Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

KAJIAN PENATAAN SISTEM DRAINASE DAERAH TANGKAPAN PARIT M. SOHOR Saputra, Doddy Cahyadi; Nurhayati, Nurhayati; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 19, No 1 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2019
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.595 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v19i1.35594

Abstract

Curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi dalam beberapa waktu bisa menimbulkan genangan jika kondisi sistem drainasenya tidak terpelihara dengan baik. Perkembangan infrastruktur di Kota Pontianak memberikan dampak perubahan tata guna lahan yang mengakibatkan lahan yang semula berupa ruang hijau beralih fungsi menjadi kawasan permukiman dan kegiatan ekonomi lainnya. Kondisi eksisting saluran drainase atau parit di Jalan M. Sohor tidak mampu untuk menampung debit air hujan pada musim penghujan. Pada kondisi eksisting lahan di Kota Pontianak sudah tidak terdapat ruang resapan air hujan atau ruang terbuka hujan. Penataan sistem drainase Kota Pontianak dengan hanya menata drainasenya saja sudah tidak efektif lagi sehingga memerlukan konsep penataan sistem drainase yang berwawasan lingkungan. Maka dengan kondisi tersebut diperlukan indentifikasi terhadap kondisi hidrologi dan hidrolika yang ada di daerah tangkapan hujan Parit M. Sohor. Analisis hidrologi pada kajian ini meliputi pengujian konsistensi data hujan di Kota Pontianak, memilih distribusi hujan yang cocok dengan pola data hujan, menghitung waktu konsentrasi, intensitas curah hujan serta debit total rencana yang berasal dari debit buangan domestik dan debit rencana 2, 5, 10 tahun. Analisa hidrolika pada kajian ini meliputi pembuatan desain penampang saluran rencana sebagai rencana normalisasi saluran. Debit total di Parit M.Sohor untuk periode ulang 2 tahun adalah 2,22 m3/s, periode ulang 5 tahun sebesar 2,75 m3/s dan periode ulang 10 tahun sebesar 3,09 m3/s. Penataan drainase dengan konsep berwawasan lingkungan mengedepankan penataan drainase yang ramah lingkungan dengan menanam tanaman perdu yang dapat menahan erosi permukaan seperti tanaman Puring dan Bogenvil dan mereduksi polusi udara, menata Jalan M. Sohor mengendalikan debit air hujan berlebih yang diakibatkan oleh proses hujan melalui teknik rain water harvesting.
ANALISIS KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN AIR BERSIH UNTUK AIR MINUM PEDESAAN DI KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT, INDONESIA -, Herlina; Nurhayati, -; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 19, No 2 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v19i2.52089

Abstract

Kebutuhan air bersih meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Penyediaan air bersih dapat meningkatkan mutu lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis ketersediaan air dan kebutuhan air pada Kelurahan Sungai Sengkuang, Kabupaten Sanggau.   Hasil Penelitian menunjukkan kebutuhan air bersih di Kelurahan Sungai Sengkuang rata-rata hingga pada tahun 2035 adalah 6,4744 liter/detik dan pada jam puncak 11,3302 liter/detik. Ketersediaan air maksimum sebesar 159,603 liter/detik terjadi di bulan November dan ketersediaan air minimum sebesar 10,710 liter/detik terjadi di Bulan Juli. Ketersediaan air di Bulan Februari, Juli dan Bulan September patut diwaspadai karena masuk dalam periode kering. Ketersediaan air bersih di daerah tangkapan air Sungai Sengkuang dapat melayani sebanyak 7.049 jiwa penduduk hingga tahun 2035.    
SISTEM IPAL KOMUNAL BEDASARKAN POLA SEBARAN PERMUKIMAN DI DESA PENJAJAB KECAMATAN PEMANGKAT KABUPATEN SAMBAS Irwanto, Irwanto; Nurhayati, Nurhayati; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 20, No 2 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v20i2.59178

