cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 591 Documents
Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Keputusan Wanita Menikah Usia Nita Kusuma Lindarsih; Bella Bella; Ivana Devitasari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.411

Abstract

Pernikahan merupakan momen penting dalam hidup manusia, idealnya pernikahan dilakukan oleh individu yang cukup usia. Namun saat ini masih banyak dijumpai kasus pernikahan di usia dini, salah satu faktor yang melatar belakangi adalah sosial budaya. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui hubungan sosial sosial budaya dengan pernikahan dini di Kabupaten Tulungagung. Metode yang digunakan yaitu metode survei dengan pendekatan Case Control dan dianalisis menggunakan Chi Square. Hasil penelitian didapatkan nilai P 0,000 yang berarti terdapat perbedaan proporsi yang signifikan
Hubungan Penerapan Pola Hidup Sehat Terhadap Kualitas Hidup Penyintas Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Pakisaji Moza Fadzila Hayyunur Astantri; Supono; Tri Nataliswati; Taufan Arif; Tri Anjaswarni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.412

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang dikenal sebagai silent killer karena sering tidak menunjukkan gejala namun dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak dikendalikan. Salah satu upaya pengendalian hipertensi adalah dengan menerapkan pola hidup sehat, termasuk kepatuhan minum obat, pola makan sehat, dan aktivitas fisik yang teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing variabel dependen (kepatuhan minum obat, pola makan, aktifitas fisik) dengan variabel dependen (kualitas hidup) terhadap penyintas hipertensi di Desa Glanggang, wilayah kerja Puskesmas Pakisaji. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelatif dengan pendekatan cross- sectional. Sampel sebanyak 53 responden dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi MMAS-8 untuk kepatuhan minum obat, FFQ untuk pola makan, GPAQ untuk aktivitas fisik, dan WHOQOL-BREF untuk kualitas hidup. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan pola kepatuhan minum obat kategori sedang, pola makan kategori baik, pola aktivitas fisik kategori berat, kualitas hidup penyintas hipertensi kategori sedang, sedangkan analisis hubungan antar varaibel terdapat hubungan signifikan positif semua, antara kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup (r = 0,345; p = 0,011), pola makan dengan kualitas hidup (r = 0,388; p = 0,004), dan aktivitas fisik dengan kualitas hidup (r = 0,287; p = 0,037). Kesimpulannya Penyintas hipertensi di desa glanggang dalam kategori sedang untuk pola kepatuhan minum obat dan kualitas hidup. Pola makan baik, pola aktivitas fisik berat. Terdapat hubungan yang signifikan dari tiga pola hidup sehat yang masing-masing diuji korelasi dengan kualitas hidup penyintas hipetensi.
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Nyeri Post Sectio Caesarea Menggunakan Teknik Mobilisasi Dini di RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Dhea Oktaviani; Ema Wahyu; Ikit Netra Wirakhmi; Mariah Ulfah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.413

Abstract

Sectio Caesarea (SC) adalah tindakan pembedahan guna melahirkan janin lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus. Tindakan sectio caesarea (SC) dapat diindikasikan oleh faktor janin dan faktor ibu. Jumlah persalinan sectio caesarea (SC) di Indonesia mencapai sekitar 30- 80% dari total persalinan. Nyeri pasca operasi sectio caesarea sering dialami oleh pasien karena adanya luka bedah pada jaringan perut dan rahim. Salah satu cara untuk mengurangi nyeri ini adalah dengan mobilisasi dini, yaitu menggerakkan tubuh, seperti duduk atau berjalan perlahan, sesegera mungkin setelah operasi. Penelitian ini menggunakan studi kasus dalam bentuk deskriptif. Diagnosis keperawatan yang ditetapkan adalah gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan program pembatasan gerak pasca operasi, Nyeri akut berhubungan dengan agen pencendera fisik, Risiko infeksi berhubungan dengan pembedahan. Implementasi meliputi: observasi toleransi pasien terhadap aktivitas, memonitor tekanan darah, denyut nadi, dan kondisi umum selama mobilisasi, melatih pasien teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, melibatkan keluarga, edukasi tujuan dan prosedur mobilisasi dini, serta pemberian kolaborasi analgesik sesuai jadwal. Evaluasi setelah 3x24 jam menunjukkan mobilitas pasien mulai meningkat, pasien mampu duduk di tepi tempat tidur dan berdiri dengan bantuan, nyeri menurun menjadi skala 3–4, namun pasien masih membutuhkan bantuan untuk berjalan jarak lebih jauh dan latihan mobilisasi lanjutan tetap diperlukan.
Potensi KOMPIJAS terhadap Percepatan Perkembangan Motorik Kasar pada Bayi Usia 3–6 Bulan Fitriana Sindi; Rahmawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.415

