cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 402 Documents
Deteksi dini masalah psikososial pada penyakit kardiovaskular berbasis kearifan lokal Tiffany, Egidia; Pratiwi, Arum; Pribadi, Dimas Ria Angga
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1390

Abstract

Background: The incidence of cardiovascular disease remains a global threat and is expected to increase to 23.3 million by 2030. In Central Kalimantan, the Dayak people have unique dietary characteristics that potentially influence cardiovascular risk, such as consuming high-fat meat, high-salt processed foods, and fermented foods. Purpose: To develop and evaluate a model for early detection of psychosocial problems in cardiovascular disease based on local wisdom. Method: This study used a mixed-methods approach with an action research design. The study was conducted at the Sebangau Kuala District Polyclinic with a sample of 88 participants. The nursing module was tested in a single 15-20 minute session. Cardiovascular risk levels were measured using the Socio-Cultural Cardiovascular Risk Assessment (SCCR), measuring cholesterol and blood pressure levels before and after the intervention. The local wisdom studied included culture, patterns, and dietary habits. Results: Based on the validity test, the 20 questions in the questionnaire were valid, with a calculated r value > r table (0.198). The correlation between each statement and the total score indicates a strong and significant relationship (p < 0.05), indicating that each item contributes to the construct being measured. Furthermore, the reliability test results showed a Cronbach's Alpha calculation of 0.988, indicating that the SCCR instrument has very high reliability (α > 0.9). The paired t-test results for the SCCR questionnaire showed a T-value of 10.154 with a probability of 0.001 (p < 0.001), a T-value of 9.795 for cholesterol levels with a probability of 0.001 (p < 0.001), and no significant changes in blood pressure with a T-value of -0.037 (p > 0.971). Conclusion: Early detection of psychosocial issues in cardiovascular disease based on local wisdom is effective in reducing the risk of cardiovascular disease in the Dayak community in Central Kalimantan, particularly through the provision of educational modules and changes in cholesterol levels. Suggestion: Healthcare institutions should integrate local cultural approaches into public health education programs.   Keywords: Cardiovascular Risk; Dayak Tribe; Early Detection; Local Wisdom.   Pendahuluan: Angka kejadian penyakit kardiovaskular masih menjadi ancaman di dunia dan diperkirakan semakin meningkat hingga 23.3 juta pada tahun 2030. Di wilayah Kalimantan Tengah, masyarakat suku Dayak memiliki karakteristik unik dalam pola makan mereka yang berpotensi memengaruhi risiko kardiovaskular, misalnya mengonsumsi daging tinggi lemak, olahan pakasem dan wadi yang tinggi garam, serta makanan berfermentasi. Tujuan: Untuk mengembangkan dan mengevaluasi model deteksi dini masalah psikososial pada penyakit kardiovaskular berbasis kearifan lokal. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan desain action research. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Kecamatan Sebangau Kuala dengan sample sebanyak 88 partisipan. Modul keperawatan diujikan dalam satu sesi dengan waktu 15-20 menit. Tingkat risiko kardiovaksular diukur menggunakan Socio-Cultural Cardiovascular Risk Assessment (SCCR), pengukuran kadar kolesterol serta tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi. Kearifan lokal yang diteliti berupa culture, pola, dan kebiasaan makan. Hasil: Berdasarkan uji validitas, 20 item pertanyaan dalam kuesioner valid dengan hasil r hitung > r table (0.198) hitung 0.198. Nilai korelasi antara masing-masing pernyataan dengan total skor menunjukkan hubungan yang kuat dan signifikan (p-value < 0.05), sehingga setiap item berkontribusi terhadap konstruksi yang diukur. Selanjutnya, hasil uji reliabilitas menunjukkan perhitungan Cronbach’s Alpha sebesar 0.988 menunjukkan bahwa instrumen SCCR memiliki reliabilitas yang sangat tinggi (α > 0.9). Hasil uji paired t-test kuesioner SCCR menunjukkan nilai T 10.154 dan probabilitas 0.001 (p<0.001), nilai T kadar kolesterol sebesar 9.795 dan probabilitas 0.001 (p<0.001), dan tidak terdapat perubahan signifikan pada tekanan darah dengan nilai T -0.037 dan (p>0.971). Simpulan: Deteksi dini masalah psikososial pada penyakit kardiovaskular berbasis kearifan lokal efektif dalam menurunkan tingkat risiko penyakit kardiovaskular pada masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah, terutama untuk pemberian edukasi menggunakan modul dan perubahan nilai kadar kolesterol. Saran: Institusi pelayanan kesehatan, sebaiknya mengintegrasikan pendekatan budaya lokal dalam program edukasi kesehatan masyarakat.   Kata Kunci: Deteksi Dini; Kearifan Lokal; Risiko Kardiovaskular; Suku Dayak.
Edukasi kesehatan reproduksi melalui influencer media sosial terhadap emosi positif dan kepercayaan diri remaja Syamson, Meriem Meisyaroh; Murtini, Murtini; Herikza, Ramli; Khotimah, Husnul; Nurdin, Nasrayanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1436

