Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Eco-Theological Pedagogy for Sustainable Character Formation in Islamic Elementary Education Fikri Alfina Zahro; Mukni'ah Mukni'ah; Dyah Nawangsari; Syaiful Rizal
Al-Adzka: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 16 No. 1 (2026): Al-Adzka: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Publisher : Departemen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/aladzkapgmi.v16i1.20626

Abstract

Environmental degradation has intensified the need for Islamic elementary education to foster students' sustainable character through spiritually grounded environmental learning. However, the integration of Islamic eco-theological values into classroom pedagogy, school culture, and daily ecological habituation remains underexplored. This study examines the implementation of eco-theological pedagogy at SD Darus Sholah Jember, Indonesia. Using a qualitative case study design, data were collected through observations, semi-structured interviews, and document analysis involving 22 participants, including the principal, teachers, students, parents, and an environmental program coordinator. The data were analysed through data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that eco-theological pedagogy operates through five interconnected dimensions: Islamic eco-theological values, reflective Islamic learning, teacher exemplarity, ecological habituation, and collaborative school culture. These dimensions transform environmental education from a rule-based cleanliness program into a spiritually meaningful and habit-forming process. Students developed eco-spiritual consciousness, environmental responsibility, discipline, cooperation, and emerging ecological habits through Qur'anic reflection, water-saving practices, waste sorting, plant care, and parent-school collaboration. Nevertheless, inconsistent environmental behavior outside school, limited facilities, and uneven family-community support remain key challenges. This study contributes to Islamic sustainability education by proposing eco-theological pedagogy as an integrative framework for linking faith, ecological ethics, pedagogical practice, and sustainable character formation in Islamic elementary schools.
Islamic Educational Values in Javanese Wedding Traditions on the Slopes of Mount Bromo Ahmad Zubaidi; Dyah Nawangsari; Mashudi; Ubaidillah
MUMTAZ : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 6 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/mumtaz.v6i1.3089

Abstract

The integration of Javanese wedding customs into Islamic religious education is an intriguing topic to investigate, particularly within multicultural communities on the slopes of Mount Bromo. This study aims to describe how Islamic educational values are integrated into Javanese wedding practices and to explain the mechanisms through which Islamic meanings are reinterpreted in each stage of the ceremony. The study contributes to discussions on cultural and religious acculturation in the context of values education. Employing a descriptive qualitative approach with an ethnographic method, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation to understand the symbols, meanings, and practices embedded in wedding rituals. The data were analyzed using an interactive analysis technique (data reduction, data display, and conclusion drawing/verification), complemented by thematic coding to identify patterns of meaning and forms of value integration. The findings indicate that traditions such as siraman, seserahan, sungkeman, and sepasar undergo a process of reinterpreting Islamic meanings through mechanisms of demystification, re-theologization, and values education without eliminating the essence of local culture. This integration not only demonstrates harmony between Islamic principles and local wisdom but also functions as a contextual medium for moral, social, and spiritual values education. The study concludes that tradition is not an obstacle to religious practice; rather, it serves as a strategic avenue for transforming Islamic values through living cultural expressions that are accepted by the community.
The Integrated Persuasive-Bayan Method (IPBM): Reinterpreting Hadith Bayan Through Michel Foucault’s Perspective Muhammad Iqbal Attamimi; Ubaidillah Ubaidillah; Dyah Nawangsari; Mashudi Mashudi
IJIE International Journal of Islamic Education Vol. 5 No. 1 (2026): List of Contents
Publisher : Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/ijie.v5i1.2633

