cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 2,731 Documents
Kadar Glukosa Darah Setelah Konsumsi Madu Pada Kelompok Dewasa Muda Riska Yanti; Haerani Harun; Ressy Dwiyanti; Junjun Fitriani; Christin Rony Nayoan; Muh Azzam Faaz; Nihayatul Khoiriyah Rachmat; Darent Aditya Nasario Hermanto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57832

Abstract

Konsumsi berlebihan karbohidrat terutama gula sederhana dapat menyebabkan fluktuasi glukosa darah hingga peningkatan tinggi glukosa yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan Risiko resistensi insulin. Mengonsumsi pemanis alami seperti madu semakin meningkat, namun data mengenai respons glikemik akut pada individu sehat masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah asupan madu memberikan perubahan yang signifikan terhadap respons glikemik. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pengambilan sampel pretest-posttest pada 41 subjek dewasa muda sehat. Subjek penelitian menjalani puasa selama 8-10 jam, kemudian dilakukan pengukuran glukosa darah puasa (GDP), dilanjutkan dengan konsumsi satu sendok makan madu. Pengukuran kadar glukosa darah dua jam postprandial (GD2PP) dilakukan setelah intervensi. Perbedaan GDP dan GD2PP dianalisis menggunakan uji T berpasangan dan dianggap bermakna bila nilai p<0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar GDP adalah 92.24 9.62 mg/dL sedangkan kadar GD2PP adalah 88.76 8.33 mg/dL. Terdapat penurunan kadar glukosa darah yang bermakna secara statistik (p = 0,010) setelah satu sendok konsumsi madu. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi satu sendok makan madu tidak meningkatkan kadar glukosa pada dewasa muda yang sehat, bahkan cenderung menurun.
Standardisasi dan Penetapan Kadar Kuersetin dalam Ekstrak Daun Bandotan (Ageratum Conyzoides L) dan Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam) Sayyidah Mafisah; Hari Susanti; Nining Sugihartini; Wahyu Widyaningsih
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57847

Abstract

Latar Belakang: Kuersetin merupakan flavonoid alami yang umum terdapat pada tanaman herbal dan menunjukkan aktivitas biologis yang signifikan, seperti antioksidan dan antiinflamasi. Daun bandotan (Ageratum conyzoides L.) dan daun kelor (Moringa oleiferaLam.) diketahui mengandung kuersetin, namun diperlukan analisis kuantitatif dan standardisasi untuk menjamin mutu ekstrak. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi dan menstandardisasi parameter spesifik maupun nonspesifik serta memvalidasi metode penetapan kadar kuersetin dalam ekstrak etanol dari kedua tanaman tersebut. Metode: Standardisasi dilakukan berdasarkan parameter organoleptik, penetapan kadar air, kadar abu total, serta kadar abu tidak larut asam dilakukan mengacu pada Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Kadar kuersetin dianalisis menggunakan metode KLT-densitometri, dan divalidasi melalui uji selektivitas, linearitas, batas deteksi (LOD), batas kuantitasi (LOQ), presisi, dan akurasi. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa kedua ekstrak memenuhi persyaratan mutu. Kadar kuersetin yang diperoleh dari ekstrak daun kelor sebesar 0,014 ± 0,001% dan daun bandotan sebesar 0,015 ± 0,001%. Validasi metode menunjukkan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,9967, nilai presisi (% RSD) sebesar 1,75%, serta akurasi (% perolehan kembali) pada rentang 101,06%– 103,58%. Nilai LOD dan LOQ masing-masing sebesar 7,54 ppm dan 25,15 ppm. Kesimpulan: Metode KLT-densitometri dinyatakan valid dan dapat digunakan untuk analisis kuantitatif kuersetin. Hasil ini mendukung pemanfaatan daun bandotan dan daun kelor sebagai bahan baku herbal yang terstandar.
Dampak Terapi Rindik Balik terhadap Penurunan Insomnia pada Siswa (Studi Eksperimental Terapi Rindik Bali di SMAN 1 Singaraja) Gede Pramana Dickpala Sandi; Luh De Rat Yuningsih
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57871

