cover
Contact Name
Hasan Syahrizal
Contact Email
jurnalihsan@gmail.com
Phone
+6282352818690
Journal Mail Official
jurnalihsan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Sederhana Lorong Lambang Sari No.959, RT 001 RW. 006, Kelurahan Tembilahan Hulu Kecamatan Tembilahan Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau, Indonesia
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 30259150     EISSN : 29871298     DOI : https://doi.org/10.61104/ihsan.v1i2
Fokus dan Ruang Lingkup Ihsan: Jurnal Pendidikan Islam menerima naskah asli yang tidak diterbitkan dalam bahasa Indonesia atau Inggris, berdasarkan penelitian dari metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, campuran, atau metodologi apa pun yang terkait dengan pendidikan
Articles 479 Documents
Teacher Professional Ethics in Addressing the Changing Characteristics of Generation Alpha Students Risqi Andini; Rifkina Shufia Labibah; Amalia Shinta Defi; Nur Khasanah
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7041

Abstract

The rapid development of digital technology has shaped the characteristics of Generation Alpha learners, who are highly familiar with technology, visually oriented, interactive, and accustomed to instant access to information. These changes create new challenges for teachers in carrying out their professional duties. Many educational practices still rely on conventional approaches that are less relevant to current students. This study aims to analyze the importance of teacher professional ethics in responding to the changing character of Generation Alpha students. This research uses a qualitative library research approach by examining books, journal articles, and relevant academic sources. The findings show that teacher professional ethics remain a fundamental basis in education, but their implementation must be adjusted to current developments. Ethical values such as responsibility, integrity, fairness, exemplary conduct, empathy, and professionalism need to be integrated with digital literacy and adaptive learning approaches. The study also finds a gap between the ideal concept of teacher ethics and educational realities, where some teachers still face limitations in technology mastery and innovative teaching strategies. Therefore, redefining teacher professional ethics in the modern era is necessary to meet the needs of Generation Alpha learners.
Problematika dan Reorientasi Pendidikan Pesantren di Era Globalisasi Nor Alini; Muhammad Rizqi Bahrain; Ajahari
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7067

Abstract

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan problematika di era globalisasi yang terus berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi problematika yang dihadapi pendidikan pesantren dalam menghadapi era globalisasi; (2) menganalisis dampak globalisasi terhadap sistem pendidikan, kurikulum, dan nilai-nilai pesantren tradisional; serta (3) menyusun bentuk reorientasi pendidikan pesantren yang diperlukan agar tetap relevan tanpa kehilangan identitas keislaman. Metode yang digunakan adalah kajian literatur (library study) dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap berbagai sumber akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren menghadapi problematika internal berupa keterbatasan kurikulum tradisional, manajemen yang belum profesional, keterbatasan keuangan, serta sarana prasarana yang kurang memadai. Globalisasi membawa dampak signifikan pada perubahan sistem pendidikan, perubahan kurikulum, dan transformasi fungsi sosial pesantren. Reorientasi yang diperlukan meliputi rekonstruksi sinkronisasi integratif, penguatan literasi digital, pembentukan kompetensi abad ke-21, serta modernisasi manajemen pendidikan. Dengan reorientasi yang tepat, pesantren dapat menjadi lembaga pendidikan yang adaptif dan kompetitif di era global tanpa mengorbankan nilai-nilai keislaman.
Internalisasi Nilai-Nilai Akhlak Islami melalui Konten Religi Digital pada Peserta Didik Generasi Z M. Kasyful Anwar; Ahmad; Hendro Perdana Putra; Eko Nursalim
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7096

Abstract

Arus globalisasi yang semakin intens telah membawa perubahan signifikan dalam aspek budaya, sosial, dan moral kehidupan masyarakat, terutama pada Generasi Z yang sangat akrab dengan teknologi digital. Fenomena ini menimbulkan tantangan serius terhadap proses internalisasi nilai-nilai Islam, karena eksposur terhadap budaya global dapat melemahkan identitas spiritual dan karakter religius peserta didik muda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi internalisasi nilai-nilai Islam bagi Generasi Z di tengah pengaruh globalisasi yang kompleks dan dinamis. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui studi literatur yang bersumber dari artikel ilmiah, buku, serta penelitian terdahulu tentang pendidikan Islam, perkembangan remaja, dan dinamika budaya digital.Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai Islam bagi Generasi Z dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain penguatan literasi keislaman digital, keteladanan dalam lingkungan keluarga dan pendidikan, pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah kreatif, serta integrasi nilai-nilai Islam dalam kurikulum pendidikan formal maupun nonformal. Proses ini mencakup tahapan pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan sehingga terbentuk karakter religius yang kokoh. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa internalisasi nilai Islam di era globalisasi memerlukan inovasi pedagogis yang adaptif serta kolaborasi antara keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Temuan ini berimplikasi pada pengembangan kebijakan pendidikan Islam yang relevan dengan kebutuhan generasi digital.
Visualisasi Alam Ghaib: Mekanisme Istiarah dan Kontribusi Imajinasi Eskatologi dalam Shahih Bukhari dan Muslim Aang Saeful Milah; Muhammad Faqih Choiruddin; Clarisa Aulia Dewi; Anisa Fitriyani; Ilhamiyatul Hidayah
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7164

