cover
Contact Name
Raihan
Contact Email
litbangrsudza@gmail.com
Phone
+62651-34562
Journal Mail Official
litbangrsudza@gmail.com
Editorial Address
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abdidin, Jl. Tgk. Daud Beureueh No. 108, Bandar Baru, Banda Aceh
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Journal of Medical Science; Jurnal Ilmu Medis Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh
ISSN : -     EISSN : 27217884     DOI : https://doi.org/10.55572/
Core Subject : Health, Science,
Journal of Medical Science (JMS; Jurnal Ilmu Medis Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, Banda Aceh) ISSN 2721-7884 diterbitkan oleh Divisi LITBANG Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, Banda Aceh sejak bulan April 2020. Journal of Medical Science terbit dua kali dalam setahun yaitu pada Bulan April dan Bulan Oktober. JMS adalah jurnal open akses berbasis Open Journal System yang seluruh proses atau tahapan publikasi dilakukan secara online dengan melibatkan mitra bestari (peer-reviewed) dari berbagai topik ilmu bidang medis dan kesehatan. Naskah yang ingin dipublikasikan pada JMS harus merupakan naskah asli hasil penelitian dan juga naskah hasil studi literatur yang memiliki kontribusi dan aplikasi dengan bidang yang berkaitan dengan ilmu medis dan ilmu kesehatan dengan topik sebagai berikut: Ilmu Bedah Ilmu Penyakit Dalam Obstetri dan Ginekologi Ilmu Kesehatan Anak Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Neurologi Ilmu Kesehatan THTKL Ilmu Kesehatan Mata Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Anestesiologi dan Terapi Intensif Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Radiologi Mikrobiologi Ilmu Kesehatan Gigi dan Mulut Patologi Klinik Patologi Anatomi Gizi Klinik Ilmu Kedokteran Jiwa
Articles 112 Documents
Hubungan Adekuasi Hemodialsis dan Kadar Natrium Terminal Prohormone of Brain Natriuretic Peptide (NT-proBNP) dengan Efusi Pleura Transudat pada Penyakit Ginjal Kronik Abdullah; Reza Tandi, Teuku Muhammad; Syukri, Maimun; Salwani, Desi; Cassandra, Amelia
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.228

Abstract

Penyakit ginjal kronis (PGK) masih menjadi masalah kesehatan global. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan peningkatan prevalensi PGK di Indonesia dari 0,2 menjadi 0,38 % (2013-2018). Hemodialisis (HD) merupakan salah satu modalitas terapi pengganti ginjal pada penyakit ginjal kronik tahap akhir (PGTA). Efusi pleura sering dijumpai pada pasien PGTA yang menjalani HD. Pada PGTA yang belum HD terdapat 3% efusi pleura dan 31,85% yang telah menjalani HD. Mekanisme efusi pleura pada PGTA  dianggap berkaitan erat dengan kondisi kelebihan cairan dan HD yang tidak optimal. N-terminal prohormone-brain natriuretic peptide (NT-proBNP) dianggap dapat mendeteksi kondisi kelebihan cairan dan evaluasi adekuasi HD berkala perlu dilakukan pada pasien HD. Karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana hubungan Adekuasi Hemodialisis dan Kadar NT-proBNP terhadap jenis Efusi Pleura Pada Pasien PGK. Penelitian bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan total sampling mulai 1 April 2024 hingga 31 Juli 2024 yang dilakukan di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Penelitian ini melibatkan pasien efusi pleura yang menjalani HD di RSUZA. Variabel bebas pada penelitian ini adalah Adekuasi HD (Kt/V) dan Kadar NT-proBNP dan variabel terikat Efusi Pleura.  Uji normalitas menggunakan Shapiro wilk. Hubungan antar variabel diuji menggunakan Pearson correlation test bila distribusi data normal atau uji Spearman correlation test distribusi data tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan NT-proBNP memiliki hubungan yang signifikan terhadap Efusi Pleura Transudat dengan nilai p=0,762 di tingkat kepercayaan 99%. Adekuasi HD tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap efusi pleura transudat dengan nilai p= -0,134.
Efektivitas Teknik Finger Handheld Relaxation (FHR) untuk Stabilitas Hemodinamik & Stres Pada Pasien Preeklampsia Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin Darmawati, Darmawati; Cut Rika Maharani; Mira Rizkia; Dara Ardhia; Elka Halifah; Irfanita Nurhidayah; Mustika Dewi Pane
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.231

