Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Implementasi Kebijakan Vaksinasi Booster Pasca Pandemi di Sulawesi Utara Mandagi, Chreisye Kardinalia Fransisca; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine; Sondakh, Ricky Constantyn
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 5 (2025): Oktober 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i5.2188

Abstract

Program vaksinasi booster COVID-19 merupakan strategi pemerintah Indonesia untuk memperkuat kekebalan masyarakat pasca pandemi. Meski demikian, capaian target di berbagai daerah, termasuk Provinsi Sulawesi Utara, belum optimal. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas kebijakan vaksinasi booster dengan menelaah data kesehatan masyarakat serta perspektif pemangku kepentingan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan delapan informan kunci, terdiri atas pejabat dinas kesehatan, kepala puskesmas, pemegang program, dan masyarakat penerima vaksin. Data diperoleh melalui wawancara mendalam serta observasi, kemudian dianalisis dengan model Miles dan Huberman. Hasil menunjukkan cakupan vaksinasi booster di Kota Manado baru mencapai 46,2%, jauh di bawah target 80% untuk pembentukan herd immunity. Rendahnya capaian dipengaruhi oleh persepsi masyarakat yang menganggap COVID-19 sudah terkendali serta hambatan distribusi vaksin. Namun, sebagian besar informan menilai booster tetap penting sebagai proteksi spesifik untuk mempertahankan daya tahan tubuh. Temuan ini konsisten dengan studi terdahulu yang menekankan pentingnya komunikasi, distribusi merata, dan dukungan kebijakan berkelanjutan. Kesimpulannya, implementasi vaksinasi booster di Sulawesi Utara berjalan, tetapi belum efektif. Peningkatan edukasi publik, pemerataan akses vaksin, serta penguatan sistem monitoring sangat dibutuhkan.
Improving mother’s knowledge for stunting prevention through customized health promotion during COVID-19 pandemic Kalesaran, Angela Fitriani Clementine; Lotulung, Cindy Celine; Mandagi, Chreisye Kardinalia Francisca
BKM Public Health and Community Medicine PHS8 Accepted Abstracts
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: This study aims to improve the knowledge of mothers of kids with stunting with different types of health promotion depending on the situation and restrictions during the COVID-19 pandemic. Method: This was a quasi-experimental research study with pre and post-test design. Fifty mothers from Wori District in North Sulawesi were included in the study. Twenty-five mothers received conventional health promotions in groups, and twenty-five mothers received health promotions one-on-one by home visits from healthcare workers. A questionnaire about mothers’ knowledge regarding stunting prevention was collected before and after the health promotion. Results: The number of mothers with a low level of knowledge was 36% before the health promotion, but then decreased to only 14% after the health promotion. There was a significant difference (p<.000) between pre and post-test regarding mother’s knowledge. Between groups receiving conventional health promotion and one-on-one health promotion, there were no significant differences regarding the knowledge of mothers after being given health promotion. Conclusion: Health promotion is an effective way to improve the knowledge of mothers with stunting kids. Health promotion one-on-one by the home visit is just as effective as health promotion in groups. Healthcare workers should be flexible and adaptive to the situation during the COVID-19 pandemic, so health promotion can always be delivered.
Population mobility and COVID-19 incidence in Indonesia: a study from North Sulawesi Province Dampi, Denada Jihan; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine; Kandou, Grace Debbie
BKM Public Health and Community Medicine Vol 40 No 06 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.v40i06.7802

Abstract

Purpose: The purpose of the study is to determine the relationship between the level of population mobility and the incidence of COVID-19 in 2021 in the North Sulawesi province. Methods: This quantitative research uses an ecological study. This study used secondary data from Google Mobility Reports and COVID-19 incidence data from the North Sulawesi Province Health Department. Univariate analysis describes population mobility variables in various sectors and the incidence of COVID-19, which is presented as a time series graph. In contrast, bivariate analysis is used to test the relationship between the level of mobility in various sectors and the incidence of COVID-19 through non-parametric analysis with the Spearman Rank correlation test. Results: There is a correlation between the incidence of COVID-19 and the level of mobility, with a p-value <0.05, with different levels of correlation amongst each mobility area. The correlation coefficients (r) between the incidence of COVID-19 and various regions of mobility are as follows: retail and recreation (-0.511), wholesale and pharmaceuticals (-0.398), park (-0.454), transportation (-0.570), workplace (-0.332), and housing (0.641). Conclusion: The increase in population mobility has significantly contributed to the high incidence of COVID-19 in North Sulawesi in 2021. To reduce the incidence of COVID-19, strict policies for monitoring and controlling mobility, especially in areas with high mobility, are necessary.
ANALISIS SPASIO – TEMPORAL KASUS RABIES TAHUN (2018-2022) DI PROVINSI SULAWESI UTARA Mamuko, Keysia M.; Kalesaran, Angela F. C.; Langi, Fima L. F. G.
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.27808