Abstract

Perkembangan motorik kasar pada bayi usia 0-6 bulan merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Prevalensi gangguan perkembangan motorik di dunia mencapai angka yang cukup signifikan, yaitu sekitar 30% sementara di Indonesia menunjukkan sekitar 12,8% balita mengalami gangguan perkembangan. Tertundanya satu bulan dalam merangkak dapat meningkatkan risiko gangguan motorik kasar sebesar 5,3% hingga 14,0%, sementara keterlambatan berjalan dapat meningkatkan risiko gangguan motorik kasar sebesar 13,3%. Faktor pemicu keterlambatan perkembangan motorik kasar pada bayi adalah kurangnya stimulasi dari pengasuh dan orang tua, serta kelainan pada tonus otot. Intervensi KOMPIJAS (Kombinasi Pijat Bayi dan ASI Eksklusif) sebagai stimulasi taktil yang meningkatkan sirkulasi darah dan kekuatan otot dikombinasikan dengan pemberian ASI eksklusif yang mengandung nutrisi esensial seperti DHA dan AA yang mendukung perkembangan sistem saraf motorik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kombinasi pijat bayi dan ASI eksklusif terhadap percepatan perkembangan motorik kasar bayi usia 3-6 bulan. Desain penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan pretest-posttest control group design pada 40 bayi yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi mendapat pijat bayi 3 kali per minggu selama 4 minggu serta ASI eksklusif sejak lahir. Instrumen yang digunakan adalah Denver II Developmental Screening Test, dengan analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada perkembangan motorik kasar kedua kelompok (p = 0.000), dengan rata-rata peningkatan lebih besar pada kelompok intervensi dibanding kontrol. KOMPIJAS terbukti efektif mempercepat perkembangan motorik kasar bayi usia 3–6 bulan, sehingga dapat direkomendasikan sebagai stimulasi dini yang mendukung kualitas tumbuh kembang optimal.
Peran Agen Anestesi Dalam Disfungsi Kognitif Pasca Operasi: Systematic Literature Review Seroja; Made Suandika; Febi Septiani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.416

Abstract

Disfungsi kognitif pasca operasi (Postoperative Cognitive Dysfunction/POCD) merupakan komplikasi umum, khususnya pada pasien usia lanjut yang menjalani prosedur bedah besar dengan anestesi umum. POCD dapat menyebabkan gangguan memori, konsentrasi, dan orientasi yang berdampak pada peningkatan morbiditas dan mortalitas. Jenis agen anestesi diduga berperan dalam kejadian POCD, namun bukti yang ada masih bervariasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi peran agen anestesi terhadap kejadian POCD melalui kajian sistematis literatur berbasis bukti. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review berdasarkan panduan PRISMA Flow. Pencarian dilakukan pada artikel penelitian primer berbahasa Inggris dan Indonesia yang diterbitkan antara tahun 2019–2024. Artikel yang relevan dievaluasi kualitasnya menggunakan instrumen JBI Critical Appraisal Tool dan dianalisis menggunakan pendekatan PICO. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa anestesi intravena seperti propofol lebih banyak dikaitkan dengan penurunan risiko POCD dibandingkan anestesi inhalasi seperti sevoflurane atau isoflurane. Propofol memiliki efek perlindungan dengan cara memodulasi neurotransmitter, menekan pelepasan sitokin proinflamasi, serta onset dan pemulihan yang cepat. Kombinasi dengan agen seperti dexmedetomidine dan S-ketamin juga menunjukkan peningkatan kualitas pemulihan dan perlindungan kognitif. Kesimpulan dari literature ini adalah jenis dan kombinasi agen anestesi memengaruhi kejadian POCD. Propofol dan pendekatan multimodal anestesi menunjukkan potensi dalam menurunkan risiko POCD, terutama pada populasi lansia. Pemilihan agen anestesi perlu dipersonalisasi berdasarkan faktor usia, jenis operasi, dan kondisi pasien.
Hubungan Antara Emotional Distress Dengan Perilaku Makan Pada Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Nurhidayah Ardian Putri; Nor Eka Noviani; Ibtidau Niamilah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.417

