Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

The Role of rs6152 Allele and Non-Genetic Factors in Androgenetic Alopecia: A Pilot Study in the Indonesian Local Population Sidarta, Erick; Sari, Triyana; Nataprawira, Sari Mariyati Dewi; Andianto, Ivan Christian; Sajiwo, Damar
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 8 No. 6 (2024): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v8i6.1002

Abstract

Background: Androgenetic alopecia (AGA) is a common form of hair loss which inflicts progressive hair loss leading to various patterns. The cause of this disease is believed to be multifactorial, which is majorly attributed to genetic and non-genetic factors. This pilot study aimed to investigate the association of rs6152 allele, a SNP on AR gene, with AGA, as well as explore other contributing factors in the Indonesian local population. Methods: In this cross-sectional study, a total of 100 participants, which categorized into alopecia subjects and non-alopecia subjects, were enrolled for rs6152 SNPs detection. Anthropomorphic data such as height and weight, blood pressure and family history were obtained by measurement and questionnaire. Results: The study showed low frequency of individuals with rs6152 non-risk alleles (2%) and further analysis showed no significant association between rs6152 allele and AGA. However, familial history analysis revealed a strong association between family history and AGA risks. Additionally, age, gender, hypertension status and BMI were identified as significant factors associated (p-value < 0.05) with AGA. Conclusion: rs6152 was not a reliable genetic marker for AGA in the Indonesian local population. While familial history with AGA showed the inheritance pattern of autosomal dominant inheritance with sex limitation, non-genetic factors such as age, gender, hypertension status and BMI were strongly associated with AGA risk. This shows the complexity and multifactorial causes of AGA in the Indonesian local population.
Pengujian Dan Perbandingan Efektifitas Antimikroba Dari Hand Sanitizer In-House (Tahap Optimasi Kadar Etanol Terbaik untuk Membunuh Bakteri E. Coli.) S, Donatila Mano; Sidarta, Erick; Chris, Arlends
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11053

Abstract

ABSTRACT Hand hygiene is an easy way to prevent the transmission of various infectious diseases. The presence of hand sanitizer has a major impact on the ease of accessing hand hygiene. Hand sanitizer is an alternative to washing hands when water and soap are not available. However, it is important to evaluate the antimicrobial effect of hand sanitizers in the market and in-house products. This study conducted a comparative research by comparing different formulations of ingredients on bactericidal effect. This study focuses on hand sanitizer and the comparative concentration of ethanol and tea tree oil to eliminate E. coli bacteria. The best alcohol concentration was 70%, compared to absolute, 80%, and 60% and there was no difference in the effectiveness of the tested hand sanitizers. Hand sanitizers manufacturing is highly dependent on active ingredients and concentrations. It is important to be thoughtfull about choosing and making hand sanitizer, so that the product can have adequate function. Hand sanitizer with optimal content and effect can reduce the incidence of infectious diseases. Keywords: Antimicrobial, Ethanol, Hand Hygine, Hand Sanitizer  ABSTRAK Hand hygine merupakan cara mudah untuk mecegah transmisi berbagai macam penyakit menular. Hadirnya hand sanitizer memberikan dampak besar dalam kemudahan akses hand hygine. Hand sanitizer menjadi alternatif mencuci tangan saat tidak tersedianya air dan sabun. Meski demikian pentingnya untuk mengevaluasi efek antimikroba yang terkandung dalam hand sanitizer yang beredar di pasar maupun produk sendiri. Studi ini melakukan penelitian komparatif dengan membandingkan formulasi bahan yang berbeda terhadap efek bakterisidal. Penelitian ini berfokus pada hand sanitizer dan tahap perbandingan kadar etanol dan konsentrasi tea tree oil untuk membunuh bakteri E. coli. Konsentrasi alkohol terbaik berdara di angka 70%, dibandingkan kengan kadar absolut, 80%, dan 60% serta tidak didapatkan perbedaan efektivitas terhadap produk hand sanitizer yang diuji. Pembuatan Hand sanitizer sangat bergantung pada bahan aktif dan konsentasi. Pentingnya untuk memperhatikan aturan dalam memilih dan membuat hand sanitizer, agar produk bisa memiliki fungsi yang adekuat. Hand sanitizer dengan kandungan dan efek yang optimal mampu menurunkan kejadian infeksi menular.Kata Kunci: Antimikroba, Etanol, Hand Hygine, Hand Sanitizer
Cover Muka Sidarta, Erick
Ebers Papyrus Vol. 29 No. 1 (2023): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pentingnya Vaksinasi Influenza Rutin: Sebuah Pelajaran dari Data Evolusi Virus H3n2 di Indonesia Tahun 2005-2019 Anggasta, Giovani; Sidarta, Erick
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.803 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v8i2.11387

