cover
Contact Name
GANANG DWI PRASETYO
Contact Email
jurnalmegapterapkpkupang@gmail.com
Phone
+62380-8563066
Journal Mail Official
jurnalmegapterapkpkupang@gmail.com
Editorial Address
Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang Jl. Kampung Baru, Pelabuhan Ferry Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, 85351 Phone: 081284991205
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Megaptera
ISSN : 29862310     EISSN : 29860903     DOI : http://dx.doi.org/10.15578/jmtr.v1i1.11830
JURNAL MEGAPTERA merupakan media penerbitan artikel ilmiah yang dikelola oleh unit Pusat Penelitian dan Pengabdan kepada Masyarakat dibawah Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang. Naskah manuskrip yang dimuat dalam jurnal ini terutama berasal dari penelitian maupun kajian yang dilakukan Dosen/Akademisi dan Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, peneliti, serta pemerhati dibidang perikanan dan kelautan. Adapun Jadwal penerbitan artikel ilmiah sebanyak 2 (dua) kali dalam satu tahun yang direncanakan pada bulan November dan Mei. Ruang lingkup muatan artikel ilmiah antara lain bidang Perikanan Tangkap, Teknologi Kelautan, Inderaja Kelautan, Akustik dan Instrumentasi, Teknologi Kapal Perikanan, Manajemen dan Teknologi Budidaya Perikanan, Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan, Teknologi Mekanisasi Perikanan, Pengelolaan Sumberdaya Perairan, Manajemen Pelabuhan Perikanan dan Sosial Ekonomi Perikanan. Artikel yang dapat diterima untuk diproses penerbitannya merupakan hasil-hasil penelitian atau Teknik penelitian atau penelitian terapan serta kajian konseptual yang berkaitan dengan bidang kelautan dan perikanan. Artikel yang hendak dimuat berupa tulisan asli dalam kurun waktu 10 tahun terakhir berbahasa Indonesia atau Inggris yang belum pernah atau dalam proses dimuat di dalam junal ilmiah nasional maupun internasional.
Articles 29 Documents
Studi Pemeliharaan Larva Udang Vanname (Litopenaeus vannamei) Serihollo, Lukas Giovani Gonzales; Hariyadi, Dimas Rizky; Fanggidae, Yrna Queen
JURNAL MEGAPTERA Vol 1, No 1 (2022): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v1i1.11555

Abstract

Udang vanname merupakan jenis udang yang pembudidayaannya hampir tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia. Dalam pengembangan produksi udang vanname, diperlukan lahan yang luas dan benih dalam jumlah yang banyak serta berkualitas. Kebutuhan akan benih dalam jumlah yang banyak serta berkualitas menjadi hal penting dalam meningkatkan produksi udang vanname. Benih berkualitas dihasilkan dari proses pemeliharaan larva yang dimonitoring melalui persyaratan yang ketat. Pemenuhan atas kebutuhan benih yang berkualitas tidak terlepas dari keberhasilan pemeliharaan stadia larva dari udang vanname. Permasalahan yang sering dihadapi adalah proses pemeliharaan pada stadia selanjutnya yakni zoea hingga post larva karena pada stadia ini, larva membutuhkan suplai makanan dari luar. Berdasarkan permasalahan dan tingkat kesulitan pada stadia awal pemeliharaan larva udang vanname tersebut, diperlukan kajiankajian atau informasi mengenai teknik pemeliharaan larva stadia awal (nauplius) hingga stadia post larva yang ditinjau dari tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan dan manajemen kualitas air pada unit-unit usaha pembenihan. Tujuan kegiatan ini adalah mengetahui pertambahan panjang mutlak larva, tingkat kelangsungan hidup larva (SR), perkembangan stadia larva dan pengamatan kualitas air. Hasil pengamatan yang diperoleh, nilai panjang mutlak dari larva yang dipelihara adalah 3,5 mm dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 75,6%. Hasil pengamatan selama pemeliharaan yang dilakukan untuk perkembangan larva pada setiap stadia menunjukan larva udang vanname mengalami perubahan pada setiap stadia pengamatan. Hasil pengukuran kualitas air antara lain suhu berkisar 29-31 C, Salinitas berkisar 29-33 ppt, pH berkisar 8,1-8,4, DO 5,21-5,85 mg/l dan Amoniak berkisar 0,0-0,3 mg/l. Parameter kualitas air untuk suhu, salinitas, pH dan DO masih tergolong optimal selama pemeliharaan sedangkan untuk Amoniak, hanya pada minggu ketiga yang nilainya mengalami peningkatan.Litopenaeus vanname is variety of shrimp that has been cultured around Indonesia. Wide areal, massive and high quality larvae were compliments in order to increase the output from growing this species. The need for quality larvae in large quatities is an important thing in order to recrease the production of vanname shrimp. A quality larvae comes from strict larval rearing process. Fulfillment of quality larval cannot be separated from the sucess of maintaning larval stages. Problem that is often faced is the maintaned process at the next stage, namely zoea to post larvae because the stage, larvae need nutrition from external sources. Based on the problem and level of difficulty in early stage of maintaning vanname shrimp larval. There are come studies or information about aquaculture technique of early stage (nauplius) until post larvae stage include survival rate, total lenght of larvae, water quality that need to be gathered. The aim of this activity is to know total length of larvae, survival rate (SR), stadia growth of larvae and water quality. As the result of observation, total length of growing larvae is 3,5mm with 75.6% survival rate. The result of observation during rearing process for larval development at each stage showed that vanname shrimp larvae changed at each observation stages. The result of water quality measurments inclued temperatures ranging from 29-31 C, salinity rangging from 29-33 ppt, pH rangging from 8,1-8,4, DO rangging from 5,21-5,85 mg/l and amonia rangging from 0,0-0,3 mg/l. Water quality parameters for temperature, salinity, pH and DO were still considered optimal during maintenance, while amonia only increased in the third week.
Implementasi K3 Sebagai Upaya Peningkatan GMP Dan SSOP Pada Industri Tuna Cube Nugraha, I Made Aditya; Budiadnyani, I Gusti Ayu; Poy, Maria Delastrada; Desnanjaya, I Gusti Made Ngurah
JURNAL MEGAPTERA Vol 4, No 1 (2025): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v4i1.15384

