cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
JURNAL PETERNAKAN
ISSN : 18298729     EISSN : 23559470     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Peternakan mengakomodir artikel/karya ilmiah meliputi aspek Nutrisi dan Makanan Ternak, Produksi Ternak, Reproduksi dan Pemuliaan Ternak, Teknologi Hasil ternak, dan Sosial Ekonomi Peternakan serta aspek Kesehatan Ternak. Naskah yang dimuat dapat berupa hasil penelitian, telaah/tinjauan literatur, penelitian singkat (short communication) dan gagasan penting dalam bidang peternakan.
Arjuna Subject : -
Articles 265 Documents
Hubungan Antara Manajemen Pemerahan dengan Kejadian Mastitis Subklinis dan Kerusakan Susu Segar di Kecamatan Baturraden dan Kecamatan Sumbang Ifani, Merryafinola; Syafriawan, Muhammad Aulia; Subagyo, Yusuf; Widodo, Hermawan Setyo; Yusan, Rizak Tiara
Jurnal Peternakan Vol 22, No 2 (2025): September 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i2.37343

Abstract

ABSTRAK. Mastitis subklinis merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi pada sapi perah, yang dapat berdampak negatif pada produktivitas susu dan kesehatan hewan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan manajemen pemerahan dengan kejadian mastitis subklinis dan kerusakan susu segar pada sapi perah di Kecamatan Baturraden dan Kecamatan Sumbang. Penelitian ini menggunakan metode survei. Sasaran penelitian adalah peternak sapi perah dan sapi perah laktasi di Kecamatan Baturraden dan Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling. Sampel diambil secara sensus, yaitu 39 peternak yang ternaknya sedang dalam periode laktasi. Analisis data menggunakan analisis korelasi rank spearmen, chi square, dan uji t independent. Hasil analisis Rank Spearmen menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara manajemen pemerahan dengan kejadian mastitis subklinis di Kecamatan Baturraden dan Kecamatan Sumbang dengan nilai signifikansi sebesar 0,02 dan 0,03. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa H0 diterima yang artinya terdapat hubungan antara manajemen pemerahan dengan kerusakan susu segar di Kecamatan Baturraden dan Kecamatan Sumbang dengan nilai signifikansi 0,03 dan 0,001. Penelitian ini menyimpulkan bahwa semakin baik manajemen pemerahan yang dilakukan maka semakin menurun angka kejadian mastitis subklinis dan kerusakan susu di Kecamatan Baturraden dan Kecamatan Sumbang.Kata kunci: Manajemen pemerahan, penyakit mastitis subklinis, dan kerusakan susu segarThe Relationship Between Milking Management and the Incidence of Subclinical Mastitis and Fresh Milk Damage in Baturraden and Sumbang SubdistrictsABSTRACT. Subclinical mastitis is a common health problem in dairy cattle, negatively impacting milk productivity and animal health. This study aims to determine the relationship between milking management and the incidence of subclinical mastitis and fresh milk spoilage in dairy cattle in Baturraden and Sumbang Districts. This study used a survey method. The research targets were dairy farmers and lactating dairy cattle in Baturraden and Sumbang Districts, Banyumas Regency, Central Java. The location was determined using a purposive sampling method. Samples were taken through a census, namely, 39 farmers whose cattle were in the lactation period. Data analysis used Spearman rank correlation analysis, chi-square, and independent t-test. The results of the Spearman rank analysis showed a significant relationship between milking management and the incidence of subclinical mastitis in Baturraden and Sumbang Districts, with significance values of 0.02 and 0.03. The chi-square test results showed that H0 was accepted, meaning there was a relationship between milking management and fresh milk damage in Baturraden and Sumbang Districts, with a significance value of 0.03 and 0.001. This study concluded that the better the milking management, the lower the incidence of subclinical mastitis and milk damage in Baturraden and Sumbang Districts.
Penggunaan Aktivator Mikroorganisme Lokal (MOL) Bonggol Pisang Terhadap Kandungan Nutrisi Silase Rumput Bento Rayap (Leersia hexandra) Maulidina, Agil; Naro, Restu; Riswandi, Riswandi; M Ali, Asep Indra
Jurnal Peternakan Vol 22, No 2 (2025): September 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i2.38016

