cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA
ISSN : 27970744     EISSN : 27971031     DOI : https://doi.org/10.51878/science.v1i2.389
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan matematika dan IPA.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 378 Documents
EFEKTIVITAS KOMBINASI METODE UJI KELARUTAN DALAM ALKOHOL, MINYAK DAN FILTER PAPER: ANALISIS SENYAWA KOVALEN POLAR DAN NONPOLAR PADA BUAH LOKAL Syafira, Eka Ananda; Jahro, Iis Siti; Dwiyanda, Fadhilla; Nikita, Ade Rani; Khairani, Rafida; Rizkia, Putri; Said, Fahrezi Hasyim
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7535

Abstract

Covalent compounds in local fruits exhibit different solubility properties depending on their molecular polarity, with polar compounds generally dissolving in polar solvents and nonpolar compounds being more soluble in nonpolar solvents. This principle is essential since fruits contain various secondary metabolites such as flavonoids, tannins, saponins, terpenoids, and phenolic compounds whose distribution is influenced by polarity. This study aimed to evaluate the effectiveness of combining solubility tests using 70% ethanol, 96% ethanol, cooking oil, and filter paper as a practical approach to differentiate polar and nonpolar compounds in local fruits. The experiment involved ten fruit samples: star fruit, salak, papaya, pineapple, guava, noni, kaffir lime peel, pantain peel, mangosteen peel, and duku peel. The results showed that star fruit, salak, papaya, pineapple, guava, and noni were highly soluble in 70% ethanol, indicating the predominance of polar compounds. In contrast, kaffir lime peel, duku peel, mangosteen peel, and parts of plantain peel demonstrated greater solubility in oil or left residues on filter paper, suggesting the presence of nonpolar or semi-polar compounds. These findings confirm that the proposed combination method is effective for providing an initial overview of compound polarity in local fruits and has potential application as a practical tool in basic chemistry education and preliminary phytochemical analysis. ABSTRAKSenyawa kovalen pada buah lokal memiliki sifat kelarutan yang berbeda bergantung pada kepolaran molekulnya, di mana senyawa polar cenderung larut dalam pelarut polar dan senyawa nonpolar lebih mudah larut dalam pelarut nonpolar. Prinsip dasar ini penting dipahami karena buah mengandung beragam metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, terpenoid, serta senyawa fenolik yang distribusinya ditentukan oleh kepolaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kombinasi metode uji kelarutan dengan alkohol 70%, alkohol 96%, minyak goreng, dan filter paper sebagai cara sederhana untuk membedakan senyawa polar dan nonpolar pada buah lokal. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan sepuluh sampel buah, yaitu belimbing wuluh, salak, pepaya, nanas, jambu biji, mengkudu, kulit jeruk purut, kulit pisang raja, kulit manggis, dan kulit duku. Hasil uji menunjukkan bahwa buah belimbing wuluh, salak, pepaya, nanas, jambu biji, dan mengkudu larut baik dalam alkohol 70% yang bersifat lebih polar, menandakan dominasi senyawa polar. Sebaliknya, kulit jeruk purut, kulit duku, kulit manggis, dan sebagian kulit pisang raja memperlihatkan kelarutan lebih baik dalam minyak atau meninggalkan residu pada filter paper, yang menunjukkan adanya senyawa nonpolar atau semi-polar. Penelitian menegaskan bahwa metode kombinasi sederhana tersebut efektif memberikan gambaran awal mengenai polaritas senyawa dalam buah lokal, serta berpotensi digunakan sebagai pendekatan praktis dalam pembelajaran maupun analisis kimia dasar.
PENGEMBANGAN MEDIA GAME EDUKASI BERBASIS MATERI BAGIAN TUBUH TUMBUHAN TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS KELAS IV DI SEKOLAH DASAR Sholihah, Putri Nasihatus; Widiyono, Aan
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7536

