cover
Contact Name
debie anggraini
Contact Email
scientificj.id@gmail.com
Phone
+6281277167619
Journal Mail Official
scientific.journal@scientic.id
Editorial Address
Jalan Khatib Sulaiman, Kel. Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Scientific Journal
ISSN : 28100204     EISSN : 28100204     DOI : https://doi.org/10.56260/sciena
Core Subject : Health, Science,
Scientific Journal(SCIENA) published by an official of Scientific.id_considers the following types of original contribution for peer review and publication: Research Articles, Review Articles, Letters to Editor, Brief Communications, Case Reports, Book Reviews, Technological Reports, and Opinion Articles. It Is published six times a year and serves the need of scientific and non-scientific personals involved/interested in Natural Science (Physics, Chemistry, Electronics, Mathematics, Astronomy, Oceanography, Engineering), Social Science, Economics, Biology and Medicine. Each issue covers topics, which are of broad readership interest to personals from General Public, Industry, Clinicians, Academia, and Government. Scientic Journal is a must read journal for every one with curiosity in science.
Articles 188 Documents
Mycosis Fungoides dengan Gambaran Klinis Eritroderma yang Menyerupai Dermatitis Seboroik Tofrizal; Mayorita, Pamelia; Aini, Julpa Nurul; Nelzima, Maisyah; Oktora, Meta Zulyati
Scientific Journal Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i2.200

Abstract

Mycosis fungoides (MF) merupakan limfoma T-sel kulit primer yang paling sering ditemukan, termasuk dalam kategori Cutaneous T-cell Lymphomas (CTCL). MF ditandai dengan proliferasi sel T epidermotropik yang sebagian besar terdiri dari sel CD4+. Penyakit ini memiliki perjalanan klinis yang umumnya lambat, diawali dengan lesi berupa patch atau plak eritematosa yang secara bertahap dapat berkembang menjadi tumor atau eritroderma pada stadium lanjut. Eritroderma, yang melibatkan lebih dari 80% permukaan kulit, sering kali sulit dibedakan dari dermatitis inflamasi lainnya, seperti dermatitis seboroik, psoriasis, atau penyakit sistemik lainnya. Oleh karena itu, pengenalan dini dan diagnosis akurat sangat penting untuk menentukan terapi yang tepat dan memperbaiki prognosis pasien. Laporan ini memaparkan kasus seorang pria berusia 53 tahun dengan gejala eritroderma yang awalnya menyerupai dermatitis seboroik. Pemeriksaan fisik dan laboratorium awal menunjukkan adanya lesi kulit meluas disertai skuama kasar, sehingga diduga eritroderma akibat Cutaneous T-cell Lymphoma (CTCL). Hasil biopsi eksisi kulit mengungkapkan infiltrasi sel limfosit atipikal yang menunjukkan epidermotropisme dan pembentukan Pautrier microabscesses, yang mengarah pada diagnosis MF. Pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan hasil positif untuk CD3 dan CD4, yang semakin memperkuat diagnosis tersebut. Pasien direncanakan menjalani kemoterapi sebanyak enam siklus, namun pada saat akan menjalani kemoterapi siklus ketiga, kondisi pasien memburuk dengan penurunan kesadaran akibat hiponatremia dan komplikasi lain, hingga akhirnya meninggal dunia. Diagnosis MF pada tahap awal sering kali menjadi tantangan karena manifestasi klinisnya yang menyerupai penyakit kulit inflamasi lainnya. Oleh karena itu, kombinasi pemeriksaan klinis, histopatologi, dan imunohistokimia sangat diperlukan untuk membedakan MF dari diagnosis banding lainnya. Penatalaksanaan yang tepat dan pemantauan jangka panjang menjadi kunci dalam memperbaiki prognosis pasien, terutama pada stadium lanjut MF yang memerlukan terapi sistemik agresif.
Alginate as an Efficacious Treatment for GERD Patients: A Literature Review Yuspar, Ninda Septia; Suyata
Scientific Journal Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i2.201

