Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pengaruh Tingkat Religiositas Terhadap Psychological Well-Being Narapidana Kasus Narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Jakarta Yonastasya, Shelomita; Setio, Hezlyn Zakeshia; Valentia, Eveline; Basaria, Debora
Jurnal Psimawa : Diskursus Ilmu Psikologi dan Pendidikan Vol 8 No 2 (2025): EDISI 14
Publisher : Prodi Psikologi- Fakultas Psikologi & Humaniora - Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36761/jp.v8i2.5973

Abstract

Life in prison often causes psychological distress for prisoners, such as difficulty accepting themselves and a sense of helplessness. Religiosity can be a factor that helps face these challenges and improve psychological well-being. This study aims to determine the significant influence between religiosity and psychological well-being in prisoners of narcotics cases. This quantitative study involved 115 male prisoners, with data collection using non-probability sampling method and analyzed through IBM SPSS 27. The instruments used were The Centrality of Religiosity Scale (? = .914) and Psychological Well-Being Scale (? = .779). The regression test results show that religiosity has an effect of 18.1% on the psychological well-being of prisoners in the Jakarta Narcotics Prison. This finding shows that religiosity is one important aspect in supporting psychological well-being, although there are other factors that play a role.
Hubungan Nilai Moral dengan Kualitas Pertemanan pada Mahasiswa Julian, Welvin; Basaria, Debora
Arus Jurnal Pendidikan Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajup.v5i3.1941

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai moral dan kualitas pertemanan pada mahasiswa. Sebanyak 183 mahasiswa berpartisipasi dengan mengisi Moral Foundations Questionnaire (MFQ) dan Friendship Quality Scale (FQS). Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Spearman karena kedua variabel tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara nilai moral dan kualitas pertemanan (r = 0.776, p < 0.01). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi nilai moral, terutama aspek prososial seperti kepedulian dan keadilan, semakin tinggi pula kualitas pertemanan yang dirasakan mahasiswa. Secara deskriptif, kedua variabel berada pada kategori tinggi. Analisis tambahan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nilai moral maupun kualitas pertemanan berdasarkan usia, jenis kelamin, semester, fakultas, tinggal bersama dengan, agama, dan suku bangsa. Namun, kualitas pertemanan berbeda signifikan berdasarkan usia, dengan usia 22 tahun menunjukkan skor tertinggi. Penelitian ini menegaskan bahwa nilai moral merupakan faktor penting dalam pembentukan kepercayaan, kedekatan, dan dukungan sosial dalam hubungan teman sebaya. Penelitian selanjutnya diharapkan melibatkan sampel dengan rentang usia lebih luas serta menggunakan pendekatan mixed methods untuk memahami dinamika pertemanan secara lebih mendalam.
Hubungan antara Keterlibatan Ayah dengan Subjective Well-Being pada Perempuan Dewasa Awal Surjana, Cindy Aurielle; Basaria, Debora
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.1922

Abstract

Dewasa awal merupakan tahap perkembangan yang berlangsung setelah masa remaja, individu mulai memasuki kehidupan mandiri, mengambil tanggung jawab atas keputusan pribadi, sosial, dan ekonomi, serta membangun hubungan yang lebih matang. Pada fase ini Perempuan sering menghadapi tekanan psikologis yang berkaitan dengan tuntutan akademik, sosial, dan keluarga, sehingga kehadiran ayah yang terlibat secara emosional dan sosial diyakini dapat memberikan rasa aman, dukungan, serta kepercayaan diri yang berdampak positif terhadap kesejahteraan subjektif pada perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan ayah dengan subjective well-being pada perempuan dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan partisipan perempuan berusia 18 tahun hingga 25 tahun yang tinggal bersama ayah. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan kuesioner disebar secara daring di beberapa platform sosial media yang peniliti miliki. Instrumen yang digunakan meliputi Perceived Father Involvement Inventory (PFII) dari Saliha dan Jayan (2018) untuk mengukur keterlibatan ayah, serta Satisfaction with Life Scale (SWLS) dari Diener (2012) untuk mengukur subjective well-being. Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. Hasil penelitian diharapkan menunjukkan adanya hubungan positif antara keterlibatan ayah dan subjective well-being, yang berarti semakin tinggi keterlibatan ayah, maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan subjektif perempuan dewasa awal. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian psikologi keluarga, serta menjadi masukan praktis bagi orang tua dan pendidik dalam memperkuat peran ayah dalam mendukung kesejahteraan psikologis anak perempuan.
Fear of Missing Out sebagai Prediktor Self-Esteem pada Dewasa Awal yang Belum Memiliki Pasangan Budiono, Richard Febrian; Basaria, Debora
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.1932

Abstract

Penggunaan media sosial yang semakin intens pada dewasa awal berpotensi memunculkan fear of missing out (FoMO), terutama ketika individu melihat pengalaman sosial maupun romantis orang lain. FoMO dipahami sebagai rasa cemas atau takut tertinggal dari momen berharga yang dialami orang lain, dan kondisi ini kerap diasumsikan dapat memengaruhi self-esteem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh FoMO terhadap self-esteem pada dewasa awal yang belum memiliki pasangan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 201 dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial dan belum memiliki pasangan, kemudian dilakukan pengecekan kelayakan data sehingga diperoleh 129 data yang dianalisis. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan Fear of Missing Out Scale (FOMOS) dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). Karena data tidak berdistribusi normal, hubungan antarvariabel diuji menggunakan korelasi Spearman, serta dilanjutkan dengan regresi linear sederhana untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara FoMO dan self-esteem (r = 0,027; p = 0,759). Analisis regresi juga memperlihatkan bahwa FoMO tidak berpengaruh signifikan terhadap self-esteem (F = 0,091; p = 0,764) dengan kontribusi yang sangat kecil (R² = 0,001). Temuan ini menegaskan bahwa FoMO bukan prediktor utama self-esteem pada dewasa awal yang belum memiliki pasangan, sehingga self-esteem pada kelompok ini cenderung dipengaruhi oleh variabel lain di luar FoMO.
Hubungan Nilai Moral dengan Kualitas Pertemanan pada Mahasiswa Julian, Welvin; Basaria, Debora
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.1935

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara nilai moral dan kualitas pertemanan pada mahasiswa. Nilai moral diukur menggunakan Moral Foundations Questionnaire (MFQ), sedangkan kualitas pertemanan diukur menggunakan Friendship Qualities Scale (FQS). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan mahasiswa pada rentang usia dewasa awal. Data dianalisis menggunakan teknik korelasi serta analisis tambahan untuk menguji perbedaan berdasarkan karakteristik demografis. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara nilai moral dan kualitas pertemanan. Analisis tambahan menunjukkan perbedaan signifikan kualitas pertemanan berdasarkan jenis kelamin, di mana mahasiswa perempuan melaporkan kualitas pertemanan yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa laki-laki. Tidak ditemukan perbedaan signifikan berdasarkan karakteristik demografis lainnya. Temuan ini menunjukkan bahwa nilai moral, khususnya yang bersifat prososial, berperan penting dalam pembentukan hubungan pertemanan yang berkualitas pada mahasiswa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam kajian psikologi sosial dan perkembangan serta menjadi dasar pengembangan upaya untuk mendukung relasi pertemanan yang sehat di lingkungan perguruan tinggi.