Abstract

This study developed an educational game media for plant body parts material and assessed its effectiveness on the learning outcomes of grade IV students of SDN 8 Suwawal. The development model used is ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation) within the framework of Research & Development. Product validation is carried out by two media experts and one material expert. The validation results show scores of 95%, 88%, and 97% (very feasible category). The practicality test showed positive responses from teachers (94%) as well as students in the limited trial (93%) and the large-scale trial (88%). Pretest-posttest analysis using paired sample t-test showed a significant improvement in learning outcomes (Sig. 2-tailed = 0.000), with an average increase of 50% in product trials and 37% usage. These findings indicate that the educational games developed are effective in improving the understanding and learning outcomes of IPAS on plant body parts. It is recommended that this medium be implemented more widely and further developed by subsequent researchers. ABSTRAKStudi ini merancang sebuah media Game Edukasi guna materi bagian tubuh tumbuhan dan menilai efektivitasnya pada pencapaian belajar peserta didik kelas IV SDN 8 Suwawal. Model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation) dalam kerangaka Research & Development. Validasi produk dilakukan oleh dua ahli media dan satu ahli materi. Hasil validasi menunjukkan skor 95%, 88%, dan 97% (kategori sangat layak). Uji kepraktisan memperlihatkan respons positif dari guru (94%) serta peserta didik pada uji coba terbatas (93%) dan uji coba skala besar (88%). Analisis pretest-posttest menggunakan paired sample t-test menunjukkan peningkatan hasil belajar yang nyata (Sig. 2-tailed = 0,000), dengan kenaikan rata-rata sebesar 50% pada uji coba produk dan 37% pemakaian. Data tersebut memberikan bukti bahwa Game Edukasi yang dirancang memiliki efektivitas meningkatkan pemahaman dan hasil belajar IPAS pada materi bagian tubuh tumbuhan. Disarankan agar media ini diimplementasikan lebih luas dan dikembangkan lebih lanjut oleh peneliti berikutnya.
EFEKTIVITAS E-MODUL LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING TERINTEGRASI STEAM sTERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK SMA Zahratunnura, Zahratunnura; Andromeda, Andromeda
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7537

Abstract

This research is part of a Research and Development (R&D) program using the 4-D development model, which has previously been proven valid and practical. However, no specific effectiveness test has been conducted on the use of the e-module on electrolyte and non-electrolyte solutions based on STEAM-integrated problem-based learning on student learning outcomes. The method used was a nonequivalent control group design approach selected by purposive sampling. The research subjects consisted of two eleventh grade classes at SMAN 10 Padang: class XI F2 for the experimental class and class XI F6 for the control class. The instrument used in this study included a cognitive learning achievement test for students. Therefore, the data obtained were analyzed using a t-test to test the research hypothesis. The results of the hypothesis test showed that the calculated t value of 4.395 was greater than the t table of 2.028 at a significance level of 0.05. Therefore, it can be concluded that the use of the e-module on electrolyte and non-electrolyte solutions based on STEAM-integrated problem-based learning is significantly effective on high school student learning outcomes. ABSTRAKPenelitian ini merupakan bagian dari Pengembangan dengan jenis Research and Development (R&D) dengan menggunakan model pengembangan 4-D yang sebelumnya telah terbukti valid dan praktis, namun belum dilakukan uji efektivitas secara khusus pada penggunaan e-modul larutan elektrolit dan non elektrolit berbasis problem based learning terintegrasi STEAM terhadap hasil belajar peserta didik. Metode yang digunakan ialah dengan pendekatan nonequivalent control group design yang dipilih secara purposive sampling. Subjek penelitian terdiri dari dua kelas XI di SMAN 10 Padang, yaitu pada kelas XI F 2 untuk kelas eksperimen dan kelas XI F 6 untuk kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tes hasil belajar kognitif peserta didik. Dengan demikian, data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan uji-t unutk menguji hipotesis penelitian. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar 4,395 lebih besar dari ttabel sebesar 2,028 pada taraf signifikansi =0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan e-modul larutan elektrolit dan non elektrolit berbasis problem based learning terintegrasi STEAM efektif secara signifikan terhadap hasil belajar peserta didik SMA.
PENGEMBANGAN DAN EFEKTIVITAS MEDIA PEMBELAJARAN VR (VIRTUAL REALITY) BERBASIS GAYA BELAJAR VISUAL UNTUK SISWA DI KOTA MATARAM Lestari, Tri Ayu; Mukhlis, Mukhlis; Jamaluddin, Jamaluddin; Handayani, Baiq Sri; Setiawan, Heru; Madani, Sukran
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7538

