Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

HUBUNGAN ASUPAN ASAM LEMAK OMEGA-6 DAN VITAMIN B12 DENGAN KEJADIAN DEPRESI PADA MAHASISWA ILMU GIZI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA Larasati, Amelinda Putri; Puspitasari, Dyah Intan; Kisnawaty, Sudrajah Warajati
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48317

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir usia 18–24 tahun rentan mengalami depresi akibat tekanan akademik dan kurangnya pengetahuan mengelola gejala depresi. Asupan gizi, asam lemak omega-6 dan vitamin B12 diketahui memiliki peran dalam menjaga kesehatan mental dan perubahan suasana hati. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan asupan omega-6 dan vitamin B12 dengan kejadian depresi pada mahasiswa Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 136 responden yang dipilih secara proporsional random sampling. Data diperoleh melalui formulir Food Recall 24-H untuk mengukur asupan asam lemak omega-6 dan vitamin B12, serta kuesioner Beck Depression Inventory-II (BDI-II) untuk mengukur status depresi. Analisis menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan Rank Spearman. Hasil menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara omega-6 dan depresi (p=0,026; r=0,191), serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara vitamin B12 dan depresi (p=0,068; r=0,157). Pada penelitian selanjutnya disarankan menggunakan variabel lain seperti faktor psikososial, genetik, dan biologis sebagai faktor pembanding.
Hubungan asupan zat gizi makro dan kebiasaan olahraga dengan kejadian dismenore pada remaja putri Tantri, Magalih Prestiana; Puspitasari, Dyah Intan; Muwakhidah, Muwakhidah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1257

Abstract

Background: Primary dysmenorrhea is a common menstrual pain complaint experienced by adolescent girls and can disrupt daily activities. Several factors suspected of being associated with dysmenorrhea include macronutrient intake and exercise habits. Regular exercise habits have the potential to reduce pain intensity through physiological mechanisms, one of which is increased endorphin release. Purpose: To determine the relationship between macronutrient intake and exercise habits with the incidence of dysmenorrhea in adolescent girls. Method: A descriptive correlational design with a cross-sectional approach. A sample of 80 female students in grades 10 and 11 were selected using purposive and stratified random sampling techniques. Data were collected through 3x24-hour recall questionnaires, an exercise habits questionnaire, and the WaLIDD questionnaire to assess dysmenorrhea levels. Univariate and bivariate analyses were performed using the Chi-Square test. Results: There was no significant association between protein (p=0.330) and carbohydrate (p=0.639) intake and dysmenorrhea levels. However, there was a significant association between fat intake (p=0.005) and exercise habits (p=0.002) and the incidence of dysmenorrhea. Conclusion: Fat intake and exercise habits were statistically significant in relation to the severity of dysmenorrhea. Respondents with adequate fat intake and who exercised regularly experienced less severe dysmenorrhea compared to respondents with a fat deficit and those who did not exercise regularly. Suggestion: It is recommended that female students practice regular exercise, at least three times a week for 30–60 minutes, to help reduce dysmenorrhea symptoms.   Keywords: Adolescent Girls; Exercise Habit; Macronutrients; Primary Dysmenorrhea.   Pendahuluan: Dismenore primer merupakan keluhan nyeri menstruasi yang umum dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian dismenore antara lain asupan zat gizi makro dan kebiasaan olahraga. Kebiasaan olahraga teratur berpotensi menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme fisiologis, salah satunya dengan peningkatan pelepasan endorfin. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan asupan zat gizi makro dan kebiasaan olahraga dengan kejadian dismenore pada remaja putri. Metode: Desain deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 80 siswi kelas X dan XI yang dipilih dengan teknik purposive dan stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner recall 3x24 jam, kuesioner kebiasaan olahraga, dan kuesioner WaLIDD untuk menilai tingkat dismenore. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil: Tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan protein (p=0.330) dan karbohidrat (p=0.639) dengan tingkat dismenore. Namun, terdapat hubungan signifikan antara asupan lemak (p=0.005) dan kebiasaan olahraga (p=0.002) dengan kejadian dismenore. Simpulan: Asupan lemak dan kebiasaan olahraga memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan tingkat keparahan dismenore. Responden dengan asupan lemak adekuat dan yang rutin berolahraga mengalami tingkat dismenore yang lebih ringan dibandingkan dengan responden dengan asupan lemak defisit dan yang tidak rutin berolahraga. Saran: Siswi remaja membiasakan diri berolahraga secara rutin, minimal tiga kali seminggu dengan durasi 30–60 menit, guna membantu mengurangi gejala dismenore.   Kata Kunci: Dismenore Primer; Kebiasaan Olahraga; Remaja Putri; Zat Gizi Makro.
The Correlation Between Nutritional Status with Hypertension Cases of Elderly Women in Central Java Province Wuandari, Wiwik; Isnaeni, Farida Nur; Puspitasari, Dyah Intan; Mardiyati, Nur Lathifah
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 15th University Research Colloquium 2022: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hypertension is still the highest problem in non-communicable diseases (NCD) in Indonesia and has increased cases from previous years. One of the factors that cause hypertension is nutritional status. Objective: This study aimed to find the correlation between nutritional status and hypertension cases of elderly women in Central Java Province. Methodology: This is an observational study with cross-sectional design using secondary data. Nutritional and hypertension status in Central Java Province was derived from Baseline Health Research 2018. A total of 994 Central Java residents aged 55-64 years were used. Hypertension status was obtained from the average of three measurements of systolic/diastolic blood pressure and nutritional status according to BMI obtained from the body weight and height measurement. The chi square test with a 95% confidence level were used to analyzed the data. Results: Most of the respondents was elderly (55-59 years old) (56%), working (65.6%), had normal nutritional status (43.1%) and had hypertension (66.2%). There was a significant correlation between nutritional and hypertension status of elderly women in Central Java Province (p = 0.000). Conclusion: Nutritional status is one of the factors contributing in the insidence of hypertension. Therefore, health program in improving nutritional status is needed in order to reduce the prevalence of hypertension.
Hubungan Frekuensi Konsumsi Fast Food dengan Kejadian Dismenore Primer pada Siswi SMA di Kecamatan Sale Kabupaten Rembang Syakila, Aprilia Qoulan; Widiyaningsih, Endang Nur; Puspitasari, Dyah Intan; Firmansyah, F
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 16th University Research Colloquium 2022: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada remaja putri yang mengalami menstruasi seringkali mengalami gangguan dismenore primer. Dismenore primer dapat dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu kebiasaan makan yang kurang baik. Kebiasaan makan tersebut dapat berupa seringnya mengonsumsi fast food. Berdasarkan survei pendahuluan yang telah dilakukan, diketahui sebesar 80% siswi SMA di Kecamatan Sale Kabupaten Rembang mengalami dismenore primer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara frekuensi konsumsi fast food dengan kejadian dismenore primer pada siswi SMA di Kecamatan Sale Kabupaten Rembang. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Data frekuensi konsumsi fast food diperoleh melalui pengisian formulir FFQ selama 3 bulan terakhir dan kejadian dismenore primer melalui pengisian kuesioner Numeric Rating Scale. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan subjek penelitian yang diperoleh sebanyak 59 orang. Uji statistik yang digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel, yaitu uji chi-square. Hasil analisis univariat yang diperoleh pada frekuensi konsumsi fast food kategori sering (?318,5), yaitu sebesar 42,4% dan siswi yang mengalami kejadian dismenore primer, yaitu sebesar 79,7%. Hasil uji chi-square pada frekuensi konsumsi fast food dan kejadian dismenore primer menunjukkan nilai pvalue 0,043 <0,05, yang berarti ada hubungan yang bermakna antara frekuensi konsumsi fast food dengan kejadian dismenore primer pada siswi SMA di Kecamatan Sale Kabupaten Rembang.
The Relationship between Folic Acid Intake and Depression among College Students Persada, Tashila Zahra; Puspitasari, Dyah Intan
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 19 No. Supp.1 (2024)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jgp.2024.19.Supp.1.63-68