Abstract

Industri pengolahan perikanan memerlukan penerapan standar ketat untuk menjamin kualitas produk dan keselamatan pekerja. Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) berperan penting dalam menjaga kebersihan dan efisiensi produksi. Penelitian ini menganalisis strategi penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam meningkatkan aspek GMP dan SSOP pada produksi tuna cube di PT X. Dengan metode campuran, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun PT X telah menerapkan GMP dan SSOP, terdapat tantangan dalam pemenuhan pekerja terhadap prosedur kebersihan serta pengelolaan fasilitas kerja. Strategi yang direkomendasikan meliputi peningkatan pelatihan, pengawasan ketat, serta optimalisasi fasilitas untuk menciptakan lingkungan produksi yang lebih aman dan higienis. Implementasi yang lebih efektif diharapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja serta meningkatkan kualitas produk perikanan.The fisheries processing industry requires strict standards to ensure product quality and worker safety. Good Manufacturing Practices (GMP) and Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) play an important role in maintaining cleanliness and production efficiency. This study analyzes the strategy for implementing Occupational Safety and Health (OHS) in improving GMP and SSOP aspects in tuna cube production at PT X. Using a mixed method, data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation studies. The results of the study indicate that although PT X has implemented GMP and SSOP, there are challenges in workers' compliance with hygiene procedures and management of work facilities. Recommended strategies include increasing training, strict supervision, and optimizing facilities to create a safer and more hygienic production environment. More effective implementation is expected to reduce the risk of work accidents and improve the quality of fishery products.
Studi Kasus: Praktik Pemberian Pakan Dan Dampaknya Terhadap Kinerja Budidaya Udang Vaname Di Tambak Intensif Perusahaan Swasta Di Nusa Tenggara Barat (NTB) Rahi, Oktaviani Ananta; Sinaga, Riris Yuli Valentine; Amalo, Pieter
JURNAL MEGAPTERA Vol 4, No 1 (2025): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v4i1.15613