Abstract

The use of Virtual Reality (VR) in education continues to develop amid rapid technological changes, offering opportunities to revolutionize the way learning materials are explored and understood. VR is a technology capable of presenting immersive digital environments, allowing users to feel as though they are directly within the learning setting. This study aimed to develop and examine the effectiveness of a VR-based learning medium tailored to students’ visual learning styles at the junior and senior high school levels in Mataram City. The research employed a Research and Development (R&D) design using the ADDIE model, which consists of five stages: Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The findings revealed that the VR-based learning medium was valid and practical for use in biology learning. Media expert validation yielded an average score of 82.7%, while material expert validation scored 85.0%, both of which fall into the “valid” and “feasible” categories. In addition, a trial involving 24 tenth-grade students showed a very positive response, with an average score of 89.42. The effectiveness test indicated that VR-based learning was superior to conventional learning methods. At the junior high school level, the experimental group’s average gain score (20.19) was higher than the control group’s (9.88), with a significant difference. Similarly, at the senior high school level, the experimental group (19.89) outperformed the control group (11.86), also with a significant difference. These results confirm that the developed VR learning medium is not only valid and feasible but also effective and engaging in enhancing students’ learning outcomes. ABSTRAKPenggunaan VR dalam pendidikan masih terus berkembang di tengah perubahan teknologi yang cepat sehingga memiliki kesempatan untuk merevolusi cara mempelajari dan memahami materi. Virtual Reality (VR) merupakan teknologi yang mampu menyajikan lingkungan digital secara imersif sehingga pengguna merasa seolah-olah berada langsung di dalam lingkungan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengembangkan dan menguji keefektivan media pembelajaran VR (Virtual Reality) berbasis gaya belajar visual untuk siswa SMP dan SMA di Kota Mataram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R&D), dengan pendekatan model pengembangan ADDIE, yang meliputi lima tahap: Analisis (Analyze), Desain (Design), Pengembangan (Development), Implementasi (Implementation), dan Evaluasi (Evaluation). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran Virtual Reality berbasis gaya belajar visual ini dinyatakan valid dan praktis untuk digunakan dalam proses pembelajaran Biologi di sekolah. Validasi dari ahli media memperoleh skor rata-rata 82,7%, sedangkan validasi dari ahli materi memperoleh skor 85,0%, yang keduanya termasuk dalam kategori “valid” dan “layak digunakan”. Selain itu, hasil uji coba terhadap 24 siswa kelas X menunjukkan respons yang sangat baik, dengan skor rata-rata 89,42. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model SrVER (Virtual Reality) lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional. Pada jenjang SMP, rata-rata peningkatan skor kelas eksperimen (20,19) lebih tinggi daripada kontrol (9,88), dengan perbedaan signifikan. Demikian pula pada SMA, kenaikan skor kelas eksperimen (19,89) melebihi kontrol (11,86) dan signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan VR berkontribusi nyata dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini mengindikasikan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan tidak hanya layak, tetapi juga efektif dan menarik bagi siswa.
STUDI ANALITIS TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA FASE F DALAM MATERI KESETIMBANGAN KIMIA MELALUI MIND MAP Fikriansyah, Ahmad; Aini, Faizah Qurrata
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7539

