cover
Contact Name
Eko Nur Hermansyah
Contact Email
ekonurhermansyah@unw.ac.id
Phone
+6282192115123
Journal Mail Official
melatiaprilliana90@gmail.com
Editorial Address
Jl. Diponegoro no 186 Gedanganak - Ungaran Timur, Kab. Semarang Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
ISSN : 26563215     EISSN : 26156903     DOI : 10.35473
Core Subject : Health,
This journal is aimed as promoting principled approach to research on pharmacy that covers a broad range of topics engaging a good relationship in theoretical and practical. This journal covers: Pharmacology Pharmacognosy Analytical Chemistry Pharmaceutical Technology Social and Management Pharmacy
Articles 144 Documents
Perbandingan Efektivitas Profilaksis Intermiten Klobazam Versus Diazepam pada Kejang Demam Sederhana (KDS): Systematic Review: Comparison Effectiveness of the Intermittent Prophylaxis of Clobazam Versus Diazepam in Simple Febrile Seizures (SFS): Systematic Review Sulastri; Nurjanah, Mutia Hariani; Ramadhani, Melati Apriliana; Arif Santoso; Rahma Diyan Martha; Vifta, Rissa Laila; Annisah Mahanani
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 7 No. 02 (2024): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v7i02.3308

Abstract

Febrile seizures are seizures that occur when body temperature rises (rectal temperature > 38o C). Each seizure can possibly cause epilepsy and trauma to the brain. The next priority is efforts to stop acute seizure attacks which can usually be treated with anti-seizure medication. Intermittent prophylaxis with clobazam at the onset of the first febrile seizure provides better results. This systematic review aims to review articles related to the use of intermittent prophylaxis of clobazam vs diazepam for children suffering from simple febrile seizures. The literature search method uses Google Scholar, PubMed and BMJ databases based on keywords. The selected articles were articles published between 2009-2023, full text in English, were original articles comparing the effectiveness of intermittent prophylaxis use of clobazam vs diazepam in febrile seizures in children. The results obtained were 4 articles that were relevant to the objectives of this systematic review. Data is homogeneous with RR of 0.44 (95% CI: 0.32-0.60) so that the therapeutic effectiveness of administering clobazam compared with diazepam is not significantly different even though there is a chance that the effectiveness of clobazam is 0.44 times compared with administering diazepam. The efficacy of clobazam compared to diazepam, clobazam has better advantages than diazepam in preventing recurrence of febrile seizures. Apart from that, the side effects that occur with clobazam are significantly lower, for example drowsiness and sedation. ABSTRAK Kejang demam merupakan bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal > 38o C). Setiap kejang kemungkinan dapat menimbulkan epilepsi dan trauma pada otak. Prioritas selanjutnya berupa usaha untuk menghentikan serangan kejang akut yang biasanya dapat ditangani dengan pemberian obat anti kejang. Pemberian profilaksis intermiten dengan klobazam pada permulaan terjadinya kejang demam pertama memberikan hasil yang lebih baik. Systematic review  ini bertujuan untuk mereview artikel-artikel terkait adanya penggunaan profilaksis intermiten klobazam vs diazepam untuk anak penderita kejang demam sederhana. Pencarian literatur menggunakan metode berupa database Google scholar,  PubMed dan BMJ berdasarkan keywords. Artikel yang dipilih adalah artikel yang dipublikasikan antara tahun 2009-2023, fulltext dalam inggris, merupakan original article yang membandingkan efektivitas antara penggunaan profilaksis intermiten klobazam vs diazepam pada kejang demam pada anak. Hasil diperoleh 4 artikel yang relevan terhadap tujuan systematic review ini. Data bersifat homogen dengan RR 0,44 (CI 95%: 0,32-0,60) sehingga efektivitas terapi pemberian klobazam dibandingkan dengan diazepam tidak berbeda bermakna meskipun terdapat peluang efektivitas klobazam sebesar 0,44 kali dibandingkan dengan pemberian diazepam. Kemanjuran klobazam dibandingkan dengan diazepam, klobazam memiliki keunggulan lebih baik dibandingkan diazepam dalam mencegah kekambuhan kejang demam. Selain itu efek samping yang timbul pada klobazam secara signifikan jauh lebih rendah misalnya seperti mengantuk dan sedasi.
Uji Antiinflamasi Ekstrak Daun Andong Merah (Cordyline Fruticosa L. A Cheval) terhadap Tikus Model Induksi Karagenan: Anti-inflammatory Test of Red Andong Leaf Extract (Cordyline Fruticosa L. A Cheval) in the Rat Model of Carrageenan-Induced Widyasti, Jena; Kurniasari, Fitri
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 7 No. 02 (2024): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v7i02.3310