Abstract

Gastroesophageal reflux disease (GERD) is a medical condition defined by the retrograde flow of gastric contents into the esophagus, leading to various symptoms.  The principal therapy for GERD consists of proton pump inhibitors (PPIs).  Nevertheless, PPIs demonstrate reduced effectiveness in patients with non-erosive GERD or unusual symptoms.  Alginates operate by forming a gel "raft" that floats on the gastric contents, serving as a physical barrier against reflux.  Multiple studies demonstrate that alginate is more effective than antacids in alleviating GERD symptoms and has a longer duration of action.
Studi Eksplorasi Persepsi Dosen Pembimbing Klinik terhadap Dinamika Aktual Pembelajaran Klinik di Fasilitas Kesehatan Widyandana; Nur'aini, Assyifa; Akbar, Resti Rahmadika; Lassie, Naima
Scientific Journal Vol. 4 No. 3 (2025): SCIENA Volume IV No 3, May 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i3.202

Abstract

  Pendahuluan: Pembelajaran klinik merupakan fase krusial dalam pendidikan kedokteran yang bergantung pada peran dosen sebagai fasilitator. Namun, keterbatasan waktu, variasi kasus, dan minimnya pelatihan pedagogis kerap menjadi kendala. Tujuan: Mengeksplorasi persepsi dosen klinik terkait tantangan, strategi pembelajaran, serta pengalaman dan harapan terhadap pelatihan. Metode: Studi kualitatif deskriptif ini melibatkan 61 dosen pembimbing klinik Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahman Padang melalui survei daring saat pelatihan. Hasil: Sebanyak 27,9% belum pernah mengikuti pelatihan. Strategi dominan meliputi pendekatan kognitif (34,4%) dan penguatan soft skill (26,2%), sementara 24,6% tidak memiliki strategi khusus. Tantangan utama adalah keterbatasan waktu (31,1%) dan kesiapan mahasiswa. Dosen berharap mendapat pelatihan teknis (50,8%), peran perseptor (21,3%), serta komunikasi dan publikasi ilmiah (21,3%). Kesimpulan: Meskipun berpengalaman secara profesional, dosen masih menghadapi kesenjangan pedagogis. Diperlukan pelatihan teknis yang terstruktur dan berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pembelajaran klinik.
Karsinoid Atipikal Mediastinum Primer: Laporan Kasus: Laporan Kasus Setiawati, Yessy; Yenita; Ermayanti, Sabrina; Oktora, Meta Zulyati
Scientific Journal Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i2.203

Abstract

Tumor karsinoid atipikal yang berasal dari mediastinum sangat jarang; hanya beberapa kasus yang telah dilaporkan dalam literatur. Tumor yang agresif secara klinis ini termasuk ke dalam kelompok tumor neuroendokrin. Tumor karsinoid/neuroendokrin timus adalah neoplasma epitel neuroendokrin yang berasal dari timus dengan gambaran inti derajat rendah; karsinoid tipikal memiliki <2 mitosis/2 mm2 dan tidak memiliki nekrosis, sedangkan karsinoid atipikal mempunyai karakteristik 2-10 mitosis/2 mm2 dan/atau fokus nekrosis. Kami melaporkan kasus seorang pria berusia 26 tahun dengan keluhan sesak napas yang semakin bertambah sejak dua minggu sebelum dirawat di rumah sakit. Pemeriksaan radiologis menunjukkan massa isodens yang tidak homogen di mediastinum anterior. Pasien didiagnosis dengan karsinoma timus Masaoka Koga stadium IVA. Secara mikroskopis, jaringan core biopsi menunjukkan pulau sel dengan inti bulat hingga oval dengan gambaran kromatin salt and pepper dan adanya fokus nekrosis. Jumlah mitosis 2–10 mitosis/2 mm2 terkonfirmasi dengan uji Ki-67. Pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan sel tumor terpulas positif dengan sinaptofisin, kromogranin, dan CD117. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi tumor karsinoid atipikal mediastinum primer. Meskipun prognosisnya buruk, penegakan diagnosis yang cepat, multidisciplinary team (MDT) serta pemberian terapi multimodal diketahui dapat memperpanjang harapan hidup.
Peran Indeks Aterogenik sebagai Penanda Komplikasi pada Diabetes Melitus Tipe 2: Tinjauan Pustaka Anggraini, Debie; Oktora, Meta Zulyati; Hasni, Dita
Scientific Journal Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i2.205

