cover
Contact Name
Hasan Syahrizal
Contact Email
jurnalihsan@gmail.com
Phone
+6282352818690
Journal Mail Official
jurnalihsan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Sederhana Lorong Lambang Sari No.959, RT 001 RW. 006, Kelurahan Tembilahan Hulu Kecamatan Tembilahan Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau, Indonesia
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 30259150     EISSN : 29871298     DOI : https://doi.org/10.61104/ihsan.v1i2
Fokus dan Ruang Lingkup Ihsan: Jurnal Pendidikan Islam menerima naskah asli yang tidak diterbitkan dalam bahasa Indonesia atau Inggris, berdasarkan penelitian dari metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, campuran, atau metodologi apa pun yang terkait dengan pendidikan
Articles 479 Documents
Model Supervisi Akademik Berbasis Nilai Ihsan dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Era Teknologi Jefri Wandami; Budi Rianto; Novita Sari; Wisnarni
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7788

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya efektivitas supervisi akademik yang cenderung bersifat administratif dan belum menyentuh dimensi nilai serta spiritualitas guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di era teknologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mengembangkan model supervisi akademik berbasis nilai ihsan serta menganalisis implementasi dan dampaknya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif dan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model supervisi akademik berbasis nilai ihsan mampu mengintegrasikan dimensi pedagogik, manajerial, teknologi, dan spiritual secara komprehensif. Implementasi model ini dilakukan melalui perencanaan berbasis kebutuhan, pelaksanaan kolaboratif berbasis teknologi, serta evaluasi reflektif yang humanis. Model ini terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, ditandai dengan meningkatnya kompetensi pedagogik guru, pemanfaatan teknologi secara inovatif, serta tumbuhnya kesadaran spiritual dan tanggung jawab profesional guru. Selain itu, supervisi berbasis nilai ihsan mampu mengubah paradigma supervisi dari kontrol administratif menjadi pembinaan yang reflektif, humanis, dan transformatif, sehingga menghasilkan pembelajaran yang lebih holistik mencakup aspek kognitif, afektif, dan spiritual.
Kemunafikan Pedagogis Perspektif Al-Qur’an Parhul Khairi
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 4 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v3i4.7830

Abstract

Kemunafikan pedagogik merupakan suatu kondisi yang menunjukkan adanya ketidakharmonisan antara nilai yang diajarkan, keyakinan yang dikemukakan, dan perilaku yang diwujudkan dalam praktik pendidikan. Fenomena ini menjadi semakin penting untuk dikaji pada era kontemporer yang ditandai oleh krisis integritas, budaya pencitraan, berkembangnya hipokrisi di ruang digital, manipulasi akademik, serta menurunnya kualitas keteladanan di lingkungan pendidikan. Realitas tersebut memperlihatkan adanya jurang antara cita-cita pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter dengan praktik pendidikan yang cenderung bersifat formalistik dan simbolis. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep kemunafikan pedagogik berdasarkan perspektif Al-Qur’an serta menganalisis relevansinya terhadap berbagai persoalan pendidikan masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research) yang dikombinasikan dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu’i). Data primer bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an yang menguraikan karakteristik kaum munafik, terutama QS. Al-Baqarah [2]: 8–20, QS. An-Nisa’ [4]: 142–145, QS. At-Taubah [9]: 67–68, dan QS. Al-Munafiqun [63]: 1–11. Adapun data sekunder diperoleh dari berbagai literatur tafsir klasik dan modern, referensi pendidikan Islam, serta artikel ilmiah mutakhir yang terindeks pada Google Scholar dan Publish or Perish. Analisis data dilakukan melalui teknik analisis isi (content analysis) dengan tahapan pengumpulan, reduksi, pengelompokan data, interpretasi, dan penyusunan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kemunafikan pedagogik menurut perspektif Al-Qur’an memiliki tiga indikator utama, yaitu ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan, kecenderungan menampilkan citra diri demi pengakuan sosial (riya’), serta melemahnya integritas moral akibat rendahnya komitmen terhadap nilai-nilai kebenaran. Kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an mengungkapkan bahwa kemunafikan berakar pada penyakit hati (maradh al-qalb) yang berdampak negatif terhadap pembentukan karakter individu maupun budaya pendidikan secara kolektif. Dalam konteks pendidikan modern, gejala tersebut tercermin dalam praktik ketidakjujuran akademik, lemahnya keteladanan pendidik, dominasi formalisme pendidikan, dan berkembangnya hipokrisi digital melalui media sosial. Sebagai solusi, Al-Qur’an menegaskan pentingnya internalisasi nilai ṣidq (kejujuran), amanah (tanggung jawab), ikhlas (ketulusan), dan istiqamah (konsistensi) sebagai fondasi utama pendidikan yang berintegritas. Dengan demikian, konsep kemunafikan pedagogik yang terkandung dalam Al-Qur’an memiliki kontribusi signifikan dalam mewujudkan sistem pendidikan yang autentik, berkarakter, dan mampu mengintegrasikan dimensi ilmu, iman, serta amal secara harmonis.
Pendidikan Agama Islam dalam Arus Perubahan: Sebuah Rekonstruksi Pemikiran Iskandar Mirza; Aep Saepullah; Siti Fathonah
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7832