Abstract

Inflammation is a reaction to stimulation by harmful agents, infection, trauma, or tissue injury. One plant that has anti-inflammatory properties is red andong leaves. The chemical content of Andong leaf extract, which has anti-inflamatorry activity, is flavonoids. This study aims to determine the anti-inflammatory activity of ethanol extract of red andong leaves on carrageenan-induced white rats and determine the effective dose. Testing of the anti-inflammatory activity was carried out using 25 white rats as test animals and divided into 5 treatment groups, namely group 1 (diclofenac sodium dose 4.5 mg/kgBW), group II (Na CMC 0.5%), group III (extract dose 100 mg/kgBW), group IV (extract dose 200 mg/kgBW), group V (extract dose 400 mg/kgBW). After 30 minutes of administering the extract and comparator, the experimental animals were injected with carrageenan. Then, the rat leg volume was measured after 1 hour of injection, starting from the 1st to the 6th hour. The results of anti-inflammatory activity test observations were carried out by determining the percentage of inflammation in the rats' feet. The effective dose in the anti-inflammatory activity test was an extract dose of 200 mg/kgBW, which had inflammation percentage results that were comparable to the positive control.   ABSTRAK Peradangan adalah reaksi terhadap rangsangan agen berbahaya, infeksi, trauma, atau cedera pada jaringan. Salah satu tanaman yang memiliki khasiat antiinflamasi yaitu daun andong merah. Kandungan kimia dari ekstrak daun andong yang memiliki aktivitas antiinflamasi yaitu flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun andong merah terhadap tikus putih yang diinduksi karagenan dan mengetahui dosis efektifnya. Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan menggunakan hewan uji tikus 25 ekor dibagi dalam 5 kelompok perlakuan yaitu kelompok I kontrol negatif (Na CMC 0,5 %), kelompok II kontrol positif (natrium diklofenak dosis 4,5 mg/kg BB), kelompok III (ekstrak dosis 100 mg/kg BB), kelompok IV (ekstrak dosis 200 mg/kg BB), kelompok V (ekstrak dosis 400 mg/kg BB). Hewan uji diberikan ekstrak dan pembanding, kemudian disuntik karagenan setelah 30 menit. Setelah penyuntikan, volume kaki tikus diukur setiap jam, dimulai pada jam pertama dan berakhir pada jam ke enam. Hasil pengamatan uji aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan menentukan persentase peradangan pada kaki tikus. Dosis efektif pengujian antiinflamasi yaitu ekstrak dosis 200 mg/kgBB yang memiliki hasil persentase peradangan yang sebanding dengan kontrol positif.
Analisa Indikator Pengelolaan Penyimpanan Obat di Apotek X Karanganyar: Analysis of Drug Storage Management Indicators at Pharmacy X Karanganyar Risma Sakti Pambudi; Farah Puteri Windiasari
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 7 No. 02 (2024): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v7i02.3311

