Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KELAS BAHAYA EROSI DI WILAYAH SUB-DAS SEPAUK Katarina, Katarina; Nurhayati, Nurhayati; Akbar, Aji Ali
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 11, No 1 (2024): JeLAST Edisi Februari 2024
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v11i1.92403

Abstract

Aktivitas eksploitasi intensif terhadap sumberdaya alam di wilayah Sub-DAS Sepauk telah mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan terutama dalam bentuk fenomena erosi tanah. Studi ini mengevaluasi pola penggunaan lahan dan konsekuensi dari proses erosi. Analisis spasial pola penggunaan lahan menerapkan teknologi Sistem Informasi Geografis. Perhitungan kuantitatif erosi menggunakan metode USLE dengan memanfaatkan data dari peta kemiringan lereng, karakteristik jenis tanah, dan kondisi tutupan lahan di Sub-DAS Sepauk Tahun 2017. Hasil penelitian mengindikasikan komposisi penggunaan lahan Sub-DAS Sepauk Tahun 2017 mencakup area semak belukar (78,6%), zona hutan lahan kering primer (8,0%), kawasan hutan lahan kering sekunder (7,3%), area perkebunan (2,5%), zona pemukiman (1,2%), lahan terbuka (1,2%), lokasi pertambangan (0,6%), serta kawasan pertanian lahan kering campur (0,2%). Besaran erosi di Sub-DAS Sepauk untuk Tahun 2017 telah melampaui ambang toleransi maksimum dengan nilai mencapai 77.256,8 ton/ha/tahun. Mengacu pada kategorisasi Kelas Bahaya Erosi (KBE), distribusi area Sub-DAS Sepauk Tahun 2017 terdiri dari kategori sangat ringan dengan luas 15.313,6 Ha (13%), kategori ringan 38.166,8 Ha (31%), kategori sedang 5.633,6 Ha (5%), kategori berat 37.236,4 Ha (31%), dan kategori sangat berat 25.387,9 Ha (21%).
Analisis Potensi Nilai Ekonomi Sampah dari Aktivitas Perkantoran di Kota Pontianak Salsabila, Thalita Helga; Akbar, Aji Ali; Jati, Dian Rahayu
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 13, No 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v13i1.89856

Abstract

Offices are one source of waste from commercial areas that are required to implement waste management. Waste from offices is in the form of paper, plastic bottles, packaging boxes and so on which have economic value. This research aims to analyze the generation and composition of waste, the economic value of office waste, as well as the relationship between office waste generation and the economic value of waste from office activities in Pontianak City as a basis for efforts to reduce waste and develop a waste bank. Measurement of waste generation and composition from office activities is carried out in accordance with SNI 19-3964-1994 and then the economic value of waste is calculated based on the selling price of waste at the Waste Bank and TPS 3R Palem Asri. Statistical analysis is used to determine the relationship between office waste generation and the economic value of waste. The average waste generation from office activities in Pontianak City is 177.72 kg/day and the volume is 2,742.72 liters/day. The largest waste composition is other types of waste at 39.2% and the smallest is aluminum waste at 0.1%. The resulting economic value is IDR 137,778/day and IDR 50,288,840/year. The results of statistical tests using correlation analysis show that the correlation coefficient value is 0.961. It is concluded that the two variables tested have a very strong correlation and are positive or in the same direction so that the higher the generation of office waste, the greater the economic value of waste.
EFEKTIVITAS RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TERHADAP PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA DI KAWASAN INDUSTRI KECAMATAN JONGKAT KABUPATEN MEMPAWAH Sisdamantri, Atmi Ayu; Akbar, Aji Ali; Gusmayanti, Evi
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 13, No 1 (2025): APRIL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v13i1.30437

