cover
Contact Name
Spektrum Sipil
Contact Email
spektrum_sipil@unram.ac.id
Phone
+62370-638436
Journal Mail Official
spektrum_sipil@unram.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram Jl. Majapahit No. 62 Mataram Nusa Tenggara Barat Kode Pos: 83125
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Spektrum Sipil
Published by Universitas Mataram
ISSN : 18584896     EISSN : 25812505     DOI : https://doi.org/10.29303/spektrum.v7i1
Core Subject : Engineering,
Spektrum Sipil merupakan Jurnal Teknik Sipil yang bertujuan menjadi wadah komunikasi ilmiah untuk menyebarluaskan informasi, hasil-hasil penelitian, hasil kajian pustaka dan teori, yang mencakup bidang Struktur, Transportasi, Hidro, Geoteknik, Manajemen Konstruksi, dan Lingkungan. Spektrum Sipil diterbitkan dua kali dalam setahun (Maret dan September), dipublikasikan secara online dan akses terbuka dengan Nomor Seri Standar Internasional elektronik e-ISSN 2581-2505.
Articles 204 Documents
PERILAKU PARTIKEL BERPORI TERHADAP BEBAN SIKLIK: Behavior of Porous Particles Due to Cyclic Load Muhajirah, Muhajirah
Spektrum Sipil Vol 7 No 1 (2020): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v7i1.155

Abstract

Fenomena likuifaksi biasanya terjadi sesaat dan setelah gempa bumi. Gelombang seismik merambat melalui tanah dan menggerakkan partikel tanah jenuh. Akibat pergerakan ini, tekanan air pori mengalami peningkatan. Saat peningkatan tekanan air pori mencapai tekanan overburden, selanjutnya tanah akan kehilangan kekuatan gesernya dan berperilaku sebagai viscous liquid. Penelitian ini bertujuan mengetahui perilaku partikel berpori saat menerima beban seismik. Pengujian dilakukan dengan alat shaking table. Ada dua amplitudo beban siklik yang digunakan: 0,35g durasi 7 detik dan 0,38g durasi 20 detik. Untuk membuat model uji digunakan metode dry pluviation dengan kerapatan relatif 30%. Hasil uji shaking table menunjukkan bahwa fenomena likuifaksi tidak terjadi pada aplikasi kedua beban siklik. Akibat beban siklik, partikel pumice mengalami degradasi.
MODEL OPTIMASI WAKTU DAN TENAGA KERJA MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINIER PADA PELAKSANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG BUDAYA NARMADA: Model Optimization of Time and Labor Programming using Linear Building on Implementation of Cultural Narmada Husya’bani, Akhirul; Warka, I Gede Putu; Wirahman Wiradarma, Lalu
Spektrum Sipil Vol 3 No 1 (2016): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penjadwalan proyek berperan penting terhadap keberhasilan pelaksanaan proyek konstruksi. Pada pelaksanaan Pembangunan Gedung Budaya Narmada, digunakan kurva S (S-Curve) dan diagram batang (Bar Chart) dalam penjadwalan pekerjaan sehingga tidak diketahui secara spesifik hubungan ketergantungan antar kegiatan dan dampak keterlambatan suatu kegiatan terhadap jadwal keseluruhan proyek. Masalah lain dalam penjadwalan adalah menentukan durasi dan jumlah tenaga kerja pada proyek dengan jumlah kegiatan yang banyak. Kesalahan dalam menentukan durasi dan jumlah tenaga kerja di awal pelaksanaan akan berdampak pada pengalokasian tenaga kerja dengan fluktuasi yang tinggi, serta penambahan atau pengurangan jumlah tenaga kerja sepanjang pelaksanaan. Untuk itu perlu suatu metode yang dapat membantu dalam keputusan penentuan durasi dan jumlah tenaga kerja. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan model optimasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bentuk model matematis pada penjadwalan pelaksanaan pembangunan Gedung Budaya Narmada, sehingga dapat ditentukan waktu pelaksanaan dan jadwal alokasi tenaga kerja yang optimal sehingga pelaksanaan lebih efektif dan efisien. Pemodelan dilakukan dengan melakukan analisa terhadap data-data sekunder pelaksanaan pekerjaan. Prinsip yang digunakan dalam analisa pemodelan adalah dengan penjadwalan ulang menggunakan metode diagram preseden (PDM) dan metode lintasan kritis (CPM) yang dikonversi ke dalam model optimasi dalam bentuk persamaan matematis yang dapat diselesaikan dengan pemrograman linier. Penyelesaian persamaan model optimasi dilakukan dengan program bantu Excel Solver. Hasil optimasi kemudian dibandingkan dengan hasil analisa durasi dan jadwal alokasi tenaga kerja jadwal pelaksanaan awal. Hasil pemodelan adalah berupa fungsi minimum, yaitu meminimumkan fungsi biaya (Z), dengan memaksimumkan variabel durasi (d). Batasan utama adalah jumlah durasi pekerjaan pada setiap rangkaian kegiatan lebih besar atau sama dengan satu dan kurang dari atau sama dengan durasi maksimal pelaksanaan pekerjaan. Total durasi pelaksanaan pekerjaan pada jadwal hasil optimasi adalah sebesar 148 hari, menghasilkan alokasi jumlah tenaga kerja maksimum mingguan yang lebih kecil dibandingkan dengan jadwal awal dengan perbedaan alokasi tenaga kerja yang signifikan. Selain itu jadwal hasil optimasi menghasilkan biaya tenaga kerja yang lebih kecil serta efektifitas pengalokasian tenaga kerja yang lebih baik dibandingkan dengan jadwal awal.
STUDI EVALUASI KEAKTIFAN SDM KONSTRUKSI TEKNISI / TENAGA TERAMPIL DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT: Evaluation Study of Human Resources Activity of Techniciants Contructions / Vocation Skill in West Nusa Tenggara Province Wahyudi, Mudji; Yasa, I Wayan
Spektrum Sipil Vol 1 No 1 (2014): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SDM Konstruksi Indonesia yang merupakan individu yang berpraktek profesi dikeinsyuran dan kearsitekturan serta teknisi/tenaga terampil (skilled labour) di sector konstruksi Indonesia, termasuk dalam kategori pekerja terampil yang akan berpartisipasi dalam AFTA 2015. Anomali peran dan fungsi SDM Konstruksi bersertifikasi ini meliputi Tenaga Ahli dan Tenaga Terampil, sehingga dari total jumlah pemegang sertifikasi yang ada, tidak semua berkontribusi langsung pada proses pelaksanaan konstruksi. Potensi efektif dari SDM Konstruksi bersertifikasi tersebut tidak dapat diketahui, padahal hanya Tenaga Ahli dan Tenaga Terampil yang telah bersertifikasi saja dapat berpartisipasi pada AFTA 2015. Untuk memperoleh gambaran nyata kesiapan SDM Konstruksi (Insinyur, Arsitek, Teknisi / TenagaTerampil) di tingkat Provinsi menjelang AFTA 2015, maka dilakukan Studi Evaluasi Keaktifan SDM Konstruksi Daerah (teknisi/tenaga terampil) di Provinsi NTB. Rendahnya kesadaran tenaga kerja konstruksi untuk memiliki SKT karena persepsi tenaga kerja terampil bahwa tidak ada korelasi yang linier antara kepemilikan SKT dengan pendapatan yang diperoleh tenaga konstruksi di daerah serta Tenaga kerja SDM konstruksi yang secara langsung terlibat dalam kegiatan proyek konstruksi yang sedang berjalan di Provinsi NTB sebagian besar tidak memiliki SKT, kepemilikan SKT hanya terbatas pada tingkat mandor dan pengawas lapangan.