Abstract

Udang vannamei (Litopenaeus vannamei) adalah salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia yang telah banyak dibudidayakan, karena berbagai keunggulannya seperti responsif terhadap pakan, tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, kepadatan tebar yang tinggi, waktu pemeliharaan yang relatif singkat, pertumbuhan yang lebih cepat, serta ketahanan yang lebih baik terhadap serangan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi praktik pemberian pakan dan mengidentifikasi permasalahan yang muncul dalam manajemen pakan pada budidaya udang vannamei di tambak intensif milik perusahaan swasta di NTB. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan pengumpulan data dari sumber primer dan sekunder. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, partisipasi aktif, dan telaah pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pakan dalam budidaya udang vannamei di PT. Sumbawa Dua Belas Makmur Sejahtera mencakup: pemilihan pakan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi udang, penyimpanan pakan yang efisien, pemberian pakan dengan program blind feeding dan demand feeding, serta program berbasis control anco. Penelitian ini dilaksanakan di satu kolam dengan analisis hasil pakan menunjukkan SR mencapai 87%, efisiensi pakan 87,83% dan FCR sebesar 1,1 dengan tingkat FCR tersebut, produksi udang dapat dinyatakan baik.Vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of Indonesia's leading export commodities that has been widely cultivated, due to its various advantages such as responsiveness to feed, high survival rate, high stocking density, relatively short rearing time, faster growth, and better resistance to disease. This study aims to evaluate feeding practices and identify problems that arise in feed management in vannamei shrimp farming in intensive ponds owned by private companies in NTB. The method applied in this study is descriptive, with data collection from primary and secondary sources. Data were obtained through observation, interviews, active participation, and review of relevant literature. The results showed that feed management in vannamei shrimp farming at PT Sumbawa Dua Belas Makmur Sejahtera includes: feed selection in accordance with the nutritional needs of shrimp, efficient feed storage, feeding with blind feeding and demand feeding programs, and anco control-based programs. This study was conducted in one pond with feed yield analysis showing SR reached 87%, feed efficiency 87.83% and FCR of 1.1 with the FCR level, shrimp production can be declared good.
Efektivitas Ekstrak Kulit Buah Manggis, Kulit Pisang, Kulit Jeruk, Dan Kulit Mangga Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophila Ramadhani, Dian Eka; Choerunnisa, Hasna Najla; Syafira, Nadia; Firdaus, Mujammad Ridlo; Firdausi, Amalia Putri; Wiyoto, Wiyoto; Pratiwi, Rifqah
JURNAL MEGAPTERA Vol 4, No 1 (2025): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v4i1.15504

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memilih jenis herbal dari ekstrak kulit buah manggis, kulit pisang, kulit jeruk, dan kulit mangga yang memiliki daya hambat terbaik terhadap bakteri Aeromonas hydrophila. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Kualitas Air, Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, Sekolah Vokasi IPB University. Metode yang digunakan yaitu uji in vitro dan uji in vivo. Hasil menunjukkan pada uji in vitro menggunakan pure ekstrak pada semua bahan terbukti efektif dengan besaran zona hambat terbesar yaitu pure ekstrak kulit mangga sebesar 20 mm. Bahan tersebut kemudian diuji pada uji in vivo menggunakan pure ekstrak etanol kulit mangga pada 4 ekor ikan lele selama 1 jam menghasilkan survival rate sebesar 75% dengan kematian 1 ikan. Pada 24 jam menghasilkan survival rate sebesar 25% dengan kematian 3 ikan. Pure ekstrak etanol kulit mangga efektif dalam mengatasi penyakit bakterial yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila.This study aims to select the type of herbs from mangosteen peel, banana peel, orange peel, and mango peel extracts that have the best inhibitory power against Aeromonas hydrophila bacteria. The study was conducted at the Microbiology and Water Quality Laboratory, Fish Seed Technology and Management Study Program, IPB University Vocational School. The methods used were in vitro and in vivo tests. The results showed that in vitro tests using pure extracts on all materials were proven effective, with the largest inhibition zone size, namely 20 mm, achieved by pure mango peel extract. The material was then tested in an in vivo study using pure mango peel ethanol extract on four catfish for 1 hour, resulting in a survival rate of 75% with one fish dying. At 24 hours, it produced a survival rate of 25%, with 3 fish dying. Pure mango peel ethanol extract effectively treats bacterial diseases caused by Aeromonas hydrophila bacteria.
Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Umpan Buatan Menggunakan Durable Artificial Bait (DAB) Di Kota Dumai Mardiah, Ratu Sari; Yusrizal, Yusrizal; Ridwan, Ridwan; Dewi, Priyantini; Febriyanto, Fredi
JURNAL MEGAPTERA Vol 4, No 1 (2025): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v4i1.15893

