Claim Missing Document
Check
Articles

Gambaran Work Engagement Pada Karyawan PT X (Perusahaan Manufaktur) Di Tangerang Khaira, Dhanisa; Fahlevi, Reza; Basaria, Debora
Psikologi Prima Vol. 7 No. 1 (2024): Psikologi Prima
Publisher : unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/psychoprima.v7i1.5101

Abstract

PT X is one of the largest companies in Indonesia engaged in manufacturing and is located in Tangerang. The development of PT X does not escape the role of its human resources in being able to continue to compete with other similar companies. For this reason, human resources are an asset for the Company and play an important role because they will affect the development and productivity of the organization. At PT X, some employees show that they enjoy their work, and some of them feel very proud and attached, but others look less excited when working. Work engagement is one of the things that influence it. Work engagement is defined as the extent to which employees psychologically feel bound and connected to their work. Work engagement is characterized by vigor, dedication, and absorption. This study uses quantitative methods to look at work engagement in employees at PT X. Participant data was obtained through the Utrecht Work Engagement Scales questionnaire consisting of 17 items (UWES-17). Participants in this study amounted to 106 employees at PT X aged 21-55 years. The results showed that PT X employees were classified as high (M = 4.83) and had high scores in each dimension, with the highest scores in the dimensions of dedication (M = 5.21), vigor (M = 4.84), and absorption (M = 4.43). These results show that some PT X employees have high work engagement. Thus, it can have a positive impact on the success of the Company.
PENERAPAN PELATIHAN PENINGKATAN KEJUJURAN, PERCAYA DIRI DAN KEPEDULIAN KEPADA ANAK PANTI ASUHAN X Romansa, Chintya; Cristina Ivanka, Nadine; Basaria, Debora
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 3 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i3.26139

Abstract

Pelatihan ini dirancang dengan tujuan meningkatkan sifat kejujuran, kepedulian dan rasa percaya diri pada anak panti asuhan X. Panti asuhan X sebagai mitra mengeluhkan bahwa terdapat 15 anak usia 8 - 15 tahun menampilkan perilaku berbohong, mencuri, tidak acuh, melanggar peraturan, dan tidak percaya diri. Maka dari itu, penulis dan tim merancang program pelatihan sebagai bagian dari kegiatan MBKM untuk dapat membantu mitra yaitu panti X dalam meningkatkan kejujuran, kepercayaan diri dan kepedulian pada anak panti X. Sebelum melakukan kegiatan pelatihan, penulis dan tim lebih dulu melakukan pengumpulan data untuk mengetahui kondisi dari anak-anak di panti (pretest). Setelah itu dilakukan psikoedukasi berupa pelatihan yang mengambil bentuk mini seminar dan juga permainan yang meliputi topik berkaitan dengan kejujuran, percaya diri, dan peduli. Setelah itu dilakukan posttest untuk mengetahui hasil kegiatan pelatihan. Didapatkan hasil terdapat peningkatan kejujuran, kepedulian dan sikap percaya diri pada anak panti asuhan X. Hal ini ditandai adanya peningkatan pada ketiga aspek yaitu kejujuran, kepedulian, dan kepercayaan diri. Sebelum diberikan pelatihan hasil rata-rata kejujuran 2.68 setelah diberi pelatihan terjadi peningkatan sebesar 0.15 menjadi 2.83. Hasil rata-rata percaya diri dari 2.5 terjadi peningkatan sebesar 0.19 sehingga menjadi 2.69. Kemudian peduli dari 2.46 terjadi kenaikan sebesar 0.05 menjadi 2.51.
PENERAPAN PELATIHAN PENINGKATAN MOTIVASI KERJA PADA KINERJA TERAPIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS KLINIK X Jollyn, Jollyn; Cynthia, Liani; Callista, Queeny; Basaria, Debora
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 3 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i3.26141