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis dengan risiko tinggi terhadap komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Dislipidemia aterogenik, yang ditandai oleh peningkatan trigliserida dan penurunan HDL-kolesterol, memainkan peran sentral dalam patogenesis komplikasi tersebut. Atherogenic Index of Plasma (AIP), yang dihitung sebagai logaritma rasio trigliserida terhadap HDL-C, telah diusulkan sebagai biomarker sederhana untuk mengevaluasi risiko vaskular pada pasien DMT2. Tujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk mengevaluasi peran AIP sebagai penanda prediktif terhadap komplikasi kardiovaskular dan mikrovaskular pada DMT2, berdasarkan bukti-bukti ilmiah terkini. Metode: Tinjauan pustaka ini disusun menggunakan pendekatan naratif. Penelusuran literatur dilakukan melalui database PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan kata kunci: “atherogenic index of plasma”, “AIP”, “type 2 diabetes mellitus”, dan “vascular complications”. Artikel yang disertakan merupakan publikasi dalam 10 tahun terakhir, studi manusia, dan berbahasa Inggris atau Indonesia. Hasil: Beberapa studi menunjukkan bahwa AIP memiliki korelasi signifikan dengan komplikasi makrovaskular seperti penyakit jantung koroner, serta mikrovaskular seperti nefropati dan retinopati diabetik. Nilai AIP yang tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko komplikasi, dan dinamika AIP dapat mencerminkan perubahan risiko secara longitudinal. AIP juga mudah dihitung dari data laboratorium rutin, sehingga berpotensi digunakan secara luas dalam praktik klinis.Kesimpulan: AIP merupakan biomarker hematologis yang menjanjikan dalam stratifikasi risiko komplikasi pada DMT2. Penggunaannya sebagai alat skrining dan pemantauan risiko klinis perlu didukung oleh penelitian lanjutan dan validasi dalam populasi lokal.
Analisis Hubungan Tingkat Risiko Jatuh Dan Faktor-Faktor Risiko Jatuh Pasien-Lansia Di Puskesmas Kota-Padang Setiawati, Erdanela; Eldrian, Febianne; Rosmaini; Ilham, Muhammad Arif
Scientific Journal Vol. 4 No. 3 (2025): SCIENA Volume IV No 3, May 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i3.206

Abstract

Pendahuluan: Populasi lansia terus meningkat. Proses degeneratif pada lansia menyebabkan lansia berisiko untuk jatuh. Banyak faktor-risiko-jatuh lansia seperti faktor-intrinsik (usia, riwayat-jatuh dan-sebagainya), faktor-ekstrinsik (lingkungan seperti lantai-licin, pencahayaan-kurang dan-sebagainya). Untuk mencegah lansia jatuh, perlu diidentifikasi faktor-risiko dan tingkat-risiko-jatuh lansia. Tujuan-penelitian: mengidentifikasi faktor-faktor risiko-jatuh, mengetahui tingkat-risiko-jatuh, dan menganalisis hubungan faktor-risiko dan tingkat-risiko-jatuh pasien-lansia di Puskesmas-Lubuk-Kilangan Padang. Metode: Penelitian-analitik-kuantitatif ini menggunakan desain cross-sectional, menggunakan data-primer dan data-sekunder, dilakukan pada bulan April-Desember 2024. Sampel adalah pasien-lansia di Puskesmas-Lubuk-Kilangan Kota-Padang, dan dengan kriteria inklusi dan eksklusi, diperoleh besar sampel 90 pasien-lansia. Instrumen penelitian adalah Morse-Fall-Scale. Analisis data univariat disajikan dalam bentuk distribusi-frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan Odds-Ratio (OR). Hasil: faktor-faktor-risiko-jatuh yang dimiliki pasien-lansia, berurutan sebagai berikut: terbanyak memiliki faktor-risiko diagnosis-sekunder 68 lansia (75.6%), diikuti gaya-berjalan atau cara-berpindah yang tidak-normal 29 lansia (32.2%), menggunakan alat-bantu-jalan 9 lansia (10.0%), memiliki riwayat-jatuh 8 lansia (8.9%), ada terapi-intravena 1 lansia (1.1%), terakhir  status-mental-dengan-keterbatasan 1 lansia (1.1%). Mayoritas pasien-lansia memiliki tingkat-risiko-jatuh adalah tidak-ada-risiko 62 lansia (68,9%), risiko-rendah 22 orang (24,4%) dan risiko-tinggi 6 orang (6.7%). Hubungan faktor-risiko dengan tingkat-risiko-jatuh. Ada 2 faktor-risiko yang berhubungan dan kekuatan hubungannya sebagai berikut:  1) Riwayat-Jatuh dengan  p-value=0.000 dan OR=4.000;  2) Gaya-Berjalan/Cara-Berpindah dengan p-value=0.012 dan OR=12.500. Ada 4 faktor-risiko yang tidak berhubungan yaitu : 1) Diagnosis-Sekunder dengan p-value=0.330, 2) Alat-Bantu-Jalan dengan p-value=0.108,  3) Terapi-Intravena dengan p-value=1.000, 4) Status-Mental p-value=0.067. Kesimpulan: Kami menemukan faktor-risiko-jatuh terbanyak pasien-lansia di Puskesmas-Lubuk-Kilangan-Padang adalah diagnosis-sekunder. Tingkat-risiko terbanyak adalah tidak-ada-risiko. Analisis hubungan faktor-risiko dengan tingkat-risiko-jatuh: dua berhubungan (Riwayat-Jatuh dan Gaya-Berjalan/Cara-Berpindah), empat tidak berhubungan (Diagnosis-Sekunder, Alat-Bantu-Jalan, Terapi-Intravena, dan Status-Mental).
Pengaruh Praktik Laboratorium Soft Skills Terhadap Kemampuan Refleksi Diri Mahasiswa Kedokteran Akbar, Resti Rahmadika; Pratiwi, Shinta; Madhani, Aulia Cahya; Usuludin, Gadiza
Scientific Journal Vol. 4 No. 3 (2025): SCIENA Volume IV No 3, May 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i3.208

