cover
Contact Name
Hasan Syahrizal
Contact Email
jurnalihsan@gmail.com
Phone
+6282352818690
Journal Mail Official
jurnalihsan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Sederhana Lorong Lambang Sari No.959, RT 001 RW. 006, Kelurahan Tembilahan Hulu Kecamatan Tembilahan Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau, Indonesia
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 30259150     EISSN : 29871298     DOI : https://doi.org/10.61104/ihsan.v1i2
Fokus dan Ruang Lingkup Ihsan: Jurnal Pendidikan Islam menerima naskah asli yang tidak diterbitkan dalam bahasa Indonesia atau Inggris, berdasarkan penelitian dari metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, campuran, atau metodologi apa pun yang terkait dengan pendidikan
Articles 479 Documents
Arah Baru Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam dalam Membangun Peradaban Iskandar Mirza; M. Bisri Syamsuri; Ali Fakhri
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7631

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) menempati posisi strategi dan memainkan peran penting dalam membentuk karakter, pola piker, dan orientasi hidup peserta didik sebagai bagian dari fondasi bagi pembangunan peradaban. Sebaliknya, akibat dinamika global kemajuan teknologi, perubahan sosial, krisis moral, serta tren pengetahuan paradigma baru, pola pikir PAI perlu direkonstruksi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Makalah ini bertujuan untuk merekonstruksi pemikiran Pendidikan Agama Islam menuju peradaban. Penelitian ini merupakan studi literatur yang menelaah berbagai literatur dan hasil penelitian dengan rujukan pada perkembangan pemikiran pendidikan Islam kontemporer. Studi ini menyimpulkan bahwa upaya rekonstruksi pemikiran PAI perlu diarahkan pada penguatan integrasi antara nilai-nilai Islam dan pengetahuan, pengembangan pembelajaran yang kritis dan reflektif, serta penguatan dimensi humanistik-transformatif dalam pendidikan. Selain itu, Pendidikan Agama Islam perlu memposisikan peserta didik sebagai subjek yang kreatif dan mampu merespons peluang sosial, budaya, dan teknologi tanpa menghilangkan identitas mereka sebagai peserta didik madrasah. Arah baru menegaskan bahwa PAI tidak hanya menjadi media untuk transfer pengetahuan agama, tetapi juga alat dalam pengembangan manusia rasional, spiritual, dan mampu secara sosial untuk berkontribusi pada peradaban yang lebih baik yang melalui keterlibatan berorientasi ke depan dapat menjadi benteng terhadap masyarakat yang inklusif dan adil. Oleh karena itu, rekonstruksi pemikiran Pendidikan Agama Islam merupakan kebutuhan yang mendesak untuk mewujudkan generasi yang memiliki ketahanan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan perkembangan sosial global yang ada.
Intensitas Ibadah dan Stres Akademik pada Mahasiswa dari Perspektif Coping Spiritual Sri Fatmawati; Rita Juliawati; Niswatun Al-Anah Wibowo; Resty Aulia Nurmaya Ulfi; Keisya Angie Nurul Fatihah; Surawan Surawan
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7636

Abstract

Stres akademik merupakan salah satu permasalahan yang sering dialami mahasiswa akibat berbagai tuntutan dalam proses perkuliahan. Dalam perspektif pendidikan Islam, praktik ibadah dapat menjadi salah satu sumber kekuatan spiritual yang membantu individu menghadapi tekanan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara intensitas ibadah dan stres akademik mahasiswa dalam perspektif coping spiritual dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain survei korelasional terhadap 30 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Data dikumpulkan melalui angket skala Likert dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta korelasi Spearman Rank Correlation dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat dan signifikan dengan arah negatif antara intensitas ibadah dan stres akademik (r = -0,981; p < 0,05), yang berarti semakin tinggi intensitas ibadah maka semakin rendah tingkat stres akademik mahasiswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa praktik ibadah berpotensi menjadi salah satu bentuk coping spiritual yang berkaitan dengan pengelolaan stres akademik, khususnya pada konteks responden yang diteliti.
Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam dalam Menyiapkan Generasi Qur’ani Iyad Suryadi; Aziz Mujadilah; Deni Suhendar
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7667

