Claim Missing Document
Check
Articles

PERBANDINGAN HASIL SURVEI BATIMETRI DI DAERAH PESISIR DENGAN MENGGUNAKAN PETA BATIMETRI DAN CITRA ASTER DI PATI, JAWA TENGAH Titiarni , Mariska; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 5 No. 1 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v5i1.1290

Abstract

Salah satu aplikasi dari teknologi Penginderaan Jauh adalah untuk pemetaan batimetri perairan dangkal di daerah pesisir. Salah satu citra yang dapat digunakan adalah Citra ASTER yang memiliki band VNIR yang baik digunakan untuk pemetaan laut. Lokasi yang diambil adalah di Pati, Jawa Tengah. Pengolahan citra meliputi masking, transformasi citra dengan metode DOP (Depth Of Penetration), Algoritma Jupp, dan klasifikasi Tak Terselia yang dilakukan dengan Software ER Mapper 7.0. Informasi yang dihasilkan adalah kedalaman dan garis pantai, yang nantinya akan dibandingkan dengan peta batimetri. Hasil dari penelitian ini adalah 4 zona DOP yang menggambarkan perbedaan kedalaman dari peta batimetri perairan dangkal. Terdapat perbedaan hasil kedalaman dan garis pantai antara citra ASTER dan peta batimetri. Perbedaan nilai kedalaman yang paling besar adalah 0,5 m, dan perbedaan garis pantai terbesar adalah 550 m.
ANALISA SEBARAN TSS (TOTAL SUSPENDED SOLID) DENGAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT AQUA MODIS TAHUN 2005-1011 (Studi Kasus: Pesisir Pantai Surabaya-Sidoarjo) Krisna, Trismono Candra; Cahyono, Agung Budi; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 8 No. 1 (2012)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v8i1.1361

Abstract

Pembuangan lumpur dan material terlarut dalam jumlah besar dan secara terus-menerus ke Kali Porong mengakibatkan terjadinya sedimentasi di Kali Porong dan sedimentasi juga timbul di muara Kali Porong dan Pantai Surabaya – Sidoarjo yang diakibatkan oleh transport sedimen dari Kali Porong ke muara dan ke sepanjang pantai. Oleh karena itu, perlu adanya suatu penelitian mengenai nilai dan sebaran TSS (Total Suspended Solid) yang akan digunakan untuk analisa sebaran sedimentasi pantai Surabaya – Sidoarjo dengan menggunakan teknologi citra satelit. Citra satelit yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Aqua MODIS MYD021KM hasil perekaman secara multi temporal dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2011 sehingga dapat diketahui nilai dan persebaran TSS (Total Suspended Solid). Algoritma yang digunakan adalah algoritma Guzman & Santaella (2009) untuk menentukan nilai TSS pada daerah penelitian, dengan waktu penelitian pada musim timur yang dilakukan pada bulan Juli. Daerah penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah daerah pesisir pantai Surabaya – Sidoarjo. Dari hasil pengolahan data dan analisa didapatkan nilai TSS dari tahun 2005 – 2011 bervariasi antara 0.112 mg/l - 138.233 mg/l. Uji validasi yang dilakukan bernilai 76,40%, yang menunjukkan TSS hasil pengolahan citra merepresentasikan kondisi sesungguhnya. Daerah yang mengalami dampak sebaran TSS tinggi adalah muara Kali Porong, selatan Kali Porong, Pantai Pasuruan, muara Kali Alo, dan daerah pantai utara Kali Alo. Nilai dan sebaran TSS dipengaruhi oleh pasang surut, arus arus, angin, dan gelombang. Hasil pengolahan data dan analisis ini dapat dijadikan bahan referensi dalam penelian selanjutnya.
ANALISA PERBANDINGAN TINGGI PERMUKAAN LAUT DARI DATA SGDR RETRACKING DAN GDR SATELIT ALTIMETRI JASON-2 TAHUN 2011 (STUDI KASUS : PESISIR PANTAI SELATAN JAWA) Mahardian , Dewangga Eka; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1378