Abstract

Umpan tiruan merupakan salah satu hasil perikanan tangkap yang diperdagangkan. Faktanya, 75% masyarakat Indonesia mempunyai hobi memancing dan membutuhkan umpan untuk memancing. Pemancing di Dumai biasanya membuat sendiri umpan buatan dan membutuhkan waktu dalam pembuatannya. Ketersediaan umpan buatan di Dumai belum efektif di perjualbelikan. Jadi, peluang usaha pembuatan umpan buatan sangat besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelayakan umpan buatan menggunakan teknologi Durable Artificial Bait (DAB). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara kepada pelaku usaha dan survei pasar di Dumai selama 4 bulan. Analisis data yang digunakan adalah keuntungan produksi, R/C Ratio dan BEP. Hasil penelitian menyatakan bahwa usaha pembuatan umpan ikan dengan DAB dinilai layak. Hasil analisis total biaya sebesar Rp. 456.722,-. Pendapatan tahunan adalah Rp. 13.440.000.- dan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 7.959.333. Nilai R/C Ratio yang diperoleh sebesar 2,45 sehingga layak untuk dilakukan dan dikembangkan. Nilai BEP harga produk ini adalah Rp. 14.273/kemasan. Kesimpulannya, bisnis umpan buatan dengan penambahan teknologi terbarukan yaitu Teknologi Bau Tahan Lama (DAB) dinyatakan layak secara finansial dan dapat membangun startup di bidang perikanan tangkap.Artificial bait is one of the commercial products derived from capture fisheries. In fact, 75% of the Indonesian population enjoys fishing as a hobby and requires bait for this activity. Anglers in Dumai usually make their own artificial bait and it takes time to make it. The availability of artificial bait in Dumai is not yet effective in trading. Therefore, the business opportunity for manufacturing artificial bait is highly promising. The objective of this study is to analyze the feasibility of artificial bait production utilizing Durable Artificial Bait (DAB) technology. The data collection methods used were interviews with business practitioners and market surveys conducted in Dumai over a period of four months. The data analysis included production profit, R/C Ratio, and Break-Even Point (BEP). The results indicate that the artificial bait manufacturing business incorporating Durable Odor Technology (DAB) is feasible. The total production cost was recorded at IDR 456,722. The annual revenue reached IDR 13,440,000, with a net profit of IDR 7,959,333. The R/C Ratio was calculated at 2.45, indicating that the business is viable and has potential for further development. The BEP for the product was determined at IDR 14,273 per package. In conclusion, the artificial bait business utilizing the latest innovation—Durable Odor Technology (DAB)—is financially feasible and has the potential to support the development of a startup in the capture fisheries sector.
Uji Makroskopik Dan Biokimia Terhadap Aeromonas Hydrophila Sebagai Upaya Diagnostik Infeksi Bakteri Pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Bahariyanto, Devi Ramadani; Amalo, Pieter; Pratiwi, Rifqah
JURNAL MEGAPTERA Vol 4, No 1 (2025): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v4i1.15576

Abstract

Penyakit akibat infeksi bakteri merupakan salah satu permasalahan utama dalam budidaya ikan nila Oreochromis niloticus, yang dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kematian ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri patogen penyebab penyakit pada ikan nila menggunakan pendekatan uji makroskopik dan biokimia. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 4 sampai 20 Februari 2025, di Laboratorium Hama dan Penyakit Ikan dan Udang, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Sampel yang digunakan berupa 1 ekor ikan nila sakit dengan panjang 19 cm dan bobot 10,9 gram yang menunjukkan luka pada bagian tubuh. Metode yang digunakan adalah identifikasi infeksi bakteri berdasarkan karakteristik morfologi melalui uji makroskopik dan karakteristik fisiologis melalui serangkaian uji biokimia. Hasil analisis menunjukkan bahwa ikan nila terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila, yang merupakan patogen oportunistik penyebab penyakit pada ikan air tawar. Penelitian ini menunjukkan bahwa uji makroskopik dan uji biokimia efektif digunakan sebagai metode diagnostik awal dalam mengidentifikasi infeksi bakteri pada ikan nila, sehingga dapat menunjang upaya pengendalian penyakit dalam kegiatan budidaya.Diseases caused by bacterial infections are one of the main problems in Nile Tilapia, Oreochromis niloticus cultivation, which can reduce productivity and increase the risk of fish death. This study aims to identify pathogenic bacteria that cause disease in tilapia using macroscopic and biochemical test approaches. The study was conducted on 4 to 20 February 2025, at the Fish and Shrimp Pests and Diseases Laboratory, Center for Brackish Water Aquaculture, BBPBAP Jepara. The sample used was 1 sick tilapia fish with a length of 19 cm and a weight of 10.9 grams, showing wounds on the body. The method used was the identification of bacterial infections based on morphological characteristics through macroscopic tests and physiological characteristics through a series of biochemical tests. The analysis showed that tilapia were infected with Aeromonas hydrophila bacteria, which are opportunistic pathogens that cause disease in freshwater fish. This study indicates that macroscopic and biochemical tests are effective as early diagnostic methods in identifying bacterial infections in tilapia, so that they can support disease control efforts in cultivation activities.
Uji Efektivitas Antibiotik Cyprofloxacin, Enrofloxacin, Oxytetracycline Untuk Menghambat Bakteri Patogen Aeromonas Hydrophila Secara In Vitro Dan In Vivo Ramadhan, Dian Eka; Ansori, M Isya Rais; Maulana, Moch Rega; Putri, Meisya Meliana; Anisa, Anisa; Juliansyah, Ridho; Juliani, Risma Rosyada; Zahra, Ghaida Refiana; Anjani, Resti Dwi; Tama, Muhammad Lutfi Hauzan; Maula, Athaya; Fauziah, Sarah Sabilla; Djunaedi, Muhamad Erlan Hafid; Nurrafa, Nazla Wafi; Kurniawinata, Mohamad Iqbal
JURNAL MEGAPTERA Vol 4, No 1 (2025): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v4i1.15149