Abstract

Latar Belakang: Skills Lab, atau laboratorium keterampilan klinis, merupakan fasilitas pendidikan yang dirancang untuk membantu mahasiswa kedokteran menguasai keterampilan klinis melalui simulasi sebelum berinteraksi langsung dengan pasien. Salah satu kompetensi utama yang dipelajari adalah komunikasi efektif, yang mencakup edukasi dan konseling. Aspek penting dalam komunikasi efektif meliputi kemampuan sambung rasa terhadap pasien, empati, keterampilan membuka dan menutup sesi, serta negosiasi dalam proses persetujuan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review dengan menganalisis 30 artikel yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa refleksi memiliki peran yang signifikan dalam proses pembelajaran mahasiswa kedokteran. Refleksi membantu mahasiswa menilai pengalaman dan respons emosional mereka secara kritis, terutama ketika terpapar pengaturan klinis sejak dini. Paparan ini memungkinkan mahasiswa untuk memahami lebih baik tantangan klinis, mengembangkan empati, dan membangun identitas profesional mereka sebagai tenaga kesehatan. Melalui praktik reflektif, mahasiswa dapat memperbaiki keterampilan komunikasi dan klinis mereka. Refleksi membantu mahasiswa dalam meningkatkan pengambilan keputusan klinis, menyempurnakan kompetensi profesional, dan memperdalam pemahaman mereka tentang kebutuhan pasien. Selain itu, refleksi memungkinkan mahasiswa untuk mengelola emosi dalam situasi klinis dan membangun hubungan terapeutik yang lebih baik dengan pasien. Simulasi yang dilakukan di Skills Lab, didukung oleh praktik refleksi, menjadi pendekatan strategis dalam pendidikan kedokteran. Hal ini memastikan mahasiswa tidak hanya menguasai keterampilan teknis tetapi juga memiliki kepekaan dan empati yang diperlukan dalam memberikan perawatan pasien. Dengan demikian, refleksi tidak hanya mendukung pengembangan keterampilan komunikasi yang efektif tetapi juga menjadi landasan dalam membangun kompetensi profesional yang lebih holistik. Kesimpulan: Refleksi memainkan peran kunci dalam pendidikan kedokteran, membantu mahasiswa menjadi penyedia layanan kesehatan yang kompeten, berempati, dan siap menghadapi tantangan klinis nyata.
Subtipe Histopatologis Adenokarsinoma Kolorektal Berdasarkan WHO : Implikasi Terhadap Prognosis Liana, Nana; Setiawati, Yessy; Ruhsyahadati; Triyana, Rahma; Helmizar, Roland
Scientific Journal Vol. 4 No. 3 (2025): SCIENA Volume IV No 3, May 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i3.209

