cover
Contact Name
Ferdinan Bashofi
Contact Email
ferdinanbashofi@uibu.ac.id
Phone
+6285755554384
Journal Mail Official
maharsi@uibu.ac.id
Editorial Address
Jl. Citandui No.46, Purwantoro, Kec. Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur 65126
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
ISSN : 26562499     EISSN : 26848686     DOI : https://doi.org/10.33503/maharsi.v7i2
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sociologi contains scientific articles, theoretical and empirical studies resulting from research by students, academics, and practitioners in the field of Science and Applied Science Education which can be implemented in the context of science learning. The scope of science in this journal includes but is not limited to Sociology, and History. The journal publishes state-of-art papers in fundamental theory, experiments, and simulation, as well as applications. Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sociologi  is a multidisciplinary journal committed to no single approach, discipline, methodology, or paradigm. This journal welcomes a variety of approaches (qualitative, quantitative, and mixed methods) to empirical research; and also publishes high-quality systematic reviews and meta-analyses.
Articles 196 Documents
Peran Ki Nartosabdo Dalam Pengembangan Seni Pertunjukan Wayang Kulit Tahun 1969–1985 Jovan; Hieronymus Purwanta
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 2 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i2.3405

Abstract

Pada tahun 1969–1985 seni pertunjukan wayang kulit gaya Surakarta mengalami perubahan dan pengembangan yang dipelopori oleh Ki Nartosabdo. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang, pengembangan, dan pengaruh pengembangan Ki Nartosabdo terhadap seni pertunjukan wayang kulit di Jawa. Kajian ini menggunakan metode historis melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data yang diperoleh berdasarkan hasil studi dokumen, studi pustaka, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ki Nartosabdo melakukan pembaharuan seni pertunjukan wayang kulit dilatarbelakangi oleh adanya kejenuhan estetis, tantangan untuk bertahan hidup, visi inklusivitas seni, pergeseran patronase seni, munculnya teknologi rekaman, tuntutan politik Orde Baru, dan pengaruh ekosistem wayang wong. Aspek-aspek seni pertunjukan wayang kulit yang dikembangkan oleh Ki Nartosabdo terdiri dari sulukan, lakon, dialog, adegan, goro-goro, penokohan, gagrag, bahasa, tata panggung, dan karawitan. Pengaruh dari pengembangan seni pertunjukan wayang kulit oleh Ki Nartosabdo adalah wayang kulit dapat mengikuti perkembangan zaman, munculnya gaya pedalangan baru yang dikenal dengan gaya Nartosabdan, dan kekayaan repertoar-repertoar karawitan baru gaya Surakarta semakin bertambah.
Politik Integrasi dalam Pembentukan Bahasa Indonesia: Kongres Bahasa Indonesia 1938 Mustofa, Farid; Yuniyanto, Tri
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 2 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i2.3539

Abstract

Artikel ini membahas Kongres Bahasa Indonesia 1938 sebagai forum yang memperlihatkan pembentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dalam masyarakat kolonial yang majemuk. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan menelaah dokumen Kongres Bahasa Indonesia 1938, data Volkstelling 1930, pers sezaman, serta literatur historis-linguistik tentang bahasa Melayu, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa. Artikel ini menunjukkan bahwa kedudukan nasional bahasa Indonesia lebih terkait dengan sejarah pemakaian Melayu sebagai bahasa perhubungan antarkelompok daripada dengan besarnya jumlah penutur asli. Dari riwayat itulah Melayu/Indonesia memperoleh peluang untuk tampil sebagai bahasa yang dapat diterima oleh berbagai kelompok. Bahasa Jawa, meskipun memiliki jumlah penutur besar, tradisi sastra panjang, dan kedudukan kultural kuat, tidak dijadikan dasar bahasa nasional karena kedekatannya dengan identitas etnokultural Jawa membatasi daya terimanya sebagai simbol nasional lintas-kelompok. Kongres Bahasa Indonesia 1938 merumuskan jalan tengah dengan menegaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, sementara bahasa-bahasa lokal tetap ditempatkan sebagai bahasa kebudayaan dan sumber pengayaan. Dengan demikian, pembentukan bahasa Indonesia merupakan usaha membangun bahasa nasional tanpa menghapus keragaman bahasa daerah
Pengaruh Paparan Konten Digital terhadap Pembentukan Sikap Fomo Mahasiswa Universitas Palangka Raya Harefa, Kanaria; Butarbutar, Reuni; Tarigan, Hanisa Karunia
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 2 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i2.3574

