Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Pembuatan Briket Arang Biomassa Limbah Tongkol Jagung Kelompok Wanita Tani Subur Desa Gondang Kabupaten Lombok Utara Febriana Tri Wulandari; Radjali Amin; Raehanayati; Ni Putu Ety Lismaya Dewi; Andrie Ridzki Prasetyo; Rima Vera Ningsih
Jurnal SIAR ILMUWAN TANI Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Siar Ilmuwan Tani
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jsit.v5i1.136

Abstract

Permasalahan dalam pengembangan briket arang adalah kurangnya konsep penerapan hasil penelitian briket arang pada masyarakat tentang proses pembuatan briket arang dari pengarangan (karbonisasi) sampai dicetak menjadi briket arang. Dengan penerapan hasil penelitian briket arang pada masyarakat diharapkan dapat memberikan peluang usaha baru dan meningkatkan nilai ekonomis tongkol jagung serta mengurangi limbah tongkol jagung juga didukung keberlanjutan bahan baku tongkol jagung yang mencukupi ditinjau dari potensi luasan lahan pertanian yang cukup tinggi di Nusa Tenggara Barat. Solusi yang ditawarkan berdasarkan permasalahan di atas adalah sebagai berikut: (1) mensosialisasikan cara pembuatan arang dan briket arang, (2) memberikan bantuan peralatan pembuatan arang dan briket arang untuk mendukung pembelajaran bagi kelompok usaha. (3) membangun komitmen dengan pihak kelompok usaha untuk dapat dikembangkan menjadi Usaha Kecil Menengah (UKM), (3) menyusun modul pembuatan arang dan briket arang untuk mendukung pengembangan briket arang sebagai salah satu produk UKM. Beberapa hal yang dapat ditarik dari kegiatan pengabdian briket arang tongkol jagung di desa Gondang adalah sebagai berikut: 1). Peserta sangat antusias untuk mengembangkan produk briket arang karena teknologi yang mudah dan sederhana sehingga peserta mudah memahami dan mengembangkan produk tersebut. 2). Pemberian modul berupa leaflet diharapkan dapat memudahkan peserta kelompok usaha wanita tani subur memahami tahapan dalam pembuatan briket arang. 3). Diharapkan produk briket arang dapat menambah penghasilan tambahan kelompok usaha wanita tani subur dan masyarakat desa Gondang.
TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TERKAIT HUTAN ADAT DESA LOLOAN KECAMATAN BAYAN Sujana, Ginang Mingga; Webliana, Kornelia; Wulandari, Febriana Tri
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.30312

Abstract

Desa Loloan merupakan desa yang terletak di Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Desa Loloan memiliki 3 hutan adat diantaranya hutan adat Pawang Lokok Getak dengan luas 19,8 hektar dengan status kawasan di luar kawasan, hutan adat Pawang Montong Gedeng dengan luas 84 hektar. Luasan kawasan berpangaruh penting untuk masyrakat, karena hutan adat menghasilkan sumber daya alam yang berkelanjutan seperti kayu, air, dan tanaman obat, sehingga memahami cara pengelolaan yang berkelanjutan untuk menjaga ekosistem hutan adat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat dan faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat pengetahuan masyarakat tentang hutan adat Desa Loloan Kecamatan Bayan. Metode penelitian adalah deskriptif dengan penentuan Lokasi menggunakan purposive sampling, dengan pertimbangan desa Loloan merupakan salah satu desa yang memiliki luasan hutan adat terluas di Kabupaten Lombok Utara. Metode dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakn purposive sampling dengan jumlah sampel 100 sampel, teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, kuesioner dan studi pustaka. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tingkat pengetahuan masyarakat adat desa loloan memiliki pemahaman yang tinggi dengan jumlah 42,81%. Sebagian besar masayarakat desa loloan mengerti bahwa untuk menjaga hutan dengan pengetahuan pengetahuan adat mereka dapat membantu hutan adat itu sendiri tetap terjaga kelestarianya. Untuk faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan masyarakat terdadat Faktor internal yang berpengaruh yaitu umur, pendidikan dan perkerjaan secara bersama-sama berpengruh terhadap tingkat pengetahuan masyarakat. Untuk faktor external bahwa pengalaman dan sosial budaya berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan masyarakat, sedangkan untuk faktor sumber informasi tidak ada pengaruh terhadap tingkat pengetahuan.
PENGARUH BERAT LABUR DAN JENIS KAYU TERHADAP SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA PAPAN LAMINASI Febriana Tri Wulandari; Radjali Amin; I Gde Adi Suryawan Wangiyana
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 40 No. 2 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2022.40.2.93–104

