cover
Contact Name
Swastiani Dunggio
Contact Email
redaksijipik@gmail.com
Phone
+6282195003200
Journal Mail Official
redaksijipik@gmail.com
Editorial Address
Jl. Drs. Achmad Nadjamudin No 10, Dulalowo Timur Kota Tengah, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, 96115 - Indonesia
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu komunikasi (JIPIK)
ISSN : 28071123     EISSN : 27989879     DOI : https://doi.org/10.37915/jipik.v1i1
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi (JIPIK), is a journal of Governmental, Political, Public Administration, Communication and Social Sciences, for information and communication resources for academics, and observers of Governance Sciences, Social Sciences, Political Sciences, Public Administration Sciences, Communication Sciences, Methodology of Social Sciences and Social Work. The published paper is the result of research, reflection, and actual critical study with respect to the themes of Governmental, Political, Public Administration, Communication, and Social Sciences, All papers are peer-reviewed by at least two referees. The scope of Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi (JIPIK) is the Governmental, Political, Administration and Communication Sciences. Published twice a year (January and July) and first published for printed edition since Volume 1 No. 1 January 2022.
Articles 104 Documents
Implementation of Palu City Government Policy in Addressing Homelessness and Begging Based on Regional Regulation Number 3 of 2018 Hardiyanto, Hardiyanto; Sarifuddin, Risman; Mahmud, Siska
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1345

Abstract

Masalah tunawisma dan pengemis di Kota Palu masih menjadi permasalahan sosial yang kompleks meskipun telah diatur dalam Peraturan Daerah Kota Palu Nomor 3 Tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan tersebut menggunakan teori Edward III, yang menekankan empat dimensi utama: komunikasi, sumber daya (manusia dan anggaran), disposisi pelaksana, serta struktur birokrasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan masih belum optimal. Sosialisasi kebijakan kepada masyarakat belum efektif, sumber daya yang tersedia terbatas, baik dari sisi pendanaan maupun jumlah dan kapasitas pelaksana. Disposisi pelaksana menunjukkan lemahnya komitmen serta minimnya koordinasi lintas sektor. Struktur birokrasi pun belum mendukung pelaksanaan kebijakan secara sinergis, sehingga terjadi tumpang tindih peran antarinstansi. Penelitian ini relevan dalam konteks evaluasi kebijakan publik, terutama dalam merumuskan strategi peningkatan efektivitas kebijakan sosial di tingkat daerah. Rekomendasi yang diajukan meliputi penguatan strategi komunikasi publik, peningkatan alokasi anggaran dan pelatihan bagi pelaksana, serta pembentukan sistem koordinasi antarinstansi yang berkelanjutan. Temuan ini dapat menjadi dasar perumusan kebijakan yang lebih humanis dan berbasis pada pemberdayaan sosial. The issues of homelessness and begging in Palu City remain complex social problems, despite being regulated under Palu City Regional Regulation No. 3 of 2018. This study aims to analyze the implementation of the policy using Edward III’s theory, which emphasizes four key dimensions: communication, resources (human and financial), implementers’ disposition, and bureaucratic structure. A qualitative descriptive method was employed, with data collected through interviews, observation, literature review, and documentation. The findings reveal that policy implementation has not been optimal. Public dissemination of the policy remains ineffective, and the available resources—both funding and the number and capacity of implementers—are insufficient. The disposition of implementers reflects a lack of commitment and minimal cross-sectoral coordination. Moreover, the bureaucratic structure does not yet support synergistic policy execution, resulting in overlapping roles among agencies. This study is relevant in the context of public policy evaluation, particularly in formulating strategies to enhance the effectiveness of social policies at the local level. Recommendations include strengthening public communication strategies, increasing budget allocation and training for implementers, and establishing a sustainable interagency coordination system. The findings may serve as a basis for developing more humane and empowerment-based policy approaches.
Moji TV's Strategy to Attract Young Audiences Through Content Diversification in the Digital Era in Indonesia Madani, Anisa Ratna; Mahfud, Athok; Sulistyani, Hapsari D.
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1346