Abstract

Digital distractions and smartphone addiction present major challenges to student engagement in modern Islamic classrooms. To address this issue, this study explores the pedagogical value of the Prophetic tradition "Inna min al-bayan lasihran", establishing it as a foundational model for persuasive educational communication. Employing a qualitative descriptive-analytical design with a hermeneutic approach, the research investigates the dimensions of bayan (eloquence) and sihr (persuasive impact) within Ibn Hajar al-Asqalani's Fath al-Bari. The analysis demonstrates that prophetic communication effectively shapes student cognition and affect via linguistic mechanisms of sarf and atf. By cross-examining these traditional insights with Michel Foucault’s power-knowledge and discourse framework, this study introduces the Integrated Persuasive-Bayan Method (IPBM). This novel pedagogical model bridges contemporary digital aesthetics with ethical classroom interactions. The findings reveal that persuasive rhetoric in Islamic schooling must function as an emancipatory asset for student enlightenment rather than an instrument of ideological subjugation. This conceptual framework offers actionable insights for instructors designing compelling yet responsible communication strategies for the digital age.
Integrasi Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran PAI Berbasis Deep Learning Untuk Menumbuhkan Toleransi Muhammad Ilyas; Ubaidillah Ubaidillah; Mashudi Mashudi; Dyah Nawangsari
Ashlach : Journal of Islamic Education Vol. 4 No. 01 (2026): Ashlach: Journal Of Islamic Education (April)
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55757/ashlach.v4i01.1404

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan menumbuhkan sikap toleransi siswa, terutama di sekolah menengah kejuruan dengan keberagaman sosial dan budaya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh urgensi penguatan moderasi beragama, yang menjadi strategi penting untuk mengurangi konflik dan membangun harmoni sosial di kalangan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemahaman guru mengenai moderasi beragama, integrasinya dalam pembelajaran PAI berbasis Deep Learning, dan dampaknya terhadap sikap toleransi siswa di SMKN 5 Jember. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian berupa guru PAI dan Budi Pekerti serta siswa kelas X dan XI. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi materi pembelajaran, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman, dengan validasi melalui triangulasi sumber, teknik, dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memahami moderasi beragama sebagai sikap seimbang, adil, toleran, dan anti-ekstremisme. Integrasi nilai moderasi melalui pembelajaran PAI berbasis Deep Learning terbukti efektif menumbuhkan sikap toleransi siswa, dengan strategi seperti diskusi kelompok, problem-based learning, dan refleksi kritis. Observasi dan dokumentasi menunjukkan peningkatan perilaku siswa dalam hal komunikasi, empati, pengambilan keputusan adil, dan penghargaan terhadap perbedaan. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan kombinasi moderasi beragama dan Deep Learning dapat menjadi model pedagogis yang efektif dan dapat direplikasi di sekolah menengah lain.
Konsep Pendidikan Ibnu Khaldun Dalam Kitab Muqaddimah Vivin Hermawati; Hepni Hepni; Dyah Nawangsari; Ubaidillah Ubaidillah
An Namatul Ausath Vol. 3 No. 2 (2024): Publish
Publisher : PGMI ISMAA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64431/annamatulausath.v2i2.151

Abstract

Ibnu Khaldun merupakan seorang sarjana muslim yang selalu berpikir dan mengembangkan konsep-konsep dan pemikiran untuk kemajuan pendidikan islam. Konsep pendidikan Islam Ibnu Khaldun terdapat dalam kitab Muqaddimah, kitab ini merupakan karya munomental dari Ibnu Khaldun. Tujuan penelitian ini untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan literatur dengan mengkaji berbagai profensi tentang konsep pendidikan Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah. Hasil penelitian menunjukkan bahwah konsep pendidikan Ibnu Khaldun dalam Kitab Muqaddimah yaitu meliputi 1. Pengertian Pendidikan: Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding. Tetapi pendidikan merupakan suatu proses, di mana manusia secara sadar menangkap, menyerap dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman. 2. Tujuan pendidikan, peningkatan pemikiran, peningkatan kemasyarakatan, peningkatan kerohanian 3. Materi (kurikulum) terbagi menjadi dua Ilmu Aqli dan Naqli. 4. Metode pengajaran, Metode Pentahapan, pengulangan, penyesuaian fisik dan psikis, peninjauan kematangan usia, kesesuaian dengan kompetensi, penguasaan satu bidang, Rihlah, praktek/latihan.
Peran Nyai dalam Pelaksanaan Pendidikan di Pondok Pesantren Ashri Jember: The Role of Nyai in the Implementation of Education at Ashri Islamic Boarding School, Jember Dyah Nawangsari
Fenomena Vol 4 No 1 (2005): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v4i1.368