Abstract

The world's demand for wood is increasing while the amount of solid wood production is decreasing with the depletion of forestsdue to illegal logging and conversion of forest functions as plantation land. To overcome these problems, it is necessary to do theefficiency of wood raw materials so that the use of solid wood can be reduced. One of the efficient ways to use wood raw materials isto utilize optimized wood industrial waste by combining one or more types of wood which are glued together into a single unit,commonly called a laminated board. In this study, we will look at the effect of different types of wood and the weight of the gluespread on the resulting laminated board. Advantages Laminate board can produce a board size that is wide and long as neededbecause the joints are made as long as needed. In the manufacture laminated boards are made with the type of wood, namely jatiputih (Gmelina arborea. Roxb), bajur (Pterospermum javanicum), sengon (Paraserianthes falcataria) and mixtures(jati putih, bajur and sengon) and the glue spread factor is 150 g and 200 g. Then the physical and mechanical properties weretested. The test results showed that the wood type had a significant effect on all physical and mechanical properties except for thethickness shrinkage and MoE tests. The interaction of the lamination glue spread factor and the wood type factor did not significantlyaffect all physical and mechanical properties of mixed wood waste laminated boards. Based on the test results, laminated board isclassified as strong class III which can be used as a lightweight construction material indoors.
Pengaruh Waktu Pembakaran Terhadap Karakteristik Asap Cair dari Serbuk Kayu Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) Surya Aditya, I Gusti Ngurah Agung; Febriana Tri Wulandari; Dini Lestari; Aditya, I Gusti Ngurah Agung Surya; Wulandari, Febriana Tri; Lestari, Dini
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/y6nsjf40

Abstract

Limbah serbuk kayu dari industri penggergajian merupakan sumber biomassa yang melimpah namun kurang dimanfaatkan secara optimal. Salah satu potensi pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku pembuatan asap cair melalui proses pirolisis. Studi pirolisis untuk biomassa kayu telah banyak dilakukan, namun kajian waktu optimal pembakaran serbuk mahoni untuk memproduksi asap cair sesuai SNI 8985:2021 masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi waktu pembakaran terhadap rendemen, karakteristik, dan mutu asap cair dari serbuk kayu mahoni (Swietenia mahagoni Jacq). Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial, melibatkan 3 perlakuan waktu (30, 60, dan 90 menit) dengan 3 kali ulangan. Karakteristik asap cair yang diuji antara lain rendemen, kadar asam asetat, dan kadar fenol. Cara pengujian asam asetat dan kadar fenol dilakukan sesuai dengan SNI 8985:202. Analisis data dilakukan menggunakan uji ANOVA satu arah untuk data parametrik dan uji Kruskal-Wallis untuk data non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi waktu pembakaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rendemen dan kadar asam asetat, namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kadar fenol. Meskipun demikian, kadar fenol tertinggi tercatat pada perlakuan waktu 90 menit sebesar 3,36%. Kadar asam asetat cenderung meningkat seiring bertambahnya durasi pembakaran, namun masih berada dalam batas mutu 2 yang ditetapkan oleh SNI 8985:2021. Dengan demikian, waktu pirolisis selama 90 menit pada suhu 300°C dinilai sebagai perlakuan paling optimal dalam menghasilkan asap cair berkualitas dari serbuk kayu mahoni. Asap cair mutu 2 dapat dimanfaatkan sebagai pengawet dan desinfektan, sedangkan asap cair yang tidak memenuhi SNI 8985:2021 tetap berpotensi digunakan sebagai pengawet alami kayu. The Effect of Combustion Time on the Characteristics of Liquid Smoke from Mahogany Wood Powder (Swietenia mahagoni Jacq)   Abstract Wood sawdust waste from the sawmill industry is an abundant source of biomass that is underutilized. One potential use is as a raw material for producing liquid smoke through pyrolysis. Pyrolysis studies on wood biomass have been conducted extensively, but research on the optimal combustion time for mahogany sawdust to produce liquid smoke in accordance with SNI 8985:2021 is still limited.This study aims to determine the effect of combustion time variation on the yield, characteristics, and quality of liquid smoke from mahogany sawdust (Swietenia mahagoni Jacq). The study used an experimental method with a non-factorial Complete Randomized Design (CRD), involving 3 combustion time treatments (30, 60, and 90 minutes) with 3 replicates. The characteristics of liquid smoke tested included yield, acetic acid content, and phenolic content. The testing of acetic acid and phenolic content was carried out in accordance with SNI 8985:202. Data analysis was performed using a one-way ANOVA test for parametric data and a Kruskal-Wallis test for non-parametric data. The results showed that variations in combustion time had a significant effect on yield and acetic acid content, but did not significantly affect phenolic content. However, the highest phenolic content was recorded in the 90 minutes treatment at 3.36%. Acetic acid levels tend to increase with longer combustion times, but remain within the quality limits 2 set by SNI 8985:2021. Thus, pyrolysis for 90 minutes at 300°C is considered the most optimal treatment for producing high-quality liquid smoke from mahogany wood powder. Grade 2 liquid smoke can be used as a preservative and disinfectant, while liquid smoke that does not meet SNI 8985:2021standards can still be used as a natural wood preservative.
Pengaruh Waktu Pembakaran Terhadap Karakteristik Asap Cair dari Serbuk Kayu Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) Surya Aditya, I Gusti Ngurah Agung; Febriana Tri Wulandari; Dini Lestari; Aditya, I Gusti Ngurah Agung Surya; Wulandari, Febriana Tri; Lestari, Dini
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/y6nsjf40