Abstract

Pada era digital saat ini, media massa berperan dalam membentuk opini publik dan budaya masyarakat. Moji TV sebagai televisi yang berfokus pada audiens muda menghadapi tantangan dalam menghadirkan konten yang menarik sekaligus mendidik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi spasialisasi Moji TV dalam menarik audiens muda serta mengevaluasi dampak dominasi konten hiburan dan keberadaan iklan rokok yang berujung pada teguran KPI. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis konten dengan pendekatan Teori Ekonomi Politik Media oleh Vincent Mosco. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi konten hiburan dan iklan yang tidak sesuai dengan regulasi telah menyebabkan Moji TV mendapat teguran dari KPI. Oleh karena itu, Moji TV perlu meningkatkan keseimbangan antara hiburan dan edukasi serta memperketat kebijakan penyiaran iklan. Pada era digital, media massa memainkan peran penting dalam membentuk opini publik dan budaya masyarakat. Moji TV, sebagai stasiun televisi yang menargetkan audiens muda, menghadapi tantangan dalam menghadirkan konten yang tidak hanya menarik tetapi juga edukatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi spasialisasi yang diterapkan Moji TV dalam menarik minat audiens muda serta mengevaluasi dampak dominasi konten hiburan dan keberadaan iklan rokok terhadap kualitas siaran. Metode yang digunakan adalah analisis konten dengan pendekatan Teori Ekonomi Politik Media oleh Vincent Mosco, khususnya dalam aspek spasialisasi dan komodifikasi media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi program hiburan dan penayangan iklan yang tidak sesuai regulasi telah menyebabkan Moji TV menerima teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Temuan ini mengindikasikan perlunya perbaikan strategi konten dengan menyeimbangkan aspek hiburan dan edukasi serta memperkuat kebijakan internal terkait penyiaran iklan. Penelitian ini merekomendasikan penyesuaian konten agar sesuai dengan kebutuhan audiens muda dan regulasi penyiaran yang berlaku. In the digital era, mass media plays a crucial role in shaping public opinion and societal culture. Moji TV, a television station targeting young audiences, faces challenges in delivering content that is both engaging and educational. This study aims to analyze the spatialization strategy adopted by Moji TV to attract young viewers and to evaluate the impact of entertainment content dominance and cigarette advertisements on broadcast quality. The research employed content analysis using Vincent Mosco’s Political Economy of Media Theory, focusing on the concepts of spatialization and commodification. The findings reveal that excessive entertainment content and non-compliant advertising practices led to formal warnings issued by the Indonesian Broadcasting Commission (KPI). These results highlight the need for a more balanced content strategy that aligns entertainment with educational value while reinforcing internal policies for advertising compliance. The study recommends content adjustments to meet the expectations of young viewers and adhere to national broadcasting regulations.
The Role of the Village Government in Agricultural Development in Wilayut Village Mitha, Ashila; Sukmana, Hendra
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1357