Abstract

Pentingnya Vaksinasi Influenza Rutin: Sebuah Pelajaran dari Data Evolusi Virus H3N2 di Indonesia Tahun 2005 – 2019. Virus H3N2 menyebabkan terjadinya salah satu pandemi sejak kemunculannya pada tahun 1968 yang mengakibatkan lebih dari satu juta kematian di seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh adanya evolusi virus, di mana pada evolusi tersebut terjadi perubahan pada gen hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA) sebagai dua glikoprotein permukaan yang berperan penting sebagai target utama dari sistem imun pejamu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya melakukan vaksinasi influenza rutin yang dibuktikan dari data evolusi virus H3N2 di Indonesia dengan melihat perubahan HA NA dan efeknya terhadap antigenisitas, di mana antigenisitas mempengaruhi kemampuan antibodi untuk mengenali virus influenza yang telah bermutasi. Terdapat 133 data HA dan 130 NA yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian yang dikumpulkan dari bank data GISAID, lalu diolah dengan metode in silico dengan pembuatan pohon filogenetik menggunakan software MEGA-X dan prediksi antigenisitas menggunakan server IEDB dan Vaxijen 2.0. Pada penelitian ini terdapat evolusi pada gen HA dan NA dari virus H3N2 di Indonesia dari tahun 2005 sampai 2019 yang mengakibatkan munculnya berbagai varian epitop yang berbeda dari epitop sekuens ancestor. Di mana terdapat penurunan antigenisitas pada data gen HA dan NA tahun 2019 jika dibandingkan dengan sekuens ancestor. Penelitian ini membuktikan bahwa penting untuk melakukan vaksinasi influenza secara berkala yang dibuktikan dari adanya evolusi virus H3N2 berdasarkan adanya perubahan pada HA dan NA yang mengakibatkan adanya penurunan antigenisitas, sehingga memungkinkan virus masih terus berevolusi.
The Role of rs6152 Allele and Non-Genetic Factors in Androgenetic Alopecia: A Pilot Study in the Indonesian Local Population Sidarta, Erick; Sari, Triyana; Nataprawira, Sari Mariyati Dewi; Andianto, Ivan Christian; Sajiwo, Damar
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 8 No. 6 (2024): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v8i6.1002

Abstract

Background: Androgenetic alopecia (AGA) is a common form of hair loss which inflicts progressive hair loss leading to various patterns. The cause of this disease is believed to be multifactorial, which is majorly attributed to genetic and non-genetic factors. This pilot study aimed to investigate the association of rs6152 allele, a SNP on AR gene, with AGA, as well as explore other contributing factors in the Indonesian local population. Methods: In this cross-sectional study, a total of 100 participants, which categorized into alopecia subjects and non-alopecia subjects, were enrolled for rs6152 SNPs detection. Anthropomorphic data such as height and weight, blood pressure and family history were obtained by measurement and questionnaire. Results: The study showed low frequency of individuals with rs6152 non-risk alleles (2%) and further analysis showed no significant association between rs6152 allele and AGA. However, familial history analysis revealed a strong association between family history and AGA risks. Additionally, age, gender, hypertension status and BMI were identified as significant factors associated (p-value < 0.05) with AGA. Conclusion: rs6152 was not a reliable genetic marker for AGA in the Indonesian local population. While familial history with AGA showed the inheritance pattern of autosomal dominant inheritance with sex limitation, non-genetic factors such as age, gender, hypertension status and BMI were strongly associated with AGA risk. This shows the complexity and multifactorial causes of AGA in the Indonesian local population.
Prevalence of MMP-1 rs1799750 Polymorphism in Androgenetic Alopecia: A Cross-Sectional Study in an Indonesia Population Andianto, Ivan Christian; Sajiwo, Damar; Sidarta, Erick
Molecular and Cellular Biomedical Sciences Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Cell and BioPharmaceutical Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21705/mcbs.v9i3.656

Abstract

Background: Matrix metalloproteinase-1 (MMP-1) is an enzyme responsible for degrading extracellular matrix (ECM) components, particularly collagen. Overexpression of MMP-1 can accelerate ECM degradation, contributing to various pathological conditions. The most studied polymorphism in the promoter region of the MMP-1 gene is rs1799750, which has been linked to several diseases in previous studies. Androgenetic alopecia (AGA) is a condition characterized by the progressive miniaturization of hair follicles, influenced by androgen signaling and ECM remodeling. This study aimed to investigate the prevalence of MMP-1 gene polymorphism and its potential association with AGA.Materials and methods: This study included 50 subjects diagnosed with AGA and 50 subjects without AGA. All subjects completed a questionnaire that included gender, age, BMI, and ethnicity. DNA was extracted from blood samples for genotyping of the MMP-1 rs1799750 gene. Genotyping was performed using the PCR-RFLP method with AluI as the restriction enzyme. For validation, several samples were sequenced at Apical Scientific Laboratory, Malaysia.Results: Among the 50 subjects with AGA, 9 had the 1G/1G genotype, 26 had the 1G/2G genotype, and 15 had the 2G/2G genotype. Similarly, among the 50 subjects without AGA, 8 had the 1G/1G genotype, 27 had the 1G/2G genotype, and 15 had the 2G/2G genotype. The allele frequencies of 1G and 2G in the AGA group were 0.44 and 0.56, respectively, while in the non-AGA group, they were 0.43 and 0.57, respectively. Chi-square analysis of AGA and MMP-1 genotype yielded a p-value of 0.96, indicating no significant association between AGA and the MMP-1 genotype.Conclusion: In this study, the association between the MMP-1 gene polymorphisms rs1799750 with AGA was not observed.Keywords: Androgenetic Alopecia, matrix metalloproteinase-1, polymorphisms, rs1799750
SEMBUH CEPAT DENGAN MENINGKATKAN KEMAMPUAN MERAWAT LUKA DI GEREJA KATOLIK SANTA PERAWAN MARIA RATU Sidarta, Erick; Triyana Sari; Bryan Anna Wijaya; Fiona Valencia Setiawan
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 1 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i1.33958