Abstract

Limbah serbuk kayu dari industri penggergajian merupakan sumber biomassa yang melimpah namun kurang dimanfaatkan secara optimal. Salah satu potensi pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku pembuatan asap cair melalui proses pirolisis. Studi pirolisis untuk biomassa kayu telah banyak dilakukan, namun kajian waktu optimal pembakaran serbuk mahoni untuk memproduksi asap cair sesuai SNI 8985:2021 masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi waktu pembakaran terhadap rendemen, karakteristik, dan mutu asap cair dari serbuk kayu mahoni (Swietenia mahagoni Jacq). Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial, melibatkan 3 perlakuan waktu (30, 60, dan 90 menit) dengan 3 kali ulangan. Karakteristik asap cair yang diuji antara lain rendemen, kadar asam asetat, dan kadar fenol. Cara pengujian asam asetat dan kadar fenol dilakukan sesuai dengan SNI 8985:202. Analisis data dilakukan menggunakan uji ANOVA satu arah untuk data parametrik dan uji Kruskal-Wallis untuk data non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi waktu pembakaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rendemen dan kadar asam asetat, namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kadar fenol. Meskipun demikian, kadar fenol tertinggi tercatat pada perlakuan waktu 90 menit sebesar 3,36%. Kadar asam asetat cenderung meningkat seiring bertambahnya durasi pembakaran, namun masih berada dalam batas mutu 2 yang ditetapkan oleh SNI 8985:2021. Dengan demikian, waktu pirolisis selama 90 menit pada suhu 300°C dinilai sebagai perlakuan paling optimal dalam menghasilkan asap cair berkualitas dari serbuk kayu mahoni. Asap cair mutu 2 dapat dimanfaatkan sebagai pengawet dan desinfektan, sedangkan asap cair yang tidak memenuhi SNI 8985:2021 tetap berpotensi digunakan sebagai pengawet alami kayu. The Effect of Combustion Time on the Characteristics of Liquid Smoke from Mahogany Wood Powder (Swietenia mahagoni Jacq)   Abstract Wood sawdust waste from the sawmill industry is an abundant source of biomass that is underutilized. One potential use is as a raw material for producing liquid smoke through pyrolysis. Pyrolysis studies on wood biomass have been conducted extensively, but research on the optimal combustion time for mahogany sawdust to produce liquid smoke in accordance with SNI 8985:2021 is still limited.This study aims to determine the effect of combustion time variation on the yield, characteristics, and quality of liquid smoke from mahogany sawdust (Swietenia mahagoni Jacq). The study used an experimental method with a non-factorial Complete Randomized Design (CRD), involving 3 combustion time treatments (30, 60, and 90 minutes) with 3 replicates. The characteristics of liquid smoke tested included yield, acetic acid content, and phenolic content. The testing of acetic acid and phenolic content was carried out in accordance with SNI 8985:202. Data analysis was performed using a one-way ANOVA test for parametric data and a Kruskal-Wallis test for non-parametric data. The results showed that variations in combustion time had a significant effect on yield and acetic acid content, but did not significantly affect phenolic content. However, the highest phenolic content was recorded in the 90 minutes treatment at 3.36%. Acetic acid levels tend to increase with longer combustion times, but remain within the quality limits 2 set by SNI 8985:2021. Thus, pyrolysis for 90 minutes at 300°C is considered the most optimal treatment for producing high-quality liquid smoke from mahogany wood powder. Grade 2 liquid smoke can be used as a preservative and disinfectant, while liquid smoke that does not meet SNI 8985:2021standards can still be used as a natural wood preservative.
PERBANDINGAN MUTU BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN KULIT DURIAN DITINJAU DARI KADAR AIR, ABU, DAN ZAT TERBANG BERDASARKAN SNI 01-6235-2000 Wulandari, Febriana Tri; Valentino, Niechi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v8i6.17797