Abstract

Storage is an activity to store and maintain the pharmaceutical preparations received and to maintain the quality of the medicines. Ineffective storage can result in expired and damaged medicines. The aim of the research is to find out what the storage system is like at Pharmacy X Karanganyar. This research is a descriptive observational study with retrospective data collection, namely in 2023. The samples used were 10 drugs that were frequently purchased by consumers in pharmacies dead stock. Based on research, it shows that the indicator for suitability of drug stock with the stock card is according to the standard, namely 100%, but there are discrepancies, namely for the drug Diclofenac Sodium (98%), the indicator for the stock value of expired/damaged drugs is 0% and dead stock drugs are 0%. The stock value indicators for expired medicines and dead stock medicines are in accordance with medicine storage standards. ABSTRAKPenyimpanan merupakan kegiatan untuk menyimpan dan memelihara sediaan farmasi yang diterima serta dapat menjaga mutu obat. Penyimpanan yang kurang efektif dapat mengakibatkan munculnya obat kedaluwarsa dan rusak. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui bagaimana sistem penyimpanan di apotek X karanganyar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif yaitu tahun 2023. Sampel yang digunakan adalah 10 obat yang sering dibeli oleh konsumen di apotek X Tahun 2023. Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat kesesuaian obat dengan kartu stok, obat kedaluwarsa/ rusak, obat stok mati. Berdasarkan penelitian menunjukkan indikator kesesuaian stok obat dengan kartu stok sesuai standar yaitu 100% akan tetapi terdapat yang tidak sesuai yaitu pada obat Diclofenac Sodium (98%), indicator nilai stok obat kedaluwarsa/rusak 0% dan Obat Stok Mati 0%. Indikator nilai stok obat kedaluwarsa dan obat stok mati sudah sesuai dengan standar penyimpanan obat yaitu 0%.
Pengaruh Suhu Penyimpanan terhadap Kadar Parasetamol Sirup Selama Beyond Use Date Secara Spektrofotometri UV-Vis: Effect of Storage Temperature on Paracetamol Syrup Concentration During Beyond Use Date by UV-Vis Spectrophotometry Indra Meilina Yusefa; Nuraini Harmastuti; Reslely Harjanti
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 7 No. 02 (2024): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v7i02.3344

Abstract

Paracetamol or acetaminophen is a widely used analgesic-antipyretic drug worldwide. Paracetamol in liquid form is preferred because of its easy administration and rapid absorption in the body and large doses are easily adjusted for children. Storage of paracetamol syrup in accordance with the etiquette is at controlled room temperature. Beyond use date (BUD) is the time limit for the use of a drug after it has been formulated, prepared or after its primary packaging has been opened or tampered with. The purpose of this study was to determine the effect of storage temperature on paracetamol syrup levels during BUD. Paracetamol syrup was stored in a room with air conditioning (20-25oC) and without air conditioning (30-40oC) for 14 days. Observation of levels was carried out on days 0, 3, 7, 10 and 14 using UV-Vis spectrophotometry with a wavelength of 247 nm and operating time for 22 minutes. The results of the determination of paracetamol syrup levels after storage for 14 days in a room with air conditioning in generic and trademark samples were 90.05 ± 1.34% and 92.73 ± 1.01%, respectively. Paracetamol syrup levels in a room without air conditioning in generic and trademark samples are 79.07 ± 0.99% and 81.10 ± 2.02%. Storage temperature affects paracetamol syrup levels during storage with a difference in levels of 10.98% for generic samples and 11.63% for trademark samples during BUD.   ABSTRAK Parasetamol merupakan obat analgesik-antipiretik yang banyak digunakan di seluruh dunia. Parasetamol dalam bentuk cairan lebih disukai karena pemberiannya yang mudah dan cepat terabsorpsi dalam tubuh serta dalam pemberian dosis besar mudah disesuaikan untuk anak. Penyimpanan parasetamol sirup yang sesuai dengan etiket adalah pada suhu ruang terkendali. Beyond use date (BUD) adalah batas waktu penggunaan obat setelah diracik, disiapkan atau setelah kemasan primernya dibuka atau dirusak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu penyimpanan terhadap kadar parasetamol sirup selama BUD. Parasetamol sirup disimpan pada ruang dengan penyejuk udara (20 – 25oC) dan tanpa penyejuk udara (30 – 40oC) selama 14 hari. Pengamatan kadar dilakukan pada hari ke-0, 3, 7, 10 dan 14 menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang 247 nm dan waktu operasi selama 22 menit. Hasil penetapan kadar parasetamol sirup setelah penyimpanan selama 14 hari di ruang dengan penyejuk udara pada merek generik dan merek dagang berturut-turut yaitu 90,05 ± 1,34% dan 92,73 ± 1,01%. Kadar parasetamol sirup diruang tanpa penyejuk udara pada merek generik dan merek dagang yaitu 79,07 ± 0,99% dan 81,10 ± 2,02%. Suhu penyimpanan mempengaruhi kadar parasetamol sirup selama penyimpanan dengan selisih kadar 10,98% untuk merek generik dan 11,63% untuk merek dagang selama BUD.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Pasien terhadap Perilaku Penggunaan Obat Halal pada Pasien Rawat Jalan di RSUD RA Kartini Jepara: The Relationship between Level of Knowlwdge and Behavior of Using Halal Drugs in Outpatients in RSUD RA Kartini Jepara Arfianto Erki; Rahmawati Isna; Choeroh Muhimmatul
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 7 No. 02 (2024): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v7i02.3404

