Articles
KONSELING MANAJEMEN DIABETES MELLITUS DALAM MENJAGA STABILITAS KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI ERA PANDEMI
Hartono, Dodik
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SISTHANA Vol. 4 No. 2 (2022): Desember : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55606/pkmsisthana.v4i2.164
Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang membutuhkan supervisi medis berkelanjutan serta edukasi perawatan secara mandiri, apalagi dalam masa pandemic covid. Pada masa pandemi covid seseorang yang memiliki penyakit bawaan memiliki resiko tinggi untuk lebih cepat tertular penyakit covid dan bisa menyebabkan kematian. Maka dari itu penderita diabetes mellitus perlu melakukan manajemen yang baik untuk menjaga kesehatannya, meskipun tidak datang ke pelayanan Kesehatan. Manajemen diabetes yang dapat dilakukan meliputi kontrol glukosa darah, pola makan, olahraga, minum obat teratur dan perawatan kaki. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan pasien dalam penatalaksanaan diabetes dengan cara manajemen diabetes mellitus. Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini dengan cara memberikan konseling manajemen diabetes mellitus kepada pasien saat pelaksanaan posyandu di balai Desa Karangbong. Pemberian edukasi dilakukan dengan 2 metode yaitu dengan memberikan edukasi secara langsung bersamaan dan secara individu kepada pasien. Kegiatan ini dilakukan oleh 3 tim dosen dan 5 mahasiswa keperawatan. Hasil dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini penderita diabetes dapat memahami dan meningkatkan kemampuannya tentang manajemen penatalaksanaan diabetes mellitus secara mandiri, khususnya dimasa pandemi. Pasien diabetes mellitus dapat melakukan melakukan manajemen diabetes mellitus dirumah dengan cara melakukan pengecekan kadar glukosa darah seminggu sekali, selalu melaksanakan aktivitas fisik, menjaga pola makan, minum obat sesuai aturan dan melakukan perawatan kaki setiap hari untuk mencegah terjadinya luka ulkus diabetes.
Efektivitas Kompres Hangat Jahe dan Senam Ergonomis Terhadap Penurunan Nyeri Gout Arthritis Pada Lansia di Desa Mojolegi Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo
Erika Dwi Safitri;
Dodik Hartono;
Achmad Kusyairi
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 2 No. 2 (2023): Oktober: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55606/jurrikes.v2i2.1756
uric acid is the result of purine metabolism, it will cause pain and rheumatic pain in the joints. Handling to reduce pain is with warm ginger compresses and rgonomic exercises. The purpose of this study was to analyze the effectiveness of ginger warm compresses and ergonomic exercises on reducing gout arthritis pain in the elderly in Mojolegi Village, Gading District, Probolinggo Regency.This type of research is quasi-experimental with a cross over group design approach. The population of 51 people was selected by purposive sampling technique and obtained 36 respondents who met the inclusion and exclusion requirements of the study. The instrument used is the numerical pain scale observation sheet (NRS). The results showed that the pain scale of ginger warm compresses for period I pre-test was 5.17 post-test 3.00, period II pre-test was 3.94 post-test 2.39. In the ergonomic exercise group, period I pre-test was 5.39 post-test 3.67, period II pre-test was 3.89 post-test 2.61. The results of data analysis obtained valuesρV 0.000 in the warm ginger compress group and the ergonomic exercise group so that it can be concluded that both therapies were equally effective, there was no difference between warm ginger compress and ergonomic exercise in reducing gout arthritis pain in the elderly.Ginger warm compresses and ergonomic exercises are non-pharmacological measures that can be applied to relieve pain and provide a sense of comfort. Thus, implementing these two therapies requires sufficient recovery time (wash out) so that the effects of the first intervention are not carried over to the second intervention.
Hubungan Stabilitas Kadar Gula Darah Dengan Penurunan Ketajaman Penglihatan Pada Diabetes Melitus Tipe II Didesa Sokaan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo
Cici Lahayati;
Dodik Hartono;
Achmad Kusyairi
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 2 No. 2 (2023): Oktober: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55606/jurrikes.v2i2.1759
Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease with hyperglycemia characteristics that occurs because abnormality of insulin secretion . Diabetes mellitus can cause eye damage . Study this aim to know the correlation of stability of blood sugar levels with decreased visual acuity in type II diabetes mellitus.This study use analytical study design correlation with approach cross sectional. The technique used purposive with 52 respondents who meet the criteria. The analysis of the data used test Chi-Square. The results of study showed that for stability rate sugar blood of 29 respondents are unstable. Decrease in visual acuity of 23 respondents were in moderate category. The results of the chi-square test of the stability of blood sugar levels with decreased visual acuity in Diabetes Mellitus type II obtained p value = 0.00 0 so that the p -value < = 0.05 . The results of this study indicate a relationship between the stability of blood sugar levels with decreased visual acuity.It can be concluded that unstable blood sugar levels can affect the decrease in visual acuity in Diabetes Mellitus. On the contrary, if blood sugar levels are in a stable range, the risk of decreased visual acuity will decrease.