Abstract

Penelitian ini bertujuan membandingkan mutu briket arang tempurung kelapa dan kulit durian berdasarkan parameter kadar air, kadar abu, dan kadar zat terbang, serta menilai kesesuaiannya dengan standar mutu SNI 01-6235-2000, P3HH, dan beberapa standar internasional. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor dengan dua jenis bahan baku briket, masing-masing diulang tiga kali. Proses pembuatan briket meliputi karbonisasi bahan, penghancuran arang, pencampuran dengan perekat, pencetakan, dan pengeringan, sedangkan analisis mutu dilakukan melalui uji proksimat sesuai prosedur SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa briket tempurung kelapa (TK) memiliki mutu yang lebih baik dibandingkan briket kulit durian (KD). Nilai kadar air TK sebesar 0,41% dan KD 3,64%, keduanya memenuhi standar <8%. Pada kadar abu, TK (7,10%) memenuhi SNI (<8%), sedangkan KD (12,91%) melampaui ambang batas. Perbedaan paling signifikan ditemukan pada kadar zat terbang, di mana TK memiliki nilai 10,35% yang sesuai standar (<15%), sedangkan KD mencapai 78,78% sehingga tidak memenuhi kriteria mutu. Analisis ANOVA menunjukkan pengaruh sangat nyata jenis bahan baku terhadap ketiga parameter (p < 0,05). Secara keseluruhan, briket tempurung kelapa dinyatakan layak dan memenuhi sebagian besar standar mutu, sedangkan briket kulit durian hanya memenuhi parameter kadar air dan memerlukan optimasi proses karbonisasi untuk meningkatkan kualitasnya. Hasil ini menegaskan bahwa tempurung kelapa merupakan bahan baku yang lebih ideal untuk produksi briket arang berkualitas tinggi berbasis biomassa.
Karateristik dan Sifat Fisik Bambu Petung (Dendrocalamus asper. Backer) di Kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Desa Aik Bual, Provinsi Nusa Tenggara Barat Febriana Tri Wulandari
Jurnal Loupe Vol 15 No 01 (2019): Edisi Juli 2019
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v15i01.27