PENGARUH PENAMBAHAN SPENT CATALYST TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH LEMPUNG EKSPANSIF YANG DISTABILISASI DENGAN FLY ASH: The Effect of Spent Catalyst Addition to the Bearing Capacity of the Expansive Clay Soil Stabilized by Fly Ash Sulistyowati, Tri; Muchtaranda, Ismail Hoesain
Spektrum Sipil Vol 1 No 2 (2014): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah lempung ekspansif memiliki potensi untuk mengembang dan menyusut yang tinggi akibat perubahan kadar air. Jika tidak dilakukan perbaikan terhadap jenis tanah ini maka akan menyebabkan terjadinya penggelembungan (heave) dan retak-retak (cracking) pada perkerasan jalan raya, serta pecah-pecah (buckling) pada lantai dasar (slab). Oleh karena itu harus dilakukan perbaikan terhadap sifat kembang susut tanah lempung ekspansif tersebut untuk meningkatkan kekuatan daya dukungnya. Salah satunya adalah dengan stabilisasi menggunakan bahan tambahan seperti fly ash dan spent catalyst. Fly ash merupakan salah satu residu yang dihasilkan dalam pembakaran batu bara dan terdiri dari partikel halus yang mengikat dengan gas buang. Spent catalyst adalah limbah dari penyulingan minyak tanah yang terdiri dari oksidasi silica, alumunia, ferro dan lain-lain. Oleh karena itu, maka dilakukan penelitian tentang pengaruh penambahan spent catalyst terhadap daya dukung tanah lempung ekspansif yang distabilisasi dengan fly ash. Penelitian ini dilakukan terhadap tanah lempung ekspansif yang distabilisasi fly ash (15%) dan ditambahkan spent catalyst (2%, 4%, 6%, 8%, 10%) yang diperam selama 7 hari. Selanjutnya dilakukan pengujian sifat-sifat kimia, fisik, dan mekanis. Pengujian sifat mekanis dilakukan dengan alat uji kuat tekan bebas (UCS), untuk mengetahui daya dukung tanah. Berdasarkan hasil pengujian kimia, diketahui bahwa tanah lempung ekspansif mengandung unsur-unsur kimia silika, magnesium, kalium dan aluminium yang merupakan unsur kimia pembentuk mineral lempung sebagai pembentuk sifat-sifat plastis dari tanah. Adapun kandungan unsur kimia fly ash dan spent catalyst yang dominan adalah silika dioksida (SiO2) dan aluminium trioksida (Al2O3). Hal ini menunjukkan bahwa fly ash dan spent catalyst dapat dikategorikan sebagai bahan pozzolan kelas F (ASTM C618-92a) dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan stabilisasi tanah lempung ekspansif. Penambahan 15% fly ash dan spent catalyst (0%, 2%, 4%, 6%, 8%, 10%) memberikan dampak terhadap perubahan sifat-sifat fisik dan mekanis tanah lempung ekspansif. Perubahan ini disebabkan karena reaksi pozolan antara silika dioksida (SiO2) dan aluminium trioksida (Al2O3) sebagai unsur-unsur dominan dari fly ash dan spent catalyst yang mengisi lembaran silika (silica sheet) dan gibbsite di dalam partikel lempung, membentuk mineral yang stabil dan air sulit untuk masuk diantara lapisan tersebut. Penambahan spent catalyst mengakibatkan terjadinya penurunan prosentase kadar butiran lempung, sehingga terjadi perubahan klasifikasi tanah dari CH menjadi MH. Nilai specific gravity (Gs), dan plastisitas tanah juga mengalami penurunan yang mengindikasikan terjadinya perbaikan kualitas tanah. Hal ini dapat dilihat juga dari peningkatan kepadatan dan kuat tekan tanah. Penambahan spent catalyst mengakibatkan peningkatan daya dukung tanah ekspansif yang distabilisasi dengan fly ash (15%) dari 2.99 kg/cm2 menjadi 3.07 – 3.74 kg/cm2.