Abstract

The aim of this study was to investigate the relationship between folic acid intake and the incidence of depression among students of Universitas Muhammadiyah Surakarta, department of Nutrition. This cross-sectional study recruited 40 participants following the inclusion criteria. Sample collection was done by random sampling. Data collection on the adequacy of folic acid intake was carried out using the non-consecutive three days 24 four Food recall. The prevalence of depression was obtained by measuring the level of depression in the last two weeks using the Beck Depression Inventory-II (BDI-II) questionnaire. The results showed that 2.5% of the subjects had sufficient folic acid intake and 97.5% had insufficient folic acid intake with mean 78,5 mcg. About 47.5% of subjects experienced minimal depression, 20% experienced mild depression, 25% experienced moderate depression, and 7.5% experienced major depression with mean score 13.4. Futher analysis, the p-value (p=0.145) indicated that there was no significant relationship between folic acid and depression status. Recommended for using the Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) to see acid intake folate and pay attention to other factors that cause depression.
Iron and Vitamin A Intake with the Incidence of Anemia in Adolescent Girls Prihantika, Devanda Amelia; Hidayati, Listyani; Puspitasari, Dyah Intan
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. 7 No. 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2025
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/jika.v7i2.1269

Abstract

Iron is an essential micronutrient, particularly for blood formation and hemoglobin synthesis. Vitamin A contributes by mobilizing iron reserves in the body, thereby supporting hemoglobin production. This study aimed to examine the association between iron and vitamin A intake and the incidence of anemia among adolescent girls in Surakarta. A cross-sectional design with multistage random sampling was employed, involving 199 female students who met the inclusion and exclusion criteria. Hemoglobin levels were assessed using the cyanmethemoglobin method, while dietary intake of iron and vitamin A was measured through the Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) to evaluate dietary habits. Statistical analysis revealed a significant association between iron intake and anemia (p-value= <0,001), whereas vitamin A intake showed no significant relationship (p-value= 0,132). The findings indicate that inadequate iron intake contributes to anemia in adolescent girls. Further research with larger sample sizes and longitudinal approaches is strongly recommended to elucidate the role of vitamin A and to inform more effective anemia prevention strategies.
Hubungan Kejadian Stres dan Kejadian Emotional Eating dengan Status Gizi pada Remaja SMA di Kecamatan Banjarsari Surakarta Devira Novi Aprillia; Puspitasari, Dyah Intan; Sarbini, Dwi
Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/sehatrakyat.v4i4.5961