Abstract

Background: Adolescents often experience confusion, anxiety, and social pressure related to the physical and emotional changes that occur during puberty. Low self-confidence and a lack of positive emotions in dealing with these changes can make them vulnerable to unhealthy decision-making, including regarding sexual behavior. Reproductive education that does not address these psychological aspects is less effective in fostering healthy reproductive behaviors. Therefore, a reproductive education approach is needed that is not only informative but also able to increase positive emotions and self-confidence in adolescents to prepare them for the challenges of adolescence. Purpose: To analyze the impact of reproductive health education through social media influencers on adolescents' positive emotions and self-confidence. Method: This quantitative study used a two-group quasi-experimental design and research instruments such as surveys, interviews, and social media content analysis. Data collection included identifying influencers active in reproductive health education, observing uploaded content, and surveying adolescents in the influencers' audiences. Data analysis used paired t-tests and independent t-tests. Results: In the post-test, the health education variable for the intervention group obtained a p-value of 0.000 and a p-value of 0.013 for the control group, indicating similar differences. However, the positive emotion variable for the intervention group was 0.000, while the control group had a p-value of 0.280. This indicates a difference between the intervention group before and after the intervention, while there was no difference between the control group. Similarly, the self-confidence variable for the intervention group obtained a p-value of 0.000 and the control group a p-value of 0.569, indicating a difference between the intervention and control groups. Conclusion: There was a pre- and post-intervention effect of adolescent reproductive health education in the intervention group, while there was no difference or effect pre- and post-intervention in the control group.   Keywords: Reproductive Health Education; Positive Emotions; Influencers; Self-Confidence; Adolescents.   Pendahuluan: Remaja sering mengalami kebingungan, kecemasan, dan tekanan sosial terkait perubahan fisik dan emosional yang terjadi selama masa pubertas. Rendahnya kepercayaan diri dan kurangnya emosi positif dalam menghadapi perubahan tersebut dapat membuat mereka rentan terhadap pengambilan keputusan yang tidak sehat, termasuk dalam hal perilaku seksual. Edukasi reproduksi yang tidak menyentuh aspek psikologis ini menjadi kurang efektif dalam membentuk perilaku reproduksi yang sehat. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan edukasi reproduksi yang tidak hanya informatif tetapi juga mampu meningkatkan emosi positif dan kepercayaan diri remaja sebagai bekal menghadapi tantangan masa remaja. Tujuan: Untuk menganalisis edukasi kesehatan reproduksi melalui influencer media sosial terhadap emosi positif dan kepercayaan diri remaja. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen (quasi-experimental design) two grup dan instrumen penelitian seperti survei, wawancara atau analisis konten media sosial. Pengumpulan data identifikasi influencer yang aktif edukasi kesehatan reproduksi, mengamati konten yang diunggah, survei remaja yang menjadi audiens influencer. Analisis data menggunakan statistic paired t test dan independent t-test. Hasil: Ketika post-test, variabel edukasi kesehatan kelompok intervensi mendapatkan p-value sebesar 0.000 dan kelompok kontrol sebesar 0.013, nilai tersebut tidak jauh berbeda. Namun, pada variabel emosi positif kelompok intervensi sebesar 0.000 sedangkan kontrol sebesar 0.280, sehingga kelompok intervensi ada perbedaan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi, sedangkan kontrol tidak ada. Begitupun pada variabel kepercayaan diri, pada kelompok intervensi didapatkan p-value sebesar 0.000 dan kontrol sebesar 0.569, sehingga kelompok intervensi ada perbedaan, sedangkan kontrol tidak ada. Simpulan: Ada pengaruh sebelum dan sesudah dilaksanakan edukasi kesehatan reproduksi remaja pada kelompok intervensi, sedangkan kelompok kontrol tidak ada perbedaan atau pengaruh sebelum dan sesudah.   Kata Kunci: Edukasi Kesehatan Reproduksi; Emosi Positif; Influencer; Kepercayaan Diri; Remaja.
Metode konseling deep talk oleh kelompok peer group pencegahan seks bebas pada remaja Bancin, Dewi Risma; Barus, Ernawati; Sitorus, Friska; Nanulaitta, Olivia Fransina; Anita, Surya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1474