Abstract

ABSTRAK. Ketersediaan pakan secara berkelanjutan dapat dilakukan dengan memanfaatkan ketersediaan sumber daya alam, salah satunya yaitu menggunakan teknologi silase dengan memanfaatkan jenis rumput rawa yaitu Bento Rayap (Leersia hexandra) dan bioaktivator mikroorganisme lokal (MOL) yang berasal dari bonggol pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrisi silase rumput Bento Rayap dengan menggunakan MOL bonggol pisang. Parameter yang diamati meliputi kandungan protein kasar, lemak kasar dan serat kasar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan, meliputi: P0: rumput Bento Rayap tanpa penambahan MOL (kontrol), P1: rumput Bento Rayap + 3% MOL bonggol pisang, P2: rumput Bento Rayap + 6% MOL bonggol pisang, P3: rumput Bento Rayap + 9% MOL bonggol pisang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aktivator MOL bonggol pisang berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap nilai protein kasar dan serat kasar, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai lemak kasar. Penggunaan MOL bonggol pisang dengan taraf 9% pada silase Bento Rayap merupakan perlakuan terbaik yang dapat meningkatkan nilai protein kasar rumput Bento Rayap dari 5,35% menjadi 12,87% dan menurunkan kandungan serat kasar rumput Bento Rayap dari 27,57% menjadi 16,19% dengan kandungan lemak kasar yaitu 2,16%. Kata kunci: Lemak kasar, MOL bonggol pisang, protein kasar, serat kasar, rumput bento rayapThe Use of Local Microorganism Activator (MOL) from Banana Stems on the Nutritional Content of Bento Rayap Grass (Leersia hexandra) SilageABSTRACT. Sustainable feed availability can be achieved by utilizing natural resources. One of the technologies that can be used is silage technology that utilizes a type of swamp grass, namely Bento Rayap grass (Leersia hexandra) and local microorganism bioactivators (MOL) from banana stems. This study aims to determine the nutritional content of Bento Rayap grass silage using MOL. The parameters measured were crude protein, crude fat, and crude fiber content. The experimental design used was a completely randomized design consisting of 4 treatments and 4 replications, namely P0: Bento Rayap grass without adding MOL (control), P1: Bento Rayap grass + 3% banana stem MOL, P2: Bento Rayap grass + 6% banana stem MOL, and P3: P1: Bento Rayap grass + 9% banana stem MOL. The results showed that the use of banana stem MOL as an activator had a significant effect (P<0.05) on the crude protein and crude fiber content, but had not significant effect on the crude fat. The use of banana stem MOL at a level of 9% in Bento Rayap silage was the best treatment, which was be able to increase crude protein content by 12.87% and decrease the crude fiber content to 16.19% with a crude fat content of 2.16%. 
The Impact of The Environmental Temperature-Humidity Index on Ammonia Concentration (NH3) in Laying Hen Farming Azhar, Muhammad; Rasuli, Nur; Yunus, Muhammad; Fastawa, Rajma; Sara, Urfiana
Jurnal Peternakan Vol 22, No 2 (2025): September 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i2.30768

