Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Uji Reliabilitas dan Validitas Instrumen Literasi Kesehatan Digital untuk Mahasiswa Program Sarjana: Test the Reliability and Validity of Digital Health Literacy Instruments for Undergraduate Student Programs Irfan Nafis Sjamsuddin; Dien Anshari
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i1.2902

Abstract

Latar belakang: Pengukuran literasi kesehatan belum banyak dilakukan di Indonesia, padahal literasi sebagai penanda pendahulu praktik masyarakat dalam melakukan hidup sehat. Ada berbagai instrumen pengukuran literasi kesehatan antara lain kuesioner literasi kesehatan - Health Literacy Scale-Eropean Union (HLS-EU) dan kuesioner literasi kesehatan digital - eHealth Literacy Scale (e-HEALS). Reliabilitas dan validitas kuesioner e-HEALS belum banyak diteliti di Indonesia. Tujuan: Menguji reliabilitas dan validitas kriteria instrumen literasi kesehatan digital (e-HEALS ) untuk mahasiswa. Metode: Metode penelitian deskriptif kuantitatif, desain potong lintang. Populasi seluruh mahasiswa Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat STIKes Dharma Husada, dengan kriteria inklusi aktif di bulan September 2022 dan memiliki WhatsApp. Kriteria ekslusi adalah mahasiswa semester satu yang belum mulai kuliah. Populasi berjumlah 186 mahasiswa, dengan sampel 130 mahasiswa. Analisis data menggunakan uji Cronbach Alpha dan uji korelasi Spearman. Hasil: Kuesioner e-HEALS maupun HLS-EU reliabel. Uji reliabilitas dengan Cronbach Alpha diperoleh hasil sebesar 0,789 (e-HEALS) dan 0,758 (HLS-EU). Pembuktian validitas kriteria e-HEALS dengan uji korelasi Spearman, hasilnya ada korelasi positif literasi kesehatan digital dengan literasi kesehatan pada mahasiswa (r=0,183 ; p=0,037). Kesimpulan: Kuesioner e-HEALS maupun HLS-EU reliabel, maka kuesioner tersebut dapat digunakan khususnya pada mahasiswa. Kuesioner e-HEALS valid, ditunjukan dengan adanya korelasi positif antara hasil e-HEALS dengan hasil HLS-EU pada mahasiswa.
Efek Kebiasaan Menyirih terhadap Kesehatan Gigi dan Mulut : Literature Review: The Effects of Betel Chewing Habits on Dental and Oral Health : Literature Review Tasyafiki Azraliani; Dien Anshari
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 5 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i5.3192

Abstract

Latar belakang: Perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut tidak terlepas dari kebiasaan yang dibentuk oleh tradisi dan budaya di masyarakat, seperti kebiasaan menyirih di nusantara. Studi terdahulu menunjukkan kebiasaan menyirih membawa efek samping bagi kesehatan gigi dan mulut. Tujuan: Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak dari kebiasaan menyirih terhadap kesehatan gigi dan mulut yang telah ditemukan dari penelitian-penelitian terdahulu. Metode: Tinjauan sistematis ini menggunakan pendekatan Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-analysis (PRISMA) dalam memilih artikel-artikel penelitian terdahulu. Artikel penelitian didapatkan dengan mengakses tiga database elektronik yaitu Science Direct, Pubmed dan Google Scholar, dengan menggunakan kata kunci “Betel Chewing AND Effect AND Oral Health” dengan pembatasan tahun terbit 2015-2022 dan kriteria inklusi artikel berfokus pada dampak dari kebiasaan menyirih serta tersedia naskah lengkap. Analisis tematik dilakukan pada 12 artikel yang memenuhi kriteria. Hasil: Secara umum, kebiasaan menyirih berdampak pada jaringan keras dan jaringan lunak gigi dan mulut. Dampak terhadap jaringan keras meliputi ragam masalah gigi (seperti diskolorasi, abrasi, atrisi, dan karies), masalah jaringan periodontal (seperti periodontitis, clinical attachment loss, dan tooth loss), serta masalah sendi rahang (seperti temporomandibular joint disfunction syndrome). Sementara dampak pada jaringan lunak meliputi masalah gingiva, xerostomia, lesi oral pra-kanker, dan kanker mulut. Adapun faktor-faktor yang ditemukan berhubungan dengan dampak dari kebiasann menyirih antara lain adalah durasi dan frekuensi menyirih, serta pengetahuan akan bahaya dari kebiasaan menyirih. Kesimpulan: Kebiasaan menyirih memiliki beragam dampak pada kesehatan gigi dan mulut. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mendalami persepsi masyarakat di wilayah yang rentan dengan kebiasaan menyirih untuk mengembangkan program edukasi mengenai bahaya dari kebiasaan menyirih yang tepat sasaran.
Hubungan antara Pengetahuan dan Perilaku Kesehatan Gigi dengan Tingkat Karies pada Anak Usia 12 Tahun : Literature Review: The Relationship between Oral Health Knowledge and Behaviour with Dental Caries in 12-Year- Old Children : Literature Review Karina Friadita; Dien Anshari
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 6 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i6.3206

