Claim Missing Document
Check
Articles

HASIL HUTAN BUKAN KAYU (HHBK) KUTU LAK (Laccifer lacca.Kerr) Febriana Tri Wulandari
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 5 No. 4 (2019): Desember 2019
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lak merupakan salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Lak dihasilkan dari sekresi kutu lak. Kutu lak akan memakan gubal kayu cabang muda pada tanaman inang. Tanaman inang yang paling baik untuk hidup kutu lak adalah pohon kesambi. Lak yang berguna untuk pembuatan vernis, industri listrik, perekat, plitur, dan kabel. Selain itu, lak juga dipergunakan untuk bahan pewarna (edible dye) pewarna minuman ringan dan makanan, serta dapat juga dipergunakan sebagai bahan campuran untuk lapisan luar pada cokelat. Selain itu, air limbah dari pengolahan lak cabang banyak mengandung bahan pewarna seperti asam lakaik yang berguna untuk proses penyamakan wol, sutra, atau kulit dan juga dapat digunakan untuk penetralisir air kolam pada budidaya ikan lele (Kasmojo, 2007). Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran tentang HHBK kutu lak. Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini dengan menggunakan metode penelitian deskriptif yaitu menyajikan suatu gambaran terperinci atas suatu situasi khusus (Silalahi,2009). Sumber data diperoleh dari pustaka atau literature yang berhubungan dengan HHBK lak dan pengalaman penulis dilapangan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan HHBK lak adalah sebagai berikut : (1).Lak hidup didaerah dengan curah hujan yang rendah (daerah kering), kekentalan getah pohon 0,14 – 0,17 dan pohon kesambi sebagai pohon inang. (2). Tahapan budidaya kutu lak adalah seleksi bibit, penularan bibit, pemeliharaan dan pemanenan. (3). Hama dan penyakit HHBk kutu lak adalah parasit (jamur) dan predator (semut merah besar). (4). Penerapan teknik silvikultur adalah blok tularan, sistem tularan dan penyimpanan lak cabang. (5). Teknologi Pasca Panen adalah perontokan lak, penghancuran lak menjadi butiran, pembilasan lak, pengeringan lak kurang lebih 12 jam dan packing kedap udara.
KARATERISTIK LIMBAH PEMANENAN DAN INDUSTRI HASIL HUTAN KAYU SERTA ALTERNATIF PEMANFAATANNYA Febriana Tri Wulandari
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 5 No. 3 (2019): September 2019
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara ekonomi terjadinya limbah hasil hutan disebabkan adanya konsep bagian kayu marginal dan sub marginal. Konsep kayu marginal adalah bagian kayu yang bila dipungut atau diolah akan kerugian bagi pengusahanya. Apabila kayu itu dipungut akan menghasilkan nilai penjualan yang sama dengan biaya yang dikeluarkan. Sedangkan konsep kayu sub marginal adalah nilai jualnya jauh lebih rendah dari biaya yang dikeluarkan. Karena adanya kedua konsep tersebut maka pengusaha banyak meninggalkan limbah dilokasi pemanenan dan industri hasil hutan kayu. Berdasarkan hal tersebut maka perlu solusi untuk memberikan nilai ekonomis pada limbah pemanenan dan industri kayu dengan memberikan alternative pemanfaatannya menjadi produk yang memberikan nilai jual atau nilai ekonomis dan membantu pemerintah dalam mengurangi limbah hasil hutan. Tujuan dari penulisan makalah ini untuk memberikan gambaran jenis-jenis limbah pemanenan dan industri kayu serta memberikan alternative pemanfaatannya sebagai produk hasil hutan yang memberi manfaat secara ekonomis. Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini dengan menggunakan metode penelitian deskriptif yaitu menyajikan suatu gambaran terperinci atas suatu situasi khusus (Silalahi,2009). Sumber data diperoleh dari pustaka atau literature yang berhubungan dengan limbah dan pengalaman penulis dilapangan. Berdasarkan uraian makalah maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : (1).Jumlah limbah pemanenan dan limbah industri hasil hutan kayu sekitar 50% lebih, (2). Limbah pemanenan hasil hutan kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pengolahan kayu, seperti industri papan partikel, papan serat, papan blok, papan sambung, pulp dan kertas, industri arang kayu dan sumber energi pada tungku boiler untuk menghasilkan listrik, (3).Limbah industri hasil hutan kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, briket arang, arang aktif, inti papan blok, papan laminasi, kompos, soil condition, papan partikel dan sambungan venir inti, atau venir belakang kayu lapis, bahan pembuatan alat olahraga dan sebagai bahan baku pulp dan kertas.