Abstract

Bahasa agama sering kali menghadapi tantangan epistemologis dalam menjembatani kognisi manusia yang terbatas dengan realitas metafisika yang absolut, khususnya dalam narasi eskatologi. Penelitian ini bertujuan untuk membedah mekanisme Istiarah (metafora) sebagai instrumen konstruksi imajinasi alam ghaib dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan retoris-hermeneutik berbasis kerangka Ilmu al-Bayan, penelitian ini melakukan analisis mikro-struktural terhadap hadis-hadis eskatologi pilihan yang memiliki intensitas visual tinggi. Data dikumpulkan melalui teknik purposive sampling dan dianalisis menggunakan metode dekonstruksi unsur retoris (Musta’ar Minhu, Musta’ar Lahu, Alaqah, dan Qarinah). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa narasi eskatologi dalam Sahih Bukhari dan Muslim secara dominan menggunakan Istiarah Makniyyah (50%) dan Istiarah Tamtsiliyyah (30%) untuk mentransformasikan konsep abstrak menjadi citraan konkret. Temuan spesifik menunjukkan bahwa personifikasi kematian sebagai entitas biologis dan animasi fenomena alam (seperti napas neraka dan sujudnya matahari) berfungsi sebagai visualizing agent yang mereduksi kompleksitas ontologis menjadi skema pengalaman duniawi. Hal ini membuktikan bahwa mekanisme Istiarah bekerja melalui pemetaan fungsional yang memungkinkan audiens membangun peta mental yang jelas mengenai realitas transenden. Implikasi teoretis dari penelitian ini memperluas fungsi Balagah klasik dari sekadar hiasan stilistika menjadi epistemologi visualisasi iman, sementara secara praktis memberikan kerangka interpretatif baru bagi pengajaran hadis agar terhindar dari bias literalisme kaku. Penelitian ini menegaskan posisi retorika kenabian sebagai mahakarya kognitif yang mengintegrasikan estetika linguistik dengan kedalaman teologis dalam diskursus akademik internasional.Bahasa agama sering kali menghadapi tantangan epistemologis dalam menjembatani kognisi manusia yang terbatas dengan realitas metafisika yang absolut, khususnya dalam narasi eskatologi. Penelitian ini bertujuan untuk membedah mekanisme Istiarah (metafora) sebagai instrumen konstruksi imajinasi alam ghaib dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan retoris-hermeneutik berbasis kerangka Ilmu al-Bayan, penelitian ini melakukan analisis mikro-struktural terhadap hadis-hadis eskatologi pilihan yang memiliki intensitas visual tinggi. Data dikumpulkan melalui teknik purposive sampling dan dianalisis menggunakan metode dekonstruksi unsur retoris (Musta’ar Minhu, Musta’ar Lahu, Alaqah, dan Qarinah). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa narasi eskatologi dalam Sahih Bukhari dan Muslim secara dominan menggunakan Istiarah Makniyyah (50%) dan Istiarah Tamtsiliyyah (30%) untuk mentransformasikan konsep abstrak menjadi citraan konkret. Temuan spesifik menunjukkan bahwa personifikasi kematian sebagai entitas biologis dan animasi fenomena alam (seperti napas neraka dan sujudnya matahari) berfungsi sebagai visualizing agent yang mereduksi kompleksitas ontologis menjadi skema pengalaman duniawi. Hal ini membuktikan bahwa mekanisme Istiarah bekerja melalui pemetaan fungsional yang memungkinkan audiens membangun peta mental yang jelas mengenai realitas transenden. Implikasi teoretis dari penelitian ini memperluas fungsi Balagah klasik dari sekadar hiasan stilistika menjadi epistemologi visualisasi iman, sementara secara praktis memberikan kerangka interpretatif baru bagi pengajaran hadis agar terhindar dari bias literalisme kaku. Penelitian ini menegaskan posisi retorika kenabian sebagai mahakarya kognitif yang mengintegrasikan estetika linguistik dengan kedalaman teologis dalam diskursus akademik internasional.
Implementasi Model Pembelajaran Discovery Learning Berbantuan Media Powerpoint dalam Memotivasi Siswa Belajar pada Pembelajaran Ipas Materi Perubahan Wujud Benda Kelas V SDN 3 Peguyangan Denpasar Wayan Santa Purna Irawan; I Made Wiguna Yasa; Made Gautama Jayadiningrat
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7198