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh paparan konten digital terhadap pembentukan sikap Fear of Missing Out (FOMO) pada mahasiswa Universitas Palangka Raya. Di era digital, media sosial seperti TikTok telah menjadi kebutuhan utama kalangan muda, dengan lebih dari 60% penggunanya di Indonesia berusia 18-24 tahun. Paparan konten digital yang tinggi dapat menimbulkan FOMO, yaitu kecemasan dan ketakutan tertinggal dari pengalaman orang lain.Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan 30 responden mahasiswa Universitas Palangka Raya yang dipilih melalui simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur paparan konten digital (model AIDA) dan sikap FOMO (aspek relatedness dan self/autonomy). Hasil penelitian menunjukkan paparan konten digital berpengaruh signifikan terhadap pembentukan FOMO. Mayoritas mahasiswa (93,3%) memberikan respons positif terhadap konten digital yang mampu menarik perhatian hingga mendorong tindakan. Pada aspek FOMO, 86,7% responden khawatir kehilangan momen kebersamaan, 86,7% merasa tidak bebas dan lebih sering menggunakan internet, 73,3% cenderung menggunakan internet saat merasa tidak mampu, dan 70% mengakui internet memengaruhi keputusan sehari-hari.Paparan konten digital melalui TikTok tidak hanya memengaruhi perilaku konsumtif tetapi juga memperkuat FOMO. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan literasi digital kritis dan regulasi diri bagi mahasiswa.Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh paparan konten digital terhadap pembentukan sikap Fear of Missing Out (FOMO) pada mahasiswa Universitas Palangka Raya. Di era digital, media sosial seperti TikTok telah menjadi kebutuhan utama kalangan muda, dengan lebih dari 60% penggunanya di Indonesia berusia 18-24 tahun. Paparan konten digital yang tinggi dapat menimbulkan FOMO, yaitu kecemasan dan ketakutan tertinggal dari pengalaman orang lain.Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan 30 responden mahasiswa Universitas Palangka Raya yang dipilih melalui simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur paparan konten digital (model AIDA) dan sikap FOMO (aspek relatedness dan self/autonomy). Hasil penelitian menunjukkan paparan konten digital berpengaruh signifikan terhadap pembentukan FOMO. Mayoritas mahasiswa (93,3%) memberikan respons positif terhadap konten digital yang mampu menarik perhatian hingga mendorong tindakan. Pada aspek FOMO, 86,7% responden khawatir kehilangan momen kebersamaan, 86,7% merasa tidak bebas dan lebih sering menggunakan internet, 73,3% cenderung menggunakan internet saat merasa tidak mampu, dan 70% mengakui internet memengaruhi keputusan sehari-hari.Paparan konten digital melalui TikTok tidak hanya memengaruhi perilaku konsumtif tetapi juga memperkuat FOMO. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan literasi digital kritis dan regulasi diri bagi mahasiswa.
Eksistensi Weton dalam Masyarakat Surakarta: Antara Warisan Tradisi dan Tuntutan Modernitas Khasanah, Nurul; Musadad, Akhmad Arif
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 2 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i2.3631