Abstract

Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian dengan kekayaan sumber daya alam seperti padi, jagung, kopi, dan kelapa sawit. Namun, optimalisasi produksi masih menjadi tantangan, mengingat kebutuhan domestik yang meningkat dan peluang ekspor yang luas. Pemerintah desa memiliki peran strategis dalam pengembangan pertanian melalui inovasi teknologi, efisiensi lahan, dan peningkatan kapasitas petani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara dengan pihak terkait, dan analisis dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang mencakup pengumpulan, penyaringan, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Hasil peneltian menunjukkan bahwa Pemerintah Desa Wilayut berperan sebagai fasilitator dalam penyediaan infrastruktur pertanian, seperti perbaikan akses jalan dan sistem irigasi, serta penyediaan alat pertanian modern. Sebagai penggerak, pemerintah desa mengoordinasikan distribusi pupuk dan membangun kemitraan untuk mendukung ketersediaan sumber daya pertanian. Selain itu, sebagai regulator, pemerintah desa menetapkan kebijakan lingkungan untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Dalam implementasinya, Peran pemerintah desa terbukti efektif dalam meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi masih terdapat kendala dalam alokasi pupuk dan kerja sama dengan pihak eksternal. Peningkatan kapasitas petani dan penguatan regulasi lingkungan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sektor ini. Perlu adanya implementasi kebijakan yang lebih kuat, termasuk penguatan kerja sama dengan BUMDes dan sektor swasta, serta peningkatan program edukasi bagi petani untuk mengadopsi teknologi pertanian berkelanjutan. Indonesia has great potential in the agricultural sector with its wealth of natural resources such as rice, corn, coffee, and palm oil. However, optimizing production is still a challenge, given the increasing domestic demand and broad export opportunities. The village government has a strategic role in agricultural development through technological innovation, land efficiency, and increasing farmer capacity. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through field observations, interviews with related parties, and documentation analysis. Data were analyzed using the Miles and Huberman model which includes collection, filtering, presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that the Wilayut Village Government acts as a facilitator in providing agricultural infrastructure, such as improving road access and irrigation systems, as well as providing modern agricultural tools. As a driver, the village government coordinates the distribution of fertilizers and builds partnerships to support the availability of agricultural resources. In addition, as a regulator, the village government sets environmental policies to maintain the sustainability of the agricultural sector. In its implementation, the role of the village government has proven effective in increasing agricultural productivity, but there are still obstacles in the allocation of fertilizers and cooperation with external parties. Increasing farmer capacity and strengthening environmental regulations are key to maintaining the sustainability of this sector. There needs to be stronger policy implementation, including strengthening cooperation with BUMDes and the private sector, as well as increasing educational programs for farmers to adopt sustainable agricultural technologies.
Parental Communication Patterns as a Preventive Effort Against Adolescent Smoking Behavior in Purwodinatan Subdistrict Mukorrobbin, Brillian; Basori, Muhamad Hasan
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1362

Abstract

Remaja adalah fase dimana anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Pada proses pertumbuhan tersebut remaja sangat rawan untuk terjerumus melakukan kenakalan remaja yang salah satunya adalah perilaku merokok. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan pengawasan yang lebih ketika anak memasuki fase remaja. Kelurahan Purwodinatan adalah salah satu kelurahan di Kota Semarang dengan tingkat perilaku merokok terendah, yaitu sebesar 9%. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi interpersonal orang tua dalam mencegah perilaku merokok pada remaja di Kelurahan Purwodinatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori komunikasi interpersonal dan analisis stimulus-respon. Data Primer diperoleh dari hasil wawancara secara langsung dengan pihak yang relevan dengan masalah penelitian. Sedangkan, data sekunder diperoleh melalui rekap data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang (DKK Semarang), Badan Pusat Statistik (BPS), dan jurnal penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa keluarga yang memiliki tingkat intensitas komunikasi yang tinggi dan memiliki stimulus yang kuat terhadap larangan merokok, berhasil mencegah anak untuk berperilaku merokok. Selain itu, peneliti juga menemukan adanya pola-pola pendekatan di dalam keluarga yang efektif dan berperan membantu mengontrol perilaku merokok pada anak, diantaranya adalah pendekatan otoritatif, persuasif, dan demokratis. Penelitian ini memberikan konstribusi, khususnya dalam mencegah perilaku merokok remaja melalui pemahaman mengenai pentingnya peran komunikasi di dalam keluarga. Adolescence is a phase in which children grow into more mature individuals. During this growth process, adolescents are highly vulnerable to engaging in juvenile delinquency, one of which is smoking behavior. Therefore, parents need to provide greater supervision when their children enter adolescence. Purwodinatan Subdistrict is one of the villages in Semarang City with the lowest smoking behavior rate, which is 9%. Thus, this study aims to find out how parents' interpersonal communication helps prevent smoking behavior among adolescents in Purwodinatan Subdistrict. This research uses a qualitative method with a case study approach. The theories used in this study are interpersonal communication theory and stimulus-response analysis. Primary data were obtained through direct interviews with parties relevant to the research issue, while secondary data were collected from records provided by the Semarang City Health Office (DKK Semarang), the Central Statistics Agency (BPS), and academic journals. The results show that families with a high level of communication intensity and a strong stimulus regarding smoking prohibition succeeded in preventing their children from engaging in smoking behavior. In addition, the researcher found several effective family approach patterns that play a role in helping control smoking behavior in children, including authoritative, persuasive, and democratic approaches. This study contributes specifically to preventing adolescent smoking behavior through a better understanding of the importance of communication roles within the family.
Digital Interaction: Dynamics of Intolerance and Discrimination and Hate Speech of SARA on TIKTOK on the @CALLIBO Rafli Zulfikar, Muhammad; Nurhanifah, Nurhanifah
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1368