SIFAT FISIKA BAMBU TALI (Gigantochloa apus) BERDASARKAN ARAH AKSIAL Febriana Tri Wulandari
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 5 No. 1 (2019): Maret 2019
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bambu merupakan tanaman multi fungsi, disamping multi fungsi bambu yang tinggi maka terdapat beberapa kelemahan dari bambu antara lain : pengerjaan tidak mudah karena mudah pecah atau retak, mudah terserang serangga perusak kayu sehingga tidak tahan lama (tidak awet), variasi dimensi dan ketidakseragaman panjang ruasnya. Untuk mengatasi kelemahan dari bambu maka perlu dilakukan analisis fisika kayu. Salah satu jenis bambu yang banyak digunakan adalah bambu tali (Gigantochloa apus). Bambu tali banyak tersebar di Indonesia dan Asia Tropis dan biasanya digunakan sebagai bahan baku untuk kerajinan, furniture dan bahan konstruksi ringan pada bangunan termasuk pembuatan jembatan sederhana. Penelitian sifat fisika bambu tali (Gigantochloa apus)dikawasan kecamatan Gunung Sari belum pernah dilaksanakan, sehingga perlu untuk melakukan penelitian untuk mengetahui sifat fisika bambu tali (Gigantochloa apus)dikawasan tersebut sebagai informasi bagi pengrajin dan pengguna bambu agar tidak salah dalam penggunaannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sifat fisika bambu tali (Gigantochloa apus) berdasarkan arah aksial dikecamatan Gunung Sari kabupaten Lombok Barat. Data sifat fisika bambu tali (Gigantochloa apus) diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber informasi bagi masyarakat dikecamatan Gunung Sari dan masyarakat pada umumnya sebagai pengguna bambu agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaannya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode ekperimen.Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Oktober 2018 di Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pengujian Sifat Fisika dilakukan di Laboratorium Silvikutur dan Teknologi Hasil Hutan, Jurusan Kehutanan Universitas Mataram.
IDENTIFIKASI JENIS BAMBU DIKAWASAN HKM DESA AIK BUAL Febriana Tri Wulandari; Irwan Mahakam Lesmono Aji; Dwi Sukma Rini
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 4 No. 4 (2018): Desember 2018
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Salah satu kawasaan yang menghasilkan bambu di Nusa Tenggara Barat adalah HKM desa Aik Bual. Informasi identifkasi bambu penting untuk mengetahui karateristik bambu pada kawasan tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis bambu dikawasan HKM desa Aik Bual. Data identifikasi jenis diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi HKM desa Aik Bual khususnya dan masyarakat pada umumnya sebagai pengguna bambu agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaannya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode observasi dan ekperimen.Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan September 2018 di HKM Desa Aik Bual, Kecamatan Kopang Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan jenis bambu yang terdapat di kawasan HKM desa Aik Bual sebanyak empat jenis yaitu :(1).bambu Tali (Gigantochloa apus), bambu petung (Dendrocalamus asper Backer), bambu ampel (Bambusa vulgaris Scharder ex Wendland) dan bambu galah (Gigantochloa atter (Hassk) Kurz ex Munro. Keempat jenis bambu dikawasan HKM desa Aik Bual tersebut tersebar merata dibantaran atau pinggir sungai dan hanya sedikit terdapat dikawasan kebun masyarakat. (2).Jumlah rumpun terbanyak pada bambu tali dan yang terendah pada bambu ampel. Sedangkan untuk jumlah batang bambu per rumpun yang paling banyak pada bambu tali dan terendah pada bambu petung.
