Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH BERAT LABUR DAN JENIS KAYU TERHADAP SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA PAPAN LAMINASI Febriana Tri Wulandari; Radjali Amin; I Gde Adi Suryawan Wangiyana
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 40 No. 2 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2022.40.2.93–104

Abstract

The world's demand for wood is increasing while the amount of solid wood production is decreasing with the depletion of forestsdue to illegal logging and conversion of forest functions as plantation land. To overcome these problems, it is necessary to do theefficiency of wood raw materials so that the use of solid wood can be reduced. One of the efficient ways to use wood raw materials isto utilize optimized wood industrial waste by combining one or more types of wood which are glued together into a single unit,commonly called a laminated board. In this study, we will look at the effect of different types of wood and the weight of the gluespread on the resulting laminated board. Advantages Laminate board can produce a board size that is wide and long as neededbecause the joints are made as long as needed. In the manufacture laminated boards are made with the type of wood, namely jatiputih (Gmelina arborea. Roxb), bajur (Pterospermum javanicum), sengon (Paraserianthes falcataria) and mixtures(jati putih, bajur and sengon) and the glue spread factor is 150 g and 200 g. Then the physical and mechanical properties weretested. The test results showed that the wood type had a significant effect on all physical and mechanical properties except for thethickness shrinkage and MoE tests. The interaction of the lamination glue spread factor and the wood type factor did not significantlyaffect all physical and mechanical properties of mixed wood waste laminated boards. Based on the test results, laminated board isclassified as strong class III which can be used as a lightweight construction material indoors.
Pengaruh Waktu Pembakaran Terhadap Karakteristik Asap Cair dari Serbuk Kayu Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) Surya Aditya, I Gusti Ngurah Agung; Febriana Tri Wulandari; Dini Lestari; Aditya, I Gusti Ngurah Agung Surya; Wulandari, Febriana Tri; Lestari, Dini
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/y6nsjf40

Abstract

Limbah serbuk kayu dari industri penggergajian merupakan sumber biomassa yang melimpah namun kurang dimanfaatkan secara optimal. Salah satu potensi pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku pembuatan asap cair melalui proses pirolisis. Studi pirolisis untuk biomassa kayu telah banyak dilakukan, namun kajian waktu optimal pembakaran serbuk mahoni untuk memproduksi asap cair sesuai SNI 8985:2021 masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi waktu pembakaran terhadap rendemen, karakteristik, dan mutu asap cair dari serbuk kayu mahoni (Swietenia mahagoni Jacq). Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial, melibatkan 3 perlakuan waktu (30, 60, dan 90 menit) dengan 3 kali ulangan. Karakteristik asap cair yang diuji antara lain rendemen, kadar asam asetat, dan kadar fenol. Cara pengujian asam asetat dan kadar fenol dilakukan sesuai dengan SNI 8985:202. Analisis data dilakukan menggunakan uji ANOVA satu arah untuk data parametrik dan uji Kruskal-Wallis untuk data non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi waktu pembakaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rendemen dan kadar asam asetat, namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kadar fenol. Meskipun demikian, kadar fenol tertinggi tercatat pada perlakuan waktu 90 menit sebesar 3,36%. Kadar asam asetat cenderung meningkat seiring bertambahnya durasi pembakaran, namun masih berada dalam batas mutu 2 yang ditetapkan oleh SNI 8985:2021. Dengan demikian, waktu pirolisis selama 90 menit pada suhu 300°C dinilai sebagai perlakuan paling optimal dalam menghasilkan asap cair berkualitas dari serbuk kayu mahoni. Asap cair mutu 2 dapat dimanfaatkan sebagai pengawet dan desinfektan, sedangkan asap cair yang tidak memenuhi SNI 8985:2021 tetap berpotensi digunakan sebagai pengawet alami kayu. The Effect of Combustion Time on the Characteristics of Liquid Smoke from Mahogany Wood Powder (Swietenia mahagoni Jacq)   Abstract Wood sawdust waste from the sawmill industry is an abundant source of biomass that is underutilized. One potential use is as a raw material for producing liquid smoke through pyrolysis. Pyrolysis studies on wood biomass have been conducted extensively, but research on the optimal combustion time for mahogany sawdust to produce liquid smoke in accordance with SNI 8985:2021 is still limited.This study aims to determine the effect of combustion time variation on the yield, characteristics, and quality of liquid smoke from mahogany sawdust (Swietenia mahagoni Jacq). The study used an experimental method with a non-factorial Complete Randomized Design (CRD), involving 3 combustion time treatments (30, 60, and 90 minutes) with 3 replicates. The characteristics of liquid smoke tested included yield, acetic acid content, and phenolic content. The testing of acetic acid and phenolic content was carried out in accordance with SNI 8985:202. Data analysis was performed using a one-way ANOVA test for parametric data and a Kruskal-Wallis test for non-parametric data. The results showed that variations in combustion time had a significant effect on yield and acetic acid content, but did not significantly affect phenolic content. However, the highest phenolic content was recorded in the 90 minutes treatment at 3.36%. Acetic acid levels tend to increase with longer combustion times, but remain within the quality limits 2 set by SNI 8985:2021. Thus, pyrolysis for 90 minutes at 300°C is considered the most optimal treatment for producing high-quality liquid smoke from mahogany wood powder. Grade 2 liquid smoke can be used as a preservative and disinfectant, while liquid smoke that does not meet SNI 8985:2021standards can still be used as a natural wood preservative.
Pengaruh Waktu Pembakaran Terhadap Karakteristik Asap Cair dari Serbuk Kayu Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) Surya Aditya, I Gusti Ngurah Agung; Febriana Tri Wulandari; Dini Lestari; Aditya, I Gusti Ngurah Agung Surya; Wulandari, Febriana Tri; Lestari, Dini
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/y6nsjf40

