Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENANAMAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL DI PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM (Studi Kasus di Universitas Islam Malang) Ahmad Muzakkil Anam
ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 2, No 2 (2019): edisi JULI
Publisher : stit-islamic-village

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.484 KB) | DOI: 10.33853/istighna.v2i2.24

Abstract

Indonesia adalah bangsa yang memiliki tingkat keberagaman yang sangat tinggi baik itu dalam hal suku, ras, etnis atau pun agama. Sehingga tidaklah berlebihan jika kemudian Indonesia dikenal sebagai bangsa yang multikultural. Sehingga, perlu adanya upaya untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan multikultural di semua jenjang pendidikan yang ada di Indonesia, termasuk perguruan tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus.Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa: 1) prinsip-prinsip penanaman nilai-nilai pendidikan  Islam multikultural di Unisma didasarkan pada beberapa prinsip, yaitu: keterbukaan (openness), toleransi (tolerance), bersatu dalam perbedaan (unity in diversity), dan Islam rahmatan lil’alamin sebagai leader; 2) implementasi penanaman nilai-nilai pendidikan multikultural di Unisma terpolakan menjadi dua, yaitu multicultural knowing dan multicultural feeling.Multicultural knowing diberikan melalui beberapa kegiatan seperti Orientasi Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (Oshika Maba), Halaqoh Diniyah, dan Mata Kuliah Agama Islam 1-5. Adapun multicultural feeling ditanamkan melalui kegiatan student day; dan 3) penanaman nilai-nilai pendidikan multikultural di Unisma memiliki implikasi yang positif terhadap sikap toleransi para mahasiswa Unisma.
Konsep Pendidikan Pluralisme Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Ahmad Muzakkil Anam
Cendekia: Kependidikan dan Kemasyarakatan Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.318 KB) | DOI: 10.21154/cendekia.v17i1.1442

Abstract

Beragamnya agama yang ada di Indonesia merupakan aset kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Akan tetapi, beberapa dekade terakhir ini, banyak terjadi kekerasan-kekerasan yang mengatasnamakan agama. Agama yang seharusnya tampil dengan penuh kasih sayang, kini mulai menampakkan kekerasan. Kasus kekerasan atas nama agama tidak pernah berhenti terjadi di Indonesia. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pluralisme agama yang berarti menghormati perbedaan pemeluk agama yang ada dalam masyarakat sudah mulai memudar. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalaan ini adalah dengan mengembangkan konsep pendidikan pluralisme, dimana dengan pendidikan pluralisme ini setidaknya dapat meminimalisir potensi kekerasan-kekerasan atas nama agama tersebut. Pendidikan ini juga memerlukan adanya figur teladan yang memperjuangkan pluralisme. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu tokoh yang mempunyai perhatian penuh pada pluralisme. Oleh karena itu, penelitian ini akan memfokuskan pada perumusan konsep pendidikan pluralisme Gus Dur. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research), dengan metode pengumpulan datanya menggunakan dokumentasi dan wawancara. Untuk analisis, penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis (critical discourse analysis), yaitu pengkajian secara mendalam yang berusaha mengungkap kegiatan, pandangan, dan identitas berdasarkan bahasa yang digunakan dalam wacana.Hasil penelitian ini mendapati bahwa konsep pendidikan pluralisme Gus Dur memiliki konsep pendidikan adalah yang tidak terbatas. Ketidak-terbatasan ini melingkupi tiga aspek: Pertama, tidak terbatas pada materi atau informasi yang diperoleh dalam proses pendidikan, termasuk ketika materi itu sangat berbeda dengan keyakinan yang dimiliki; Kedua, tidak terbatas pada sumber informasi atau yang disebut pendidik dalam dunia pendidikan, terlepas dari pemahaman serta keyakinan yang ia miliki; Ketiga, tidak terbatas pada teks yang sudah ada, dengan kata lain pendidikan yang mendorong seseorang untuk selalu kritis terhadap apa yang telah tersaji, utamanya dalam bentuk teks.
How Behavioral Factors Shape Intentions Toward Cash Waqf Linked Sukuk in Indonesia? Andni, Riyan; Aris, Nur; Widodo, Syukri Fathudin Achmad; Anam, Ahmad Muzakkil
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol 14, No 1 (2025): IN PROGRESS
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.v14i1.23109