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh jenis antibiotik dan dosis terbaik dalam menghambat bakteri patogen Aeromonas hydrophila (AHA). Penelitian dilakukan di Laboratorium Kesehatan dan Lingkungan Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, Sekolah Vokasi IPB Sukabumi. Penelitian menggunakan metode tunggal dengan dua ulangan dan 10 perlakuan, yaitu: kontrol (K), P1 ciprofloxacin dosis 0,01 ppm, P2 ciprofloxacin dosis 0,02 ppm, P3 ciprofloxacin dosis 0,03 ppm, P4 enrofloxacin dosis 10 ppm, P5 enrofloxacin dosis 15 ppm, P6 enrofloxacin dosis 20 ppm, P7 oksitetrasiklin dosis 40 ppm, P8 oksitetrasiklin dosis 50 ppm, dan P9 oksitetrasiklin dosis 60 ppm. Pada metode kombinasi, digunakan dua ulangan dengan empat perlakuan, yaitu tiga perlakuan terbaik dari metode tunggal dan satu kontrol: K (kontrol), P1 ciprofloxacin dosis 3000 ppm + oksitetrasiklin dosis 60 ppm, P2 enrofloxacin dosis 10 ppm + ciprofloxacin dosis 0,003 ppm, dan P3 oksitetrasiklin dosis 60 ppm + enrofloxacin dosis 10 ppm. Sementara itu, pada metode ko-kultur digunakan dua ulangan dengan empat perlakuan, yaitu: P0 (kontrol/AHA), P2 enrofloxacin dosis 10 ppm, P3 ciprofloxacin dosis 3000 ppm, dan P4 oksitetrasiklin dosis 60 ppm. Parameter yang diamati meliputi zona hambat dan total jumlah bakteri patogen. Berdasarkan hasil penelitian, antibiotik ciprofloxacin pada dosis tunggal 0,003 ppm menunjukkan efektivitas paling tinggi terhadap bakteri patogen Aeromonas hydrophila, dengan zona hambat sebesar 18,4 mm. Pada metode kultur gabungan, ciprofloxacin juga terbukti paling efektif terhadap bakteri AHA, dengan hasil total plate count (TPC) terendah sebesar 5,7 × 10⁵ CFU/ml. Uji in vivo dengan ciprofloxacin dosis 3000 ppm menghasilkan tingkat kelangsungan hidup (SR) sebesar 55%.This study aimed to determine the most effective type and dose of antibiotics to inhibit the pathogenic bacterium Aeromonas hydrophila. The research was conducted at the Health and Environmental Laboratory of the Fish Hatchery Technology and Management Study Program, IPB Sukabumi Vocational School. The study used a single-treatment method with two replications and ten treatments, namely: control (K), P1 ciprofloxacin at a dose of 0.01 ppm, P2 ciprofloxacin at 0.02 ppm, P3 ciprofloxacin at 0.03 ppm, P4 enrofloxacin at 10 ppm, P5 enrofloxacin at 15 ppm, P6 enrofloxacin at 20 ppm, P7 oxytetracycline at 40 ppm, P8 oxytetracycline at 50 ppm, and P9 oxytetracycline at 60 ppm. In the combination method, two replications were used with four treatments: three best treatments from the single method and one control, namely: K (control), P1 ciprofloxacin at 3000 ppm + oxytetracycline at 60 ppm, P2 enrofloxacin at 10 ppm + ciprofloxacin at 0.003 ppm, and P3 oxytetracycline at 60 ppm + enrofloxacin at 10 ppm. Meanwhile, in the coculture method, two replications and four treatments were applied: P0 (control/AHA), P2 enrofloxacin at 10 ppm, P3 ciprofloxacin at 3000 ppm, and P4 oxytetracycline at 60 ppm. The observed parameters included the inhibition zone and total pathogenic bacterial count. Based on the results, ciprofloxacin at a single dose of 0.003 ppm was the most effective against Aeromonas hydrophila, with an inhibition zone of 18.4 mm. In the combination culture method, ciprofloxacin also proved to be the most effective against AHA bacteria, with the lowest total plate count (TPC) result of 5.7 × 10⁵ CFU/ml. The in vivo test using ciprofloxacin at a dose of 3000 ppm resulted in a survival rate (SR) of 55%.
Lama Waktu Tingkat Kematangan Gonad Udang Vanamei melalui Ablasi dan Non-Ablasi Sa’diyah, Qonita Nur; Ramli, Taufik Hadi; Pattirane, Chrisoetanto P; Serihollo, Lukas Giovani Gonzales
JURNAL MEGAPTERA Vol 3, No 2 (2024): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v3i2.15183