Abstract

Indonesia adalah negara maritim dimana memiliki wilayah laut sekitar 70% sehingga segala aktifitas sangat dipengaruhi oleh kondisi laut. Sea surface high (SSH) merupakan tinggi permukaan air laut di atas ellipsoid. Pengkajian tentang sea surface high (SSH) sangat penting dilakukan di Indonesia untuk memperoleh informasi spasial tentang kondisi perairannya. Saat ini telah dikembangkan suatu sistem satelit yang mempunyai obyek penelitian mengamati kondisi perairan yakni satelit altimetri Jason-2.Metode analisa perbandingan tinggi permukaan laut retracking dari data SGDR dengan tinggi permukaan laut non retracking dari data GDR menggunakan metode Center of gravity. Metode ini digunakan untuk mendapatkan sea surface high retracking. Pengolahan data netcdf satelit altimetri jason-2 menggunakan software radar altimetry toolbox (BRAT) dan matrix laboratory. Pengolahan data tinggi permukaan laut dilakukan tiap pass perbulan pada tahun 2011.Hasil penelitian SSH pada 2011 didapatkan nilai SSH onboard 6,0430 m – 28,1084 m. Banyak faktor yang menyebabkan tinggi rendah SSH pada daerah pesisir yakni Ketinggian air laut , morfologi pantai , Iklim dan cuaca. Dari beberapa faktor tersebut , ketinggian air laut dapat langsung di olah dari satelit altimetri, didapatkan Ketinggian air laut onboard berkisar 5,7611 m – 28,2212 m.Hasil penelitian dari proses retracking SSH OCOG menujukan bahwa nilai SSH pada lintasan satelit dari daratan ke lautan (pass genap) lebih besar daripada lautan ke daratan (pass ganjil). Yang disebabkan oleh pantulan dan noise dari daratan yang relatif besar. Selain itu hasil ploting SSH OCOG masih sangat noise dibandingkan SSH onboard / SSH non retracking tetapi SSH memiliki keuntungan data lebih luas mencakup wilayah pesisir daripada SSH onboard.
ANALISIS PERBEDAAN PERHITUNGAN ARAH KIBLAT PADA BIDANG SPHEROID DAN ELLIPSOID DENGAN MENGGUNAKAN DATA KOORDINAT GPS Nugroho, Andhika Prastyadi; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1386

Abstract

Kiblat merupakan salah satu hal yang penting bagi umat muslim di seluruh dunia, khususnya di dalam pelakasanaan ibadah salat. Perhitungan arah kiblat di suatu tempat dapat dilakukan dengan memanfaatkan koordinat lintang dan bujur geografis yang didapatkan dari hasil pengukuran GPS (Global Positioning System). Dewasa ini, perhitungan arah kiblat masih menggunakan rumusan segitiga bola sebagai dasar perhitungannya. Namun, bentuk bumi tidaklah bulat sempurna seperti bola (spheroid) melainkan berbentuk ellips yang diputar pada sumbu pendeknya (ellipsoid). Oleh karena itu, seharusnya dilakukan perhitungan yang sesuai dengan bentuk bumi tersebut, yakni dengan menggunakan prinsip persoalan pokok geodesi. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengambilan sampel koordinat titik di lapangan dengan menggunakan GPS tipe geodetik dan GPS tipe navigasi. Perhitungan arah kiblat dilakukan dengan menggunakan rumus segitiga bola dan Soal Pokok Geodesi II (SPG II) untuk kemudian dianalisis perbedaannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan antara arah kiblat dengan menggunakan rumus segitiga bola dan SPG II berkisar antara 1’ 8,7949” - 1’ 21,5281”. Sedangkan perbedaan antara arah kiblat dengan menggunakan rumus segitiga bola (yang koordinat sampelnya tidak ditransformasikan ke bidang bola) dan SPG II berkisar antara 7’ 17,3049” - 7’ 18,9383”. Sementara itu, hasil perhitungan arah kiblat dengan menggunakan koordinat dari GPS tipe Geodetik dan GPS tipe Navigasi tidak memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
PERBANDINGAN AKURASI PREDIKSI PASANG SURUT ANTARA METODE ADMIRALTY DAN METODE LEAST SQUARE Ulum , Miftakhul; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 9 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i1.1394