Abstract

Mahasiswa sebagai kelompok usia dewasa awal rentan mengalami emotional distress, yaitu kondisi psikologis yang mencakup stres, kecemasan, dan depresi akibat tingginya tuntutan akademik dan sosial. Emotional distress dapat memengaruhi pola makan dan mendorong munculnya perilaku makan tidak sehat seperti emotional eating, restrained eating, dan external eating. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara emotional distress dengan perilaku makan pada mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 105 mahasiswa dipilih menggunakan kuota sampling. Instrumen pengukuran meliputi Depression Anxiety Stress Scale (DASS-21) untuk emotional distress dan Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) untuk perilaku makan. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square menggunakan tingkat signifikansi p<0,05. Mayoritas responden mengalami emotional distress tidak normal, khususnya kecemasan (97,14%). Perilaku makan kategori tinggi ditemukan pada emotional eating (76,19%), external eating (64,76%), dan restrained eating (64,76%). Terdapat hubungan signifikan antara stres dengan emotional eating, external eating, dan restrained eating; serta depresi dengan restrained eating. Penelitian ini menunjukkan bahwa emotional distress berhubungan dengan perilaku makan mahasiswa. Stres merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi emotional eating dan restrained eating, sedangkan kecemasan lebih terkait dengan external eating. Depresi cenderung memicu perilaku membatasi makan. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi kesehatan mental dan edukasi gizi dalam upaya mencegah dampak jangka panjang emotional distress terhadap perilaku makan mahasiswa.
Analisis Hubungan Social Support Berdasarkan Teori Sarafino Dan Smith Terhadap Kejadian Burnout Perawat Kamar Operasi Di Instalasi Bedah Intan Fitria Salsa Putri; Tri Anjaswarni; Tri Johan Agusyuswanto; Nurul Pudjiastuti; Joko Wiyono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.418

Abstract

Burnout salah satu ancaman bagi perawat kamar operasi karena beban kerja yang berat, tekanan kerja yang tinggi dan tuntutan konsentrasi serta kemampuan yang maksimal dalam ruang operasi. Burnout dapat menimbulkan kelelahan fisik dan psikologis yang berdampak negatif pada kepuasan kerja, produktivitas, kualitas pelayanan kesehatan di ruang operasi, keselamatan pasien dan perawat. Salah satu faktor yang mempengaruhi burnout adalah kurangnya dukungan sosial perawat. Teori Sarafino dan Smith dukungan sosial berperan penting dalam mengurangi stres dan mencegah burnout. Menganalisis hubungan social support menurut teori Sarafino dan Smith dengan kejadian burnout perawat kamar operasi. Jenis korelasional dengan pendekatan cross-sectional dan uji statistik Spearman-rank. Populasi penelitian seluruh perawat kamar operasi yang diambil dengan teknik total sampling, sejumlah 62 orang. Menunjukkan ada hubungan social support dengan burnout perawat kamar operasi dengan p-value = 0,000 < 0,05 dan nilai r = -0,771 (hubungan sangat kuat). Hasil korelasi menunjukkan nilai negatif, artinya semakin tinggi social support maka semakin rendah kejadian burnout yang dialami perawat kamar operasi. Social support yang baik dengan rekan kerja menjadikan perawat merasa tidak sendirian menghadapi tantangan, sehingga stres dan kelelahan yang menyebabkan burnout dapat berkurang.
Eksplorasi Pemanfaatan Jahelato Sebagai Terapi Alami Untuk Menurunkan Nyeri Menstruasi Pada Remaja Putri Di Kota Samarinda Wenty Ika Ariani; Dwi Riyan Ariestantia; Desta Amelia Putri; Hamsia
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.419

Abstract

Latar Belakang: Nyeri menstruasi atau dismenore merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami oleh remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk belajar dan bersosialisasi. Terapi konvensional seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) memang efektif, namun dapat menimbulkan efek samping gastrointestinal dan resistensi jika digunakan jangka panjang. Oleh karena itu, dibutuhkan alternatif terapi alami yang aman dan mudah diterima oleh remaja. Jahe (Zingiber officinale) diketahui memiliki efek antiinflamasi, analgetik, dan antispasmodik yang dapat menurunkan nyeri menstruasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas es krim jahe (JaheLato) sebagai inovasi terapi alami terhadap penurunan nyeri menstruasi pada remaja putri. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan pretest–posttest control group design. Sampel berjumlah 200 remaja putri berusia 13–18 tahun yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (JaheLato) dan kelompok kontrol (placebo). Pengukuran tingkat nyeri dilakukan menggunakan Visual Analog Scale (VAS) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data meliputi uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, uji paired t-test, uji Wilcoxon, uji Mann–Whitney, dan uji korelasi Spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi terjadi penurunan signifikan skor nyeri menstruasi dari 6,5 ± 1,2 menjadi 3,1 ± 1,0 (Δ = −3,4; p = 0,000), sedangkan pada kelompok kontrol penurunan tidak signifikan dari 6,4 ± 1,3 menjadi 5,9 ± 1,2 (Δ = −0,5; p = 0,084). Hasil uji Mann–Whitney menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok (p = 0,000). Uji korelasi menunjukkan hubungan kuat dan negatif antara frekuensi konsumsi JaheLato dengan penurunan skor nyeri (r = −0,612; p = 0,000). Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa JaheLato efektif menurunkan intensitas nyeri menstruasi pada remaja putri dan berpotensi menjadi terapi komplementer nonfarmakologis yang aman, alami, serta mudah diterima.
Hubungan Keluhan Fisik Terhadap Tingkat Stress Ibu Hamil Trimester III Di Puskesmas Sidomulyo Mauren Nabeel Ghaniya; Erika; Yulia Irvani Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.420