Abstract

Catholic church St. Mary the Virgin Queen is a catholic church at Kebayoran, South Jakarta. This church serves over 3.000 church members from the Kebayoran Baru, South Jakarta and Pasar Santa. Like other places of worship, this church regularly holds activities such as Mass and various celebrations. The preparations for these activities vary, including event set up and decorations. During these activities, if workers are not careful, accidents can occur, potentially leading to injuries. In general, wound is an opening in the skin, which serves as the body’s protective layer. This condition allows germs to enter the body and potentially cause an infection. Incorrect initial treatment of a wound, such as using toothpaste for burns, can worsen the condition of the wound. This treatment will only increase suffering and worsen the severity of tissue damage. Therefore, these activities aim to conduct wound care training at catholic church St. Mary the Virgin Queen, Block Q. In addition, this activity aims to enhance the understanding of church staff and volunteers, enabling them to help individual recover quickly from injuries and avoid complications. After completing this training, it is hoped that staff and volunteers will be equipped to provide accurate and appropriate initial wound care based on the type of the wound. ABSTRAK Gereja Katolik Santa Perawan Maria Ratu Blok Q adalah gereja Katolik yang berlokasi di Kebayoran Jakarta Selatan. Gereja ini melayani lebih dari 3000 jemaat dari area Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dan Pasar Santa. Seperti tempat ibadah pada umumnya gereja ini mengadakan kegiatan rutin seperti misa dan perayaan. Persiapan yang dilakukan pun beragam, mulai dari persiapan acara hingga dekorasi. Pada kegiatan yang dilakukan, bila pekerjanya kurang hati-hati maka bisa terjadi kecelakaan yang menimbulkan luka. Pada umumnya luka adalah terbukanya jaringan kulit yang merupakan lapisan pelindung tubuh. Kondisi ini menyebabkan masuknya kuman kedalam tubuh dan menyebabkan infeksi. Semakin besar dan dalam luka tersebut maka resiko infeksi menjadi lebih besar. Perawatan luka juga menentukan kesembuhan luka teresbut. Penanganan awal pada luka yang tidak benar dapat memperberat kondisi luka tersebut, seperti pada penanganan luka bakar yang menggunakan pasta gigi. Perlakuan ini hanya akan menambah penderitaan dan beratnya kerusakan jaringan. Tidak semua orang mengetahui penanganan luka yang benar, oleh karena itu diadakan pelatihan mengenai perawatan luka di gereja Katolik Santa Perawan Maria Ratu Blok Q. Selain untuk memberikan pengetahuan, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan staf dan aktivis di gereja tersebut sehingga orang yang mengalami luka dapat sembuh dengan cepat dan terhindar dari kecacatan. Setelah mengikuti pelatihan ini, diharapkan para staf dan aktivis di gereja tersebut dapat memberikan penangan awal luka yang benar dan sesuai dengan jenis luka.
KORELASI USIA DENGAN PENGETAHUAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL PADA SUATU KOMUNITAS LGBT (LESBIAN, GAY, BISEXUAL DAN TRANSGENDER) DI JAKARTA Winata, Raymond; Chris, Arlends; Valdo, Louis; Saputera, Monica Djaja; Sidarta, Erick
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i2.35850

Abstract

Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di kalangan populasi LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Pengetahuan adalah faktor protektif utama dalam pencegahan IMS, namun praktik yang tidak konsisten sering ditemukan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara usia dan tingkat pengetahuan mengenai IMS pada komunitas LGBT di Jakarta. Metode: Desain cross-sectional dan teknik purposive sampling digunakan dalam penelitian ini, data dikumpulkan dari 58 responden LGBT berusia ≥ 18 tahun melalui kuesioner daring, korelasi dianalisis menggunakan Spearman’s rank correlation. Hasil: Ditemukan korelasi positif signifikan antara usia dengan pengetahuan penyakit duh tubuh (r = 0,259; p = 0,049), pengetahuan seksual umum (r = 0,296; p = 0,024), dan pengetahuan HPV (r = 0,259; p = 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa individu usia lebih tua cenderung memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Sebaliknya, tidak ditemukan korelasi signifikan antara usia dan pengetahuan tentang HIV (r = –0,037; p = 0,784), yang mungkin disebabkan oleh meratanya informasi HIV akibat intensitas kampanye global. Kesimpulan: Penelitian ini menegaskan usia berkorelasi positif dengan pengetahuan IMS secara umum pada komunitas LGBT. Intervensi edukatif berbasis usia sangat diperlukan untuk meningkatkan literasi kesehatan seksual, khususnya pada kelompok usia muda.