Claim Missing Document
Check
Articles

PENGENDALIAN GENANGAN DI KAWASAN PERKOTAAN DATARAN RENDAH DAERAH TANGKAPAN AIR SALURAAN PRIMER WAHID HASYIM KECAMATAN DELTA PAWAN KABUPATEN KETAPANG Dritha, Irvan; Nurhayati, -; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 20, No 2 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v20i2.52090

Abstract

Permasalahan mendasar yang belum terselesaikan di Kecamatan Delta Pawan Kabupaten Ketapang, yaitu genangan sehingga kota terlihat kumuh. Tujuan penelitian adalah menganalisis tutupan lahan eksisting, mengevaluasi kapasitas tampungan saluran eksisting daerah tangkapan air drainase Wahid Hasyim yang dipengaruhi pasang surut di sungai pawan, dan merencanakan konsep sistem pengendalian genangan. Tutupan lahan diolah menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS), kapasitas tampungan saluran disimulasikan menggunakan HEC RAS. Hasil penelitian menunjukkan tutupan lahan pada daerah tangkapan air drainase wahid hasyim terdiri atas lahan terbangun 35,97%, lahan tidak terbangun 63,98% dan perairan 0,05%. Elevasi muka air maksimum adalah 9,024 m, elevasi muka air minimum adalah 7,906 m dan elevasi muka air rata-rata adalah 8,478 m. Muka air tertinggi akibat pasang yang masuk ke dalam saluran primer tidak melebihi penampang eksisting saat kondisi tidak ada curah hujan, namun jika terjadi curah hujan maksimum dengan periode ulang 10 tahun, maka air di saluran akan meluap dan menggenangi daerah tangkapan airnya. Pengendalian genangan di kawasan perkotaan Delta Pawan dapat dilakukan dengan normalisasi saluran, mendesain rumah tepian sungai dengan rumah panggung, dan tiap rumah menampung air hujan untuk mengurangi limpasan air.
ANALISIS NERACA AIR IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI MEROWI Hidayat, Ellysa; Nurhayati, Nurhayati; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 19, No 2 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2019
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v19i2.47915

Abstract

Daerah irigasi Merowi terletak di Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Daerah irigasi Merowi merupakan satu-satuya irigasi teknis yang ada di Kabupaten Sanggau. Daerah irigasi Merowi memiliki luas 1.660 Ha yang dapat dikembangkan menjadi areal sawah. Seiring dengan berkembangnya pemanfaatan lahan,   penggunaan lahan fungsional persawahan pada daerah irigasi Merowi yang tersisa hanya seluas 499,88 ha. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ketersediaan air dan kebutuhan air untuk tanaman padi dan palawija. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kegiatan survey, antara lain pengukuran debit air pada intake kiri bendung Merowi. Data sekunder yang digunakan, yaitu data hujan dan data iklim selama 11 tahun. Data hujan dari stasiun hujan Sosok, Balai Sebut dan Balai Karangan. Data iklim berasal dari stasiun klimatologi Susilo Sintang. Evapotranspirasi dihitung mengggunakan metode Penman modifikasi. Debit sungai bulanan dihitung menggunakan metode Mock. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan air maksimum sebesar 5.818,81 l/s terjadi di Bulan Desember dan ketersediaan air minimum sebesar 1.317,68 l/s terjadi di Bulan Agustus. Kebutuhan air irigasi untuk tanaman padi tertinggi adalah 1,77 l/s/ha dan terendah adalah 1,63 l/s/ha. Ketersediaan air pada daerah irigasi Merowi apabila dimanfaatkan secara maksimal untuk pola tanam padi-padi-palawija masih dapat melayani sampai dengan 745 Ha tanpa menyebabkan defisit air pada bulan tertentu.
HUBUNGAN SEBARAN TITIK PANAS (HOTSPOT) TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT KOTA PONTIANAK Rozi, Fachrur; Akbar, Aji Ali; Kadaria, Ulli
Jurnal Teknik Sipil Vol 20, No 2 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2020
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v20i2.43531