Abstract

Trimester ketiga kehamilan sering disertai berbagai keluhan fisik yang dapat memengaruhi kondisi psikologis ibu hamil, seperti meningkatnya stres, kecemasan, bahkan risiko depresi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara keluhan fisik dan tingkat stres pada ibu hamil trimester III di Puskesmas Sidomulyo. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) pada 68 responden yang dipilih dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner keluhan fisik dan Perceived Prenatal Maternal Stress Scale (PPNMSS), dengan analisis data menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami keluhan fisik kategori sedang (55,9%) dan tingkat stres sedang (77,9%). Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara keluhan fisik dan tingkat stres (p = 0,008; p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi keluhan fisik yang dialami ibu hamil, semakin tinggi pula tingkat stres yang dirasakan. Diperlukan pemantauan rutin oleh tenaga kesehatan terhadap keluhan fisik dan kondisi mental ibu hamil, serta integrasi aspek psikologis dalam pelayanan antenatal untuk mencegah gangguan kesehatan mental selama kehamilan.
Analisis Kesiapan Menghadapi Bencana (Studi Deskriftif Kualitatif Murni Teguh Memorial Hospital) Tahun 2024 Aruna Ragini; Otniel Ketaren; Mido Ester J. Sitorus; Kesaktian Manurung; Janno Sinaga
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.421

Abstract

Bencana merupakan salah satu kasus paling sulit bagi institusi kesehatan yang dapat mengganggu fungsi layanan kesehatan. Rencana penanggulangan bencana sangat penting dalam memastikan kesiapsiagaan dan respon rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapsiagaan Murni Teguh Memorial Hospital (MTMH) dalam menghadapi bencana. Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriftif kualitatif. Teknik dengan wawancara mendalam kepada 10 orang informan, observasi lapangan dengan menggunakan Hospital Safety Index (HSI) dan telaah dokumen kesiapan bencana. Murni Teguh Memorial Hospital memiliki indeks kesiapsiagaan tinggi (0,72; Overall A), menandakan siap memberikan pelayanan saat darurat. Analisis kualitatif menunjukkan kesiapan menghadapi bahaya internal baik, namun kesiapan penanganan bahaya eksternal perlu ditingkatkan. Kesiapan struktural dan non-struktural baik, tetapi perlu evaluasi berkala. Manajemen pengelolaan kondisi darurat dan bencana sudah dipersiapkan dengan baik, tetapi regulasi transportasi evakuasi pasien, pengantaran maupun penjemputan tenaga medis, distribusi obat-obatan dan peralatan medis saat bencana belum tertulis. Tim Siaga Bencana dan koordinasi eksternal ada, namun Memorandum of Understanding (MOU) dengan lembaga-lembaga seperti Damkar, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kepolisian belum tersedia. Pengetahuan staf baik, tetapi materi pelatihan kurang variatif dan spesifik tentang penanganan bencana eksternal. Beberapa dokumen kesiapan bencana belum sesuai dengan Pedoman Rumah Sakit Aman Bencana Kemenkes 2024. Murni Teguh Memorial Hospital memiliki kesiapsiagaan tinggi (HSI 0,72 – Overall A) dan dinilai mampu menghadapi kondisi darurat, namun masih terdapat kekurangan pada kesiapan menghadapi bencana eksternal, belum adanya MOU dengan instansi terkait, regulasi teknis evakuasi dan distribusi logistik belum tertulis, serta beberapa dokumen belum sesuai Pedoman RS Aman Bencana Kemenkes 2024