Abstract

Background: Adolescents are a vulnerable group at risk of engaging in risky sexual behaviors such as premarital sex, which can negatively affect their reproductive health and future. Effective preventive measures are needed, one of which is counseling through a peer group approach. Purpose: To determine the effect of the deep talk counseling method through peer groups on the prevention of premarital sex among adolescents. Method: Quasi-experimental research using a one-group pre-posttest method, conducted from July to August 2025 in Bangun Sari Village, Medan. The sampling technique used total sampling with a sample size of 20 participants based on inclusion and exclusion criteria. The independent variable in this study was deep talk counseling, while the dependent variable was the prevention of premature sexual activity. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution and bivariate using the Paired Sample T-Test. Results: The paired t-test showed an increase in the score for preventing premature sexual activity from 55.3 ± 6.2 in the pre-test to 78.6 ± 5.8 in the post-test. P-value=0.000 (p<0.05) indicates a significant difference, thus confirming the effectiveness of the Deep Talk counseling intervention by the Peer Group. Conclusion: The success of this method can be attributed to the role of peer discussion in creating a comfortable atmosphere, mutual trust, and facilitating the internalization of positive values. The peer group-based Deep Talk method is recommended as an effective educational strategy in efforts to prevent promiscuity among adolescents.   Keywords: Deep Talk; Peer Group; Sex; Teenagers.   Pendahuluan: Remaja merupakan kelompok rentan yang berisiko terlibat dalam perilaku seksual berisiko seperti hubungan seksual pranikah yang dapat berdampak negatif pada kesehatan reproduksi dan masa depan mereka. Diperlukan langkah-langkah pencegahan yang efektif, salah satunya adalah konseling melalui pendekatan kelompok sebaya. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas metode konseling deep talk oleh kelompok peer group pencegahan seks bebas pada remaja. Metode: Penelitian quasy-experimental dengan metode one group pre-posttest, dilaksanakan pada bulan Juli -Agustus 2025 di Desa Bangun Sari, Medan. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 20 partisipan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen dalam penelitian ini adalah konseling deep talk, sedangkan variabel dependen adalah pencegahan seks bebas. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan paired sample t-test. Hasil: Uji paired t-test menunjukkan peningkatan skor pencegahan seks bebas dari 55.3 ± 6.2 pada pre-test menjadi 78.6 ± 5.8 pada post-test. P-value=0.000 (p<0.05) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan, sehingga intervensi konseling Deep Talk oleh Peer Group dinyatakan efektif. Simpulan: Peran diskusi sebaya yang menciptakan suasana nyaman, saling percaya, dan mempermudah internalisasi nilai-nilai positif. Metode deep talk berbasis peer group direkomendasikan sebagai strategi edukasi yang efektif dalam upaya pencegahan seks bebas pada remaja.   Kata Kunci: Deep Talk; Peer Group; Remaja; Seks.
Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pencegahan komplikasi diabetes mellitus Listina, Febria; Ghufronsyah, Muhammad Zakky; Rukmana, Nova Mega
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1478