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan lama waktu pematangan gonad dari udang vaname yang di ablasi dan tidak di ablasi. Penelitian ini dilaksanakan di instalasi Pembenihan Udang di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Jawa Timur. Karakteristik induk udang yang baik adalah udang jantan dan betina memiliki karakteristik reproduksi yang sangat bagus. Spermatofora jantan berkembang baik dan berwarna putih mutiara dan udang betina matang secara seksual dan menunjukkan perkembangan ovarium yang alami. Induk berasal hasil pemuliaan Multipication Broodstock Center (MBC) dengan bobot tubuh sebesar 30-35 g (jantan) dan 40-45 g (betina). Induk diberikan kombinasi tiga jenis pakan selama masa pemeliharaan dengan frekuensi pemberian 4 kali sehari sebesar 40% dari biomassa yakni pukul 07.00, 11.00, 15.00 dan 19.00. Proses ablasi dilakukan pada pagi hari. Proses ablasi yang dilakukan adalah dengan cara memegang induk betina secara perlahan-lahan dan hati-hati sehingga udang tidak merontaronta dengan cara melipat ekor udang ke arah dalam secara perlahan. Lalu setelah itu dilakukan pemotongan tangkai mata menggunakan gunting arteri yang telah dipanaskan. Pemotongan tangkai mata dapat dilakukan pada bagian kanan ataupun kiri sesuai kondisi mata induk. Setelah di ablasi, induk udang diamati tingkat kematian untuk meyakinkan ketersediaan induk yang akan digunakan untuk pengamatan tingkat kematangan gonad. Tingkat kematangan gonad udang vaname menunjukkan ada perbedaan pada lama hari inkubasi untuk perlakuan ablasi dan non-ablasi. Periode waktu untuk perkembangan TKG udang yang di ablasi antara 0-12 hari sedangkan 0-22 hari untuk yang tidak di ablasi.This study was conducted to see the time difference in the gonad maturation time period of ablated and non-ablated Vaname shrimp. This study was conducted at the Shrimp Hatchery Instalansi at the Brackish Water Aquaculture Center (BPBAP) Situbondo, East Java. The broodstock originated from the Multipication Broodstock Center (MBC), where they were bred for body weights of 30-35 g for males and 40-45 g for females. During the rearing period, the broodstock received a combination of three types of feed four times a day at 40% of biomass, at 07:00, 11:00, 15:00, and 19:00. We carried out the ablation process in the morning. We perform the ablation process by gently folding the shrimp's tail inward and holding the female parent slowly and carefully to prevent it from struggling. Next, use heated artery scissors to cut the eye stalk. Depending on the condition of the parent's eye, you can cut the eye stalk on either the right or left side. We observed the mortality of shrimp broodstock after ablation to ensure its availability for gonadal maturity observations. The difference in the number of days needed for ablation and non-ablation treatments was seen in the vanamei shrimp's gonadal maturity level. The time period for the development of TKG in ablated shrimp is between 0 and 12 days, while 0 and 22 days for non-ablated shrimp.
Aplikasi Bioball Dalam Menurunkan Kadar Nitrit Pada Limbah Tambak Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Tangguda, Sartika; Serihollo, Lukas Giovani Gonzales; Usman, Zainal; Amalo, Pieter; Sinaga, Riris Yuli Valentine; Pratiwi, Rifqah; Kusuma, Ni Putu Dian; Hariyadi, Dimas Rizky; Timuneno, Melkias
JURNAL MEGAPTERA Vol 4, No 1 (2025): Jurnal Megaptera (JMTR)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jmtr.v4i1.15731

