cover
Contact Name
Megan Asri Humaira
Contact Email
megan.asri@unida.ac.id
Phone
+6281314039779
Journal Mail Official
karimah.tauhid@unida.ac.id
Editorial Address
Universitas Djuanda cc. Badan Pengembangan Keilmuan Jl Tol Ciawi No 1, Bogor, Jawa Barat, Indonesia email: karimah.tauhid@unida.ac.id
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Karimah Tauhid
ISSN : -     EISSN : 2963590X     DOI : https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v2i5
Karya Ilmiah yang diterbitkan merupakan hasil penelitian maupun pengabdian yang mencakup semua bidang ilmu baik dalam bidang sosial maupun eksakta.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,745 Documents
Literatur Review : Efektivitas Pencucian Buah Tomat (Solanum lycopersicum) dalam Menurunkan Kadar Difenokonazol dan Azoksistrobin Widya Firdiani Chandraningtyas; Raden Siti Nurlaela; Distya Riski Hapsari
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25389

Abstract

Tomat merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia yang rentan terhadap hama dan jamur, sehingga petani sering menggunakan fungisida difenokonazol dan azoksistrobin secara berlebihan, yang mengakibatkan residunya menempel pada buah dan berpotensi membahayakan konsumen. Efektivitas berbagai metode pencucian dalam mengurangi residu tersebut masih belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas pencucian buah tomat dalam menurunkan kadar residu difenokonazol dan azoksistrobin berdasarkan kajian literatur. Metode yang digunakan adalah literature review melalui Google Scholar, ScienceDirect, dan PubMed dengan dengan prioritas publikasi 10 tahun terakhir. Data diekstrak dari dua jurnal relevan, meliputi jenis larutan pencuci, durasi pencucian, dan persentase penurunan residu, kemudian dibandingkan secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pencucian dengan air mengalir selama 5 detik mampu menurunkan residu difenokonazol sebesar 66,24% dan azoksistrobin sebesar 46,89%; pencucian 10 detik menurunkan difenokonazol hingga 100% dan azoksistrobin sebesar 93,93%; serta pencucian 15 detik mampu menghilangkan kedua residu hingga 100%. Sebaliknya, perendaman dalam air biasa, asam asetat 5%, natrium bikarbonat 5%, dan natrium hipoklorit 1% selama 30 menit hanya mencapai efektivitas maksimal 47%. Dengan demikian pencucian tomat dengan air mengalir selama minimal 15 detik terbukti menjadi metode paling efektif, praktis, dan ekonomis untuk meminimalkan residu fungisida, sehingga direkomendasikan sebagai standar bagi konsumen maupun industri pangan.
Analisis Kegagalan Produk Bakso Sapi Akibat Kontaminasi Mikrobiologi Menggunakan Pendekatan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) Nurul Alfiah; Reva Aprila; Fazhira Syaffa Alexandra; Anisa Safira Azzahra; Nadiyah Rahman; Intan Kusumaningrum
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25406

Abstract

Bakso sapi merupakan produk olahan daging yang memiliki kandungan protein dan kadar air tinggi sehingga rentan mengalami kontaminasi mikrobiologi selama proses produksi, penyimpanan, maupun distribusi. Kontaminasi oleh mikroorganisme patogen seperti Escherichia coli, Salmonella spp., dan Staphylococcus aureus dapat menurunkan mutu produk serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada konsumen. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor penyebab kegagalan produk bakso sapi akibat kontaminasi mikrobiologi serta menentukan titik kendali kritis menggunakan pendekatan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai sumber ilmiah, standar keamanan pangan, dan dokumen terkait HACCP yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi kontaminasi dapat terjadi pada hampir seluruh tahapan produksi, terutama pada penerimaan bahan baku, pencucian, penggilingan, pencampuran, pencetakan, pendinginan, pengemasan, dan penyimpanan. Tahap perebusan dan pematangan ditetapkan sebagai Critical Control Point (CCP) karena berperan langsung dalam mengendalikan bahaya mikrobiologi melalui perlakuan panas yang memadai. Keberhasilan penerapan HACCP didukung oleh penetapan batas kritis, pemantauan yang konsisten, tindakan koreksi yang tepat, serta sistem verifikasi dan dokumentasi yang baik. Dengan penerapan HACCP secara menyeluruh, risiko kontaminasi mikrobiologi dapat diminimalkan sehingga mutu dan keamanan bakso sapi lebih terjamin bagi konsumen.
Kajian Literatur Pemanfaatan Ampas Tahu dalam Pembuatan Tempe Gembus sebagai Produk Pangan Fermentasi Nayla Sabilla Ramadhani; Fazhira Syaffa Alexandra; Resti Reswati; Reva Aprilia; Novia Khansa Ramadhania; Intan Kusumaningrum
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25413