ANALISIS RANCANG BANGUN SISTEM IRIGASI HEMAT AIR TERPADU SPRINKLER MINI DAN LEB PIPA PADA JARINGAN IRIGASI AIR TANAH (JIAT) DI LAHAN KERING KABUPATEN LOMBOK TIMUR: Analysis of The Leb pipe and mini sprinkler Irrigation System Collaboration on Ground Water Irrigation system (JIAT) at dry land West Lombok sub-Province Jaya Negara, Dewa Gede; Supriyadi, Anid
Spektrum Sipil Vol 4 No 1 (2017): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada lahan kering lokasi JIAT tanah bergradasi halus nilai infiltrasi sebesar 3,342 cm/jam dan 0,621cm/jam termasuk rendah untuk dapat mendukung penerapan sistem irigasi hemat air seperti irigasi sprinkler besar dalam usahatani. Pemberian air irigasi JIAT ternyata masih kurang efisien, karena tata kelola air masih tradisional dan boros. Dengan kondisi iklim yang kurang mendukung mengakibatkan hilangnya air irigasi di lahan lebih cepat. Oleh karena itu, dalam penelitian sistem irigasi hemat air terpadu berbasis JIAT perlu dilakukan di lahan kering bergradasi halus Pringgabaya, agar diperoleh sistem irigasi yang lebih sinergis ditingkat lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji sistem irigasi hemat air terpadu sistem leb pipa, sprinkler mini dan lep pipa di lahan kering bergradasi halus pada jaringan JIAT. Uji dilakukan pada petak lahan 5 are sd 6 are dengan debit aliran dari bok outlet JIAT yang besarnya sekitar 13,46 lt/dt. Analisis dilakukan terhadap kinerja irigasi terpadu mencakup besar lengas tanah, waktu irigasi dan diameter basah irigasi.Hasil analisis dipresentasi dalam bentuk grafik dan tabel dan disimpulkan secara deskriptip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Debit minimal yang diperlukan irigasi sistem leb pipa pada 16 lubang pipa adalah sekitar 4,69lt/dt dengan debit luaran lubang leb pipa rata-rata(qs) 0,29lt/dt dan pada 28 lubang pipa diperlukan debit sistem sekitar 7,33lt/dt dengan debit luaran pipa lep (qsr) sekitar 0,46lt/dt. Irigasi sprinkler mini pada debit luaran total 1,93lt/dt dapat membrikan debit luaran masing-masing sprinkler sekitar 0,16lt/dt. Pada debit 8lt/dt sprinkler mini dapat menghasilkan pancaran sekitar 3 m dan debit luaran rata-rata sprinkler sekitar 0,16lt/dt.iri Irigasi sprinkler mini dapat memebrikan imbuhana lengas tanah sekitar 7,7% dengan penurunan harian rata-rata sebesar 1,6%. Pengujan irigasi leb pipa 10 menit mampu memberikan dalam basahan sekitar 30 cm dengan lengas tambahan 9,7%, dan penurunan lengas harian sebesar 2,33%.Irigasi hemat air terpadu sprinkler mini dengan leb pipa, dapat memperpanjang jadual irigasi hingga 6 hari dari yang seharusnya 3 hari sekali.
ANALISA PENGARUH METODE TERASERING PADA STABILITAS LERENG MENGGUNAKAN GEOSLOPE/W6: Analysis of Effect Terracering Method on Slope Stability by Geostudio V.6 Software Hoesain M, Ismail; Agustawijaya, Didi Supriadi; Ashari, Isya; Sulistyowati, Tri; Prabowo, Agung
Spektrum Sipil Vol 5 No 2 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v5i2.137

Abstract

Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu lereng antara lain adalah infiltrasi air hujan dan kelandaian suatu lereng. Air infiltrasi ini, selain mengurangi kohesi tanah, juga ikut menambah berat tanah sehingga longsor terjadi. Sebagian besar perbukitan di daerah Lombok Barat, lapisan tanah merupakan pasir kelanauan terutama di daerah sepanjang jalan raya Sesaot, sebagai kawasan wisata hutan dari Propinsi Nusa Tenggara Barat. Longsor di kawasan ini sering terjadi apabila musim hujan tiba.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui angka keamanan lereng terhadap durasi hujan dan penanggulangan longsor dengan membuat sudut lereng lebih datar dari lereng asli dan membuat terasering sepanjang lereng. Dalam analisisnya dibantu dengan menggunakan program Geostudio V.6. Pemodelan muka air tanah akibat hujan digunakan program SEEP/w sedangkan pemodelan lereng menggunakan program SLOPE/w.Hasil penelitian menunjukan, semakin lama durasi hujan (durasi hujan 8 jam), angka keamanan semakin menurun, sebesar 3,23% dari faktor keamanan tanpa hujan. Apabila dilakukan stabilisasi dengan mengurangi sudut lereng menjadi 65o dari kondisi asli 85o, faktor keamanan meningkat 22,8% dan bila dilakukan stabilisasi dengan tersering sebanyak 2 terasering, faktor keamanan mengalami peningkatan sebesar 17,34% dari kondisi asli lereng.
