cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Assessing the Potential of Prambanan Biodiversity Park for Sustainable Food Resources and Agriculture in Kemudo, Klaten, Central Java Bimantio, Mohammad Prasanto; Ferhat, Amallia; Putra, Dian Pratama; Nugraha, Nanda Satya; Ayu, Indah Kusuma; Suendra, Akhta
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i1.8182

Abstract

Prambanan Biodiversity Park (TKP), Klaten, Central Java, is an important natural reserve for preservation of local biodiversity and environmental protection by PT.Sarihusada Generasi Mahardhika. This research investigates the park's potential in providing food resources and supporting agricultural practices for nearby communities through plant species identification including ecological relationships between species and plants that contribute to pest control in agricultural systems. The collected data provides an overview of the park's biodiversity and serves as a baseline for further analysis. The research finds several potential benefits of utilizing TKP for food resources and agriculture. The diverse flora of the park offers a variety of edible plants, such as Moringa oleifera and fruit-based species, which can enhance local diets and provide nutritional diversity. Furthermore, traditional plants like mojo hold potential as natural pesticides, contributing to pest control in agricultural fields. The research recommends the development of conservation strategies and policies focused on sustainable practices, community participation, and educational initiatives to maximize the potential benefits. TKP emerges as an invaluable resource capable of supplying essential food provisions and supporting eco-friendly agricultural practices for neighboring communities, thereby emphasizing the criticality of interweaving biodiversity preservation within the framework of local food systems.
Efficacy Study of Eco-Friendly Bleaching Agent for Skeleton Preservation in Animal Skeleton Umami, Muhimatul
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i1.8183

Abstract

The currently used bleaching materials in skeletal preservation are hydrogen and carbamide peroxide materials with specific concentrations and techniques that impact environmental sustainability. This research describes a simple and eco-friendly technique for preserving skeletons. This research used a qualitative approach. Data were collected through observation and documentation. The collected data were analyzed descriptively. The results show that natural extracts, such as lemon combined with baking soda and commercial bleaching cloth agent, can bleach the skull and bone to preserve the skeleton. The commercial bleaching cloth agent is more capable of bleaching animal skulls and bones to preserve skeletons than natural extracts combined with baking soda do; however, the result is more brittle skeletons. Although specimens in lemon extract combined with baking soda solution more slowly clean and bleach skeleton than commercial bleaching solution, skeletal animals have bond strength and environment-friendly processes. This study recommends that an eco-friendly bleaching agent for skeletal preservation should be applied because it can cope with biological practices about osteology and other science subjects.
Identifikasi Spesies Ikan Ekonomis Penting yang Didaratkan di PPI Kedonganan dengan DNA Barcoding Pertiwi, Ni Putu Dian; Bestari, Ida Ayu Purnama; Sembiring, Andrianus
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8212

Abstract

Identifikasi spesies sangat esensial bagi inventarisasi keanekaragaman spesies ikan ekonomis penting yang terdapat di perairan Indonesia. DNA barcoding merupakan salah satu metode molekuler yang digunakan untuk identifikasi spesies kriptik. Penelitian ini bertujuan untuk  mengidentifikasi spesies ikan ekonomis penting yang didaratkan di PPI Kedonganan menggunakan metode DNA barcoding dengan marka control region mitokondria (mtDNA). Sebanyak 6 (enam) sampel dikoleksi dengan metode purposive random sampling. Hasil identifikasi dengan DNA barcoding menunjukkan sampel yang dikoleksi sebagai spesies Trichiurus lepturus nanhaiensis; Lutjanus quinguelineatus; Scomberus japonicus; Cheilopogon doederleinii; Parupeneus barberinus; dan Leiognathus equula. Jarak genetik intraspesifik menunjukkan kisaran nilai  0.003 – 0.346. Hasil identifikasi DNA barcoding menunjukkan hasil yang berbeda dengan hasil identifikasi morfologi awal. Hal ini dapat disebabkan oleh terbatasnya data sekuen spesies di dalam basis data genetik. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi genetik pada keanekaragaman spesies ikan yang terdapat di wilayah Indonesia, yang tercatat pada basis data genetik secara umum.
Intensitas Cahaya pada Perkecambahan Benih dan Pertumbuhan Semai Cabai Merah Landung (Capsicum annuum cv. Landung) Wawo, Albertus Husein; Lestari, Peni; Setyowati, Ninik; Gunawan, Indra; Damayanti, Frisca; Kholidah, Nur
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8359