Abstract

This study aims to analyze the creative thinking ability of high school students in making mind maps on chemical equilibrium material based on four indicators, namely fluency, flexibility, originality, and elaboration. This study used a quantitative descriptive method with 56 grade XI students selected by random sampling as subjects. The research instrument was a mind map that was assessed using a creative thinking assessment rubric. The research stages included providing mind maps, collecting data, assessing using a rubric, and analyzing the distribution of achievements in each indicator. The results showed that the fluency aspect had the highest achievement, namely 60% of students were in the very good and good categories, which indicated that students' ability to generate ideas was quite adequate. However, the flexibility, originality, and elaboration aspects showed lower achievements, with elaboration being the lowest aspect where only 21% of students were able to explain ideas in detail. The conclusion of this study confirms that students' creative thinking abilities are still unequal, with fluency dominating quite well but weak in flexibility, originality, and detailing of ideas. The implication of these results is the need to implement more varied learning strategies, such as the use of problem-based learning, providing exploratory tasks that require many alternative answers, and guidance in expanding and deepening ideas, so that the development of the aspects of flexibility, originality, and elaboration can be more optimal and balanced with fluency. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir kreatif peserta didik SMA dalam membuat mind map pada materi kesetimbangan kimia berdasarkan empat indikator, yaitu fluency, flexibility, originality, dan elaboration. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan subjek 56 siswa kelas XI yang dipilih secara random sampling. Instrumen penelitian berupa mind map yang dinilai menggunakan rubrik penilaian berpikir kreatif. Tahapan penelitian meliputi pemberian mind map, pengumpulan data, penilaian menggunakan rubrik, serta analisis distribusi capaian pada tiap indikator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek fluency memiliki capaian tertinggi, yaitu 60% peserta didik berada pada kategori sangat baik dan baik, yang menunjukkan kemampuan siswa dalam menghasilkan ide cukup memadai. Namun, aspek flexibility, originality, dan elaboration menunjukkan capaian lebih rendah, dengan elaboration sebagai aspek terendah di mana hanya 21% siswa mampu menjelaskan ide secara rinci. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa kemampuan berpikir kreatif peserta didik masih timpang, dengan dominasi fluency yang cukup baik tetapi lemah dalam fleksibilitas, keaslian, dan pendetailan gagasan. Implikasi dari hasil ini adalah perlunya penerapan strategi pembelajaran yang lebih variatif, seperti penggunaan problem-based learning, pemberian tugas eksploratif yang menuntut banyak alternatif jawaban, serta bimbingan dalam memperluas dan memperdalam gagasan, sehingga perkembangan aspek flexibility, originality, dan elaboration dapat lebih optimal dan seimbang dengan fluency.
STUDI KOMPARATIF PEMAHAMAN KONSEPTUAL PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA ANTARA SISWA YANG MENGIKUTI DENGAN YANG TIDAK MENGIKUTI BIMBINGAN BELAJAR Rahmi, Miftahul; Aini, Faizah Qurrata
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7540

Abstract

This study aims to compare students’ conceptual understanding of chemical equilibrium between those who attend tutoring sessions and those who do not. The research was conducted at a senior high school in Padang during the first semester of the 2025/2026 academic year, using a quantitative method with a comparative design. The research sample consisted of 50 eleventh-grade (Phase F) students, divided into two groups: 25 students who participated in tutoring and 25 who did not. The research instrument was an essay test comprising six questions designed to assess conceptual understanding across three levels of chemical representation—macroscopic, submicroscopic, and symbolic.The analysis results showed that the average conceptual understanding score of students who attended tutoring was 60.28, while the non-tutored group scored an average of 34.88. The hypothesis test using an independent sample t-test produced a t-value of 4.84, which was higher than the t-table value of 2.4, indicating a significant difference between the two groups.Thus, the study concludes that participation in tutoring has a positive effect on enhancing students’ conceptual understanding of chemical equilibrium. The implication of this finding is that teachers should apply instructional strategies that proportionally integrate the three levels of chemical representation—macroscopic, symbolic, and submicroscopic so that students’ conceptual understanding can develop comprehensively. Therefore, teachers are encouraged to innovate in selecting learning models, media, and laboratory activities that support the integration of these three representational levels. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemahaman konseptual siswa pada materi kesetimbangan kimia antara peserta bimbingan belajar dengan siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar. Kegiatan penelitian dilakukan di salah satu SMA di Kota Padang pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026 dengan menggunakan metode kuantitatif berdesain komparatif. Sampel penelitian berjumlah 50 siswa kelas XI Fase F yang dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu 25 siswa yang mengikuti bimbingan belajar dan 25 siswa yang tidak mengikuti. Instrumen penelitian berupa tes esai berjumlah enam soal yang dirancang untuk mengukur pemahaman konseptual pada tiga level representasi, yakni makroskopik, submikroskopik, dan simbolik. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata nilai pemahaman konseptual kelompok siswa yang mengikuti bimbingan belajar adalah 60,28, sedangkan kelompok yang tidak mengikuti memperoleh nilai rata-rata 34,88. Uji hipotesis dengan independent sample t-test menghasilkan nilai thitung sebesar 4,84, lebih tinggi daripada ttabel sebesar 2,4. Hal ini membuktikan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa partisipasi dalam bimbingan belajar berpengaruh positif terhadap peningkatan pemahaman konseptual siswa pada materi kesetimbangan kimia. Implikasi penelitian ini adalah guru menerapkan strategi pembelajaran yang mampu mengakomodasi ketiga level representasi kimia (makroskopik, simbolik, dan submikroskopik) secara proporsional, sehingga pemahaman konsep siswa dapat berkembang secara menyeluruh.. Dengan demikian, guru diharapkan mampu berinovasi dalam memilih model pembelajaran, media, serta aktivitas praktikum yang mendukung keterpaduan ketiga level representasi tersebut.
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF PESERTA DIDIK MENGGUNAKAN MIND MAP PADA MATERI ASAM BASA Andani, Rifka; Aini, Faizah Qurrata
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7541