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kemandirian Lansia Dalam Melakukan Activity Daily Living
Anis Sulalah;
Dodik hartono;
Achmad Kusyairi
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 2 No. 2 (2023): Oktober: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55606/jurrikes.v2i2.1917
The elderly is a vulnerable group that has a very high dependency rate. The elderly has various health problems such as degenerative diseases and decreased productivity so that it can cause a decrease in independence in carrying out daily activities (Activities Daily Living).This research strategy combines a cross-sectional approach with correlational analysis. Simple random sampling is the method used for sampling. employing the logistic regression test. examined respondents' perceptions of senior citizens' independence, using a sample size of 45 respondents.The results of this study found that there was a relationship between all factors that could be done both from family support, cognitive function, and anxiety with a p value of 0.05 while the dominant factor related to the independence of the elderly was the anxiety factor with a p value of 0.005 a 0.05 and OR value =248792879.8 Can guarantee that family support, cognitive function, and can increase the independence of the elderly, but the most dominant factor for independence is the anxiety factor.To ensure that body parts can move and there is no immobility disorder, it is expected of the aged to continue with everyday activities. They are also expected to maintain their health by visiting an integrated health center, a public health center, or other healthcare facilities.
Pengaruh SDB (Slow Deep Breathing) Terhadap Kualitas Tidur Pasien Diabetes Melitus Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Lumajang
Reviana Erdwi Fajarini;
Dodik Hartono;
Zainal Abidin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 2 No. 6 (2023)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penderita penyakit DM, umumnya merasakan ketidaknyamanan akibat dari simptoms atau tanda dan gejala dari penyakit. Gejala klinis tersebut, pada malam hari juga dialami oleh penderita penyakit DM, hal ini tentu dapat mengganggu tidurnya. Terjadinya gangguan tidur akan berdampak pada meningkatnya frekuensi terbangun, sulit tertidur kembali, ketidakpuasan tidur yang akhirnya mengakibatkan penurunan kualitas tidur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh SDB (Slow Deep Breathing) terhadap kualitas tidur pasien diabetes melitus di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Lumajang. Metode penelitian yang digunakan adalah pre experimental design dengan jenis pre test and post test one group design. Dengan sampel sebanyak 30 responden dengan teknik pengambilan Accidental Sampling dan uji yang digunakan menggunakan Wilcoxon Test. Hasil penelitian didapatkan bahwa kualitas tidur pasien diabetes melitus sebelum diberikan SDB (Slow Deep Breathing) memiliki kualitas tidur kategori buruk sebanyak 27 responden (90%). Dan kualitas tidur pasien diabetes melitus setelah diberikan SDB (Slow Deep Breathing) memiliki kualitas tidur kategori baik sebanyak 22 responden (73,3%). Pvalue < α dengan Pvalue = 0,000 dan α =0,05 hal ini menunjukkan bahwa ada Pengaruh SDB (Slow Deep Breathing) terhadap kualitas tidur pasien diabetes melitus di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Lumajang. Disarankan bagi perawat memprogramkan kegiatan SDB (Slow Deep Breathing) pada pasien diabetes melitus yang merasakan kesulitan dalam tidur sebagai fasilitas untuk melakukan terapi.