Abstract

Limbah serbuk kayu dari industri penggergajian merupakan sumber biomassa yang melimpah namun kurang dimanfaatkan secara optimal. Salah satu potensi pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku pembuatan asap cair melalui proses pirolisis. Studi pirolisis untuk biomassa kayu telah banyak dilakukan, namun kajian waktu optimal pembakaran serbuk mahoni untuk memproduksi asap cair sesuai SNI 8985:2021 masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi waktu pembakaran terhadap rendemen, karakteristik, dan mutu asap cair dari serbuk kayu mahoni (Swietenia mahagoni Jacq). Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial, melibatkan 3 perlakuan waktu (30, 60, dan 90 menit) dengan 3 kali ulangan. Karakteristik asap cair yang diuji antara lain rendemen, kadar asam asetat, dan kadar fenol. Cara pengujian asam asetat dan kadar fenol dilakukan sesuai dengan SNI 8985:202. Analisis data dilakukan menggunakan uji ANOVA satu arah untuk data parametrik dan uji Kruskal-Wallis untuk data non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi waktu pembakaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rendemen dan kadar asam asetat, namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kadar fenol. Meskipun demikian, kadar fenol tertinggi tercatat pada perlakuan waktu 90 menit sebesar 3,36%. Kadar asam asetat cenderung meningkat seiring bertambahnya durasi pembakaran, namun masih berada dalam batas mutu 2 yang ditetapkan oleh SNI 8985:2021. Dengan demikian, waktu pirolisis selama 90 menit pada suhu 300°C dinilai sebagai perlakuan paling optimal dalam menghasilkan asap cair berkualitas dari serbuk kayu mahoni. Asap cair mutu 2 dapat dimanfaatkan sebagai pengawet dan desinfektan, sedangkan asap cair yang tidak memenuhi SNI 8985:2021 tetap berpotensi digunakan sebagai pengawet alami kayu. The Effect of Combustion Time on the Characteristics of Liquid Smoke from Mahogany Wood Powder (Swietenia mahagoni Jacq)   Abstract Wood sawdust waste from the sawmill industry is an abundant source of biomass that is underutilized. One potential use is as a raw material for producing liquid smoke through pyrolysis. Pyrolysis studies on wood biomass have been conducted extensively, but research on the optimal combustion time for mahogany sawdust to produce liquid smoke in accordance with SNI 8985:2021 is still limited.This study aims to determine the effect of combustion time variation on the yield, characteristics, and quality of liquid smoke from mahogany sawdust (Swietenia mahagoni Jacq). The study used an experimental method with a non-factorial Complete Randomized Design (CRD), involving 3 combustion time treatments (30, 60, and 90 minutes) with 3 replicates. The characteristics of liquid smoke tested included yield, acetic acid content, and phenolic content. The testing of acetic acid and phenolic content was carried out in accordance with SNI 8985:202. Data analysis was performed using a one-way ANOVA test for parametric data and a Kruskal-Wallis test for non-parametric data. The results showed that variations in combustion time had a significant effect on yield and acetic acid content, but did not significantly affect phenolic content. However, the highest phenolic content was recorded in the 90 minutes treatment at 3.36%. Acetic acid levels tend to increase with longer combustion times, but remain within the quality limits 2 set by SNI 8985:2021. Thus, pyrolysis for 90 minutes at 300°C is considered the most optimal treatment for producing high-quality liquid smoke from mahogany wood powder. Grade 2 liquid smoke can be used as a preservative and disinfectant, while liquid smoke that does not meet SNI 8985:2021standards can still be used as a natural wood preservative.
PERBANDINGAN MUTU BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN KULIT DURIAN DITINJAU DARI KADAR AIR, ABU, DAN ZAT TERBANG BERDASARKAN SNI 01-6235-2000 Wulandari, Febriana Tri; Valentino, Niechi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v8i6.17797