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana ujaran kebencian SARA muncul dalam postingan akun @CALLIBO di media sosial TikTok. Penelitian ini menggunakan teori ujaran kebencian dari Eriyanto dan Teori Diskriminasi untuk menganalisis komentar-komentar netizen yang mengandung unsur kebencian, khususnya yang berfokus pada isu agama. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Data dikumpulkan melalui dokumentasi berupa tangkapan layar komentar-komentar yang mengandung ujaran kebencian di akun TikTok @CALLIBO. Setelah data terkumpul, penelitian ini menggunakan metode analisis konten (content analysis) untuk mengolah dan menafsirkan data. Hasil penelitian menunjukkan bentuk ujaran kebencian SARA berfokus pada agama di media sosial TikTok ditemukan dalam empat kategori, yaitu: sindiran, makian, pelecehan seksual (sexual harassment), dan kategori lainnya. Komentar-komentar tersebut juga mencerminkan bentuk marjinalisasi melalui strategi bahasa seperti eufemisme, disfemisme, dan pelabelan/stereotipe. Kekerasan dalam bentuk ujaran kebencian ini sering kali diterima secara tidak sadar oleh pembaca, yang dapat menimbulkan dampak psikologis negatif bagi korban. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman mengenai dinamika ujaran kebencian di media sosial, serta memberikan wawasan bagi pihak terkait untuk membangun ruang digital yang lebih sehat dan inklusif. The aim of this study is to understand how hate speech related to ethnicity, religion, race, and inter-group relations (SARA) appears in posts on the TikTok account @CALLIBO. This research applies Eriyanto’s theory of hate speech and the Theory of Discrimination to analyze user comments containing elements of hatred, particularly those focused on religious issues. The study is qualitative in nature, using a library research approach. Data were collected through documentation in the form of screenshots of hate speech comments posted on the TikTok account @CALLIBO.Once the data were gathered, the study employed content analysis to process and interpret the findings. The results reveal that SARA-based hate speech focusing on religion on TikTok falls into four categories: sarcasm, insults, sexual harassment, and other types. These comments also reflect forms of marginalization through linguistic strategies such as euphemism, dysphemism, and labeling/stereotyping. This form of hate speech is often unconsciously accepted by readers, which can lead to negative psychological effects on victims.This research contributes to a better understanding of the dynamics of hate speech on social media and offers insights for stakeholders aiming to build a healthier and more inclusive digital space.
Bobby Nasution's Political Image Representation on the Instagram Account @bobbynst Siregar, M Nur Badawani; Azhar , Anang Anas
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1371