Abstract

The development of science and technology in the 21st century requires students to possess higher-order thinking skills, one of which is creative thinking ability. However, the 2022 PISA results indicate that Indonesian students’ creative thinking skills are still relatively low. This study aims to analyze students’ creative thinking skills using mind maps in the acid-base topic. The research employed a descriptive quantitative design involving 60 students from two public senior high schools in Padang City, selected randomly. Data were obtained through mind map assessments using a scoring rubric that includes four aspects: fluency, flexibility, originality, and elaboration. The results showed that most students were in the less creative category, with 6 students categorized as not creative, 49 as less creative, 5 as creative, and none as highly creative. The fluency aspect achieved the highest score of 80%, followed by flexibility (68%), originality (39%), and elaboration as the lowest (22%). The findings indicate that mind mapping is effective for measuring creative thinking skills; however, more innovative learning strategies are needed to enhance students’ originality and elaboration of ideas. ABSTRAKPerkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad ke-21 menuntut peserta didik memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi, salah satunya kemampuan berpikir kreatif. Namun, hasil PISA tahun 2022 menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif peserta didik Indonesia masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir kreatif peserta didik menggunakan mind map pada materi asam basa. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan subjek 60 peserta didik dari dua SMA Negeri di kota Padang yang dipilih secara acak. Data diperoleh melalui penilaian mind map menggunakan rubrik penilaian yang mencakup empat aspek, yaitu fluency, flexibility, originality, dan elaboration. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta didik berada pada kategori kurang kreatif, dengan rincian 6 orang tidak kreatif, 49 kurang kreatif, 5 kreatif, dan tidak ada yang mencapai kategori sangat kreatif. Aspek fluency memperoleh capaian tertinggi sebesar 80%, diikuti oleh flexibility sebesar 68%, kemudian originality sebesar 39%, sedangkan aspek elaboration menjadi capaian terendah dengan persentase 22%. Penelitian ini menunjukkan bahwa mind map efektif digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif, namun diperlukan strategi pembelajaran yang lebih inovatif untuk mengembangkan orisinalitas dan keterperincian ide peserta didik.
PENGEMBANGAN E-LKPD BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) LEARNINGPADA MATERI TATA NAMA SENYAWA KIMA DAN PERSAMAAN REAKSI KIMIA UNTUK SMTI PADANG Ayu, Putri; Aini, Syamsi
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7543