Abstract

Insomnia merupakan keadaan seseorang yang merasakan gejala melelahkan saat beraktivitas di siang hari dan sulit mendapatkan kualitas tidur baik. Di Indonesia sekitar 10% penduduk atau sekitar 28 juta orang mengalami insomnia dari total 238 juta penduduk Indonesia dari jumlah tersebut sekitar 10-15% sebagai gejala insomnia kronik. Selain itu, insomnia juga menyerang siswa di Indonesia, khususnya di Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi dan efektivitas Terapi Rindik Bali Relaxation sebagai upaya penurunan insomnia di SMAN 1 Singaraja. Penelitian ini menggunakan jenis True Experimental Design bentuk Pre-test Post-test Control Group Design yang bertujuan membandingkan penurunan insomnia sebelum dan sesudah pemberian terapi antara kelompok kontrol tidak mendapatkan treatment Rindik Bali sedangkan kelompok eksperimen mendapatkan treatment Rindik Bali. Metode pemerolehan data dengan observasi, pre-test post-test, wawancara terstruktur serta dokumentasi. Jumlah sampel penelitian adalah 70 siswa dengan pertimbangan dalam pengambilan sampel didasarkan pada siswa yang mengalami gejala insomnia berdasarkan kuisioner yang telah disebar. Data yang didapat akan diolah menggunakan aplikasi Jamovi. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kuantitatif uji Paired Sample T-Test dan Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan yang signifikan setelah pada kelompok yang diberikan perlakuan Rindik Bali (p=0.001<0.005).
Hubungan Status Gizi dan Frekuensi Konsumsi Gorengan Terhadap Gangguan Mental Emosional Pada Remaja Putri di Indonesia: Analisis Data SKI 2023 Dwi Yuniaty Ismail; Asih Setiarini; Rabiatul Adawiyah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57872

Abstract

Abstrak Gangguan mental emosional (GME) merupakan kondisi yang ditandai dengan gejala kecemasan, depresi, dan keluhan somatik yang banyak terjadi pada remaja, terutama remaja putri. Pola konsumsi dan status gizi diduga berperan dalam memengaruhi kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan status gizi dan frekuensi konsumsi gorengan terhadap GME pada remaja putri usia 16–18 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 pada 15.075 responden. GME diukur menggunakan Self-Reporting Questionnaire (SRQ-20) (cut-off ≥6). Status gizi ditentukan berdasarkan IMT/U, dan frekuensi konsumsi gorengan dikategorikan menjadi jarang, kadang-kadang, dan sering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan GME (p<0,05). Selain itu, frekuensi konsumsi gorengan juga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan GME (p<0,05). Namun, distribusi proporsi GME antar kategori frekuensi konsumsi gorengan tidak menunjukkan pola yang konsisten. Penelitian longitudinal diperlukan untuk mengkaji hubungan kausal secara lebih jelas. Kata Kunci: Status gizi, frekuensi konsumsi gorengan, gangguan mental emosional, remaja putri Abstract Emotional mental disorders (EMD) are conditions characterized by symptoms of anxiety, depression, and somatic complaints, commonly found among adolescents, particularly girls. Dietary patterns and nutritional status are considered important factors influencing these conditions. This study aimed to analyze the association between nutritional status and the frequency of fried food consumption with EMD among adolescent girls aged 16–18 years in Indonesia. This cross-sectional study used data from the 2023 Indonesian National Health Survey (SKI) with 15,075 respondents. EMD was measured using the Self-Reporting Questionnaire (SRQ-20) with a cut-off score of ≥6. Nutritional status was based on BMI-for-age, while fried food consumption was categorized into rarely, occasionally, and frequently. The results showed that nutritional status was significantly associated with EMD (p<0.05). In addition, the frequency of fried food consumption was also significantly associated with EMD (p<0.05).However, the relationship was non-linear, indicating the need for cautious interpretation and further longitudinal studies. Keywords: Nutritional Status, Fried Food Consumption Frequency, Mental Emosional Disorder, Adolescent Girls
Intervensi Non-Farmakologis terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Dismenore Primer pada Remaja: A Systematic Literature Review Nada Salsabila; Pipin Suparmi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57882