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana akun Instagram resmi Bobby Nasution, @bobbynst, membentuk persona politiknya di ruang digital. Media sosial kini menjadi sarana penting dalam komunikasi politik karena mampu membangun persepsi dan kedekatan antara politisi dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotik terhadap konten visual dan teks yang diunggah pada akun tersebut. Fokus penelitian terbatas pada unggahan selama periode Januari hingga Desember 2024. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori representasi, komunikasi politik, dan interaksi simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persona politik Bobby Nasution dibangun melalui narasi visual yang menonjolkan keterlibatannya dalam pembangunan kota, gaya kepemimpinan yang aktif, dan interaksi sosial yang hangat. Misalnya, unggahan saat meninjau proyek infrastruktur dan menghadiri kegiatan masyarakat sering kali disertai dengan simbol-simbol kedekatan, seperti senyuman, gestur menyapa, dan pakaian kasual. Respons publik terhadap unggahan tersebut, terlihat dari komentar dan jumlah interaksi, menunjukkan adanya hubungan timbal balik yang memperkuat citra politiknya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial dapat digunakan secara strategis untuk membentuk opini publik dan memperoleh dukungan politik. Hasil ini dapat menjadi referensi bagi praktisi komunikasi politik, akademisi, dan masyarakat dalam memahami konstruksi citra politik di era digital. This study aims to examine how Bobby Nasution's official Instagram account, @bobbynst, shapes his political persona in the digital space. Social media is now an important medium in political communication because it is able to build perceptions and closeness between politicians and the public. This study uses a qualitative approach with a semiotic analysis method on visual and text content uploaded to the account. The focus of the study was limited to uploads during the period January to December 2024. The analysis was carried out using the theory of representation, political communication, and symbolic interaction. The results of the study show that Bobby Nasution's political persona is built through visual narratives that highlight his involvement in city development, active leadership style, and warm social interactions. For example, uploads when reviewing infrastructure projects and attending community activities are often accompanied by symbols of closeness, such as smiles, greeting gestures, and casual clothing. The public response to the uploads, as seen from the comments and number of interactions, shows a reciprocal relationship that strengthens his political image. This study concludes that social media can be used strategically to shape public opinion and gain political support. These results can be a reference for political communication practitioners, academics, and the public in understanding the construction of political images in the digital era.
A Study of Communication Models in the Conflict over the Change of Qibla Direction at the Grand Mosque of Nagari Suayan, Lima Puluh Kota Regency Surtika, Memi; Sarmiati, Sarmiati; Afrizal, Afrizal
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1388

Abstract

Konflik seputar perubahan arah kiblat Masjid Raya di Nagari Suayan menjadi latar utama penelitian ini. Fokus utamanya adalah menelusuri bagaimana model komunikasi terbentuk dalam proses penyampaian perubahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam cara masyarakat berkomunikasi dalam merespons perubahan arah kiblat serta mengungkap berbagai kendala komunikasi yang muncul dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi lapangan. Data dikumpulkan melalui wawancara tatap muka dan observasi langsung di lokasi. Seluruh data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memberikan gambaran yang utuh dan komprehensif mengenai dinamika komunikasi yang terjadi.Temuan penelitian memperlihatkan bahwa model komunikasi yang diterapkan mengacu pada teori komunikasi Harold D. Laswell, di mana penyampaian informasi dilakukan oleh pihak Kementerian Agama, aparat nagari, dan pengurus masjid melalui tatap muka dengan masyarakat. Namun, strategi ini tidak sepenuhnya berhasil diterima oleh warga, yang berujung pada munculnya perbedaan pandangan. Sebagian masyarakat yang tidak sepakat akhirnya mendirikan masjid baru bernama Al Jamiaturrahma. Adapun kendala komunikasi yang diidentifikasi meliputi hambatan psikologis, kesalahpahaman makna (semantik), serta faktor lingkungan (ekologis). The conflict surrounding the change in the direction of the Qibla of the Grand Mosque in Nagari Suayan is the main background of this research. The main focus is to trace how communication patterns are formed in the process of conveying the change. This research aims to explore in depth how the community communicates in responding to the change in the direction of the Qibla and to reveal various communication obstacles that arise in the process. This research uses a qualitative approach with a field study type. Data were collected through face-to-face interviews and direct observation at the location. All data obtained were then analyzed using a qualitative descriptive approach to provide a complete and comprehensive picture of the communication dynamics that occurred. The research findings show that the communication patterns applied refer to Harold D. Laswell's communication theory, where information is conveyed by the Ministry of Religion, village officials, and mosque administrators through face-to-face meetings with the community. However, this strategy was not fully accepted by the community, which led to differences of opinion. Some of the people who disagreed finally built a new mosque called Al Jamiaturrahma. The communication obstacles identified include psychological barriers, misunderstanding of meaning (semantics), and environmental factors (ecological).
Analysis of Information Dissemination on Online Gender-Based Violence (OGBV) through the Instagram Account @awaskbgo Napeladiar, Ladyvianov; Rosalia, Naiza
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1394