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a non-communicable disease that can lead to serious complications if not properly managed. These complications include heart disease, kidney failure, vision impairment, and nerve damage. According to data from Comunity Health Center Way Halim II in Bandar Lampung, the number of DM cases increased significantly from 30 cases in 2020 to 472 cases in 2024. Furthermore, 141 cases were already recorded from January to April 14th, 2025 alone. Purpose: To determine the relationship between knowledge and attitudes toward complication prevention behavior among DM patients at Comunity Health Center. Method: A quantitative research used a cross-sectional design with 59 respondents selected by purposive sampling. Data were collected through structured questionnaires and analyzed using Chi-Square test. Results: The majority of respondents had poor knowledge and negative attitudes toward prevention. There was a significant correlation between knowledge (p=0.013; OR=3.2) and attitude (p=0.041; OR=2.7) with complication prevention behavior. Conclusion: Knowledge and attitudes play an important role in complication prevention behavior. Continuous health education and promotion are necessary to improve preventive practices among DM patients.   Keywords: Attitude; Complication Prevention; Diabetes Mellitus; Knowledge.   Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang dapat menimbulkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, gagal ginjal, gangguan saraf, dan gangguan penglihatan. Kasus DM di Puskesmas Way Halim II meningkat dari 30 kasus pada 2020 menjadi 472 kasus pada 2024, dan pada awal 2025 tercatat 141 kasus. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap pasien terhadap perilaku pencegahan komplikasi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional pada 59 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang baik dan sikap negatif. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan (p=0.013; OR=3.2) dan sikap (p=0.041; OR=2.7) dengan perilaku pencegahan komplikasi DM. Simpulan: Pengetahuan dan sikap berperan penting dalam perilaku pencegahan komplikasi. Edukasi dan promosi kesehatan berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan perilaku pencegahan pasien diabetes.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus; Pengetahuan; Perilaku Pencegahan Komplikasi; Sikap.
Hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap kejadian infeksi saluran kemih pada ibu hamil Riandi, Diki; Noviardi, Noviardi; Lubis, Munawar Adhar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1545

Abstract

Background: Urinary tract infection (UTI) is among the most common microbial infections worldwide and presents a major public health issue, particularly for pregnant women. In Indonesia, around 222 million individuals are affected, with 100,000 new cases annually. The physiological and anatomical changes that occur during pregnancy increase susceptibility to UTIs, which, if left untreated, can result in serious complications like pyelonephritis, sepsis, and premature labor. However, research on the contributing factors to UTI among pregnant women remains scarce. Purpose: To explore the relationship between maternal knowledge and attitudes and the incidence of UTI during pregnancy. Method: A prospective cross-sectional design was employed between February and August 2024, involving 84 pregnant women 42 diagnosed with UTI and 42 without. Participants were selected through consecutive sampling. Data were gathered using demographic questionnaires, knowledge and attitude assessments, and urinalysis for UTI confirmation. Statistical analysis was carried out using Pearson’s, Spearman’s, and Chi-square tests, with significance determined at p < 0.05. Results: The study found a significant relationship between education level and UTI incidence (p = 0.004), with a higher rate of infection observed in more educated participants. Both attitude (p = 0.04) and knowledge (p = 0.03) were significantly associated with UTI occurrence, suggesting that poor attitudes and limited knowledge heightened the risk of infection. No significant associations were found with maternal age, parity, BMI, or socioeconomic status. Conclusion: These findings underscore the importance of education, knowledge, and attitude in preventing UTIs during pregnancy. Enhancing maternal health literacy and implementing targeted educational programs could play a key role in reducing UTI incidence and improving pregnancy outcomes.   Keywords: Attitude; Knowledge; Maternal Health; Pregnancy; Urinary Tract Infection.   Pendahuluan: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi mikroba paling umum di dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama bagi ibu hamil. Di Indonesia, sekitar 222 juta individu terdampak, dengan 100.000 kasus baru setiap tahunnya. Perubahan fisiologis dan anatomis selama kehamilan meningkatkan kerentanan terhadap ISK yang, jika tidak ditangani, dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pielonefritis, sepsis, dan persalinan prematur. Namun, penelitian mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian ISK pada ibu hamil masih terbatas. Tujuan: Untuk mengeksplorasi hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan kejadian ISK selama kehamilan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang prospektif antara Februari hingga Agustus 2024, dengan melibatkan 84 ibu hamil (42 terdiagnosis ISK dan 42 tanpa ISK). Responden dipilih melalui consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner demografi, penilaian pengetahuan dan sikap, serta pemeriksaan urinalisis untuk konfirmasi ISK. Analisis statistik dilakukan dengan uji Pearson, Spearman, dan Chi-square, dengan tingkat signifikansi p < 0.05. Hasil: Penelitian menemukan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dan kejadian ISK (p = 0.004), dengan tingkat infeksi lebih tinggi pada peserta dengan pendidikan lebih tinggi. Baik sikap (p = 0.04) maupun pengetahuan (p = 0.03) juga berhubungan signifikan dengan kejadian ISK, yang menunjukkan bahwa sikap kurang baik dan keterbatasan pengetahuan meningkatkan risiko infeksi. Tidak ditemukan hubungan signifikan dengan usia ibu, paritas, IMT, maupun status sosial ekonomi. Simpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya pendidikan, pengetahuan, dan sikap dalam pencegahan ISK selama kehamilan. Peningkatan literasi kesehatan ibu serta penerapan program edukasi yang terarah dapat berperan penting dalam menurunkan angka kejadian ISK dan meningkatkan luaran kehamilan.                                                                                                                                                           Kata Kunci: Infeksi Saluran Kemih; Kehamilan; Kesehatan Ibu; Pengetahuan; Sikap.
Efektivitas mandatory training tentang keperawatan berbasis syariah terhadap kemapmpuan penegakan diagnosis keperawatan spiritual Mulyati, Mimin; Abdurrouf, Muh; Sari, Dyah Wiji Puspita; Ardian, Iwan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1563

