Claim Missing Document
Check
Articles

PENENTUAN BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT DAERAH ANTARA PROVINSI JAWA TIMUR DAN PROVINSI BALI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 Khomsin, Khomsin; Simatupang, Rainhard S.
GEOID Vol. 12 No. 1 (2016)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v12i1.1522

Abstract

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah merupakan pembaharuan dari undang-undang sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dikarenakan beberapa hal yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan pada saat ini. Beberapa perubahan dalam hal penentuan batas wilayah pengelolaan laut daerah yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dari undang-undang sebelumnya yaitu mengenai penentuan garis pantai, batas wilayah bagi hasil kabupaten/kota, serta kewenangan setiap daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota.Penelitian ini merupakan bentuk pengaplikasian Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dalam memperbaharui penentuan batas wilayah pengelolaan laut daerah. Metode yang digunakan untuk menentukan batas wilayah pengelolaan laut daerah dalam penelitian ini adalah metode kartometrik dengan menggunakan data Citra Satelit SPOT 7 dan Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI). Objek penelitian ini adalah wilayah perbatasan antara Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Bali yang diwakili oleh Kabupaten Banyuwangi (Jawa Timur) dan Kabupaten Buleleng sampai Kabupaten Jembrana (Bali). Dari penelitian ini dihasilkan median line sepanjang 40,3 km yang dibentuk oleh 41 titik, serta diperoleh luas wilayah pengelolaan laut Provinsi Jawa Timur sebesar 23.336,81 Ha dan Provinsi Bali sebesar 23.376,94 Ha serta batas wilayah bagi hasil kelautan untuk kabupaten/kota. Dihasilkan juga peta batas pengelolaan wilayah laut daerah sesuai lokasi penelitian ini.
PEMODELAN SEBARAN TUMPAHAN MINYAK DI ALUR PELAYARAN BARAT SURABAYA Khomsin, Khomsin; Ardi, Muhammad Maulana
GEOID Vol. 12 No. 2 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v12i2.1536

Abstract

Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) didesain hanya untuk kapasitas 27 ribu pergerakan setiap tahunnya, akan tetapi kenyataannya terhitung setiap tahunnya 43 ribu pergerakan kapal. Dengan kondisi seperti ini akan mengakibatkan rawan terjadinya kecelakaan pelayaran dan juga bencana tumpahan minyak akibat bahan bakar kapal yang mengalami kecelakaan maupun dari muatan kapal yang tumpah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa titik rawan kecelakaan pelayaran dan pemodelan simulasi tumpahan minyak yang bersumber dari kapal yang mengalami kecelakaan. Hasil pemodelan tersebut menunjukkan bahwa kecepatan arus rata-rata tertinggi adalah 0,148 m/s pada tanggal 11 Januari tahun 2013 jam 20:00 yaitu pada angina muson barat. Pada musim angin barat, angina bergerak ke arah Pulau Madura. Pada angin musim timur, arus maksimal sebesar 0,136 m/s yang terjadi pada tanggal 12 Juli tahun 2014 jam 08:00. Sedangkan arah arus hasil simulasi pada musim angin timur sebagian besar mengarah ke utara Kabupate Gresik mengikuti arah arus laut jawa yang mengarah ke barat. Pemodelan pergerakan tumpahan minyak yang terjadi pada tahun 2013 pada musim angin barat menunjukkan bahwa setelah 24 jam terjadinya tumpahan minyak, area yang terdampak sebesar 2.054.548 m2 dengan konsentrasi tumpahan maksimal sebesar 78,521 kg/m3. dan pada musim angin timur terjadi pada tahun 2014 dengan luas sebesar 1.320.039 m2 dengan konsentrasi tumpahan maksimal sebesar 32,906 kg/m3.
IDENTIFIKASI FITUR DASAR LAUT DENGAN MENGGUNAKAN DATA SONAR Khomsin, Khomsin; Talif, Musdiyana
GEOID Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i1.1544