Abstract

Emissions of ammonia gas (NH3) produced from the manure of laying hens can harm health and productivity. This study aims to determine the comfort level of laying hens based on the temperature humidity index which is calculated based on the temperature and humidity conditions of the cage, and its relationship with ammonia gas (NH3) levels, as well as the factors that most influence the concentration of ammonia gas (NH3) around the cage. Data collection was carried out in 96 units of laying hen cages in Sidrap Regency spread across 4 sub-districts, including; Kulo, Pitu Riawa, Maritengngae, and Watang Pulu. Data collection was carried out directly by measuring the ammonia levels in the cage air using the Ammonia Gas Detector Smart Sensor AR8500 system. Temperature and humidity were measured using an Elitech DT-3 Thermo Hygrometer. Data were analyzed by correlation and multiple linear regression. The results of the research showed that as many as 53.13% of laying hens were in an "uncomfortable" condition in breeder-rearing cages in Sidrap Regency. Air ammonia (NH3) levels have a "strong" correlation with humidity and a "moderate" correlation with THI. The higher the humidity and THI, the higher the ammonia (NH3) levels in the air. Higher humidity will increase the ammonia (NH3) content in the cage air partially and simultaneously with the regression equation. Air NH3 level = -11.803 + 1.328 temperature + 0.152 humidity – 1.314 THI.
Evaluasi Morfometrik dan Bobot Badan Sapi Bali di Loka Pengujian Standar Instrumen Ruminansia Besar Nasihin, Ahmad; Susanto, Agus; Haryoko, Imbang
Jurnal Peternakan Vol 22, No 2 (2025): September 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i2.36223

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian karakteristik morfometrik dan bobot badan sapi Bali di Loka Pengujian Standar Instrumen Ruminansia Besar berdasarkan persyaratan minimum kuantitatif yang ditetapkan. Sebanyak 30 ekor sapi Bali, terdiri dari 15 jantan dan 15 betina berumur 1-3 tahun, digunakan sebagai sampel. Variabel yang diukur meliputi tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, dan bobot badan, yang kemudian distandardisasi ke umur 2 tahun menggunakan faktor koreksi umur. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan diuji dengan one sample t-test satu arah terhadap SNI 7651-4:2020 dan Keputusan Menteri Pertanian No. 325/Kpts/OT.140/1/2010. Pengujian kesesuaian terhadap SNI dilakukan secara bertahap untuk kelas III, II, dan I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, dan bobot badan sapi Bali jantan berturut-turut adalah 114,85±9,58 cm; 119,67±13,7 cm; 158,98±15,89 cm; dan 263,83±37,65 kg. Sementara pada sapi betina, nilai rata-ratanya adalah 116,27±7,21 cm; 128,61±14,61 cm; 158±11,24 cm; dan 228,23±29,02 kg. Tinggi pundak dan lingkar dada sapi jantan belum memenuhi standar minimum SNI, sedangkan panjang badan telah melampaui standar SNI Kelas III. Di sisi lain, sapi betina secara signifikan (P<0,01) telah melampaui standar minimum SNI Kelas I untuk tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada. Bobot badan kedua jenis kelamin juga telah melampaui persyaratan SNI dan Keputusan Menteri Pertanian (P<0,01). Secara keseluruhan, sapi betina menunjukkan performa yang lebih baik sehingga dapat dijadikan bibit unggul.Kata kunci: Sapi Bali, ukuran linier tubuh, bobot badan, pengujian SNI Evaluation of Morphometric Measurements and Body Weight of Bali Cattle at The Large Ruminant Instrument Standard Testing CenterABSTRACT. This research was conducted to evaluate the suitability of morphometric characteristics and body weight of Bali cattle at the Large Ruminant Instrument Standard Testing Center based on the minimum quantitative requirements for Bali cattle. A total of 30 Bali cattle, consisting of 15 males and 15 females aged 1-3 years, were used as samples. The variables measured included wither height, body length, chest girth, and body weight, which were then standardized to 2 years of age using age correction factors. Data analysis was performed descriptively and tested using a one-tailed one-sample t-test against SNI 7651-4:2020 and the Minister of Agriculture Decree No. 325/Kpts/OT.140/1/2010. Compliance testing with SNI was conducted in stages for Class III, II, and I. The results showed that the average wither height, body length, chest girth, and body weight of male Bali cattle were 114.85±9.58 cm, 119.67±13.7 cm, 158.98±15.89 cm, and 263.83±37.65 kg, respectively. Meanwhile, for female Bali cattle, the average values were 116.27±7.21 cm, 128.61±14.61 cm, 158±11.24 cm, and 228,23±29,02 kg. The wither height and chest girth of male cattle did not meet the minimum SNI standards, while body length exceeded the Class III SNI standard. On the other hand, female cattle significantly (P<0.01) exceeded the minimum SNI Class I standards for wither height, body length, and chest girth. The body weight of both sexes also exceeded the requirements set by SNI and the Minister of Agriculture (P<0.01). Overall, the female cattle showed better performance and therefore can be considered as superior breeding stock.
The Impacts of Knowledge, Attitudes, and Actions on the Implementation of Biosecurity in the Management of Foot and Mouth Disease in Kuta Baro Subdistrict, Aceh Besar Regency Rasyid, Baharun; Karunia, Nia; Notodiputro, Khairil Anwar; Indahwati, Indahwati; Mualifah, Laily Nissa Atul; Hasanah, Lailatul
Jurnal Peternakan Vol 22, No 2 (2025): September 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i2.36826