Abstract

According to data from RSUD RA Kartini Jepara (2022), the number of visits to the outpatient installation was 184,241. Type B non-teaching regional hospitals do not include RSUD RA Kartini Jepara. When patients are satisfied with the care they get at RSUD RA Kartini Jepara, the hospital is able to attract a large patient base. The purpose of this research is to assess the level of medication and product knowledge among RSUD RA Kartini Jepara's outpatients in order to empower them to make informed choices. Analytical correlation and random sampling were used in this cross-sectional investigation. During the sample period of January to February 2024, a total of fifty respondents were included. Half of the people who took part in the survey had enough information about kosher drugs to be considered somewhat knowledgeable, and 68% had adequate behavior when it came to using halal drugs. Outpatients at RA Kartini Regional Hospital in Jepara Regency did not exhibit any link between the knowledge variable and the behavioral variable of halal drug use, according to the Spearman rank correlation test, which had an r-value of 0.11 and a significance level of 0.449.   ABSTRAK Menurut data RSUD RA Kartini Jepara (2022) jumlah kunjungan pada instalasi rawat jalan sebanyak 184.241. Termasuk di antara rumah sakit daerah non pendidikan di Kartini Jepara adalah Rumah Sakit Umum Daerah RA. Jika RSUD RA Kartini Jepara berhasil memuaskan pasiennya, maka akan menarik populasi pasien yang besar. Untuk membantu pasien membuat pilihan yang tepat, penelitian ini berupaya menghitung jumlah pasien rawat jalan di RSUD RA Kartini Jepara yang memiliki pengetahuan tentang obat - obatan dan barang-barang. Analisis statistik dan pengambilan sampel acak adalah alat pilihan dalam penyelidikan penampang ini. Selama bulan Januari dan Februari 2024, total lima puluh peserta disurvei. Survei tersebut menemukan bahwa 68% responden memiliki tingkat kesadaran sedang tentang obat-obatan halal dan 50% responden memiliki tingkat perilaku yang memadai dalam hal penggunaan obat-obatan halal. Dengan nilai r yang dihitung sebesar 0,11 dan tingkat signifikansi sebesar 0,449, uji korelasi Spearman rank tidak menunjukkan adanya korelasi antara variabel pengetahuan dengan variabel perilaku penggunaan obat halal pada pasien rawat jalan di RSUD RA Kabupaten Kartini Jepara.
Evaluasi Penerapan Peresepan Elektronik (E-Prescribing) di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang: Evaluation of Electronic Prescribing (E-Precribing) Implementation At Roemani Muhammadiyah Hospital Semarang Dyahariesti, Niken; Ayang Rizky Safitri Utami
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 7 No. 02 (2024): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v7i02.3482