Abstract

Analisis maupun peramalan pasut pada daerah survei dapat dipakai untuk berbagai keperluan rekayasa, antara lain perencanaan alur pelabuhan, navigasi, pengembangan wilayah pantai, penentuan batas wilayah dan sebagainya. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan konstanta harmonik pasang surut selama periode tertentu diantaranya adalah metode admiralty dan metode least square. Dalam penelitian  ini dilakukan analisa prediksi pasang surut di stasiun Surabaya dengan menggunakan data pasut 29 hari. Metode yang digunakan adalah metode admiralty dan metode least square dengan panjang data 15 dan 29 hari. Dari ke-empat metode tersebut dilakukan perhitungan tiap komponen pasutnya sehingga dapat dilakukan prediksi pasut dan dibandingkan hasilnya. Selisih nilai amplitudo terbesar terdapat pada komponen P1 untuk perbandingan antara admiralty dan least square 15 hari yakni sebesar -36,49 cm. Sedangkan untuk selisih beda fase terbesar terdapat pada komponen S2 pada perbandingan antara least square dengan panjang data 15 dan 29 hari yakni sebesar -332,89°.  Nilai RMS error yang dihasilkan oleh metode least square lebih kecil daripada yang dihasilkan oleh metode admiralty yakni sebesar 12,360 cm untuk panjang data 15 hari dan 5,972 cm untuk panjang data 29 hari pada prediksi pasut bulan pertama.
ANALISA SEA LEVEL RISE PERAIRAN INDONESIA MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-2 TAHUN 2009-2012 Rahman, Nur; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 9 No. 2 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v9i2.1416

Abstract

Kenaikan muka air laut (Sea Level Rise) disebabkan oleh semakin meningkatnya suhu global bumi atau yang biasa disebut dengan pemanasan global. Fenomena ini harus diwaspadai, mengingat luas perairan di Indonesia mendominasi sebesar 75,32 % serta banyak terdapat pemukiman maupun pusat perekonomian yang terletak dekat dengan perairan. Dengan luas perairan yang sangat besar maka metode pengamatan konvensional seperti menggunakan kapal survei kelautan bukanlah metode yang efektif dan efisien. Penggunaan teknologi satelit altimetri menjadi salah satu alternatif yang tepat untuk mengamati fenomena ini. Salah satu satelit altimetri tersebut adalah Satelit Jason-2. Pemantauan kenaikan muka air laut dilakukan pada perairan Indonesia dalam kurun waktu 4 tahun (2009-2012) dengan mengambil 20 titik pengamatan. Terdapat 12 titik yang mengalami kenaikan dengan kenaikan terbesar mencapai 12 mm/tahun yaitu di titik Samudera Pasifik tepatnya sebelah utara Papua Barat, sedangkan kenaikan muka air laut terkecil terjadi pada titik Selat Makassar dengan kenaikan sebesar 0,587 mm/tahun.
ALTERNATIF PETA BATAS LAUT DAERAH BERDASARKAN PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 76 TAHUN 2012 (STUDI KASUS : SENGKETA PULAU GALANG PERBATASAN ANTARA KOTA SURABAYA DAN KABUPATEN GRESIK) Widiastuty, Ria; Khomsin, Khomsin; Fayakun, Teguh; Artanto, Eko
GEOID Vol. 10 No. 1 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i1.1433