Abstract

Abstrak: Ruang terbuka hijau merupakan salah satu aspek yang harus dipenuhi oleh kawasan industri karena fungsinya yang cukup penting untuk meningkatkan atau memperbaiki kualitas lingkungan. Berdasarkan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang di Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah, jenis industri eksisting yang ada di Kecamatan Jongkat, salah satunya adalah industri pengepakan semen yang akan meningkatkan pencemaran udara, yaitu karbon dioksida (CO2). Salah satu cara untuk menurunkan pencemaran udara adalah dengan mengevaluasi RTH yang ada di kawasan industri tersebut. Tujuan penelitian untuk menganalisis tata guna lahan, menghitung besaran emisi, menghitung daya serap CO2 eksisting dan menganalisis kebutuhan RTH eksisting dan rencana dalam jangka waktu 20 tahun kedepan. Penelitian ini dilakukan di enam jenis tata guna lahan berdasarkan RTRW Kabupaten Mempawah yaitu belukar, pemukiman, perkebunan, pertanian lahan kering, lahan terbuka dan sawah. Selanjutnya melakukan analisis tata guna lahan untuk menghitung besaran emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari sumber bergerak (kendaraan) dan sumber tidak bergerak (industri). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa besaran emisi eksisting adalah 15.851,80 ton CO2/tahun dengan daya serap CO2 eksisting adalah 11.224,64 ton/ha/tahun, sehingga kebutuhan RTH eksisting adalah 8,13 Ha. Sedangkan besaran emisi rencana adalah 54.530,22 ton CO2/tahun dengan daya serap CO2 eksisting adalah 13.235,18 ton/ha/tahun, sehingga kebutuhan RTH eksisting adalah 72,57 Ha Abstract: Green open space is one aspect that must be fulfilled by industrial areas because its function is quite important to improve or repair environmental quality. Based on the Preparation of Detailed Spatial Planning in Jongkat District, Mempawah Regency, the types of industries in Jongkat District, one of which is the cement packaging industry which will increase air pollution, namely carbon dioxide (CO2). One way to reduce air pollution is to turn on the green open space in the industrial area. The purpose of the study was to analyze land use, calculate the amount of emissions, calculate the existing CO2 absorption capacity and analyze the needs of existing green open space and plan for the next 20 years. This study was conducted on six types of land use based on the Mempawah Regency RTRW, namely bushes, settlements, plantations, dry land agriculture, open land and rice fields. Furthermore, land use analysis was carried out to calculate the amount of carbon dioxide (CO2) emissions produced from moving sources (vehicles) and non-moving sources (industry). The results of the study show that the amount of existing emissions is 15,851.80 tons of CO2/year with the existing CO2 absorption capacity of 11,224.64 tons/ha/year, so that the existing green open space requirement is 8.13 Ha. While the planned emission amount is 54,530.22 tons of CO2/year with the existing CO2 absorption capacity of 13,235.18 tons/ha/year, so that the existing green open space requirement is 72.57 Ha.
ANALISIS KONDISI KUALITAS AIR BERSIH DI KOTA PONTIANAK Alfin, Muhammad; Akbar, Aji Ali; Jati, Dian Rahayu; Ibrahim, Ibrahim
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 10, No 1 (2022): APRIL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v10i1.6638

Abstract

Abstrak: Pontianak merupakan kawasan perkotaan yang dihadapkan pada isu kerawanan air. Tingginya pertumbuhan penduduk dan urbanisasi menuntut besarnya penyediaan air bersih. Penyediaan air yang besar tidak dapat terpenuhi mengingat cakupan pelayanan air perpipaan di Kota Pontianak masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air tanah dan air permukaan di Kota Pontianak secara spasial agar didapatkan data kualitas air guna membantu pemerintah dalam menentukan daerah yang memiliki kualitas air tanah dan air permukaan yang rendah sehingga perlu dilakukan suplai air bersih.  Dengan sampel air tanah dan air permukaan dengan parameter yang digunakan kekeruhan, warna, pH, Fe(besi), dan zat organik dan digambarkan secara spasial agar pemerintah dapat mengoptimalkan suplai air bersih ke daerah yang memiliki tingkat kualitas yang rendah. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengambilan sampel sebanyak 36 sampel pada enam kecamatan di Kota Pontianak. Hasil penelitian kondisi kualitas air terdapat sampel yang bersumber dari air tanah dan air permukaan yang melebihi baku mutu yaitu 69,4% berada di atas baku mutu untuk parameter kekeruhan, 0% untuk warna, 25% untuk pH, 72,2% untuk Fe, dan sebesar 91,6% untuk Zat Organik. Diharapkan dari penelitian ini pemerintah dapat meningkatkan jangkauan pelayanan air bersih ke kawasan pemukiman yang jauh dari sumber air bersih.Abstract:  Pontianak is an urban area that is faced with the issue of water insecurity. The high population growth and urbanization demand a large supply of clean water. The large supply of water cannot be fulfilled considering that the coverage of piped water services in Pontianak City is still not optimal. This study aims to determine the quality of groundwater and surface water in Pontianak City spatially in order to obtain water quality data to assist the government in determining areas that have low groundwater and surface water quality, so it is necessary to supply clean water. With groundwater and surface water samples, the parameters used are turbidity, color, pH, Fe(iron), and organic matter and are described spatially so that the government can optimize the supply of clean water to areas with low-quality levels. This research was conducted by taking 36 samples in six sub-districts in Pontianak City. The results of the research on water quality conditions contained samples from groundwater and surface water that exceeded the quality standard, namely 69.4%, which was above the quality standard for the turbidity parameter, 0% for color, 25% for pH, 72.2% for Fe, and 91.6% for Organic Substances. It is hoped that from this research the government can increase the reach of clean water services to residential areas that are far from clean water sources.
Identifikasi Timbulan Sampah Domestik Pada Kawasan Permukiman Pesisir Di Desa Pangkalan Buton Asmadi, Asmadi; Akbar, Aji Ali; Sudrajat, Jajat; Gusmayanti, Evi; Adhitiyawarman, Adhitiyawarman
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 13, No 2 (2025): July 2025
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v13i2.94098

Abstract

Waste management in Pangkalan Buton Village is a crucial issue in sustainable development, especially in vulnerable coastal areas. This research examines the current condition of waste management facilities, the level of compliance with environmental regulations, and public participation. Findings show that daily waste generation reaches 0.4 kg per person, mostly consisting of biodegradable organic waste. However, the lack of recycling and composting infrastructure hinders proper processing. Waste collection services are inconsistent, and public awareness remains low. The study recommends enhancing community education through continuous outreach programs and strengthening the role of the DPRKPLH. Developing modern waste management infrastructure, implementing data-based monitoring and evaluation systems, and enforcing environmental laws are also essential. Collaboration between local government, private sectors, and communities should be improved, especially through CSR initiatives and the use of digital tools like reporting apps. Effective waste management not only preserves the environment but also creates economic opportunities through recycling and compost production. Ultimately, a holistic and integrated approach involving education, infrastructure, law enforcement, and technological innovation is necessary to achieve efficient, sustainable, and community-supported waste management in Pangkalan Buton Village.
KARAKTERISTIK GAMBUT DI KAWASAN PARIT DEMANG KOTA PONTIANAK Sitanggang, Tetty Nurmawanti Roulina; Nurhayati, Nurhayati; Akbar, Aji Ali
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 10, No 4 (2023): JeLAST Edisi Desember 2023
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v10i4.79559

Abstract

Parit Demang merupakan salah satu kawasan di Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki lahan gambut dan telah mengalami perubahan tata guna lahan yang dimanfaatkan untuk permukiman dan lahan perkebunan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis karakteristik lahan gambut di wilayah Parit Demang, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei dengan pengamatan langsung di lapangan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel gambut berjumlah 32 sampel. Parameter yang diuji di laboratorium adalah bobot isi, porositas, permeabilitas dan konduktivitas. Hasil penelitian menunjukkan kedalaman gambut di wilayah Parit Demang, Kota Pontianak adalah 22 cm -211,5 cm dengan kematangan adalah saprik dan hemik. Bobot isi gambut tergolong rendah karena memiliki nilai dari 0,09 g/cm3 - 0,26 g/cm3, sehingga tidak baik untuk menahan beban. Lahan gambut di wilayah Parit Demang, Kota Pontianak memiliki porositas antara 85,66%-94,81% dan memiliki permeabilitas antara 1,07 cm/jam-9,9 cm/jam.  
ANALISIS KEMAMPUAN MANGROVE DALAM MEREDAM GELOMBANG Simatupang, Melynda; Akbar, Aji Ali; Lestari, Arfena Deah
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 10, No 1 (2023): JeLAST Edisi Februari 2023
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v10i1.62950

Abstract

Pesisir Desa Kuala Karang, Kecamatan Teluk Pakedai  didominasi oleh  hutan mangrove.  Hutan mangrove merupakan ekosistem hutan di pantai dan habitatnya tumbuh dipengaruhi pasang surut air laut. Hutan mangrove mempunyai fungsi lain yaitu untuk mencegah abrasi pantai dikarenakan dapat meredam energi gelombang laut sebelum sampai di pesisir. Tujuan dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan mangrove dalam meredam energi gelombang di Desa Kuala Karang, kecamatan Teluk Pakedai. Dari hasil perhitungan yang dilakukan, nilai porositas mangrove (NP) yang didominasi oleh Avicennia, sp adalah 0,0392. Tinggi gelombang yang didominasi dari arah barat daya dan barat adalah sebesar 1,617 dan 1,758. Dengan menggunakan 3 metode perhitungan didapatkan nilai reduksi gelombang adalah negatif. Hal ini menunjukkan bahwa mangrove di daerah tersebut tidak mampu meredam gelombang. Kerapatan dan ketebalan hutan mangrove yang kurang merupakan salah satu penyebab mangrove di daerah tersebut tidak dapat mereduksi gelombang. Selain itu, tingginya sedimentasi membuat akar mangrove jenis Avicennia, sp tertimbun.
Kerawanan Banjir pada Permukiman di Kalimantan Barat Ertian, Muhammad Harits; Jati, dian rahayu; Akbar, Aji Ali
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 5 (2025): September 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.5.1359-1369

Abstract

Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah yang masih sering dilanda permasalahan banjir. Perubahan tutupan lahan, deforestasi hutan khususnya tipe riparian, dan alih fungsi lahan gambut menjadi permukiman memberikan dampak besar berupa kerusakan siklus hidrologi alami yang mampu meningkatkan kuantitas dan intensitas kejadian banjir. Kondisi lingkungan alami yang rawan terhadap banjir akan diperparah oleh alih fungsi lahan yang tidak tepat menjadi permukiman. Penelitian ini akan mengkaji faktor – faktor apa saja yang mengakibatkan kerawanan banjir di permukiman semakin meningkat di Kalimantan Barat. Upaya mitigasi apa saja yang perlu dilakukan untuk mencegah banjir. Analisis data yang dilakukan berbasis geographic information system (GIS). Metode kajian ini dengan cara tumpang susun dan skoring. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa luas permukiman terbangun di Kalimantan Barat yaitu sebesar 101.149,58 ha. Terindikasi bahwa permukiman terbangun yang rawan banjir sekitar 92.963,76 ha. Artinya, 92% wilayah permukiman di Kalimantan Barat berada di wilayah rawan banjir. Kejadian banjir di Provinsi Kalimantan Barat dalam lima tahun terakhir dari tahun 2018 hingga 2022 sebanyak 139 kejadian banjir dengan pola yang berulang setiap tahunnya. Faktor penyebab terjadinya banjir di Kalimantan Barat umumnya terjadi karena intensitas curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng, tinggi elevasi, serta dampak perubahan tutupan lahan hutan menjadi non hutan dalam waktu panjang.
Gambaran Perilaku Penghuni Indekos di Sekitar Kampus Universitas Tanjungpura dalam Membuang Sampah Meifira, Athalia; Akbar, Aji Ali; Saziati, Ochih
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 11, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v11i3.68037

Abstract

One factor that has an influence on the comfort of the residence is the cleanliness of the residence. The habit of disposing of garbage is closely related to the cleanliness and comfort of the residence. Dormitory residents have an important role in maintaining the cleanliness of the dormitory. When boarders dispose of garbage in its place, it has a positive effect on the cleanliness of the dormitory environment. So this study was conducted to determine the behavior of dormitory residents in disposing of garbage and the condition of the availability of public dormitory bins. Data samples taken in this study were using purposive sampling method with the research location, namely dormitory around Universitas Tanjungpura with a radius of 1 kilometer from Universitas Tanjungpura. Data collection in this study by direct survey to respondents using a questionnaire. The results showed that 76.25% of dormitory around Universitas Tanjungpura already have public trash facilities for each occupant. The behavior of residents in disposing of garbage still needs to be improved because 60.00% of dormitory residents still do garbage disposal every few days. Then for the location of garbage disposal is classified as good, 98.75% have disposed of garbage in the trash cans.
PEMETAAN BAHAYA BENCANA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN TERHADAP KESATUAN HIDROLOGIS GAMBUT (KHG) DI KABUPATEN KUBU RAYA Wijaya, Rahmad Agung; Akbar, Aji Ali; Romiyanto, romiyanto
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 12, No 1 (2024): APRIL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v12i1.20988

Abstract

Abstrak: Kubu Raya termasuk Kabupaten yang sering dilanda bencana kebakaran hutan dan lahan. Hal ini karena kondisi lahannya dominan tanah gambut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sebaran bahaya bencana kebakaran hutan dan lahan terhadap Kesatuan Hidrologis Gambut di Kabupaten Kubu Raya. Metode yang digunakan yaitu skoring dan bobot pada setiap parameter. Hasil pengolahan data dari tiap parameter tersebut akan menghasilkan peta bahaya bencana kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kubu Raya. Hasil penelitian bahaya kebakaran hutan dan lahan dikelompokkan menjadi kelas rendah, kelas sedang, dan kelas tinggi. Kelas rendah memiliki luas 48.470,51 Ha atau 5,64% dengan 11 titik panas, pada kelas sedang memiliki luas 449.032,24 Ha atau 52,25% dengan 372 titik panas, dan pada kelas tinggi memiliki luas 361.878,68 Ha atau 42,11% dengan 2.106 titik panas. Terdapat 4 kecamatan dengan kelas tinggi yaitu, Kecamatan Kuala Mandor B, Kecamatan Rasau Jaya, Kecamatan Sungai Ambawang, dan Kecamatan Sungai Raya.Abstract:  Kubu Raya Regency is an area that is often hit by forest and land fires because the land is dominated by peat soil. This research aims to determine the distribution of the danger of forest and land fire disasters on the Peat Hydrological Unit in Kubu Raya Regency. The method used is scoring and weighting for each parameter. The results of data processing for each parameter will produce a disaster hazard map for forest and land fires in Kubu Raya Regency. The research results on the danger of forest and land fires are grouped into low class, medium class and high class. The low class has an area of 48,470.51 Ha or 5.64% with 11 hotspots, the medium class has an area of 449,032.24 Ha or 52.25% with 372 hotspots, and the high class has an area of 361,878.68 Ha or 42, 11% with 2,106 hotspots. There are 4 sub districts with high class, namely, Kuala Mandor B District, Rasau Jaya District, Sungai Ambawang District, and Sungai Raya District.