Abstract

ABSTRACT Electronic prescribing is an information technology innovation in health care that can improve service quality, but its implementation still faces challenges that require evaluation, especially at Muhammadiyah Roemani Semarang Hospital, which has been implementing this system since 2016. This study aims to evaluate the implementation of the electronic prescribing system at Roemani Hospital based on the availability of its features. This study is a descriptive qualitative research. The sampling technique used was purposive sampling. Respondents used 4 pharmacists. Data collection was carried out with an observation sheet by the pharmacist followed by a confirmation interview with the pharmacist. The results of the interview were transcribed into text, coding at each point and drawing conclusions. Electronic prescribing in the hospital is quite complete and running well, with 87.5% feature completeness from the Indonesian Ministry of Health. The hospital has implemented 57.7% of the recommended features in international journals, but some obstacles still need to be overcome, such as slow internet network problems, differences in drug stocks, and non-compliance of prescription writers.  The electronic prescribing system at Roemani Muhammadiyah Hospital is generally running well, but still needs improvement in several aspects to further optimize the performance and benefits of the system.   ABSTRAK Peresepan elektronik merupakan inovasi teknologi informasi di pelayanan kesehatan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan, namun penerapannya masih menghadapi tantangan sehingga perlu dilakukan evaluasi, khususnya di Rumah Sakit Muhammadiyah Roemani Semarang yang telah menerapkan sistem ini sejak 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan sistem peresepan elektronik di Rumah Sakit Roemani berdasarkan ketersediaan fiturnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik sampling  yang digunakan purposive sampling. Responden yang digunakan 4 apoteker. Pengambilan data dilakukan dengan lembar observasi oleh Apoteker dilanjutkan dengan wawancara konfirmasi dengan Apoteker. Hasil wawancara ditranskripsi ke dalam teks, pengkodean pada tiap point dan penarikan kesimpulan. Peresepan elektronik di Rumah Sakit sudah cukup lengkap dan berjalan dengan baik, dengan kelengkapan fitur 87,5% dari  Kemenkes RI. Rumah sakit ini telah menerapkan 57,7% dari rekomendasi fitur pada jurnal internasional, tetapi beberapa kendala yang masih perlu diatasi, seperti masalah jaringan internet yang lambat, perbedaan stok obat, serta ketidakpatuhan penulis resep.  Sistem peresepan elektronik di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah secara umum sudah berjalan dengan baik, namun masih memerlukan perbaikan pada beberapa aspek agar lebih mengoptimalkan kinerja dan manfaat sistem
Analisis Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan Pengobatan pada Pasien Hipertensi di Apotek Izi Kabupaten Sidrap: Analysis of The Relationship Between Knowledge Level and Medication Adherence in Hypertension Patiens at Izi Pharmacy Sidrap Regency Shabran Hadiq; Washliaty Sirajuddin; Rahmasiah; Annisha Mellani
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 7 No. 02 (2024): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v7i02.3492

Abstract

Uncontrolled blood pressure can result from noncompliant hypertension treatment. A person's degree of drug tolerance or acceptance might dictate social influences, including medication adherence. This study aims to determine the relationship between knowledge level and medication adherence in hypertension patients at IZI Pharmacy, Sidrap Regency. Using a cross-sectional approach and purposive sampling, this quantitative descriptive study included 62 respondents. Data were collected from May to June 2024 through demographic questionnaires, the Hypertension Fact Questionnaire (HFQ), and the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). The results showed that most patients' knowledge level was moderate, with 24 respondents (38.7%). Meanwhile, the highest level of medication adherence was low, with 31 respondents (50.0%). Data analysis indicated a significant relationship between knowledge level and medication adherence, with a p-value of 0.001 (p < 0.05). This study concludes that increased knowledge about hypertension is associated with improved medication adherence in hypertension patients.   ABSTRAK Pengobatan hipertensi yang tidak patuh dapat menyebabkan tekanan darah tidak terkontrol. Pengaruh sosial, seperti kepatuhan pengobatan, dapat ditentukan oleh tingkat toleransi atau penerimaan seseorang terhadap pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi di Apotek Izi Kabupaten Sidrap. Penelitian deskriptif kuantitatif ini menggunakan desain cross-sectional, dengan pengambilan sampel secara purposive sampling yang terdiri dari 62 responden. Data dikumpulkan pada bulan Mei-Juni 2024 melalui kuesioner demografi, kuisioner pengetahuan Hypertension Fact Questionnaire (HFQ), dan kuisioner kepatuhan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pasien paling banyak berada pada kategori sedang dengan 24 responden (38,7%). Sementara itu, tingkat kepatuhan pengobatan pasien terbanyak berada pada kategori rendah sejumlah 31 responden (50,0%). Analisis data menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan pengobatan dengan nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan pengetahuan tentang hipertensi berhubungan dengan peningkatan kepatuhan terhadap pengobatan pada pasien hipertensi.
Hubungan Karakteristik Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Komorbid Hipertensi terhadap Kepatuhan Minum Obat Menggunakan MARS-5: The Relationship Between the Characteristics of Type 2 Diabetes Mellitus Patients with Comorbid Hypertension on Medication Adherence using MARS-5 Dian Oktianti; Karminingtyas, Sikni
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 7 No. 02 (2024): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v7i02.3504