Abstract

Tradisi weton adalah salah satu kearifan lokal serta warisan budaya Jawa yang masih berlangsung hingga kini dalam kehidupan masyarakat Surakarta. Namun, perkembangan modernitas menimbulkan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk cara masyarakat memaknai dan menjalankan praktik tradisi weton. Tujuan penelitian ini yakni untuk menganalisis pemaknaan tradisi weton oleh masyarakat Surakarta kontemporer, mendeskripsikan keberlangsungan praktik weton di tengah arus modernitas, serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi eksistensi weton. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Surakarta masih memaknai weton sebagai bagian dari warisan budaya Jawa, weton masih digunakan sebagai pedoman namun fungsinya tidak mutlak. Praktik weton masih berlangsung hingga saat ini melalui kegiatan bancaan weton, wilujengan wuku, serta kirab pusaka malam 1 Sura. Berbagai faktor sosial, budaya, agama dan modernitas turut mendorong perubahan pola pikir masyarakat dalam memandang tradisi, hal ini berdampak terhadap eksistensi weton dalam masyarakat Surakarta. Kendati demikian, eksistensi weton tetap bertahan dengan adanya adaptasi, reinterpretasi serta pelestarian budaya oleh masyarakat dan lembaga budaya, sehingga tradisi weton masih memiliki relevansi dengan kehidupan modern masyarakat Surakarta
Konstruksi Pemikiran Nasionalisme Abdul Rivai dalam Surat Kabar Bintang Timoer Tahun 1927-1933 Hidayah, Annisa Nur; Fauzan, Rikza; Rustamana, Agus
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 2 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i2.3745

Abstract

Pers dengan pergerakan nasional memiliki hubungan yang saling memengaruhi selama proses pembangunan bangsa Indonesia pada abad ke-20. Pers milik orang Indonesia mulai berkembang seiring munculnya inteligensia modern yang memerlukan media komunikasi sebagai wadah penyebaran gagasan. Sementara gagasan pembaharuan dan kebangsaan yang digaungkan inteligensia modern dapat menyebar luas berkat pemberitaan dalam pers. Kelompok inteligensia modern ini terdiri atas bumiputera terpelajar yang telah terpapar pendidikan modern selama pemberlakuan kebijakan etis. Abdul Rivai merupakan salah seorang diantara inteligensia modern yang ikut mempergunakan pers sebagai wadah penyebaran gagasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran nasionalisme Abdul Rivai selama berkiprah dalam surat kabar Bintang Timoer tahun 1927-1933. Adapun metode penelitian yang dipergunakan adalah metode penelitian kesejarahan, yang secara runtun dimulai dari: pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber (verifikasi), penafsiran (interpretasi), dan penulisan hasil (historiografi). Hasil penelitian menunjukan bahwa pada dekade kedua abad ke-20, komitmen Abdul Rivai terhadap tanah airnya diwujudkan melalui keterlibatannya dengan surat kabar Bintang Timoer. Disamping menjabat sebagai editor pembantu, Abdul Rivai juga aktif mengkontribusikan artikel gagasanya kedalam Bintang Timoer. Berdasarkan artikel-artikelnya dalam Bintang Timoer, wacana nasionalisme yang hendak Abdul Rivai bangun adalah wacana yang erat hubugannya dengan kemajuan, sehingga orientasinya tidak hanya untuk bisa terbebas dari penjajahan, tetapi juga untuk mempertinggi derajat masyarakat bangsanya di berbagai bidang kehidupan. Sebagai cerminan dari sikap kosmopolitan Abdul Rivai dan keterbukaannnya terhadap dunia yang lebih maju.
RELIGI, RITUAL, DAN TRADISI: PEMAKNAAN PETIK PARI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PETUNGSEWU KECAMATAN WAGIR KABUPATEN MALANG Sunuyeko, Nurcholis
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 3 No. 2 (2021): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v3i2.3816