Abstract

A critical issue underlying this study is the public perception that a Nyai’s role in Islamic boarding schools (pesantren) stems solely from her husband’s influence as a Kyai, rather than from her own capacity. This study aims to identify and describe the roles of Nyai in formal and nonformal education at Pondok Pesantren Ashri Jember. Using a qualitative case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation. The findings reveal that Nyai plays essential roles as an educator and cultural mediator. In formal education, Nyai serves as a teacher, mentor, and leader, including establishing an Ibtidaiyah madrasah for dropout students. In nonformal education, Nyai’s role is more extensive due to 24-hour interaction with students, encompassing caregiving that fosters independence and Quran memorization, as well as serving as a role model in worship and leadership. The study concludes that Nyai at PPI Ashri is not merely a Kyai’s companion but an active educational change agent. It is recommended that further research explore Nyai’s contributions to community empowerment within pesantren. Fenomena krusial yang melatarbelakangi penelitian ini adalah persepsi masyarakat bahwa peran Nyai di pesantren semata-mata karena pengaruh Kyai, bukan karena kapasitasnya sendiri. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan peran Nyai dalam pelaksanaan pendidikan formal dan nonformal di Pondok Pesantren Ashri Jember. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan rancangan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyai memiliki peran penting sebagai pendidik dan mediator budaya. Dalam pendidikan formal, Nyai berperan sebagai pengajar, pembimbing, dan pemimpin, seperti membuka Madrasah Ibtidaiyah bagi santri putus sekolah. Dalam pendidikan nonformal, peran Nyai lebih besar karena interaksi 24 jam dengan santri, mencakup peran sebagai pengasuh yang membimbing kemandirian dan hafalan Al-Qur’an, serta sebagai sumber teladan dalam ibadah dan kepemimpinan. Kesimpulannya, Nyai di PPI Ashri tidak sekadar pendamping Kyai, melainkan agen perubahan pendidikan yang aktif. Direkomendasikan agar riset lanjutan mengeksplorasi kontribusi Nyai dalam pemberdayaan masyarakat pesantren.
Pendidikan Seks di Pondok Pesantren: Studi Kasus di Yayasan Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Bustanul Ulum Curahkalong, Bangsalsari, Jember: Sex Education in Islamic Boarding Schools: A Case Study at the Bustanul Ulum Islamic Boarding School Educational Foundation, Curahkalong, Bangsalsari, Jember Dyah Nawangsari
Fenomena Vol 5 No 1 (2006): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v5i1.383

Abstract

Sex education in Islamic boarding schools is often perceived as rigid and doctrinal, despite the urgent need for religiously appropriate guidance on sexual drives amid global information flows. This study aims to describe the materials, strategies, and outcomes of sex education at Bustanul Ulum Islamic Boarding School in Jember. A qualitative case study approach was employed, using in-depth interviews, participant observation, and documentation. The findings reveal that sex education materials are drawn from classical texts such as Syarh ‘Uqud al-Lujain and Qurrat al ‘Uyun, and are integrated into fiqh, tafsir, hadith, and tasawuf. Teaching strategies include the bandongan and bahts al-masail methods, although the integration of modern health perspectives remains limited. The success of sex education is evidenced by students’ awareness of reproductive hygiene through thaharah, their ability to maintain appropriate cross-gender relationships, and the low incidence of sexual deviance. This study recommends strengthening the integration of classical texts and modern medical knowledge in the pesantren curriculum. Pendidikan seks di lingkungan pondok pesantren sering kali dipandang kaku dan doktrinal, padahal kebutuhan akan pengaturan pemenuhan naluri seksual yang sesuai syariat sangat mendesak di tengah arus informasi global. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan materi, strategi, dan keberhasilan pendidikan seks di Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Jember. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi pendidikan seks bersumber dari kitab-kitab klasik seperti Syarh ‘Uqud al-Lujain dan Qurrat al ‘Uyun, serta terintegrasi dalam fiqh, tafsir, hadits, dan tasawuf. Strategi penyampaian menggunakan metode bandongan dan bahts al-masail, meskipun belum memadukan perspektif ilmu kesehatan modern secara optimal. Keberhasilan pendidikan seks tercermin dari kesadaran santri menjaga kebersihan reproduksi melalui thaharah, kemampuan menjaga pergaulan dengan lawan jenis, dan minimnya penyimpangan seksual. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan kolaborasi antara kitab klasik dan pengetahuan medis modern dalam kurikulum pesantren.
Geneologi Segregasi Pendidikan Pondok Pesantren: Genealogy of Educational Segregation in Islamic Boarding Schools Dyah Nawangsari
Fenomena Vol 6 No 2 (2007): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v6i2.414