Abstract

Penelitian ini bertujuan membandingkan mutu briket arang tempurung kelapa dan kulit durian berdasarkan parameter kadar air, kadar abu, dan kadar zat terbang, serta menilai kesesuaiannya dengan standar mutu SNI 01-6235-2000, P3HH, dan beberapa standar internasional. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor dengan dua jenis bahan baku briket, masing-masing diulang tiga kali. Proses pembuatan briket meliputi karbonisasi bahan, penghancuran arang, pencampuran dengan perekat, pencetakan, dan pengeringan, sedangkan analisis mutu dilakukan melalui uji proksimat sesuai prosedur SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa briket tempurung kelapa (TK) memiliki mutu yang lebih baik dibandingkan briket kulit durian (KD). Nilai kadar air TK sebesar 0,41% dan KD 3,64%, keduanya memenuhi standar <8%. Pada kadar abu, TK (7,10%) memenuhi SNI (<8%), sedangkan KD (12,91%) melampaui ambang batas. Perbedaan paling signifikan ditemukan pada kadar zat terbang, di mana TK memiliki nilai 10,35% yang sesuai standar (<15%), sedangkan KD mencapai 78,78% sehingga tidak memenuhi kriteria mutu. Analisis ANOVA menunjukkan pengaruh sangat nyata jenis bahan baku terhadap ketiga parameter (p < 0,05). Secara keseluruhan, briket tempurung kelapa dinyatakan layak dan memenuhi sebagian besar standar mutu, sedangkan briket kulit durian hanya memenuhi parameter kadar air dan memerlukan optimasi proses karbonisasi untuk meningkatkan kualitasnya. Hasil ini menegaskan bahwa tempurung kelapa merupakan bahan baku yang lebih ideal untuk produksi briket arang berkualitas tinggi berbasis biomassa.
Karateristik dan Sifat Fisik Bambu Petung (Dendrocalamus asper. Backer) di Kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Desa Aik Bual, Provinsi Nusa Tenggara Barat Febriana Tri Wulandari
Jurnal Loupe Vol 15 No 01 (2019): Edisi Juli 2019
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v15i01.27

