cover
Contact Name
Arwan Wiratman
Contact Email
arwan.wiratman17@gmail.com
Phone
+6285343748580
Journal Mail Official
redaksi.josse@gmail.com
Editorial Address
Jl. Makkarani Komp. Green Riyousa Blok E. No 12. A Gowa Sulawesi Selatan, Indonesia
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Journal of Social and Scientific Education
ISSN : 30470684     EISSN : 30470684     DOI : https://doi.org/10.58230/josse.v1i1.30
Core Subject : Education, Social,
JOSSE: Journal of Social and Scientific Education is a scientific publication media managed and published by South Sulawesi Education Development (SSED) (Deed of Establishment of the Institution No. 32 dated July 17, 2009, by Notary Ina Kartika Sari S.H. - Decree of the Minister of Law and Human Rights of the Republic of Indonesia Number C-58.HT.03.01 Year 2003). JOSSE: Journal of Social and Scientific Education is a scientific publication media that plays an important role in presenting research results and theoretical studies in the field of education. This journal is not only a valuable reference source, but also a useful publication tool for various parties, such as teachers, lecturers, students, school supervisors, policymakers, and education observers. By accepting articles in English and Indonesian, JOSSE seeks to bridge collaboration and knowledge exchange at the national and international levels, with the following scope of study: Learning Material Development Measurement, Assessment, and Evaluation of Education Teacher Professional Development Learning Activities Education Policy Educational Facilities and Infrastructure
Articles 62 Documents
Strategi Inovasi Guru TK Manba’ul Huda dalam Membangun Kepercayaan Diri Anak Pemalu Siti Masrona Harahap; Thea Yuliana Anjari; Tita Sapriyanti
Journal of Social and Scientific Education Vol. 3 No. 2 (2026): Journal of Social and Scientific Education
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/josse.v3i2.721

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan upaya guru dalam membentuk karakter percaya diri pada anak usia 5–6 tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian sebanyak 50 anak usia 5–6 tahun. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru TK Manba’ul Huda menerapkan berbagai strategi inovatif dalam membangun kepercayaan diri anak, yaitu pembelajaran aktif dan kreatif, kegiatan tampil di depan kelas, bernyanyi sambil bergerak, menari, pemberian tugas dan tanggung jawab, pembiasaan kegiatan positif dan keagamaan, kesempatan menjadi pemimpin, kegiatan tanya jawab, pengembangan interaksi sosial, serta pemberian penghargaan verbal dan nonverbal. Dari 50 anak yang diamati, perubahan positif paling terlihat pada keberanian berinteraksi dengan teman, kemandirian menyelesaikan tugas, keberanian mencoba kegiatan baru, dan keberanian tampil di depan kelas. Strategi guru yang dilakukan secara konsisten, menyenangkan, bertahap, dan sesuai dengan karakteristik anak dapat membantu membangun kepercayaan diri anak pemalu. Hasil penelitian menegaskan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, pembimbing, model sosial, dan pemberi penguatan dalam perkembangan sosial emosional anak.
Hubungan Intensitas Bermain Handphone dengan Keterampilan Sosial Anak Tunanetra SMALB Fase E di Solo Raya dan Yogyakarta Rosikh Ahzami; Vania Martha Yunita
Journal of Social and Scientific Education Vol. 3 No. 2 (2026): Journal of Social and Scientific Education
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/josse.v3i2.728

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas bermain handphone dengan keterampilan sosial anak tunanetra fase E tingkat SMALB di Solo Raya dan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi penelitian berjumlah 17 anak tunanetra fase E tingkat SMALB di Solo Raya dan Yogyakarta, dengan sampel penelitian sebanyak 17 anak yang ditentukan menggunakan teknik sampling jenuh. Instrumen penelitian telah melalui uji validitas isi, uji validitas, uji reliabilitas, dan uji daya beda. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman rho dengan bantuan program SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi Spearman rho sebesar -0,527 dengan nilai signifikansi sebesar 0,030 (p <  0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas bermain handphone dengan keterampilan sosial anak tunanetra fase E tingkat SMALB di Solo Raya dan Yogyakarta. Dengan demikian, hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (H₀) ditolak dengan arah hubungan negatif yaitu semakin tinggi intensitas bermain handphone maka semakin rendah keterampilan sosial anak tunanetra. Temuan ini menunjukkan bahwa keterampilan sosial anak tunanetra dapat dipengaruhi secara signifikan oleh intensitas bermain handphone.
Efektivitas Media Video Tutorial dalam Meningkatkan Keterampilan Vokasional Merias Wajah Karakter untuk Murid Disabilitas Rungu Dini Alfia Yunita; Elsa Efrina; Johandri Taufan; Mardhatillah Zulpiani
Journal of Social and Scientific Education Vol. 3 No. 2 (2026): Journal of Social and Scientific Education
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/josse.v3i2.732