Abstract

Cabai Merah (Capsicum annuum L.) biasanya ditanam di pembibitan sebelum dipindahkan ke lahan. Informasi mengenai lingkungan optimal, termasuk intensitas cahaya, penting untuk memproduksi bibit cabai berkualitas. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh intensitas cahaya, berdasarkan jenis atap persemaian (paranet kerapatan 25%, 50%, dan 75%, kaca, dan fiberglass), terhadap perkecambahan dan pertumbuhan bibit cabai cv. Landung. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan intensitas cahaya mempengaruhi perkecambahan dan pertumbuhan bibit cabai merah secara keseluruhan. Benih yang memperoleh intensitas cahaya lebih tinggi, yakni di bawah atap kaca (13.876,67 lux) dan atap fiberglass (16.268,89 lux) berkecambah lebih awal dan lebih seragam, dan menghasilkan persentase perkecambahan akhir lebih tinggi (97% dan 95%) dibandingkan benih yang memperoleh intensitas cahaya lebih rendah (atap paranet dengan kerapatan 25%, 50%, dan 75%), masing-masing sebesar 90%, 80,5%, dan 73,2%. Pertumbuhan bibit cabai merah di bawah atap kaca dan fiberglass lebih vigor sehingga menghasilkan kecepatan pertumbuhan (R) lebih tinggi (7,25 dan 7,49) dibandingkan semua perlakuan paranet (7,74, 7,74, dan 7,62). Bahan atap persemaian perlu dipertimbangkan sebab mempengaruhi perkecambahan dan pertumbuhan bibit cabai dengan mempengaruhi intensitas cahaya, seperti ditunjukkan oleh penelitian ini.
Analisis Molekuler Bakteri Liberobacter asiaticus Penyebab Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) dengan Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) pada Tanaman Jeruk Siam (Citrus nobilis) Parista, Ni Made Sudiyasih; Julyasih, Ketut Srie Marhaeni; Arnyana, Ida Bagus Putu
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 2 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i2.8372

Abstract

Salah satu komoditas buah utama Indonesia adalah jeruk Siam. Namun, banyak tanaman jeruk di indonesia yang terkena penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara lebih pasti keberadaan bakteri Liberobacter asiaticus penyebab penyakit CVPD pada tanaman jeruk yang menunjukkan gejala klorosis dan juga keberadaan bakteri L. asiaticus penyebab penyakit CVPD pada tanaman jeruk yang tidak menunjukkan gejala klorosis. Untuk mencapai hal tersebut, teknik PCR akan digunakan untuk analisis molekuler bakteri L. asiaticus. Dengan mengamati sampel daun dari tanaman jeruk siam Kintamani yang menunjukkan gejala klorosis dan yang tidak menunjukkan gejala klorosis, maka metodologi penelitian eksploratif diterapkan dalam penelitian ini. Pita DNA pada 1.160 bp tidak ditemukan pada sampel daun jeruk yang diuji, baik pada sampel daun jeruk yang sehat maupun pada sampel daun jeruk yang terindikasi klorosis. Tanaman jeruk yang menunjukkan gejala klorosis tidak ditemukan bakteri L. asiaticus pada sampel daunnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya unsur hara di dalam tanah, konsentrasi bakteri yang rendah, atau distribusi bakteri yang tidak merata di dalam jaringan daun. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah keberadaan bakteri L. asiaticus penyebab penyakit CVPD tidak dapat terdeteksi keberadaannya pada sampel daun jeruk siam yang bergejala dan tidak bergejala klorosis.
Multiplikasi Tunas pada Eksplan Rimpang Kunyit Hitam (Kaempferia parviflora) dengan Penambahan Hormon BAP Restanto, Didik Pudji; Hanifah, Fairuz Luthfi; Prayoga, Mohammad Candra; Zahro, Fauziatuz; Khozin, Mohammad Nur
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8534