Abstract

Ampas tahu merupakan hasil samping industri tahu yang masih mengandung berbagai zat gizi, seperti protein, karbohidrat, lemak, dan serat pangan, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku produk pangan fermentasi. Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah melalui pengolahan menjadi tempe gembus dengan bantuan kapang Rhizopus spp. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ampas tahu sebagai bahan baku tempe gembus, proses fermentasi yang terlibat, perubahan karakteristik produk, serta manfaatnya dari aspek gizi, ekonomi, dan lingkungan. Metode yang digunakan berupa studi literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah yang relevan, meliputi jurnal penelitian, artikel tinjauan, buku, dan sumber pustaka lainnya yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa fermentasi ampas tahu oleh Rhizopus spp. mampu memperbaiki karakteristik fisik dan sensori produk, meningkatkan daya cerna zat gizi, serta menghasilkan senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan manfaat kesehatan. Tempe gembus memiliki kandungan serat yang relatif tinggi, harga yang terjangkau, dan nilai ekonomi yang baik karena mampu meningkatkan nilai guna limbah industri tahu. Selain mendukung pengurangan limbah organik, pengolahan ampas tahu menjadi tempe gembus juga sejalan dengan prinsip produksi pangan berkelanjutan dan ekonomi sirkular. Meskipun demikian, pengembangan lebih lanjut masih diperlukan, terutama dalam peningkatan mutu, daya simpan, dan penerimaan konsumen terhadap produk.
Peran Sanitasi dalam Pengawasan Mutu dan Keamanan Pangan di Industri Pangan Indonesia Fazhira Syaffa Alexandra; Raden Siti Nurlaela; Distya Riski Hapsari
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25418

Abstract

Sanitasi merupakan salah satu aspek penting dalam sistem pengawasan mutu dan keamanan pangan karena berperan dalam mencegah terjadinya kontaminasi fisik, kimia, dan biologis pada produk pangan. Penerapan sanitasi yang baik dapat menjaga kualitas produk, melindungi kesehatan konsumen, serta meningkatkan daya saing industri pangan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran sanitasi dalam pengawasan mutu dan keamanan pangan di industri pangan Indonesia melalui pendekatan studi literatur. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menelaah berbagai jurnal ilmiah, buku, dan peraturan yang berkaitan dengan sanitasi, higiene, dan keamanan pangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan sanitasi yang efektif mencakup kebersihan lingkungan produksi, sanitasi peralatan, kualitas air, higiene pekerja, serta penerapan sistem Good Manufacturing Practices (GMP), Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP), dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Namun, implementasi sanitasi di Indonesia, terutama pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan fasilitas, rendahnya kesadaran pekerja, dan kurang optimalnya pengawasan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi, penguatan pengawasan, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk mewujudkan sistem pangan yang aman dan bermutu.
Pemanfaatan Kulit Semangka (Citrullus Lanatus) sebagai Bahan Baku Pembuatan Kimchi dan Karakteristik Organoleptiknya Selama Fermentasi Dhiva Dwi Handayani; Desti Isna Danias; Noviyanti Sutisna; Desti Novia Salsabilla; Saphira Aulia Effendi; Siti Nurjannah; Intan kusumaningrum; Tiara Amanda Lestari
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25420