Abstract

Stress management or coping strategies of stress are individual efforts to manage the emotional pressure they experience. One form of coping strategy that is often practiced is emotional eating, the behavior of overeating arising from emotional factors. This behavior can affect nutritional status. Therefore, this study aims to determine the relationship between stress levels and emotional eating with nutritional status in high school adolescents. This type of research is observational analytic with a quantitative approach and the research design used a cross-sectional study design. This study was conducted in two locations, namely SMA Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta and MAN 1 Surakarta, with a total of 154 respondents selected using a proportional random sampling technique. The instruments used included the Depression Anxiety Stress Scale for Youth (DASS-Y 21) and the Adult Eating Behavior Questionnaire (AEBQ) as well as anthropometric measurements. Data analysis was carried out univariately and bivariately using the Spearman Rank correlation test. The research findings show no significant relationship between stress levels and nutritional status (p-value = 0.629), and between emotional eating and nutritional status (p-value = 0.051). Therefore, it can be concluded that there is no statistically significant relationship between stress events and emotional eating behavior and nutritional status in high school adolescents. This is because stress factors and emotionally triggered eating behavior do not directly affect adolescents' nutritional status in this context. These findings demonstrate the importance of monitoring students' stress levels, which can influence emotional eating, which in turn can affect nutritional status.
HUBUNGAN KEBIASAAN JAJAN DAN JUMLAH UANG SAKU DENGAN STATUS GIZI SISWA SMA DI BANJARSARI SURAKARTA Dewi, Sylfi Carmelia; Puspitasari, Dyah Intan; Mardiyati, Nur Lathifah
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.51776

Abstract

Pada masa remaja, terutama di jenjang sekolah menengah atas (SMA), terjadi proses pertumbuhan dan perkembangan yang cepat sehingga diperlukan asupan gizi yang seimbang. Pada periode ini, remaja mulai memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan makanan, termasuk kebiasaan membeli jajanan di luar rumah. Selain itu, besarnya uang saku yang diterima siswa juga berperan dalam memengaruhi status gizi, karena jumlah uang saku dapat memengaruhi jenis serta frekuensi makanan yang dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara kebiasaan jajan dan jumlah uang saku dengan status gizi siswa SMA di Banjarsari, Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain crosssectional. Sebanyak 154 responden dipilih secara purposive sampling dengan kriteria inklusi yaitu siswa aktif dan bersedia menjadi subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan untuk menentukan IMT/U, menggunakan kuesioner kebiasaan jajan, hubungan kebiasaan jajan dan jumlah uang saku dengan status gizi dianalisis menggunakan uji Chi-Square.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 64,3% siswa memiliki status gizi normal, 59,1% kebiasaan jajan siswa berada dalam kategori sedang. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan kebiasaan jajan dengan status gizi dengan nilai p = 0,007. Namun, pada jumlah uang saku dengan status gizi tidak terdapat hubungan dengan nilai p = 0,189. Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan jajan dengan status gizi siswa SMA di Banjarsari, Surakarta. Sedangkan pada uang saku dengan status gizi tidak memiliki hubungan signifikan secara langsung menunjukkan bahwa uang saku bukan satu-satunya penentu status gizi.  
HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI DAN PERSEPSI TUBUH DENGAN STATUS GIZI MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA Belinda, Icha Rebeca Tias; Puspitasari, Dyah Intan; Mardiyati, Nur Lathifah
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.51989

Abstract

Masalah gizi seperti status gizi kurang dan gizi lebih, rentan dialami oleh kelompok usia produktif yang termasuk dalam periode dewasa. Status gizi dapat dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah pengetahuan gizi dan persepsi tubuh. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan antara persepsi tubuh dengan status gizi mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jenis penelitian dengan observasional menggunakan desain penelitian cross-sectional. Teknik pengambilan sampel simple random sampling dengan sampel sebanyak 41 responden. Data tingkat pengetahuan gizi diperoleh dari kuisioner pengetahuan gizi dengan jumlah pertanyaan 25 soal dan data persepsi tubuh diperoleh dari kuesioner Multidemensional Body Self Relation Questionnaire-Appearance Scale (MBSRQ-AS) jumlah pertanyaan 30 soal. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 4,9% responden memiliki pengetahuan gizi tidak baik, persepsi tubuh dengan kategori negatif sebanyak 36,6%, status gizi underweight 22%, overweight 12,2% dan obesitas I sebesar 22%. Hasil uji korelasi yaitu  p-value = 0,126 untuk pengetahuan gizi dengan status gizi, kemudian p-value = 0,127 untuk body image dengan status gizi. Tidak terdapat  hubungan antara pengetahuan gizi dengan status gizi pada pada responden. Tidak terdapat hubungan antara persepsi tubuh dengan status gizi pada responden.