Abstract

Educational segregation is an almost obligatory phenomenon and a distinctive feature of traditional Islamic education in Indonesia, yet its underlying rationales and impacts on equitable access to knowledge remain underexamined. This study aims to trace the genealogy of educational segregation, focusing on the intellectual backgrounds, forms of segregation, and its effects on students’ social behavior at Pesantren As-Sunniyah Kencong Jember. Using a qualitative phenomenological and historical approach, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation. The findings reveal that segregation is driven by normative demands, the preservation of pesantren identity, the maintenance of spiritual purity, and perceived differences in learning abilities between male and female students. Forms of segregation include the physical separation of learning and dormitory spaces, gender-based teacher selection, and differentiated curricula and learning targets. The positive impacts of segregation outweigh the negative ones, particularly in enhancing learning concentration and post-pesantren social adaptation, while negative effects are limited to students who do not complete their studies. This study recommends a critical evaluation of segregated curricula to prevent the reinforcement of gender-based knowledge inequality. Segregasi pendidikan di pesantren merupakan fenomena yang hampir wajib dan menjadi ciri khas sistem pendidikan Islam tradisional di Indonesia, namun akar pemikiran serta dampaknya terhadap kesetaraan akses pengetahuan masih belum banyak dikaji secara kritis. Penelitian ini bertujuan menelusuri genealogi segregasi pendidikan dengan fokus pada latar belakang pemikiran, bentuk-bentuk segregasi, serta dampaknya terhadap perilaku sosial santri di Pondok Pesantren As-Sunniyah Kencong Jember. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dan historis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa segregasi dilatarbelakangi oleh tuntutan normatif, pertahanan identitas pesantren, pemeliharaan kesucian hati, serta perbedaan kemampuan belajar antara santri putra dan putri. Bentuk segregasi mencakup pemisahan fisik ruang belajar dan asrama, seleksi pengajar berbasis gender, serta perbedaan kurikulum dan target capaian pembelajaran. Dampak positif segregasi lebih dominan, terutama dalam meningkatkan konsentrasi belajar dan kemudahan adaptasi sosial pasca-pesantren, sementara dampak negatifnya terbatas pada santri yang tidak menyelesaikan pendidikan. Penelitian ini merekomendasikan evaluasi terhadap kurikulum tersegregasi agar tidak memperkuat ketimpangan akses ilmu pengetahuan antargender.
Kekerasan terhadap Perempuan dalam Kasus Perdagangan Manusia: Violence Against Women in Human Trafficking Cases Dyah Nawangsari
Fenomena Vol 7 No 2 (2008): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v7i2.432