Abstract

Latar Belakang: Karies gigi atau gigi berlubang menjadi penyebab penyakit gigi dan mulut tertinggi di Indonesia. Karies gigi dapat terjadi pada semua golongan umur, termasuk anak-anak sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu aktivitas proses belajar mengajar di sekolah. Tujuan: Penelitian ini berdasarkan tinjauan sistematis atas studi terdahulu yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi dengan tingkat karies pada anak usia 12 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan 4 mesin pencari untuk mengumpulkan artikel, yaitu Scopus, Science Direct, Taylor & Francis, dan JSTOR. Pencarian artikel dilakukan berdasarkan kata kunci: “12 years old”, “Oral Health Knowledge”, “Behaviour”, “Dental Caries”, dan “DMF-T Index”. Dari pencarian, didapatkan hasil 338 artikel dan terdapat 6 artikel yang di review dalam tinjauan ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah systematic review dengan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis). Hasil: Pada anak usia 12 tahun, telah ditemukan pengalaman kejadian karies atau gigi berlubang. Berdasarkan artikel penelitian dengan desain studi kuantitatif, ditemukan bahwa pengetahuan dan perilaku terkait kesehatan gigi berpengaruh terhadap kejadian karies. Terdapat beberapa faktor yang juga turut mempengaruhi pengetahuan dan perilaku yang dimiliki seseorang. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang positif antara pengetahuan dan perilaku kesehatan gigi dengan tingkat karies pada anak usia 12 tahun. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan dan perilaku yang mempengaruhi karies pada anak.
Stigma Sosial dan Kualitas Hidup Orang dengan Kusta di Indonesia : Literature Review: Social Stigma and Quality of life in People with Leprosy in Indonesia : Literature Review Angela Karenina Sastroamidjoyo; Dien Anshari
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 11 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i11.3678

Abstract

Latar belakang: Stigma sosial menyebabkan penurunan kualitas hidup orang dengan kusta di Indonesia. Penelitian mengenai stigma sosial pada orang dengan kusta masih bervariasi dalam hal populasi, metode pengumpulan data dan analisisnya. Tujuan: Untuk mengkaji secara komprehensif dan mensintesis penelitian yang ada terkait stigma sosial dan kualitas hidup yang dialami oleh orang dengan kusta. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literatur review dan berpedoman pada PRISMA dalam memilih artikel-artikelnya. Pencarian artikel dilakukan melalui database Google Scholar dengan menggunakan kata kunci social stigma, mental health, quality of life, dan Indonesia's leprosy patient. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi tahun terbit 1 Januari 2022-31 Mei 2023, tipe penelitian cross sectional, case report, case series, cohort, dan pendekatan kualitatif; bahasa yang digunakan Indonesia dan Inggris, serta jurnal open access, free, fulltext, dan semua studi. Artikel terpilih kemudian ditinjau secara naratif berdasarkan tema yang telah ditentukan. Hasil: Dari 11 artikel yang ditinjau, ditemukan ragam stigma yang melekat pada orang dengan kusta, diantaranya penolakan sosial, eksklusi dan diskriminasi. Stigma pada orang dengan kusta juga diketahui ada hubungannya dengan kesehatan mental mereka, seperti depresi, kecemasan, dan kemarahan. Stigma juga menurunkan kualitas hidup orang dengan kusta dalam hal pekerjaan, pernikahan, dan partisipasi sosialnya. Kesimpulan: Literature review ini menemukan beragam stigma sosial pada orang dengan kusta di Indonesia dan hubungannya dengan masalah kesehatan mental serta penurunan kualitas hidup mereka. Untuk itu, diperlukan edukasi mengenai kusta kepada masyarakat dan konseling kesehatan mental bagi orang dengan kusta.
Wawancara Kognitif untuk Adaptasi Instrumen Literasi Kesehatan Digital untuk Remaja di Gorontalo: Using Cognitive Interview to Adapt Electronic Health Literacy Scale for Adolescents in Gorontalo Midyawati Ahmad; Dien Anshari
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 11 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i11.4030