Abstract

Preeklampsia merupakan suatu kondisi kehamilan multi sistemik ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah, edema dan proteinuria yang yang memberikan dampak yang sangat berbahaya bagi ibu dan janin bahkan dapat memicu stres. Teknik Finger Handheld Relaxation (FHR) diharapkan dapat membantu stabilisasi hemodinamik dan stres pada posien preeklampsia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Teknik FHR untuk stabilitas hemodinamik & stress pada pasien preeklampsia di RSUDZA. Metode yang digunakan adalah Quasy-Experimental Study dengan pre-post test with control group design. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu hamil dengan preeklampsia di Ruang Bersalin dan Arafah 2 Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin. Sampel yang digunakan adalah sebanyak 22 responden terdiri dari 12 responden kelompok kontrol dan 10 responden kelompok intervensi. Proses intervensi dilakukan dengan pemberian FHR yaitu dengan menggengang lima jari, menutup mata, memusatkan perhatian dan menarik nafas perlahan melalui hidung, hembuskan perlahan melalui mulut. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi untuk mengukur hemodinamik dan kuesioner DASS untuk mengukur tingkat stres. Hasil Analisa data menunjukkan bahwa intervensi FHR efektif terhadap penurunan tingkat stres dengan P value 0.001. Namun intervensi FHR tidak efektif terhadap stabilitas Hemodinamik. Walau demikian, FHR tetap dapat direkomendasikan untuk diterapkan pada ibu hamil dan post partum dengan preeklamsia sebagai tindakan keperawatan dan terapi nonfarmakologis untuk menurunkan tingkat stres.
Hubungan Derajat keparahan Akne Vulgaris dengan diet dan kualitas hidup pasiennya di Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Fitria, Fitria; Elfa Wirdani Fitri; Nur Fajrina
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.241

