Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL GURU DENGAN PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL REMAJA Pelangi Pelangi; Jumaini Jumaini; Niken Yuniar Sari
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 14, No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.14.2.2026.102-110

Abstract

Masa remaja merupakan fase perkembangan yang berada pada tahap identity versus role confusion, yaitu periode krusial dalam pembentukan identitas diri di tengah perubahan fisik dan psikologis. Pada tahap ini, dukungan sosial guru menjadi salah satu faktor lingkungan sekolah yang berperan dalam perkembangan psikososial remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial guru dengan perkembangan psikososial remaja. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah remaja SMP sebanyak 142 responden yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner dukungan sosial guru dan kuesioner perkembangan psikososial remaja. Kuesioner dukungan sosial guru telah diuji validitas dan reliabilitas pada 30 siswa di SMP Negeri 27 Pekanbaru dengan 20 item pernyataan. Hasil uji validitas menunjukkan seluruh item dinyatakan valid dengan nilai r hitung (0,593–0,424) > r tabel (0,361). Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,866 (> 0,80), sehingga instrumen dinyatakan reliabel. Selain itu, kuesioner perkembangan psikososial juga telah melalui uji validitas dan reliabilitas sebelum digunakan dalam penelitian. Analisis data menggunakan uji bivariat dengan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memperoleh dukungan sosial guru dalam kategori cukup sebanyak 65 orang (45,8%) dan sebagian besar perkembangan psikososial remaja berada pada kategori normal sebanyak 91 orang (64,1%). Hasil uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial guru dengan perkembangan psikososial remaja (p-value = 0,001; p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara dukungan sosial guru dengan perkembangan psikososial remaja. Hasil ini menunjukkan adanya keterkaitan antarvariabel, namun tidak dapat diinterpretasikan sebagai hubungan sebab-akibat karena penelitian menggunakan desain cross sectional. Guru diharapkan dapat meningkatkan dukungan sosial melalui komunikasi yang baik, pemberian motivasi, serta penciptaan lingkungan belajar yang kondusif guna mendukung perkembangan psikososial remaja.
Overview of Burnout Among Nurses in Class 3 Inpatient Wards at Pekanbaru General Hospital Aulya Nurfatiqoh; Niken Yuniar Sari; Tesha Hestyana Sari
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v4i2.5847

Abstract

Burnout is a condition characterized by emotional exhaustion, depersonalization, and a reduced sense of personal accomplishment experienced by nurses when caring for patients in hospitals. This condition negatively impacts nurses' performance in patient care and rehabilitation, and it can even increase the risk of medical errors that may endanger patient safety. This study aims to analyze the overview of burnout among nurses in the Class 3 inpatient wards at Pekanbaru General Hospital. The research design used is a descriptive study, involving 89 nurses working in the Class 3 inpatient wards, specifically in the Surgical and Medical inpatient units (Irna Surgikal and Irna Medikal), as respondents. The measurement tool used is the MBI-HS (Maslach Burnout Inventory-Human Services Survey). Data analysis was conducted using descriptive statistics to illustrate the burnout conditions experienced by nurses. Out of 89 respondents, 58 nurses (65.2%) experienced mild burnout, 22 experienced moderate burnout, and 9 experienced severe burnout. The most affected burnout dimension was personal accomplishment, with an average score of 22.08, categorized as low. This was followed by the emotional exhaustion dimension with an average score of 12.89 (low category), and the depersonalization dimension with an average score of 3.19 (low category). The severity of burnout among nurses is influenced by factors such as gender, age, education level, years of work experience, and position in the ward, with each factor contributing to the level of burnout in the nursing work environment.
Exploring Adolescents’ Needs in Sexual and Reproductive Health Literacy with Cultural Sensitivity: A Mixed-Methods Study Masrina Munawarah Tampubolon; Nurhannifah Rizky Tampubolon; niken yuniar sari
Jurnal Keperawatan Soedirman Vol 21 No 1 (2026): Jurnal Keperawatan Soedirman (JKS)
Publisher : Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jks.2026.21.1.18589