Abstract

Studi ini secara kritis mengkaji urgensi rekonstruksi paradigma Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam merespons percepatan transformasi global yang ditandai oleh disrupsi digital, pergeseran epistemologis, dan rekonfigurasi sosial-budaya yang kompleks (Azra, 2022; Muhaimin, 2023). Dalam era kontemporer, pendidikan tidak lagi terbatas pada transmisi pengetahuan, tetapi semakin dituntut untuk merespons ketidakpastian, ambiguitas etis, dan cepatnya arus informasi dalam ekosistem digital yang terus membentuk ulang cara berpikir, nilai, dan perilaku manusia (Arifin, 2023). Dalam konteks ini, PAI menghadapi tantangan multidimensional dalam menjaga relevansi, koherensi, dan kapasitas transformatifnya dalam membentuk perkembangan moral dan intelektual peserta didik. Percepatan teknologi digital telah mengubah secara fundamental struktur produksi dan diseminasi pengetahuan, sehingga otoritas tidak lagi terpusat melainkan tersebar dalam platform digital dan jejaring sosial (Hidayat & Abdullah, 2022). Pergeseran ini berdampak pada pendidikan Islam, khususnya dalam cara kebenaran, moralitas, dan interpretasi keagamaan diakses dan dipahami peserta didik. Akibatnya, PAI tidak hanya menghadapi tantangan pedagogis tetapi juga disrupsi epistemologis yang mempengaruhi cara siswa membangun makna dalam kehidupan sehari-hari. Menggunakan metodologi kualitatif-kritis berbasis kajian pustaka luas dan analisis konseptual (Sugiyono, 2021), penelitian ini menyelidiki ketegangan struktural antara pendekatan pedagogis normatif-dogmatis tradisional dan tuntutan lanskap pendidikan yang berkembang pesat. Analisis menunjukkan bahwa stagnasi PAI berakar pada epistemologi yang terlalu berpusat pada teks yang cenderung memprioritaskan transmisi doktrin dibandingkan inkuiri kritis, keterlibatan kontekstual, dan dialog interdisipliner (Nata, 2021). Orientasi ini menghasilkan keterbatasan imajinasi pedagogis yang kesulitan merespons isu kontemporer seperti etika kecerdasan buatan, kewargaan digital, dan gangguan informasi di era post-truth (Fauzi, 2021). Selain itu, dominasi model pembelajaran berpusat pada guru memperkuat budaya belajar pasif, di mana siswa diposisikan sebagai penerima, bukan konstruktor aktif pengetahuan. Kondisi ini melemahkan potensi transformatif pendidikan Islam yang seharusnya menumbuhkan kesadaran kritis, penalaran etis, dan tanggung jawab sosial. Sebaliknya, tuntutan pendidikan kontemporer membutuhkan peserta didik yang mampu menavigasi kompleksitas, ambiguitas, dan perubahan cepat dengan ketajaman intelektual dan kejernihan moral. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini mengusulkan kerangka rekonstruksi transformatif-kontekstual bagi PAI. Kerangka ini mengintegrasikan berpikir kritis, literasi digital, kesadaran etis, dan nilai-nilai Islam universal untuk mereposisi PAI sebagai disiplin yang dinamis, adaptif, dan responsif secara sosial (Muhaimin, 2023). Dalam reorientasi ini, PAI tidak lagi dipahami semata sebagai sarana instruksi keagamaan, tetapi sebagai proses pedagogis emansipatoris yang menumbuhkan ketajaman intelektual, kedalaman spiritual, integritas moral, dan tanggung jawab kewargaan. Selain itu, kerangka ini menekankan pentingnya kontekstualisasi ajaran Islam dalam realitas kontemporer, sehingga pendidikan agama tidak bersifat abstrak dan terlepas dari pengalaman hidup. Isu-isu seperti etika lingkungan, perilaku digital, keadilan sosial, dan kewargaan global menjadi bagian integral dalam diskursus PAI, memungkinkan peserta didik menghubungkan nilai agama dengan tantangan dunia nyata (Kurniawan, 2024). Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi paradigma PAI bukan hanya mendesak tetapi juga fundamental untuk memastikan keberlanjutan pendidikan Islam di era global. Tanpa transformasi tersebut, PAI berisiko mengalami marginalisasi dalam masyarakat pengetahuan yang terus berkembang pesat. Sebaliknya, dengan rekonstruksi yang terarah, PAI berpotensi menjadi kerangka utama dalam membentuk peserta didik yang kompeten secara intelektual, matang secara spiritual, dan mampu menavigasi kompleksitas peradaban kontemporer dengan kejernihan etis dan kepekaan sosial (Azra, 2022; Fauzi, 2021)
Orientalisme Al-Qur’an: Pemikiran Ignaz Goldziher Tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur Abdur Rauf
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 4 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v3i4.7846