KUAT TARIK SAMBUNGAN BAMBU BERPENGISI PADA BERBAGAI VARIASI MASSA MATRIKS DAN SERBUK GERGAJI KAYU: Tensile Strength of Filling Bamboo Connection in Various Matrix Mass Variations and Sawdust Sugiartha, I Wayan; Rofaida, Aryani; Handayani, Tety; Suparjo, Suparjo; Murtiadi, Suryawan
Spektrum Sipil Vol 7 No 1 (2020): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v7i1.163

Abstract

Bambu memiliki kuat geser sejajar serat yang rendah karena bentuknya tubular sehingga ketika disambung menggunakan pasak mudah terjadinya pecah. Upaya peningkatan kuat geser bambu yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pengisi disekitar sambungan. Serbuk kayu dicampur dengan matriks dari polyvinyl acetate (PVAc) memiliki potensi untuk dijadikan bahan pengisi sambungan bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat tarik optimum sambungan bambu pada perbandingan massa matriks terhadap massa pengisi serbuk kayu dan untuk mengetahui pola kegagalan yang terjadi pada sambungan bambu berpengisi. Penelitian ini diawali dengan melakukan uji pendahuluan untuk mengetahui karakteristik fisik dan mekanik bamboo, baut, dan perekat PVAc. Selanjutnya membuat benda uji sambungan dengan lima variasi massa matriks terhadap serbuk kayu, yaitu 1:1, 1.25:1, 1.5:1, 1.75:1, dan 2:1 dimana setiap variasi terdiri dari tiga sampel. Kemudian benda uji sambungan bambu diuji pada loading frame dengan cara memberikan beban statis jangka pendek menggunakan hydraulic jack hingga benda uji sambungan mengalami kegagalan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kuat tarik sambungan dengan variasi 1:1, 1.25:1, 1.5:1, 1.75:1, dan 2:1 berturut-turut sebesar 1179.36 Kg, 1194.48 Kg, 1239.84 Kg, 1421.28 Kg dan 1345.68 Kg. Kekuatan tarik optimum sambungan bambu terdapat pada variasi 1.75:1 dengan beban maksimum yang mampu diterima oleh sambungan bambu sebesar 1421.28 Kg. Pola kegagalan yang terjadi pada daerah sambungan bambu yaitu kegagalan tipe I dimana kegagalan terjadi dengan pecah dan bergesernya bambu serta terdorongnya pengisi ketika mencapai beban maksimum.
PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN MIMBA (AZADIRACHTA INDICA) SEBAGAI BAHAN ALAMI PENGAWET BAMBU DENGAN METODE GRAVITASI: The use of Neem (Azadirachta Indica) Leaves Extract as the Natural Bamboo Preservation with Gravitation Method Primasatya, Dimas; Sugiartha, I Wayan; Rofaida, Aryani
Spektrum Sipil Vol 3 No 1 (2016): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kelemahan bambu dalam pemanfaatannya sebagai bahan konstruksi adalah bambu tidak tahan terhadap serangan perusak biologis seperti kumbang bubuk, rayap, dan jamur. Karena itu berbagai upaya pengawetan bambu telah dilakukan baik yang bersifat tradisional maupun modern menggunakan bahan kimai yang mahal dan berbahaya. Oleh karena itu untuk mendapatkan bahan pengawet yang tidak hanya murah dan mudah mendapatkannya tetapi juga ramah terhadap lingkungan, maka penelitian bahan pengawet perlu dikembangkan. Salah satu bahan alami yang dapat dikembangkan adalah tanaman mimba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai retensi dan penetrasi ekstrak daun mimba pada bambu petung dengan berbagai variasi konsentrasi, serta konsentrasi yang efektif dari ekstrak daun mimba sebagai bahan pengawet bambu. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Struktur dan Bahan Fakultas Teknik dan Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mataram. Pelaksanaan penelitian didahului dengan melakukan pengujian pendahuluan berupa pengujian kadar air untuk bambu dan pengujian kandungan kimia ekstrak daun mimba. Selanjutnya mengekstrak daun mimba dengan cara diblender dan ditambahkan air untuk mencapai konsentrasi yang diinginkan yaitu 0%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5% dan 15%. Pemasukan masing-masing ekstrak daun mimba ke dalam bambu dilakukan dengan metode gravitasi. Beberapa parameter yang diamati pada penelitian ini adalah retensi, penetrasi, moralitas rayap dan derajat serangan rayap kayu kering. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semakin besar tingkat konsentrasi ekstraksi maka nilai retensi dan penetrasi cenderung bertambah. Hasil pengujian retensi dan penetrasi berturut-turut untuk konsentrasi 5%, 7,5%, 10%, 12,5%, dan 15% adalah 2,458 kg/m³, 4,291 kg/m³, 7,172 kg/m³, 9,860 kg/m³ dan 11,370 kg/m³ untuk pengujian nilai retensi, sedangkan untuk nilai penetrasi adalah berkisar 20%, 26%, 30%, 34%, dan 37%. Demikian juga dengan pengujian efektifitas, semakin besar konsentrasi ekstraksi semakin baik daya tahan bambu terhadap serangan rayap. Hasil pengujian moralitas rayap berturut-turut untuk konsentrasi 5%, 7,5%, 10%, 12,5%, dan 15% adalah berkisar 37%, 57%, 80%, 93%, dan 100% dan kehilangan berat sampel berturut-turut untuk konsentrasi 0%, 5%, 7,5%, 10%, 12,5%, dan 15% adalah berkisar 30%, 16%, 11%, 6%, 5%, dan 2%.
KURVA INTENSITY DURATION FREQUENCY (IDF) DAN DEPTH AREA DURATION (DAD) UNTUK KOTA PRAYA: The Curve of Intensity Duration Frequency (IDF) and Depth Area Duration (DAD) for Town of Praya Irwan, Irwan; Salehudin, Salehudin; Saidah, Humairo
Spektrum Sipil Vol 2 No 2 (2015): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Praya merupakan kota yang sedang berkembang dan melakukan pembangunan infrastuktur. Untuk wilayah yang sedang berkembang dan melakukan pembangunan infarstruktur kota yang perlu diperhatikan adalah dalam aspek pembangunan bangunan air, agar tidak terjadi banjir dan musibah-musibah lain yang tidak diharapkan. Perhitungan kedalan hujan dan debit banjir rencana dengan metode rasional untuk perancangan bangunan hidraulik memerlukan data kedalaman hujan dalam durasi dengan luas daerah tertentu dan intensitas hujan dalam durasi dengan periode ulang tertentu yang dapat diperoleh dari kurva Intesity-Duration-Frenquency (IDF) dan Depth-Area-Duration (DAD). Dalam pembuatan kurva IDF, perhitungan intensitas hujan tiap-tiap kala ulang digunakan rumus Mononobe. Sedangkan dalam pembuatan kurva DAD perhitungan luas-kedalaman tiap-tiap periode didapat dari peta isohyet. Hasil dari analisis ini menunjukan bahwa besarnya nilai Intensitas-Duration-Frequency (IDF) dengan durasi 30 menit beradasarkan kala ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun diperoleh intensitas hujan berturut-turut adalah: I2 = 44,234 mm/jam, I5 =57,934 mm/jam, I10 = 66,785 mm/jam dan I25 = 77,809 mm/jam. Sedangkan besarnya nilai kurva DAD untuk luasan 40 km2 dengan durasi 6 jam, 12 jam, 18 jam dan 24 jam nilai hujan rata-rata maksimum berturut-turut adalah 79,62 mm, 84,22 mm, 82,76 mm dan 82,76 mm.