Abstract

Kebakaran hutan yang terjadi pada saat musim kemarau terutama di Kota Pontianak yang memicu terjadinya titik panas (hotspot). Titik panas (hotspot) adalah sumber utama terbentuknya asap yang merupakan sumber pencemaran yang mengandung partikulat yang apabila terhirup dalam konsentrasi tinggi akan menganggu pernapasan. Penelitian ini di lakukan untuk melihat titik panas (hotspot) karena kebakaran hutan atau lahan di kota Pontianak menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menganalisis pergerakan perubahan titik panas (hostpot) dari tahun 2019 periode bulan Juli "“ September dan melakukan pemetaan. Metode analisis data menggunakan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia NO P.8/ ME NLHK/ SETJEN/ KUM.1 / 3/ 2018 Tentang Prosedur Tetap Pengecekan Lapangan Informasi Titik Panas Dan/Atau Informasi Kebakaran Hutan dan Lahan. Hasil penelitian menunjukkan selama periode sebaran titik panas (hotspot) pada bulan Juli total 136 titik, bulan Agustus total 1.738 titik, bulan September 5.165 titik dengan total jumlah titik panas (hotspot) sebanyak 7.039 titik. Pengaruh titik panas (hotspot) menunjukan dampak pada kesehatan masyarakat Kota Pontianak yang dimana data dari Dinas Kesehatan Kota Pontianak penderita pasien ISPA pada bulan Juli 2.700 orang, bulan Agustus 4.044 orang, bulan September 5.046 orang dengan total 11.790 pasien ISPA. Sedangkan data dari seluruh Puskesmas Kota Pontianak penderita pasien ISPA pada bulan Juli 4.542 orang, bulan Agustus 5.225 orang, bulan September 6.141 orang dengan total 15.908 pasien ISPA.
INTENSITAS CURAH HUJAN DAN FLUKTUASI MUKA AIR TANAH DI KAWASAN LAHAN GAMBUT DI JALAN REFORMASI KOTA PONTIANAK Kurniasari, Ercita; Nurhayati, Nurhayati; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 21, No 2 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v21i2.59211

Abstract

Kota Pontianak adalah sebuah kota yang terkenal dengan julukan Kota Khatulistiwa karena berada di atas garis khatulistiwa, selaras dengan hal tersebut Kota Pontianak memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan kemarau. Kedua musim tersebut dipengaruhi oleh curah hujan. Pemasangan alat pengukur curah hujan manual yang terdiri dari sebuah wadah tabung dengan corong diatasnya, diletakkan setinggi 1,50 meter dari permukaan tanah agar tidak terganggu dan tidak dipengaruhi oleh air yang masuk selain air hujan memperlihatkan pengukuran yang dilaksanakan selama 7 hari musim kemarau dan 3 hari musim hujan curah hujan tertinggi yang terjadi pada hari kelima di musim hujan dan curah hujan terendah pada hari keempat di musim hujan. Kuantitas curah hujan sangat mempengaruhi tinggi muka air tanah di lokasi penelitian. Terlihat bahwa dinamika fluktuasi muka air tanah bergantung pada curahan curah hujan pada lokasi penelitian. Pola curah hujan di lahan gambut Jl. Reformasi Kota Pontianak adalah monsunal yaitu pola hujan dengan perbedaan yang sangat jelas antara musim hujan dengan musim kemarau. Kondisi tersebut menyebabkan elevasi muka air tanah mengalami fluktuasi. Salah satu solusi untuk permasalahan tersebut adalah dengan membangun pintu air untuk mempertahankan elevasi muka air tanah lokasi penelitian ini tepat pada ketinggian tertentu.
ANALISIS PENGENDALIAN BANJIR DI KAWASAN PERTANIAN DESA TIANG TANJUNG KABUPATEN LANDAK Jamelius, Jamelius; Nurhayati, Nurhayati; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 21, No 2 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v21i2.59212