Abstract

Bambu merupakan salah satu HHBK unggulan Nusa Tenggara Barat. Disamping multi fungsi bambu yang tinggi maka terdapat beberapa kelemahan dari bambu antara lain : pengerjaan tidak mudah karena mudah pecah atau retak, mudah terserang serangga perusak kayu sehingga tidak tahan lama (tidak awet), variasi dimensi dan ketidakseragaman panjang ruasnya. Salah satu jenis bambu yang terdapat di Nusa Tenggara Barat adalah bambu petung (Dendrocalamus asper.Backer). Kawasan HKM desa Aik Bual merupakan salah satu kawasan di NTB yang terdapat bambu petung. Informasi identifkasi bambu penting untuk mengetahui karateristik bambu pada kawasan tersebut sedangkan informasi sifat fisika bermanfaat sebagai informasi kestabilan dimensi bahan bambu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karateristik dan sifat fisika bambu petung (Dendrocalamus asper.Backer). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian observasi dan eksperimen. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Karakteristik bambu petung : panjang ruas bagian pangkal 39,4-45,8 cm, bagian tengah 46-49 cm dan bagian ujung 46,4-57 cm; diameter batang pada bagian pangkal 6,69-9,25 cm, bagian tengah 5,79-8,32 cm dan bagian ujung 5,06-7,99 cm; ketebalan dinding batang pada bagian pangkal 1,62-2 cm, bagian tengah 1,16-1,57 cm dan bagian ujung 0,85-1,09 cm. Bambu ini baik digunakan untuk konstruksi dengan perlakuan pengawetan sebelumnya, jembatan, furniture bagian tertentu dan kerajinan. Sifat fisik bambu petung : kadar segar bambu petung 67,33% – 108,46 %, kadar air kering udara11,83% - 12,64%, berat jenis volume segar 0,57 – 0,69, berat jenis volume kering udara 0,65 – 0,78 dan berat jenis volume kering tanur 0,66 – 0,76.
Analisis Dampak HKM Terhadap Pendapatan Masyarakat KTH Sekaroh Maju di Desa Sekaroh Lombok Timur Pratama, Lalu Aldi Bagus; Ichsan, Andi Chairil; Wulandari, Febriana Tri; Setiawan, Budhy
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/99akv680

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak Hutan Kemasyarakatan (HKm) terhadap pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Sekaroh Maju di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2025 dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian berjumlah 74 petani HKm, dengan sampel sebanyak 43 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara menggunakan kuesioner, dan studi kepustakaan. Analisis data meliputi perhitungan biaya produksi, penerimaan, pendapatan usahatani, serta analisis tingkat kesejahteraan berdasarkan standar kemiskinan Bank Dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total penerimaan usahatani mencapai Rp1.442.226.907 per tahun dengan total biaya produksi sebesar Rp639.549.429 per tahun, sehingga diperoleh total pendapatan bersih sebesar Rp802.677.478 atau rata-rata Rp18.666.918 per petani per tahun. Komoditas utama yang diusahakan meliputi jagung, tembakau, dan sengon, dengan kontribusi pendapatan terbesar berasal dari tembakau. Namun demikian, analisis tingkat kesejahteraan menunjukkan bahwa 47% petani masih berada pada kategori kemiskinan ekstrem, 44% pada kategori menengah bawah, dan hanya 9% yang berada pada kategori menengah atas. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa program HKm memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani, tetapi belum sepenuhnya mampu meningkatkan tingkat kesejahteraan sebagian besar anggota KTH Sekaroh Maju. This study aims to analyze the impact of Community Forest Management on the income and welfare of members of the Sekaroh Maju Forest Farmers Group in Sekaroh Village, Jerowaru District, East Lombok Regency. This study was conducted in October 2025 using a quantitative descriptive approach. The research population consisted of 74 HKm farmers, with a sample of 43 respondents determined using the Slovin formula through purposive sampling techniques. Data were collected through observation, interviews using questionnaires, and literature studies. Data analysis included calculations of production costs, income, agricultural income, and welfare level analysis based on the World Bank's poverty standard. The results showed that total agricultural income reached IDR 1,442,226,907 per year with total production costs of IDR 639,549,429 per year, resulting in a total net income of IDR 802,677,478 or an average of IDR 18,666,918 per farmer per year. The main commodities grown include corn, tobacco, and sengon, with tobacco contributing the most to income. However, the welfare level analysis shows that 47% of farmers are still in the extreme poverty category, 44% in the lower middle class, and only 9% in the upper middle class. This study concludes that the HKm program has had a positive impact on farmers' income, but has not yet fully improved the welfare of most members of the Sekaroh Maju forest farmer group.
Pendekatan Integratif dalam Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat untuk Pembangunan Berkelanjutan: A Literature Review Wulandari, Febriana Tri; Shabrina, Hasyyati
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/j55z4d82