Abstract

Rabies merupakan penyakit mematikan yang ditularkan dari hewan ke manusia dan menyerang sistem saraf pusat. Tujuan dari peneltian ini untuk mendeskripsikan distribusi kasus rabies dan kasus GHPR secara spasial dan temporal di Provinsi Sulawesi Utara tahun 2018-2022. Desain Penelitian ini adalah studi ekologi, menggunakan populasi wilayah kasus rabies di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi tahun 2018-2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan kriteria status daerah tertular ringan sebanyak 10 daerah dan kriteria status daerah tertular bebas terancam sebanyak 5 daerah. Kabupaten Minahasa merupakan wilayah terbanyak kasus GHPR dengan penggolongan >1300 kasus sejak 5 tahun terakhir. Terdapat 1 kabupaten yang memiliki kasus rabies tertinggi pada tahun 2019 dan untuk tahunan tertinggi di tahun 2018-2019. Untuk kasus GHPR terdapat 1 kabupaten tertinggi di tahun 2019 dan untuk tahunan tertinggi di tahun 2019. Daerah dengan kasus rabies tertinggi selama tahun 2018-2022 yaitu Kabupaten Minahasa Selatan dengan total kasus 17 dan kasus rabies tahunan tertinggi di temukan di Kabupaten Kepulauan Sangihe pada tahun 2019. Daerah dengan kasus GHPR tertinggi selama tahun 2018-2022 yaitu Kabupaten Minahasa dengan total kasus 5821 dan kasus GHPR tahunan tertinggi di temukan di Kabupaten Minahasa pada tahun 2019. Dalam kurun waktu 2018-2022 kasus rabies terbanyak di Sulawesi Utara ditemukan pada tahun 2018 dan 2019 dan kasus GHPR terbanyak di Provinsi Sulawesi Utara ditemukan pada tahun 2019.
ANALISIS SPASIO – TEMPORAL KASUS RABIES TAHUN (2018-2022) DI PROVINSI SULAWESI UTARA Mamuko, Keysia M.; Kalesaran, Angela F. C.; Langi , Fima L. F. G.
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.28566

Abstract

Rabies merupakan penyakit mematikan yang ditularkan dari hewan ke manusia dan menyerang sistem saraf pusat. Tujuan dari peneltian ini untuk mendeskripsikan distribusi kasus rabies dan kasus GHPR secara spasial dan temporal di Provinsi Sulawesi Utara tahun 2018-2022. Desain Penelitian ini adalah studi ekologi, menggunakan populasi wilayah kasus rabies di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi tahun 2018-2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan kriteria status daerah tertular ringan sebanyak 10 daerah dan kriteria status daerah tertular bebas terancam sebanyak 5 daerah. Kabupaten Minahasa merupakan wilayah terbanyak kasus GHPR dengan penggolongan >1300 kasus sejak 5 tahun terakhir. Terdapat 1 kabupaten yang memiliki kasus rabies tertinggi pada tahun 2019 dan untuk tahunan tertinggi di tahun 2018-2019. Untuk kasus GHPR terdapat 1 kabupaten tertinggi di tahun 2019 dan untuk tahunan tertinggi di tahun 2019. Daerah dengan kasus rabies tertinggi selama tahun 2018-2022 yaitu Kabupaten Minahasa Selatan dengan total kasus 17 dan kasus rabies tahunan tertinggi di temukan di Kabupaten Kepulauan Sangihe pada tahun 2019. Daerah dengan kasus GHPR tertinggi selama tahun 2018-2022 yaitu Kabupaten Minahasa dengan total kasus 5821 dan kasus GHPR tahunan tertinggi di temukan di Kabupaten Minahasa pada tahun 2019. Dalam kurun waktu 2018-2022 kasus rabies terbanyak di Sulawesi Utara ditemukan pada tahun 2018 dan 2019 dan kasus GHPR terbanyak di Provinsi Sulawesi Utara ditemukan pada tahun 2019.
Hubungan antara kebiasaan menyikat gigi dan konsumsi makanan tinggi gula dengan kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar Lumintang, Fredlen Christo Sampouw; Asrifuddin, Afnal; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1343