TINGKAT KEPADATAN LALAT DI RUMAH PENDUDUK SEKITAR TENDA PENGUNGSIAN PASCA GEMPA LOMBOK TAHUN 2018 Febriana Tri Wulandari
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 4 No. 3 (2018): September 2018
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan sampah dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat karena sampah merupakan tempat yang ideal untuk sarang dan tempat berkembang biaknya berbagai vektor penularan penyakit. Lalat merupakan salah satu vektor penularan penyakit khususnya penyakit saluran pencernaan karena lalat mempunyai kebiasaan hidup di tempat kotor dan tertarik bau busuk seperti sampah basah. Lalat banyak terdapat diberbagai habitat, misalnya air, pasir, tumbuhan, di bawah kulit kayu, batu, dan binatang. Hal ini berhubungan dengan insting dan binomik lalat memilih tempat-tempat yang kelak secara langsung dijadikan sumber makanan bagi larva setelah menetas dari telur, yang semuanya dapat ditemukan pada sampah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat kepadatan lalat di rumah penduduk yang berada disekitar tenda pengungsian dusun cempaka putih dan karang gelumpang. Penelitian ini bersifat deskriftif dengan pendekatan crossectional study, yang dilaksanakan pada bulan september 2018 di rumah penduduk dusun cempaka putih dan karang gelumpang dengan jumlah sampel 48 rumah. Instrumen penelitian yang digunakan adalah flay grill untuk mengukur tingkat kepadatan lalat. Hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk tabel, distribusi frekuensi, dan persentase. Hasil penelitian tingkat kepadatan lalat di Rumah Penduduk yang berada disekitar tenda pengungsian pasca gempa lombok Dusun Cempaka Putih dan Karang Gelumpang sebagian besar masuk dalam kategori tinggi sebanyak 27 rumah (56,25%) dan kategori rendah sebanyak 21 rumah (43,75%). Menurut hasil pengamatan bahwa faktor yang dapat meningkatkan kepadatan lalat yaitu sistem pengelolaan sampah di tenda pengungsian dan rumah penduduk masih belum memenuhi syarat, karena tempat pembuangan sampah dan saluran pembuangan limbah masih terbuka
ANALISIS KIMIA TIGA TANAMAN OBAT DIKAWASAN KHUSUS SENARU Febriana Tri Wulandari; Irwan Mahakam Lesmono Aji; Dwi Sukma Rini
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 4 No. 1 (2018): Maret 2018
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai jenis-jenis HHBK dikawasan Senaru telah dilakukan pada tahun 2014. HHBK yang ditemukan di KHDTK Senaru sekitar 36 jenis yang berasal dari 13 famili, diantaranya: famili Apocynaceae, Arecaceae, Clusiaciae, compositae, ebenaceae, euphorbiaceae, fabaceae, meliaceae, moraceae, myrtaceae, orchidaceae, piperaceae, rosaceae, dan rubiaceae. HHBK tanaman obat di KHDTK Senaru sebanyak 13 jenis. Tanaman obat telah banyak digunakan oleh masyarakat sekitar hutan untuk mengobati berbagai penyakit.Tiga tanaman obat yang terdapat di KHDTK Senaru adalah daun panggal buaya (Zanthoxyllum rhetsa Roxburgh (DC)), daun rajumas (Duabanga moluccana) dan daun sengon (Paraserianthes falcataria (L )) . Ketiga jenis daun tersebut mengandung vitamin A, E, C dan berfungsi sebagai obat kanker. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti akan menganalisis kandungan kimia yang terdapat pada tanaman obat tersebut sehingga dapat menjadi sumber informasi bagi KHDTK Senaru khususnya dan masyarakat pada umumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan kimia 3 tanaman obatyaitu daun panggal buaya (Zanthoxyllum rhetsa Roxburgh (DC)), rajumas (Duabanga moluccana) dan sengon (Paraserianthes falcataria (L )). Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian deskriptif yaitu menyajikan suatu gambaran terperinci atas suatu situasi khusus (Silalahi,2009). Sumber data diperoleh dari hasil analisis kimia yang dilaksanakan di laboratorium BPTHHBK. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai skrining bioaktivitas antioksidan pada tiga jenis tanaman kehutanan maka dapat disimpulkan bahwa dari tiga tanaman yang diuji, tedapat bioaktivitas berupa aktivitas antioksidan yang berperan mengatasi kerusakan akibat radikal bebas dalam tubuh, hasil menunjukan bahwa daun tanaman rajumas (Duabanga molucanna) dan panggal buaya ((Zanthoxyllum rhetsa Roxburgh (DC)) memiliki aktivitas antioksidan yang kuat, namun untuk jenis tanaman sengon (Paraserianthes falcataria) memiliki aktivitas antioksidan rendah
STUDI JENIS DAN SEBARAN BAMBU DI KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS (KHDTK) SENARU Dwi Sukma Rini; Febriana Tri Wulandari; Irwan Mahakam Lesmono Aji
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 3 No. 4 (2017): Desember 2017
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman bambu tumbuh secara alami dan berumpun di kawasan hutan Indonesia, tak terkecuali di daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, pemanfaatan bambu di daerah ini cukup tinggi. Disisi lain pengetahuan masyarakat tentang jenis, sifat, dan kualitas bambu masih sangat terbatas, padahal hal ini berperan penting dalam kesesuaian pemilihan jenis untuk pemanfaatan lebih lanjut. Selain jenis bambu, perbedaan tempat tumbuh juga dapat mempengaruhi kualitas dari bambu dengan jenis yang sama. Penelitian karakteristik dan jenis bambu ini dilakukan untuk mengetahui dengan jelas morfologi dan sifat fisika setiap jenis bambu yang tumbuh di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Senaru, karena belum ada data tentang jenis dan kualitas bambu yang terukur di daerah ini. Penelitian ini meliputi : inventarisasi jenis dan sebaran bambu dengan metode survei; pengamatan morfologi bambu dan pembuatan herbarium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di KHDTK Senaru ditemukan 6 jenis bambu, yaitu bambu Ampel (Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C), Santong (Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz ), kuning (Bambusa vulgaris var. striata), tali (Gigantolochloa apus Kurz.), petung (Dendrocalamus asper (Schult. f.) Backer ex Heyne) dan Bilis (Schizostachyumlima (Blanco)Merr).