Abstract

Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) represents an innovative social investment instrument in Indonesia, combining cash waqf (Islamic endowment) with government sukuk (Sharia-compliant bonds). Despite its significant role in funding education, healthcare, and economic development, the substantial potential of CWLS remains underutilized due to a disparity between its projected benefits and the limited participation of potential investors. The study aims to predict the intention of Islamic banking customers to engage in cash waqf through State Sukuk or CWLS in West Java. It employs the Theory of Planned Behavior (TPB) to investigate the behavioral intentions of Islamic banking customers in West Java, Indonesia, toward adopting CWLS. Using a quantitative approach, data were collected from 119 respondents who are active customers of Islamic banks. The findings reveal that attitude toward behavior and subjective norms do not significantly influence behavioral intention, whereas perceived behavioral control (PBC) emerges as a critical predictor of intention to participate in CWLS. Among demographic variables, only age moderates the relationship between attitude toward behavior and behavioral intention. The study identifies low public awareness, limited financial literacy, and mistrust in CWLS mechanisms as key barriers. To bridge this gap, stakeholders must prioritize widespread socialization campaigns, particularly targeting productive-age demographics, to enhance trust and literacy. Strategic promotion of CWLS’s dual benefits—social impact and financial returns—is recommended to accelerate investor participation and maximize its socioeconomic potential.========================================================================================================ABSTRAK - Bagaimana Faktor Perilaku Membentuk Niat Investasi dalam Cash Waqf Linked Sukuk di Indonesia? Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) merupakan instrumen investasi sosial inovatif di Indonesia yang menggabungkan wakaf uang dengan sukuk negara (surat berharga syariah). Meskipun berperan penting dalam mendanai sektor pendidikan, kesehatan, dan pembangunan ekonomi, terdapat kesenjangan antara potensi yang ditimbulkan atas manfaat CWLS dan calon investor potensial. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi niat nasabah perbankan syariah dalam mewakafkan uang melalui sukuk negara atau CWLS di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan ‘Theory of Planned Behavior’ (TPB) untuk menganalisis niat perilaku calon investor dalam menggunakan CWLS dari perspektif nasabah Perbankan syariah. Metode kuantitatif diterapkan dengan melibatkan 119 responden nasabah bank syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ‘attitude toward behavior’ (sikap) dan ‘subjective norms’ (norma subjektif) tidak berpengaruh signifikan terhadap ‘behavioral intention’ (niat berperilaku), sementara ‘perceived behavioral control’ (PBC) menjadi prediktor utama ‘behavioral intention’ atau niat berpartisipasi dalam CWLS. Dari variabel demografi, hanya usia yang memoderasi hubungan antara sikap dan niat berperilaku. Rendahnya kesadaran masyarakat, literasi keuangan terbatas, dan ketidakpercayaan terhadap mekanisme CWLS diidentifikasi sebagai hambatan utama. Untuk mengatasi hal ini, pemangku kepentingan perlu meningkatkan sosialisasi, khususnya kepada kelompok usia produktif, guna memperkuat kepercayaan dan pemahaman masyarakat. Promosi strategis mengenai manfaat ganda CWLS—dampak sosial dan keuntungan finansial—direkomendasikan untuk memperluas partisipasi investor dan memaksimalkan potensi sosial-ekonomi instrumen ini. 
Peran keluarga dalam pendidikan: kontekstualisasi pemikiran Pestalozzi dan Imam al-Ghazali Anam, Ahmad Muzakkil; Rukiyati, Rukiyati
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 24 No. 2 (2024): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v24i2.75840