Abstract

Background: Dental caries is a condition of tooth tissue damage caused by bacterial activity triggered by poor oral hygiene and consumption of high-sugar foods. Dental caries in school-age children can disrupt learning activities by causing pain and reducing self-confidence. In Indonesia, the incidence of dental caries remains high, including in North Sulawesi. Irregular tooth brushing habits and consumption of sweet foods are the main factors causing caries in elementary school students. Purpose: To determine the relationship between tooth brushing habits and consumption of high-sugar foods with the incidence of dental caries in elementary school children. Method: An analytical survey study with a cross-sectional design was conducted to analyze the relationship between risk factors and the incidence of dental caries in elementary school children. Results: The bivariate analysis yielded a p-value of 0.000 (p<0.05), meaning H0 was rejected and the hypothesis was accepted. This indicates a relationship between tooth brushing habits and consumption of high-sugar foods with the incidence of dental caries in elementary school children. Conclusion: There is a significant relationship between poor tooth brushing habits and consumption of high-sugar foods with an increased risk of dental caries. Suggestion: For future researchers, these results can be used as a reference, but by adding other methods or variables that are not yet in this study.   Keywords: Consumption of High-Sugar Foods; Dental Caries; Toothbrushing Habits.   Pendahuluan: Karies gigi adalah kondisi rusaknya jaringan gigi akibat aktivitas bakteri yang dipicu oleh kebersihan mulut yang buruk dan konsumsi makanan tinggi gula. Karies gigi yang terjadi pada anak usia sekolah dapat mengganggu aktivitas belajar karena menimbulkan rasa sakit dan menurunkan kepercayaan diri. Di Indonesia, angka kejadian karies gigi masih tinggi, termasuk di Sulawesi Utara. Kebiasaan menyikat gigi yang tidak teratur dan konsumsi makanan manis menjadi faktor utama penyebab karies pada siswa sekolah dasar. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan menyikat gigi dengan konsumsi makanan tinggi gula terhadap kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar. Metode: Penelitian survei analitik dengan desain potong lintang untuk menganalisis hubungan faktor risiko dengan kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar. Hasil: Analisis bivariat diperoleh p value sebesar 0.000 (p<0.05), artinya H0 ditolak maka hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi dan konsumsi makanan tinggi gula terhadap kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar. Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan menyikat gigi yang buruk dan konsumsi makanan tinggi gula dengan peningkatan risiko karies gigi. Saran: Bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan hasil ini sebagai referensi, namun dengan menambah metode lain atau dengan menambahkan variabel yang belum ada pada penelitian ini.   Kata Kunci: Karies Gigi; Kebiasaan Menyikat Gigi; Konsumsi Makanan Tinggi Gula.
Hubungan antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja pada perawat di ruang rawat inap Latuwael, Amazia Lovenia; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine; Kawatu, Paul Arthur Tennov
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1653

Abstract

Background: Sleep quality is a factor that influences workers' physical condition. Poor sleep quality can lead to increased work fatigue. Purpose: To determine the relationship between sleep quality and work fatigue among nurses in inpatient wards. Method: This analytical survey study used a quantitative approach with a cross-sectional study design. The study was conducted from December to July 2025 at the Bethesda Evangelical Christian Church General Hospital in Minahasa (GMIM) in Tomohon. The sampling technique used purposive sampling and recruited 57 respondents. The instruments used were the Job Fatigue Feelings Questionnaire and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Variables were measured through statistical analysis, both univariate and bivariate, using the Chi-Square test. Results: The majority of respondents (46 respondents (80.7%) reported poor sleep quality, and 31 respondents (54.4%) were classified as having work fatigue. Based on the chi-square test results, the p-value was 0.042 (<0.05), indicating that Ho was rejected and Ha was accepted, indicating a relationship between sleep quality and work fatigue among nurses in inpatient wards. Conclusion: There is a significant relationship between sleep quality and work fatigue among nurses, with a p-value of 0.042.   Keywords: Inpatient Wards; Nurses; Sleep Quality; Work Fatigue.   Pendahuluan: Kualitas tidur merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kondisi fisik pekerja. Kualitas tidur yang buruk dapat berdampak pada meningkatnya kelelahan kerja pekerja. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja pada perawat di ruang rawat inap. Metode: Penelitian survei analitik dengan pendekatan kuantitatif menggunakan desain cross-sectional study. Penelitian dilakukan pada bulan Desember - Juli 2025 di Rumah Sakit Umum Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Bethesda Tomohon. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan didapatkan sebanyak 57 responden. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2) dan kualitas tidur Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Pengukuran variabel melalui analisis statistik, diketahui secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Mayoritas responden memiliki kualitas tidur buruk sebanyak 46 responden (80.7%) dan sebanyak 31 responden (54.4%) berada pada kategori lelah kerja. Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh p-value sebesar 0.042 (<0.05), berarti Ho ditolak dan Ha diterima atau ada hubungan antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja pada perawat di ruang rawat inap. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja pada perawat dengan perolehan nilai p sebesar 0.042.   Kata Kunci: Kelelahan Kerja; Kualitas Tidur; Perawat; Ruang Rawat Inap.
Analisis faktor lama kerja dan kebiasaan merokok terhadap kapasitas vital paru pekerja industri mebel Mingkid, Jessica Gladys; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine; Langi, Fima Lanra Fredrik Gerarld
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1871