Abstract

Wilayah Desa Tiang Tanjung yang ada di Kabupaten Landak merupakan salah satu desa yang memiliki permasalahan banjir di lahan pertanian yang tidak kunjung selesai. Faktor curah hujan yang tinggi dan kemungkinan adanya aktifitas pertambangangan ilegal menjadi pemicunya. Dampak dari kegiatan pertambangan ilegal dapat mengganggu struktur tanah dan kemampuan tanah untuk menyimpan air termasuk bahaya longsor yang dapat menyebabkan banjir bandang didaerah tersebut. Permasalahan banjir sangat merugikan masyrakat karena merusak tanaman pertanian dan menyebabkan aktivitas pengguna jalan nasional terganggu. Karakteristik hidrologi di hulu Sungai Mempawah Desa Tiang Tanjung diperlukan agar dapat menentukan keputusan yang tepat dalam menangani permasalahan banjir. Ruang lingkup dalam kajian analisis hidrologi ini adalah melakukan uji konsistensi menggunakan metode Rescaled Adjusted Partial Sum (RAPS), melakukan pengujian model distribusi hujan dengan pengujian statistik dan pengujian chi kuadrat, menghitung nilai waktu konsentrasi saluran dengan metode Kirprich, menghitung nilai intensitas hujan dengan metode Mononobe, menghitung debit banjir rencana dengan metode rasional. Didapat Debit total di Sungai Mempawah untuk periode ulang 2 tahun adalah 1,7536 m3/s, periode ulang 5 tahun adalah 2,8284 m3/s, periode ulang 10 tahun adalah 3,7335 m3/s dan intensitas hujan periode ulang 2 tahun sebesar 3,8596 mm/jam, periode ulang 5 tahun sebesar 6,2251 mm/jam, periode ulang 10 tahun sebesar 8,2171 mm/jam. Akibatnya ruas penampang pada sta 0+200, 0+400, 0+600, 0+700, 2+300, 2+500 diperlukan perbaikan penampang sungai. Untuk sta.   0+200, 0+400, 0+600, 2+300, 2+500 dilakukan peninggian pada dinding sungai, sedangkan untuk sta. 0+700 dilakukan peninggian dinding dan lebar dasar sungai dengan mempertahankan kemiringan saluran yang ideal.
STUDY OF THE IMPACT OF TIDAL SAND MINING ON THE WATER QUALITY OF THE KAPUAS RIVER U.M. Hapipin; Rossie Wiedya Nusantara; Aji Ali Akbar
Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue (MORFAI) Vol. 5 No. 4 (2025): Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/morfai.v5i1.2660

Abstract

This study focuses on the impact of tidal sand mining on the water quality of the Kapuas River. The research methods include laboratory tests for parameters such as Water Temperature, Turbidity, DO, BOD, COD, TSS, pH, and Color, as well as field measurements using equipment such as Current Meters, ropes with weights, Sechhi Disks, air temperature, and GPS to record sampling locations. The results of the analysis showed a significant increase in BOD and COD values ​​at point A9, 200 meters downstream from the mining location, due to suction and overflow of water from pontoon boats. Despite the increase in values, the DO value indicates that the water quality is still good, although not comparable to the increase in BOD and COD. The influence of water discharge is an important factor, where high water discharge, especially at points A7, A8, and A9, results in dilution and decreased concentration of pollutants. Parameter analysis shows a decrease in water quality in spots, indicating a source of pollutants that may be diffuse. However, the average Pollution Index value shows that the water quality meets class III quality standards. Kapuas River water can still be used for fish farming, livestock, agricultural irrigation, and other related purposes. The importance of monitoring and mitigation to minimize the negative impacts of tidal sand mining on water quality and maintain environmental sustainability.
Rehabilitation of disturbed land in bauxite mining: Challenges and prospects in Sanggau, West Kalimantan, Indonesia Wanda, Wanda; Akbar, Aji Ali; Putri, Erisa Ayu Waspadi; Suhartoyo, Aji
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2026.131.9259

Abstract

Bauxite is the primary raw material for aluminum production, and its mining activities are widespread, including in Indonesia. However, land cover changes caused by bauxite mining can significantly disrupt ecosystem balance. This study aimed to analyze land cover change rehabilitation strategies in response to bauxite mining in Sanggau Regency, Indonesia. Using Geographic Information Systems (GIS) with an overlay technique, land cover data from 2009, 2015, 2022, and 2024, along with soil quality data, were examined. The findings indicate that between 2009 and 2024, approximately 4,363.52 hectares of land were converted into mining areas, including swamp shrubland (308.67 ha), secondary swamp forest (289.28 ha), plantations (74.01 ha), primary dryland forest (3,318.92 ha), and open land (190.99 ha). Recommended rehabilitation strategies include the application of red mud waste mixed with cattle manure as fertilizer, as well as the use of cocopeat as a topsoil substitute to enhance soil quality.
Identifikasi Kandungan Organik Dan Logam Berat Sekitar Pabrik Kelapa Sawit Dan Area Bekas Tambang Emas di Sub Das Seminis Lutfiando, Muhammad Fadli; Gusmayanti, Evi; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol. 14 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v14i1.96082

