cover
Contact Name
Nefonavratilova Ritonga
Contact Email
lppm.unar@gmail.com
Phone
+6285373542125
Journal Mail Official
lppm.unar@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raja Inal Siregar, Kec Batunadua - Padangsidimpuan
Location
Kota padangsidimpuan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia / Indonesian Health Scientific Journal
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia (Indonesian Health Scientific Journal) Indonesian Health Scientific Journal is a tools of publication of research results and community service with the theme of health. This journal will be published online through the official website of University Of Aufa Royhan Padangsidimpuan city. This journal will be published every 6 months in June and December each year
Articles 621 Documents
Dampak Posisi Penggunaan Kacamata Terhadap Kualitas Penglihatan Opep Cahya Nugraha; Bunyamin Rizki Abdillah; Rangga Adhitia Hermawan
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2235

Abstract

Gangguan refraksi memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas, dengan kacamata menjadi solusi yang umum. Namun, posisi kacamata yang tidak tepat dapat menyebabkan distorsi penglihatan, kelelahan mata, dan penurunan performa belajar, terutama pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara posisi kacamata dan kualitas penglihatan pada mahasiswa Akademi Refraksi Optisi dan Optometry Gapopin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sampel 207 mahasiswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang terdiri dari 20 pertanyaan tentang posisi kacamata dan 25 pertanyaan tentang kualitas penglihatan. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 26, mencakup uji validitas, reliabilitas, normalitas, koefisien determinasi, dan uji parsial. Uji validitas dan reliabilitas menunjukkan semua item kuesioner valid dan reliabel. Uji koefisien determinasi menunjukkan bahwa posisi kacamata memengaruhi kualitas penglihatan sebesar 62%, sementara 38% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Uji parsial menemukan pengaruh signifikan antara posisi kacamata dan kualitas penglihatan. Posisi kacamata sangat berpengaruh signifikan terhadap kualitas penglihatan mahasiswa. Parameter teknis seperti jarak vertex, kemiringan pantoskopik, dan penempatan pusat optik lensa yang tepat sangat penting untuk mengoptimalkan koreksi visual.
STATUS REFRAKSI HYPERMETROPIA, MYOPIA, ASTIGMAT, DAN EMETROPIA DI SDI ASSADAH BIDARA CINA Abdillah, Bunyamin Rizki; Nugraha, Opep Cahya; Maryani, Febri
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelainan refraksi dikenal dalam bentuk miopia, hipermetropia dan astigmatisme. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk melihat faktor yang mempengaruhi terjadi status refraksi pada anak sekolah dasar. Penelitian dilaksanakan di SDI Assadah, Bidara Cina, Jakarta Timur. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan teknik wawancara mendalam, informan terdiri atas 3 orang dari orang tua atau wali murid, ada 2 informan kunci, yaitu petugas dasawisma dan guru. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2025 – Juni 2025. Hasil penelitian diperoleh bahwa secara keseluruhan status refraksi pada anak sekolah dasar dengan myopia, diikuti myopia astigmat compositus tinggi. Kesimpulan dari penelitian yaitu kelainan refraksi pada anak sekolah dasar di SDI Assadah Bidara Cina, disebabkan karena faktor penggunaan gadge, sosial ekonomi orang tua, pola makan, dan pola asuh.
Asuhan Kebidanan Berkelanjutan (Continuity of Care) pada Ny. R Umur 35 Tahun G3P2A0 Leni Andriyani; Maftuchah
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2240

Abstract

Abstract Continuous midwifery care, or continuity of care, is a comprehensive midwifery care from pregnancy, childbirth, postpartum, Newborn, family planning provided by midwives to monitor maternal and infant health and can help the government in reducing maternal and infant mortality rates in Indonesia, because with the existence of continuous midwifery care, or continuity of care, in addition to preventing complications. This care involves providing comprehensive care to provide comfort, increase maternal satisfaction, reduce unnecessary interventions. The purpose of this study was to provide continuous care to Mrs. R, 35 years old, G3P2A0, at the Bangetayu Community Health Center in Semarang. The research design used was descriptive and case study. The results showed that Mrs. R, 35 years old, G3P2A0, was physiologically pregnant. The labor process took place normally at 40 weeks of gestation, accompanied by monitoring of the postpartum period and the condition of the newborn that went well and without complications.
Tinjauan Pustaka : Depresi Pada Lansia Zulkifli, Yasmin Sabrina; Tahriani, Ridha; Jibriel, Diaz; Swara , Yoga Prawira Wedha
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2244