Abstract

Background: Sharia-based nursing care emphasizes fulfilling patients’ biological, psychological, social, and spiritual needs by integrating the principles of maqashid sharia. Spiritual nursing diagnoses are an essential component as they influence patients’ recovery and quality of life; however, nurses’ ability to establish these diagnoses remains low. Purpose: To evaluate the effectiveness of mandatory training on sharia-based nursing on the ability to enforce spiritual nursing diagnoses. Method: A pre-experimental one-group pretest–posttest design was applied to 76 nurses at Sari Asih Ciputat Hospital who met the PK II/Sharia Nurse II criteria. Data were collected using pretest–posttest questionnaires and practice observation sheets, then analyzed using a paired t-test with a significance level of α = 0.05. Results: The mean pretest score of 54.27 (SD = 22.17) increased to 67.63 (SD = 16.98) after the intervention, showing a statistically significant difference (t = -12.292; df = 71; p < 0.001; 95% CI: -15.52 to -11.19). The proportion of nurses who could optimally establish spiritual nursing diagnoses increased from 54.2% to 83.4% after mentoring. Observation results also indicated consistent improvement in practical skills. Conclusion: These findings demonstrate that sharia-based mandatory training with mentoring is effective in improving nurses’ competence in spiritual assessment and diagnosis. Suggestion: The implementation of continuous practice-based training to strengthen nurses' spiritual competencies and improve the quality of nursing services based on Sharia.   Keywords: Mandatory Training; Mentoring; Nursing Diagnosis; Sharia-Based Nursing; Spiritual.   Pendahuluan: Pelayanan keperawatan berbasis syariah menekankan pemenuhan kebutuhan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual pasien dengan mengintegrasikan prinsip maqashid syariah. Diagnosis keperawatan spiritual menjadi komponen penting karena memengaruhi pemulihan dan kualitas hidup pasien, namun kemampuan perawat dalam menegakkannya masih rendah. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas mandatory training tentang keperawatan berbasis syariah terhadap kemapmpuan penegakan diagnosis keperawatan spiritual. Metode: Desain penelitian menggunakan pre-eksperimental one group pretest-posttest pada 76 perawat dengan kriteria PK II/Perawat Syariah II. Data dikumpulkan melalui kuesioner pretest–posttest dan lembar observasi praktik, dianalisis menggunakan paired t-test dengan α = 0,05. Hasil menunjukkan Hasil: Rata-rata skor pretest 54.27 (SD = 22.17) meningkat menjadi 67.63 (SD = 16.98). Sementara itu, ketika posttest dengan perbedaan signifikan (t = -12.292; df = 71; p < 0.001; IK 95% -15.52 -11.19). Proporsi perawat yang mampu menegakkan diagnosis spiritual secara optimal meningkat dari 54.2% menjadi 83.4% setelah mentoring. Hasil observasi juga memperlihatkan peningkatan kemampuan praktik yang konsisten. Simpulan: Mandatory training berbasis mentoring efektif meningkatkan kompetensi perawat dalam pengkajian dan diagnosis spiritual. Saran: Penerapan pelatihan berkelanjutan berbasis praktik untuk memperkuat kompetensi spiritual perawat dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan berbasis syariah.   Kata Kunci: Diagnosis Keperawatan; Keperawatan Berbasis Syariah; Mandatory Training; Spiritual.
Efektivitas pemberian pendidikan kesehatan audiovisual terhadap sikap dan pengetahuan ibu dengan anak balita stunting: A systematic review Alfadhil, Sakti Ilham; Ramawati, Dian
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1575