ANALISIS SEDIMENTASI TERHADAP UMUR GUNA BENDUNGAN PENGGA KABUPATEN LOMBOK TENGAH: Sedimentation Analysis of the useful Life of Pengga Resservoir in Lombok Tengah Regency Salehudin, Salehudin; Putra, I.B. Giri; Widalia, Baiq Yatmi
Spektrum Sipil Vol 2 No 1 (2015): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bendungan Pengga merupakan salah satu bendungan yang berfungsi secara Multi Pourpose, bendungan ini mulai dioperasikan semenjak tahun 1992 setelah pengerjaan kontruksinya rampung. Dengan umur layanan yang cukup panjang, bendungan Pengga masih berfungsi dengan baik sampai sekarang, namun ada sisi lain yang perlu tinjauan analis dari segi sedimentasi yang selama ini kita belum tau sampai sejauh mana volume dan ketinggiannya, apabila volume sedimen telah mencapai ketinggian tertentu atau elevasi yang telah ditetapkan maka akan mengakibatkan volume air yang tertampung akan menjadi berkurang, dan dengan secara otomatis akan mengakibatkan fungsi pola tanam yang sudah direncanakan akan menjadi gagal total, dalam analisis sedimen atau volume sedimen yang tertampung dbutuhkan analilis agar Bendungan tetap berfungsi dengan baik. Sedimen yang masuk ke dalam Bendungan Pengga berasal dari erosi tanah di Daerah Aliran Sungai (DAS) melalui alur-alur sungai. Material sedimen yang masuk ke dalam aliran sungai dalam jumlah besar, maka akan menyebabkan laju sedimen yang masuk kedalam Bendungan akan semakin besar pula bahkan akan melampui sedimen rencana. Sebagai upaya mendapatkan informasi perubahan kapasitas bendungan secara dini, maka pada penelitian ini, analisa yang digunakan untuk memperkirakan umur guna bendungan Pengga akibat adanya sedimentasi memerlukan analisis sedimen dengan berbagai metode, salah satu metode yang digunakan dalam analisis ini adalah metode distribusi sedimen (the emperical area reduction method). Berdasarkan hasil analisis distribusi sedimen Pengga, didapatkan bahwa Bendungan Pengga mengalami perubahan kapasitas tampungan terhitung mulai dari awal perencanaan sampai beberapa tahun berikutnya setelah bendungan beroperasi. Perubahan kapasitas tampung bendungan Pengga akibat sedimentasi pada umur 16 tahun yaitu sebesar 2,06 x 107 m3 dengan volume sedimen sebesar 6,714,700 m3, umur 29 tahun yaitu 1,51x 107 m3 dengan volume sedimen sebesar 12,170,394 m3, umur 40 tahun yaitu 1,05 x 107 m3 dengan volume sedimen sebesar 16,786,750 m3 dan umur 50 tahun yaitu 6,29 x 106 m3 dengan volume sedimen sebesar 20,983,438 m3. Umur guna bendungan Pengga hanya mencapai umur 40 th, yaitu mulai dari tahun 1994 sampai tahun 2034 dengan besarnya volume sedimentasi yaitu 16,786,750 m3, dimana sisa umur bendungan Pengga setelah lamanya beroperasi sekitar 21 tahun.

Page 5 of 21 | Total Record : 204