA: Journal of Psychology
Publisher : CV. Causalita Dynamic Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62260/causalita.v4i1.497

Abstract

Perkembangan kognitif adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak, karena ini memengaruhi cara mereka berpikir, dapat memecahkan masalah, menyimpan informasi, dan membuat keputusan sehari-hari. Namun, tidak semua anak mengalami perkembangan kognitif dengan cara yang sama. Anak-anak yang memiliki disabilitas intelektual ringan atau tunagrahita ringan sering mengalami kesulitan dalam fungsi intelektual dan perilaku adaptif, yang berdampak pada kemampuan mereka dalam belajar dan bersosialisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan profil kemampuan kognitif anak-anak dengan tunagrahita ringan melalui kajian pustaka. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur yang bersifat deskriptif-naratif, dengan menganalisis 12 artikel dari jurnal nasional dan internasional yang terakreditasi. Hasil dari kajian menunjukkan bahwa anak-anak tunagrahita ringan menunjukkan kekurangan pada aspek memori kerja, perhatian, bahasa, dan fungsi eksekutif, tetapi mereka masih memiliki potensi untuk berkembang dengan intervensi yang tepat. Intervensi yang menggunakan pendekatan konkret, media visual, teknologi, serta dukungan dari keluarga dan guru sangat penting untuk mendukung proses belajar mereka. Penelitian ini memberikan landasan konseptual dalam merancang strategi pembelajaran yang efektif, adaptif, dan bermakna untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak dengan disabilitas intelektual ringan.  
Persepsi Stres dan Fungsi Imun: Tinjauan Literatur dalam Perspektif Psikoneuroimunologi Ludfiah Azahra; Tasya Cahya Salsabila; Faula Aldini Putri; Shalma Fadilla; Wirza Feny Rahayu
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 2 No. 4 (2026): Januari - Maret
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This scoping review aims to synthesize empirical evidence on the association between perceived stress and immune function as examined within the framework of psychoneuroimmunology. Using PRISMA-ScR guidelines, four empirical studies published between 2016 and 2025 were selected from Semantic Scholar and PubMed. The review integrates evidence across various populations, including pregnant women, cancer patients, individuals with HPV infection, and healthy adults. Findings consistently show that high perceived stress is linked to measurable physiological changes, such as decreased immune gene expression, reduced T-cell and NK-cell activity, heightened systemic inflammation, microbiome imbalance, and accelerated immunosenescence. These results underscore that subjective psychological appraisal plays a central role in shaping biological vulnerability, demonstrating the interconnectedness of mental and physical health. The study highlights the importance of psychological interventions, such as cognitive restructuring, coping enhancement, and stressmanagement training to protect immune health. Future research should incorporate culturally relevant psychological factors and immune biomarkers to deepen understanding within the field of health psychology.
Pemanfaatan Teknologi Augmented Reality untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Isyarat Guru Pendamping Tuna Rungu Menggunakan Aplikasi Hear Me di Rumah Belajar Nina Raisya Haruni Widara; Shabrina Amalia Nasywa; Selly Dwi Riyanti; Wirza Feny Rahayu
CAUSALITA : Journal of Psychology Vol 4 No 1 (2026): CAUSALITA: Journal of Psychology
Publisher : CV. Causalita Dynamic Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62260/causalita.v4i1.512