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemikiran Ignaz Goldziher tentang Tafsir Bi al-Ma‟tsur. Ignaz Goldziher merupakan orientalis yang berasal dari Hungaria. Ignaz Goldziher memiliki karya di bidang Al-Qur‟an, yaitu “Die Riechtungen der Islamischen Koranauslegung”, dalam terjemahan bahasa Arabnya “Madzahib al-Tafsir al-Islami, dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “Mazhab Tafsir: Dari Klasik Hingga Modern. Dalam karyanya tersebut, Ignaz Goldziher membahas dalam satu bab khusus tentang tafsir bi al-ma‟tsur. Menurut Ignaz Goldziher, tafsir bi al-ma‟tsur adalah tafsir Al-Qur‟an yang disandarkan kepada penafsiran Nabi dan penafsiran para sahabatnya.
Perilaku Kewargaan Organisasi Guru dan Keterkaitannya dengan Efektivitas Sekolah Didit Darmawan; Ahmad Fadlil Zarkasyi; Muhammad Choirun Ni'am; Rahayu Mardikaningsih; Mila Hariani
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7955

Abstract

Artikel ini menguraikan pembahasan konseptual mengenai perilaku kewarganegaraan organisasi guru, yang dipahami sebagai tindakan sukarela yang melampaui deskripsi pekerjaan formal demi mendukung kelancaran operasional sekolah. Perilaku-perilaku tersebut meliputi membantu rekan kerja, memberikan bantuan tambahan kepada siswa, terlibat dalam kegiatan di luar tanggung jawab formal, mempromosikan sekolah kepada masyarakat, serta menunjukkan toleransi konstruktif terhadap ketidaksempurnaan prosedural sambil mencari solusi. Tulisan ini menguraikan bentuk-bentuk utama perilaku kewarganegaraan organisasi guru dan mengkaji faktor-faktor individu, antarpersonal, serta organisasional yang dapat mendorong atau melemahkan kemunculannya. Selain itu, pembahasan ini mengeksplorasi kontribusi perilaku sukarela tersebut terhadap efektivitas organisasi, khususnya dalam hal kelangsungan operasional, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, pembelajaran organisasi, dan reputasi sekolah. Perhatian diberikan pada risiko potensial ketika sekolah sangat bergantung pada upaya ekstra guru tanpa memberikan pengakuan atau dukungan yang memadai. Kerangka kerja yang diusulkan di sini dimaksudkan sebagai acuan normatif bagi pemimpin sekolah dan pembuat kebijakan dalam merancang budaya, praktik kepemimpinan, dan kebijakan sumber daya manusia yang mendorong perilaku kewarganegaraan organisasi yang sehat dan berkelanjutan di kalangan guru.  
Eksplorasi Pengalaman Belajar Generasi Z dalam Menggunakan Microlearning untuk Mengatasi Short Attention Span Uzdma Latifah; Preti preti; Anna Noprianty; Surawan surawan
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.6406