Abstract

Kawasan permukiman di Desa Penjajab Kecamatan Pemangkat Kabupaten Sambas, merupakan salah satu permukiman kumuh, padat dan rawan sanitasi. Berdasarkan hal tersebut untuk penananggulangan penanganan air limbah domestik yang mencemari lingkungan, diperlukan sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL) agar dapat menanggulangi pencemaran. Tujuan penelitian ini yaitu menentukan sistem IPAL komunal berdasarkan pola sebaran permukiman di Desa Penjajap mengikuti jalan raya, pola permukiman tersebar dan pola permukiman terpusat. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu pengamatan langsung, wawancara dan menyebarkan formulir kuisioner untuk mendapatkan data kondisi sanitasi eksisting, pola sebaran permukiman dan penentuan sistem pengolahan IPAL yang akan digunakan. Berdasarkan hasil pengamatan langsung, wawancara dan pegisian formulir kuisioner maka ditentukan sistem jenis layanan kapasitas ipal yaitu untuk 5 rumah. Sistem pengolahan IPAl Komunal yang digunakan, yaitu sistem pengolahan secara biologis dengan unit pengolahan bak ekualisasi, bak pengendap awal, bak biofilter aerob dan bak pengendap akhir. Dimensi IPAL yang digunakan untuk layanan 5 rumah dengan ukuran 6,5 m x 1,4 m. Pipa yang digunakan, yaitu jenis pipa PVC ukuran 6 inch untuk pipa primer dan 3 icnh untuk pipa sambungan rumah.
PENGENDALIAN GENANGAN DI KAWASAN PERKOTAAN DATARAN RENDAH DAERAH TANGKAPAN AIR SALURAAN PRIMER WAHID HASYIM KECAMATAN DELTA PAWAN KABUPATEN KETAPANG Dritha, Irvan; Nurhayati, -; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 20, No 2 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v20i2.52090

Abstract

Permasalahan mendasar yang belum terselesaikan di Kecamatan Delta Pawan Kabupaten Ketapang, yaitu genangan sehingga kota terlihat kumuh. Tujuan penelitian adalah menganalisis tutupan lahan eksisting, mengevaluasi kapasitas tampungan saluran eksisting daerah tangkapan air drainase Wahid Hasyim yang dipengaruhi pasang surut di sungai pawan, dan merencanakan konsep sistem pengendalian genangan. Tutupan lahan diolah menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS), kapasitas tampungan saluran disimulasikan menggunakan HEC RAS. Hasil penelitian menunjukkan tutupan lahan pada daerah tangkapan air drainase wahid hasyim terdiri atas lahan terbangun 35,97%, lahan tidak terbangun 63,98% dan perairan 0,05%. Elevasi muka air maksimum adalah 9,024 m, elevasi muka air minimum adalah 7,906 m dan elevasi muka air rata-rata adalah 8,478 m. Muka air tertinggi akibat pasang yang masuk ke dalam saluran primer tidak melebihi penampang eksisting saat kondisi tidak ada curah hujan, namun jika terjadi curah hujan maksimum dengan periode ulang 10 tahun, maka air di saluran akan meluap dan menggenangi daerah tangkapan airnya. Pengendalian genangan di kawasan perkotaan Delta Pawan dapat dilakukan dengan normalisasi saluran, mendesain rumah tepian sungai dengan rumah panggung, dan tiap rumah menampung air hujan untuk mengurangi limpasan air.
ANALISIS NERACA AIR IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI MEROWI Hidayat, Ellysa; Nurhayati, Nurhayati; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 19, No 2 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v19i2.47915

Abstract

Daerah irigasi Merowi terletak di Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Daerah irigasi Merowi merupakan satu-satuya irigasi teknis yang ada di Kabupaten Sanggau. Daerah irigasi Merowi memiliki luas 1.660 Ha yang dapat dikembangkan menjadi areal sawah. Seiring dengan berkembangnya pemanfaatan lahan,   penggunaan lahan fungsional persawahan pada daerah irigasi Merowi yang tersisa hanya seluas 499,88 ha. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ketersediaan air dan kebutuhan air untuk tanaman padi dan palawija. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kegiatan survey, antara lain pengukuran debit air pada intake kiri bendung Merowi. Data sekunder yang digunakan, yaitu data hujan dan data iklim selama 11 tahun. Data hujan dari stasiun hujan Sosok, Balai Sebut dan Balai Karangan. Data iklim berasal dari stasiun klimatologi Susilo Sintang. Evapotranspirasi dihitung mengggunakan metode Penman modifikasi. Debit sungai bulanan dihitung menggunakan metode Mock. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan air maksimum sebesar 5.818,81 l/s terjadi di Bulan Desember dan ketersediaan air minimum sebesar 1.317,68 l/s terjadi di Bulan Agustus. Kebutuhan air irigasi untuk tanaman padi tertinggi adalah 1,77 l/s/ha dan terendah adalah 1,63 l/s/ha. Ketersediaan air pada daerah irigasi Merowi apabila dimanfaatkan secara maksimal untuk pola tanam padi-padi-palawija masih dapat melayani sampai dengan 745 Ha tanpa menyebabkan defisit air pada bulan tertentu.
HUBUNGAN SEBARAN TITIK PANAS (HOTSPOT) TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT KOTA PONTIANAK Rozi, Fachrur; Akbar, Aji Ali; Kadaria, Ulli
Jurnal Teknik Sipil Vol 20, No 2 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v20i2.43531