Abstract

Tantangan globalisasi, lompatan teknologi era Society 5.0, serta krisis eksistensial-moralitas kontemporer menuntut adanya reorientasi radikal-paradigmatik dalam sistem Pendidikan Agama Islam (PAI). Selama ini, PAI dinilai masih terjebak dalam lingkaran patologi akademik yang bersifat formalistik, kognitif-teoretis, dikotomis, dan ahistoris (steril darirealitas zaman). Akibatnya, terjadi diskoneksi antara pemahaman teks keagamaan siswa dengan realitas sosial. Artikel ini bertujuan untuk merumuskan cetak biru (blueprint) rekonstruksi pemikiran PAI demi melahirkan generasi Qur’ani—generasi mutamaddun yang mengintegrasikan ketajaman intelektual (fikir) dan kedalaman spiritual (dzikir). Menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis berbasis studi kepustakaan (library research), penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi PAI wajib menyentuh empat aspek fundamental secara holistik: rekonstruksi filosofis-epistemologis melalui paradigma integrasi-interkoneksi ilmu, rekonstruksi kurikulum berbasis kontekstualisasi isu-isu kontemporer, rekonstruksi metodologis transformatif-dialogis berbasis hermeneutika emansipatoris, serta reorientasi peran pendidik berbasis tekno-pedagogi kemanusiaan. Implikasi dari rekonstruksi ini adalah reposisi PAI dari sekadar transfer pengetahuan verbal-doktriner (transmission of knowledge) menjadi instrumen pembebasan profetik yang hidup, adaptif, dan solutif terhadap dinamika peradaban.
Rekontruksi Epistemologi Pendidikan Agama Islam dalam Konteks Perkembangan Ilmu Pengetahuan Iskandar Mirza; Wulan Setyaningrum; Rosmayati
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7668

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji epistemologi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan merumuskan langkah-langkah rekonstruksinya dalam menjawab tantangan era modern yang ditandai oleh kemajuan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan disrupsi informasi. PAI saat ini menghadapi tantangan fundamental berupa dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang berdampak pada fragmentasi pengetahuan serta ketidaksiapan peserta didik dalam menghadapi realitas kehidupan yang kompleks. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) karena fokus kajian terletak pada analisis rekonstruksi epistemologi PAI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi epistemologi PAI harus diarahkan pada paradigma integratif-interkonektif yang menghapus pemisahan antara aspek spiritual dan intelektual. Rekonstruksi ini dilakukan dengan mensinergikan tiga pilar utama sumber pengetahuan, yaitu wahyu (bayani), akal (burhani), dan pengalaman empiris atau intuisi spiritual (irfani). Integrasi ini memungkinkan PAI untuk tetap relevan dalam perkembangan dan teknologi tanpa kehilangan identitas moral dan etika dasarnya. Dengan landasan epistemologis yang utuh, PAI diharapkan mampu melahirkan generasi Muslim yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan spiritual, intelektual, sosial, dan teknologi guna membangun peradaban global yang berkeadaban.
Rekonstruksi Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Kebutuhan Zaman Iskandar Mirza; Indra Kurnia; Muhammad Beryl Walida Askari
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7672

Abstract

Studi ini diarahkan untuk mengonseptualisasikan arah baru rekonstruksi kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) yang selaras dengan akselerasi teknologi, arus globalisasi, serta transformasi sosial kontemporer. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research), eksplorasi data bersumber dari literatur buku, jurnal ilmiah, dan dokumen akademik yang mengkaji epistemologi PAI serta paradigma pendidikan integratif. Pengumpulan data dioptimalisasi lewat teknik dokumentasi, yang kemudian dibedah menggunakan analisis isi (content analysis) melalui fase reduksi, kategorisasi, interpretasi, hingga konklusi. Temuan merujuk pada urgensi pergeseran orientasi kurikulum PAI yang mulanya dominan bersifat normatif-kognitif menuju model yang lebih kontekstual, integratif, dan adaptif. Aktualisasi rekonstruksi tersebut dimanifestasikan melalui implementasi pendekatan integratif-interkonektif, sublimasi instrumen teknologi dalam pedagogi, internalisasi karakter mulia, serta penguasaan kecakapan abad ke-21. Meski demikian, aksentuasi tauhid tetap diposisikan sebagai jangkar filosofis utama. Reorientasi ini menjadi rute strategis guna mengafirmasi lahirnya generasi yang kokoh secara spiritual, sekaligus cakap secara global, kritis, dan berdaya saing tinggi
Rekontruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam Berbasis Nilai, Akhlak, dan Peradaban Iyad Suryadi; Neni Sriyani; Rosalia Ananta
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7681