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penggunaan model dan media pembelajaran yang mampu menciptakan suasana belajar yang aktif, menarik, dan bermakna bagi siswa. Dalam pembelajaran IPAS materi perubahan wujud benda, proses pembelajaran yang masih monoton menyebabkan peserta didik kurang aktif, kurang antusias, serta memiliki motivasi belajar yang rendah. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan mengimplementasikan model pembelajaran Discovery Learning berbantuan media PowerPoint. Adapun masalah yang dibahas dalam penelitian ini meliputi: (1) implementasi model pembelajaran Discovery Learning berbantuan media PowerPoint pada pembelajaran IPAS materi perubahan wujud benda, (2) kendala yang dihadapi dalam implementasi pembelajaran, dan (3) implikasi model pembelajaran Discovery Learning berbantuan media PowerPoint dalam memotivasi siswa belajar pada pembelajaran IPAS materi perubahan wujud benda kelas V SDN 3 Peguyangan Denpasar. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori konstruktivisme, teori motivasi belajar, dan teori behaviorisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian yaitu kepala sekolah, wali kelas V, dan siswa kelas V SDN 3 Peguyangan Denpasar. Metode pengumpulan data yang digunakan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran Discovery Learning berbantuan media PowerPoint mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, keaktifan, pemahaman konsep perubahan wujud benda, serta kemampuan kerja sama peserta didik. Selain itu, penggunaan media PowerPoint mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih interaktif, menarik, dan tidak monoton. Adapun kendala yang ditemukan yaitu keterbatasan waktu, siswa yang mudah terdistraksi saat diskusi kelompok, serta keterbatasan fasilitas pembelajaran.
Kedudukan Guru dalam Kepemimpinan Pendidikan Rahmatia. R; Syamsuddin
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7200

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji peranan dan kedudukan guru, kepemimpinan pendidikan, serta peran kepemimpinan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Guru memiliki posisi strategis karena tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, motivator, teladan, dan penggerak perubahan di lingkungan sekolah. Selain itu, kepemimpinan pendidikan menjadi faktor penting dalam keberhasilan lembaga pendidikan karena berkaitan dengan kemampuan memengaruhi, mengarahkan, dan menggerakkan seluruh komponen pendidikan agar tujuan pendidikan tercapai secara efektif dan efisien. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya hubungan antara peran guru dan kepemimpinan pendidikan dalam menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas serta pembentukan karakter peserta didik. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Data diperoleh dari buku, jurnal ilmiah, artikel, peraturan, dan sumber relevan lainnya. Pengumpulan data dilakukan melalui membaca, mencatat, memahami, dan mengelompokkan informasi terkait peran guru dan kepemimpinan pendidikan. Data kemudian dianalisis secara kualitatif dengan menelaah literatur, membandingkan pendapat ahli, serta menghubungkan teori yang relevan dengan fokus kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sangat penting dalam keberhasilan pendidikan sebagai pelaksana utama pembelajaran dan pembentuk karakter peserta didik. Kepemimpinan pendidikan juga berpengaruh besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, disiplin, dan inovatif. Peran kepemimpinan yang efektif mampu meningkatkan kerja sama, motivasi, serta arah organisasi pendidikan. Kesimpulannya, keberhasilan pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas guru dan kepemimpinan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kompetensi guru dan kepemimpinan secara berkelanjutan untuk menghasilkan peserta didik yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.
Servant Leadership Kepala Madrasah Integrasi dengan Nilai Pendidikan Islam: Kajian Literatur Dwi Salsa Nabila; Aisyah Nurul Azkia Efendi; M. Ihksan; Irsan Suryadi; Mudasir
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7371

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji secara komprehensif konsep servant leadership (kepemimpinan pelayan) kepala madrasah dalam perspektif pendidikan Islam melalui pendekatan kajian literatur. Fenomena lemahnya mutu pendidikan madrasah di Indonesia mendorong urgensi kajian kepemimpinan yang relevan secara teoritis maupun berbasis nilai-nilai Islam. Metode yang digunakan adalah systematic literature review (SLR). Hasil kajian menunjukkan bahwa servant leadership memiliki keselarasan yang kuat dengan nilai-nilai kepemimpinan Islam seperti khidmah, amanah, uswah hasanah, dan syura. Kepala madrasah yang menerapkan servant leadership berperan sebagai pelayan guru dan staf, pemberdaya sumber daya manusia, pembangun komunitas madrasah, serta teladan atau uswah hasanah bagi seluruh warga madrasah. Secara empiris, penerapan servant leadership terbukti berkontribusi positif terhadap peningkatan kinerja guru, motivasi kerja, budaya kolaboratif, serta mutu pendidikan madrasah secara keseluruhan. Kajian ini menegaskan bahwa servant leadership bukan sekadar model manajemen modern, melainkan merupakan manifestasi dari nilai-nilai kepemimpinan Islam yang telah lama dipraktikkan oleh para pemimpin Muslim terdahulu.
Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam antara Tradisi, Modernitas dan Spiritualitas Iyad Suryadi; Rikha Destya Rahmadanti; Rizki Akbar Mubaroq Azhar
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7417