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas media video tutorial dalam meningkatkan keterampilan vokasional merias wajah karakter pada murid disabilitas rungu. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan desain Single Subject Research (SSR) tipe A-B-A. Subjek penelitian adalah satu murid disabilitas rungu kelas X di SLB Aisyiyah Sijunjung. Data dikumpulkan melalui tes unjuk kerja menggunakan lembar checklist dan dianalisis secara visual berdasarkan kecenderungan, stabilitas, serta perubahan level data. Fase baseline A1 dilaksanakan sebanyak 3 sesi, intervensi B sebanyak 5 sesi, dan baseline A2 sebanyak 3 sesi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemampuan merias wajah karakter pada fase A1 berada pada level 58,3% dengan kecenderungan stabil. Setelah diberikan intervensi berupa video tutorial pada fase B, kemampuan meningkat secara bertahap dari 66,6% menjadi 79,1%, yang menunjukkan perubahan level positif dibandingkan kondisi awal. Pada fase A2, kemampuan kembali meningkat hingga 87,5% dan selanjutnya menunjukkan kondisi stabil. Pola tersebut menunjukkan adanya peningkatan keterampilan setelah diberikan intervensi serta kemampuan yang dapat dipertahankan pada fase A2. Dengan demikian, video tutorial efektif digunakan sebagai media pembelajaran vokasional untuk meningkatkan keterampilan merias wajah karakter dan mendukung kemandirian murid disabilitas rungu.
Negotiating Professionalism in Montessori Schools: Organizational Culture and Professional Development Among Generation Z Employees Rita Kurnia; Daviq Chairilsyah; Kartika Sari; Erma Roza; Rionar Rambe; Riza Purnama Sari; Musaroh Musaroh
Journal of Social and Scientific Education Vol. 3 No. 2 (2026): Journal of Social and Scientific Education
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/josse.v3i2.737

Abstract

Educational organizations increasingly employ younger workers who are often classified as Generation Z, yet little is known about how such employees negotiate work values within value-based school cultures. In this study, Generation Z functions as a sampling context rather than an explanatory variable, and no intergenerational comparison is intended. This study examined how younger employees within this sampling context construct professionalism in two Montessori schools in Pekanbaru, Indonesia, and how educational-management practices shape their professional development. A qualitative multiple-case design involved 10 employees aged 22–29 years, comprising eight teachers and two administrative staff; the empirical analysis used participant interview excerpts, critical incidents, a 12-code analytical framework, within-case analysis, cross-case comparison, and negative/deviant case examination. Four themes were identified. Structured professional autonomy described agency as meaningful when paired with competence, clear boundaries, trust, and accountability. Internalization of Montessori purpose showed movement from institutional rules toward professional judgment oriented to educational purpose and children’s needs. Developmental feedback and mentoring supported prepared-adult formation when they promoted reflection, competence, and self-regulation, whereas excessive monitoring could reduce initiative. Negotiated accountability captured how employees balanced agency with consequences for children, colleagues, parents, and the organization. Cross-case analysis showed that School A emphasized role clarity, coordination, and procedural reliability, whereas School B emphasized trust, reflective mentoring, and professional judgment. Integratively, the findings support negotiated professionalism as a developmental process linking agency, organizational values, professional learning, and responsibility. Montessori schools should therefore stage autonomy and feedback according to demonstrated competence, role boundaries, and decision risk rather than presumed generational preference.
Penerapan Metode Montessori untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Murid dengan Hambatan Pendengaran Kelas  I di SLB Negeri Aek Kanopan Hayati Irsyah Hikmatul; Marlina Marlina; Rahmahtrisilvia Rahmahtrisilvia; Yosa Yulia Nasri; Rila Muspita
Journal of Social and Scientific Education Vol. 3 No. 2 (2026): Journal of Social and Scientific Education
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/josse.v3i2.740