Abstract

Dismenore primer merupakan masalah kesehatan reproduksi yang umum terjadi pada remaja putri dan dapat berdampak pada kualitas hidup serta aktivitas sehari-hari. Penggunaan terapi non-farmakologis semakin berkembang sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan penggunaan obat jangka panjang. Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mensintesis bukti ilmiah terkait efektivitas berbagai intervensi non-farmakologis dalam menurunkan intensitas nyeri dismenore pada remaja. Metode penelitian menggunakan pedoman PRISMA dengan pencarian sistematis pada basis data jurnal terakreditasi dan pendekatan PICO. Sebanyak sepuluh artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa berbagai intervensi non-farmakologis efektif dalam menurunkan nyeri dismenore. Latihan fisik seperti senam dismenore, abdominal stretching exercise, dan William’s Flexion Exercise (WFE) terbukti meningkatkan relaksasi otot dan sirkulasi darah. Selain itu, terapi kompres hangat dan massage effleurage juga memberikan efek signifikan melalui mekanisme vasodilatasi dan stimulasi endorfin. Secara keseluruhan, intervensi non-farmakologis merupakan pendekatan yang efektif, aman, dan mudah diterapkan sebagai upaya mandiri dalam mengelola nyeri dismenore primer pada remaja.
Perbedaan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa Berdasarkan Jenis Kelamin, Status Pernikahan, dan Pekerjaan Mori Agustina br Perangin-angin; Samuel Maju Simanjuntak; Debilly Yuan Boyoh
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57884

Abstract

Penyakit gagal ginjal kronis telah menjadi masalah global yang terus-menerus mengalami peningkatan baik nasional maupun global. Pasien penderita gagal ginjal kronis yang menjalani prosedur hemodialisa mengalami beban yang sangat berat, baik dalam aspek fisik, emosional, maupun sosial yang dapat memengaruhi kualitas hidup. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, faktor sosiodemografi dapat memengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisa berdasarkan jenis kelamin, status pernikahan dan status pekerjaan. Penelitian kuantitatif deskriptif komparatif ini dilakukan pada 63 pasien gagal ginjal di salah satu rumah sakit swasta di Bandung dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan uji statistik Mann-Whitney dan Kruskal-Wallis. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kualitas hidup pasien adalah WHOQOL (BREF), yang terdiri dari 24 pertanyaan yang mengukur domain fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Hasil yang didapatkan adalah tidak terdapat perbedaan yang signifikan kualitas hidup pasien berdasarkan jenis kelamin (p-value = 0,413), status pernikahan (p-value = 0,337), dan status pekerjaan (p-value 0,681). Namun, nilai rata-rata menunjukkan bahwa kualitas hidup wanita yang menikah dan bekerja lebih tinggi pada domain fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor lain yang memengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa.
Perceived Benefits dan Perceived Bariers yang Dirasakan Sebagai Determinan Self-Management Pada Remaja Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Dwight Mahaputera Marulitua Hutapea
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57886

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) pada remaja merupakan masalah kesehatan global yang meningkat secara signifikan dan berdampak pada kualitas hidup jangka panjang. Self-management menjadi komponen utama dalam pengendalian penyakit ini, namun keberhasilannya dipengaruhi oleh faktor psikososial, khususnya perceived benefits dan perceived barriers. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan critical review terhadap peran manfaat yang dirasakan dan hambatan yang dirasakan sebagai determinan self-management pada remaja dengan DMT2. Metode yang digunakan adalah narative critical review terhadap artikel tahun 2021–2026 yang diperoleh dari database CINAHL, Google Scholar, PubMed Scopus. Hasil menunjukkan bahwa perceived benefits meningkatkan kepatuhan terhadap diet, aktivitas fisik, dan monitoring glukosa, sementara perceived barriers seperti stigma sosial, keterbatasan dukungan keluarga, dan beban psikologis menghambat self-management. Pembahasan mengungkap bahwa pendekatan intervensi berbasis perilaku dan dukungan keluarga sangat penting dalam meningkatkan efektivitas self-management. Kesimpulan menunjukkan bahwa integrasi strategi untuk memperkuat manfaat yang dirasakan dan mengurangi hambatan menjadi kunci dalam meningkatkan outcome kesehatan remaja dengan DMT2.
Faktor – faktor yang Memengaruhi Perilaku Pencegahan Terhadap Paparan Thirdhand Smoke (THS) : A Systematic Literature Review Aldyta Permata Sari; Nur Rohmah; Annisa Nurrachmawati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57898