Abstract

Abstrak   Akne vulgaris adalah peradangan unit pilosebasea yang sering terjadi pada remaja dan dewasa muda. Akne vulgaris memiliki klinis pleomorfik yang terdiri dari komedo, papul, pustul, dan nodul yang bervariasi dalam derajat keparahan. Faktor internal seperti genetik, ras, dan hormonal adalah beberapa faktor yang dianggap mempengaruhi keparahan akne. Selain itu, ada faktor-faktor yang berasal dari luar, seperti iklim, kelembaban, merokok, kebersihan, kosmetik, obat-obatan, dan makanan yang dikonsumsi. Makanan dengan indeks glikemik tinggi dianggap dapat mengubah komposisi dan produksi sebum yang dapat menyebabkan inflamasi akne. Akne sering terjadi pada remaja dan dewasa muda yang merupakan kelompok umur yang paling tidak siap menghadapi konsekuensi psikologis dari kondisi tersebut. Meskipun akne vulgaris tidak berbahaya, namun dapat menyebabkan dampak psikologis seperti depresi, stres, dan kecemasan yang menjadi penyebab utama masalah psikososial yang mempengaruhi kualitas hidup pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara derajat keparahan akne dengan diet dan kualitas hidup pasiennya. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Sampel penelitian terdiri dari 28 pasien wanita. Derajat keparahan akne dinilai dengan menggunakan kriteria Lehmann. Data asupan diet yang dikonsumsi dikumpulkan dengan mengisi kuesioner. Kualitas hidup pasien dinilai dengan Cardiff Acne Disability Index (CADI). Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara derajat keparahan akne dengan coklat (p=0.024), susu (p=0.006), kacang (p=0.005), keju (p=0.038), minuman manis (p=0.007),  olahan tepung (p=0.021), dan junkfood (p=0.025). Keparahan akne juga berpengaruh terhadap kualitas hidup pasiennya (p Value = 0,016).   Kata kunci:  Acne Vulgaris, CADI, Diet, Kualitas hidup, Lehmann   Abstract   Acne Vulgaris is a inflammation of the unit pilosebaseous that often occur in adolescents and young adults. Acne vulgaris has a pleomorphic clinical course consisting of comedones, papules, pustules, and nodules that vary in severity. Internal factors such as genetics, race, and hormones are some of factors that are thought to influence the severity of acne. Besides that, there are external factors such as climate, humidity, smoking, cleanliness, cosmetics, medicines, and the food consumed. High-glycemic foods are thought to change the composition and production of sebum which can cause inflammatory acne. Acne often occurs in adolescents and young adults who are the age group least prepared to face the psychological consequences of the condition. Even though acne vulgaris is not dangerous, it can cause psychological impact such as depression, stress, and anxiety which are the main causes of psychosocial problems that affect the patient's quality of life. The aim of this research is to determine the relationship between the severity of acne vulgaris with the diet and quality of life of the patient. This research is an observational analytical study with a cross-sectional research design at RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. The research sample consisted of 28 female patients. The severity of acne was assessed using the Lehmann criteria. Data on dietary intake consumed was collected by filling out a questionnaire. The patient's quality of life was assessed with the Cardiff Acne Disability Index (CADI). The results of the study showed a significant relationship between the severity of acne vulgaris with chocolate (p=0.024), milk (p=0.006), peanut (p=0.005), cheese (p=0.038), sweet drink (p=0.007), processed flour foods (p=0.021), and junkfood (p=0.025). The severity of acne also influences the patient's quality of life (p value = 0.016).   Keywords:  Acne Vulgaris, CADI, Diet, Quality of Life, Lehmann
Efektivitas Pemeriksaan APTT, PT Dan INR pada Pasien Post Percutaneous Coronary Intervention (PCI) di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Nazari, Nuri; Herawati, Eka Tlaga; Purnawarman, Adi; Hendra
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.247

Abstract

Tingginya angka kejadian penyakit jantung koroner di Indonesia, khususnya di Aceh, berdampak pada meningkatnya beban pembiayaan kesehatan, termasuk oleh BPJS Kesehatan, sehingga diperlukan upaya untuk mengefektifkan prosedur klinis yang tetap aman dan berdampak signifikan bagi pasien. Di RSUD dr. Zainoel Abidin, seluruh pasien pasca-percutaneous coronary intervention (PCI) tetap menjalani pemeriksaan activated partial thromboplastin time (APTT), prothrombin time (PT), dan international normalized ratio (INR) sebelum tindakan pelepasan femoral sheath, tanpa mempertimbangkan kondisi hemodinamik. Sementara itu, di beberapa pusat layanan kardiovaskular seperti Rumah Sakit Narayana Hrudayalaya, India, pemeriksaan tersebut tidak rutin dilakukan pada pasien dengan kondisi hemodinamik stabil. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek samping tindakan sheath removal femoral antara pasien yang dilakukan pemeriksaan APTT, PT, dan INR dengan pasien yang tidak dilakukan pemeriksaan tersebut. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden, yang dilaksanakan pada periode 12 Juni hingga 12 September 2023. Analisis data dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap efek samping sheath removal femoral antara kedua kelompok, baik setelah 6 jam (p=0,146) maupun setelah 24 jam (p=0,086). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada pasien post PCI dengan kondisi hemodinamik stabil dan tanpa komplikasi, pemeriksaan APTT, PT, dan INR tidak diperlukan sebelum tindakan sheath removal femoral. Temuan ini menunjukkan bahwa prosedur dapat dilakukan secara lebih efisien tanpa meningkatkan risiko efek samping, sehingga berpotensi meningkatkan kenyamanan pasien serta menurunkan beban biaya pelayanan kesehatan.
Studi Perbandingan : Kualitas Hidup Pasien Kanker Paru Yang Menjalani Kemoterapi Dengan Yang Menolak Kemoterapi Kurniawan, Ferry Dwi; Rinaldy; Jumar, Mikhwanul
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.257