Abstract

.  Foot and Mouth Disease (FMD) is an animal disease caused by a virus from the Picornaviridae family with the genus Aphthovirus. This study aimed to assess the extent of knowledge, attitudes, and actions of cattle farmers in Kuta Baro Subdistrict, Aceh Besar District, in implementing biosecurity on their farms to prevent FMD. The sample used was 45 cattle farmers in four villages in Kuta Baro Subdistrict, Aceh Besar District, namely Cut Preh, Cut Beut, Lam Seunong, and Ujong Blang. This study used a questionnaire instrument and the data were analyzed using binary logistic regression analysis. The statistics exhibited that the percentages of farmers with poor knowledge, attitude, and action were 71.1%, 66.7%, and 68.9%, respectively. Furthermore, the results of the analysis revealed that there was a significant relationship between the attitudes and actions of farmers towards the infection of FMD virus in livestock. Meanwhile, the farmer’s knowledge did not have a significant role in handling FMD. The odds ratio showed that the odds of FMD cases decrease 0.593 times if there is an increase in farmers' attitudes towards biosecurity, and the odds of FMD cases decrease 0.666 times if there is an increase in farmers' actions towards biosecurity. The accuracy of this model reached 68.9%. Enhancements in farmers’ knowledge, attitudes, and actions towards implementing biosecurity have the potential to reduce the incidence of Foot and Mouth Disease (FMD) in livestock.
Pengaruh Penambahan Berbagai Jenis Sumber Karbon dalam Fermentasi Daun Indigofera (Indigofera zollingeria) terhadap Peningkatan Nutrisi Agasi, Satri Yusasra; Maulana, Fajri
Jurnal Peternakan Vol 22, No 2 (2025): September 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i2.35489