Abstract

ABSTRAK Depresi pada lanjut usia (lansia) menjadi masalah kesehatan yang semakin penting di tengah peningkatan harapan hidup di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi depresi pada lansia dan faktor-faktor yang memengaruhi kejadian depresi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan pustaka naratif, dengan menganalisis literatur ilmiah yang relevan mengenai depresi pada lansia, termasuk epidemiologi, penyebab, dan pengobatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa depresi pada lansia dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan fisik dan psikologis, kondisi sosial, serta adanya penyakit kronis yang mendasarinya. Sebagian besar lansia yang mengalami depresi tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, meskipun pengobatan dapat memberikan perbaikan signifikan. Diperlukan perhatian lebih terhadap deteksi dini dan pengobatan yang komprehensif untuk mengurangi dampak negatif depresi pada kualitas hidup lansia. Oleh karena itu, perlu adanya program kesehatan yang lebih mendukung kesejahteraan mental lansia. Kata kunci : Depresi, Lansia, Kesehatan Mental, Psikiatri ABSTRACT Depression in the elderly has become an increasingly important health issue amid the rising life expectancy in Indonesia. This study aims to determine the prevalence of depression in the elderly and the factors influencing its occurrence. The method used in this research is a narrative literature review, analyzing relevant scientific literature on depression in the elderly, including its epidemiology, causes, and treatments. The results show that depression in the elderly is influenced by various factors, including physical and psychological changes, social conditions, and underlying chronic illnesses. Most elderly individuals with depression do not receive appropriate treatment, although treatment can lead to significant improvement. Early detection and comprehensive treatment programs are necessary to reduce the negative impacts of depression on the quality of life in the elderly. Therefore, more health programs supporting the mental well-being of the elderly are needed. Keywords : Depression, Elderly, Mental Health, Psychiatry
Obstruksi Saluran Napas Atas Tsania Zulfa Salsabila; Rachman, Amanda Azkiyah; Larasati, Anak Agung Ayu Regina; Paradiesta, Andi Frieskha Naurah; Muhammad Rifki
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2245

Abstract

Obstruksi saluran napas atas (upper airway obstruction) merupakan kondisi gawat darurat medis yang ditandai dengan adanya hambatan aliran udara mulai dari rongga hidung hingga laring dan trakea bagian atas. Keadaan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi, trauma, benda asing, maupun tumor. Manifestasi klinis mencakup kesulitan bernapas, perubahan suara, stridor, nyeri menelan, hingga sianosis dan penurunan kesadaran pada kasus berat. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan terdiri dari tindakan medikamentosa dan non-medikamentosa. Komplikasi dapat berupa gangguan pernapasan, pneumonia, hingga henti jantung jika tidak tertangani. Prognosis sangat bergantung pada penyebab, usia pasien, dan kecepatan intervensi; kasus akibat infeksi umumnya memiliki hasil yang lebih baik dibandingkan yang disebabkan keganasan. Tujuan penulisan artikel untuk membahas penyebab terjadinya sumbatan jalan napas dan penanganan sumbatan jalan napas. Studi penelitian menggunakan metode literature review. Literature didapatkan dari database PubMed, Science Direct, dan Google Scholar. Hasil kajian menunjukkan bahwa deteksi dini dan penanganan segera merupakan faktor kunci dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada pasien obstruksi jalan napas atas. Obstruksi jalan napas atas merupakan keadaan yang perlu dikenali secara cepat, karena diagnosis dan penanganan dini sangat menentukan keberhasilan terapi serta mencegah komplikasi yang mengancam jiwa. Upper airway obstruction is a medical emergency characterized by impaired airflow from the nasal cavity to the larynx and upper trachea. This condition can be caused by various factors such as infection, trauma, foreign bodies, or tumors. Clinical manifestations include breathing difficulties, voice changes, stridor, painful swallowing, cyanosis, and decreased consciousness in severe cases. Diagnosis is established through anamnesis, physical examination, and supporting investigations. Management consists of both pharmacological and non-pharmacological interventions. Complications may include respiratory distress, pneumonia, and even cardiac arrest if left untreated. Prognosis largely depends on the underlying cause, patient age, and timeliness of intervention; cases due to infection generally have better outcomes compared to those caused by malignancy. The aim of this article is to discuss the causes of upper airway obstruction and its management. This study used a literature review method, with 18 scientific articles as references. Literature sources were obtained from PubMed, Science Direct, Google Scholar, medical journal, and textbooks. The findings indicate that early detection and prompt management are key factors in reducing morbidity and mortality in patients with upper airway obstruction. This condition must be recognized quickly, as early diagnosis and treatment are crucial for therapeutic success and for preventing life-threatening complications.
GAMBARAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN BPJS RAWAT JALAN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI RSUD Dr. ACHMAD MOCHTAR BUKIT TINGGI Husnawati; Aisyah; Ardita Yuan Cahya Pramesti; Diantika Rahmayani; Fasri Dian Safitri; Lala Azela; Muhammad Yudika Chandra; Putri Melati; Putri Nimi Usti; Saskira Windy Noviana; Siti Rahmatun Nur; Waldy Wijayanto; Yolanda Selviana
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2250

