cover
Contact Name
Ahmad Albar Al Akso
Contact Email
kohesi55@gmail.com
Phone
+62812330129
Journal Mail Official
kohesi55@gmail.com
Editorial Address
Perum. Griya Kencana Blok 2i No.68 Mojosarirejo Driyorejo Gresik Jawa Timur
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Published by CV SWA Anugrah
ISSN : -     EISSN : 30258855     DOI : -
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan adalah jurnal open access yang diterbitkan oleh CV SWA Anugrah yang didalamnya menerima jurnal hasil penelitian maupun kajian pustaka tentang ilmu kesehatan, kedokteran, kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, keperawatan, ilmu nutrisi, gizi, urgensi stunting dan permasalahan kesehatan di Indonesia dan Internasional. Jurnal ini terbit 4 kali dalam setahun. pada bulan Februari, April, Juli, dan September. Jurnal ini mengundang penulis dan peneliti untuk publish di jurnal kesehatan ini.
Articles 668 Documents
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI Andi Alika Azzahra; Zuhriana K. Yusuf; Serly Daud; Sitti Rahma; Vickry Wahidji
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i2.11335

Abstract

Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang, termasuk kepatuhan dalam pengobatan. Pengetahuan yang dimiliki oleh pasien mengenai hipertensi dan pengobatannya dapat memberikan perubahan perilaku terutama dalam melakukan pengobatan yang dianjurkan. Kepatuhan minum obat merupakan salah satu cara dalam mengurangi risiko komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Kota Selatan, Kota Gorontalo. Metode: Observasi berikut menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 58 orang diambil melalui teknik total sampling. Data yang dikumpulkan menggunakan instrumen kuesioner Hypertension Knowledge – Level Scale serta kuesioner MMAS-8. Analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan Spearman's Rank Correlation Coefficient. Hasil: Sebagian besar responden tergolong dalam tingkat pengetahuan tinggi (75,9%) dan memiliki kepatuhan minum obat rendah (43,1%). Uji korelasi Spearman menampilkan nilai signifikansi sebanyak 0,033, yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan pada tingkat pengetahuan serta kepatuhan minum obat (p>0,05). Koefisien korelasi sebanyak 0,280 menyatakan hubungan yang lemah. Simpulan: Tingkat pengetahuan pasien hipertensi dengan signifikan berhubungan dengan kepatuhan minum obat. Temuan berikut menekankan pentingnya edukasi kesehatan sebagai salah satu intervensi dalam pengelolaan hipertensi di Puskesmas. Observasi berikutnya disarankan dalam mempertimbangkan variabel lain yang bisa memberi pengaruh tingkat kepatuhan minum obat.
HUBUNGAN ANTARA GEJALA KLINIS DENGAN HASIL PEMERIKSAAN TES CEPAT MOLEKULER PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU Linda Wati; Nanang Roswita Paramata; Mohamad Zukri Antuke; Vivien Novarina A. Kasim; Abdi Dzul Ikram Hasanuddin
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i2.11336

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penegakan diagnosis tuberkulosis dilakukan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan bakteriologis, radiologis, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Pemeriksaan penunjang salah satunya Tes Cepat Molekuler (TCM), yakni alat diagnosis utama tuberkulosis saat ini. Puskesmas Kota Selatan merupakan fasilitas layanan kesehatan primer rujukan di Kota Gorontalo dalam pemeriksaan Tes Cepat Molekuler untuk diagnosis penyakit tuberkulosis. Sehingga peneliti tertarik untuk meneliti hal ini dengan judul Hubungan antara Gejala Klinis dengan Hasil Pemeriksaan TCM pada Pasien TB Paru di Puskesmas Kota Selatan Tahun 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di Puskesmas Kota Selatan Tahun 2023. Analisis data dilaksanakan secara univariat dan bivariat dengan memakai uji Chi-Square. Hasil: Didapatkan gejala klinis respiratorius tertinggi yaitu respoden dengan satu gejala sebanyak 15 orang (50%). Gejala klinis sistemis yang dijumpai yaitu respoden tanpa gejala sebanyak 14 orang (46,7%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gejala klinis respiratorius dan sistemis dengan hasil pemeriksaan TCM pada responden tuberkulosis paru di Puskesmas Kota Selatan Tahun 2023 dengan p>0,05. Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara gejala klinis respiratorius dan sistemis dengan hasil pemeriksaan TCM pada responden tuberkulosis paru. Diharapkan masyarakat dapat mencegah rantai penularan dengan deteksi dini ke fasilitas pelayanan kesehatan.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PENCEGAHAN KOMPLIKASI PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA PESERTA PROLANIS Nazla Sabania Salsabila Attamimi; Serly Daud; Yuniarty Antu; Sri Andriani Ibrahim; Muchtar Nora Ismail Siregar
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i2.11337