VARIASI KADAR AIR TIGA JENIS BAMBU BERDASARKAN ARAH AKSIAL Febriana Tri Wulandari
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 4 No. 3 (2018): September 2018
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bambu tumbuh secara alami dan berumpun di kawasan hutan Indonesia, tak terkecuali di daerah Lombok, NusaTenggaraBarat.Manfaat bambu bagi masyarakat antara lain :sebagai bahan konstruksi ringan, sebagai bahan mebel dan kerajinan, sebagai papan komposit (papan lamina, papan partikel dan papan serat), sebagai bahan baku pembuatan kertas dan lain-lain. Disamping multi fungsi bambu yang tinggi maka terdapat beberapa kelemahan dari bambu antara lain : pengerjaan tidak mudah karena mudah pecah atau retak, mudah terserang serangga perusak kayu sehingga tidak tahan lama (tidak awet), variasi dimensi dan ketidakseragaman panjang ruasnya. Dengan mengetahui sifar fisika bambu maka dapat mengatasi adanya cacat akibat retak dan pecah karena pada saat bambu akan dikerjakan harus dalam kondisi kadar air yang rendah sehingga tidak mengalami perubahan dimensi (kembang susut yang tinggi). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi kadar air pada tiga jenis bambu (bambu petung, bambu ampel dan bambu tali) berdasarkan arah aksialnya (pangkal,tengah dan ujung).Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yaitu menyajikan suatu gambaran terperinci atas suatu situasi khusus (Silalahi,2009). Sumber data diperoleh dari pengujian di laboratorium dan dibandingkan standar kualitas bambu yang telah ada.Penelitian dilaksanakan di KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) Senaru dan laboratorium Silvikultur dan Teknologi Hasil Hutan Program Studi Kehutanan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Pola sebaran kadar airpada arah aksial meningkat dari pangkal menuju ujung batang dan bagian ruas memiliki nilai kadar air yang lebih tinggi dari bagian buku.
Karakteristik Batang dan Sifat Fisika Bambu Tali (Gigantochloa apus (Bi. Ex Schult.) Kurz) di Kawasan HKm Desa Aik Bual, Kabupaten Lombok Barat, Indonesia Febriana Tri Wulandari; Ni Putu Ety Lismaya Dewi
Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan Vol 9 No 1 (2022): Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/daun.v9i1.3467

Abstract

Communities well know non-Timber Forest Product (NTFP) of bamboo with properties, strong culm, flexible, straight, smooth, hard, easily split and formed, very doable, and light transported easily. Besides those, bamboo is relatively inexpensive compared to other raw materials found in the village community’s vicinity. One of the bamboos found in Aik Bual Village’s community forests was tali bamboo (G. apus). Identification of G. apus was required to understand its characteristics, while the physical properties would be useful for understanding its dimension stabilities. The objectives of this study were to identify the stem characteristics and physical properties of G. apus. Experimental method was employed to conduct the study. Three culms were selected, and each culm was divided into three sections: bottom, middle, and top. Physical properties were tested using India Standard number IS 6874, 2008. The characteristics of G. apus were: the intermodal space of the bottom culm was 31.2-38.5 cm, the middle culm was 40-47 cm, and the top culm was 26-60.8 cm; the diameter of the bottom culm was 5.77-6.38 cm, the middle culm was 5.72-6.48 cm, and the top culm was 5.18-6.19 cm; the thickness of bottom culm was 0.9-1.35 cm, the middle was 0.55-0.96 cm, and the top was 0.54-0.76 cm. Physical properties of G. apus were: the fresh moisture content was 111.23%-143.24%, the air-dried moisture content was 11.78-12.72%, while the fresh density was 0.47-0.56, the air-dried density was 0.59-0.64, and the oven-dried density was 0.60-0.63.