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan berbagai jenis sumber karbohidrat dalam fermentasi daun indigofera (Indigofera zollingeria) terhadap peningkatan nutrisi. Fermentasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nutrisi, mikroorganisme yang berpotensi digunakan yaitu Bacillus amyloliquefaciens karena memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim selulase yang berperan dalam penurunan kandungan serat kasar dan enzim protease yang dapat meningkatkan kandungan nutrisi. Metode penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), 4 perlakuan dengan 5 ulangan. Variasi perlakuan yaitu: A: 100% daun Indigofera, B: 80% daun Indigofera dan 20% dedak padi, C: 80% daun Indigofera dan 20% ampas tahu dan D: 80% daun Indigofera dan 20% kulit singkong.  Peubah yang dilihat pada penelitian ini adalah energi metabolisme (kkal/kg), lemak kasar (%) dan serat kasar (%). Hasil penelitian ini menunjukan dengan berbagai jenis sumber karbohidrat meliputi dedak padi, ampas tahu dan kulit singkong dalam fermentasi daun Indigofera dengan Bacillus amyloliquefaciens menunjukan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap kandungan nutrisi baik itu energi metabolisme, lemak kasar dan serat kasar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah fermentasi daun Indigofera dengan Bacillus amiloliquefaciens memerlukan sumber karbohidrat sebagai sumber karbon berupa kulit singkong atau dedak padi sehingga diperoleh penurunan serat kasar dan peningkatan nutrisi yang optimal. Kata kunci: Bacillus amyloliquefaciens, fermentasi, karbohidrat, Indigofera, dedak padi, ampas tahu, kulit singkong.Effects of Various Carbohydrate Sources on Nutritional Enhancement during the Fermentation of Indigofera (Indigofera zollingeria) LeavesABSTRACT. This study was conducted to investigate the effect of supplementing various carbohydrate sources in the fermentation of Indigofera (Indigofera zollingeria) leaves on nutritional enhancement. Fermentation is a viable approach to improve the nutritional quality of feed ingredients. A potential microorganism for this process is Bacillus amyloliquefaciens, which is capable of producing cellulase enzymes that reduce crude fiber content, as well as protease enzymes that contribute to increasing the overall nutrient content. The study employed an experimental approach using a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and five replications. The treatment variations were as follows: A: 100% Indigofera leaves; B: 80% Indigofera leaves and 20% rice bran; C: 80% Indigofera leaves and 20% tofu dregs and D: 80% Indigofera leaves and 20% cassava peel. The observed variables included metabolizable energy (kcal/kg), crude fat (%), and crude fiber (%). The results demonstrated that the inclusion of different carbohydrate sources namely rice bran, tofu dregs, and cassava peel in the fermentation of Indigofera leaves using Bacillus amyloliquefaciens had a significant effect (P<0.05) on all measured nutritional parameters, including metabolizable energy, crude fat, and crude fiber. This study concludes that the fermentation of Indigofera leaves with Bacillus amyloliquefaciens necessitates the addition of carbohydrate sources such as cassava peel or rice bran as carbon providers, resulting in an optimal reduction in crude fiber and improvement in nutritional content
The Effect of the Addition of Sugar Liquid on the Development of Bees (Apis mellifera) in a Regular Box Mubarrok, Muhammad Tirta; Adriani, Adriani; Yurleni, Yurleni; Kuswandi, Wawan
Jurnal Peternakan Vol 22, No 2 (2025): September 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i2.35105

Abstract

ABSTRACT. Sugar liquid can be used as supplementary feed for honeybees (Apis mellifera) because it may influence population development, egg production, and larvae, thereby enhancing colony productivity. This study aimed to determine the effect of adding sugar liquid on the development of Apis mellifera populations in standard hives. The research utilized 12 standard hives of Apis mellifera, each containing seven frames, with sugar liquid applied in four different treatments and three replicates. The treatments involved sugar liquid at a ratio of 3:1 (3 parts sugar and 1 part water), with levels of P0 = 0 kg, P1 = 0.33 kg/week, P2 = 0.66 kg/week, and P3 = 1 kg/week. The study employed a randomized block design (RBD), and data were analyzed using variance (ANOVA). Significant differences between treatments were further tested using Duncan's test. The results indicated that the addition of sugar liquid as supplementary feed did not significantly affect (P>0.05) the population, egg number, or larvae count of Apis mellifera. The study concludes that adding up to 1 kg of sugar liquid per week meets the basic nutritional needs of Apis mellifera but is not sufficiently effective in significantly increasing population, egg, or larval numbers.
Evaluasi Mutu Bibit Kambing Peranakan Etawah di Kabupaten Manokwari Zurahmah, Nani; Masriani, Masriani
Jurnal Peternakan Vol 22, No 2 (2025): September 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i2.33063