Abstract

Perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat, termasuk pada bidang pendidikan. Kondisi tersebut memunculkan berbagai persoalan, seperti melemahnya nilai-nilai moral, meningkatnya individualisme, serta tantangan dalam mempertahankan identitas keislaman di tengah arus modernisasi. Di sisi lain, pendidikan Islam masih menghadapi berbagai kendala, antara lain pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum, dominasi pendekatan pembelajaran yang bersifat teoritis, serta belum optimalnya penguatan  karakter dalam proses pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis rekonstruksi pemikiran pendidikan Islam yang berlandaskan nilai, akhlak, dan peradaban sebagai strategi dalam menjawab tantangan era global. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui kajian terhadap berbagai literatur pendidikan Islam klasik maupun kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Islam perlu dikembangkan melalui penguatan nilai-nilai spiritual, pembentukan akhlak sebagai inti pendidikan, serta pengembangan wawasan peradaban yang berorientasi pada kemajuan umat. Implementasi gagasan tersebut dapat diwujudkan melalui kurikulum yang integratif, pembelajaran yang holistik, lingkungan pendidikan yang kondusif, serta pemanfaatan teknologi yang berlandaskan etika dan nilai-nilai Islam. Rekonstruksi pendidikan Islam yang demikian diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, kepedulian sosial, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Dengan demikian, pendidikan Islam dapat berfungsi sebagai sarana pembentukan insan yang berkarakter sekaligus berkontribusi dalam pembangunan peradaban yang berkelanjutan
Dinamika Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam di Tengah Perubahan Sosial Iskandar Mirza; M. Sukron; Cucu Hasanah
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7686

Abstract

Perubahan sosial yang masif di era masyarakat digital dan globalisasi menuntut institusi serta pemikir pendidikan Islam untuk melakukan reorientasi secara mendasar. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dinamika rekonstruksi pemikiran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam merespons pergeseran nilai, budaya, keagamaan, dan teknologi di masyarakat modern. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), penelitian ini menelaah literatur pemikiran pendidikan kontemporer serta fenomena sosiologis masyarakat siber. Hasil penelitian menemukan bahwa model PAI konvensional yang cenderung doktriner, tekstual, dan dikotomis mulai kehilangan relevansinya di hadapan generasi Z dan Alpha yang memiliki karakteristik kritis dan berbasis digital. Rekonstruksi pemikiran PAI kontemporer bertumpu pada tiga pilar utama: rekonstruksi epistemologis melalui pendekatan integrasi-interkoneksi antara ilmu agama dan sains; rekonstruksi kurikulum berbasis kontekstualisasi isu sosial; serta rekonstruksi metodologis yang bertransformasi menuju pembelajaran dialogis-inklusif. Hasil rekonstruksi ini diharapkan mampu mengubah paradigma PAI dari sekadar transfer pengetahuan (transfer of knowledge) menjadi penggerak transformasi moral dan kesalehan sosial yang aplikatif (transformative learning).
Pengelolaan Kelas yang Responsif: Pendekatan Diferensiasi dalam Pembelajaran Didit Darmawan; Elica Zuliatul Fitria; Milda Azzania; Rahayu Mardikaningsih; Muhammad Yusron Maulana El-Yunusi
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7693

Abstract

Manajemen pembelajaran yang dibedakan merupakan pendekatan pendidikan yang memerlukan perencanaan sistematis, penilaian diagnostik yang akurat, pengelompokan yang fleksibel, dan evaluasi yang komprehensif. Tinjauan pustaka kualitatif ini mengeksplorasi bagaimana pembelajaran yang dibedakan dikelola untuk menanggapi keragaman siswa dan memastikan pengalaman belajar yang optimal. Penelitian ini mengungkapkan bahwa keberhasilan implementasi bergantung pada kemampuan guru untuk membedakan konten, proses, dan hasil belajar sesuai dengan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa. Dukungan kepala sekolah, pengembangan profesional guru, kolaborasi antar guru, dan keterlibatan siswa muncul sebagai faktor penentu keberhasilan yang krusial. Integrasi teknologi memperkaya implementasi tetapi memerlukan pemahaman tentang etika digital. Tantangan utama meliputi kompleksitas manajemen kelas, keterbatasan sumber daya, dan penanganan keragaman yang ekstrem. Pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan membantu mengatasi tantangan tersebut. Studi ini memberikan pemahaman dasar untuk merancang sistem manajemen pengajaran yang dibedakan yang memastikan setiap siswa menerima pengalaman belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan unik mereka, sehingga memungkinkan mereka mencapai potensi penuh mereka
Kepemimpinan Sekolah, Dimensi Kepuasan Kerja Guru, dan Upaya Peningkatannya bagi Pembelajaran Organisasi Mila Hariani; Ichyaul Ilmi; Imaniha Khoiro; Rahayu Mardikaningsih; Didit Darmawan
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7766