Abstract

Latar belakang: Tingkat literasi kesehatan yang rendah dapat menyebabkan rendahnya partisipasi dalam pengobatan, alpa mengambil keputusan tentang kesehatannya, dan rendahnya kapasitas mengelola penyakitnya secara mandiri. Hingga saat ini masih minim pengukuran tingkat literasi kesehatan digital pada remaja di Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi instrumen literasi kesehatan digital (eHEALS) versi Bahasa Inggris ke dalam bahasa dan konteks sosial budaya remaja di Provinsi Gorontalo, Indonesia. Metode: Instrumen eHEALS diadaptasi melalui dua cara, yaitu 1) Translasi ke dalam Bahasa Indonesia dan translasi ulang (back translation) ke dalam Bahasa Inggris, 2) Wawancara kognitif untuk menilai validitas konten eHEALS dengan menggunakan teknik probing dan thinking aloud kepada 10 remaja usia 16-18 tahun. Hasil wawancara kognitif dianalisis berdasarkan kejelasan, asumsi, pengetahuan, dan sensitivitas/bias dari setiap butir pertanyaan untuk mendapatkan instrumen eHEALS versi adaptasi yang siap guna. Hasil: Proses terjemahan dan terjemahan ulang tidak menemukan perbedaan makna yang berarti. Namun, wawancara kognitif mengidentifikasi beberapa masalah seperti susunan kata yang kurang jelas, istilah teknis yang tidak dipahami, kosakata yang membingungkan dan sulit dimengerti, serta masalah yang terkait dengan asumsi yang berpotensi tidak tepat. Tidak ada masalah yang muncul terkait sensitivitas bahasa. Modifikasi dilakukan terhadap item-item yang bermasalah, baik dari sisi bahasa, struktur kalimat, maupun pilihan kata sehingga dapat dipahami oleh sasaran remaja di Provinsi Gorontalo, Indonesia. Kesimpulan: Instrumen eHEALS yang telah diadaptasi dapat digunakan untuk mengukur literasi kesehatan digital pada remaja di Gorontalo. Penelitian selanjutnya hendaknya melakukan validitas konstruk atas instrumen ini dengan instrumen yang telah baku.
Determinan Sosial yang Berhubungan dengan Tingkat Literasi Kesehatan Mental Mahasiswa S1 Reguler Angkatan 2018 Universitas Andalas Provinsi Sumatera Barat: Social Determinants Related to Mental Health Literacy Level of Regular Undergraduate Students Class of 2018 Andalas University West Sumatra Province Dewi Ayumaruti; Dien Anshari; Evi Martha
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 12 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i12.4049

Abstract

Latar belakang: Literasi kesehatan mental merupakan pengetahuan dan keyakinan tentang gangguan jiwa yang membantu pengenalan, pengelolaan, atau pencegahannya dan dapat digunakan untuk melakukan tindakan bermanfaat bagi kesehatan mental individu. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan mental mahasiswa program S1 reguler di Universitas Andalas dengan faktor - faktor yang berhubungan. Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder Studi Literasi Kesehatan 2019 dengan menggunakan sampel mahasiswa angkatan 2018 dari 15 fakultas di Universitas Andalas (n=363). Pengukuran literasi kesehatan mental dilakukan menggunakan instrumen Mental Health Literacy Scale (MHLS) yang telah diadaptasi kedalam konteks budaya dan Bahasa Indonesia. Hasil: Rata-rata skor tingkat literasi kesehatan mental yang relatif rendah yaitu 59,96 dalam skala 1-100. Analisis bivariat menunjukkan bahwa determinan yang berasosiasi signifikan dengan literasi kesehatan mental adalah jenis kelamin, suku, status tempat tinggal, status pacaran, rumpun ilmu, dan kepemilikan asuransi kesehatan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan tingkat literasi kesehatan mental adalah rumpun ilmu, kepemilikan asuransi kesehatan dan status pasangan/pacaran. Yang merupakan variabel dominan adalah rumpun ilmu kesehatan. Kesimpulan: Diperlukan intervensi untuk meningkatkan literasi kesehatan mental yang berfokus pada topik yang terkait dengan mahasiswa laki – laki dan mahasiswa non kesehatan melalui peningkatan edukasi serta pengembangan dan pemanfaatan pusat informasi kesehatan mental di Universitas Andalas.
The Life Experiences of Female Survivors of Intimate Partner Violence in Abortion Decisions: A Qualitative Study in DKI Jakarta and Yogyakarta 2019–2020 Bethani Putri Jatusari; Dien Anshari; Heru Suparno; Indriana Simbolon; Robbiyani Ilma
Jurnal Dunia Kesmas Vol 15, No 1 (2026): Volume 15 Nomor 1
Publisher : Persatuan Dosen Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v15i1.24341