Abstract

Batas kewenangan daerah di laut, memiliki arti penting bagi kabupaten/kota dan pemerintah propinsi terkait dengan penyelenggaraan otonomi daerah. Batas daerah yang tidak jelas dapat memicu konflik di wilayah perbatasan dan menghambat penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah. Bila tidak segera diselesaikan maka berpotensi menurunkan tingkat pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Penetapan batas laut daerah diperlukan agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan pemberian hak sehingga dapat menghindari konflik yang akan terjadi. Pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 76 tahun 2012 dijelaskan bahwa pembagian wilayah kewenangan propinsi sejauh 12 mil dan sepertiganya adalah wilayah kabupaten/kota. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan batas pengelolaan laut di sekitar daerah perbatasan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik yang terdapat sebuah pulau hasil endapan Kali Lamong yaitu Pulau Galang. Pulau ini sedang menjadi konflik dan menjadi perebutan hak milik antar dua daerah tersebut. Hasil penelitian ini adalah peta batas pengelolaan laut di sekitar daerah Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik dengan berbagai alternatif penarikan batas yang sesuai dengan pedoman penegasan batas secara kartometrik pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 76 tahun 2012 dengan menggunakan prinsip equidistance dan median line. Dalam penelitian ini terdapat empat alternatif diantaranya, penarikan garis batas laut jika Pulau Galang dianggap tidak ada, penarikan garis batas laut jika Pulau Galang dibagi sama luas, penarikan garis batas laut jika Pulau Galang masuk Kota Surabaya dan penarikan garis batas laut jika Pulau Galang masuk Kabupaten Gresik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kejelasan kepemilikkan Pulau Galang dan kejelasan administrasi batas laut daerah sangat dibutuhkan karena keberadaan pulau ini berpengaruh terhadap batas pengelolaan laut daerah antara Kota Surabaya maupun Kabupaten Gresik secara keseluruhan.
ANALISA PERBANDINGAN KETELITIAN PENENTUAN POSISI DENGAN GPS RTK-NTRIP DENGAN BASE GPS CORS BIG DARI BERBAGAI MACAM MOBILE PROVIDER DIDASARKAN PADA PERGESERAN LINEAR (STUDI KASUS: SURABAYA) Sari , Atika; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 10 No. 1 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i1.1434

Abstract

Penentuan posisi dalam pemetaan menggunakan penginderaan jauh dan foto udara memerlukan pengamatan GPS geodetik sebagai titik kontrol yang memilki ketelitian tinggi. Sistem koreksi data penentuan posisinya diperoleh dari transmisi data dari stasiun base ke receiver. Dalam perkembangan sekarang ini metode pengukuran RTK telah menggunakan metode NTRIP (Networked Transport of RTCM via Internet Protocol) sebagai metode transmisi koreksi data dengan menggunakan intenet sehingga pengukuran tersebut masih bisa dilakukan dengan jarak yang lebih jauh dari base-nya. Pada metode NTRIP ini menggunakan metode pengiriman koreksi data GNSS melalui jaringan internet. Pengembangan sistem dengan fasilitas akses internet mobile melalui general packet radio service (GPRS) dan global system for mobile (GSM), menyediakan metode cepat dan handal untuk mendistribusikan baris data GPS atau koreksi diferensial real-time (DGPS / RTK) ke penerima GPS di daerah manapun yang berada di bawah jangkauan jaringan telepon seluler. Sehingga untuk mengetahui provider yang sesuai digunakan dalam wilayah surabaya dalam menggunakan metode RTK NTRIP maka dilakukanlah penelitian ini. Dari hasil pengamatan dari pengukuran dengan menggunakan metode RTK-NTRIP dengan base GPS CORS BIG didapat nilai rata-rata dari masing-masing provider sekitar < 4 m.
PEMETAAN PARTISIPATIF BATAS KELURAHAN DI KECAMATAN SUKOLILO KOTA SURABAYA Budisusanto , Yanto; Khomsin, Khomsin; Purwanti , Renita; Nurry, Aninda; Widiastuty, Ria
GEOID Vol. 10 No. 1 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v10i1.1441