Abstract

This research was motivated by the learning difficulties experienced by Phase E students of SMTI Padang in the Nomenclature of Chemical Compounds and Reaction Equations material, as well as the use of conventional teaching media that have not integrated Problem-Based Learning (PBL) as required by the Independent Curriculum. The focus of this research is to analyze the need to develop PBL-based Electronic Student Worksheets (e-LKPD) to address these issues. The key stages of the research adopted the 4-D Research and Development (R&D) model, but were limited to the Define stage. At this stage, data collection was conducted through structured interviews with three Industrial Chemical Engineering (TKI) teachers and the distribution of needs questionnaires to 56 11th-grade students. The main findings of this analysis confirmed the existence of problems in the field, where more than half of the students (53.6% in nomenclature and 52.6% in reaction equations) experienced difficulties in understanding. Furthermore, key findings indicated an urgent need and high interest (89.3%) among students in interactive e-LKPD. Thus, it is concluded that PBL-based e-LKPD is a much-needed solution and is appropriate for student characteristics, material complexity, and current technological developments. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kesulitan belajar yang dialami peserta didik Fase E SMTI Padang pada materi Tata Nama Senyawa Kimia dan Persamaan Reaksi, serta penggunaan media ajar konvensional yang belum mengintegrasikan Problem Based Learning (PBL) sesuai tuntutan Kurikulum Merdeka. Fokus penelitian ini adalah menganalisis kebutuhan pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik Elektronik (e-LKPD) berbasis PBL untuk mengatasi masalah tersebut. Tahapan penting penelitian mengadopsi metode Research and Development (R&D) model 4-D, namun dibatasi hanya pada tahap Define (pendefenisian). Pada tahap ini, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan 3 guru Teknik Kimia Industri (TKI) dan penyebaran angket kebutuhan kepada 56 peserta didik kelas XI. Temuan utama dari analisis ini mengkonfirmasi adanya masalah di lapangan, di mana lebih dari separuh siswa (53,6% pada tata nama dan 52,6% pada persamaan reaksi) mengalami kendala pemahaman. Selain itu, temuan kunci menunjukkan adanya kebutuhan mendesak dan minat tinggi (89,3%) dari siswa terhadap e-LKPD interaktif. Dengan demikian, disimpulkan bahwa e-LKPD berbasis PBL merupakan solusi yang sangat dibutuhkan dan sesuai dengan karakteristik peserta didik, kompleksitas materi, serta perkembangan teknologi saat ini.
PEMANFAATAN BUAH LABU SIAM (Sechium edule) MENJADI OLAHAN PANGAN BERBASIS BIOLOGI TERAPAN DI DESA RAPPOLEMBA KEC. TOMPOBULU KAB. GOWA Suwardi, Suwardi; Az-zahra, Maisya; Karim, Syahruni; Taskirah, Andi
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7544

Abstract

This study aims to process chayote (Secium edule) into three types of food products: dodol (sweet potato flakes), chips, and candy. It also aims to determine consumer acceptance through organoleptic tests, consumer interest, purchasing power, and price preferences. This quantitative study involved 20 panelists. The organoleptic test was conducted on four aspects: color, aroma, texture, and taste, with a rating scale of 1-5. The data obtained were analyzed descriptively and statistically tested using one-way ANOVA. The results showed that candy had the highest average organoleptic score of 4.45, followed by chips (4.25), and dodol (4.15). One-way ANOVA analysis showed that there were significant differences between the products in terms of color with an F-value of 40.6234 and a P-value of 0.0000, and aroma F=7.7869, P=0.0010, while in terms of texture F=2.6330, P=0.0806, and taste F=3.1065, P=1.0524. This indicates that there is no significant difference because the P value is >0.05. The results of this study are that chayote candy (Secium edule) is a product with the highest level of panelist acceptance compared to dodol and chips, especially in terms of color and aroma. These results indicate that chayote candy (Secium edule) has the potential to be developed as a competitive applied biology-based food product, while opening new economic opportunities for the Rappolemba village community. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengelolah labu siam (Secium edule) menjadi tiga jenis produk pangan yaitu, dodol, keripik, dan permen serta mengetahui tingkat penerimaan konsumen melalui uji organoleptic, minat konsumsi, daya beli dan preferensi harga. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan melibatkan 20 orang panelis. Adapun uji organoleptik dilakukan pada empat aspek yaitu, warna, aroma, tekstur, dan rasa dengan skala penilaian 1-5. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan diuji secara statistik menggunakan ANOVA satu arah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produk permen memiliki nilai rata-rata organoleptik tertinggi yaitu 4,45 diikuti oleh keripik 4,25 dan dodol 4,15.  Analisis anova satu arah menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara produk pada aspek warna dengan nilai F-hitung = 40, 6234 dan P-value = 0,0000, dan aroma F=7,7869, P= 0,0010, sedangkan pada aspek tekstur F=2,6330,P=0,0806, dan rasa F=3,1065, P=1,0524. Hal ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan karena nilai P> 0,05. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa permen labu siam (Secium edule) merupakan produk dengan tingkat penerimaan panelis paling tinggi dibandingkan dodol dan keripik khususnya pada aspek warna dan aroma. Hasil ini menunjukkan bahwa permen labu siam (Secium edule) berpotensi untuk dikembangkan sebagai produk pangan berbasis biologi terapan yang memiliki daya saing, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi Masyarakat desa Rappolemba.
EKSPLORASI KEARIFAN LOKAL PAPUA SELATAN SEBAGAI BASIS PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN IPA KONTEKSTUAL PADA JENJANG PAUD DAN SEKOLAH DASAR Kaize, Bernadetha Rizki; Sulistyowati, Retno Wuri; Suteki, Mega
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i4.7545