Abstract

Kemampuan membaca permulaan merupakan keterampilan dasar yang berperan penting dalam mendukung perkembangan bahasa dan keberhasilan akademik murid. Namun, murid dengan hambatan pendengaran sering mengalami kesulitan dalam mengenali huruf, membaca suku kata, kata, dan kalimat sederhana karena keterbatasan akses terhadap informasi auditif. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan murid dengan hambatan pendengaran melalui penerapan metode Montessori di kelas I SLB Negeri Aek Kanopan. Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Subjek penelitian terdiri atas empat murid berinisial D, K, R, dan A. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan membaca permulaan dan lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan pada seluruh subjek. Pada Siklus I, persentase capaian kemampuan membaca permulaan D sebesar 50%, K 58%, R 72%, dan A 79%. Metode penelitian dalam abstrak telah dinyatakan menggunakan tiga siklus, tetapi hasil yang dilaporkan hanya mencakup Siklus I dan Siklus II. Kondisi ini menimbulkan ketidakkonsistenan antara desain penelitian dan hasil yang disajikan. Oleh karena itu, abstrak perlu dilengkapi dengan hasil Siklus III atau hasil akhir penelitian, sehingga dapat memberikan gambaran mengenai pencapaian kemampuan murid setelah seluruh tindakan diberikan serta menunjukkan konsistensi antara metode, pelaksanaan, dan hasil penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan metode Montessori dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan murid dengan hambatan pendengaran melalui pembelajaran yang konkret, visual, dan multisensori. Dengan demikian, metode Montessori dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada murid dengan hambatan pendengaran.
Confidence in the Classroom: How Self-Efficacy Shapes the Independent Character of Senior High School Students in Science Learning Activities Ridwan Alif Adi Nugraha; Dian Hidayati; Muhammad Zuhaery
Journal of Social and Scientific Education Vol. 3 No. 2 (2026): Journal of Social and Scientific Education
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/josse.v3i2.768

Abstract

Indonesian education policy now names independence as part of the graduate profile, yet how students actually become independent during ordinary science lessons has rarely been examined up close. This study describes how self-efficacy shapes the independent character of eleventh-grade students during science learning activities at a state senior high school in Pacitan Regency. Using a qualitative case study, data were gathered from ten purposively selected students with contrasting self-efficacy tendencies and one science teacher through in-depth interviews, classroom observation, and document review, then analyzed thematically following Miles and Huberman with technique and source triangulation, member checking, thick description, and an audit trail. Independent character appeared in four connected aspects, namely responsibility, initiative, adaptability, and self-reflection, all observable in group discussion, presentation, and written tasks rather than laboratory work. Students with stronger self-efficacy showed a fuller and steadier pattern, while several students with weaker self-efficacy began to grow after small successes and encouragement. Among the four sources of self-efficacy, mastery experience mattered most, verbal persuasion and vicarious experience reinforced it, and emotional states mainly acted as a manageable obstacle. The central finding is that self-efficacy does not create independence directly but works through a process of choosing to try, investing effort, persisting, and recovering from failure, with peer support and a reciprocal link between belief and action standing out as notable patterns. Teachers can nurture independence by designing graded tasks that let every student experience success, giving specific and timely encouragement, and using peer learning, without depending on laboratory facilities.
Integration of Local Wisdom of West Kalimantan in the Teaching Materials of My Region of Pride for Elementary School Students Rio Pranata; Asmayani Salimi; Rachmad Kurniawan; Maryati Fransisca
Journal of Social and Scientific Education Vol. 3 No. 2 (2026): Journal of Social and Scientific Education
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/josse.v3i2.781

Abstract

The availability of teaching materials that contain the richness of local wisdom in West Kalimantan is still limited, while students need teaching materials that are more interesting and in accordance with their learning experience. This research aims to analyze the needs of teachers and students, develop teaching materials on the materials of My Pride Region, and determine the validity of the product. The research uses the Research and Development (R&D) method with a 4D model which includes define, design, development, and disseminate. Data was collected through interviews, observations, needs questionnaires, and expert validation, then analyzed descriptively. The results of the study show that there is a need for teaching materials that contain the local wisdom of West Kalimantan and have an interesting and easy-to-understand presentation. Two-stage validation showed an increase in scores on the design aspect from 3.41 to 4.33, language from 4.00 to 4.71, and learning from 3.84 to 4.40. All three aspects reached the very valid category in the second stage. The teaching materials were then disseminated on a limited basis to several elementary schools in Pontianak City. The products produced are an alternative teaching material to the Daerahku Kebanggaanku material which raises the richness of local wisdom in West Kalimantan.
Meningkatkan Kemampuan Menulis Permulaan Huruf Vokal Melalui Metode Finger Painting pada Murid Disabilitas Intelektual Ringan Noventina Romaito Pinem; Elsa Efrina; Zulmiyetri Zulmiyetri; Yosa Yulia Nasri
Journal of Social and Scientific Education Vol. 3 No. 2 (2026): Journal of Social and Scientific Education
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/josse.v3i2.783