Abstract

Penelitian ini meninjau empat unggahan yang dipublikasikan pada tanggal 23 Oktober hingga 9 Desember 2024 dengan memfokuskan hubungan antara representamen (visual dan teks), objek (pesan tentang KBGO), dan interpretan (pemaknaan audiens). Bentuk KBGO yang dibahas meliputi NCII, sekstorsi, serta penggunaan deepfake dan morphing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infografis sederhana dan narasi korban membantu membangun pemahaman dan empati audiens. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan infografis sederhana, narasi korban, serta desain visual yang informatif membantu membangun pemahaman dan empati audiens terhadap KBGO. Temuan ini diperkuat melalui wawancara mendalam dengan empat pengikut aktif akun @awaskbgo, yang menyatakan bahwa konten tersebut dipandang jelas, relevan, dan mampu mendorong refleksi serta diskusi lanjutan mengenai keamanan digital. Narasumber juga merekomendasikan agar edukasi mengenai KBGO diperluas ke ranah offline agar menjangkau lebih banyak masyarakat diluar pengikut akun instagram @awaskbgo. Data dikumpulkan melalui dua metode, yaitu dokumentasi konten dan wawancara mendalam dengan pengikut akun. Penelitian ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi KBGO melalui media sosial dapat ini dapat diperkuat melalui pendekatan visual dan naratif yang kontekstual serta berorientasi pada pengalaman korban dan respon audiens. This study examines four Instagram posts published between October 23 and December 9, 2024, focusing on the relationship between representamen (visuals and text), object (messages about online gender-based violence/GBV), and interpretant (audience interpretation). The types of online GBV discussed include Non-Consensual Intimate Image (NCII), sextortion, and the use of deepfake and morphing technologies. The findings indicate that simple infographics and survivor narratives help foster audience understanding and empathy. This is supported by in-depth interviews with four active followers of the @awaskbgo account, who found the content clear, relevant, and capable of encouraging reflection and further discussion on digital safety. Respondents also suggested that education on online GBV should be expanded offline to reach broader audiences beyond Instagram followers. Data were collected through two methods: content documentation and in-depth interviews with followers. This study demonstrates that communicating online GBV issues via social media can be enhanced through a contextual visual and narrative approach that centers on survivor experiences and audience response.
Framing Analysis of the Constitutional Court Decision on Age Limit for Regional Head Candidates in Online Media Tempo.co and Kompas.com Azahra, Firny Fidiyah; Permadi, Didi; Edy, Sarwo
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1396