Abstract

The phenomenon of human trafficking against women is a critical issue due to the annual increase in victims, yet reported cases remain very limited because of shame and trauma. This qualitative case study was conducted in Sidomulyo Village, Semboro District, Jember. It aims to reveal the forms of violence, causes, and government responses to trafficking victims. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation. The findings show that female victims experienced physical violence (excessive workload and torture), sexual violence (rape), psychological violence (humiliation), and neglect of rights to food, health, and rest. The main causes are powerlessness due to unequal social structures, low education, and weak legal protection. The study concludes that village to national authorities have not provided adequate protection or preventive actions, requiring massive socialization, regulatory strengthening, and firm law enforcement against perpetrators. Fenomena perdagangan manusia terhadap perempuan menjadi isu krusial karena terjadi peningkatan jumlah korban setiap tahunnya, namun kasus yang dilaporkan sangat terbatas akibat rasa malu dan trauma korban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus bertempat di Desa Sidomulyo, Kecamatan Semboro, Jember. Tujuannya adalah mengungkap bentuk kekerasan, penyebab, serta respons aparat terhadap korban perdagangan manusia. Metode pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan korban mengalami kekerasan fisik (beban kerja berlebih dan penyiksaan), kekerasan seksual (pemerkosaan), kekerasan psikologis (penghinaan), serta penelantaran hak atas makanan, kesehatan, dan istirahat. Penyebab utamanya adalah ketidakberdayaan akibat struktur sosial timpang, rendahnya pendidikan, dan lemahnya perlindungan hukum. Kesimpulan menunjukkan aparat desa hingga nasional belum memberikan perlindungan dan tindakan pencegahan yang memadai, sehingga diperlukan sosialisasi masif dan penguatan regulasi serta penegakan hukum tegas terhadap pelaku.
Kecenderungan Open-Mindedness di PTAI dalam Perspektif Stakeholder Kampus STAIN Jember: The Tendency of Open-Mindedness in Islamic Higher Education Institutions (PTAI) from the Perspective of Stakeholders at the State Islamic College of Jember (STAIN Jember) Dyah Nawangsari
Fenomena Vol 8 No 2 (2009): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v8i2.451

Abstract

This study addresses the crucial issue of Indonesian Islamic Higher Education (PTAI) navigating between academic expectations and social expectations amidst globalization, often facing public controversy when producing non-mainstream religious thoughts. The broader problem lies in the dilemmatic position of PTAI as both an academic and a da'wah institution, struggling with scientific approaches to sacred subjects. This research aims to understand the tendency of open-mindedness at PTAI from the perspective of STAIN Jember stakeholders. Employing a qualitative phenomenological design, the study conducted in-depth interviews, participant observation, and documentation with key informants including lecturers of religious and secular subjects, as well as students. The findings reveal that students primarily entered PTAI expecting deepened religious understanding, resulting in initial confusion when exposed to rational-scientific approaches, yet ultimately leading to distinctive personal religious stances without regret or apostasy. Lecturers generally accept open-mindedness as necessary for Islam's relevance, with differing boundaries based on their academic disciplines—religious subject lecturers tend to adhere to classical methodologies, while those teaching profane subjects are more receptive to Western methods. The study concludes that open-mindedness tendencies at PTAI are accepted as a necessity, with variations in its limits, and recommends that such intellectual freedom be maintained within mainstream Islamic corridors to foster constructive academic dialogue. Penelitian ini membahas isu krusial tentang Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang berada di antara harapan akademis dan harapan sosial di tengah globalisasi, seringkali menghadapi kontroversi publik ketika melahirkan pemikiran keagamaan non-mainstream. Peta masalah yang lebih luas terletak pada posisi dilematis PTAI sebagai lembaga akademis sekaligus dakwah, yang bergulat dengan pendekatan ilmiah terhadap subjek sakral. Penelitian ini bertujuan memahami kecenderungan open-mindedness di PTAI dari perspektif stakeholder STAIN Jember. Dengan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi terhadap informan kunci yang terdiri dari dosen mata kuliah agama dan profan serta mahasiswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memasuki PTAI dengan harapan mendalami agama, mengalami kebingungan awal saat dihadapkan pada pendekatan rasional-ilmiah, namun akhirnya mencapai sikap keberagamaan khas pribadi tanpa penyesalan atau kemurtadan. Para dosen umumnya menerima open-mindedness sebagai keniscayaan agar Islam relevan, dengan batasan berbeda berdasarkan bidang keahlian—dosen ilmu agama cenderung berpegang pada metodologi klasik, sementara dosen ilmu profan lebih terbuka terhadap metode Barat. Penelitian menyimpulkan bahwa kecenderungan open-mindedness di PTAI diterima sebagai keniscayaan dengan variasi batasannya, dan merekomendasikan agar kebebasan intelektual tetap berada dalam koridor pemahaman agama mainstream untuk membangun dialog akademis yang konstruktif.