Abstract

Inadequate access to culturally sensitive sexual and reproductive health (SRH) information increases adolescents’ vulnerability to misinformation, risky sexual behaviors, and underutilization of SRH services, particularly in sociocultural contexts where sexuality remains taboo. This study examines sexual and reproductive health literacy (SRHL), risky sexual behaviours and the socio-cultural and institutional factors shaping adolescent SRH experiences. A convergent parallel mixed-methods study was conducted among 994 adolescents aged 11-21 years in Pekanbaru, Indonesia (May-October 2025). Quantitative data were collected using demographic forms, a modified SRHL questionnaire, and a validated Adolescent Sexual Behavior Degree Index, while qualitative data were obtained through focus group discussions and in-depth interviews with teachers, school counselors, healthcare providers, and community leaders. Quantitative data were analyzed descriptively and using chi-square tests, while qualitative data using Colaizzi’s thematic analysis. Most adolescents had inadequate SRHL (92.5%), and 53.3% reported high-risk sexual behaviours. No significant association was found (p = 0.083). Themes included adolescent vulnerability, limited school capacity to address complex adolescent issues; and gaps in educational strategies related to digital media influence, and cultural modernization. These findings highlight the need for culturally grounded, comprehensive SRH education and cross-sector collaboration, with nurses playing a key role in supporting informed adolescent health decision-making.
Hubungan Kesepian dengan Kualitas Tidur pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki Kota Pekanbaru Berry Waldain; Niken Yuniar Sari; Anisa Yulvi Azni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.919

Abstract

Pendahuluan: Populasi lansia terus meningkat secara global maupun di Indonesia sehingga lansia menjadi kelompok rentan yang mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Perubahan tersebut dapat memicu perasaan kesepian yang berdampak pada kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kesepian dengan kualitas tidur pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Payung Sekaki Kota Pekanbaru. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 99 lansia di wilayah kerja Puskesmas Payung Sekaki Kota Pekanbaru yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner UCLA Loneliness Scale Version 3 dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). UCLA Loneliness Scale Version 3 memiliki reliabilitas yang baik dengan nilai Cronbach’s alpha 0,914, sedangkan PSQI dinyatakan valid dengan nilai r-hitung > r-tabel (0,374) dan reliabel dengan nilai Cronbach’s alpha 0,745. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas lansia berada di usia Elderly dengan rentang 60-74 tahun dengan jumlah 94 responden (94.9%), mayoritas berjenis kelamin perempuan (58,6%) dan berpendidikan terakhir Sekolah Dasar (42,4%). Tingkat kesepian tertinggi berada pada kategori kesepian sedang (37,4%), sedangkan sebagian besar lansia memiliki kualitas tidur yang Buruk (62,6%). Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai P-Value sebesar 0,004 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kesepian dan kualitas tidur pada lansia. Responden dengan tingkat kesepian sedang dan berat lebih banyak mengalami kualitas tidur buruk. Kesimpulan: Semakin tinggi tingkat kesepian yang dialami lansia, maka kualitas tidurnya cenderung semakin buruk.
STRATEGI PROMOTIF PENGENDALIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI KELURAHAN SRI MERANTI KOTA PEKANBARU Herlina Herlina; Niken Yuniar Sari; Noor Naia Zafira; Alena Sunia Putri G; Choiriah Al-Hajrah Nurhikmah; Dinda Ramadhani; Indah Chairunnisa; Intan Putri Nabila S; Maharani Karlina; Maria Silvia Tampubolon; Natasya Herliza; Niken Ayu Pratiwi; Risma Uli; Wardah Sakina; Yenifra Mashuri
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026): Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i3.60225