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman belajar siswa Generasi Z dalam memanfaatkan microlearning sebagai strategi untuk mengatasi rentang perhatian yang pendek di era digital. Penurunan rentang perhatian dipengaruhi oleh dominasi konten singkat berbasis algoritma yang membentuk pola konsumsi informasi secara cepat dan terfragmentasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi yang melibatkan siswa Generasi Z sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik dengan menerapkan triangulasi sumber serta pengecekan anggota untuk menjaga kredibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa cenderung kehilangan fokus setelah 10–30 menit pembelajaran konvensional. Microlearning dinilai lebih efektif karena penyajian materi yang singkat, terfokus, dan mudah dipahami. Pemanfaatan media visual, seperti infografis dan video pendek, terbukti mampu meningkatkan konsentrasi, pemahaman, serta retensi memori siswa. Dengan demikian, microlearning dapat menjadi strategi pembelajaran yang adaptif dan efektif, sesuai dengan karakteristik serta preferensi belajar Generasi Z di era digital
Membangun Lingkungan Belajar Kondusif melalui Manajemen Kelas yang Efektif Didit Darmawan; Mas Mukhammad Sholakhuddin A'inun; Dimas Putra Rizqi; Riky Achmad Ramdhani; Umar Ahmad Rozan Rohim
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7007

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep manajemen kelas sebagai kerangka kerja komprehensif berdasarkan tinjauan literatur. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur kualitatif dengan pendekatan analisis isi terhadap berbagai sumber ilmiah, seperti artikel jurnal, buku, dan prosiding konferensi. Temuan menunjukkan bahwa manajemen kelas merupakan konstruksi multidimensional yang mencakup pengelolaan aspek fisik, prosedural, dan psikososial. Elemen kunci dari manajemen kelas yang efektif meliputi penetapan harapan yang jelas, konsistensi dalam aturan, kemampuan untuk membaca dinamika kelas, pendekatan restoratif terhadap manajemen perilaku, dan penciptaan komunitas pembelajaran yang inklusif. Keberhasilan manajemen kelas tidak bergantung pada satu faktor saja, melainkan pada integrasi kompetensi pedagogis guru, dukungan institusional, dan keterlibatan orang tua. Temuan ini menyiratkan perlunya penguatan pengembangan profesional guru dalam manajemen kelas melalui pendidikan pra-jabatan dan pelatihan berkelanjutan. Makalah ini memberikan kontribusi teoretis dengan mensintesis kerangka kerja konseptual manajemen kelas dan berfungsi sebagai referensi bagi pendidik dalam merancang praktik manajemen kelas yang responsif terhadap kebutuhan siswa.
Integrasi Nilai Tauhid dan Karakter Peduli Lingkungan pada Siswa Melalui Program Talkin Akhlak di Sekolah Alam Insan Rabbani Sungai Penuh Mhd.Kurniawan; Elsa Hady Purti; Luthfia Rahmi; Engri Deaf Pariske; Ahmad Jamin; Oki Mitra
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7202