The Effect of Slape Arrangement On Physical and Mechanical Properties Petung Bamboo Laminate Board (Dendrocalamus asper) Febriana Tri Wulandari; Habibi Habibi; Raehanayati Raehanayati; Rima Vera Ningsih
Wood Research Journal Vol 13, No 1 (2022): Wood Research Journal
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51850/wrj.2022.13.1.7-11

Abstract

Wood as a construction material is currently increasingly limited.  One alternative material as a substitute for construction wood is laminated bamboo. Laminated bamboo is a product made from several bamboo slats or bamboo slats that are glued together with the fiber direction parallel to the board with several requirements, among others, must have dimensions of length, width, and thickness that can be converted into boards or blocks. The type of bamboo that will be used in this research is petung bamboo (Dendrocalamus asper). Petung bamboo was chosen because it has a diameter that can reach 20 cm with a wall thickness of 1-3 cm, making it suitable for use as laminated bamboo. The purpose of this study was to determine the effect of blade arrangement on the physical and mechanical properties of petung bamboo laminated boards. The method used in this study is an experimental method with a non-factorial completely randomized design experiment with two treatments and three replications. Based on the results of the study, the arrangement of the laminated board blades did not significantly affect all tests of the physical and mechanical properties of the petung bamboo laminated board. All tests of physical and mechanical properties have complied with JPIC standard No. 1152 2007 except in the MoE test does not meet the standard. Based on the strength class of the laminated board, the bamboo petung laminated board is classified as strong class III which can be used as a protected heavy construction material.
Co-Authors ABDUL MUIN Aditya, I Gusti Ngurah Agung Surya Andi Tri Lestari Andrie Ridzki Prasetyo Aprilia Ika Berliana Arniwati Ayu, Candra B, Kornelia Webliana chairil ichsan, andi Dewi Mandalika, Eka Nurminda Dhimas Mardyanto Prasetyo Dhimas Mardyanto Prasetyo Diah Permata Sari Diah Permata Sari DIAH PERMATA SARI, DIAH PERMATA Dias Evayanti Dini Lestari Dini Lestari Dini Lestari, Dini Dita Anggraini Dwi Sukma Rini Endah Wahyuningsih Endah Wahyuningsih Eni Hidayati Ety Lisma, Ni Putu Fauzan Fahrussiam GB Daril Rama Aditia Habibi Habibi Habibi Hairil Anwar Hasan, Andika Hasyyati Sabrina Hasyyati Shabrina I Gde Dharma Atmaja I Gde Dharma Atmaja I Made Wayan Suastana I Putu Angga Teja Maya Ipan Alfadian Irwan Mahakam Lesmono Aji Januardi, Januardi Khairunnisa, Aulia Kornelia Webliana Kornelia Webliana B Kornelia Webliana B Leni Rusdiani Lestari, Andi Tri Lipianti Lismaya Dewi, Ni Putu Ety Markum Markum Ni Made Meta Dwiantari Meta Ni Putu Ety Lismaya Dewi Ni Putu Ety Lismaya Dewi Niechi Valentino Nurwahdania, Nurwahdania Pande Komang Suparyana Prasetyo, Andrie Ridzki Putra, Arya Syah Putri Radjali Amin Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehnayati Raehnayati, Raehnayati Rato Firdaus Rima Vera Ningsih Rima Vera Ningsih Rima Vera Ningsih Rosadi, M. Kudsi Siti Latifah Sujana, Ginang Mingga Sulthanulmufti, Sulthanulmufti Surya Aditya, I Gusti Ngurah Agung Syahputra, Maiser Wangiyana, I Gde Adi Suryawan Webliana, Kornelia Wuryantoro Yeni Rahmawati, Yeni Zahra, Adelia Zarkasyi, Akhmad