HUBUNGAN PERAN TENAGA KESEHATAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN POSBINDU PTM DI DESA KEBONSARI KECAMATAN SUMBERSUKO KABUPATEN LUMAJANG
Susanti, Ari;
Laili, Nurul;
Hartono, Dodik
Jurnal Keperawatan Vol. 18 No. 1 (2025): Volume 18, Nomor 1, Januari 2025
Publisher : LPPM Akper Dian Husada Mojokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56586/jk.v18i1.382
Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit yang tidak bisa ditularkan dari orang ke orang, yang perkembangannya berjalan perlahan dalam jangka waktu yang panjang (kronis). Penyakit tidak menular tadinya lebih banyak terjadi pada kelompok usia tua, namun sekarang penyakit ini mulai ditemui pada masyarakat yang masih usia produktif. Pos pembinaan terpadu PTM adalah upaya kesehatan masyarakat dalam pencegahan penyakit tidak menular dengan melibatkan Masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan peran tenaga kesehatan dengan kepatuhan kunjungan posbindu PTM. Jenis penelitian ini analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi semua peserta posbindu sebanyak 212 responden, penentuan sampel menggunakan tekhnik simple random sampling sebanyak 139 responden. Instrumen yang digunakan menggunakan lembar kuesioner dan observasi. Selanjutnya dianalisis menggunakan uji spearman’s rho. Hasil penelitian ini menunjukkan peran tenaga Kesehatan yaitu baik sebanyak 101 responden (72,7%), dan kepatuhan kunjungan posbindu PTM yaitu patuh sebanyak 98 responden (70,5%). Hasil uji analisis menggunakan spearman’s rho, ada hubungan peran tenaga kesehatan dengan kepatuhan kunjungan posbindu PTM didapatkan nilai = 0,000 < α = 0,05. Peran tenaga kesehatan sangat penting bagi keaktifan kunjungan posbindu PTM, karena kegiatan posbindu sebagai upaya pencegahan dan pengendalian PTM secara komprehensif dan terintegrasi melalui upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan.
HUBUNGAN DUKUNGAN TENAGA KESEHATAN DAN PERAN KADER DENGAN KEAKTIFAN LANSIA MENGIKUTI POSYANDU LANSIA DI DESA RANUPAKIS KECAMATAN KLAKAH
Awaludin, Awaludin;
Rahmat, Nafolion Nur;
Hartono, Dodik
Jurnal Keperawatan Vol. 18 No. 1 (2025): Volume 18, Nomor 1, Januari 2025
Publisher : LPPM Akper Dian Husada Mojokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56586/jk.v18i1.383
Posyandu lansia merupakan suatu pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang diselenggarakan melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial. Keaktifan lansia dalam pemanfaatan layanan kesehatan dipengaruhi oleh persepsi, sikap, dukungan dari nakes dan kader. tujuan penelitian ini mengetahui hubungan dukungan tenaga kesehatan dan peran kader dengan keaktifan lansia mengikuti posyandu lansia di desa ranupakis kecamatan klakah. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif menggunakan metode pengumpulan data secara retrospektif. Populasi penelitian ini Seluruh Lansia di Desa Ranupakis berjumlah 340 lansia dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 77 Lansia yang diambil metode Consecutive Sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dilakukan uji chi square test. Peneliti mendapatkan layak etik dari universitas Hafsyawaty zainul hasan dengan nomor 228/KEPK-UNHASA/VII/2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah lansia yang aktif ikut serta dalam kegiatan posyandu lansia adalah sebanyak 22 responden (28.6%), Hasil uji analisis menggunakan Uji chi square menunjukkan hasil nilai yaitu p ≤0,000 dengan tingkat signifikan α =0,05, yang berarti ada hubungan antara dukungan tenaga kesehatan dan peran kader dengan keaktifan lansia mengikuti posyandu lansia di desa ranupakis kecamatan klakah Peran tenaga Kesehatan dan kader dalam pelaksanaan posyandu lansia yang optimal akan memberikan kemudahan bagi lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dasar, sehingga kualitas hidup masyarakat di usia lanjut tetap terjaga dengan baik dan optimal.
Implementasi Pendidikan Kesehatan Anemia Menuju Kehamilan Sehat Bebas Anemia pada Ibu Hamil
Hartono, Dodik;
Mariani, Mariani
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 6 No 4 (2024): Jurnal Peduli Masyarakat: Desember 2024
Publisher : Global Health Science Group
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37287/jpm.v6i4.5266
Anemia merupakan gangguan medis yang paling umum dalam kehamilan dan anemia berat dikaitkan dengan masa perinatal yang buruk. Hal ini merupakan salah satu masalah kesehatan paling penting pada wanita usia 18-45 tahun di dunia. Pengetahuan ibu hamil tentang anemia, nutrisi yang kaya zat besi dan asam folat selama kehamilan sangat dibutuhkan untuk memastikan kehamilan yang baik dan memiliki pengaruh besar pada kadar hemoglobin. Upaya penanggulangan anemia telah banyak dilakukan, tetapi belum menunjukkan penurunan yang berarti. Sehingga diharapkan dengan adanya pendidikan kesehatan tentang enemia pada masa kehamilan dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil tetang pentingnya kesehatan saat mengalami kehamilan, baik itu bagi ibu maupun janin yang ada dalam kandungannya. Target pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan ibu hamil dalam penatalaksanaan dan pencegahan anemia saat masa kehamilan. Metode kegiatan dilaksanakan dengan cara memberikan penyuluhan atau edukasi pada ibu hamil melalui kelas ibu hamil. Kegiatan dilaksanakan selama 2 hari dengan waktu pemberian penyuluhan selama 60 menit setiap kali pertemuan dengan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan sebanyak 35 peserta. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman ibu hamil tentang anemia dan pencegahannya, hal ini dibuktikan dengan tingkat pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan sebanyak 74% pengetahuan kurang dan setelah dilakukan penyuluhan terjadi peningkatan sebanyak 77 % pengetahuan baik. Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk program pendidikan kesehatan, sebagai upaya meningkatkan pengetahuan ibu dalam penatalaksanaan dan pencegahan anemia saat masa kehamilan, sehingga program ini dapat bersinergi dan berkesinambungan dalam mencegah angka kematian ibu.