Abstract

Background: The furniture industry is known to pose a high risk for respiratory health problems due to exposure to wood dust and behavioral factors such as smoking. Lung vital capacity may decline with increased exposure to respiratory irritants, and smoking can further impair pulmonary function. This condition is important to examine among furniture workers, who are frequently exposed to long-term occupational hazards. Purpose: To analyze the factors of length of work and smoking habits on the vital lung capacity of furniture industry workers. Method: A descriptive analytic design with a cross-sectional approach. A total of 62 furniture workers were included using total sampling. Lung vital capacity was measured using spirometry. Data on length of employment and smoking habits were collected through structured questionnaires. The chi-square test was used to analyze the relationships between variables. Results: Of the 62 workers, 52 workers (83.9%) had impaired lung vital capacity, while 10 workers (16.1%) had normal lung vital capacity. The analysis showed no significant relationship between length of employment and lung vital capacity (p > 0.05). However, a significant association was found between smoking habits and lung vital capacity (p < 0.05). Conclusion: Most furniture industry workers in Touliang Oki Village experienced impaired lung vital capacity. Length of employment was not associated with lung vital capacity, whereas smoking habits were significantly related to decreased lung vital capacity. Efforts such as controlling risk factors, promoting smoking cessation, and conducting regular pulmonary health monitoring are recommended to protect workers’ health.   Keywords: Furniture Industry Workers; Length of Employment; Lung Vital Capacity; Respiratory Function; Smoking Habits.   Pendahuluan: Industri mebel merupakan salah satu sektor kerja yang memiliki risiko tinggi terhadap gangguan kesehatan pernapasan akibat paparan debu kayu serta faktor perilaku seperti merokok. Kapasitas vital paru dapat menurun seiring meningkatnya paparan iritan pernapasan dan kebiasaan merokok yang memperburuk fungsi paru. Kondisi ini penting untuk dikaji pada pekerja industri mebel yang memiliki paparan kerja jangka panjang. Tujuan: Untuk menganalisis faktor lama kerja dan kebiasaan merokok terhadap kapasitas vital paru pekerja industri mebel. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 62 pekerja industri mebel yang dipilih secara total sampling. Pengukuran kapasitas vital paru dilakukan menggunakan spirometri. Variabel lama kerja dan kebiasaan merokok dikumpulkan melalui wawancara dengan kuesioner terstruktur. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji statistik chi-square. Hasil: Dari 62 pekerja, sebanyak 52 pekerja (83.9%) mengalami gangguan kapasitas vital paru dan 10 pekerja (16.1%) memiliki kapasitas vital paru normal. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan antara lama kerja dengan kapasitas vital paru (p > 0.05). Namun, terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan merokok dengan kapasitas vital paru (p < 0.05). Simpulan: Kapasitas vital paru pekerja industri mebel sebagian besar berada dalam kategori terganggu. Lama kerja tidak berhubungan dengan kapasitas vital paru, sedangkan kebiasaan merokok terbukti berhubungan dengan penurunan kapasitas vital paru. Upaya pengendalian faktor risiko, edukasi berhenti merokok, dan pemantauan kesehatan paru secara berkala perlu dilakukan untuk melindungi kesehatan pekerja.   Kata Kunci: Kapasitas Vital Paru-paru; Kebiasaan Merokok; Lama Kerja; Pekerja Industri Mebel.
Analysis of multidrug-resistance tuberculosis distribution in Indonesia 2021–2023 Kapugu, Aavinia; Langi, Fima Lanra Fredrik Gerarld; Kalesaran, Angela Fitriani Clementine
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 9 No. 1 (2026): Volume 9 Number 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v9i1.1909