Abstract

Bambu merupakan salah satu HHBK unggulan Nusa Tenggara Barat. Disamping multi fungsi bambu yang tinggi maka terdapat beberapa kelemahan dari bambu antara lain : pengerjaan tidak mudah karena mudah pecah atau retak, mudah terserang serangga perusak kayu sehingga tidak tahan lama (tidak awet), variasi dimensi dan ketidakseragaman panjang ruasnya. Salah satu jenis bambu yang terdapat di Nusa Tenggara Barat adalah bambu petung (Dendrocalamus asper.Backer). Kawasan HKM desa Aik Bual merupakan salah satu kawasan di NTB yang terdapat bambu petung. Informasi identifkasi bambu penting untuk mengetahui karateristik bambu pada kawasan tersebut sedangkan informasi sifat fisika bermanfaat sebagai informasi kestabilan dimensi bahan bambu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karateristik dan sifat fisika bambu petung (Dendrocalamus asper.Backer). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian observasi dan eksperimen. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Karakteristik bambu petung : panjang ruas bagian pangkal 39,4-45,8 cm, bagian tengah 46-49 cm dan bagian ujung 46,4-57 cm; diameter batang pada bagian pangkal 6,69-9,25 cm, bagian tengah 5,79-8,32 cm dan bagian ujung 5,06-7,99 cm; ketebalan dinding batang pada bagian pangkal 1,62-2 cm, bagian tengah 1,16-1,57 cm dan bagian ujung 0,85-1,09 cm. Bambu ini baik digunakan untuk konstruksi dengan perlakuan pengawetan sebelumnya, jembatan, furniture bagian tertentu dan kerajinan. Sifat fisik bambu petung : kadar segar bambu petung 67,33% – 108,46 %, kadar air kering udara11,83% - 12,64%, berat jenis volume segar 0,57 – 0,69, berat jenis volume kering udara 0,65 – 0,78 dan berat jenis volume kering tanur 0,66 – 0,76.
Analisis Dampak HKM Terhadap Pendapatan Masyarakat KTH Sekaroh Maju di Desa Sekaroh Lombok Timur Pratama, Lalu Aldi Bagus; Ichsan, Andi Chairil; Wulandari, Febriana Tri; Setiawan, Budhy
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/99akv680

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak Hutan Kemasyarakatan (HKm) terhadap pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Sekaroh Maju di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2025 dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian berjumlah 74 petani HKm, dengan sampel sebanyak 43 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara menggunakan kuesioner, dan studi kepustakaan. Analisis data meliputi perhitungan biaya produksi, penerimaan, pendapatan usahatani, serta analisis tingkat kesejahteraan berdasarkan standar kemiskinan Bank Dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total penerimaan usahatani mencapai Rp1.442.226.907 per tahun dengan total biaya produksi sebesar Rp639.549.429 per tahun, sehingga diperoleh total pendapatan bersih sebesar Rp802.677.478 atau rata-rata Rp18.666.918 per petani per tahun. Komoditas utama yang diusahakan meliputi jagung, tembakau, dan sengon, dengan kontribusi pendapatan terbesar berasal dari tembakau. Namun demikian, analisis tingkat kesejahteraan menunjukkan bahwa 47% petani masih berada pada kategori kemiskinan ekstrem, 44% pada kategori menengah bawah, dan hanya 9% yang berada pada kategori menengah atas. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa program HKm memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani, tetapi belum sepenuhnya mampu meningkatkan tingkat kesejahteraan sebagian besar anggota KTH Sekaroh Maju. This study aims to analyze the impact of Community Forest Management on the income and welfare of members of the Sekaroh Maju Forest Farmers Group in Sekaroh Village, Jerowaru District, East Lombok Regency. This study was conducted in October 2025 using a quantitative descriptive approach. The research population consisted of 74 HKm farmers, with a sample of 43 respondents determined using the Slovin formula through purposive sampling techniques. Data were collected through observation, interviews using questionnaires, and literature studies. Data analysis included calculations of production costs, income, agricultural income, and welfare level analysis based on the World Bank's poverty standard. The results showed that total agricultural income reached IDR 1,442,226,907 per year with total production costs of IDR 639,549,429 per year, resulting in a total net income of IDR 802,677,478 or an average of IDR 18,666,918 per farmer per year. The main commodities grown include corn, tobacco, and sengon, with tobacco contributing the most to income. However, the welfare level analysis shows that 47% of farmers are still in the extreme poverty category, 44% in the lower middle class, and only 9% in the upper middle class. This study concludes that the HKm program has had a positive impact on farmers' income, but has not yet fully improved the welfare of most members of the Sekaroh Maju forest farmer group.
Pendekatan Integratif dalam Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat untuk Pembangunan Berkelanjutan: A Literature Review Wulandari, Febriana Tri; Shabrina, Hasyyati
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/j55z4d82