Abstract

Klinik X merupakan klinik yang menyediakan layanan konsultasi dan tes psikologi, serta tempat terapi anak berkebutuhan khusus di Jakarta Barat. Klinik X memiliki 6 terapis dengan keahlian yang berbeda-beda, diantaranya adalah terapis edukasi, terapis listening, terapis wicara, dan terapis okupasi. Klinik X sudah berdiri semenjak tahun 1986 dan memiliki lebih dari 30 klien per harinya. Pada klinik tersebut ditemukan bahwa para terapis kurang menunjukkan motivasi kerja yang baik dan produktivitas menurun semenjak COVID-19. Maka dari itu, terdapat kebutuhan dari pengelola untuk dapat membuat para terapis meningkatkan kinerja. Terkait dengan kegiatan MBKM, maka penulis dan tim bermaksud membantu kebutuhan dari klinik X dengan melakukan pelatihan peningkatan motivasi kerja pada terapis anak berkebutuhan khusus di klinik X dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan dan kinerja terapis dalam menjalankan peran dan fungsi mereka di klinik. Pelatihan ini didahului dengan mengenali lebih dulu kondisi kinerja dari para terapis. Penulis melakukan penelitian kecil kepada 6 terapis. Pre-test dilakukan dengan memberikan alat ukur motivasi kerja dari Herzberg (2003). Data diolah dengan menggunakan statistik deskriptif melalui SPSS 20. Hasil pre-test menujukkan skor motivasi kerja 6 terapis berada pada kategori tinggi (M = 3,23). Kemudian pelatihan berjalan selama 5 sesi dengan mengangkat berbagai materi seperti prestasi dan motivasi kerja, pengembangan diri, mindset, stress management, dan goal setting. Setelah diberikan pelatihan peningkatan motivasi kerja dan dilakukan post-test didapatkan hasil terdapat peningkatan motivasi kerja pada terapis di klinik X (M = 3,32). Sehingga disimpulkan penerapan pelatihan peningkatan motivasi kerja berperan efektif membantu motivasi kerja para terapis di klinik X.
PENERAPAN PELATIHAN PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI PADA ANAK-ANAK MIDDLE CHILDHOOD DI PANTI ASUHAN X Putri, Marissa; Prahayuningtyas, Fifian; Basaria, Debora
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 3 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i3.26146

Abstract

Kepercayaan diri adalah salah satu aspek terpenting dalam hidup untuk menjalankan kehidupan sehari-hari. Kepercayaan merupakan suatu aspek yang harus dimiliki semua orang. Sejak anak berusia dini, mereka harus dilatih untuk mengenal tentang pribadi mereka dan cara menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri mereka. Saat ini banyak ditemukan anak-anak yang sudah merasa dirinya tidak mampu dalam hal yang sebenarnya mereka ingin kuasai tetapi karena mereka minim akan pengetahuan tentang kepercayaan diri, jadi anak-anak merasa insecure untuk menunjukkan kelebihan mereka sendiri. ​​Kegiatan MBKM ini bertujuan untuk menerapkan pelatihan yang dapat meningkatkan kepercayaan diri anak-anak yang berada di Panti Asuhan X dari kelas 1 hingga 6 SD yang melibatkan 11 anak perempuan. Sebelum dilakukan pelatihan terlebih dahulu diberikan pre-test yang mengukur kepercayaan diri anak dengan alat ukur Self Confidence dari Karunta (2019). Hasil pre-test menunjukkan tingkat kepercayaan diri anak di Panti Asuhan X adalah berada pada kategori sedang dengan rata-rata 80,44. Setelah dilihat dari hasil test, penulis mendapati bahwa dimensi kemandirian pada variabel Self Confidence memiliki rata-rata rendah. Oleh karena itu sebagai bagian dari kegiatan MBKM, penulis dan tim memberikan pelatihan dalam bentuk psikoedukasi berupa seminar dan berbagai macam kegiatan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian. Kemudian penulis melakukan post-test dan didapatkan hasil tingkat kepercayaan diri anak di Panti Asuhan X mengalami peningkatan yaitu berada pada kategori sedang dengan rata-rata 82,44. Dengan kata lain kegiatan pelatihan bermanfaat membantu meningkatkan kepercayaan diri anak Panti Asuhan X.
Pengaruh Tingkat Religiositas Terhadap Psychological Well-Being Narapidana Kasus Narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Jakarta Yonastasya, Shelomita; Setio, Hezlyn Zakeshia; Valentia, Eveline; Basaria, Debora
Jurnal Psimawa : Diskursus Ilmu Psikologi dan Pendidikan Vol 8 No 2 (2025): EDISI 14
Publisher : Prodi Psikologi- Fakultas Psikologi & Humaniora - Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36761/jp.v8i2.5973