Abstract

Kebakaran hutan yang terjadi pada saat musim kemarau terutama di Kota Pontianak yang memicu terjadinya titik panas (hotspot). Titik panas (hotspot) adalah sumber utama terbentuknya asap yang merupakan sumber pencemaran yang mengandung partikulat yang apabila terhirup dalam konsentrasi tinggi akan menganggu pernapasan. Penelitian ini di lakukan untuk melihat titik panas (hotspot) karena kebakaran hutan atau lahan di kota Pontianak menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menganalisis pergerakan perubahan titik panas (hostpot) dari tahun 2019 periode bulan Juli "“ September dan melakukan pemetaan. Metode analisis data menggunakan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia NO P.8/ ME NLHK/ SETJEN/ KUM.1 / 3/ 2018 Tentang Prosedur Tetap Pengecekan Lapangan Informasi Titik Panas Dan/Atau Informasi Kebakaran Hutan dan Lahan. Hasil penelitian menunjukkan selama periode sebaran titik panas (hotspot) pada bulan Juli total 136 titik, bulan Agustus total 1.738 titik, bulan September 5.165 titik dengan total jumlah titik panas (hotspot) sebanyak 7.039 titik. Pengaruh titik panas (hotspot) menunjukan dampak pada kesehatan masyarakat Kota Pontianak yang dimana data dari Dinas Kesehatan Kota Pontianak penderita pasien ISPA pada bulan Juli 2.700 orang, bulan Agustus 4.044 orang, bulan September 5.046 orang dengan total 11.790 pasien ISPA. Sedangkan data dari seluruh Puskesmas Kota Pontianak penderita pasien ISPA pada bulan Juli 4.542 orang, bulan Agustus 5.225 orang, bulan September 6.141 orang dengan total 15.908 pasien ISPA.
INTENSITAS CURAH HUJAN DAN FLUKTUASI MUKA AIR TANAH DI KAWASAN LAHAN GAMBUT DI JALAN REFORMASI KOTA PONTIANAK Kurniasari, Ercita; Nurhayati, Nurhayati; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 21, No 2 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v21i2.59211

Abstract

Kota Pontianak adalah sebuah kota yang terkenal dengan julukan Kota Khatulistiwa karena berada di atas garis khatulistiwa, selaras dengan hal tersebut Kota Pontianak memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan kemarau. Kedua musim tersebut dipengaruhi oleh curah hujan. Pemasangan alat pengukur curah hujan manual yang terdiri dari sebuah wadah tabung dengan corong diatasnya, diletakkan setinggi 1,50 meter dari permukaan tanah agar tidak terganggu dan tidak dipengaruhi oleh air yang masuk selain air hujan memperlihatkan pengukuran yang dilaksanakan selama 7 hari musim kemarau dan 3 hari musim hujan curah hujan tertinggi yang terjadi pada hari kelima di musim hujan dan curah hujan terendah pada hari keempat di musim hujan. Kuantitas curah hujan sangat mempengaruhi tinggi muka air tanah di lokasi penelitian. Terlihat bahwa dinamika fluktuasi muka air tanah bergantung pada curahan curah hujan pada lokasi penelitian. Pola curah hujan di lahan gambut Jl. Reformasi Kota Pontianak adalah monsunal yaitu pola hujan dengan perbedaan yang sangat jelas antara musim hujan dengan musim kemarau. Kondisi tersebut menyebabkan elevasi muka air tanah mengalami fluktuasi. Salah satu solusi untuk permasalahan tersebut adalah dengan membangun pintu air untuk mempertahankan elevasi muka air tanah lokasi penelitian ini tepat pada ketinggian tertentu.
ANALISIS PENGENDALIAN BANJIR DI KAWASAN PERTANIAN DESA TIANG TANJUNG KABUPATEN LANDAK Jamelius, Jamelius; Nurhayati, Nurhayati; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 21, No 2 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v21i2.59212