Abstract

Pendidikan adalah proses esensial dalam perkembangan karakter dan kemampuan manusia yang dimulai sejak lahir hingga tutup usia, dan keluarga menjadi lembaga pendidikan pertama dan utama. Penelitian ini mengkaji pemikiran dua tokoh pendidikan dengan latar belakang dan konteks yang berbeda, yaitu Johann Heinrich Pestalozzi dan Imam al-Ghazali. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam terkait dengan topik yang diteliti, kemudian mengidentifikasi celah penelitian, dan membangun dasar teori yang kuat. Pestalozzi adalah seorang ahli pendidikan yang berasal dari Swiss yang sangat menekankan pentingnya cinta, kasih sayang, dan keaktifan jiwa raga. Selain itu, ia juga percaya bahwa pendidikan sudah seharusnya diawali dari keluarga dengan peran utama orang tua, terutama ibu yang merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak. Sementara itu, Imam al-Ghazali yang juga dikenal sebagai ulama besar dalam Islam, memberikan penekanan pada pendidikan yang penuh kasih sayang, keteladanan yang konsisten, serta pemahaman mendalam yang terkait dengan tingkat pemahaman setiap anak. Imam Al-Ghazali juga berpendapat bahwa keluarga merupakan lingkungan yang sangat dominan dalam upaya pembentukan akhlak dan budi pekerti anak. Oleh karena itu, pendidikan keluarga harus diberikan semaksimal mungkin, karena akan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak dari kecil hingga dewasa kelak.Education is an essential process in the development of human character and abilities starting from birth until the end of age, and the family becomes the first and main educational institution. This research examines the thoughts of two educational figures with different backgrounds and contexts, namely Johann Heinrich Pestalozzi and Imam al-Ghazali. In this research, the method used is library research to gain a deep understanding related to the topic under study, then identifying research gaps, and building a strong theoretical basis. Pestalozzi was a Swiss educationist who emphasized the importance of love, affection, and physical activity. In addition, he also believed that education should start from the family with the main role of parents, especially mothers who are the first and main educators for children. Meanwhile, Imam al-Ghazali, who is also known as a great scholar in Islam, emphasizes loving education, consistent role modeling, and deep understanding related to the level of understanding of each child. Imam Al-Ghazali also argues that the family is a very dominant environment in efforts to shape the morals and character of children. Therefore, family education must be given as much as possible, because it will greatly influence the development of children from childhood to adulthood. 
Community-based Islamic education: Democratizing learning through local wisdom MR, Moh Irsyad Fahmi; Anam, Ahmad Muzakkil; Agustinova, Danang Ade; Prasastiawati, Diana; Awalin, Fakhur Rohman Nur; Yaacob, Norazlan Hadi
Jurnal Ilmiah WUNY Vol. 6 No. 2 (2024): Jurnal Ilmiah WUNY
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jwuny.v6i2.76362

Abstract

This study examines the role of community-based education in the context of Islam as a means of democratizing education and integrating local wisdom, motivated by the need for a more inclusive and responsive education system. Using a literature study method, this research analyzes primary and secondary sources related to Islamic education, democratization, and local wisdom. The results reveal that community-based education has strong historical and normative roots in Islamic tradition, reflected in various forms of traditional educational institutions such as mosques, kuttabs, and pesantrens. This educational model is proven to encourage active community participation, decentralization of decision-making, and integration of local values into the curriculum. However, its implementation faces challenges in balancing national standards with local autonomy, as well as potential conflicts between universal Islamic values and local cultural practices. This study highlights the complexity of integrating local wisdom into modern Islamic education in the era of globalization, paving the way for further research on optimal mechanisms for adapting this educational model to increasingly diverse Muslim societies.
Pesantren dan Pergeseran Paradigma Epistemologi: Dari Humanisme Menuju Era Post-Humanisme Anam, Ahmad Muzakkil; Ade Agustinova, Danang; Alwiyah, Noor; Haqqi Firmansyah, Nashrul
Santri: Journal of Pesantren and Fiqh Sosial Vol 6 No 1 (2025): June 2025
Publisher : The Institute of Research and Service Community IPMAFA Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35878/santri.v6i1.1684