Abstract

Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat merupakan strategi penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep, prinsip, serta model implementasi pengembangan masyarakat berbasis potensi lokal yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan ekologi. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur melalui analisis berbagai buku, artikel ilmiah, laporan kebijakan, dan hasil penelitian terkait pengembangan masyarakat. Analisis difokuskan pada berbagai pendekatan pemberdayaan, seperti pendekatan partisipatif, Asset-Based Community Development (ABCD), agroforestri, perhutanan sosial, ekowisata berbasis komunitas, serta transformasi digital desa. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan pemberdayaan masyarakat dipengaruhi oleh penguatan kelembagaan lokal, akses legal terhadap sumber daya, peningkatan kapasitas sosial dan digital masyarakat, serta keterlibatan kelompok perempuan, pemuda, dan masyarakat adat dalam proses pembangunan. Berbagai model implementasi tersebut terbukti mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat ketahanan sosial, serta menjaga keberlanjutan lingkungan. Namun demikian, beberapa tantangan struktural seperti konflik lahan, patronase politik, dan ketergantungan terhadap bantuan eksternal masih menjadi hambatan yang perlu diatasi melalui transparansi, partisipasi aktif masyarakat, serta pendampingan berkelanjutan. Oleh karena itu, pengembangan masyarakat berbasis partisipasi dan potensi lokal menjadi pendekatan strategis dalam menciptakan pembangunan yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan. Community development and empowerment are important strategies for achieving inclusive and sustainable development. This study aims to analyze the concepts, principles, and implementation models of local potential-based community development that integrate social, economic, cultural, and ecological aspects. The method used is descriptive qualitative research with a literature study approach through analysis of various books, scientific articles, policy reports, and research findings related to community development. The analysis focuses on various empowerment approaches, such as participatory approaches, Asset-Based Community Development (ABCD), agroforestry, social forestry, community-based ecotourism, and village digital transformation. The results of the study indicate that the success of community empowerment is influenced by strengthening local institutions, legal access to resources, increasing community social and digital capacity, and the involvement of women's groups, youth, and indigenous communities in the development process. These various implementation models have been proven to increase community income, strengthen social resilience, and maintain environmental sustainability. However, several structural challenges such as land conflicts, political patronage, and dependence on external aid remain obstacles that need to be addressed through transparency, active community participation, and ongoing mentoring. Therefore, community development based on participation and local potential is a strategic approach in creating independent, inclusive, and sustainable development.
ANALISIS SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA PAPAN LAMINASI KOMBINASI KAYU SENGON BAMBU PETUNG DAN KEMIRI BAMBU PETUNG Febriana Tri Wulandari; Dini Lestari; Ridjali Amin
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4, No 2 (2023): Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v4i2.29