Abstract

ABSTRAK. Pemerintah Indonesia telah menetapkan standar mutu bibit kambing Peranakan Etawah (PE) melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 73521-2015. Dalam SNI tersebut ditetapkan karakteristik kualitatif: pola warna bulu, kehadiran bulu rewos, ukuran kepala, profil muka, dan ukuran tanduk; serta karakteristik kuantitatif: tinggi pundak (cm), panjang badan (cm), lingkar dada (cm), panjang telinga (cm), dan lingkar skrotum (untuk yang jantan, satuan cm). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu bibit kambing PE pada wilayah padat ternak kambing PE di Kabupaten Manokwari (Kecamatan Prafi dan Masni). Metode yang digunakan adalah survei dengan purposive sampling terhadap 155 ekor kambing PE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi kambing PE di wilayah penelitian masih didominasi oleh kambing-kambing yang memiliki karakteristik kualitatif sesuai dengan SNI, yaitu pola warna bulu campuran putih hitam (43-63%), memiliki bulu rewos (70-100%), kepala relatif kecil (54-68%), profil muka cembung (75-90%), dan ukuran tanduk relatif kecil (42-86%). Sedangkan pada karakteristik kuantitatif, hanya sebagian saja yang sesuai (P>0,05) dengan SNI, yaitu panjang badan, lingkar dada, dan lingkar skrotum pada kelompok jantan dewasa (umur >18 – 24 bulan); lingkar dada dan lingkar skrotum pada pada kelompok jantan muda (umur >12 – 18 bulan); lingkar dada pada kelompok jantan cempe (umur 8 – 12 bulan); tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada pada kelompok betina dewasa (umur >18 – 24 bulan); lingkar dada pada kelompok betina muda (umur >12 – 18 bulan); serta panjang badan dan lingkar dada pada kelompok betina cempe (umur 8 – 12 bulan). Kedepan, perlu upaya perbaikan mutu genetik kambing PE di wilayah penelitian melalui seleksi genetik secara periodik dan mencegah perkawinan kambing PE dengan bangsa kambing lain (cross breeding) agar seluruh karakteristik kualitatif maupun kuantitatifnya dapat memenuhi ketentuan SNI.Kata kunci: Kambing PE, Mutu bibit, SNI. Evaluation of the Breed Quality of Etawah Crossbreed Goat in Manokwari Regency ABSTRACT. The Indonesian government has set the quality standard for Etawah crossbreed (PE) goat breeds through the Indonesian National Standard (SNI) Number 73521-2015. The SNI stipulates qualitative characteristics: fur color pattern, presence of rewos fur, head size, facial profile, and horn size; and quantitative characteristics: shoulder height (cm), body length (cm), chest circumference (cm), ear length (cm), and scrotal circumference (for males, units cm). This study aims to evaluate the quality of PE goat seeds in densely populated PE goat livestock areas in Manokwari Regency (Prafi and Masni Districts). The method used was a survey with purposive sampling of 155 PE goats. The results of the study showed that the population of PE goats in the research area was still dominated by goats that had qualitative characteristics in accordance with SNI, namely a mixed white and black fur pattern (43-63%), having rewos fur (70-100%), relatively small head (54-68%), convex facial profile (75-90%), and relatively small horn size (42-86%). While in quantitative characteristics, only some were in accordance (P>0.05) with SNI, namely body length, chest circumference, and scrotal circumference in the adult male group (age>18-24 months); chest circumference and scrotal circumference in the young male group (age>12-18 months); chest circumference in the cempe male group (age 8-12 months); shoulder height, body length, and chest circumference in the adult female group (age>18-24 months); chest circumference in the young female group (age>12-18 months); and body length and chest circumference in the female cempe group (8-12 months old). In the future, efforts are needed to improve the genetic quality of PE goats in the research area through periodic genetic selection and preventing mating of PE goats with other goat breeds (cross breeding) so that all qualitative and quantitative characteristics can meet SNI requirements.
Pengaruh Penambahan Bacillus amyloliquefaciens Pada Air Minum Terhadap Bobot Hidup, Lemak Abdominal dan Persentase Karkas Itik Bayang Saragih, Beby Murba Ningsih; Wizna, Wizna; Dewi, Muthia; Rahma, Annisa; Rahmi, Novadhila; Amri, Fisma; Rahma, Nadia; Ananta, Dwi; Meidita, Fadilla
Jurnal Peternakan Vol 22, No 2 (2025): September 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i2.35544