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis permulaan huruf vokal melalui metode finger painting pada murid disabilitas intelektual ringan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian terdiri atas tiga murid disabilitas intelektual ringan dengan inisial ZR, NO, dan NM. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan tes kemampuan menulis permulaan huruf vokal. Hasil asesmen awal menunjukkan bahwa ketiga murid memperoleh persentase kemampuan yang sama, yaitu sebesar 60%. Setelah diberikan tindakan menggunakan metode finger painting, terjadi peningkatan kemampuan pada setiap siklus. Pada siklus I pertemuan ketiga, ZR memperoleh persentase sebesar 75%, NO sebesar 69%, dan NM sebesar 75%. Selanjutnya, pada siklus II, kemampuan ZR meningkat menjadi 94%, NO menjadi 88%, dan NM menjadi 94%. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan metode finger painting dapat membantu murid dalam meningkatkan kemampuan menulis permulaan huruf vokal. Metode ini memberikan pengalaman belajar yang melibatkan aktivitas motorik, visual, dan sentuhan sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan memudahkan murid dalam mengikuti proses pembentukan huruf. Dengan demikian, metode finger painting dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan menulis permulaan huruf vokal pada murid disabilitas intelektual ringan.
Analisis Kemampuan Guru MengimplementasikanPembelajaran Mendalam pada Desain Pedagogis Jumanto Anto; Anggit Grahito Wicaksono; Elinda Rizkasari
Journal of Social and Scientific Education Vol. 3 No. 2 (2026): Journal of Social and Scientific Education
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/josse.v3i2.789

Abstract

Implementasi Pembelajaran Mendalam di sekolah dasar menuntut guru tidak hanya memahami prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, tetapi juga mampu menerjemahkannya secara konsisten ke dalam Perencanaan Pembelajaran Mendalam (PPM). Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kesesuaian PPM yang disusun guru sekolah dasar dengan karakteristik Pembelajaran Mendalam serta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan integrasi ketiga prinsip tersebut dalam desain pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain quantitative descriptive content analysis terhadap 24 dokumen PPM yang disusun guru kelas V sekolah dasar negeri dan swasta di Surakarta yang telah mengikuti pelatihan Pembelajaran Mendalam. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen menggunakan rubrik tervalidasi yang mencakup 10 aspek perencanaan dan 20 indikator prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan; pengodean dilakukan secara independen oleh dua penilai dan dianalisis menggunakan rerata, frekuensi, persentase, distribusi skor, serta weighted Cohen’s kappa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas 10 aspek utama PPM memperoleh rerata 1,58 dari 4 atau 39,38% dari skor ideal; sebanyak 79,17% dokumen berada pada kategori belum memadai dan 20,83% pada kategori terbatas. Prinsip menggembirakan memperoleh skor tertinggi (M = 1,74), diikuti bermakna (M = 1,64) dan berkesadaran (M = 1,56), tetapi seluruhnya masih dalam kategori belum memadai. Guru relatif lebih mampu memasukkan tujuan, konteks, media, dan aktivitas menarik, tetapi masih lemah dalam asesmen diagnostik dan proses, diferensiasi, regulasi diri, refleksi metakognitif, masalah autentik, serta transfer pengetahuan. Temuan ini menunjukkan bahwa keikutsertaan dalam pelatihan Pembelajaran Mendalam dan pernyataan guru telah menerapkannya belum selalu tercermin dalam desain pedagogis yang terdokumentasi secara kuat. Oleh karena itu, pengembangan profesional guru perlu diarahkan dari pelatihan berbasis pengenalan konsep menuju pendampingan berbasis desain, telaah dokumen kolaboratif, dan perbaikan pembelajaran berbasis bukti.
Pengaruh Model Jigsaw terhadap Motivasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di Kelas VIII Sekolah Menengah pertama Akhyar Rosidi; Baehaqi Baehaqi; Raehanah Raehanah
Journal of Social and Scientific Education Vol. 3 No. 2 (2026): Journal of Social and Scientific Education
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/josse.v3i2.811

Abstract

Rendahnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sering kali disebabkan oleh penggunaan model pembelajaran yang kurang variatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Jigsaw terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI kelas VIII di SMPN 5 Gerung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuasi-eksperimen dan desain Posttest Only Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 5 Gerung yang berjumlah 47 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh, yaitu seluruh anggota populasi dijadikan sampel, yang terdiri atas 24 siswa kelas eksperimen dan 23 siswa kelas kontrol. Data dikumpulkan melalui angket motivasi belajar yang diberikan pada saat pascates setelah perlakuan diberikan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji non-parametrik Mann–Whitney U berbantuan SPSS karena data tidak berdistribusi normal. Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi (Asymp. Sig. 2-tailed) sebesar 0,000, yang lebih kecil daripada taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil tersebut, H₀ ditolak dan Hₐ diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Jigsaw berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI kelas VIII di SMPN 5 Gerung.