Abstract

Kanker paru merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker di dunia. Selain angka kelangsungan hidup, kualitas hidup (Quality of Life/QoL) merupakan indikator penting keberhasilan terapi kanker. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas hidup pasien kanker paru antara kelompok yang menjalani kemoterapi dengan kelompok yang menolak kemoterapi dengan menggunakan instrumen penilaian WHOQOL-BREF.Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan pre-test dan post-test untuk menilai perubahan kualitas hidup pasien kanker paru sebelum dan sesudah menjalani kemoterapi. Penelitian dilakukan di Ruang Rawat Inap dan Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh pada bulan Juni hingga September 2025. Populasi penelitian adalah seluruh pasien kanker paru yang menjalani pengobatan kemoterapi, dan sampel adalah pasien yang baru pertama kali menjalani kemoterapi serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling dengan jumlah responden sebanyak 44 orang, terdiri dari 38 pasien yang menjalani kemoterapi dan 6 pasien yang menolak kemoterapi.Kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF yang mencakup empat domain, yaitu kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata kualitas hidup pasien pada keempat domain WHOQOL-BREF tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok yang menjalani kemoterapi dan kelompok yang menolak kemoterapi. Pada domain fisik, pasien kemoterapi memiliki skor rata-rata 46,00, sedangkan pasien yang menolak kemoterapi 50,00 (p=0,461). Pada domain psikologis, rata-rata skor kelompok kemoterapi adalah 53,84 dan pasien non-kemo 54,33 (p=0,909). Pada domain hubungan sosial, pasien kemoterapi memperoleh skor rata-rata 56,47 dan pasien non-kemo 53,00 (p=0,540). Sementara itu, pada domain lingkungan, pasien kemoterapi memiliki skor rata-rata 54,37 dan pasien non-kemo 56,33 (p=0,638).Kesimpulan dari penelitian ini adalah kualitas hidup pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi tidak berbeda bermakna dengan pasien yang menolak kemoterapi pada semua domain WHOQOL-BREF. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas hidup pasien kanker paru kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti kondisi fisik dasar, dukungan sosial, dan lingkungan dibandingkan keputusan menjalani kemoterapi itu sendiri.
Perbandingan Kualitas Hidup Berdasarkan Hasil Nilai SNOT-22 dan Nilai TNSS pada Penderita Rinosonusitis Kronik Sebelum dan Sesudah Terapi Irigasi Nasal dengan Larutan NaCl 0,9% T. Husni TR; Muhammad Febriansyah; Yessy Ayudica Adinda
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.261

Abstract

Pasien dengan rinosonusitis kronik dapat mengalami penurunan kualitas hidup secara signifikan yang diakibatkan karena gejala yang ditimbulkan, seperti hidung tersumbat, iritasi, dan sulit tidur. Sinonasal Outcome Test-22 (SNOT-22) dan Total Nasal Symptom Score (TNSS) dianggap sebagai Patient-Reported Outcome Measure (PROM) yang paling sesuai untuk mengevaluasi pasien dengan RSK. Irigasi nasal dengan NaCl 0,9% merupakan salah satu terapi yang murah dan efektif untuk mengatasi kondisi inflamasi pada saluran nafas dan secara signifikan dapat meringankan gejala sinonasal serta meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit sinonasal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terapi irigasi nasal dengan larutan NaCl 0,9% dapat mempengaruhi hasil SNOT-22 dan TNSS pada penderita rinosinusitis kronik. Pengumpulan data dilakukan sejak Juni-September 2025 di Poliklinik THT-BKL RSUD dr.Zainoel Abidin. Metode penelitian merupakan penelitian eksperimental dengan studi pretest-postest control group design, didapatkan 36 responden dengan usia terbanyak 18-<40 tahun (66,6%), jenis kelamin laki-laki (52,8%) dan seluruhnya memiliki komorbid rhinitis alergi. Hasil analisis t-berpasangan didapatkan perbaikan nilai dari SNOT-22 dengan p-value 0,001 dan perbaikan nilai dari TNSS dengan p-value 0,002 pada pasien RSK setelah 2 minggu diberikan terapi irigasi nasal dengan NaCl 0,9%.
Penguatan Pemantauan Terapi Obat (PTO) oleh Apoteker Melalui Intervensi Aplikasi Berbasis Website dan Android desiyana, Lydia Septa Desiyana; Ika Wahyuningrum; Friska Masyitah; Hamzah, Amir
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.262