Abstract

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 70/PUU-XXI/2024 terkait batas usia calon kepala daerah menjadi sorotan media dikarenakan berdampak pada pencalonan Kaesang Pangarep. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana Kompas.com dan Tempo.co membingkai pemberitaan terkait isu tersebut. Penelitian menggunakan teori framing Robert N. Entman dengan empat element analisis: pendefinisian masalah, identifikasi penyebab, penilaian moral, serta rekomendasi penyelesaian masalah. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis terhadap delapan berita dengan kurun waktu satu minggu semenjak putusan disahkan, dengan masing-masing empat dari Kompas.com dan Tempo.co. hasil penelitian menunjukkan bahwa Kompas.com lebih menonjolkan pendapat ahli serta aspek kepatuhan hukum, sementara Tempo.co fokus pada respon masyarakat melalui aksi demonstrasi terhadap upaya DPR mengubah putusan. Meskipun kedua media mendukung keputusan MK, cara pembingkaian mereka berbeda dan mencerminkan orientasi ideologis masing-masing. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap literatur framing media di Indonesia dengan menunjukkan bagaimana media membentuk persepsi publik dalam isu hukum dan politik.. The Constitutional Court MK Decision No 70PUUXXI2024 on the age limit for regional head candidates became a prominent issue in the media due to its impact on Kaesang Pangareps potential candidacy This study aims to examine how Kompascom and Tempoco framed news coverage related to the decision The research uses Robert N Entmans framing theory which includes four elements problem definition causal interpretation moral evaluation and treatment recommendation A qualitative method was applied by analyzing eight news articlesfour from each media outlet The findings show that Kompascom emphasized expert opinions and legal compliance with the courts decision while Tempoco highlighted public demonstrations in response to the parliaments attempt to overturn the ruling Although both media outlets supported the Constitutional Courts decision their framing differed reflecting their respective ideological orientations This study contributes to the media framing literature in Indonesia by illustrating how the press shapes public perception on legal and political issues.
Analysis of Netizen Framing in X in the Implementation of the Free Nutritious Meal Program Haryati, Haryati; Harahap, Nursapia
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 4 No 2 (2025): Juli - Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/jipik.v4i2.1433

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana framing netizen di platform X terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) jika dibandingkan dengan pandangan siswa sebagai penerima manfaat langsung. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, dengan metode analisis framing model Pan dan Kosicki untuk menelaah 50 unggahan netizen terkait program MBG, serta wawancara mendalam dengan 12 siswa penerima program sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa netizen cenderung memframing program MBG secara negatif, dengan narasi bahwa program ini membebani anggaran negara, menguntungkan pihak ketiga, kurang efisien dibanding bantuan tunai, serta menyajikan makanan yang dianggap tidak memenuhi standar gizi. Sebaliknya, wawancara dengan siswa menunjukkan respons yang lebih positif; sebagian besar merasa terbantu secara ekonomi dan mengapresiasi keberadaan program ini, meskipun mengemukakan beberapa catatan terhadap kualitas makanan dan aspek teknis pelaksanaan. Ketidaksesuaian antara opini netizen dan pengalaman langsung siswa mengindikasikan adanya gap persepsi antara ruang digital dan realitas di lapangan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan komunikasi publik yang berbasis data, pengalaman, dan keterlibatan audiens agar kebijakan sosial seperti MBG dapat dipahami secara lebih utuh dan proporsional. This study aims to analyze how netizens on platform X frame the Free Nutritious Meal Program (MBG) compared to the views of students as direct beneficiaries. The approach used is qualitative, using the Pan and Kosicki framing analysis model to examine 50 netizen posts related to the MBG program, as well as in-depth interviews with 12 student recipients of the program as a comparison. The results of the study show that netizens tend to frame the MBG program negatively, with the narrative that this program burdens the state budget, benefits third parties, is less efficient than cash assistance, and serves food that is considered not to meet nutritional standards. In contrast, interviews with students showed a more positive response; most felt economically helped and appreciated the existence of this program, although they expressed some notes on the quality of the food and technical aspects of the implementation. The discrepancy between netizens' opinions and students' direct experiences indicates a perception gap between digital space and reality on the ground. These findings emphasize the importance of managing public communication based on data, experience, and audience involvement so that social policies such as MBG can be understood more completely and proportionally.

Page 8 of 11 | Total Record : 104