Abstract

Artikel ini menyajikan diskusi normatif tentang kepuasan kerja guru, dengan fokus pada dimensi utama dan strategi konseptual untuk meningkatkannya di sekolah. Kepuasan kerja guru dipandang sebagai evaluasi subjektif terhadap isi pekerjaan, hubungan dengan rekan kerja, kualitas kepemimpinan, kompensasi, dan peluang untuk pertumbuhan profesional. Makalah ini menguraikan bagaimana dimensi-dimensi ini digabungkan untuk membentuk pengalaman guru dan mengemukakan perlunya mengelolanya secara sistematis. Survei kepuasan kerja rutin diusulkan sebagai sarana untuk menangkap persepsi guru, asalkan instrumennya dirancang dengan cermat dan diikuti dengan interpretasi yang bijaksana. Artikel ini kemudian membahas identifikasi sumber ketidakpuasan yang berulang, seperti ketidakseimbangan beban kerja, ekspektasi peran yang tidak jelas, dan terbatasnya partisipasi dalam pengambilan keputusan. Intervensi terstruktur secara konseptual dipetakan pada tingkat kebijakan, hubungan, dan dukungan individu, dengan penekanan pada partisipasi guru dalam merancang solusi. Kerangka kerja keseluruhan ini menyoroti hubungan antara kepuasan kerja guru, pembelajaran organisasi, dan stabilitas kelembagaan, dan dimaksudkan sebagai referensi konseptual bagi para pemimpin sekolah dan pembuat kebijakan.
Integrasi Nilai-Nilai Islam dalam Kurikulum Modern: Studi Literatur Jelita Ramadhani Marpaung; Nur Hasanah; Inom Nasution
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7776

Abstract

Dinamika pendidikan di era globalisasi menuntut desain kurikulum kontemporer yang tidak hanya berfokus pada prestasi akademik di bidang STEM, tetapi juga menyentuh aspek moral-spiritual peserta didik. Dominasi pendekatan sekuler-positivistik dalam kurikulum modern saat ini memicu risiko sekularisasi akademik dan degradasi moral. Studi ini bertujuan untuk memetakan secara komprehensif urgensi, berbagai model, dan kendala operasional dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam kurikulum modern untuk menghilangkan dikotomi pengetahuan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode tinjauan pustaka. Data sekunder dikumpulkan secara digital dari draf artikel jurnal ilmiah nasional (terindeks Sinta) dan internasional (terindeks Scopus/WoS) yang bereputasi dalam lima tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai Islam (tauhid, akhlak, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan toleransi) melalui materi, metode, budaya, dan evaluasi mampu menciptakan pembelajaran holistik yang menyelaraskan kecerdasan intelektual dan spiritual. Konsep integrasi ini diimplementasikan melalui Model Infusi, Model Tematik, dan Model Filosofis, serta mengadaptasi tipologi kurikulum terintegrasi Robin Fogarty (Model Terhubung, Berjaring, Terintegrasi, dan Bersarang). Meskipun ideal, implementasi di lapangan menghadapi hambatan multidimensional seperti mentalitas silo (resistensi psikologis pendidik), keterbatasan perangkat pengajaran terintegrasi, kekakuan manajemen birokrasi jadwal sekolah, dan kompleksitas pengembangan instrumen penilaian autentik multi-aspek. Sebagai solusi praktis, perlu untuk mengoptimalkan komunitas pembelajaran lintas disiplin, merekonstruksi kebijakan, menerapkan sistem penjadwalan blok, dan menumbuhkan fleksibilitas dalam kepemimpinan sekolah untuk mendukung keberlanjutan kurikulum integratif adaptif tanpa merendahkan nilai-nilai agama.