Abstract

This study explores the paradigm shift from humanism to post-humanism within the landscape of contemporary knowledge and its implications for the epistemology of pesantren education. Humanism, which places humans at the center of all things, has come under intense critique in the era of digital technology and artificial intelligence, giving rise to post-humanist perspectives that emphasize decentralized agency and the interconnectedness of humans, machines, and the environment. Pesantren, as traditional Islamic educational institutions, is grounded in a distinctive epistemology that integrates revelation, reason, and spiritual experience. This qualitative research employs a literature review and discourse analysis method to examine the epistemological constructions of humanism, post-humanism, and pesantren. The findings indicate that pesantren can occupy a synthetic position between these two contrasting paradigms—retaining their spiritual heritage and scholarly authority through sanad—while simultaneously transforming into educational institutions that are both relevant and adaptive in the post-humanist era. This critical approach positions pesantren as epistemic entities capable of fostering a creative dialogue between tradition and modernity, inspiring new ways of thinking and learning that bridge the gap between transcendental values and the realities of the digital age.
Positivism and Ibn Khaldun's thought: bridging objectivity and social dynamics MR, Moh Irsyad Fahmi; Anam, Ahmad Muzakkil; Wiratmoko, Dheny; Yaacob, Norazlan Hadi; Alwiyah, Noor
Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hsjpi.v12i1.83847

Abstract

This study critically examines two foundational approaches in social science: positivism and Ibn Khaldun's theoretical framework. Through comprehensive library research analyzing primary and secondary sources, we explore the ontological, epistemological, and axiological dimensions of both paradigms. Positivism, approaches social phenomena through rigid scientific methodologies, emphasizing empirical observation and quantitative measurement while pursuing objective, universal social laws. This perspective, while influential in modern social science development, often reduces complex social realities to measurable variables, neglecting subjective dimensions like values, culture, and historical contexts. In contrast, Ibn Khaldun's 14th-century framework, particularly his concept of asabiyyah (group solidarity), offers a more dynamic understanding of social phenomena by integrating empirical observation with philosophical reflection and historical context. This research demonstrates how Ibn Khaldun's approach acknowledges the multidimensional nature of social reality, including moral, spiritual, and cultural factors that remain influential in social development cycles. The comparative analysis reveals that while positivism provides methodological rigor, Ibn Khaldun's holistic perspective better captures the complexity and fluidity of social dynamics, making it particularly relevant for contemporary social analysis seeking to transcend mechanistic explanations. This study contributes to ongoing discourse about developing more integrative approaches in social science that balance empirical observation with contextual understanding.
DESA HARMONI: PENGUATAN MODERASI BERAGAMA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DESA WISATA GULUREJO KULONPROGO MR, Moh Irsyad Fahmi; Widodo, Syukri Fathudin Achmad; Wicaksono, Ajie; Anam, Ahmad Muzakkil; Rubiyanto, Yayan
Bakti Nusantara Linggau: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Bakti Nusantara Linggau
Publisher : LP3MKIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55526/bnl.v5i2.891

Abstract

"Desa Harmoni" adalah program pengabdian yang berfokus pada penguatan moderasi beragama berbasis kearifan lokal di Desa Wisata Gulurejo, Kabupaten Kulon Progo. Program ini dirancang untuk mengatasi tantangan yang muncul dari masuknya paham keagamaan ekstrem yang mengancam keharmonisan sosial dan citra desa wisata. Urgensi program ini terletak pada fenomena menurunnya partisipasi pemuda dalam tradisi kultural seperti "Merti Desa", "Gejog Lesung", dan "Nyadran", serta munculnya konflik terkait penggunaan fasilitas umum dan penyelenggaraan atraksi wisata budaya. Melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif, program ini bertujuan untuk mengembangkan model moderasi beragama berbasis kearifan lokal, membangun kapasitas tokoh agama, adat, dan pengelola desa wisata, mengembangkan Kelompok Usaha Bersama, serta mengembangkan paket wisata edukasi "Gulurejo Harmoni". Program menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) untuk pemetaan kearifan lokal dan Training of Trainers (ToT) untuk membangun kapasitas fasilitator lokal. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan kapasitas tokoh agama dan pemuda dalam mempromosikan narasi moderasi beragama, penguatan forum dialog, peningkatan partisipasi dalam tradisi lokal, dan terintegrasi-nya nilai-nilai moderasi beragama dalam pengembangan desa wisata. Program ini relevan dengan upaya pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi dan mendukung implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bagi mahasiswa.
Desa Harmoni: Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal di Desa Wisata Gulurejo Kulonprogo Moh Irsyad Fahmi MR; Syukri Fathudin Achmad Widodo; Ajie Wicaksono; Ahmad Muzakkil Anam; Yayan Rubiyanto
Bakti Nusantara Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 2 No. 3 (2025): September - December
Publisher : Science Center Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63202/bnpmi.v2i3.119