Abstract

Di RW 03 Kelurahan Sri Meranti, Kota Pekanbaru merupakah salah satu wilayah wetland yang memiliki ciri masyarakat daerah yang dekat dengan sungai Siak. Hipertensi lansia merupakah penyakit tertinggi diaantara 10 penyakit ddi PKM UmbanSari, hal ini akibat pola hidup tidak sehat, ketidakpatuhan pengobatan, dan kurangnya pemeriksaan rutin. kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan upaya promotive berupa edukasi kesehatan dalam pengendalian hipertensi pada lansia. Metode yang digunakan adalah edukasi dengan melakukan pretest-posttest pada 21 lansia usia 60 tahun ke atas. Intervensi meliputi penyuluhan manajemen hipertensi dengan media power point dan leaflet melalui ceramah, diskusi interaktif, dan simulasi sederhana. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan dan perilaku manajemen hipertensi setelah intervensi (p < 0,05). Sebelum penyuluhan, 54,2% lansia memiliki pengetahuan baik, 33,3% cukup, dan 12,5% kurang; setelah penyuluhan semua responden berada dalam kategori pengetahuan baik. Hasil ini menunjukkan bahwa strategi promotif dengan pendekatan edukasi yang komunikatif dan kontekstual efektif meningkatkan pemahaman dan kesadaran lansia tentang pengelolaan hipertensi secara mandiri. Kesimpulannya, edukasi kesehatan promotif sangat penting sebagai upaya penurunan risiko hipertensi dan komplikasinya pada lansia
Co-Authors Afifah, Wardah Agrina, Agrina Alena Sunia Putri G Alif Ramadhan, Ichwanul Alisia Oktaviani Marito Siahaan Amin , Ismi Amin, Ismi Aminatul Fitri Ananda, Tiara Anisa Yulvi Azni Annisa Ramadhani Putri Annisa Yulvi Azni Arneliwati Arneliwati Aulya Nurfatiqoh aziz, ari rahmat Basmanelly Basmanelly Berry Waldain Berry Waldain Budi Anna Keliat Budi Antoro Choiriah Al-Hajrah Nurhikmah Christina Rajagukguk Cleodora, Cindy Didi Kurniawan Didi Kurniawan Dinda Ramadhani Erikawati, Febby Erikawati, Feby Erwin Erwin Erwina, Ira Fachry Abda El Rahman Fani Hidayah Putri Fathra Annis Nauli Feby Erikawati Fernanda, Nurriza Rizky Fitri, Natasya Aidil Fitriyanti, Yuliana Giawa, Desyanifransisca Gustianur Efendi Habsyah Saparidah Agustina Hadini, Hikmatul Helga Rahma Izzati Herlina Herlina Herlina Herlina Hernida Warni Humaidiyathul Fiqqriyah Nurhayati Ichwanul Alif Ramadhan Ikke Gustianti Ilya Fitriani Indah Chairunnisa Indri Saputri, Lutfiani Intan Maharani Sulistyawati Batubara Intan Putri Nabila S Ismi Amin Jumaini, Jumaini Kadri, Mohd. Karim, Darwin Keisya Zahratun Nisa Kirana, Sukma Ayu Candra Komarudin Komarudin Kosika, Denny Kurniasih, Wiwik Lahargo Kembaren Lutfiani Indri Saputri Mad Zaini Maharani Karlina Maisantri, Vivi Mardinah, Shaffa Maresa Viana Maria Septijantini Alie Maria Silvia Tampubolon Marito Siahaan, Alisia Oktaviani Megan Eagle Melani, Dela Miftahul Jannah Minalita, Ega Minarni, Sri Miranti Dea Dora Mutiara Sepjuita Audia Mutiara Sepjuita Audia Nabila Oktaviani Azhar Natasya Herliza Nauli, Fathra Anis Nia Khusniyati Niken Ayu Pratiwi Nisa, Keisya Zahratun Nofita Septiani Noor Naia Zafira Nopriadi Nopriadi Nur Aldi, Fatthya Rizqy Nur, Susfika Mei Sari Nuraini Fitri Nuraini Nuraini Nurhanifa Rizky Tampubolon Nurhannifah Rizky Tampubolon Nurliza, Ardillah Nurul huda Nurul Huda Nurul Huda Nurul Lailatul Jannah Nuryuliati Octaviany, Deby Oktavia, Deby Oktaviani Azhar, Nabila Oktaviani Marito Siahaan, Alisia Pelangi Pelangi Pramesti, Cindy Iony Putri Khairul, Sy. Aurora Putri Nisa, Maisyaroh Putri, Dinda Daisya Putri, Napisya Putri, Rahmia Putri, Yuli Amelia Rahmadani, Zulia Raja Gukguk, Christina Rayhan Hanoum Harli Retty Octi Syafrini Riri Novayelinda Risma Uli Rita Rahayu Rivya, Dian Kahfi Rizka Amanda Sari Rizka, Yulia Rohimi, Siti Roswanda Moerza Rustam, Murfardi Rustam, Musfardi Safira S, Risma Salinabela Hartati Sari, Tesha Hestyana Sastriani, Devi Sayang Maulad Tika Siti Nurdiyanah Situmorang, Theressa Dwi Vany Sri Maryuni Sri Minarni Sri Utami Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Stephanie Dwi Guna Sujiah, Sujiah Sulastri Sulastri sulastri, diah Susanti Niman Tampubolon, Masrina Munawarah Tampubolon, Masrina Munawaroh Tasya Rosa Tesha Hestyana Sari Tesha Hestyana Sari Uyuni, Wardatul Veny Elita Waldain, Berry Wardah Sakina Wardatul Uyuni Widia Lestari Wildan Azka Taslimi Yenifra Mashuri Yunisman Roni Zahra Hunafa Zahratun Nisa, Keisya