Abstract

Kunyit Hitam (Kaempferia parviflora) adalah tanaman rimpang berwarna ungu kehitaman yang banyak manfaat sebagai bahan obat tradisional. Perbanyakan bibit kunyit hitam secara konvensional tidak memungkinkan untuk budidaya skala besar, dikarenakan membutuhkan waktu yang cukup lama dan tidak efisien. Rendahnya pasokan bahan tanaman berkualitas dan masalah perkecambahan yang rendah menjadi dasar dalam upaya pengembangan kunyit hitam secara in vitro. Perbanyakan kunyit hitam melalui multiplikasi tunas dapat mempercepat produksi bibit yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi hormon BAP terhadap multiplikasi kunyit hitam. Rancangan penelitian menggunakan RAL dengan faktor konsentrasi hormon BAP yang terdiri dari 5 taraf konsentrasi antara lain BAP 0 mg/L (P0), BAP 2 mg/L (P1), BAP 4 mg/L (P2), BAP 6 mg/L (P3), dan BAP 8 mg/L (P4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perlakuan BAP 2 mg/L memperlihatkan hasil terbaik dengan kedinian tunas tercepat yaitu 8,3 hari setelah tanam, jumlah tunas terbanyak yaitu 5,8 tunas, rata-rata tunas tertinggi mencapai 4,8 cm, dan jumlah daun terbanyak yaitu 8,3 helai. Perlakuan BAP 2 mg/L menghasilkan persentase tunas dan akar 100%.
Daya Antagonisme Agensia Hayati terhadap Patogen Blendok pada Jeruk Pamelo secara In Vitro Waahidaturrahmah, Sitti; Apriani, Rila Rahma; Sari, Noorkomala
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8559

Abstract

Produksi jeruk di Kalimantan Selatan mengalami penurunan yang diakibatkan berbagai faktor, diantaranya serangan penyakit. Hal ini juga dialami oleh pertanaman buah jeruk pamelo di Amanah Borneo Park yang sering mengalami gagal panen akibat serangan penyakit blendok yang disebabkan oleh patogen Botryodiplodia theobromae Pat. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menggunakan agen hayati, salah satunya cendawan endofit yang bersifat antagonis terhadap penyebab patogen, yang dapat diisolasi dari tanaman obat. Cendawan endofit mampu menghasilkan metabolit sekunder, enzim litik, dan antimikroba lainnya dalam menghambat pertumbuhan patogen tanaman. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui jenis cendawan penyebab penyakit blendok di Amanah Borneo Park dan mengetahui daya antagonisme Trichoderma harzianum, endofit Colletotrichum sp., dan endofit Fusarium sp. terhadap patogen tersebut. Hasil identifikasi mengemukakan bahwa patogen penyebab blendok di Amanah Borneo Park adalah B. theobromae Pat (P2B4), kemudian uji antagonisme dengan tiga agen antagonis yaitu Trichoderma harzianum, endofit Colletotrichum sp., dan endofit Fusarium sp. menunjukkan adanya perbedaan persentase daya hambat yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti laju pertumbuhan, produksi, dan konsentrasi metabolit sekunder yang dihasilkan dengan persentase penghambatan masing-masing agen antagonis yaitu 21,048% (T. harzianum), 13,775% (Colletotrichum sp.), dan 13,04% (Fusarium sp.).
Downy Mildew Infection in Indonesian Melon Cultivar 'Melona' Based on Morphological and Anatomical Characters Angellya, Bunga Finovel; Yusuf, Adib Fakhruddin; Wibowo, Wiko Arif; Daryono, Budi Setiadi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.8597