Abstract

Kulit semangka (Citrullus lanatus) menyusun ±30% bobot buah dan kaya senyawa bioaktif seperti L-citrullin, arginin, flavanol, dan fenolik, namun umumnya dibuang sebagai limbah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kimchi berbahan dasar kulit semangka dan mengamati perubahan karakteristik organoleptiknya selama fermentasi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pengamatan empat parameter sensori (warna, rasa, tekstur, aroma) oleh enam (6) pengamat, pada hari ke-0 hingga ke-3 menggunakan skala deskriptif terstruktur. Warna konsisten pada skor +2 (merah) sepanjang fermentasi akibat dominasi cabai bubuk dan likopen alami kulit semangka. Rasa berkembang dari +1 (sangat tidak asam) pada hari ke-0 menjadi +4 (sangat asam) sejak hari ke-2 dan bertahan hingga hari ke-3, mencerminkan aktivitas BAL yang cepat difasilitasi oleh kadar air dan karbohidrat substrat yang tinggi. Aroma mengalami dinamika paling menonjol dengan lonjakan ke +4 (sangat beraroma khas kimchi) pada hari ke-1, lalu menstabil di +3 hingga akhir pengamatan. Tekstur tidak berubah dan konsisten di skor +2 (keras), diduga akibat struktur jaringan kulit semangka yang memperlambat laju osmosis garam. Penelitian ini terbatas tanpa analisis fisikokimia, durasi fermentasi lebih panjang, serta pengukuran pH dan total asam diperlukan. Kulit semangka terbukti dapat difermentasi secara asam laktat menghasilkan kimchi dengan perubahan organoleptik nyata, menjadikannya bahan baku alternatif yang potensial sekaligus solusi valorisasi limbah agroindustri.
Pengolahan Limbah Kulit Buah Nanas (Ananas Comosus) menjadi Minuman Probiotik Tepache Melda Putri Rahayu; Sabila Anisa Rullia; Arlita Nada Putri; Ashila Maziyya Fairuz Firdaus; Gita Nur Eriani; Amanda Artatia Putri; Intan Kusumaningrum; Tiara Amanda Lestari
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25425

Abstract

Nanas (Ananas comosus) merupakan salah satu jenis buah yang umum dibudidayakan dan dikembangkan di Indonesia, yang dapat tumbuh dengan baik di lingkungan tropis negara ini. Salah satu hasil sampingan yang dihasilkan dalam jumlah banyak dari pengolahan buah nanas adalah kulitnya, meskipun bagian ini masih mengandung beragam senyawa bioaktif dan nutrisi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional. Senyawa bioaktif yang terdapat dalam kulit nanas sangat bervariasi dan melimpah, termasuk flavonoid, bromelin, tanin, oksalat, dan pitat. Bromelin, yang merupakan enzim pengurai protein, berfungsi untuk memecah molekul protein dan menghambat pertumbuhan mikroba dengan cara memutus ikatan protein di dalam bakteri. Tahapan yang dilakukan meliputi fermentasi kulit nanas dengan penambahan gula dan air selama tiga hari (72 jam), diikuti dengan pengamatan organoleptik terhadap warna, rasa, aroma, dan pembentukan buih. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa selama proses fermentasi, karakteristik larutan berubah dari jernih menjadi kuning keruh, dengan rasa yang beralih dari manis menjadi manis asam, muncul aroma khas fermentasi, dan terlihat adanya buih serta sedikit karbonasi. Perubahan ini terjadi akibat aktivitas mikroorganisme, terutama bakteri asam laktat, yang mengubah gula menjadi asam laktat, etanol, karbon dioksida, serta menghasilkan energi. Dengan demikian, kulit nanas memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan baku untuk minuman probiotik yang bernilai tambah sekaligus membantu mengurangi limbah di sektor agroindustri.
Peran Bahan Baku sebagai Faktor Penentu Mutu Produk Akhir pada Agroindustri Pangan Salma Rukhiatul Khafiza; Raden Siti Nurlaela; Distya Riski Hapsari
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25436