Abstract

Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan salah satu tugas penting apoteker klinis untuk memastikan penggunaan obat yang aman, efektif, dan rasional. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa dokumentasi manual, keterbatasan akses data, serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk telaah klinis. Penelitian ini bertujuan mengembangkan aplikasi PTO berbasis web dan Android guna mendukung pelayanan farmasi klinis serta meningkatkan efisiensi kerja apoteker. Penelitian menggunakan pendekatan research and development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi analisis kebutuhan melalui focus group discussion (FGD) pada apoteker rawat inap, perancangan sistem, pengembangan aplikasi, dan uji coba terbatas. Aplikasi yang dihasilkan diberi nama MedSIP (Medication System for Information and Monitoring Therapy) dengan fitur input data pasien terstruktur, template SOAP, serta klasifikasi drug-related problems (DRP) berbasis PCNE. Uji coba terbatas menunjukkan penurunan durasi PTO sebesar 50–55,6%, dari 40–90 menit menjadi 20–40 menit pada pasien dengan data rekam medis elektronik yang lengkap. Responden menilai aplikasi bermanfaat dalam mempercepat telaah dan dokumentasi PTO, meskipun implementasi lebih luas masih memerlukan dukungan regulasi, konsistensi input data lintas profesi, serta penguatan infrastruktur dan konektivitas jaringan. Pengembangan lanjutan dapat diarahkan pada integrasi referensi klinis, formularium rumah sakit, dan fitur auto-flagging DRP berbasis kecerdasan buatan. MedSIP berpotensi memperkuat pelayanan farmasi klinis melalui dokumentasi PTO yang lebih terstruktur dan efisien.
Efikasi Penambahan Insulin Basal Kerja Panjang Pada Insulin Kerja Cepat Intravena Dalam Tatalaksana Krisis Hiperglikemia Zufry, Hendra; Krishna W. Sucipto; Agustia Sukri Ekadamayanti1
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.263