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan insulin, yaitu hormon yang mengatur kadar glukosa darah dalam tubuh. Komplikasi kronis DM, seperti kerusakan pembuluh darah makrovaskuler dan mikrovaskuler serta disfungsi neurologis, dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat. Mencegah komplikasi diabetes memerlukan pengetahuan yang tepat, terutama bagi peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini berjumlah 207 peserta prolanis di Puskesmas Kota Gorontalo dan jumlah sampel sebanyak 136 peserta dan menggunakan teknik accidental sampling, serta tingkat pengetahuan responden tentang pencegahan komplikasi penyakit diabetes melitus diukur dengan menggunakan kuesioner DKQ-24 (Diabetes Knowledge Quesioner). Hasil: Didapatkan sebagian besar responden dalam penelitian ini yaitu (41,2%) memiliki tingkat pengetahuan cukup terkait pencegahan komplikasi penyakit diabetes melitus, dan terdapat (38,2%) jumlah responden memiliki tingkat pengetahuan kurang, serta terdapat 20,6%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Simpulan: Gambaran tingkat pengetahuan tentang pencegahan komplikasi penyakit diabetes melitus pada peserta program pengelolaan penyakit kronis di Puskesmas Kota Gorontalo sebagian besar tergolong cukup. Dari penelitian ini diharapkan pihak Puskesmas dapat meningkatkan kegiatan edukasi yang lebih interaktif, seperti pelatihan atau workshop tentang pencegahan komplikasi DM, dengan menggunakan media yang menarik agar peserta Prolanis lebih mudah memahami materi.
PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG PENCEGAHAN SKABIES PADA SANTRI DI PONDOK PESANTREN AL-HUDA Reza Khumairah Lasulika; Nanang Roswita Paramata; Wahjuni Wahjuni; Zuhriana K. Yusuf; Sri Andriani Ibrahim
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i2.11339

Abstract

Background: Scabies is a contagious skin disease common in overcrowded environments, including Islamic boarding schools, caused by poor personal hygiene and inadequate sanitation facilities. In many developing nations, scabies is widespread across all demographics, with a notably higher incidence among children and teenagers. Health education is crucial for its prevention. This research seeks to examine how health education influences the prevention of scabies among the students of Al-Huda Islamic Boarding School in Gorontalo. Method: This study used a quantitative approach and applied a pre-experimental design, utilizing a one-group pretest-posttest method. The respondents were 50 students residing in the dormitory, chosen through total sampling. Information was gathered through surveys, and the Wilcoxon test was applied for data analysis to assess the impact of the health education. Results: Before the intervention, knowledge of scabies prevention in students was mostly classified as lacking, namely 37 respondents (74%). After the intervention the majority increased to good, namely 38 respondents (76%). The findings indicated that health education had a considerable impact on improving scabies prevention at Al-Huda Islamic Boarding School, with a p-value of 0.000, which is less than the 0.05 significance threshold. Conclusion: Health education regarding scabies prevention has an impact on the awareness of students at Al-Huda Islamic Boarding School. It is expected that this will help foster greater attention to personal health among both the students and the institution. Latar Belakang: Skabies adalah penyakit kulit menular yang umum di lingkungan padat, termasuk pondok pesantren, akibat kurangnya personal hygiene dan fasilitas kebersihan. Di banyak negara berkembang, kasus skabies dapat menyerang berbagai ras dan kelompok usia, dengan angka kejadian yang lebih tinggi di kalangan anak-anak dan remaja, sebagai langkah utama untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Penyuluhan kesehatan memainkan peran penting dalam upaya ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana penyuluhan kesehatan dapat meningkatkan pemahaman tentang cara mencegah skabies di kalangan santri di Pondok Pesantren Al-Huda Gorontalo. Metode : Studi ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental, khususnya model one-group pretest-posttest. Sebanyak 50 santri yang tinggal di asrama Pondok Pesantren Al-Huda menjadi peserta dalam penelitian ini, yang dipilih dengan metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner, dan selanjutnya dilakukan analisis terhadap data yang terkumpul data dilakukan menggunakan uji wilcoxon untuk mengevaluasi pengaruh penyuluhan. Hasil: Sebelum penyuluhan, pengetahuan terhadap pencegahan skabies pada santri sebagian besar tergolong kurang yakni sebanyak 37 responden (74%). Setelah penyuluhan, mayoritas meningkat menjadi baik yakni sebanyak 38 responden (76%). Berdasarkan hasil uji Wilcoxon, ditemukan adanya dampak yang signifikan dari penyuluhan kesehatan terhadap peningkatan upaya pencegahan skabies di Pondok Pesantren Al-Huda. Hasil analisis menunjukkan nilai p sebesar 0,000, yang lebih kecil dari 0,05, menandakan pengaruh yang sangat signifikan. Kesimpulan: Terdapat pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap Pemahaman mengenai upaya pencegahan penyakit skabies di kalangan santri di Pondok Pesantren Al-Huda. Bagi pondok pesantren dan santri diharapkan dapat menambah wawasan untuk lebih memperhatikan kesehatan diri.
GAMBARAN KELELAHAN KERJA PADA PEDAGANG HAUS KELILING DI PAMULANG TAHUN 2025 Putri, Berliana Rumki Novitasari; Ernyasih, Ernyasih
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i3.11341