Abstract

Kualitas bahan baku merupakan faktor penting dalam menentukan mutu pada produksi pangan agroindustri karena bahan baku menjadi komponen utama yang akan mengalami perubahan selama proses produksi. Meski demikian, permasalahan terkait bahan baku masih terjadi, terutama karena adanya bahan yang belum memenuhi standar mutu yang berlaku, sehingga dapat berdampak terhadap mutu produk akhir. Tujuan dari penulisan kajian ini yaitu untuk menganalisis peranan bahan baku terhadap mutu produk akhir serta pentingnya pengendalian mutu bahan baku dalam agroindustri pangan. Metode yang digunakan pada penyusunan kajian ini yaitu studi literatur dari berbagai sumber referensi yang relevan mengenai pengendalian mutu bahan baku pada agroindustri pangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kualitas bahan baku berdampak langsung terhadap mutu produk, baik dari aspek fisik, kimia, mikrobiologi maupun dalam keamanan pangan. Bahan baku yang berkualitas mampu meningkatkan konsistensi produk, memperpanjang umur simpan, serta dapat mengurangi risiko terjadinya cacat produk selama proses pengolahan. Walaupun demikian, berdasarkan studi literatur menunjukkan bahwa penerapan dalam pengendalian mutu disarankan untuk data dilakukan dari tahap penerimaan dan pemilihan bahan baku untuk meningkatkan keberhasilan menciotakan produk agroindustri pangan dengan kualitas baik, aman dikonsumsi, efisien dalam proses produksi, serta memenuhi standar yang berlaku.
Standar Privat dan Daya Saing Industri Pangan Indonesia: Transformasi Strategis HACCP, ISO 22000, FSSC 22000, dan BRCGS dalam Perdagangan Global Sahnur Mulya; Widhyastuti Prawoto; Aji Jumiono
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25439

Abstract

Ketatnya standar keamanan pangan global dalam rezim WTO/SPS sering kali menjadi hambatan teknis bagi eksportir pangan Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran standar privat (HACCP, ISO 22000, FSSC 22000, BRCGS) sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan daya saing ekspor dan mengintegrasikannya dengan prinsip etika Halalan Thayyiban. Kajian ini menggunakan pendekatan literature review dan telaah regulasi deskriptif-kualitatif terhadap artikel ilmiah bereputasi serta dokumen standar internasional dalam rentang waktu 5–10 tahun terakhir. Hasil analisis menunjukkan bahwa sertifikasi standar privat berfungsi sebagai "paspor" akses pasar yang meningkatkan nilai ekspor dan kinerja operasional perusahaan secara signifikan melalui penguatan sistem manajemen risiko. Namun, implementasinya masih terkendala oleh biaya tinggi, kerumitan dokumentasi, dan ketidaksiapan sistem ketertelusuran pada level UMKM. Standar privat tidak boleh dipandang sekadar sebagai beban kepatuhan, melainkan sebagai manifestasi nilai thayyib yang menjamin kemaslahatan publik dan integritas rantai pasok global. Rekomendasi strategis mencakup dukungan pembiayaan sertifikasi dan penguatan infrastruktur digital untuk ketertelusuran yang terintegrasi dengan nilai-nilai ketauhidan.
Peran Codex Alimentarius dalam Harmonisasi Standar Keamanan Pangan dan Tantangan Implementasinya di Indonesia (Studi Kasus Regulasi Residu Pestisida pada Komoditas Pertanian Ekspor) Nida Idzni; Septa Sopiatun; Aji Jumiono
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25448

Abstract

Implementasi standar Codex Alimentarius dalam sistem regulasi pangan nasional masih menjadi tantangan signifikan bagi Indonesia sebagai negara berkembang dengan potensi ekspor pangan yang besar. Codex Alimentarius Commission (CAC), badan antarpemerintah bentukan FAO dan WHO sejak 1963, memperoleh legitimasi hukum melalui WTO/SPS Agreement sebagai acuan utama perdagangan pangan global, mencakup aspek keamanan pangan, pelabelan, higiene, residu pestisida, kontaminan, dan bahan tambahan pangan. Artikel ini mengkaji peran Codex sebagai acuan global standar keamanan pangan, menelaah mekanisme komite-komite teknisnya, menganalisis hubungannya dengan FAO, WHO, dan WTO, serta mengidentifikasi tantangan harmonisasi di Indonesia. Regulasi residu pestisida pada komoditas teh digunakan sebagai studi kasus konkret kesenjangan implementasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan telaah regulasi komparatif dan analisis kesenjangan. Hasil kajian mengidentifikasi tiga tipe kesenjangan kritis: (I) inkonsistensi nilai BMR Indonesia terhadap Codex, (II) ketiadaan BMR spesifik untuk pestisida aktif pada komoditas ekspor tertentu, dan (III) disparitas antara standar Codex dengan persyaratan pasar ekspor EU yang lebih restriktif. Kebaruan artikel ini terletak pada pemetaan tiga lapis kesenjangan secara simultan beserta implikasinya terhadap kebutuhan tiered standard untuk pasar domestik dan ekspor. Artikel merumuskan implikasi kebijakan bagi enam kelompok pemangku kepentingan untuk memperkuat harmonisasi regulasi pangan Indonesia dengan standar Codex.
Optimalisasi Desain dan Parameter Proses 3D Printing FDM untuk Phone Hand Holder Multi Use Berbahan PETG Iing Pamungkas; Khairul Hadi; Heri Tri Irawan; Putri Sabrina Ritonga; Fuja Sekar Aprilia; Hilda Risma; Putri Nanda Marfirah
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25476