Abstract

Desa Harmoni adalah program pengabdian yang berfokus pada penguatan moderasi beragama berbasis kearifan lokal di Desa Wisata Gulurejo, Kabupaten Kulon Progo. Program ini dirancang untuk mengatasi tantangan yang muncul dari masuknya paham keagamaan ekstrem yang mengancam keharmonisan sosial dan citra desa wisata. Urgensi program ini terletak pada fenomena menurunnya partisipasi pemuda dalam tradisi kultural seperti "Merti Desa", "Gejog Lesung", dan "Nyadran", serta munculnya konflik terkait penggunaan fasilitas umum dan penyelenggaraan atraksi wisata budaya. Melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif, program ini bertujuan untuk mengembangkan model moderasi beragama berbasis kearifan lokal, membangun kapasitas tokoh agama, adat, dan pengelola desa wisata, mengembangkan Kelompok Usaha Bersama, serta mengembangkan paket wisata edukasi "Gulurejo Harmoni". Program menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) untuk pemetaan kearifan lokal dan Training of Trainers (ToT) untuk membangun kapasitas fasilitator lokal. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan kapasitas tokoh agama dan pemuda dalam mempromosikan narasi moderasi beragama, penguatan forum dialog, peningkatan partisipasi dalam tradisi lokal, dan terintegrasi-nya nilai-nilai moderasi beragama dalam pengembangan desa wisata. Program ini relevan dengan upaya pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi dan mendukung implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bagi mahasiswa.
Kontekstualisasi Pemikiran Filsafat Pendidikan Imam Al-Ghazali dan Muhammad Abduh Ahmad Muzakkil Anam; Moh Irsyad Fahmi MR; Dheny Wiratmoko; Noor Alwiyah; Syamsul Kurniawan
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.11570

Abstract

Dewasa ini, dunia pendidikan di Indonesia mengalami anomali, dalam artian secara data menunjukkan adanya peningkatan warga negara yang terdidik, namun diikuti juga dengan peningkatan perilaku immoral yang tidak mencerminkan perilaku orang yang terdidik. Penelitian ini mencoba mengambil kembali pemikiran pendidikan dari dua tokoh intelektual Muslim yaitu imam al-Ghazali dan Muhammad Abduh. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pemikiran antara imam al-Ghazali dan Muhammad Abduh. Imam al-Ghazali menginginkan pendidikan tidak terlalu mengedepankan akal hingga melupakan tatanan dasar dalam agama. Sementara Muhammad Abduh, menginginkan pendidikan yang progresif, yang dinamis, dan berkemajuan. Dua corak pemikiran ini dapat dikontekstualisasika berdasarkan kecenderungan pendidikan yang ada saat ini. Untuk pemikiran imam al-Ghazali bisa diterapkan di lembaga pendidikan yang lebih umum, guna memastikan peserta didik tidak tercerabut dari nilai-nilai ketuhanan. Sementara Muhammad Abduh, dengan reformasi pendidikannya bisa diimplementasikan di lembaga-lembaga pendidikan yang kurang berkembang Kata Kunci: Kontekstualisasi Pendidikan; Imam al-Ghazali; Muhammad Abduh; Filsafat Pendidikan