Abstract

Peta laut (nautical chart) merupakan representasi gambar objek permukaan dan bawah permukaan di wilayah laut dan pesisir yang berisi informasi tentang kedalaman laut, topografi pantai, garis pantai, detil alami dan buatan (pelabuhan, bangunan pantai), pasang surut air laut, arus laut, bahaya navigasi dan fitur dasar laut. Fitur dasar laut (seabed features) merupakan salah satu informasi yang sangat penting yang harus disajikan dalam peta laut untuk keselamatan navigasi di laut. Ada beberapa teknik dan metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi fitur dasar laut yaitu dengan menggunakan single beam echosounder, multi beam echosounder, side scan sonar, fotografi dan videografi dasar laut. Penggunaan gelombang suara (sonar) dalam hal pendeteksian fitur dasar laut direkomendasikan oleh International Hydrographic Organizations yang dituangkan dalam Special Publication No. 44 Edisi Kelima Tahun 2008 (IHO, 2008). Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi fitur dasar laut di Perairan Kepulauan Riau dengan menggunakan data Sonar yaitu multibeam echosounder, single beam echosounder dan side scan sonar. Identifikasi dengan kedua data tersebut menunjukkan bahwa fitur dasar di Perairan Kepulauan Riau meliputi batuan dasar (84,7%), galian (3,1%) dan gelombang pasir (12,2%). Objek buatan dasar laut yang teridentifikasi adalah pipa bawah laut dengan total panjang pipa 1636,7 m.
DETEKSI PIPA BAWAH LAUT DENGAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER (Studi Kasus: Muara Bekasi) Pratomo, Danar Guruh; Khomsin, Khomsin; Pambudhi, Dody
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1562

Abstract

Pipa bawah laut merupakan instalasi yang dibangun untuk menyalurkan fluida produksi (minyak dan gas). Salah satu kegiatan perawatan pipa laut adalah inspeksi secara berkala terhadap kondisi pipa laut tersebut. Kegiatan inspeksi pipa di dasar laut dilakukan untuk mengendalikan resiko yang dapat terjadi pada pipa tersebut. Kegiatan ini memerlukan informasi yang teliti mengenai kondisi, posisi, dan keadaan sekitar pipa. Pada penelitian ini kegiatan inspeksi dilakukan dengan melakukan pendeteksian keberadaan pipa bawah laut berdasarkan data multibeam echosounder dengan menggunakan perangkat lunak EIVA NaviSuite. Data multibeam yang digunakan merupakan data hasil survei bathimetri di sekitar Muara Bekasi. Sebelum data multibeam diolah, dilakukan terlebih dahulu pengolahan data patch test untuk mendapatkan nilai alinyemen multibeam dengan sensor gerak dan gyro yang terdapat pada IMU (Inertial Measurement Unit). Hasil pengolahan data patch test untuk pitch sebesar -0,055°, roll -0,361°, dan yaw -1,095°. Berdasarkan pengolahan data multibeam, permukaan dasar laut di lokasi survei relatif datar dengan kisaran kedalaman antara 24,13m sampai dengan 25,05m di bawah permukaan laut. Pada lokasi tersebut terdapat pipa sepanjang 531m yang terletak di atas permukaan dasar perairan. Pada pipa terbebut, terdapat 91m bagian pipa yang membentang bebas (freespan) dengan ketinggian maksimum bawah pipa terhadap permukaan dasar laut adalah 1,95m.
ANALISA PENENTUAN POSISI HORISONTAL DI LAUT DENGAN MAPSOUNDER DAN AQUAMAP Khomsin, Khomsin; Separsa, G Masthry Candhra
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1563

Abstract

Salah satu komponen dalam survey hidrografi ataupun survey bathimetri di laut adalah pengukuran posisi horisontal. Perkembangan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS), khususnya Global Positioning System (GPS) yang sangat pesat, sangat membantu dalam hal penentuan posisi horisontal di laut. Ada beberapa variasi metode dan teknik pengukuran dengan GPS untuk menentukan posisi di laut yaitu absolut dan diferensial (kinematic, real time kinematic dan real time DGPS). Saat ini banyak surveyor yang melakukan penentuan posisi dengan menggunakan GPS Navigasi yaitu Mapsounder dan Aquamap dengan alasan mudah dan murah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa ketelitian posisi horisontal di laut dengan menggunakan fish finder (Mapsounder dan Aquamap). Tingkat ketelitian posisi horisontal dapat diketahui dengan cara membandingkan posisi horisontal yang diperoleh dari GPS Internal fish finder dengan GPS Geodetik. Penghitungan nilai standar deviasi dilakukan untuk mengetahui nilai ketelitian posisi horisontal fish finder. Dimana hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketelitian posisi horisontal menggunakan Aquamap terhadap GPS Geodetik yang terikat dengan CORS adalah sebesar ± 1,474 m. Sedangkan ketelitian Mapsounder terhadap GPS Geodetik yang terikat dengan CORS adalah sebesar ± 2,537 m. Mengacu kepada IHO dan SNI, tingkat keakuratan data posisi horisontal Aquamap dan Mapsounder berada pada orde 1 (diatas 95%), yakni 100% untuk Aquamap dan 97,7% untuk Mapsounder.
GEOMARINE 1: AUTONOMOUS USV (UNMANNED SURFACE VEHICLE) UNTUK MENDUKUNG SURVEI HIDRO-OCEANOGRAFI Pratomo, Danar Guruh; Rahmadiansah, Andi; Cahyadi , Mokhamad Nur; Anjasmara, Ira Mutiara; Khomsin, Khomsin; Adi, Fajar Setio
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1576