Abstract

Perkembangan teknologi Additive Manufacturing khususnya Fused Deposition Modeling (FDM) membuka peluang fabrikasi produk fungsional cepat, fleksibel, dan ekonomis tanpa cetakan konvensional. Penelitian ini bertujuan mengoptimalisasi desain dan parameter proses 3D printing FDM untuk Phone Hand Holder Multi Use berbahan PETG, mengevaluasi akurasi dimensi, kekasaran permukaan, dan kekuatan mekanik produk. Metode menggunakan pendekatan Design for Additive Manufacturing (DfAM) dengan siklus iteratif CAD-prototipe-evaluasi. Desain dibuat SolidWorks/AutoCAD, dicetak Prusa I3 MK3 dengan parameter optimal (layer height 0,2 mm, infill 20%, suhu nozzle 200°C, bed 80°C, speed 50 mm/s, wall 1,2 mm). Evaluasi meliputi pengukuran mikrometer digital (n=3), profilometer kekasaran (Ra), uji beban statis 350 g, dan uji siklus engsel 100x dengan analisis statistik paired t-test dan ANOVA. Hasil menunjukkan desain final (panjang 8 cm, tinggi 5,5 cm, lebar 2 cm, ketebalan 5 mm) mencapai akurasi dimensi 97,5% dengan deviasi ±0,2–0,5 mm dalam toleransi FDM. Kekasaran permukaan pre-finishing 13,6 µm turun ke 7,6 µm post-amplas (44,1% improvement, p=0,006 signifikan). Produk mampu menopang beban 350 g tanpa deformasi, engsel berfungsi 100 siklus tanpa kerusakan, confirm ketebalan 5 mm dan infill 20% memadai untuk penggunaan normal. Revisi desain meningkatkan stabilitas dan ergonomi tanpa mengurangi efisiensi material. Penelitian menunjukkan FDM-PETG optimal untuk phone holder fungsional presisi tinggi dengan finishing amplas wajib.

Filter by Year

2022 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid (In Progress) Vol. 5 No. 7 (2026): Karimah Tauhid Vol. 5 No. 6 (2026): Karimah Tauhid Vol. 5 No. 5 (2026): Karimah Tauhid Vol. 5 No. 4 (2026): Karimah Tauhid Vol. 5 No. 3 (2026): Karimah Tauhid Vol. 5 No. 2 (2026): Karimah Tauhid Vol. 5 No. 1 (2026): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 12 (2025): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 11 (2025): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 10 (2025): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 9 (2025): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 8 (2025): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 7 (2025): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 6 (2025): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 5 (2025): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 4 (2025): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 3 (2025): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 2 (2025): Karimah Tauhid Vol. 4 No. 1 (2025): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 12 (2024): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 11 (2024): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 10 (2024): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 9 (2024): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 8 (2024): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 7 (2024): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 6 (2024): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 5 (2024): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 4 (2024): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 3 (2024): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 2 (2024): Karimah Tauhid Vol. 3 No. 1 (2024): Karimah Tauhid Vol. 2 No. 6 (2023): Karimah Tauhid Vol. 2 No. 5 (2023): Karimah Tauhid Vol. 2 No. 4 (2023): Karimah Tauhid Vol. 2 No. 3 (2023): Karimah Tauhid Vol. 2 No. 2 (2023): Karimah Tauhid Vol. 2 No. 1 (2023): Karimah Tauhid Vol. 1 No. 6 (2022): Karimah Tauhid Vol. 1 No. 5 (2022): Karimah Tauhid Vol. 1 No. 4 (2022): Karimah Tauhid Vol. 1 No. 3 (2022): Karimah Tauhid Vol. 1 No. 2 (2022): Karimah Tauhid Vol. 1 No. 1 (2022): Karimah Tauhid More Issue