Abstract

Abstrak   Krisis hiperglikemia merupakan komplikasi akut diabetes melitus yang dapat mengancam jiwa dan memerlukan terapi insulin intensif. Terapi standar dengan insulin kerja cepat intravena efektif menurunkan kadar glukosa darah, tetapi sering diikuti oleh rebound hiperglikemia dan fluktuasi kadar glukosa setelah penghentian infus. Penambahan insulin basal kerja panjang terbukti membantu mempertahankan kestabilan glukosa selama masa transisi terapi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efikasi penambahan insulin basal kerja panjang terhadap insulin kerja cepat intravena dalam memperbaiki resolusi glikemik dan menurunkan komplikasi metabolik pada pasien dengan krisis hiperglikemia. Penelitian eksperimental dengan rancangan quasi-experimental ini melibatkan 80 pasien krisis hiperglikemia yang dirawat di RSUD dr. Zainoel Abidin, Aceh, Indonesia. Subjek dibagi menjadi dua kelompok: kelompok kombinasi yang menerima insulin basal kerja panjang bersama insulin kerja cepat intravena, dan kelompok kontrol yang hanya menerima insulin kerja cepat intravena. Parameter yang dievaluasi meliputi durasi hiperglikemia, kebutuhan total insulin, kejadian rebound hiperglikemia, episode hipoglikemia, lama rawatan, dan mortalitas. Kelompok kombinasi menunjukkan waktu resolusi hiperglikemia yang lebih singkat dibanding kelompok kontrol (47,0 ± 26,0 jam vs 79,35 ± 30,64 jam; p < 0,001) serta insiden rebound hiperglikemia yang lebih rendah (7,5% vs 22,5%; p = 0,04). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada kebutuhan total insulin (p = 0,19), episode hipoglikemia (p = 0,40), lama rawatan (p = 0,28), maupun mortalitas (p = 0,65). Penambahan insulin basal kerja panjang pada terapi insulin kerja cepat intravena secara signifikan mempercepat pencapaian kontrol glikemik dan menurunkan kejadian rebound hiperglikemia tanpa meningkatkan risiko hipoglikemia atau mortalitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan penelitian, yaitu meningkatkan kestabilan glikemik pada krisis hiperglikemia, telah tercapai dengan baik.                 Kata Kunci: Krisis hiperglikemia, insulin basal kerja panjang, insulin kerja cepat intravena, kontrol glikemik, rebound hiperglikemia.   Abstract   A hyperglycemic crisis is an acute, life-threatening complication of diabetes mellitus requiring intensive insulin therapy. Standard treatment with intravenous rapid-acting insulin effectively lowers glucose levels, but is often followed by rebound hyperglycemia and glucose fluctuations after infusion cessation. The addition of long-acting basal insulin may help maintain glycemic stability during the transition period. This study aims to evaluate the efficacy of adding long-acting basal insulin to intravenous rapid-acting insulin in improving glycemic resolution and reducing metabolic complications in patients with hyperglycemic crisis. This quasi-experimental study enrolled 80 patients with hyperglycemic crisis at Dr. Zainoel Abidin General Hospital, Aceh, Indonesia. Subjects were allocated into two groups: one group received a combined regimen of long-acting basal insulin and intravenous rapid-acting insulin. In contrast, the other group received intravenous rapid-acting insulin alone. Measured outcomes included duration of hyperglycemia, total insulin requirement, incidence of rebound hyperglycemia, hypoglycemic episodes, length of hospital stay, and mortality. The combination group achieved a significantly shorter duration of hyperglycemia compared to the control group (47.0 ± 26.0 h vs. 79.35 ± 30.64 h; p < 0.001) and a lower incidence of rebound hyperglycemia (7.5% vs. 22.5%; p = 0.04). There were no significant differences in total insulin requirement (p = 0.19), hypoglycemic episodes (p = 0.40), length of stay (p = 0.28), or mortality (p = 0.65). Adding long-acting basal insulin to intravenous rapid-acting insulin significantly accelerates glycemic resolution and reduces rebound hyperglycemia without elevating the risk of hypoglycemia or mortality. The study demonstrates that achieving the research objective improving glycemic stability in hyperglycemic crisis was successful.   Keywords: Hyperglycemic crisis, basal insulin, intravenous rapid-acting insulin, glycemic control, rebound hyperglycemia.  
Perbandingan Program Rehabilitasi Jantung Terpusat (Tersupervisi) dengan Rehab Jantung Mandiri Terhadap Kapasitas Fungsional ada Penderita Penyakit Jantung Koroner Pasca Intervensi Koroner Per Kutan Heriansyah, Teuku; Fithriany; Lestari, Inda; Suciana
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.281