Abstract

Background: This audiovisual method contains elements of sound and images that can be seen through videos, films, and other media. The audiovisual method can serve as a supporting medium in counseling because the information presented is concise, clear, and engaging, making it very easy for mothers with stunted toddlers to understand and can enhance their knowledge. Purpose: To analyze the effectiveness of providing audiovisual health education on the attitudes and knowledge of mothers with stunted toddlers. Method: A systematic review of research articles was obtained from Google Scholar, Academia, ResearchGate, and also journals from universities, within the years 2021-2025 with a quasi-experimental research design. The keywords used in the journal search process were Toddlers, Mothers, Stunting, Audiovisual Media, Knowledge, and Attitude. This article search yielded a total of 1,618 articles, and 6 articles met the inclusion criteria. The quality assessment of the articles in this review utilized tools from the Joanna Briggs Institute (JBI). Results: Review of the 6 articles indicates that the audiovisual method used to address stunting among mothers with toddlers proved effective, evidenced by a p-value of 0.01. Conclusion: This audiovisual method has been proven effective in enhancing the knowledge and attitudes of mothers with stunted toddlers. Suggestion: It is hoped that this can serve as a reference material for providing health education to mothers with stunted children using audiovisual means.   Keywords: Attitude; Audiovisual; Knowledge; Mothers; Toddlers.   Pendahuluan: Metode audiovisual ini mengandung unsur suara, dan gambar yang dapat dilihat melalui video, film, dan media lainnya. Metode audiovisual dapat menjadi media pendukung dalam konseling karena informasi yang disajikan singkat, jelas, dan menarik, sehingga sangat mudah dipahami oleh ibu-ibu, dengan anak balita stuting, serta dapat meningkatkan pengetahuan mereka. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas pemberian pendidikan kesehatan audiovisual terhadap sikap dan pengetahuan ibu dengan anak balita stunting. Metode: Penelitian systematic review, berasal dari Google Cendekia, Academia, Researhergate, dan juga jurnal-jurnal dari kampus, dalam rentang tahun 2021- 2025 dengan desain penelitian quasi eksperimen. Kata kunci yang digunakan dalam proses pencarian jurnalnya, yaitu balita, ibu, stunting, media audiovisual, pengetahuan, dan sikap. Pencarian artikel ini didapatkan sebesar 1,618 artikel dan yang sesuai dengan kriteria inklusi terdapat 6 artikel. Penilaian kualitas artikel dalam tinjauan ini menggunakan alat dari Joanna Briggs Institute (JBI). Hasil: Review 6 artikel menunjukkan bahwa metode audiovisual ini yang digunakan untuk mengatasi stunting untuk ibu-ibu dengan anak balita terbukti efektif dibuktikan dengan nlai p sebesar 0.01. Simpulan: Metode audiovisual ini terbukti efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu dengan anak balita yang mengalami stunting. Saran: Diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk memberikan pendidikan kesehatan ibu dengan anak stunting menggunakan audiovisual.   Kata Kunci: Audiovisual; Balita; Ibu; Pengetahuan; Sikap.
Efektivitas pemberian buah naga merah (hylocereus polyrhizus) terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi Verawati, Metti; Amanah, Sindawati Insyafiatul; Munawaroh, Siti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1582