Abstract

Life in prison often causes psychological distress for prisoners, such as difficulty accepting themselves and a sense of helplessness. Religiosity can be a factor that helps face these challenges and improve psychological well-being. This study aims to determine the significant influence between religiosity and psychological well-being in prisoners of narcotics cases. This quantitative study involved 115 male prisoners, with data collection using non-probability sampling method and analyzed through IBM SPSS 27. The instruments used were The Centrality of Religiosity Scale (? = .914) and Psychological Well-Being Scale (? = .779). The regression test results show that religiosity has an effect of 18.1% on the psychological well-being of prisoners in the Jakarta Narcotics Prison. This finding shows that religiosity is one important aspect in supporting psychological well-being, although there are other factors that play a role.
Hubungan Nilai Moral dengan Kualitas Pertemanan pada Mahasiswa Julian, Welvin; Basaria, Debora
Arus Jurnal Pendidikan Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajup.v5i3.1941

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai moral dan kualitas pertemanan pada mahasiswa. Sebanyak 183 mahasiswa berpartisipasi dengan mengisi Moral Foundations Questionnaire (MFQ) dan Friendship Quality Scale (FQS). Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Spearman karena kedua variabel tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara nilai moral dan kualitas pertemanan (r = 0.776, p < 0.01). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi nilai moral, terutama aspek prososial seperti kepedulian dan keadilan, semakin tinggi pula kualitas pertemanan yang dirasakan mahasiswa. Secara deskriptif, kedua variabel berada pada kategori tinggi. Analisis tambahan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nilai moral maupun kualitas pertemanan berdasarkan usia, jenis kelamin, semester, fakultas, tinggal bersama dengan, agama, dan suku bangsa. Namun, kualitas pertemanan berbeda signifikan berdasarkan usia, dengan usia 22 tahun menunjukkan skor tertinggi. Penelitian ini menegaskan bahwa nilai moral merupakan faktor penting dalam pembentukan kepercayaan, kedekatan, dan dukungan sosial dalam hubungan teman sebaya. Penelitian selanjutnya diharapkan melibatkan sampel dengan rentang usia lebih luas serta menggunakan pendekatan mixed methods untuk memahami dinamika pertemanan secara lebih mendalam.
Hubungan antara Keterlibatan Ayah dengan Subjective Well-Being pada Perempuan Dewasa Awal Surjana, Cindy Aurielle; Basaria, Debora
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.1922

Abstract

Dewasa awal merupakan tahap perkembangan yang berlangsung setelah masa remaja, individu mulai memasuki kehidupan mandiri, mengambil tanggung jawab atas keputusan pribadi, sosial, dan ekonomi, serta membangun hubungan yang lebih matang. Pada fase ini Perempuan sering menghadapi tekanan psikologis yang berkaitan dengan tuntutan akademik, sosial, dan keluarga, sehingga kehadiran ayah yang terlibat secara emosional dan sosial diyakini dapat memberikan rasa aman, dukungan, serta kepercayaan diri yang berdampak positif terhadap kesejahteraan subjektif pada perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan ayah dengan subjective well-being pada perempuan dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan partisipan perempuan berusia 18 tahun hingga 25 tahun yang tinggal bersama ayah. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan kuesioner disebar secara daring di beberapa platform sosial media yang peniliti miliki. Instrumen yang digunakan meliputi Perceived Father Involvement Inventory (PFII) dari Saliha dan Jayan (2018) untuk mengukur keterlibatan ayah, serta Satisfaction with Life Scale (SWLS) dari Diener (2012) untuk mengukur subjective well-being. Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. Hasil penelitian diharapkan menunjukkan adanya hubungan positif antara keterlibatan ayah dan subjective well-being, yang berarti semakin tinggi keterlibatan ayah, maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan subjektif perempuan dewasa awal. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian psikologi keluarga, serta menjadi masukan praktis bagi orang tua dan pendidik dalam memperkuat peran ayah dalam mendukung kesejahteraan psikologis anak perempuan.
Fear of Missing Out sebagai Prediktor Self-Esteem pada Dewasa Awal yang Belum Memiliki Pasangan Budiono, Richard Febrian; Basaria, Debora
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.1932