Abstract

Work fatigue is a process of decreased efficiency, work performance, and reduced physical strength or endurance of the body to continue the activities that must be carried out. The combination of hot temperatures, excessive work activities, and insufficient rest time for traveling Haus traders can accelerate the onset of fatigue. This research aims to describe work fatigue among Haus Keliling traders in Pamulang in 2025. The research method used in this research is correlational research with a cross sectional approach. The sampling technique in this research used total sampling. The population in this study were all traveling Haus traders in Pamulang, totaling 72 people. The research results showed that the majority of respondents experienced moderate fatigue, in the adult age category, male gender, working period ≥ 9 months, with moderate workload and most exposure to heat temperatures >28℃. The conclusion of this research was that the majority of Haus traveling traders experienced moderate levels of fatigue. The suggestions in this research are for future researchers to conduct research related to work fatigue using other variables so that the research results can provide a deeper understanding regarding work fatigue in order to improve worker welfare. Kelelahan kerja merupakan proses menurunnya efisiensi, performa kerja, dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh untuk melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan. Kombinasi antara suhu panas, aktivitas kerja berlebihan, dan waktu istirahat yang kurang pada pedagang Haus keliling dapat mempercepat timbulnya kelelahan. Penelitian ini bertujuan untuk gambaran kelelahan kerja pada pedagang Haus Keliling di Pamulang pada 2025. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pedagang Haus keliling di Pamulang yang berjumlah 72 orang. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden mengalami kelelahan sedang, dengan kategori usia dewasa, berjenis kelamin laki-laki, masa kerja ≥ 9 bulan, dengan beban kerja sedang dan sebagian besar terpapar suhu panas >28℃. Kesimpulan pada penelitian ini didapatkan sebagian besar pedagang Haus keliling mengalami kelelahan tingkat sedang. Saran pada penelitian ini diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian terkait kelelahan kerja dengan menggunakan variabel lain agar hasil penelitian dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam terkait kelelahan kerja guna meningkatkan kesejahteraan pekerja.
HUBUNGAN NILAI LEUKOSIT DAN PROKALSITONIN PADA PENDERITA SEPSIS DI ICU RSUD PROF. DR. H. ALOEI SABOE Sitti Alfina Hatlah; Romdon Purwanto; Zuhriana K. Yusuf; Yuniarty Antu; Sitti Rahma
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i3.11343