Abstract

Background: Hypertension is common in the elderly, due to uncontrolled diet and poor blood pressure control. If not properly managed, this condition can lead to various complications. Hypertension is characterized by blood pressure ≥140/90 mmHg and can be managed through pharmacological and non-pharmacological therapies. Purpose: To determine the effectiveness of red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) on blood pressure changes in hypertensive patients. Method: This study used a quasi-experimental pretest-posttest design with a non-equivalent control group. The study was conducted at the Ngariboyo Community Health Center, Ngariboyo Village, Magetan Regency, in May 2025. Twenty participants were selected using purposive sampling and divided into two groups: the intervention group and the control group. After the pretest, the intervention group was given 200 grams of sliced ​​red dragon fruit, while the control group was not given red dragon fruit. This study used univariate and bivariate analysis using the Wilcoxon test, then compared its effectiveness with the Mann-Whitney U test. Results: The Wilcoxon test showed a significant reduction in both groups (p-value = 0.005 ≤ 0.05), while the Mann-Whitney U test showed a significant difference in systolic (p-value = 0.045 ≤ 0.05) and diastolic (p-value = 0.048 ≤ 0.05) blood pressure. The intervention group consuming 200 grams of red dragon fruit every morning experienced a more consistent and effective reduction in blood pressure. Conclusion: The potassium content in red dragon fruit has been shown to enhance treatment effectiveness, making red dragon fruit an appropriate adjunct and alternative therapy for people with hypertension. Suggestion: These findings provide an initial basis for further research to test the effectiveness of combined pharmacological and non-pharmacological therapies in evidence-based nursing practice.   Keywords: Blood Pressure; Hypertensive Patients; Red Dragon Fruit (Hylocereus Polyrhizus).   Pendahuluan: Hipertensi banyak terjadi pada lansia, salah satu akibatnya dari pola makan yang tidak terkontrol dan kurangnya pengendalian tekanan darah. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Hipertensi ditandai dengan tekanan darah ≥140/90 mmHg dan dapat dikelola melalui terapi farmakologi maupun nonfarmakologi Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas pemberian buah naga merah (hylocereus polyrhizus) terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimental pretest-posttest non equivalent control group. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Ngariboyo, di Desa Ngariboyo, Kabupaten Magetan pada bulan Mei 2025. 20 partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi setelah dilakukan pretest diberikan buah naga merah potong sebanyak 200 gram, sedangkan pada kelompok kontrol tanpa pemberian buah naga merah. Studi ini menggunakan analisis univariat dan bivariat melalui uji Wilcoxon, selanjutnya membandingkan efektivitasnya dengan uji Mann-Whitney U. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan penurunan yang signifikan pada kedua kelompok (p-value = 0.005 ≤ 0.05), sedangkan uji Mann-Whitney U menunjukkan perbedaan yang signifikan pada tekanan darah sistolik (p-value = 0.045 ≤ 0.05) dan diastolik (p-value = 0.048 ≤ 0.05). Kelompok intervensi yang mengonsumsi 200 gram buah naga merah setiap pagi mengalami penurunan tekanan darah yang lebih konsisten dan efektif. Simpulan: Kandungan kalium dalam buah naga merah terbukti meningkatkan efektivitas pengobatan, serta menjadikan buah naga merah sebagai terapi tambahan dan alternatif yang tepat bagi penderita hipertensi. Saran: Temuan ini menjadi dasar awal bagi riset lanjutan untuk mengkaji efektivitas kombinasi terapi farmakologi dan non-farmakologi dalam praktik keperawatan berbasis bukti   Kata Kunci: Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus); Penderita Hipertensi; Tekanan Darah.
Hubungan antara tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus tipe 2 Prasetya, Yudha; Ardian, Iwan; Setyowati, Wahyu Endang
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1588