Abstract

Limbah pada budidaya Udang vaname (L. vannamei) mengandung sejumlah senyawa yang bersifat toksik, salah satunya adalah Nitrit (NO2 - ) yang bersifat tidak stabil dalam air. Penyaringan limbah sangat diperlukan sebelum dibuang ke perairan umum untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan, salah satu cara yang dilakukan yaitu aplikasi bioball sebagai media tumbuh mikroorganisme atau bakteri yang berperan sebagai bioremediasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis jumlah bioball yang efektif untuk menurunkan kadar nitrit pada limbah budidaya udang vaname serta mengetahui parameter kualitas air yang berperan dalam penguraian limbah tambak udang tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif untuk melihat pengaruh bioball dalam menurunkan kadar nitrit pada limbah tambak udang vaname. Penelitian ini diawali dengan menyalurkan air limbah hasil buangan kegiatan budidaya udang vaname ke dalam tandon penampungan. Kemudian pada masing-masing tandon penampungan dimasukkan filter biologis sesuai dengan rancangan, yaitu P1 (bioball sebanyak 2.000 buah), P2 (bioball sebanyak 3.000 buah), dan P3 (bioball sebanyak 4.000 buah). Parameter utama yang diamati adalah kadar nitrit, sedangkan parameter penunjang yang diamati terdiri dari kadar nitrat, fosfat, suhu, pH, salinitas, dan intensitas cahaya. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan P2 (penggunaan bioball sebanyak 3.000 buah) menghasilkan kadar nitrit yang lebih rendah dibandingkan perlakuan P1 dan P3, yaitu 0.020 mg/L. Parameter kualitas air yang berpengaruh terhadap penguraian limbah tambak udang vaname dengan menggunakan bioball adalah suhu, pH, salinitas, intensitas cahaya, nitrat, dan fosfat. Pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan penambahan naungan atau shelter pada tandon penampungan limbah sehingga suhu dan intensitas cahaya tidak terlalu tinggi dan dapat memaksimalkan kinerja filter biologis.Waste from Vaname Shrimp (L. vannamei) cultivation contains a number of toxic compounds, one of which is Nitrite (NO2 - ) which is unstable in water. Waste filtration is essential before being discharged into public waters to prevent environmental pollution, one way is to apply bioballs as a growing medium for microorganisms or bacteria that act as bioremediation. This study aims to analyze the number of bioballs that are effective in reducing nitrite levels in vaname shrimp cultivation waste and to determine the water quality parameters that play a role in the decomposition of shrimp pond waste. The method used in this study is a descriptive method to see the effect of bioballs in reducing nitrite levels in vaname shrimp pond waste. This study began by channeling wastewater from vaname shrimp cultivation activities into a storage tank. Then, a biological filter was inserted into each storage tank according to the design, namely P1 (2,000 bioballs), P2 (3,000 bioballs), and P3 (4,000 bioballs). The main parameters observed were nitrite levels, while the supporting parameters observed consisted of nitrate, phosphate, temperature, pH, salinity, and light intensity levels. The results showed that treatment P2 (using 3,000 bioballs) produced lower nitrite levels compared to treatments P1 and P3, which was 0.020 mg/L. Water quality parameters that affect the decomposition of vaname shrimp pond waste using bioballs are temperature, pH, salinity, light intensity, nitrate, and phosphate. In further research, it is necessary to add shade or shelter to the waste storage tank so that the temperature and light intensity are not too high and can maximize the performance of the biological filter.

Page 3 of 3 | Total Record : 29