Abstract

Thirdhand smoke (THS) refers to tobacco residue left on surfaces and in dust after cigarette smoke dissipates, posing health risks, especially to children. This study aims to identify and synthesize various factors influencing preventive behavior towards THS exposure through a systematic literature review. Articles were systematically searched in PubMed, Google Scholar, and Scopus for publications from 2021 to 2025, following the PRISMA 2020 guidelines and strict inclusion-exclusion criteria. Of the 280 identified articles, 12 studies (5,241 participants) were included, with most being cross-sectional and originating from Turkey. Key factors influencing THS prevention behavior included: awareness and knowledge (10 studies), belief in the dangers of THS (8 studies), education (6 studies), income (5 studies), smoking rules at home (5 studies), and smoking behavior (4 studies). Results showed that awareness of the term THS was low (8.7%), with higher education (OR=18.835; p<0.001) and homeownership (OR=2.667; p=0.004) significantly influencing beliefs about THS dangers. This study suggests public health interventions targeting THS education for lower-income and less-educated groups and recommends further research in diverse geographic and cultural contexts. Keywords: thirdhand smoke, THS, preventive behavior, awareness, knowledge.
Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pengelolaan Keuangan Puskesmas Di Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua Pegunungan Krisma Palabiran; Novita Medyati; Yacob Ruru; Arius Togodly; Yulius Sarungu Paiting; Septevanus Rantetoding
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57918

Abstract

Pengelolaan keuangan Puskesmas sangat penting untuk efektivitas, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas layanan kesehatan. Di Kabupaten Jayawijaya, sejumlah Puskesmas tidak layak menerima dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), yang diduga terkait faktor internal bendahara seperti kompetensi, pelatihan, beban kerja, dan rangkap tugas. Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional pada 29 bendahara Puskesmas melalui total sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Fisher’s Exact serta regresi Poisson dengan robust variance. Hasil menunjukkan 65,5% responden memiliki pengelolaan keuangan tidak baik, 75,9% kurang pelatihan, 69,0% mengalami beban kerja berat, dan 75,9% menjalankan rangkap tugas. Analisis bivariat memperlihatkan pelatihan (p=0,003), beban kerja (p=0,002), dan rangkap tugas (p=0,003) berhubungan signifikan, sedangkan kompetensi tidak (p=0,367). Analisis multivariat menegaskan pelatihan (RP=0,312; p=0,010) dan beban kerja (RP=3,517; p=0,012) berhubungan signifikan, dengan beban kerja sebagai faktor paling dominan.
Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tekanan Darah Pada Remaja Hipertensi Aulia Asman; Reni Prima Gusty; Dally Rahman
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57929

Abstract

Perubahan pola makan dan kebiasaan hidup modern telah menggeser pola kejadian hipertensi dari kelompok lansia ke remaja, akibat peningkatan konsumsi makanan tinggi garam, lemak, dan gula serta gaya hidup. Penatalaksanaan hipertensi tidak hanya mencakup terapi farmakologis, tetapi juga melibatkan terapi non farmakologis, termasuk terapi komplementer. Salah satu terapi komplementer yang tidak memiliki efek samping dan mudah dilakukan oleh siapa saja serta efisien. Terapi relaksasi otot progresif juga memiliki prinsip yaitu kontraksi dan relaksasi otot. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experimental pretest- posttest with kontrol group design, jumlah sampel adalah 20 orang dibagi menjadi kelompok kontrol (N=10) dan perlakuan (N=10). Hasil uji Mann Whitney menunjukkan tekanan sistolik pada sampel setalah diukur sistolik (p value = 0.031) dan sedangkan diastoliknya (p value =0.261). Terapi relaksasi otot progresif berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah sistolik tetapi tidak berpengaruh pada perubahan tekanan darah diastolik pada remaja dengan hipertensi.