Abstract

Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat merupakan strategi penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep, prinsip, serta model implementasi pengembangan masyarakat berbasis potensi lokal yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan ekologi. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur melalui analisis berbagai buku, artikel ilmiah, laporan kebijakan, dan hasil penelitian terkait pengembangan masyarakat. Analisis difokuskan pada berbagai pendekatan pemberdayaan, seperti pendekatan partisipatif, Asset-Based Community Development (ABCD), agroforestri, perhutanan sosial, ekowisata berbasis komunitas, serta transformasi digital desa. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan pemberdayaan masyarakat dipengaruhi oleh penguatan kelembagaan lokal, akses legal terhadap sumber daya, peningkatan kapasitas sosial dan digital masyarakat, serta keterlibatan kelompok perempuan, pemuda, dan masyarakat adat dalam proses pembangunan. Berbagai model implementasi tersebut terbukti mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat ketahanan sosial, serta menjaga keberlanjutan lingkungan. Namun demikian, beberapa tantangan struktural seperti konflik lahan, patronase politik, dan ketergantungan terhadap bantuan eksternal masih menjadi hambatan yang perlu diatasi melalui transparansi, partisipasi aktif masyarakat, serta pendampingan berkelanjutan. Oleh karena itu, pengembangan masyarakat berbasis partisipasi dan potensi lokal menjadi pendekatan strategis dalam menciptakan pembangunan yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan. Community development and empowerment are important strategies for achieving inclusive and sustainable development. This study aims to analyze the concepts, principles, and implementation models of local potential-based community development that integrate social, economic, cultural, and ecological aspects. The method used is descriptive qualitative research with a literature study approach through analysis of various books, scientific articles, policy reports, and research findings related to community development. The analysis focuses on various empowerment approaches, such as participatory approaches, Asset-Based Community Development (ABCD), agroforestry, social forestry, community-based ecotourism, and village digital transformation. The results of the study indicate that the success of community empowerment is influenced by strengthening local institutions, legal access to resources, increasing community social and digital capacity, and the involvement of women's groups, youth, and indigenous communities in the development process. These various implementation models have been proven to increase community income, strengthen social resilience, and maintain environmental sustainability. However, several structural challenges such as land conflicts, political patronage, and dependence on external aid remain obstacles that need to be addressed through transparency, active community participation, and ongoing mentoring. Therefore, community development based on participation and local potential is a strategic approach in creating independent, inclusive, and sustainable development.
Co-Authors ABDUL MUIN Aditya, I Gusti Ngurah Agung Surya Andi Tri Lestari Andrie Ridzki Prasetyo Aprilia Ika Berliana Arniwati Ayu, Candra B, Kornelia Webliana chairil ichsan, andi Dewi Mandalika, Eka Nurminda Dhimas Mardyanto Prasetyo Dhimas Mardyanto Prasetyo Diah Permata Sari Diah Permata Sari DIAH PERMATA SARI, DIAH PERMATA Dias Evayanti Dini Lestari Dini Lestari Dini Lestari, Dini Dita Anggraini Dwi Sukma Rini Endah Wahyuningsih Endah Wahyuningsih Eni Hidayati Ety Lisma, Ni Putu Fauzan Fahrussiam GB Daril Rama Aditia Habibi Habibi Habibi Hairil Anwar Hasan, Andika Hasyyati Sabrina Hasyyati Shabrina I Gde Dharma Atmaja I Gde Dharma Atmaja I Made Wayan Suastana I Putu Angga Teja Maya Ichsan, Andi Chairil Ipan Alfadian Irwan Mahakam Lesmono Aji Januardi, Januardi Khairunnisa, Aulia Kornelia Webliana Kornelia Webliana B Kornelia Webliana B Leni Rusdiani Lestari, Andi Tri Lipianti Lismaya Dewi, Ni Putu Ety Markum Markum Ni Made Meta Dwiantari Meta Ni Putu Ety Lismaya Dewi Ni Putu Ety Lismaya Dewi Niechi Valentino Nurwahdania, Nurwahdania Pande Komang Suparyana Prasetyo, Andrie Ridzki Pratama, Lalu Aldi Bagus Putra, Arya Syah Putri Radjali Amin Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehanayati Raehnayati Raehnayati, Raehnayati Rato Firdaus Rima Vera Ningsih Rima Vera Ningsih Rima Vera Ningsih Rosadi, M. Kudsi Setiawan, Budhy Shabrina, Hasyyati Siti Latifah Sujana, Ginang Mingga Sulthanulmufti, Sulthanulmufti Surya Aditya, I Gusti Ngurah Agung Syahputra, Maiser Wangiyana, I Gde Adi Suryawan Webliana, Kornelia Wuryantoro Yeni Rahmawati, Yeni Zahra, Adelia Zarkasyi, Akhmad