Abstract

Diabetes mellitus is a group of metabolic disorders characterized by hyperglycemia and abnormalities in carbohydrate, fat and protein metabolism. Diabetes mellitus treatment requires a long period of time, so patients are expected to be compliant in taking medication. High adherence to medication can reduce complications of diabetes mellitus. The aim of the study was to determine the relationship between the characteristics of type 2 diabetes mellitus patients who have comorbid hypertension and patient compliance in taking antihypertensive medication. This research is a non-experimental quantitative research with a cross sectional design. The research sample was type 2 diabetes mellitus sufferers with hypertension who received an antihypertensive therapy regimen. The sampling technique used convenience sampling and a total sample of 79 patients was obtained. Adherence to taking antihypertensive medication was measured using the Medication Adherence Report Scale-5 (MARS-5) questionnaire. Univariate data analysis to describe patient characteristics and bivariate analysis to determine the relationship between patient characteristics and compliance levels using the Chi square test with a confidence level of 95%. The results showed that the level of compliance with taking antihypertensive medication based on the MARS-5 questionnaire was 30 patients (37.97%) classified as high and 49 patients (62.03%) classified as low with a mean MARS-5 value of 23.06 ± 2.14. There was a relationship between patient characteristics and the level of adherence to taking antihypertensive medication with significant value more than 0.05 (gender p= 0.974; age p= 0.757; education level p= 1.000).   ABSTRAK Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah melebihi nilai normal. Pengobatan diabetes melitus membutuhkan jangka waktu lama, sehingga pasien diharapkan patuh dalam minum obat. Kepatuhan minum obat yang tinggi dapat menurunkan penyakit komplikasi diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan karakteristik pasien diabetes melitus tipe 2 yang mempunyai komorbid hipertensi terhadap kepatuhan pasien dalam meminum obat antihipertensi. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif non eksperimental menggunakan rancangan cross sectional. Sampel dalam penelitian yaitu penderita diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi yang mendapatkan regimen terapi antihipertensi. Teknik sampling menggunakan convenience sampling dan didapatkan total sampel 79 pasien. Kepatuhan minum obat antihipertensi diketahui dengan kuesioner Medication Adherence Report Scale-5 (MARS-5). Data dianalisa secara univariat untuk menggambarkan karakteristik pasien, analisis bivariat untuk mengetahui hubungan karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan menggunakan uji chi square dengan taraf kepercayaan 95%. Penelitian memperlihatkan tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi berdasarkan kuesioner MARS-5 sebanyak 30 pasien (37,97%) tergolong tinggi dan 49 pasien (62,03%) tergolong rendah dengan rerata nilai MARS-5 yaitu 23,06 ± 2,14. Terdapat hubungan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi dengan nilai signifikansi lebih dari 0,05 (jenis kelamin p= 0,974; usia p= 0,757; tingkat pendidikan p= 1,000).
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Lipstik dari Ekstrak Buah Bit Merah (Beta Vulgaris L.) sebagai Pewarna Alami pada Sediaan Kosmetik Lipstik: Formulation and Evaluation of Preparations from Red Beet (Beta Vulgaris L.) Extract As A Natural Dye in Lipstick Cosmetic Preparations Nurwahidah, Andi Tenri; Meissi Kusuma Wardhani; Noviyanti; Maratun Shoaliha; Indah Puspitasari
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 7 No. 02 (2024): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v7i02.3514