Abstract

Survei hidro-oceanografi dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisik dari suatu perairan. Salah satu kegiatan yang termasuk dalam survei hidro-oceanografi adalah penentuan kedalaman dan pencitraan bentuk topografi dasar laut. Pada umumnya, survei tersebut dilakukan dengan menggunakan wahana apung (kapal) yang relatif besar yang minimal dapat menampung surveyor dan pengemudi kapal. Wahana apung konvensional tersebut memiliki keterbatasan dalam bermanuver, terutama di daerah perairan yang dangkal dan sempit. Keterbatasan dalam mobilisasi, juga menjadi kendala ketika wahana apung konvensional akan digunakan untuk survei di area perairan pedalaman (sungai, waduk, dam, bekas galian tambang). Geomarine 1 merupakan solusi alternatif untuk melakukan survei hidro-oseanografi di daerah perairan dimana penggunaan wahana apung konvensional tidak dapat digunakan secara efektif. Geomarine 1 merupakan wahana apung tanpa awak (Unmanned Surface Vehicle) yang memiliki sistem mandiri (autonomous).  Wahana apung tanpa awak ini dilengkapi dengan sensor anti tabrakan (collision avoidance) dan fungsi kembali ke titik awal (home return) apabila survei sudah selesai dilakukan ataupun pada saat baterai akan habis. Sensor survei hidro-oceanografi yang terdapat pada wahana ini merupakan kombinasi sensor akustik dan optik. Sensor akustik digunakan untuk penentuan kedalaman dan pencitraan topografi dasar laut, sedangkan sensor optik digunakan untuk perekaman kondisi fisik perairan secara visual.
Analisa Perbandingan Volume 3'S (TS, GNSS, &TLS) Khomsin, Khomsin; Pratomo, Danar Guruh; Akbar , Achmad Faizuddin
GEOID Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i1.1595

Abstract

Teknologi survei dan pemetaan semakin hari semakin berkembang. Saat ini untuk survei topografi, alat yang digunakan adalah Total Station, GNSS, drone, dan Terrestrial Laser Scanner. Pada penelitian ini akan mengukur 2 stockpile dan membandingkan hasil perhitungan volume dari data TS, TLS, dan GPS. Sebagai acuan, hasil pengukuran TLS. Uji ketelitian menggunakan RMSE (Root Mean Square Error) di beberapa titik ICP (Independent Check Point). Pada penelitian ini nilai RMSE volume antara TS dan TLS memiliki selisih kecil. Sedangkan hasil perhitungan volume dengan GPS RTK dan TLS memiliki nilai deviasi yang lebih besar pada area studi. hasil uji RMSE dari (ICP) didapatkan RMSE dari hasil koordinat Total Station terhadap TLS pada area studi yang berada di gudang sebesar 0,001 m pada absis, 0,002m pada ordinat, dan 0,001 m pada ketinggian. Dan pada GPS RTK (0,007)M pada absis, (0,006) m pada ordinat , dan (0,005)m pada ketinggiannya. Jika pada studi area timbunan didapatkan nilai RMSE pada Total Station (0,002) m, (0,001) m, (0,002) m dan pada GPS RTK (0,008) m, (0,008) m, (0,004) m.
PERBANDINGAN NILAI CHART DATUM DARI LIMA VARIASI DATA BERDASARKAN LAMA PENGAMATAN PASANG SURUT AIR LAUT DI STASIUN PASUT JAKARTA Marantika, Happy Ary Wahyu; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 15 No. 2 (2020)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v15i2.1653