Abstract

Tradisi Petik Pari merupakan praktik budaya agraris yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipertahankan oleh masyarakat Desa Petungsewu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pertanian menjelang panen, tetapi juga merepresentasikan hubungan antara religi, ritual, dan sistem kepercayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan tradisi Petik Pari, keterkaitan religi dengan praktik tradisi, serta perubahan yang terjadi dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan pengumpulan, reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Petik Pari dilakukan melalui serangkaian tahapan, mulai dari menyiapkan sesajian dan tumpeng, membawanya ke sawah yang akan dipanen, hingga pelaksanaan ritual yang dipimpin oleh tokoh adat. Dimensi religius tradisi tercermin dalam kepercayaan terhadap unsur-unsur spiritual yang diwariskan dari leluhur, sementara doa dan permohonan keselamatan tetap diarahkan kepada Tuhan sesuai dengan keyakinan masyarakat. Religi dan tradisi dengan demikian saling berkaitan melalui emosi keagamaan, sistem keyakinan, kelompok keagamaan, dan praktik ritual. Penelitian juga menemukan adanya perubahan pada aspek material dan teknis pelaksanaan, terutama penggunaan peralatan serta penyediaan sesajian, sedangkan sistem keyakinan dan makna religius yang mendasari tradisi relatif tetap dipertahankan. Temuan ini menunjukkan bahwa Petik Pari merupakan ruang perjumpaan antara kepercayaan, praktik ritual, dan keberlanjutan tradisi agraris dalam kehidupan masyarakat Petungsewu.
Fenomena False Needs dalam Perilaku Belanja Online Mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya Putri, Keizha Naswa Allysa; Firdausi, Trianita Aprilia; Kamila, Naila Adhania
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 2 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i2.3320

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena false needs atau kebutuhan palsu dalam perilaku belanja online mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya Malang melalui perspektif Herbert Marcuse, khususnya konsep One Dimensional Man dan false needs. Perkembangan platform e-commerce seperti TikTok Shop dan Shopee, yang didukung oleh fitur live shopping, flash sale, dan konten influencer, telah membentuk pola konsumsi baru yang tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan nyata. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu pendorong utama perilaku konsumtif mahasiswa di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap tiga informan mahasiswa aktif pengguna e-commerce. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga informan memperlihatkan pola pembelian impulsif yang dipengaruhi oleh algoritma media sosial, rekomendasi influencer, serta strategi promosi digital. Kondisi ini sejalan dengan konsep Marcuse mengenai masyarakat satu dimensi, di mana individu kehilangan nalar kritis dan mengikuti arus sistem kapitalisme digital tanpa menyadarinya. Kebebasan memilih yang dirasakan mahasiswa dalam berbelanja online sejatinya merupakan kebebasan semu, karena pilihan tersebut telah diarahkan secara sistematis oleh platform digital untuk melanggengkan budaya konsumtif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa literasi digital dan kesadaran kritis, sebagaimana tercermin dalam gagasan The Great Refusal Marcuse, menjadi kebutuhan mendesak bagi mahasiswa untuk membebaskan diri dari jerat kebutuhan palsu yang diproduksi oleh kapitalisme digital.
Peran Romo Dukun Pandita dalam Rangkaian Praktik Ritual Pernikahan Masyarakat Tengger di Desa Ngadisari Kabupaten Probolinggo Putra Perdana, Ardiansah; Iswatiningsih, Daroe
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 2 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i2.3338