Abstract

Bambu memiliki berbagai kelebihan seperti harga yang relative murah, cepat tumbuh, memiliki sifat fisika dan mekanika sebanding dengan kayu, dan cocok diaplikasikan dengan teknologi pengolahan yang telah ada. Papan laminasi kombinasi dari kayu dan bambu menjadi pilihan yang menarik dalam pengolahan kayu dan bambu. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengujian sifat fisika dan mekanika telah dilakukan pada papan laminasi berbahan baku kayu atau atau bambu saja. Informasi mengenai papan laminasi dengan kombinasi kayu dan non kayu masih sangat terbatas. Papan laminasi dibuat dari kombinasi kayu sengon-bambu petung dan kayu kemiri-bambu petung. Pemilihan kayu sengon dan kemiri sebagai bahan baku karena memiliki berat jenis ringan yaitu 0,4 dan 0,33-0. Kayu dengan berat jenis ringan sampai sedang sangat cocok digunakan sebagai bahan baku papan laminasi terkait penetrasi perekat lebih mudah ke permukaan kayu. Penelitian bertujuan untuk pengaruh kombinasi kayu sengon bambu petung dan kayu kemiri bambu petung terhadap sifat fisika dan mekanika papan laminasi. Metode yang digunakan metode eksperimen dengan rancangan non faktorial dengan 2 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan jenis kombinasi berpengaruh tidak nyata pada pengujian kerapatan, pengembangan tebal, penyusutan tebal dan MoR sedangkan pada pengujian MoE dan kadar air berpengaruh nyata. Pengujian sifat fisika dan mekanika maka papan laminasi kombinasi kayu kemiri dan bambu petung (J2) memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan papan laminasi kombinasi kayu sengon dan bambu petung (J1). Berdasarkan hasil pengujian papan laminasi kombinasi kayu kemiri bambu petung dan kayu sengon bambu petung masuk dalam kelas kuat III yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan konstruksi berat yang terlindungi.
DESAIN SISTEM PERTANIAN TERPADU BERKELANJUTAN (SPTB) Amin, Radjali; Wulandari, Febriana Tri
Empiricism Journal Vol. 7 No. 1: March 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/te6ff433

Abstract

Peningkatan tekanan terhadap lahan pertanian, kerusakan lingkungan, dan kebutuhan akan ketahanan pangan mendorong perlunya pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan dan multifungsi. Sistem Pertanian Terpadu Berkelanjutan (SPTB) merupakan pendekatan inovatif yang mengintegrasikan berbagai elemen produksi seperti tanaman pertanian, tanaman kehutanan, peternakan, perikanan, dan kegiatan ekowisata dalam satu kesatuan sistem yang saling mendukung. Artikel ini merancang model SPTB berbasis agroforestri dan ekowisata yang dikembangkan pada lahan seluas 2 hektar dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip konservasi, keberlanjutan ekologis, serta pemberdayaan masyarakat lokal. Pendekatan penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui kajian literatur dan analisis konseptual. Agroforestri dirancang sebagai basis produksi dan konservasi yang terdiri dari tanaman keras tahunan dan tanaman pertanian musiman yang dikelola secara ekologis. Sementara itu, ekowisata dikembangkan sebagai sarana edukasi, rekreasi, dan pemberdayaan masyarakat melalui aktivitas seperti forest healing, agropetik, pengelolaan sampah terpadu, dan pendidikan lingkungan. Pembagian ruang kawasan dilakukan dalam tiga zona utama: 30% untuk tanaman kehutanan, 50% untuk tanaman pertanian, dan 20% untuk fasilitas wisata atau amenities. Seluruh aktivitas dirancang dengan pendekatan ramah lingkungan dan minim limbah. Model ini menunjukkan bahwa integrasi agroforestri dan ekowisata dalam kerangka SPTB mampu menciptakan sistem yang produktif, konservatif, dan inklusif, serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan 13 (aksi terhadap perubahan iklim) dan tujuan 15 (menjaga ekosistem darat). Desain ini diharapkan dapat direplikasi dalam pengelolaan lahan multifungsi berbasis masyarakat. Kata kunci: sistem pertanian terpadu, agroforestri, ekowisata, keberlanjutan, konservasi, SDGs Integrated Agriculture System Design Abstract Increasing pressure on agricultural land, environmental degradation, and the need for food security are driving the need to develop sustainable and multifunctional agricultural systems. The Sustainable Integrated Farming System (SPTB) is an innovative approach that integrates various production elements such as agricultural crops, forestry crops, livestock, fisheries, and ecotourism activities into a single, mutually supportive system. This article designs an agroforestry and ecotourism-based SPTB model developed on a 2-hectare plot of land, considering the principles of conservation, ecological sustainability, and local community empowerment. The research approach uses qualitative descriptive methods through literature review and conceptual analysis. Agroforestry is designed as a production and conservation base, consisting of perennial and seasonal agricultural crops managed ecologically. Meanwhile, ecotourism is developed as a means of education, recreation, and community empowerment through activities such as forest healing, agropetics, integrated waste management, and environmental education. The area is divided into three main zones: 30% for forestry crops, 50% for agricultural crops, and 20% for tourism facilities or amenities. All activities are designed with an environmentally friendly and waste-free approach. This model demonstrates that integrating agroforestry and ecotourism within the SPTB framework can create a productive, conservative, and inclusive system, and support the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 13 (action on climate change) and Goal 15 (protecting terrestrial ecosystems). This design is expected to be replicated in community-based multifunctional land management. Keywords: integrated farming system, agroforestry, ecotourism, sustainability, conservation, SDGs
AGROEKOLOGI UNTUK SISTEM PANGAN BERKELANJUTAN Chaerani, Nurul; Wulandari, Febriana Tri
Empiricism Journal Vol. 7 No. 1: March 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/bbbjh668