Abstract

Abstrak: Studi kualitatif eksploratif ini mengeksplorasi pengalaman hidup perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terkait dengan keputusan aborsi, bertujuan untuk mengidentifikasi faktor pendorong KDRT dan kehamilan yang tidak diinginkan, proses pengambilan keputusan aborsi, dampak psikososial, dan kebutuhan dukungan, untuk memberikan informasi bagi intervensi berbasis bukti seperti skrining KDRT dalam layanan keluarga berencana dan pendidikan yang peka gender. Dilakukan di Jakarta dan Yogyakarta, Indonesia (2019–2020), studi ini melibatkan wawancara semi terstruktur mendalam dengan 40 perempuan usia reproduktif (21 di Jakarta, 19 di Yogyakarta) yang direkrut melalui pengambilan sampel bertujuan dan snowball. Analisis tematik mengungkapkan prevalensi KDRT yang cukup tinggi (total 12 kasus, terutama pelecehan verbal psikologis, kontrol perilaku, kemarahan berulang) dan aborsi yang diinduksi terbatas (6 kasus). Hubungan KDRT dan aborsi bersifat tidak langsung, dimediasi oleh paksaan reproduksi, penghentian kontrasepsi karena trauma atau tekanan pasangan, dan peningkatan risiko kehamilan yang tidak diinginkan. Norma agama yang kuat dan stigma sosial seringkali menghalangi aborsi meskipun terjadi kekerasan. Temuan ini menyoroti kerentanan ganda perempuan terhadap kesehatan reproduksi di lingkungan yang restriktif, menekankan perlunya intervensi yang peka terhadap gender, termasuk skrining rutin kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam perencanaan keluarga dan pendidikan yang mempromosikan otonomi reproduksi.
ASSOCIATION BETWEEN SOCIAL DETERMINANTS OF HEALTH AND TOBACCO USE IN INDONESIAN ADOLESCENTS Shinta Restyana Widya; Dien Anshari; Evi Martha; Natalia Desiani; Yuni Syahfitri
Indonesian Journal of Health Administration (Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia) Vol. 14 No. 1 (2026): June
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jaki.v14i1.2026.72-88

Abstract

Background: Tobacco use among adolescents remains a critical public health issue in Indonesia, contributing to long-term health risks and shaped by complex social factors. Understanding these influences is essential for effective prevention strategies. Aims: This study aims to identify the Social Determinants of Health (SDOH) associated with tobacco use among Indonesian adolescents aged 10–19 years, to support evidence-based interventions and policymaking. Methods: A quantitative cross-sectional study was conducted using secondary data from the 2023 Survei Kesehatan Indonesia (SKI), involving 126.543 adolescent respondents. Data analysis included univariable, bivariable (chi-square test), and multivariable (multiple logistic regression) approaches to explore associations between SDOH variables and tobacco use. Results: Ten SDOH variables showed significant associations with tobacco use: male gender, older age, higher education, employment, marital status, lack of health insurance, low socioeconomic status, receipt of social assistance, daily exposure to secondhand smoke, and proximity of healthcare facilities to district/city levels. In contrast, ownership of the KKS and residential area type (urban or rural) were not significantly associated.. Conclusion: SDOH significantly influence tobacco use among adolescents in Indonesia. These findings highlight the urgent need for integrated, community-based policies and interventions addressing social disparities to reduce youth tobacco consumption.
Efektivitas Komunikasi Perubahan Sosial dan Perilaku dalam Peningkatan Pengetahuan Gizi Remaja: Scoping Review Maulidiyanti, Mareta; Hawadi, Lydia Freyani; Anshari, Dien
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 9, No 4 (2024): November
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.101643

Abstract

Latar Belakang: Masa remaja perempuan merupakan masa krusial dalam mengembangkan pola makan bergizi yang berdampak pada kesejahteraan reproduksi di masa depan. Upaya preventif melalui edukasi gizi yang efektif khususnya pada remaja yang memiliki peran penting pada kualitas sumber daya manusia sangat krusial untuk dilakukan dalam jangka panjang. Namun, studi evaluasi berbagai pendekatan komunikasi perubahan sosial dan perilaku belum komprehensif sehingga menunjukkan pentingnya penelitian dibidang ini.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana intervensi Komunikasi Perubahan Sosial dan Perilaku (KPSP)/Social Behavior Change Communication (SBCC) dengan berbagai platform dapat  meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja perlunya gizi seimbang, serta mendorong penerapan kebiasaan makan sehat.Metode: Penelitian menggunakan metode scoping review yang dilakukan berdasarkan pedoman PRISMA. Terdapat 1142 artikel teridentifikasi diawal. Setelah ekstraksi dilakukan dengan melihat relevansi maka 13 artikel dipilih untuk dianalisis.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa pendidikan gizi berbasis media sosial dan booklet menjadi platform yang paling efektif untuk menjangkau remaja, sementara pendekatan berbasis komunitas memberikan dampak yang lebih mendalam melalui dukungan personal.Kesimpulan: Penelitian ini menemukan bahwa penanganan  KPSP, yang diterapkan melalui berbagai platform secara efektif mendorong perubahan positif dalam perilaku melalui penggunaan pesan dan intervensi yang terfokus melalui berbagai media.