Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Classification Of Superstructure Damage In School Buildings In Nusa Penida Bali Using YOLO V7 Adnyana, Anak Agung Gede Oka Kessawa; Mahardika, I Gede Indra; Wicaksana, Gde Bagus Andhika; Kotama, I Nyoman Darma
Jurnal Info Sains : Informatika dan Sains Vol. 14 No. 04 (2024): Informatika dan Sains , 2024
Publisher : SEAN Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Structural damage in school buildings poses significant risks to safety and education quality, particularly in remote areas with limited maintenance resources. This study develops a YOLOv7-based model to detect building pillars and classify structural damages, focusing on school buildings in Nusa Penida, Bali. A dataset of 156 images, derived from an initial 521 images collected during field visits, was curated to include both damaged and intact pillars. Preprocessing and augmentation techniques, including resizing and rotation, were applied to optimize the dataset. Training was conducted over 55 epochs using Google Colab with a T4 GPU, incorporating parameter tuning to address dataset imbalance. Confidence thresholds were set at 0.7 for pillars and 0.2 for rebar detection to enhance sensitivity to underrepresented damage classes. Evaluation metrics, including the F1-score and confusion matrix, confirmed the model’s accuracy and robustness in detecting and classifying structural damages. The results demonstrate the model's potential for real-world applications in damage assessment, particularly in resource-limited settings. Future research should focus on expanding datasets, incorporating multi-class classification, and integrating real-time detection and drone-based imagery to enhance scalability and efficiency. This work contributes to developing efficient, AI-driven solutions for structural health monitoring in critical infrastructure.
MODEL PENDEKATAN EKSPLORATIF DAN EKSPLANATORI DALAM STUDI KASUS IMPLEMENTASI AI PADA DESAIN ARSITEKTUR Wicaksana, Gde Bagus Andhika; Purwanti, LMF Purwanti; Widjaja, Robert Rianto
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 23 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v23i1.21989

Abstract

Perkembangan teknologi dalam arsitektur telah mengalami transformasi signifikan, terutama dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan potensi besar untuk meningkatkan kreativitas dan efisiensi dalam desain arsitektur. Penelitian ini mengkaji integrasi metode penelitian studi kasus dengan pendekatan deskriptif, eksploratif, dan eksplanatori untuk memahami implementasi AI dalam konteks arsitektur. Pendekatan eksploratif digunakan untuk menggali potensi AI dalam menghasilkan ide dan solusi kreatif, sementara pendekatan eksplanatori berfokus pada menjelaskan hubungan sebab-akibat dan dampak AI terhadap proses desain. Kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif (mixed methods) diterapkan untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi peran AI dalam arsitektur secara holistik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan eksploratif memungkinkan identifikasi peluang baru dalam pemanfaatan AI, seperti algoritma generatif untuk desain geometris kompleks dan simulasi berbasis AI untuk efisiensi energi. Sementara itu, pendekatan eksplanatori memberikan pemahaman mendalam mengenai bagaimana AI memengaruhi proses desain, termasuk keterkaitannya dengan kreativitas dan efisiensi. Studi ini menekankan pentingnya definisi kasus yang jelas serta integrasi data dalam pendekatan studi kasus untuk mencapai analisis yang lebih mendalam. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan metodologi penelitian dalam arsitektur, khususnya dalam adaptasi teknologi AI. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengisi kesenjangan literatur terkait AI dalam arsitektur, tetapi juga memberikan panduan praktis untuk eksplorasi dan inovasi di masa depan.
Pengembangan konsep healing environment dalam Metaverse dengan pendekatan desain arsitektur biofilik Putra, Ida Bagus Gede Parama; Wicaksana, Gde Bagus Andhika; Prabawa, Made Suryanatha; Linggasani, Made Anggita Wahyudi; Kotama, I Nyoman Darma
JURNAL ARSITEKTUR PENDAPA Vol. 6 No. 2 (2023): Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/pendapa.v6i2.761

Abstract

Metaverse sebuah pengembangan teknologi berupa platform digital yang menghadirkan berbagai macam kemungkinan dalam berkreasi. Ruang Virtual dapat dirancang dengan berbagai pendekatan komunikasi visual, elemen interior maupun arsitektur digital yang tanpa batas. Potensi metaverse telah menghadirkan banyak kemungkinan yang tidak terpikirkan. Berbagai sektor seperti pendidikan, teknologi, iklan, retail, real estate dan sektor kesehatan yang menjadi salah satu sektor yang memiliki potensi dalam pengembangan ruang virtual sebagai media terapi. Pengembangan healing environment pada platform virtual dalam penelitian ini berfokus pada menciptakan zona virtual yang dapat digunakan sebagai ruang penyembuhan dan ruang kontemplasi bagi pengguna dengan keterbatasannya dalam melakukan aktivitas. Fokus penelitian ini yaitu melakukan kajian desain arsitektur biofilik dalam merencanakan ruang virtual untuk ruang penyembuhan bagi seseorang yang membutuhkan kenyamanan khususnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam mengkaji sumber dalam perencanaan desain ruang virtual, teori tentang healing environment dan desain arsitektur biofilik, Hal ini bertujuan untuk memberikan ruang interaktif untuk berbaur dan melakukan interaksi yang diharapkan memunculkan kepercayaan diri bagi pengguna.
OPTIMALISASI DESAIN PENATAAN PURA DADIA LORING TAKSU GAJAH PARA: PENDAMPINGAN UNTUK MASYARAKAT DESA SIBETAN Putra, I Wayan Yogik Adnyana; Wicaksana, Gde Bagus Andhika; Maharani, I Gusti Ayu Made Regina Bintang
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.36957