Abstract

Peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan skala dan sistem proyeksi tertentu. Peta bisa disajikan dalam berbagai cara yang berbeda, mulai dari peta konvensional yang tercetak hingga peta digital yang tampil di layar komputer.Kegiatan pemetaan merupakan solusi yang nyata untuk menyediakan informasi spasial yang akurat dan terpercaya dalam jumlah yang cukup mengenai suatu daerah tertentu. Selain itu, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana pemutakhiran informasi spasial yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan manfaat secara maksimal untuk berbagai kepentingan.Undang-Undang Informasi Geospasial (UU IG) No.4 Tahun 2011 mengatur tentang infomasi geospasial dasar dan tematik (IGD dan IGT) wilayah Republik Indonesia. Implementasi UU IG ini tidak hanya tanggung jawab dari Badan Informasi Geospasial saja akan tetapi juga merupakan tanggung jawab dari semua pemangku kepentingan yang terdiri dari pihak pemerintah, pengusaha, akademisi (perguruan tinggi) dan masyarakat. Terkait dengan UU IG ini, Perguruan Tinggi mempunyai kewajiban melaksanakan pendidikan yaitu untuk menyiapkan sumber daya manusia yang siap untuk menyelenggarakan IGD dan IGT. Selain itu, perguruan tinggi juga mempunyai kewajiban untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam bidang IGT. IGT adalah produk turunan dari IGD dan informasi pendukung lainnya. Beberapa contoh produk IGT adalah peta batas wilayah, peta pariwisata, peta kependudukan, peta kawasan bencana, peta potensi wilayah dan lain-lain. Pemetaan partisipatif adalah salah satu metode yang cocok untuk dikembangkan dimasyarakat dalam membangun salah satu produk IGT, khususnya dalam bidang pemetaan batas wilayah administratif kelurahan. Hasil akhir dari pemetaan ini adalah peta batas wilayah kelurahan dalam satu kecamatan. Peta batas wilayah inilah sebagai salah satu informasi yang aktual bagi masyarakat dan perangkat pemerintahan yang bersangkutan dalam pengelolaan dan pengembangan wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Peta batas wilayah yang jelas dan telah disepakati oleh pihak-pihak yang saling bersinggungan akan meminimalkan konflik yang terjadi di masyarakat dan masyarakat dapat diberi pemahaman akan keberadaan administratif suatu lokasi/daerah secara lebih mudah dan jelas.
PEMODELAN ALIRAN SEDIMEN DI KOLAM PELABUHAN (Studi Kasus : Kolam 1 Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta) Witantono, Adireta Dwi; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1466