Abstract

Adenokarsinoma kolorektal merupakan tipe histologis paling umum dari kanker kolorektal yang menunjukkan heterogenitas morfologis dan biologis yang tinggi. Variasi ini memengaruhi tidak hanya pola penyebaran dan respons terhadap terapi, tetapi juga prognosis pasien secara keseluruhan. Klasifikasi histopatologi yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) memberikan pedoman sistematis dalam membedakan berbagai subtipe adenokarsinoma kolorektal, seperti adenokarsinoma konvensional, mucinous, signet-ring cell, dan medullary carcinoma. Subtipe-subtipe ini diketahui memiliki perbedaan signifikan dalam perilaku klinis dan sensitivitas terhadap pengobatan. Oleh karena itu, pemahaman dan penerapan klasifikasi WHO sangat penting untuk meningkatkan akurasi diagnosis, perencanaan terapi yang tepat sasaran, serta prediksi prognosis yang lebih akurat. Tujuan penulisan ini adalah untuk menyoroti pentingnya klasifikasi histopatologi WHO dalam menunjang pengambilan keputusan klinis terkait terapi dan prognosis pasien dengan adenokarsinoma kolorektal.
Korelasi antara Atherogenic Index of Plasma (AIP) dan Parameter Hematologi sebagai Marker Ateroinflamasi pada Pasien Stroke Iskemik Anggraini, Debie; Haiga, Yuri; Tri Septiana, Vina; Morawati, Soufni
Scientific Journal Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i2.210

Abstract

Latar Belakang: Stroke iskemik merupakan kondisi neurologis akut yang banyak dipengaruhi oleh proses aterosklerosis dan inflamasi sistemik. Atherogenic Index of Plasma (AIP) adalah indikator yang mencerminkan dislipidemia aterogenik, sedangkan rasio monosit terhadap HDL (MHR) dan leukosit mencerminkan status inflamasi vaskular. Keterkaitan antara kedua parameter ini belum banyak diteliti secara komprehensif dalam konteks stroke iskemik, terutama di populasi Asia Tenggara. Tujuan: Menilai hubungan antara Atherogenic Index of Plasma (AIP) dan parameter hematologi, khususnya Monocyte-to-HDL Ratio (MHR), sebagai marker ateroinflamasi pada pasien stroke iskemik. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian adalah 21 pasien stroke iskemik akut yang dirawat di RS Islam Siti Rahmah Padang. AIP dihitung dari log rasio trigliserida terhadap HDL-C, sedangkan MHR dan leukosit diperoleh dari data hematologi. Uji korelasi Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel. Hasil: Rerata AIP pada pasien adalah 0,15, dengan 42,9% pasien berada pada kategori risiko tinggi. Ditemukan korelasi signifikan antara AIP dan MHR (r = 0,484; p = 0,026), sedangkan korelasi dengan leukosit dan parameter hematologi lain tidak bermakna. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara AIP dan MHR pada pasien stroke iskemik, yang mencerminkan kontribusi dislipidemia dan inflamasi dalam patogenesis stroke. Kombinasi AIP dan MHR berpotensi sebagai marker ateroinflamasi yang praktis dan dapat diintegrasikan dalam penilaian risiko klinis.
Patofisiologi Biomedik Depresi: Tinjauan Komprehensif terhadap Mekanisme Neurobiologis Anissa, Mutiara; Abdullah, Dessy
Scientific Journal Vol. 4 No. 3 (2025): SCIENA Volume IV No 3, May 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i3.217

Abstract

Depresi merupakan salah satu gangguan psikiatri yang paling sering dijumpai di populasi umum dan berkontribusi signifikan terhadap morbiditas serta disabilitas global. Dari perspektif biomedik, depresi bukan hanya kondisi psikologis, melainkan gangguan yang ditandai oleh perubahan kompleks pada sistem saraf pusat, neuroendokrin, dan imun. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan tinjauan sistematis dan mendalam mengenai mekanisme biomedik yang melandasi gangguan depresi, termasuk disfungsi neurotransmiter, hiperaktivasi sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA), neuroinflamasi, gangguan neuroplastisitas, dan implikasi genetik-epigenetik. Pemahaman yang mendalam terhadap aspek biomedik ini menjadi dasar penting dalam pengembangan pendekatan terapi yang lebih tepat sasaran dan efektif.