Abstract

Penetilian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Bacillus amyloliquefacien di air minum terhadap bobot hidup, lemak abdominal dan persentase karkas itik Bayang. Penelitian ini menggunakan  itik Bayang Jantan umur satu hari sebanyak 80 ekor . Pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengani 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan R0: 0 gram/liter air minum (Kontrol), R1: 1 gram Bacillus amyloliquefaciens/liter air minum, R2: 2 gram Bacillus amyloliquefaciens /liter air minum, R3: 3 gram Bacillus amyloliquefaciens /liter air minum. Peubah yang diamati adalah bobot hidup, lemak abdominal dan persentase karkas. Hasil penelitian menunjukan penambahan Bacillus amyloliquefaciens sebagai probiotik berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot hidup dan persentase karkas, tetapi berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap persentase lemak abdominal. Penambahan probiotik Bacillus amyloliquefaciens dapat mempertahankan bobot hidup, persentase karkas dan menurunkan persentase lemak abdominal itik bayang jantan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan  probiotik Bacillus amyloliquefaciens sebanyak 2 gram/liter air minum adalah pemberian terbaik pada itik bayang jantan. Pada kondisi ini diperoleh bobot hidup 1235,55 gram/ekor, persentase lemak abdomen 2,04 %,  dan persentase karkas 60,10%
Identifikasi Bakteri Asam Laktat (BAL) dari Fermentasi Limbah Kangkung (Ipomoea aquatica) sebagai Penghasil Bakteriosin Alami Lena, Mirza; Badi’ah, Baiq Arriyadul; Wijaya, Andi Ikhsan; Aditama, Ryzal Satria
Jurnal Peternakan Vol 22, No 2 (2025): September 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i2.35313

Abstract

ABSTRAK. Probiotik merupakan salah satu alternatif yang aman untuk digunakan sebagai pengganti antibiotik. Namun, produksi probiotik umumnya memerlukan biaya yang relatif tinggi. Oleh karena itu, perlu dikembangkan probiotik alami dari bahan baku yang mudah dibudidayakan dan berharga terjangkau, seperti limbah kangkung yang difermentasi dengan bakteri asam laktat (BAL) dalam yoghurt. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis dan potensi BAL hasil fermentasi limbah kangkung serta kemampuan antibakteri terhadap Salmonella typhi dan Escherichia coli. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Parameter yang diukur yaitu uji morfologi makroskopis BAL, jumlah koloni, aktivitas antibakteri terhadap Salmonella typhi dan Escherichia coli, dan uji bakteriosin BAL. Hasil penelitian menunjukan jenis BAL yang teridentifikasi adalah Lactobacillus dengan total BAL 12,6 × 10⁵ CFU/mL yang memenuhi jumlah standar minimum probiotik (minimal 10⁶ CFU/mL untuk aktivitas probiotik yang efektif). Oleh karena itu, dapat disimpulkan limbah kangkung memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai media pertumbuhan bakteri asam laktat (BAL) sebagai probiotik alami.Kata kunci: Antibakteri, limbah kangkung, probiotik, unggasIdentification of Lactic Acid Bacteria (LAB) from Fermented Water Spinach (Ipomoea aquatica) Waste as Natural Bacteriocin ProducersABSTRACT. Probiotics are a safe alternative to antibiotics. However, probiotic production generally requires relatively high costs. Therefore, it is necessary to develop natural probiotics from raw materials that are easy to cultivate and affordable, such as water spinach waste fermented with lactic acid bacteria (LAB) in yogurt. The purpose of this study was to determine the type and potential of BAL from fermented kale waste and antibacterial ability against Salmonella typhi and Escherichia coli. The type of research used was descriptive.  Parameters measured were macroscopic morphology test of BAL, number of colonies, antibacterial activity against Salmonella typhi and Escherichia coli, and BAL bacteoriocin test. The results showed that the type of BAL identified was Lactobacillus with a total LAB of 12.6 × 10⁵ CFU/mL which met the minimum standard amount of probiotics (at least 10⁶ CFU/mL for effective probiotic activity). Therefore, it can be concluded that kale waste has the potential to be developed as a growth medium for lactic acid bacteria (BAL) as a natural probiotic.

Filter by Year

2004 2025