Abstract

Sistem pangan global saat ini menghadapi tekanan multidimensional yang semakin kompleks akibat interaksi krisis ekologis, sosial, ekonomi, dan politik. Perubahan iklim, degradasi lahan, hilangnya biodiversitas, serta ketimpangan dalam struktur ekonomi pangan telah meningkatkan kerentanan sistem produksi pangan di berbagai wilayah. Dalam konteks tersebut, agroekologi berkembang sebagai pendekatan alternatif yang menekankan integrasi antara prinsip ekologi, keberlanjutan sosial, dan penguatan ekonomi lokal dalam sistem pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran agroekologi dalam transformasi sistem pangan berkelanjutan serta mengkaji relevansinya dengan praktik agraris lokal di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan systematic literature review (SLR) dengan menganalisis berbagai publikasi ilmiah internasional, laporan lembaga global, serta literatur akademik yang relevan dengan agroekologi dan sistem pangan berkelanjutan. Analisis dilakukan melalui identifikasi tema-tema utama yang mencakup krisis sistem pangan global, prinsip dan kerangka teoretis agroekologi, perkembangan penelitian agroekologi, praktik agraris lokal Indonesia, serta hambatan implementasi agroekologi. Hasil kajian menunjukkan bahwa agroekologi memiliki potensi besar dalam meningkatkan resiliensi agroekosistem melalui diversifikasi produksi, efisiensi pemanfaatan sumber daya, serta penguatan kelembagaan komunitas. Praktik agraris lokal di Indonesia seperti agroforestri, kebun campur, subak, dan mina padi menunjukkan kesesuaian yang kuat dengan prinsip agroekologi dan berpotensi mendukung sistem pangan yang lebih berkelanjutan. Namun implementasi agroekologi secara luas masih menghadapi berbagai hambatan struktural, termasuk dominasi kebijakan pertanian berbasis input eksternal, lemahnya kelembagaan petani, serta keterbatasan akses teknologi dan pasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa agroekologi dapat menjadi kerangka konseptual penting dalam mentransformasi sistem pangan menuju model yang lebih resilien, adil, dan berkelanjutan melalui integrasi pengetahuan lokal, inovasi ilmiah, serta kebijakan publik yang inklusif.   Kata kunci: agroekolog; sistem pangan berkelanjutan; transformasi sistem pangan; pertanian berbasis biodiversitas.   ABSTRACT. The global food system is currently facing increasing multidimensional pressures resulting from the interaction of ecological, social, economic, and political crises. Climate change, land degradation, biodiversity loss, and structural inequalities in food distribution have intensified the vulnerability and instability of agricultural production systems worldwide. In this context, agroecology has emerged as an alternative approach that integrates ecological principles, social sustainability, and local economic empowerment in food production systems. This study aims to analyze the role of agroecology in transforming sustainable food systems and to examine its relevance to local agrarian practices in Indonesia. The research employs a systematic literature review (SLR) approach by analyzing international scientific publications, reports from global institutions, and academic literature related to agroecology and sustainable food systems. The analysis identifies key themes including the global food system crisis, theoretical frameworks of agroecology, trends in agroecological research, local agrarian practices in Indonesia, and structural barriers to agroecology implementation. The findings indicate that agroecology has significant potential to enhance agroecosystem resilience through biodiversity-based production systems, efficient resource use, and strengthened community institutions. Traditional agrarian practices in Indonesia—such as agroforestry, mixed gardens, the subak irrigation system, and rice–fish farming—demonstrate strong alignment with agroecological principles and offer important pathways for developing more sustainable food systems. However, the large-scale implementation of agroecology remains constrained by structural barriers, including policy frameworks that prioritize input-intensive agriculture, limited institutional support for smallholder farmers, and restricted access to technology and markets. This study highlights agroecology as a strategic conceptual framework for transforming food systems toward models that are more resilient, equitable, and environmentally sustainable through the integration of local knowledge, scientific innovation, and inclusive public policies.
Co-Authors ABDUL MUIN Aditya, I Gusti Ngurah Agung Surya Aluh Nikmatullah Andi Tri Lestari Andrie Ridzki Prasetyo Aprilia Ika Berliana Arniwati Ayu, Candra B, Kornelia Webliana Chaerani, Nurul chairil ichsan, andi Dewi Mandalika, Eka Nurminda Dhimas Mardyanto Prasetyo Dhimas Mardyanto Prasetyo Diah Permata Sari Diah Permata Sari DIAH PERMATA SARI, DIAH PERMATA Dias Evayanti Dini Lestari Dini Lestari Dini Lestari Dini Lestari, Dini Dita Anggraini Dwi Sukma Rini Endah Wahyuningsih Endah Wahyuningsih Eni Hidayati Ety Lisma, Ni Putu Fauzan Fahrussiam GB Daril Rama Aditia Habibi Habibi Habibi Hairil Anwar Hasyyati Sabrina Hasyyati Shabrina Hayati Zakaria I Gde Dharma Atmaja I Gde Dharma Atmaja I Made Wayan Suastana I Putu Angga Teja Maya Ichsan, Andi Chairil Ipan Alfadian Irwan Mahakam Lesmono Aji Januardi, Januardi Khairunnisa, Aulia Kornelia Webliana Kornelia Webliana B Kornelia Webliana B Leni Rusdiani Lestari, Andi Tri Lipianti Lismaya Dewi, Ni Putu Ety Markum Markum Muhammad Hilman Fikri Ni Made Meta Dwiantari Meta Ni Putu Ety Lismaya Dewi Ni Putu Ety Lismaya Dewi Niechi Valentino Nurwahdania, Nurwahdania Pande Komang Suparyana Prasetyo, Andrie Ridzki Pratama, Lalu Aldi Bagus Putra, Arya Syah Putri Radjali Amin Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehnayati Raehnayati, Raehnayati Rato Firdaus Ridjali Amin Rima Vera Ningsih Rima Vera Ningsih Rima Vera Ningsih Rosadi, M. Kudsi Setiawan, Budhy Shabrina, Hasyyati Siti Latifah Sitti Latifah Sujana, Ginang Mingga Sulthanulmufti, Sulthanulmufti Surya Aditya, I Gusti Ngurah Agung Syahputra, Maiser Wangiyana, I Gde Adi Suryawan Webliana, Kornelia Wuryantoro Yeni Rahmawati, Yeni Zahra, Adelia Zarkasyi, Akhmad