Abstract

Background: Sepsis is a serious medical condition resulting from infection, characterized by a systemic inflammatory response that can lead to severe sepsis or septic shock. In sepsis, Procalcitonin (PCT) levels and leukocyte values ​​are important indicators for diagnosis and evaluation of the severity of infection. This study aims to evaluate the relationship between leukocyte values ​​and procalcitonin levels in sepsis patients in the ICU of Prof. Dr. H. Aloei Saboe Hospital. Method: This research is descriptive quantitative with a cross-sectional design. The research was conducted in the ICU of Prof. Hospital. Dr. H. Aloei Saboe in December 2024 with a sample of 40 ICU patients taken from medical records. Data collected includes the patient's leukocyte values ​​and PCT levels. Data analysis was carried out using chi-square and linear by linear association. Results: The majority of patients were male (72.5%), with 82.5% of patients diagnosed with sepsis. Most patients had high leukocyte values ​​(62.5%) and high PCT levels (75%). The chi-square test showed a significant relationship between PCT levels and sepsis (p-value 0.006), while there was no significant relationship between leukocyte values ​​and sepsis (p-value 0.495). Conclusion: High PCT levels were significantly associated with sepsis diagnosis, while leukocyte values showed no significant association. PCT measurement may be a more sensitive tool in diagnosing and evaluating sepsis severity compared to leukocyte values. This study is limited by clinical variation and a single measurement, so further studies are needed for biomarker exploration, integration of procalcitonin in hospital protocols, and clinical guidance of sepsis. Latar Belakang: Sepsis adalah kondisi medis serius yang diakibatkan oleh infeksi, ditandai oleh respons inflamasi sistemik yang dapat berujung pada sepsis berat atau syok septik. Dalam sepsis, kadar Prokalsitonin (PCT) dan nilai leukosit merupakan indikator penting untuk diagnosis dan evaluasi keparahan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara nilai leukosit dan kadar Prokalsitonin pada pasien sepsis di ICU RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe. Metode : Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan di ICU RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe pada Desember 2024 dengan sampel 40 pasien ICU yang diambil dari rekam medis. Data yang dikumpulkan meliputi nilai leukosit dan kadar PCT pasien. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square dan linear by linear association. Hasil: Mayoritas pasien adalah laki-laki (72,5%), dengan 82,5% pasien terdiagnosis sepsis. Sebagian besar pasien memiliki nilai leukosit tinggi (62,5%) dan kadar PCT tinggi (75%). Uji chi-square menunjukkan hubungan signifikan antara kadar PCT dan sepsis (p-value 0,006), sementara tidak ada hubungan signifikan antara nilai leukosit dan sepsis (p-value 0,495). Kesimpulan: Kadar PCT yang tinggi menunjukkan hubungan yang signifikan dengan diagnosis sepsis, sementara nilai leukosit tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Pengukuran PCT dapat menjadi alat yang lebih sensitif dalam diagnosis dan evaluasi keparahan sepsis dibandingkan dengan nilai leukosit. Penelitian ini terbatas oleh variasi klinis dan pengukuran tunggal, sehingga diperlukan studi lanjutan untuk eksplorasi biomarker, integrasi prokalsitonin dalam protokol rumah sakit, dan panduan klinis sepsis.
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL USIA REMAJA MENGENAI TANDA BAHAYA KEHAMILAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANGGREK KABUPATEN GORONTALO UTARA Wulansari, Ika; Mursyidah, Andi
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i3.11347

Abstract

Tanda bahaya kehamilan adalah suatu gejala yang muncul dalam kehamilan sehingga terjadi komplikasi. Bahaya kehamilan merupakan gejala yang muncul dalam kehamilan pada trimester I sampai trimester III. Berdasarkan pengertian diatas tentang tanda bahaya kehamilan yaitu gangguan yang terjadi dalam kehamilan yang bisa mengakibatkan komplikasi. Tanda-tanda bahaya kehamilan adalah gejala yang menunjukkan bahwa ibu dan bayi dalam keadaan bahaya. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap Ibu hamil usia remaja mengenai tanda dan bahaya kehamilan diwilayah kerja Puskesmas Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif metode survey deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah ibu hamil usia remaja berjumlah 34 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Instrument penelitian menggunakan kuesioner, dengan Analisa data univariat uji distribusi frekuensi, Hasil penelitian menunjukan bahwa 61,8% responden memiliki pengetahuan baik dan 58,8% responden memiliki sikap yang baik mengenai tanda dan bahaya kehamilan diwilayah kerja Puskesmas Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara.
HUBUNGAN POLA KOMUNIKASI ORANG TUA DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI KECAMATAN TILONGKABILA Yunus, Fidyawati; Rahma, Siti; Mohamad, Rini Wahyuni
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i3.11349

Abstract

Perkembangan bahasa pada anak usia prasekolah dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya pola komunikasi orang tua. Pola komunikasi yang efektif dapat memfasilitasi perkembangan bahasa anak, pola komuniakasi dalam penelitian ini berfokus pada pola komunikasi, authoritativ, permissive dan authoritarian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola komunikasi orang tua dengan perkembangan anak usia prasekolah di Kecamatan Tilongkabila. Metode penelitian menggunakan Metode penelitian menggunakan observasional analitik desain Cross Sectional. Populasi penelitian ini sebagian anak prasekolah di Kecamatan Tilongkabila berjumlah 159 anak, dengan teknik Purposive Sampling didapatkan sampel penelitian berjumlah 61 responden. Hasil dari penelitian menunjukkan responden dengan pola komunikasi orang tua yang authoritativ sebanyak 35 responden (57,4%), pola komunikasi orang tua yang permissive sebanyak 19 responden (31,1%), 7 responden (11,5%) dengan pola komunikasi orang tua yang authoritarian dan perkembangan bahasa kategori cukup sebanyak 38 responden (62,3%), perkembangan bahasa kategori kurang sebanyak 16 responden (26,2) dan 7 responden (11,5%) dengan perkembangan bahasa kategori baik. Hasil uji spearman Rho diperoleh nilai signifikansi p=value 0,001 (<0,05) sehingga disimpulkan ada hubungan antara pola komunikasi orang tua dengan perkembangan bahasa pada anak usia prasekolah di kecamatan tilongkabila. Saran bagi orang tua agar memberikan respons positif pada bahasa anak dan memberikan perhatian pada interaksi verbal anak agar anak memiliki kemampuan bahasa yang baik.
HUBUNGAN DURASI PENGGUNAAN SMARTPHONE DENGAN KEJADIAN NECK PAIN (NYERI LEHER) PADA MAHASISWA BARU JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO Aprilia, Bunga; Jusuf, Muhammad Isman; Antu, Mihrawaty S.
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i3.11350