Abstract

Background: Nonadherence to treatment among type 2 diabetes mellitus patients remains a major barrier to effective disease management. Purpose: To determine the relationship between the level of knowledge and family support with medication compliance in type 2 diabetes mellitus patients. Method: This quantitative, cross-sectional study was conducted in the Petarukan Community Health Center, Pemalang Regency, with 120 respondents using a total sampling technique. Data were collected using a standardized questionnaire and analyzed using the Spearman's rho test. Results: It shows a significant relationship between knowledge and adherence (p = 0.009; r = -0.237) and a very strong relationship between family support and adherence (p = 0.007; r = 0.935). Conclusion: Knowledge and family support play a crucial role in enhancing medication adherence. Suggestion: Health programs involving family empowerment and patient education are recommended to improve diabetes self-management.   Keywords: Family Support; Knowledge; Medication Adherence; Type 2 Diabetes Mellitus.   Pendahuluan: Ketidakpatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus tipe 2 masih menjadi kendala utama dalam manajemen penyakit. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Petarukan, Kabupaten Pemalang kepada sebanyak 120 responden yang diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstandar dan dianalisis dengan uji Spearman’s rho. Hasil: Menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan kepatuhan (p = 0.009; r = -0.237) serta hubungan sangat kuat antara dukungan keluarga dan kepatuhan (p = 0.007; r = 0.935). Simpulan: Pengetahuan dan dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan. Saran: Program kesehatan yang melibatkan pemberdayaan keluarga dan edukasi pasien direkomendasikan untuk meningkatkan manajemen diri diabetes.   Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2; Dukungan Keluarga; Kepatuhan Pengobatan; Pengetahuan.
Pengaruh balloon blowing therapy terhadap frekuensi pernapasan pada penderita asma bronchiale Putri, Risqina; Destari, Popi Lya; Nisa, Maizatun; Ramadhani, Alifa
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1599

Abstract

Background: Bronchial asthma is a chronic inflammation of the airways caused by an overreaction to allergens. An increased respiratory rate in asthma can lead to heart complications. One treatment to reduce the increased respiratory rate in asthma is balloon therapy, a breathing exercise involving blowing up balloons that can increase lung capacity and strengthen respiratory muscles. Purpose: To determine the effect of balloon therapy on respiratory rate in patients with bronchial asthma. Method: This study used a quasi-experimental design with a one-group pre-posttest design. A total sampling technique was used to select 32 participants with bronchial asthma. The instruments used were a demographic questionnaire and observation sheets for respiratory rate and other vital signs. Data were analyzed using the Wilcoxon test. Results: This study demonstrated a significant effect of balloon therapy on respiratory rate in asthma patients (p = 0.001 < α = 0.05). The average respiratory rate of participants before the intervention was 26.12 breaths/minute, then decreased to 23.78 breaths/minute after the intervention. Conclusion: There is a significant effect of balloon therapy on respiratory rate in patients with bronchial asthma. Suggestion: Patients with bronchial asthma can implement balloon therapy interventions when an asthma attack occurs to prevent further complications. Local community health centers can integrate balloon therapy interventions into nursing care for patients with bronchial asthma according to standard operating procedures.   Keywords: Balloon Therapy; Bronchial Asthma; Respiratory Rate.   Pendahuluan: Asma bronchiale merupakan inflamasi kronik pada saluran napas akibat adanya hiperreaksi terhadap alergen. Gejala peningkatan frekuensi napas pada asma dapat menimbulkan komplikasi pada jantung. Salah satu penanganan untuk mengurangi peningkatan frekuensi pernapasan pada asma bronchiale adalah dengan balloon blowing therapy, yaitu latihan pernapasan dengan meniup balon yang dapat meningkatkan kapasitas paru dan memperkuat otot pernapasan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh balloon blowing therapy terhadap frekuensi pernapasan pada penderita asma bronchiale. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan quasi experimental dengan pendekatan one group pre-posttest design. Jumlah sampel sebanyak 32 partisipan dengan asma bronchiale yang diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner karakteristik demografi dan lembar observasi frekuensi pernapasan dan parameter tanda-tanda vital lainnya. Analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Hasil: Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh balloon blowing therapy terhadap frekuensi pernapasan pada penderita asma bronchiale secara signifikan dengan p = 0.001 < α = 0.05. Rata-rata frekuensi pernapasan partisipan sebelum intervensi adalah 26.12 kali/menit, kemudian menurun menjadi 23.78 kali/menit setelah intervensi diberikan. Simpulan: Ada pengaruh balloon blowing therapy terhadap frekuensi pernapasan pada penderita asma bronchiale secara signifikan. Saran: Penderita asma bronchiale dapat menerapkan intervensi balloon blowing therapy ketika terjadi kekambuhan asma berulang sebelum menjadi komplikasi lebih lanjut. Puskesmas setempat dapat mengintegrasikan intervensi balloon blowing therapy ke dalam asuhan keperawatan pada penderita asma bronchiale sesuai standar operasional prosedur.   Kata Kunci: Asma Bronchiale; Balloon Blowing Therapy; Frekuensi Pernapasan.