Abstract

Beetroot contains betacyanin which produces a red color. Betacyanin has the property of being easily soluble in water, so it is very good to be developed as a natural coloring in lipstick. This research aims to create a formula and conduct evaluation tests on lipstick preparations from red beetroot extract. The beetroot lipstick formula consists of 4 formulas with varying concentrations, namely F0 (0%), F1 (5%), F2 (15%), and F3 (25%).  Beetroot produces a thick brownish red extract with a yield of 29.26%. Lipstick preparations F1, F2, and F3 produce preparations that are brownish red to dark red, homogeneous, shiny, and even, with a pH of 4.55-6.49, a spreadability of 5.00-6.50 cm, and a melting point of 55° C-60°C. Stability tests were carried out at storage temperatures, namely temperature, low (5 ± 2 ° C), room (25 ± 2 ° C), high (40 ± 2 ° C). All F1, F2, and F3 lipstick formulas are stable in room temperature and low temperature storage for 4 weeks. The irritation test of all F1, F2, and F3 lipstick formulations using the patch test method did not cause irritation on the inside of the upper arm. Based on the results of research it can be concluded that beetroot extract can be used as a natural coloring agent in lipstick formulations by providing good color at extract concentrations of 15% and 25%.   ABSTRAK Buah bit memiliki kandungan betasianin yang menghasilkan warna merah. Betasianin mempunyai sifat mudah larut dalam air, sehingga sangat baik dikembangkan sebagai pewarna alami pada lipstik. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula dan melakukan uji evaluasi sediaan lipstik dari ekstrak buah bit merah. Formula lipstik buah bit terdiri dari 4 formula dengan variasi konsentrasi yaitu F0 (0%), F1 (5%), F2 (15%), dan F3 (25%). Hasil penelitian ini adalah buah bit menghasilkan ekstrak kental berwarna merah kecoklatan dengan rendemen sebesar 29,26%. Sediaan lipstik F1, F2, dan F3 menghasilkan sediaan berwarna merah kecoklatan sampai merah tua, homogen, mengkilap, dan merata, dengan pH 4,55-6,49, daya sebar 5,00-6,50 cm, dan titik leleh 55°C-60°C. Uji stabilitas dilakukan pada suhu penyimpanan yaitu suhu rendah (5±2°C), ruang (25±2°C), tinggi (40±2°C). Semua formula lipstik F1, F2, dan F3 stabil dalam penyimpanan suhu ruang dan suhu rendah selama 4 minggu. Uji iritasi semua formula sediaan lipstik F1, F2, dan F3 dengan metode patch test tidak menyebabkan iritasi pada bagian dalam lengan bagian atas. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak buah bit dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami dalam formulasi sediaan lipstik dengan memberikan warna yang baik pada konsentrasi ekstrak 15% dan 25%.  
Penggunaan Gabapentin dan Pregabalin sebagai Terapi Adjuvant pada Pasien Nyeri di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran: Overview of The Use of Gabapentin and Pregabalin as Adjuvant Therapy in Inpatient Pain Patients Ungaran Hospital Muhamad Ilham Rusdi; Neli Diah Pratiwi
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 8 No. 01 (2025): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v8i01.3524

Abstract

Unpleasant sensory and emotional experiences due to tissue damage are often felt by everyone. Management of neuropathic, nociceptive and mixed pain often uses pregabalin and gabapentin. The purpose of this study was to describe the use of gabapentin and pregabalin as adjuvant therapy in inpatients with pain at Ungaran Hospital. This study was non-experimental using a descriptive observational method using secondary data obtained from medical records at Ungaran Hospital with a sample of 43 medical record data. The data collected were then subjected to descriptive analysis which included patient characteristics based on gender, age, clinical symptoms, and comorbidities. The description of the use of Atrial Fibrillation drugs included drug classes and types of drugs then calculated the percentage non-experimental with a descriptive research method and data collection was carried out retrospectively with a purposive sampling technique, namely 43 samples. Data were analyzed descriptively. The results of patients who received adjuvant gabapentin and pregabalin therapy were mostly aged 56-65 years (35%) and women (60%). The majority of patients experienced moderate pain (70%) and neuropathic pain (60%). The most common adjuvant therapies were gabapentin (86%), and pregabalin use (14%).   ABSTRAK Kerusakan jaringan dapat menyebabkan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan sering sekali dirasakan oleh semua orang. Manajemen penatalaksanaan nyeri neuropatik, nosiseptif dan campuran sering kali digunakan pregabalin dan gabapentin. Tujuan penelitian ini analisis gambaran penggunaan gabapentin dan pregabalin sebagai terapi adjuvant pada pasien nyeri di rawat inap. Penelitian ini bersifat non eksperimental menggunakan metode deskriptif observasional dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis Rumah Sakit Daerah Ungaran dengan jumlah sampel 43 data rekam medik. Data yang terkumpul  kemudian dilakukan analisis deskriptif yang meliputi: karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin, usia, gejala klinis, dan penyakit penyerta. Gambaran penggunaan obat Atrial Fibrilasi meliputi golongan obat dan jenis obat kemudian menghitung persentasenyanon-ekperimental dengan metode penelitian deskriptif dan pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan teknik pengambilan menggunakan purposive sampling yaitu 43 sampel. Data dianalisis secara deskriptif.       Hasil pasien yang mendapatkan terapi adjuvant gabapentin dan pregabalin sebagian besar berusia  56-65 tahun (35%) dan perempuan (60%). Mayoritas pasien mengalami nyeri sedang (70%) dan nyeri neuropatik (60%). Terapi adjuvan yang paling umum adalah gabapentin (86%), dan penggunaan pregabalin  (14%).