Abstract

Kepuasan pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kefarmasian karena mencerminkan kesesuaian antara harapan pasien dengan pelayanan yang diterima. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan pasien BPJS rawat jalan terhadap pelayanan kefarmasian di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, dilaksanakan pada tanggal 15–17 Juli 2025 dengan jumlah sampel sebanyak 42 responden yang ditentukan melalui teknik accidental sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup yang disusun berdasarkan lima dimensi SERVQUAL meliputi tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Data dianalisis secara univariat menggunakan teknik persentase dan perhitungan TCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pasien secara keseluruhan berada pada kategori puas dengan nilai rata-rata 61,67%. Pada aspek tangible pasien menilai ruang tunggu nyaman dan rapi meski media edukasi masih terbatas, pada reliability pasien sangat puas terhadap kejelasan informasi obat dan kelengkapan obat, pada responsiveness pasien menilai apoteker sigap dan cukup cepat dalam melayani, pada assurance pasien merasa apoteker profesional serta menumbuhkan rasa percaya, sedangkan pada empathy mayoritas responden sangat puas terhadap sikap sopan, ramah, dan kepedulian apoteker. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mutu pelayanan kefarmasian di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi telah memenuhi harapan pasien, meskipun masih perlu peningkatan fasilitas informasi kesehatan. Oleh karena itu, disarankan agar rumah sakit menyediakan sarana edukasi berupa kotak informasi berisi leaflet, brosur, dan poster guna memperkuat mutu layanan serta mendorong penelitian lanjutan dengan jumlah responden yang lebih besar untuk memperoleh hasil yang lebih komprehensif.
Determinan Psikoneuroendokrin Stres Akademik pada Perilaku Makan Berlebih Airlangga Hartoyo, Arya Pradipa
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2256

Abstract

Mahasiswa kedokteran menghadapi tingkat stres akademik yang tinggi yang menempatkannya pada risiko pengembangan mekanisme koping maladaptif seperti perilaku makan berlebih (binge eating). Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mensintesis bukti ilmiah mengenai determinan psikoneuroendokrin yang mendasari hubungan antara stres akademik dan kecenderungan makan berlebih. Metode yang digunakan adalah tinjauan naratif (narrative review) dengan mensintesis literatur relevan dari berbagai database ilmiah. Hasil analisis menunjukkan bahwa stres kronis mengaktivasi Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) axis yang menyebabkan disregulasi kortisol. Kondisi ini, ditambah dengan perubahan pada hormon pengatur nafsu makan dan modulasi pada sistem penghargaan otak, secara signifikan meningkatkan impulsivitas makan dan berkontribusi pada peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT). Disimpulkan bahwa pemahaman mendalam mengenai determinan ini krusial untuk pengembangan intervensi preventif dan strategi manajemen stres yang efektif bagi mahasiswa kedokteran.
TINJAUAN LITERATUR: POTENSI ANTIDIABETIK EKSTRAK DAUN SIRSAK UNTUK KONTROL GLIKEMIK DIABETES MELITUS Rustiana Dewi, Kadek Febi; Landra, I Komang Gunawan; Setiawan, Komang Hendra; Indra Mahiswari, Kadek Wulan
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2263