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) termasuk salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Intervensi koroner per kutan (IKP) merupakan prosedur untuk melebarkan arteri yang menyempit sehingga aliran darah ke jantung dapat normal kembali. Prosedur  ini  merupakan terapi definitif untuk mengatasi PJK. Namun setelah menjalani IKP pasien mengalami penurunan dalam aktivitas fisik dan stamina. Program rehabilitasi jantung yang terstruktur membantu pasien untuk secara bertahap meningkatkan aktivitas fisik mereka melalui latihan yang aman dan efektif, sehingga dapat memperbaiki fungsi kardio-pulmonal, daya tahan tubuh serta meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup. Rehabilitasi jantung dapat dilakukan secara terpusat dengan pengawasan profesional kesehatan atau secara mandiri oleh pasien yang dilakukan di rumah. Untuk membandingkan efektivitas program rehabilitasi jantung terpusat dengan program rehabilitasi jantung mandiri terhadap kapasitas fungsional pasien pasca IKP. Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi-eksperimental. Subjek penelitian dibagi dalam dua kelompok, yaitu satu kelompok menjalani program rehabilitasi jantung terpusat yang dilaksanakan di unit rehabilitasi jantung RSUDZA dan kelompok lainnya melakukan rehabilitasi jantung mandiri di rumah. Subjek penelitian terdiri dari pasien yang telah menjalani intervensi koroner per kutan dan memenuhi kriteria inklusi. Uji paired samples t-test menunjukkan peningkatan kapasitas fungsional yang signifikan pada kedua kelompok dengan nilai rata-rata 6MWT akhir lebih tinggi daripada 6MWT awal dengan p value <0.0001 (<0.05), menandakan bahwa program rehabilitasi jantung baik terpusat maupun mandiri efektif meningkatkan kapasitas fungsional pasien. Selain itu, hasil uji menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dalam peningkatan kapasitas fungsional pasien pada kelompok rehabilitasi jantung terpusat (tersupervisi) dengan kelompok rehabilitasi jantung mandiri dengan p value 0.058. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua modalitas rehabilitasi jantung memberikan manfaat yang serupa dalam perbaikan kapasitas fungsional pada pasien PJK pasca IKP, memberikan fleksibilitas dalam pilihan program rehabilitasi berdasarkan preferensi dan kesediaan pasien, sehingga memudahkan pasien yang ingin menjalani rehabilitasi jantung.
Pengaruh Pemberian Platelet Rich Plasma (PRP) Terhadap Kualitas Spermatozoa dan Perbaikan Histopatologi Testis Tikus Putih (Rattus norvegicus) Paska Mengalami Torsio Testis Dahril; Lestari, Atika; Alfin Khalilullah, Said
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.286

Abstract

Torsio testis adalah kedaruratan urologi yang menyebabkan kerusakan jaringan akibat cedera iskemia-reperfusi, seringkali berujung pada infertilitas. Belum ada agen terapeutik standar untuk kondisi ini. Platelet Rich Plasma (PRP), sebagai agen autolog kaya faktor pertumbuhan, memiliki potensi mengurangi stres oksidatif dan memperbaiki sel. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh PRP terhadap perbaikan histopatologi testis dan kualitas spermatozoa tikus pasca torsio. Penelitian eksperimental ini menggunakan 15 tikus putih jantan (Rattus norvegicus) yang dibagi 3 kelompok, Kelompok I (Torsio + PRP 10 µl intratestikular), Kelompok II (Torsio tanpa PRP), dan Kelompok III (Kontrol normal). Torsio 720° diinduksi selama 4 jam, diikuti detorsi. Evaluasi histopatologi dan kualitas spermatozoa (konsentrasi, motilitas, viabilitas, morfologi) dilakukan setelah 14 hari. Secara histopatologi, Kelompok I (PRP) menunjukkan perbaikan jaringan tubulus seminiferus yang lebih baik dibanding Kelompok II (Torsio). Analisis spermatozoa menunjukkan Kelompok I memiliki rerata konsentrasi, motilitas, dan morfologi normal yang secara signifikan lebih tinggi dibanding Kelompok II (p<0,05). Namun, tidak ada perbedaan signifikan pada viabilitas. Pemberian PRP berpengaruh positif terhadap perbaikan histopatologi tubulus seminiferus dan secara signifikan meningkatkan kualitas spermatozoa (konsentrasi, mortilitas, dan morfologi) pada tikus pasca torsio testis.

Page 11 of 12 | Total Record : 112