Abstract

Penggunaan media sosial yang semakin intens pada dewasa awal berpotensi memunculkan fear of missing out (FoMO), terutama ketika individu melihat pengalaman sosial maupun romantis orang lain. FoMO dipahami sebagai rasa cemas atau takut tertinggal dari momen berharga yang dialami orang lain, dan kondisi ini kerap diasumsikan dapat memengaruhi self-esteem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh FoMO terhadap self-esteem pada dewasa awal yang belum memiliki pasangan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 201 dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial dan belum memiliki pasangan, kemudian dilakukan pengecekan kelayakan data sehingga diperoleh 129 data yang dianalisis. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan Fear of Missing Out Scale (FOMOS) dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). Karena data tidak berdistribusi normal, hubungan antarvariabel diuji menggunakan korelasi Spearman, serta dilanjutkan dengan regresi linear sederhana untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara FoMO dan self-esteem (r = 0,027; p = 0,759). Analisis regresi juga memperlihatkan bahwa FoMO tidak berpengaruh signifikan terhadap self-esteem (F = 0,091; p = 0,764) dengan kontribusi yang sangat kecil (R² = 0,001). Temuan ini menegaskan bahwa FoMO bukan prediktor utama self-esteem pada dewasa awal yang belum memiliki pasangan, sehingga self-esteem pada kelompok ini cenderung dipengaruhi oleh variabel lain di luar FoMO.
Hubungan Nilai Moral dengan Kualitas Pertemanan pada Mahasiswa Julian, Welvin; Basaria, Debora
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.1935

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara nilai moral dan kualitas pertemanan pada mahasiswa. Nilai moral diukur menggunakan Moral Foundations Questionnaire (MFQ), sedangkan kualitas pertemanan diukur menggunakan Friendship Qualities Scale (FQS). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan mahasiswa pada rentang usia dewasa awal. Data dianalisis menggunakan teknik korelasi serta analisis tambahan untuk menguji perbedaan berdasarkan karakteristik demografis. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara nilai moral dan kualitas pertemanan. Analisis tambahan menunjukkan perbedaan signifikan kualitas pertemanan berdasarkan jenis kelamin, di mana mahasiswa perempuan melaporkan kualitas pertemanan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa laki-laki. Tidak ditemukan perbedaan signifikan berdasarkan karakteristik demografis lainnya. Temuan ini menunjukkan bahwa nilai moral, khususnya yang bersifat prososial, berperan penting dalam pembentukan hubungan pertemanan yang berkualitas pada mahasiswa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam kajian psikologi sosial dan perkembangan serta menjadi dasar pengembangan upaya untuk mendukung relasi pertemanan yang sehat di lingkungan perguruan tinggi.
Hubungan Self-Compassion dan Persepsi Cyber-Ostracism pada Mahasiswa Yang Aktif Menggunakan Media Sosial Instagram dan WhatsApp Tasrief, Rafly Anugrah M; Basaria, Debora
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.1913

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan persepsi cyber-ostracism pada mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial Instagram dan WhatsApp. Penelitian menggunakan desain kuantitatif non eksperimental  dengan metode purposive sampling. Penelitian ini melibatkan 248 mahasiswa berusia 18–24 tahun. Pengukuran self-compassion dilakukan menggunakan Self-Compassion Scale versi bahasa Indonesia, dan persepsi cyber-ostracism diukur menggunakan Cyber-Ostracism Scale. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman karena data tidak terdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-compassion dan persepsi cyber-ostracism (rs = -0.664, p= 0.000 < 0.05), yang menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat self-compassion lebih tinggi cenderung memiliki persepsi cyber-ostracism lebih rendah. Hasil uji beda mengindikasikan beberapa pola yang konsisten. Mahasiswa yang mulai menggunakan smartphone pada usia ≤ 10 tahun cenderung memiliki persepsi cyber-ostracism yang lebih tinggi. Selain itu, penggunaan media sosial dengan durasi kurang dari 2 jam per hari berkaitan dengan tingkat self-compassion yang lebih tinggi, sementara durasi penggunaan ≥ 5 jam per hari berkaitan dengan persepsi cyber-ostracism yang lebih tinggi. Temuan lainnya menunjukkan bahwa mahasiswa yang telah memiliki akun media sosial selama lebih dari 3 tahun cenderung memiliki tingkat self-compassion yang lebih rendah, sekaligus menunjukkan persepsi cyber-ostracism yang lebih tinggi. Selanjutnya, hasil uji beda juga memperlihatkan bahwa mahasiswa semester 7 memiliki tingkat self-compassion yang lebih rendah, serta mahasiswa yang tinggal bersama orang tua menunjukkan persepsi cyber-ostracism yang lebih tinggi.