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi nilai tauhid dan karakter peduli lingkungan pada siswa melalui Program Talkin Akhlak di Sekolah Alam Insan Rabbani. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya penanaman nilai keislaman yang terintegrasi dengan pembentukan karakter peserta didik, khususnya dalam menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Program Talkin Akhlak dijadikan sebagai salah satu media pendidikan karakter yang menanamkan nilai tauhid melalui pembiasaan sikap, perilaku, dan kesadaran ekologis siswa dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru, dan siswa yang terlibat dalam pelaksanaan Program Talkin Akhlak. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh gambaran yang mendalam mengenai implementasi program tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai tauhid dalam Program Talkin Akhlak diwujudkan melalui pembelajaran yang menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Nilai-nilai tersebut diimplementasikan melalui kegiatan pembiasaan seperti menjaga kebersihan, merawat tanaman, mengelola sampah, dan memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran. Program ini berkontribusi dalam membentuk karakter peduli lingkungan pada siswa yang tercermin dari meningkatnya kesadaran, tanggung jawab, dan perilaku positif terhadap lingkungan sekolah maupun lingkungan sekitar. Dengan demikian, Program Talkin Akhlak menjadi salah satu strategi efektif dalam mengintegrasikan pendidikan tauhid dan pendidikan karakter berbasis lingkungan di sekolah.
Kepemimpinan Non-Muslim dalam Perspektif Islam: Analisis terhadap Pandangan Ulama dan Konteks Kehidupan Modern Uzdma Latifah; Nabila Sakina Putri; Husna Mukaromah; Ahmadi
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7275

Abstract

Kepemimpinan non-Muslim dalam perspektif Islam merupakan salah satu isu yang terus menjadi perdebatan di kalangan ulama maupun masyarakat Muslim hingga saat ini. Perbedaan pandangan muncul akibat adanya variasi penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan kepemimpinan, khususnya QS. Al-Ma’idah ayat 51. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kepemimpinan non-Muslim dalam perspektif Islam melalui pandangan ulama klasik dan kontemporer serta relevansinya dalam konteks kehidupan modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber seperti jurnal ilmiah, buku, tafsir Al-Qur’an, hadis, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tema kepemimpinan non-Muslim. Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif-analitis dengan membandingkan pandangan ulama klasik dan kontemporer mengenai kepemimpinan non-Muslim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulama klasik pada umumnya menolak kepemimpinan non- Muslim atas umat Islam karena dianggap bertentangan dengan prinsip kepemimpinan dalam Islam. Sementara itu, sebagian ulama kontemporer memandang persoalan ini secara lebih kontekstual dengan mempertimbangkan sistem demokrasi, pluralitas masyarakat, prinsip keadilan, serta kemaslahatan umat dalam kehidupan modern. Dalam konteks negara demokratis seperti Indonesia, pembahasan mengenai kepemimpinan non-Muslim tidak hanya berkaitan dengan aspek teologis, tetapi juga menyangkut persoalan hak warga negara, toleransi, dan persatuan bangsa. Oleh karena itu, diperlukan sikap moderat dan pemahaman yang komprehensif agar perbedaan pandangan tidak menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat.
Efikasi Diri dan Regulasi Diri Mahasiswa dalam Menghadapi Distraksi Pembelajaran Digital: Tinjauan Perspektif Konseling Islami Irma Jumida Yanti; M.Fahli Zatrahadi; Miftahuddin
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7306

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah sistem pembelajaran menjadi lebih mandiri, namun juga menimbulkan tantangan berupa distraksi digital yang dapat menurunkan konsentrasi dan hasil belajar mahasiswa. Studi ini bermaksud guna menganalisa efikasi diri dan regulasi diri mahasiswa dalam menghadapi distraksi pembelajaran digital serta mengkaji perannya dalam perspektif konseling Islami. Dengan meninjau sejumlah artikel jurnal ilmiah yang relevan dengan subjek yang dibahas, studi ini menerapkan metodologi studi literatur. Mengacu temuannya, dua faktor internal-efikasi diri dan pengaturan diri-sangat penting untuk mengendalikan pembelajaran seseorang dalam lingkungan digital. Rasa efikasi diri yang kuat dikaitkan dengan peningkatan kepercayaan diri, berkurangnya penundaan, serta berkurangnya kemungkinan dalam menyerah. Sementara itu, regulasi diri membantu mahasiswa dalam mengatur waktu, mengontrol perilaku, dan menjaga fokus belajar. Distraksi digital, terutama dari penggunaan media sosial, terbukti berdampak negatif terhadap konsentrasi dan hasil belajar. Dalam perspektif konseling Islami, konsep mujahadah an-nafs berperan dalam memperkuat pengendalian diri melalui nilai-nilai spiritual. Oleh karena itu, integrasi aspek psikologis dan spiritual menjadi penting dalam menghadapi tantangan pembelajaran di era digital