Abstract

Background: Multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) is a major obstacle to tuberculosis eradication worldwide. MDR-TB cases are a form of tuberculosis resistant to two main drugs, isoniazid and rifampin. Purpose: To (1) determine trends in the pattern of changes in the number of MDR-TB cases, (2) identify the distribution of MDR-TB cases in Indonesia by time and region (province), and (3) identify clusters based on incidence rates and population density. Method: An observational ecological study using aggregate provincial-level data. MDR-TB case data was obtained from the Indonesian Ministry of Health for 2021–2023. The analysis was conducted descriptively, spatially, and cluster-wise. The spatial epidemiology approach included the creation of thematic maps (choropleth maps), temporal trend analysis, Standardized Incidence Ratio (SIR), and hierarchical cluster analysis using the Ward method. Results: There was an increase in MDR-TB cases in almost all provinces during 2021–2023. After adjusting for population (rate), the provinces with the highest risk were DKI Jakarta, North Maluku, Gorontalo, and North Sulawesi. Spatial analysis showed significant hotspots in West Java and Banten, while other provinces were classified as low risk. Based on clusters, DKI Jakarta formed a separate cluster with the highest rate and density. The distribution of MDR-TB in Indonesia is uneven, with an increase in national cases and concentration of risk in several regions. Conclusion: A spatial-based approach is essential for planning more targeted interventions. These findings indicate that the distribution of MDR-TB in Indonesia is uneven, with an increase in national cases and concentration of risk in certain provinces, so these areas need to be prioritized in MDR-TB control.
Co-Authors ., Gabriella Amisi, Marsella D. Asep Rahman Asrifudin, Afnal Astari, Virginia Budi T. Ratag Canon, Fiqhi A. Chintya, Prasuthio Chreisye Mandagi, Chreisye Dampi, Denada Jihan Derek, Chintya Doda, Diana V.D. Febi Kolibu, Febi Ferry Firmansyah Golung, Aimar Daniel Grace Debbie Kandou Grace, Taroreh G Herman, Ulqiyah Nurhusna Ibur, Chikita Amanda Kapugu, Aavinia Kasi, Olivia Agatha Kaunang, Wulan P.J Kawatu, Paul A T Kawatu, Paul A. Kawatu, Paul A. T Kawatu, Paul A.T Kawatu, Paul Arthur Tennov Kawatu, Paul Artur Tennov Langi , Fima L. F. G. Langi, Fima Lanra Fredrik Gerarld Latuwael, Amazia Lovenia Londa, Putrisia Lotulung, Cindy Celine Lotulung, Megapresia Indri Lumintang, Fredlen Christo Sampouw Malonda, Nancy S. H Mamonto, Silviani Mamuko, Keysia M. Mandagi, Chreisye K. F. Mandagi, Chreisye Kardinalia Francisca Mandagi, Chreisye Kardinalia Fransisca Manganguwi, Sheryl Mantali, Arief Mantjoro, Eva M. Mantjoro, Eva. M. Manurung, Pebrina Maramis, Frilya I. Maukar, Veigy Maureen I. Punuh, Maureen I. Maya, Anugrah Menggasa, Evanly Relix Mingkid, Jessica Gladys Mokalu, Reinindo Aries Mokodompit, Pratiwi Monding, Faldano F. Moningka, Jessica S.Y. Nelwan, Ester Jeini Nelwan, Jeini E. Neu, Cicilia Nina, Nurhayati Pasongli, Anita Paul A.T. Kawatu Pelleng, Debora Pesiwarissa, Disha N. Polan, Tri Vanny Sampe Punuh, Maureen Irinne Rahayu Akili, Rahayu Rahayu H. Akili, Rahayu H. Rambolangi, Vincencius Rangga Wisesa Rawis, Gisela Irma Rewasan, Mariana Ricky C. Sondakh Rumagit, Holy C.N Rumambi, Euginia Firsty Ruru, Jessica Saliha, Jovi Sambeka, Rahelea Sambow, Triska T. Sekeon, Sekplin A.S. Sekeon, Sekplin S Sekplin A. S. Sekeon, Sekplin A. S. Selaindoong, Sefania J. Senduk, Miranda N.P. Seroy, Meywinsy Siagian, Friska Natasya Romauly Siampa, Jainer Pasca Sondakh, Ricky Constantyn Suhartoyo, Fitri Murnisari Sulaemana Engkeng, Sulaemana Supit, Muhammad Isra Alf L Talumewo, Olrike C. Tangkilisan, Jordi R. Abednego Tiku, Vicharie Tipa, Ericha Widya Tompodung, Vickly D.A. Tumbelaka, Oktaviany C. C. Tumurang, Marjes Tuwongkesong, Fadillah Walangitan, Rayn Christian Waworuntu, Pramatia Grayni Wenas, Crifianny Wenur, Claudeo Primus Wokas, Claudia Natalia Woodford B.S. Joseph, Woodford B.S. Wowor, Prisca Wulan P. J. Kaunang Wulan P.J. Kaunang Wulan Pingkan Julia Kaunang