Abstract

Perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi telah membawa perubahan yang signifikan terhadap dunia pendidikan, termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI). Kondisi tersebut menuntut adanya pembaruan paradigma pendidikan yang mampu mempertahankan nilai-nilai keislaman sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep rekonstruksi Pendidikan Agama Islam, menganalisis peran tradisi, modernitas, dan spiritualitas dalam pendidikan Islam, serta merumuskan model rekonstruksi yang sesuai dengan tantangan pendidikan masa kini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber ilmiah yang relevan, seperti buku, artikel jurnal, dan dokumen akademik, kemudian dianalisis melalui teknik analisis isi secara sistematis dan kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pendidikan Islam yang tercermin dalam turats, pesantren, dan nilai adab masih memiliki peran penting sebagai dasar pembentukan identitas pendidikan Islam. Di sisi lain, modernitas membuka peluang bagi pengembangan pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi, inovasi metode, dan penguatan kompetensi peserta didik. Sementara itu, spiritualitas menjadi unsur yang tidak dapat dipisahkan karena berfungsi membentuk karakter, akhlak, dan kesadaran religius. Kajian ini menghasilkan model rekonstruksi Pendidikan Agama Islam yang mengintegrasikan tradisi, modernitas, dan spiritualitas sebagai satu kesatuan yang saling mendukung dalam mewujudkan pendidikan Islam yang relevan, adaptif, dan berorientasi pada pembentukan manusia yang berilmu serta berakhlak mulia.
Integrasi Sains Dan Agama Sebagai Indikator Keunggulan Akademik Sekolah Islam : Studi Literatur Ikawa Rosyida; M. Nurul Humaidi
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7580

Abstract

Fenomena munculnya sekolah Islam unggul di Indonesia menunjukkan adanya perubahan pada system pendidikan yang lebih maju dengan model integrasi agama dan sains dalam kurikulumnya. Integrasi tersebut dipandang penting sebagai solusi terhadap pemisahan antara ilmu agama dan sains dalam praktik pendidikan selama ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi sains dan agama sebagai indicator keunggulan sekolah Islam. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan studi kepustakaan berupa pengumpulan data ilmiah melalui jurnal, buku, prosiding, dan dokumen akademik yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah Islam unggul berkembang sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat yang menekankan pada aspek spiritual maupun intelektual. Integrasi tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan kurikulum integrative, budaya religious sekolah, serta pembelajaran yang menghubungkan antara pengetahuan dengan nilai-nilai Islam. Selain itu, integrasi agama dan sains menjadi salah satu indicator utama keunggulan sekolah Islam karena mampu membangun keseimbangan antara spiritual dan intelektual. Meski demikian, implementasi integrasi ini masih menghadapi berbagai tantangan terutama pada kompetensi guru dan pengembangan kurikulum yang belum sepenuhnya sistematis. Dengan demikian, integrasi sains dan agama perlu terus dikembangkan agar sekolah Islam mampu menjadi model pendidikan Islam kontemporer yang menghasilkan kompetensi yang seimbang antara intelektual dan spiritual.
Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam sebagai Landasan Pembaruan Sistem Pendidikan Iskandar Mirza; Aris Warisman; Tri Ahmad Syarif
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7615

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi digital, globalisasi, dan perubahan sosial yang berlangsung secara cepat menuntut adanya pembaruan sistem pendidikan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman. Dalam konteks tersebut, Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak lagi cukup dipahami sebagai proses transmisi pengetahuan keagamaan yang bersifat normatif, tetapi harus direkonstruksi menjadi paradigma pendidikan yang mampu mengintegrasikan dimensi spiritual, intelektual, moral, dan sosial peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis urgensi rekonstruksi pemikiran Pendidikan Agama Islam sebagai landasan pembaruan sistem pendidikan serta merumuskan arah pengembangannya dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi pemikiran Pendidikan Agama Islam perlu diarahkan pada paradigma integratif, transformatif, dan kontekstual yang menghilangkan dikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Rekonstruksi tersebut mencakup pembaruan aspek epistemologi, kurikulum, metode pembelajaran, kompetensi pendidik, serta pemanfaatan teknologi digital. Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam dapat berfungsi sebagai fondasi dalam membangun sistem pendidikan yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik yang berakhlak mulia serta memiliki daya saing global.