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan aplikasi Hear Me berbasis teknologi Augmented Reality (AR) dalam meningkatkan kompetensi bahasa isyarat guru pendamping anak tunarungu melalui studi literatur. Hambatan utama dalam pembelajaran anak tunarungu adalah keterbatasan penguasaan bahasa isyarat oleh guru, yang berdampak pada komunikasi dan keterlibatan siswa di kelas inklusi. Studi ini menelaah 12 artikel ilmiah yang relevan untuk mengidentifikasi efektivitas, tantangan, serta faktor pendukung dan penghambat implementasi AR dalam pembelajaran bahasa isyarat. Hasil telaah menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi AR seperti Hear Me dapat meningkatkan pemahaman guru terhadap bahasa isyarat secara visual, mandiri, dan interaktif. Namun, keberhasilan implementasi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pelatihan formal, perangkat digital yang memadai, dan infrastruktur penunjang. Studi ini merekomendasikan perlunya dukungan institusi pendidikan dan kolaborasi lintas sektor untuk optimalisasi pemanfaatan AR dalam pendidikan inklusif.
Dinamika Kepuasan Pernikahan pada Pasangan Long Distance Marriage (LDM): Systematic Literature Review  Azka Zafarani Fadhilah; Althoof Aribah Reffi; Annisatul Najwa Alya; Dara Tria Januaika; Annisa Aulia Marlen; Amanatun Rabi’ah; Wirza Feny Rahayu
CAUSALITA : Journal of Psychology Vol 4 No 1 (2026): CAUSALITA: Journal of Psychology
Publisher : CV. Causalita Dynamic Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62260/causalita.v4i1.641

Abstract

Long Distance Marriage (LDM) merupakan salah satu kondisi dalam pernikahan saat suami-istri harus tinggal terpisah secara fisik dalam jangka waktu tertentu akibat faktor pekerjaan, pendidikan hingga kebutuhan ekonomi. Kondisi ini menimbulkan tantangan terhadap kepuasan pernikahan yang perlu dipahami secara lebih mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika kepuasan pernikahan pada pasangan LDM. Kajian dilakukan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA terhadap artikel yang dipublikasikan pada tahun 2021-2026. Penelusuran dilakukan dengan pada tiga basis data ilmiah (Google Scholar, ScienceDirect, PubMed) dengan menggunakan kata kunci berbahasa Indonesia dan Inggris. Dari 9.025 artikel yang teridentifikasi, terdapat sebanyak 14 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis melalui proses sintesis sistematis. Hasil sintesis menunjukkan bahwa kepuasan pernikahan pada pasangan LDM dipengaruhi oleh faktor intrapersonal, interpersonal, dukungan sosial, serta karakteristik kontekstual hubungan. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan intervensi psikologis dan konseling keluarga yang berfokus pada penguatan komunikasi, komitmen, serta dukungan sosial pada pasangan LDM.
KONFORMITAS TEMAN SEBAYA SEBAGAI MEDIATOR PENGARUH PELEPASAN MORAL TERHADAP PERUNDUNGAN SIBER PADA REMAJA AWAL DI KOTA PADANG Defi Syazana Nadhira; Izzanil Hidayati; Putri Sukma Deri; Wirza Feny Rahayu
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13866