HUBUNGAN KETEPATAN WAKTU PEMBERIAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PRE OPERASI DENGAN KEJADIAN INFEKSI LUKA OPERASI BEDAH UMUM
Hemiati, Nur;
Kusyairi, Achmad;
Hartono, Dodik
JURNAL MEDICAL P-ISSN : 2685-7960 e-ISSN : 2685-7979 Vol 4 No 2 (2024): OKTOBER
Publisher : NHM PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36089/jm.v4i2.1216
Prophylactic antibiotics are antimicrobials used to prevent infection. Antibiotics are given 30 to 60 minutes before the skin incision. Incidence of surgical wound infection can be prevented by administering prophylactic antibiotics appropriately. However, in practice there is often a delay in the time of administration. This study aims to determine the relationship of timely administration of preoperative prophylactic antibiotics with the incidence of general surgical wound infections in Pasirian General Hospital. The research design used in this study was analytic observational with a retrospective approach. The sampling technique used was accidental sampling. Data were taken from pre- and post-surgery patients at the Pasirian General Hospital with the instrument used being an observation sheet. The sample studied were 34 respondents. The results of this study indicate that the timeliness of giving prophylactic antibiotics was mostly in the right category for 21 respondents (61.7%) while the occurrence of infection was mostly in the category of no infection for 19 respondents (55.9%). Based on the Chis Quare test, a p value of 0.002 ˂ α (0.05), that there is a relationship between the timeliness of giving preoperative prophylactic antibiotics and the incidence of general surgical wound infections at Pasirian General Hospital. By giving prophylactic antibiotics on time, it is hoped that during the operation, the antibiotics in the target tissue will reach optimal levels to inhibit bacterial growth so that surgical wound infections do not occur.
The Effect Of Chest Percussion On The Reduction Of Additional Breath Sounds In Pneumonia Patients In The Bougenville Room Of Rumah Sakit dr. Haryoto Lumajang
Wahyu Widyanuari, Dwi Shanti;
Hartono, Dodik;
Abidin, Zainal
NURSING UPDATE : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan P-ISSN : 2085-5931 e-ISSN : 2623-2871 Vol 15 No 4 (2024): DESEMBER
Publisher : NHM PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36089/nu.v15i4.2432
Pneumonia is an acute inflammation of lung tissue caused by microorganisms, symptoms that appear such as increased temperature and can be accompanied by seizures, restlessness, cyanosis, shortness of breath, and productive coughing, so that proper treatment is needed to remove sputum that accumulates in the airways, one of which is chest physiotherapy with the Chest Percussion method. The purpose of this study is to determine the effect of Chest Percussion on the decrease in additional breath sounds in pneumonia patients in the bougenville room of Rumah Sakit dr. Haryoto Lumajang. The design of this study was a pre-experimental study using a one-group pretest-posttest approach using standard operating procedures on chest percussion and observation sheets for additional breathing sounds. The statistical test used was the wilcoxon test, with a research sample of 31 respondents taken by the accidental sampling method from July 31 until August 30, 2024. The results in this study showed that of the 20 (64.5%) respondents with missing ronkhi when coughing/inhaling before the Chest Percussion action, there were 18 (90%) respondents who at the time after the procedure changed to sound smooth ronkhi and the remaining 2 (10%) did not experience any change. Meanwhile, in 11 (35.5%) respondents who at the time before the Chest Percussion action heard a smooth ronkhi sound, 11 (100%) of the respondents after receiving the action changed to clear. The results of the Wilcoxon statistical test obtained a p-value of 0.000 (p < 0.05) which means that there is a significant influence between Chest Percussion on additional decrease of breathing sounds in pneumonia patients. The results of this study can be concluded that Chest Percussion can reduce sputum in pneumonia patients, with reduced sputum the sound of the ronkhi in pneumonia patients can be reduced. It can be recommended for hospitals that Chest Percussion is a guideline in treating pneumonia with additional sounds.