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan kondisi metabolik kronis yang ditandai oleh penurunan sensitivitas reseptor insulin yang dinilai dari kadar glukosa darah puasa (≥126 mg/dL) atau kadar glukosa darah sewaktu (≥200 mg/dL) dan disertai gejala klinis khas, seperti polidipsia (rasa haus berlebihan), polifagia (rasa lapar berlebihan), dan poliuria (peningkatan frekuensi buang air kecil). Dalam konteks penemuan terapi komplementer, ekstrak daun sirsak (Annona Muricata Folium) telah diusulkan sebagai alternatif pengobatan herbal karena dianggap aman untuk konsumsi jangka panjang dan memiliki risiko efek samping yang minimal. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan informasi terkini mengenai pemanfaatan sumber daya alam ekstrak daun sirsak dalam upaya manajemen diabetes melitus. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis yang mencakup analisis terhadap 57 jurnal dan artikel penelitian yang dipublikasikan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak memiliki aktivitas antidiabetes yang dikaitkan dengan kandungan senyawa bioaktifnya, seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin, yang juga dikenal kaya antioksidan dan berperan penting dalam memodulasi metabolisme lipid, mengoptimalkan fungsi Glucose Transporter type 4 (GLUT-4), serta meningkatkan sensitivitas insulin. Berdasarkan profil senyawa antidiabetes ini, ekstrak daun sirsak berpotensi digunakan sebagai pilihan terapi herbal tradisional untuk mencapai kontrol glikemik jangka panjang.
Efektivitas Yoga dalam Menurunkan Stres pada Mahasiswa: Tinjauan Sistematis: Indonesia I Gede Ramadhita Rahajeng Jelantik; Made Kurnia Widiastuti Giri; Made Bayu Permasutha
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2264

Abstract

Mahasiswa merupakan kelompok yang rentan terhadap stres psikologis akibat tantangan akademik, sosial, dan pribadi. Jika tidak dikelola, stres dapat berkembang menjadi kecemasan, depresi, insomnia, burnout, dan gejala psikosomatis yang berdampak pada penurunan prestasi akademik serta kesejahteraan secara keseluruhan. Yoga semakin banyak diteliti sebagai intervensi komplementer non-farmakologis untuk manajemen stres. Tinjauan sistematis ini bertujuan mengevaluasi efektivitas intervensi berbasis yoga dalam menurunkan stres dan dampak kesehatan mental terkait pada mahasiswa di Indonesia. Analisis dilakukan terhadap sepuluh studi primer yang dipublikasikan antara tahun 2020 hingga 2025 dengan desain kuasi-eksperimen, uji coba teracak, dan kualitatif. Intervensi meliputi yoga asanas, teknik pernapasan pranayama, yoga berbasis meditasi, dan modul yoga terstruktur. Pada berbagai populasi mahasiswa, yoga secara konsisten menunjukkan manfaat signifikan: menurunkan stres yang dirasakan, mengurangi kecemasan, meningkatkan kualitas tidur, menurunkan burnout akademik, dan mengatasi gejala psikosomatis. Kesimpulannya, yoga merupakan terapi komplementer yang efektif untuk penurunan stres dan peningkatan kesehatan mental mahasiswa. Yoga direkomendasikan untuk diintegrasikan ke dalam program kesehatan mahasiswa di perguruan tinggi. Uji coba teracak berskala besar dan multi-senter diperlukan untuk meningkatkan generalisasi temuan.
Determinan Obesitas Pada Remaja di Kabupaten Minahasa Musa, Ester Candrawati; Nelwan, Jeini Ester; Tahulending, Jane
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2276

Abstract

Obesitas pada remaja merupakan isu kesehatan masyarakat yang terus meningkat dan terkait dengan pola makan serta aktivitas fisik. Bukti lokal diperlukan untuk merancang intervensi berbasis sekolah di Minahasa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan obesitas pada remaja. Rancangan studi analitik potong lintang dilakukan di SMP Negeri 2 Pineleng dan SMA Negeri 1 Tondano selama Maret–November 2025 dengan total 137 responden. Variabel meliputi status obesitas, kesesuaian asupan makronutrien (protein, lemak, karbohidrat), dan tingkat aktivitas fisik. Data disajikan secara deskriptif dan dianalisis bivariat menggunakan uji Chi-kuadrat dengan α=0,05; ukuran asosiasi dilaporkan sebagai odds ratio (OR) dengan CI 95%. Prevalensi obesitas sebesar 27,7%. Ketidaksesuaian asupan cukup tinggi: protein 65,0%, lemak 70,8%, dan karbohidrat 67,2%; sementara 73,7% responden tergolong aktif secara fisik. Secara bivariat, asupan lemak (p=0,013) dan aktivitas fisik (p=0,009) berhubungan bermakna dengan obesitas; remaja yang tidak aktif memiliki peluang obesitas 2,873 kali lebih besar dibanding yang aktif (95% CI: 1,279–6,455). Asupan protein (p=0,061) dan karbohidrat (p=0,066) tidak menunjukkan hubungan bermakna. Disarankan program sekolah memprioritaskan perbaikan kualitas asupan, khususnya lemak, serta penguatan aktivitas fisik terstruktur.