Abstract

Prevalensi penggunaan smartphone terus meningkat khususnya di Gorontalo berjumlah 362.752 orang yang berumur 15- 25 tahun merupakan pengguna smartphone aktif dengan sebagian besar dari jumlah tersebut adalah mahasiswa. Prevalensi neck pain di Indonesia pada usia 18-35 tahun sebesar 66%, dan Provinsi Gorontalo sebear 10,82% pada rentang usia 15-24 tahun. Nyeri leher merupakan nyeri yang dialami dari pangkal kepala (occiput) sampai bagian atas punggung dan meluas kebatas luar dan atas tulang belikat (skapula). Faktor yang mempengaruhi nyeri leher yakni durasi penggunaan smartphone.Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan smartphone dengan kejadian neck pain (nyeri leher) pada mahaiswa baru jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo. Metode penelitian menggunakan observasional analitik dengan desain Cross Sectional. Populasi penelitian mahasiswa baru jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo dengan jumlah 111 mahasiswa, dengan teknik Purposive sampling didapatkan sampel penelitian berjumlah 87 orang mahasiwa. Hasil penelitian menunjukkan responden dengan durasi penggunaan smartphone lebih dari 6 jam sebanyak 48 responden (55,2%), 29 responden (33,3%) dengan durasi penggunaan smartphone 3-6 jam, responden dengan durasi penggunaan 2-4 jam sebanyak 10 responden (11,5% dan responden dengan skala nyeri leher skala ringan sebanyak 69 responden (77,0%), 16 responden (18,4%) dengan skala nyeri sedang dan 4 responden (4,6%) dengan skala nyeri berat. Hasil uji spearman rank diperoleh nilai signifikansi dengan nilai p=value 0,032 (<0,05) dengan nilai koefisien korelasi 0,231 sehingga disimpulkan ada hubungan antara durasi penggunaan smartphone dengan kejadian neck pain (nyeri leher) pada mahasiswa baru jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo. Disarankan kepada mahasiswa untuk memperhatikan waktu penggunaan smartphone agar tidak berlebihan sehingga dapat mencegah kejadian neck pain (nyeri leher).
EVALUASI KESESUAIAN PENANGANAN PRODUK PSIKOTROPIKA DAN PREKURSOR DI SALAH SATU PEDAGANG BESAR FARMASI (PBF) X DI BANDUNG Fidi Yuliani; Ade Irma Mulyasyari; Holis Abdul Holik
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i3.11352

Abstract

Pedagang Besar Farmasi (PBF) berperan penting dalam pengadaan, penyimpanan, dan distribusi obat dalam jumlah besar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. PBF pusat dan cabang memiliki kewajiban untuk mengirim psikotropika dan prekursor hanya berdasarkan surat pesanan yang ditandatangani oleh apoteker penanggung jawab. Dalam distribusinya, PBF harus mematuhi Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) guna memastikan kualitas, efikasi, dan keamanan obat sampai ke konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan CDOB dalam penanganan psikotropika dan prekursor di PBF X Cabang Bandung, serta memastikan kesesuaian dengan regulasi yang ada. Berdasarkan observasi langsung dan wawancara dengan apoteker penanggung jawab (APJ), PBF X Cabang Bandung telah memenuhi seluruh aspek operasional CDOB, dengan persentase kesesuaian 100% pada 19 poin aspek yang mencakup pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan dokumentasi. Hal ini menunjukkan bahwa PBF X Cabang Bandung telah melaksanakan prosedur distribusi psikotropika dan prekursor dengan sangat baik sesuai dengan peraturan yang ditetapkan, sehingga dapat dijamin bahwa kualitas obat tetap terjaga dan aman bagi konsumen.

Filter by Year

2023 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 6 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 5 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 4 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 3 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2023): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan More Issue