Abstract

Pelabuhan merupakan salah satu simpul dari mata rantai bagi kelancaran angkutan muatan laut dan darat. Pelabuhan harus aman dari badai, ombak, maupun arus. Sehingga kapal dapat berputar, melakukan bongkar muat, dan melakukan perpindahan penumpang dengan aman, khususnya di Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta. Jika sedimen di kolam Pelabuhan Tanjungpriok yang terbentuk sudah terlalu tinggi, hal ini dapat menyebabkan karamnya kapal. Untuk menghindari hal tersebut dibutuhkan pengerukan sampai dengan kedalaman tertentu sehingga kapal bisa berlabuh dengan aman. Berdasarkan pertimbangan keamanan dan pemberian pelayanan yang memadai bagi pengguna pelabuhan, faktor utama yang mempengaruhi terjadinya proses sedimentasi, adalah arus pasang surut. Oleh karena itu, diperlukan kajian dan analisis pola penyebaran transpor material sedimen di lokasi rencana pengerukan menggunakan simulasi model transpor material sedimen. Besar kecepatan arus pada kondisi saat pasang tertinggi yang terjadi di kolam Pelabuhan Tanjungpriok adalah sebesar 0,008-0,056 m/s. Dan pada kondisi surut terendah sebesar 0,004-0,052 m/s. Kecepatan arus paling kuat terletak dimulut kolam. Besar konsentrasi sedimen saat kondisi pasang tertinggi memiliki nilai maksimal sebesar 0,0325 g/m3 dan minimal sebesar 0,0025 g/m3. Sedangkan besar konsentrasi sedimen saat kondisi surut terendah memiliki nilai maksimal sebesar 0,104 g/m3 dan minimal sebesar 0,008 g/m3. Bed level change kolam pelabuhan tidak mengalami perubahan secara signifikan. Karena telah dilakukan pengerukan sebulan sebelum penelitian. Dan karena adanya beberapa parameter yang tidak digunakan. Sedimen paling banyak menumpuk berada di koordinat antara (708200;9325700) - (708400;9325900). Dengan perubahan dasar perairan / bed level change paling banyak sebesar 0,055 mm.
Co-Authors Achmad Faizuddin Akbar Adi, Fajar Setio Adireta Dwi Witantono Adireta Dwi Witantono, Adireta Dwi Aditya Nugraha ADITYA NUGRAHA Agung Budi Cahyono Akbar , Achmad Faizuddin Akbar Kurniawan Andhika Prastyadi Nugroho Andi Rahmadiansah Andi Rahmadiansah Anggun Aprilia Sari Aninda Nurry Aninda Nurry, Aninda Anjasmara , Ira Mutiara Anjasmara, Ira Mutiara Anwar, Nadjadji Ardi, Muhammad Maulana Arif Rahman Ashar, Muammar Khadafi Atika Sari Bramiasto Fakhruddin Eko Putranto Budisusanto , Yanto Budisusanto, Yanto Busro, Fathoni Cahyadi , Mokhamad Nur Cahyadi, M. Nur Cheri Bhekti Pribadi Dany Okta Dewantara Dewangga Eka Mahardian Dewantara, Dany Okta Dody Pambudhi Eko Artanto Eko Artanto, Eko Fajar Setio Adi Fathoni Busro Fathur Rohman Fauzan Syaikhu Islam Felik Dwi Yoga Fikri Bamahry Handoko, Eko Yuli Happy Ary Wahyu Marantika I. K. Arimbawa Ira Mutiara Anjasmara Ira Mutiara Anjasmara, Ira Mutiara Irfan Maulana Yusuf Joni Efendi Kamila Akbar Khariz Syaputra Krisma Hutanti Krisna, Trismono Candra Kurniawan, Akbar M Dwiki Amirullah M. Dwiki Amirullah Mahardian , Dewangga Eka Marantika, Happy Ary Wahyu Melisa Ayuningtyas Miftakhul Ulum Mila Widyasari Mohammad Rohmaneo Darminto Mokhamad Nur Cahyadi, Mokhamad Nur Muammar Khadafi Ashar Muammar Khadafi Ashar Muammar Khadafi Ashar, Muammar Khadafi MUHAMMAD TAUFIK Nasution, Annio Indah Lestari Nugroho, Andhika Prastyadi Nur Rahman Nur Rahman, Nur Pambudhi, Dody Pandu Yuri Pratama Prasetyo, Haris Hakim Prasetyo, Haris Hakim Pratama , Pandu Yuri Pratomo , Danar Guruh Pratomo, Danar Guruh Pratomo, Danar Guruh Pribadi , Cherie Bhekti Pribadi, Cheri Bhekti Pribadi, Cherie Bhekti Purwanti , Renita Putra Nur Ariffianto Rafli Maulana Rahimmatussalisa Rahimmatussalisa, Rahimmatussalisa Rahman, Arif Rainhard S. Simatupang Renita Purwanti Ria Widiastuty Ria Widiastuty, Ria Ristanto, Wahyu Rizky Romadhon Rohman, Yoga Arif Sari , Atika Separsa, G Masthry Candhra Simatupang, Rainhard S. Susilo Susilo Talif, Musdiyana Taufik , Muhammad Teguh Fayakun Teguh Fayakun, Teguh Teguh Hariyanto, Teguh Titiarni , Mariska Titiarni, Mariska Torana Arya Gasica Trismono C. Krisna Trismono Candra Krisna Ulum , Miftakhul Wahyu Ristanto Yoga Arif Rohman Yuwono Yuwono Yuwono Yuwono Yuwono Yuwono Zahra, Ayu Isnania