Abstract

Berdasarkan kondisi Pura Dadia Loring Taksu Gajah Para saat ini, renovasi menjadi kesepakatan bersama yang telah ditetapkan oleh para pemangku desa hal ini dikarenakan kondisi pura telah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh bencana meletusnya Gunung Agung. Langkah pemugaran merupakan gagasan untuk tetap mempertahankan tatanan pura-pura seperti sedia kala. Insentif pemerintah Kabupaten Karangasem menjadi solusi untuk menengahi sekaligus mempertahankan keberadaan pura. Berdasarkan hal tersebut, pihak Desa Sibetan memerlukan perbantuan teknis dalam penyusunan dokumen proposal karena kendala kurangnya keahlian masyarakat setempat. Kehadiran keilmuan dari akademisi dapat menjembatani komunikasi warga desa terhadap akses dana hibah untuk kepentingan renovasi pura yang sangat berarti bagi masyarakat Desa. Metode dilakukan melalui pengumpulan data potensi dan masalah, pengolahan data potensi dan masalah, analisis data, desain alternatif, FGD (Focus Group Discussion), dan sosialisasi penerapan gagasan perencanaan. Sehingga hasil akhir berupa dokumen teknis desain penataan Pura Dadia Loring Taksu Gajah Para beserta rencana anggaran biaya renovasinya. Dokumen ini menjadi acuan dan pedoman tatanan desain pura khususnya pada Pura Dadia Loring Taksu Gajah Para agar bisa berlanjut dan bertahan kelestariannya sebagai salah satu pura yang berada di Desa Sibetan.
Quantitative Spatial Analysis Of Cluster Patterns And Spatial Integration In The Celuk Creative District, Gianyar, Bali Putri, Ni Putu Ratih Pradnyaswari Anasta; Wahyudi Linggasani, Made Anggita; Wicaksana, Gde Bagus Andhika
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol 8 No 2 (2025): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Ev
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v8i2.339

Abstract

Celuk Village in Gianyar Regency, Bali, has evolved organically into a prominent silver craftsmanship corridor, forming a unique creative economy ecosystem where production workshops, commercial galleries, and tourist interaction spaces coexist within an interconnected spatial hierarchy. This study employs a spatial quantitative approach to analyse distribution patterns, spatial relationships, and functional hierarchies among 70 silver workshops and galleries across a defined 6-month research period. Spatial point data were collected through GPS-based field surveys, validated with positional accuracy tolerance ≤ 3 m, and processed using QGIS software to perform Point Pattern Analysis (PPA) and Kernel Density Estimation (KDE). The analysis identifies clustering tendencies and spatial density hierarchies, revealing a linear aggregation pattern concentrated along the primary west–east corridor connecting Gianyar and Denpasar. Statistical spatial correlation was measured using Nearest Neighbour Index (NNI = 0.69), indicating clustered distribution, supported by strong positive spatial autocorrelation (Moran’s I = +0.89, p < 0.05), confirming significant spatial dependence between neighbouring business units. To clarify the term functional mapping, field observations incorporated structured indicators of Building Function (production, exhibition, mixed use), Architectural Typology (traditional workshop, modern gallery, hybrid façade, adaptive building), and Activity Intensity Level (frequency of visible workers, visitor presence, façade permeability, sidewalk spill-out, and temporal peak markers). The findings demonstrate that spatial configuration in Celuk is shaped not only by economic efficiency and proximity, but also by symbolic cultural markers—such as temples and traditional ornaments—that reinforce spatial identity and distinguish the district from purely commercial corridors. While clustering supports collaborative resource sharing and visibility, the study also detects spatial imbalance between the main spine and peripheral lanes, signalling emerging commercial pressure and declining activity on secondary routes. For sustainable creative district growth, a scale-sensitive integrated spatial planning framework is recommended, applying thematic production–display–tourism zoning supported by community-based governance to maintain economic–cultural balance, walkability, and cultural authenticity. This research contributes empirical spatial metrics and a replicable methodological structure for developing culture-based creative districts in Bali and Indonesia.