Abstract

Melons are a horticultural crop of the Cucurbitaceae family with high economic value and worldwide distribution. The 'Melona' variety is the result of breeding selection from commercial melons in Indonesia and has a golden yellow skin color with lobes, crisp flesh, and a high degree of sweetness. Downy mildew is a fungal infection that attacks the leaves of the plant causing brownish-yellow-colored symptoms. Downy mildew can cause crop failure under extreme conditions as the plant loses its productive capacity. Infection levels were observed by scoring and calculating disease index scores. The morphology of healthy and diseased plants was documented and analyzed descriptively. Anatomical features of healthy and diseased leaves were compared using anatomical observations on leaf cross-sections. Quantitative data analysis was carried out using the T-test analysis method with a 5% significance level. Melona's resistance to downy mildew is in the tolerant to susceptible category. Chlorosis and necrotic spots on the leaves and stunted growth are symptoms of downy mildew infection. Healthy leaves had a greater axial and abaxial epidermal thickness, a lower mesophyll thickness, a smaller cell size and a better quantity and quality of trichomes than leaves infected with downy mildew.
Produksi Selulosa Bakteri Berbasis Limbah Kulit Pisang dan Limbah Kulit Pepaya dengan Penambahan Etanol Panjaitan, Jabosar Ronggur Hamonangan; Purnomo, Agus
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.8706

Abstract

Limbah kulit pisang dan limbah kulit pepaya merupakan limbah buah hasil konsumsi yang cukup banyak dihasilkan di Indonesia. Potensi kandungan mineral dan gula yang terdapat di dalam kedua limbah ini dapat digunakan sebagai media fermentasi untuk memproduksi biomaterial salah satunya adalah selulosa bakteri atau nata. Pada penelitian ini akan diteliti perbandingan produksi selulosa bakteri dari bahan baku limbah kulit pisang dan limbah kulit pepaya yang disertai pengaruh produksi selulosa bakteri terhadap penambahan etanol. Penelitian ini menunjukkan bahwa kulit pisang dan kulit pepaya dapat digunakan sebagai bahan baku dalam produksi selulosa bakteri dengan yield tertinggi sebesar 9,33% diperoleh dari media limbah kulit pepaya tanpa adanya penambahan etanol. Sedangkan yield terendah nata sebesar 1,33% diperoleh dari media fermentasi kulit pepaya dengan penambahan 3% etanol. Penambahan etanol pada penelitian ini menghambat proses fermentasi dikarenakan tingginya konsentrasi etanol yang digunakan. Etanol yang semula pada penelitian ini diharapkan sebagai sumber karbon berubah menjadi senyawa toksik bagi pertumbuhan Acetobacter xylinum.
Struktur Komunitas Makrozoobentos sebagai Bioindikator Kualitas Air di Sungai Way Awi, Bandarlampung Nugraha, Dwiki Renda; Tugiyono; Susanto, G. Nugroho; Kanedi, M.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8744

Abstract

Makrozoobentos merupakan invertebrata yang masa hidupnya dihabiskan di dasar perairan atau di atas sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur komunitas makrozoobentos sebagai bioindikator kualitas air di Sungai Way Awi, Bandarlampung. Penelitian dilakukan pada Oktober-Desember 2023. Pengambilan sampel makrozoobentos menggunakan Ekman grab di lima stasiun mewakili hulu, tengah, dan hilir sungai. Analisis dan identifikasi sampel dilakukan di Laboratorium Zoologi FMIPA Universitas Lampung dengan bantuan buku identifikasi Fresh-Water Biology. Hasil penelitian berhasil mengidentifikasi 8 genus makrozoobentos yang terdiri dari phylum Mollusca, Arthropoda, dan Annelida. Struktur komunitas menunjukkan kondisi indeks keanekaragaman yang rendah (H’ < 1), indeks keseragaman sedang hingga tinggi (0,4 < E < 1), indeks dominansi sedang hingga tinggi (0,30 < C < 1), dan indeks kekayaan jenis rendah (Dmg < 2,05). Analisis korelasi antara struktur komunitas dan pengukuran sifat fisika-kimia badan air menunjukkan adanya hubungan signifikan antara oksigen terlarut (DO) dengan indeks keseragaman dan indeks dominansi. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa parameter fisika-kimia perairan memiliki peran dalam menentukan struktur komunitas makrozoobentos dan dapat dijadikan sebagai indikator dalam penilaian kualitas air.

Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue