Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

HALAL PRODUCTS AND FORMAL PIETY MUSLIM MIDDLE-CLASS LIFE IN THE ANALYSIS OF RELIGIOUS RECEPTION THEORY Malik, Abdul; Irwan, Muh.; Wathani, Syamsul
SANGKéP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan Vol. 5 No. 1 (2022): Religious Changing Pathway Post Pandemic and Welcoming Society Era 5.0
Publisher : UIN Mataram dan Asosiasi Sosiologi Agama Indonesia (ASAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sangkep.v5i1.5743

Abstract

The Muslim middle class is a religious group that lives in commodified Islam and is self-commodified with Islam for the benefit of life. Their presence represents two entities, the middle class is attached to material and Muslims are attached to religiosity. These two entities emphasize their existence as new religious communities. This article is an exploratory-verificative research from the results of field research on the Muslim middle class, especially in the study of religious behavior (religious performance). This article focuses on analyzing research gaps, data, theory and theorizing of research results into the scientific development of the sociology of religion. The analytical framework used is the analysis of religion as a tradition and doctrinal reception. With this analytical framework, this article finds several conclusions: The Muslim middle class has a strong dependence on halal products. There are two models of halal in products and social cognition of the Muslim middle class, namely: Islamic products and Islamicized products. Halal status is a driving factor that directs the consumption and consumption of halal products for the middle class, providing assurance of religious morals and an Islamic life. The Muslim middle class also expresses popular culture and formal/symbolic piety in public spaces. Formal piety includes: Islamic pants, beards, syar'i hijab, syar'i robes, veils, syar'i fashion, syar'i cosmetics and other economic artifacts. By characterizing the consumption of halal products and formal piety, the religious behavior of the Muslim middle class is in the low tradition plains. Religious traditions themselves are formed from clashes and greetings from the reality or habitus around them. In piety mapping, the Muslim middle class is in the Islamic category in the form of active piety.”
PENDAMPINGAN PEMANFAATAN LAHAN TIDUR SEBAGAI SUMBER HIJAUAN PAKAN DALAM MENDUKUNG WIRAUSAHA PETERNAKAN PANTI ASUHAN Irwan, Muh.; Nugraha, Angga; Asra, Reza; M, Armayani; Mursalat, Aksal
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 5 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i5.26432

Abstract

Abstrak: Panti Asuhan Sejati Muhammadiyah Rappang telah lama berfungsi sebagai lembaga sosial yang menyediakan perlindungan dan pendidikan bagi anak-anak yatim dan kurang mampu. Dalam upaya meningkatkan kemandirian ekonomi serta mengembangkan keterampilan penghuninya, panti asuhan ini menginisiasi program wirausaha peternakan. Urgensi kegiatan pengabdian ini adalah terpenuhinya kebutuhan pakan secara berkelanjutan bagi Wirausaha Peternakan yang dijalankan Panti Asuhan Sejati Muhammadiyah Sidenreng Rappang melalui pemanfaatan lahan tidur. Pengabdian ini berorientasi pada pemanfaatan lahan tidur dan dampaknya terhadap pengembangan wirausaha peternakan di panti asuhan. Selain itu, pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan hard skill anak panti asuhan. Untuk mencapai tujuan kegiatan, maka metode yang digunakan adalah Focus Group Discussioan dan Praktik Langsung di lapangan. Adapun tahapan kegiatan meliputi: Observasi lapangan, perencanaan program, pelatihan, pendampingan teknis, dan evaluasi. Kegiatan ini melibatkan 20 orang anak panti asuhan yang direkomendasikan oleh pengelola. Hasil observasi menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan dan keterampilan penghuni panti asuhan terkait sektor peternakan masih rendah, minat dan dukungan mereka terhadap pengembangan wirausaha peternakan tergolong tinggi. Melalui pendampingan teknis dan pelatihan yang sistematis, terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan penghuni panti asuhan dalam budidaya hijauan pakan. Evaluasi akhir menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan keterampilan berada pada angka 70% dan 65%, pemanfaatan lahan tidur 60%, minat anak panti serta dukungan panti asuhan terhadap Wrausaha Peternakan adalah 98% dan 100%. Program ini tidak hanya memberikan solusi praktis terhadap keterbatasan sumber daya, tetapi juga membekali anak-anak panti asuhan dengan keterampilan dan pengetahuan yang bermanfaat untuk masa depan mereka, serta berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat.Abstract: The Sejati Muhammadiyah Rappang Orphanage has long functioned as a social institution that provides protection and education for orphans and underprivileged children. In an effort to increase economic independence and develop the skills of its residents, this orphanage initiated a livestock entrepreneurship program. The urgency of this community service activity is to meet the sustainable feed needs for the Livestock Entrepreneurship run by the Sejati Muhammadiyah Sidenreng Rappang Orphanage through the utilization of idle land. This community service is oriented towards the utilization of idle land and its impact on the development of livestock entrepreneurship in the orphanage. In addition, this community service aims to improve the hard skills of the orphanage children. To achieve the objectives of the activity, the methods used are Focus Group Discussion and Direct Practice in the field. The stages of the activity include: Field observation, program planning, training, technical assistance, and evaluation. This activity involved 20 orphanage children recommended by the manager. The results of the observation showed that although the knowledge and skills of the orphanage residents related to the livestock sector were still low, their interest and support for the development of livestock entrepreneurship were relatively high. Through systematic technical assistance and training, there was an increase in the knowledge and skills of the orphanage residents in cultivating green fodder. The final evaluation showed that the level of knowledge and skills was at 70% and 65%, utilization of idle land was 60%, the interest of the orphanage children and the support of the orphanage for the Livestock Entrepreneurship was 98% and 100%. This program not only provides practical solutions to resource limitations, but also equips the orphanage children with skills and knowledge that are useful for their future, and contributes to the welfare of the community.
Pengaruh Suhu Penetas Yang Berbeda Terhadap Fertilitas, Bobot Tetas, Dan Dead In Shell Telur Itik Ashary, Satria Pratama; Irwan, Muh.; M, Armayani
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 4 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i4.21140

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu penetasan yang berbeda terhadap fertilitas, bobot tetas, dan tingkat kematian embrio dalam cangkang (dead in shell) pada telur itik. Penelitian dilaksanakan di Desa Benteng, Kelurahan Manisa, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang pada bulan Maret–Mei 2025. Sebanyak 84 butir telur itik digunakan sebagai sampel, yang dibagi dalam tiga perlakuan suhu penetasan, yaitu P1 (35–36°C), P2 (37–38°C), dan P3 (39–40°C), dengan masing-masing perlakuan diulang empat kali. Data dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan diuji dengan analisis ragam (ANOVA), dilanjutkan dengan uji BNT apabila terdapat pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan suhu penetasan berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati. Suhu inkubasi 37–38°C (P2) menghasilkan fertilitas tertinggi (96,43%), bobot tetas rata-rata terbaik (43,18 gram), dan tingkat dead in shell terendah (10,72%). Suhu rendah (35–36°C) menghasilkan fertilitas dan bobot tetas lebih rendah, sedangkan suhu tinggi (39–40°C) secara signifikan meningkatkan angka kematian embrio (78,57%) dan menurunkan bobot tetas (18,00 gram). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa suhu penetasan optimal untuk meningkatkan fertilitas, bobot tetas, serta menekan angka kematian embrio pada telur itik adalah 37–38°C. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengelolaan mesin tetas guna meningkatkan produktivitas peternakan itik secara efisien dan berkelanjutan.
Evaluasi Pertumbuhan Rumput Gajah mini (Pennisetum purpureum CV. Mott) Yang di intervensi Pupuk Kandang Berbahan Baku Feses Sapi Pada Level Berbeda Lohe, Akbar; Irwan, Muh.; M., Armayani
Jurnal Peternakan Lokal Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Peternakan Lokal
Publisher : Program Studi Peternakan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46918/peternakan.v6i1.2125

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran pemberian pupuk kandang feses sapi pada pertumbuhan Rumput gajah mini. Metode penelitian ini menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data hasil penelitian dianalisis meggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji duncan jika terdapat pengaruh yang signifikan. Penelitian ini dilaksanakan di lahan kebun fakultas sains dan teknologi universitas muhammadiyah sidrap dari bulan maret hingga mei 2023. Bahan yang digunakan meliputi Rumput gajah mini, Pupuk kandang, tanah, Air. Alat-alat yang digunakan meliputi Cangkul, timbangan, polybag, meteran, drum, gembor. Hasil penelitian pada parameter yang di uji menunjukkan bahwa dosis pupuk kandang feses sapi memeliki pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan rumput gajah mini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penggunaan pupuk kandang feses sapi sebagai pupuk organik sehingga menjadi alternatif yang ramah lingkungan dan ekonomis dalam pemupukan
PENERAPAN METODE RUNGE KUTTA FEHLBERG PADA PERSAMAAN LOGISTIK DALAM MEMPREDIKSI PERTUMBUHAN PENDUDUK DI SULBAR: Application Of The Runge Kutta Fehlberg Method In Logistic Equations in Predicting Population Growth in Sulbar Syarfiah, Syarfiah; Irwan, Muh.; Anugrawati, Sri Dewi
Al-Aqlu: Jurnal Matematika, Teknik dan Sains Vol. 2 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Yayasan Al-Amin Qalbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59896/aqlu.v2i2.99

Abstract

This research discusses the application of the Runge Kutta Fehlberg method in predicting population growth in West Sulawesi through the logistic equation. Employing applied research methodology, the study seeks to forecast future population trends in the West Sulawesi province. Utilizing a step size of h = 0.01 and a growth rate of m = 0.0198, the Runge-Kutta Fehlberg method (RKF 45) was applied, starting from an initial population value  of   P (t0) = 1.419.229 individuals, resulting in a projected population of P (t10) = 1.506.142 individuals. These findings demonstrate the applicability of the Runge-Kutta Fehlberg (RKF 45) method in predicting population dynamics in West Sulawesi Province.
Analisis Cemaran Mikroba Pada Bakso Yang Beredar Di Kecamatan Panca Rijang Kabupaten Sidenreng Rappang M, Sriwahyuni.; Irwan, Muh.; Mansur, Musdalifa
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakso merupakan salah satu pangan olahan daging yang banyak dikonsumsi masyarakat karena mudah ditemukan, memilikicita rasa yang disukai, serta harga yang terjangkau. Namun demikian, bakso termasuk pangan yang mudah terkontaminasimikroba patogen apabila pengolahan dan penyajiannya tidak memenuhi standar sanitasi yang baik. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui keberadaan dan jumlah cemaran mikroba Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Salmonella sp.pada bakso yang beredar di Kecamatan Pancarijang Kabupaten Sidenreng Rappang, serta membandingkannya denganStandar Nasional Indonesia (SNI) 7388:2009 tentang batas maksimum cemaran mikroba dalam pangan. Penelitian inimenggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan 13 sampel bakso yang diambil secara simple random sampling daripedagang bakso di Kecamatan Pancarijang. Pengujian dilakukan di Laboratorium Pengujian Mutu Produk Peternakan(PMPP) Makassar menggunakan media selektif: Brilliance E. coli untuk E. coli, Baird Parker Agar untuk S. aureus, dan HE,XLD, serta BSA untuk Salmonella sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Salmonella sp. tidak terdeteksi pada seluruhsampel, dan Staphylococcus aureus berada di bawah ambang batas (<10 CFU/g) sehingga memenuhi standar SNI. Namun,lima dari tiga belas sampel positif mengandung E. coli dengan jumlah melebihi ambang batas yang diperbolehkan (<3CFU/g), yaitu antara 1,4 × 10⁴ hingga 6,5 × 10⁴ CFU/gr. Dapat disimpulkan bahwa sebagian bakso yang beredar diKecamatan Pancarijang belum memenuhi standar keamanan pangan, khususnya terkait cemaran Escherichia coli. Hal inimengindikasikan masih kurangnya penerapan higiene dan sanitasi dalam proses produksi, penyimpanan, dan penyajianbakso. Pengawasan berkala dan edukasi keamanan pangan sangat diperlukan untuk melindungi kesehatan konsumen.
Nilai Organoleptik Dan Ph Telur Asin Dengan Penambahan Tepung Biji Labu Kuning (Cucurbita Moschata) Dengan Level Yang Berbeda Hariyanto, Wahid Hidayat; Irwan, Muh.; M, Armayani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung biji labu kuning (Cucurbita moschata) pada level yang berbeda pengaruh terhadap nilai organoleptik dan pH telur asin. biji labu juga mengandung antioksidan yang tinggi, seperti flavonoid, polifenol, dan asam fenolik. Antioksidan dalam biji labu ini berfungsi untuk mengatasi peradangan di dalam tubuh dan melindungi sel dari radikal bebas penyebab penyakit. Hal ini tidak terlepas dari kandungan nutrisi yang ada di dalam biji labu, seperti karbohidrat, lemak, protein, mineral, serta vitamin. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan P0 (sebagai kontrol), P1, P2, dan P3. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Sehingga terdapat 12 unit percobaan yang masing-masing unit terdiri dari 5 butir telur. Jadi total pengamatan 60 butir telur. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan penambahan tepung sereh dengan level konsentrasi yang berbeda pada adonan telur asin. Adapun level pemberian yang diaplikasikan adalah P0 : Tanpa Perlakuan / control, P1 : Tepung biji labu kuning 5gr, P2 : Tepung biji labu kuning 10gr dan P3 : Tepung biji labu kuning 15gr.