Abstract

Cyberbullying remains a concern among adolescents because it is associated with adverse psychological and social consequences. Moral disengagement is a cognitive factor associated with cyberbullying, whereas peer conformity may encourage adolescents to adopt group behavior. However, studies integrating these three variables into a mediation model, particularly among Indonesian adolescents, remain limited. This study examined the relationship between moral disengagement and cyberbullying through peer conformity among early adolescents in Padang City. A quantitative approach with a cross-sectional explanatory design was employed. The participants were 218 early adolescents selected using incidental sampling. Data were collected using self-report measures of cyberbullying, moral disengagement, and peer conformity. The data were analyzed using PROCESS Macro Model 4 in SPSS with a bootstrapping procedure. The findings showed that moral disengagement was positively associated with and statistically predicted both peer conformity and cyberbullying. Peer conformity was also positively associated with and statistically predicted cyberbullying. Furthermore, peer conformity partially mediated the relationship between moral disengagement and cyberbullying. These findings highlight the importance of considering both cognitive and social factors when understanding cyberbullying among adolescents. Nevertheless, the findings should be interpreted cautiously because of the use of incidental sampling, self-report data, and a cross-sectional design. ABSTRAK Cyberbullying masih menjadi permasalahan pada remaja karena berkaitan dengan berbagai konsekuensi negatif terhadap kondisi psikologis dan hubungan sosial. Moral disengagement merupakan faktor kognitif yang berkaitan dengan cyberbullying, sedangkan konformitas teman sebaya dapat mendorong remaja mengikuti perilaku kelompok. Namun, penelitian yang menguji ketiga variabel tersebut secara terpadu dalam model mediasi, khususnya pada remaja di Indonesia, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan moral disengagement dengan cyberbullying melalui konformitas teman sebaya pada remaja awal di Kota Padang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori cross-sectional yang melibatkan 218 remaja awal yang dipilih menggunakan teknik incidental sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen laporan diri yang mengukur cyberbullying, moral disengagement, dan konformitas teman sebaya. Data dianalisis menggunakan PROCESS Macro Model 4 pada SPSS dengan teknik bootstrapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moral disengagement berhubungan positif dan memprediksi secara statistik konformitas teman sebaya serta cyberbullying. Konformitas teman sebaya juga berhubungan positif dan memprediksi secara statistik cyberbullying. Selain itu, konformitas teman sebaya terbukti memediasi secara parsial hubungan antara moral disengagement dan cyberbullying. Temuan ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan faktor kognitif dan sosial dalam memahami cyberbullying pada remaja. Namun, generalisasi dan interpretasi temuan perlu dilakukan secara hati-hati karena penggunaan incidental sampling, data laporan diri, dan desain cross-sectional.
Pengaruh Kecerdasan Emosi terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas 12 SMA N 1 Lubuk Alung Firenia Aprilaniki Iswandi; Azizah Meihana; Aulia Samiana; Rizkiqa Tria Fanesha; Dian Hamama; Wirza Feny Rahayu
ALSYS Vol 5 No 2 (2025): ALSYS: Jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/alsys.v5i2.4622

Abstract

This study examines the influence of Emotional Quotient (EQ) on students' learning motivation among 12th-grade students at SMA N 1 Lubuk Alung. Employing a quantitative correlational research design, the study involved 175 students selected through simple random sampling. Data were collected using the Emotional Intelligence Scale by Suryati (2024) and the Learning Motivation Scale by Iqbal (2023). The analysis revealed a significant positive relationship between emotional intelligence and learning motivation (p < 0.001, R = 0.610). Findings suggest that higher emotional intelligence is associated with greater learning motivation. The study emphasizes the importance of emotional intelligence in enhancing academic motivation, with practical recommendations for educators and policymakers to integrate emotional intelligence development into educational practices.
Regulasi Emosi dan Persepsi terhadap Bahasa Indonesia pada Anak Tunarungu Pengguna Bahasa Lokal Adinda Ramadhani; Wirza Feny Rahayu
Quantum Wellness : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2026): September: Quantum Wellness : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/quwell.v3i3.3461

Abstract

Deaf children experience difficulties in receiving and understanding auditory information, which affect their language and communication development as well as their social and emotional abilities. Language plays an important role in recognizing, understanding, expressing, and regulating emotions. This condition becomes more complex for Deaf children who use a local language as their primary language and must adapt to Indonesian as the formal language in educational and social settings. This study aims to analyze emotion regulation and perceptions of Indonesian among Deaf children who use a local language. The study employed a literature review method using secondary data from relevant scientific articles. Ten articles were selected through Google Scholar based on thematic relevance, publication year, and source quality. The findings indicate that limited language access may affect Deaf children’s ability to recognize, understand, and appropriately express emotions, resulting in less effective emotion regulation, particularly for negative emotions. Deaf children tend to feel more comfortable using local languages and sign language than Indonesian, which may be perceived as formal and less familiar. Language perceptions are associated with self-confidence, communication comfort, and social and emotional interaction. Family and school support through flexible and multimodal communication, emotion regulation training, and active parental involvement is important for supporting emotional and language development. Therefore, language- and emotion-friendly educational environments are needed to improve emotion regulation and foster more positive perceptions of Indonesian among Deaf children who use local languages.