Abstract

Ritual pernikahan masyarakat Tengger merupakan rangkaian upacara adat dengan Romo Dukun Pandita sebagai figur sentral yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis peran Romo Dukun Pandita dalam setiap tahapan ritual pernikahan masyarakat Tengger di Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap dua informan, yaitu Supratiknyo selaku tokoh masyarakat dan Sendi Laksana selaku warga Desa Ngadisari, dilengkapi dengan observasi dan dokumentasi lapangan. Data dianalisis secara interaktif menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña, serta diinterpretasikan melalui kerangka Teori Fungsionalisme Bronislaw Malinowski. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual pernikahan Tengger terdiri atas lima tahapan berurutan: Resik, upacara pernikahan inti, Entas-Entas, Ngeracut, dan Wayon. Romo Dukun Pandita memegang peran dominan pada tiga tahapan pertama, khususnya sebagai pemimpin doa, pemberi legitimasi adat, dan mediator antara keluarga dengan leluhur pada prosesi Entas-Entas. Kepemimpinan ritual pada tahapan Ngeracut dan Wayon beralih kepada Romo Legen dan Romo Sepuh, mencerminkan sistem kepemimpinan kolektif yang terspesialisasi. Dalam perspektif Malinowski, keberadaan Romo Dukun Pandita merupakan institusi budaya yang fungsional dalam menjaga keteraturan sosial, mewariskan nilai-nilai adat, dan mempertahankan keberlangsungan identitas budaya masyarakat Tengger
Kurikulum 1984 dalam Perspektif Pemberitaan Surat Kabar Indonesia (1984-1995) Rachmad, Bintang Putra
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 2 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i2.3372

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesan, tanggapan, dan pemberitaan mengenai Kurikulum 1984 dalam surat kabar Indonesia sebagai salah satu sumber sejarah pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi dokumen terhadap berbagai surat kabar yang terbit pada periode 1984–1995 serta dokumen kebijakan terkait Kurikulum 1984. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum 1984 dipandang sebagai bentuk pembaruan pendidikan yang berupaya menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan pembangunan nasional dan dunia kerja. Kurikulum ini menekankan pendekatan keterampilan proses melalui konsep Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), yang menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Pemberitaan surat kabar umumnya menilai kurikulum ini memiliki tujuan positif, seperti menciptakan lulusan yang lebih terampil, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat pembentukan karakter dan nasionalisme melalui mata pelajaran inti, termasuk Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Namun, berbagai surat kabar juga menyoroti sejumlah kendala dalam implementasinya, seperti kurangnya kesiapan guru, keterbatasan buku ajar, belum meratanya pelatihan kurikulum, serta kesulitan penerapan CBSA di sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa surat kabar tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga menjadi ruang kritik dan evaluasi terhadap kebijakan pendidikan pemerintah. Dengan demikian, keberhasilan Kurikulum 1984 sangat dipengaruhi oleh kesiapan sumber daya pendidikan dan efektivitas pelaksanaannya di lapangan.
Proses Self Directed Learning Guru Sosiologi Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Ropiah, Siti; Setiawan, Rizki; Irfani Lindawati, Yustika
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 8 No. 2 (2026): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v8i2.3587

Abstract

Kompetensi profesional merupakan kompetensi yang harus terus dikembangkan guru agar mampu menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan pendidikan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui Self Directed Learning (SDL), yaitu proses belajar yang dilakukan secara mandiri berdasarkan kebutuhan dan inisiatif guru. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses Self Directed Learning guru sosiologi dalam meningkatkan kompetensi profesional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif di SMAN 1 Padarincang. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman dengan mereduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik pemeriksaan keabsahan data peneliti menggunakan triangulasi dan member cheking.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan guru dalam melakukan Self Directed Learning dipengaruhi oleh dimensi signifikansi, dominasi, dan legitimasi yang membentuk cara guru memaknai pembelajaran mandiri, memanfaatkan sumber daya, dan menjalankan norma profesional. Proses Self Directed Learning dilakukan melalui identifikasi kebutuhan belajar, penetapan tujuan belajar, identifikasi sumber belajar, pemilihan strategi belajar, dan evaluasi hasil belajar. Praktik tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi profesional guru melalui penguasaan materi, pengembangan perangkat pembelajaran, serta inovasi strategi pembelajaran. Selain itu, struktur sekolah berperan sebagai sarana (enabling) sekaligus kekangan (constraining) dalam membentuk tindakan guru melakukan Self Directed Learning.