Abstract

Wilayah Desa Tiang Tanjung yang ada di Kabupaten Landak merupakan salah satu desa yang memiliki permasalahan banjir di lahan pertanian yang tidak kunjung selesai. Faktor curah hujan yang tinggi dan kemungkinan adanya aktifitas pertambangangan ilegal menjadi pemicunya. Dampak dari kegiatan pertambangan ilegal dapat mengganggu struktur tanah dan kemampuan tanah untuk menyimpan air termasuk bahaya longsor yang dapat menyebabkan banjir bandang didaerah tersebut. Permasalahan banjir sangat merugikan masyrakat karena merusak tanaman pertanian dan menyebabkan aktivitas pengguna jalan nasional terganggu. Karakteristik hidrologi di hulu Sungai Mempawah Desa Tiang Tanjung diperlukan agar dapat menentukan keputusan yang tepat dalam menangani permasalahan banjir. Ruang lingkup dalam kajian analisis hidrologi ini adalah melakukan uji konsistensi menggunakan metode Rescaled Adjusted Partial Sum (RAPS), melakukan pengujian model distribusi hujan dengan pengujian statistik dan pengujian chi kuadrat, menghitung nilai waktu konsentrasi saluran dengan metode Kirprich, menghitung nilai intensitas hujan dengan metode Mononobe, menghitung debit banjir rencana dengan metode rasional. Didapat Debit total di Sungai Mempawah untuk periode ulang 2 tahun adalah 1,7536 m3/s, periode ulang 5 tahun adalah 2,8284 m3/s, periode ulang 10 tahun adalah 3,7335 m3/s dan intensitas hujan periode ulang 2 tahun sebesar 3,8596 mm/jam, periode ulang 5 tahun sebesar 6,2251 mm/jam, periode ulang 10 tahun sebesar 8,2171 mm/jam. Akibatnya ruas penampang pada sta 0+200, 0+400, 0+600, 0+700, 2+300, 2+500 diperlukan perbaikan penampang sungai. Untuk sta.   0+200, 0+400, 0+600, 2+300, 2+500 dilakukan peninggian pada dinding sungai, sedangkan untuk sta. 0+700 dilakukan peninggian dinding dan lebar dasar sungai dengan mempertahankan kemiringan saluran yang ideal.
KAJIAN EFISIENSI IPAL PABRIK KELAPA SAWIT BERDASARKAN PARAMETER FISIKOKIMIA AIR Astuty, Eka Puji; Anshari, Gusti Zakaria; Akbar, Aji Ali
Jurnal Reka Lingkungan Vol 13, No 1 (2025)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v13i1.49-60

Abstract

Pabrik kelapa sawit menghasilkan limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pada PT. X di Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat dirancang untuk menurunkan kadar pencemar utama, seperti Chemical Oxygen Demand (COD), Biological Oxygen Demand (BOD), Total Suspended Solids (TSS), pH, minyak dan lemak, serta nitrogen total. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat efisiensi pengolahan limbah cair pada unit IPAL, khususnya kolam anaerobik dan aerobik dengan menganalisis penurunan parameter COD, BOD, TSS, pH, minyak dan lemak, serta nitrogen total. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap sampel yang diambil dari kedua kolam tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem IPAL mampu menurunkan COD sebesar 90,11%, minyak dan lemak sebesar 88,89%, BOD sebesar 86,59%, dan TSS sebesar 76,53%, yang dikategorikan sebagai sangat efisien hingga efisien. Namun, pengolahan terhadap parameter nitrogen total belum menunjukkan hasil yang optimal, dengan tidak efisiensi atau kurang <20%. Ketidakefektifan ini disebabkan oleh faktor teknis, seperti rusaknya sebagian aerator dan pendangkalan kolam akibat akumulasi lumpur, yang berdampak pada waktu tinggal limbah yang tidak mencukupi. Oleh karena itu, perbaikan sistem aerasi dan pemeliharaan kolam secara berkala diperlukan guna meningkatkan efektivitas pengolahan secara menyeluruh.