Abstract

Water quality is a key factor in maintaining ecosystem balance, public health, and the sustainability of the agricultural and industrial sectors. In Sambas District, particularly in the Seminis Sub-watershed, water quality degradation has become a crucial issue, driven by illegal gold mining and the expansion of oil palm plantations, which generate hazardous waste, including mercury, as well as industrial wastewater. This study aims to identify water quality characteristics in the Seminis sub-watershed and analyze the influence of various pollutant sources, particularly from illegal gold mining and oil palm plantations. The research method included surface water sampling at four representative points representing variation in pollutant sources: former mining land, the palm oil mill WWTP outlet, the plantation area, and the settlement. Physical (TSS), chemical (pH, BOD, COD, total nitrogen), and heavy metal (mercury) parameters were analyzed in accordance with national standards and government regulations. The results showed that most water quality parameters remained below the class II quality standards, except for BOD and COD at several points, which exceeded the thresholds due to organic pollutant loads from industrial and agricultural waste.
Analisis Kapasitas Sistem Drainase Parit Keramat di Kawasan Bandar Udara Supadio Kabupaten Kubu Raya Menggunakan HEC-RAS Suwarman, Endang; Nurhayati, Nurhayati; Akbar, Aji Ali
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol. 14 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v14i1.95891

Abstract

Supadio Airport has several drainage channels, including the Parit Keramat Drainage Channel. This channel has experienced narrowing due to household waste accumulation and sedimentation, leading to flooding in 2017 when the airport area was hit by extreme rainfall and high tides. As a result, 12 flight schedules were cancelled, and 36 flights were delayed (Kompas, 2017). To address this issue, an effective drainage system is necessary, especially in the runway, taxiway, and apron areas, to maintain aviation safety and security. The flood condition at Supadio Airport was analyzed using technical calculations and unsteady-flow simulations for a 10-year return period, based on tidal data calibration and instantaneous discharge in HEC-RAS. The drainage network in the study area was modeled based on topographic measurements of the existing channels. The Parit Keramat Channel is approximately 1,400 meters long. The HEC-RAS modeling results for the 10-year return period and tidal conditions show a significant impact on the existing channel condition. Most of the STAs (Stations) on the Parit Keramat Channel experienced flooding, with inundation heights ranging from 0.03 to 0.38 meters.
Assessing environmental degradation in a tropical watershed: Evidence from artisanal and small-scale gold mining (ASGM), and plantation expansion in West Kalimantan, Indonesia Desmaiani, Herda; Akbar, Aji Ali; Romiyanto, Romiyanto; Hermawati, Ery; Suhartoyo, Aji; Rahma, Syafira Nur; Jati, Dian Rahayu; Saziati, Ochih; Sulastri, Aini; Jumiati, Jumiati
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 13 No. 2 (2026)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2026.132.9859

Abstract

This study presents a systematic environmental assessment of the Raya River Sub-Watershed in West Kalimantan, Indonesia, from 2018 to 2025. It addresses a critical data gap in a region heavily impacted by artisanal and small-scale gold mining (ASGM) and oil palm expansion. Establishing the first multi-year physicochemical and sedimentological dataset for this tropical catchment enables the identification of key drivers of ecosystem degradation. An analysis was conducted across nine strategic sampling points, with results indicating significant acidification (pH 4.10), elevated total suspended solids (up to 125 mg/L), and heavy metal concentrations in sediments exceeding international quality standards. Utilising X-ray fluorescence (XRF) spectroscopy, the study quantified community exposure to Pb (13.0-45.5 ppm), Fe (290.0-642.3 ppm), Sn (16.0-22.8 ppm), and Mn (67.9-233.0 ppm), signalling persistent toxicological risks. This research establishes a link between in-situ pollution monitoring and human health implications by associating ASGM with agricultural runoff and potential bioaccumulation. These findings provide a scientifically robust baseline, essential for informing targeted remediation strategies, including phytoremediation and erosion control, and for offering a framework for evidence-based environmental governance in contaminated tropical watersheds.