Abstract

Science learning at the early childhood education (PAUD) and elementary school levels, particularly in 3T (disadvantaged) areas such as South Papua, is plagued by a serious problem: a learning process that is still theoretical, non-contextual, and disconnected from students' real environments. This condition causes students to simply memorize science concepts without understanding their relevance. This gap ironically occurs amidst the wealth of local wisdom (such as the stone-burning tradition and sago processing) that is rich in scientific value, yet its potential has not been optimally utilized as a visual and manipulative learning medium. This study focuses on exploring the scientific values ????in South Papuan local wisdom as a fundamental basis for developing contextual science learning media. The important stages of this research adopt a simplified Borg & Gall R&D model, including a preliminary study, exploration of science values ????through observation, in-depth interviews, and documentation studies at Santa Maria Fatimah Kindergarten and SDN 1 Merauke, prototype design, expert validation, and limited practicality testing. Data were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldana model. Key findings identify various cultural practices relevant to science concepts (heat transfer, changes in matter, ecosystems). This research produced a local wisdom map, a media prototype, and an initial model for culture-based science integration. It concluded that South Papuan local wisdom has great potential to be used as a valid and practical contextual science medium, which not only strengthens scientific understanding but also supports Freedom to Learn. ABSTRAKPembelajaran IPA di jenjang PAUD dan SD, khususnya di daerah 3T seperti Papua Selatan, dilatarbelakangi oleh masalah serius yakni proses belajar yang masih teoritis, tidak kontekstual, dan terlepas dari lingkungan nyata siswa. Kondisi ini menyebabkan siswa hanya menghafal konsep sains tanpa memahami relevansinya. Kesenjangan ini terjadi ironisnya di tengah kekayaan kearifan lokal (seperti tradisi bakar batu dan pengolahan sagu) yang sarat nilai ilmiah, namun potensinya belum dimanfaatkan optimal sebagai media pembelajaran visual dan manipulatif. Penelitian ini berfokus untuk mengeksplorasi nilai-nilai sains dalam kearifan lokal Papua Selatan sebagai basis fundamental pengembangan media pembelajaran IPA kontekstual. Tahapan penting penelitian ini mengadopsi R&D model Borg & Gall yang disederhanakan, meliputi studi pendahuluan, eksplorasi nilai sains melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi di TK Santa Maria Fatimah dan SDN 1 Merauke, perancangan prototipe, validasi ahli, serta uji kepraktisan terbatas. Data dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana. Temuan utama mengidentifikasi beragam praktik budaya yang relevan untuk konsep IPA (perpindahan kalor, perubahan zat, ekosistem). Penelitian ini menghasilkan peta kearifan lokal, prototipe media, dan model awal integrasi sains berbasis budaya. Disimpulkan bahwa kearifan lokal Papua Selatan sangat potensial dijadikan media IPA kontekstual yang valid dan praktis, yang tidak hanya memperkuat pemahaman ilmiah tetapi juga mendukung Merdeka Belajar.