Abstract

One of the problems that may arise in the development of new marine infrastructure is the unavailability of the datum chart value. So, there is a need for tide observations to determine the value of the datum chart in the area. This study contains a comparison of the value of chart datum from five variations of the length of observation at the tide station of the Geospatial Information Agency (BIG) in Jakarta. The results of this study can be used to consider the efficiency of tidal observations, especially in determining the duration of observation. The value of the chart datum (MSL and LWS) is calculated from the tidal component generated from the harmonic analysis using Matlab. Test the significance of the value of the datum chart in Microsoft Excel. From this study, it can be concluded that a good long-term predictive value of MSL can be obtained from observations for 15 days or 30 days, without the need for long observations of up to one year. While the LWS predictive value is getting better when the observations are made longer. The smallest difference in MSL value on average from each variation of the observation time is 0 meters and the largest is 0,002 meters, with the smallest difference in the average LWS value of each variation of the observation time 0,001 meters and the largest 0,221 meters.
Delimitasi Batas Pengelolaan Laut menurut Permendagri Nomor 141 Tahun 2017 (Studi Kasus: Provinsi Maluku Utara) Prasetyo, Haris Hakim; Khomsin, Khomsin; Pratomo, Danar Guruh
GEOID Vol. 16 No. 1 (2020)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v16i1.1665

Abstract

Terbentuknya Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 141 Tahun 2017 tentang Penegasan Batas Daerah yang mengacu kepada Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014. Sehinga ketentuan tersebut merupakan pedoman dalam penentuan delimitasi batas. Secara geografis Provinsi Maluku Utara memiliki pulau – pulau yang saling berdekatan dengan berbagai ukuran tipe, dengan mengesampingkan faktor sosial budaya Provinsi Maluku Utara dapat dikatakan sebagai provinsi yang berciri kepulauan. Provinsi Maluku Utara berbatasan langsung dengan Provinsi Papua Barat jarak antara kedua Provinsi tersebut kurang dari 24 mil maka dari itu perlu diadakan delimitasi batas wilayah pengelolaan laut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan luas wilayah pengelolaan laut dan batas wilayah pengelolaan laut Provinsi Maluku Utara. Dalam penelitian ada dua baseline yang digunakan, yaitu Normal Baseline menurut Permendagri No.141/2017 dan Archipelagic Baseline berdasarkan Rancangan Undang – Undang (RUU) tentang Percepatan Pembangunan Daerah Kepulauan. Hal ini yang menyebabkan perbedaan penarikan batas pengelolaan laut pada kedua Provinsi yang mengakibatkan perubahan pada luas wilayah pengelolaan laut. Perubahan pada baseline mengakibatkan perubahan point – point yang digunakan dalam pembentukan thieseen polygon. Hal ini yang menyebabkan perbedaan penarikan batas pengelolaan laut pada kedua Provinsi. Perbedaan kedua baseline ini akan menentukan wilayah pengelolaan laut. Luas wilayah pengelolaan laut Provinsi Maluku Utara dengan menggunakan normal baseline sebesar 88.743,06 km2, sedangkan dengan menggunakan archipelagic baseline berdasarkan RUU sebesar 152.958,92 km2. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi terkait penegasan kewenangan pengelolaan laut daerah bagi pemerintah daerah maupun instansi yang berwenang dan memberikan alternatif penegasan batas daerah di Provinsi Maluku Utara.Establishment Permendagri No. 141 year 2017 on the affirmation of regional boundaries referring to Undang – Undang No. 23 year 2014. These provisions are guidelines in determining boundary delimitation. Geographically, the province of North Maluku has islands that are adjacent to various types of type, by putting aside the socio-cultural factors of North Maluku Province can be said to be an archipelago-characterized province. North Maluku Province is directly adjacent to West Papua province the distance between the two provinces is less than 24 miles hence it is necessary to place the delimitation of the boundary of the Sea management area. This research aims to determine the area of marine management and boundaries of the Sea management region of North Maluku province. In this study, there are two baselines used, namely normal baseline according to Permendagri No.141 / 2017 and archipelagic baseline according to Rancangan Undang – Undang (RUU). Changes to the baseline result in point-point changes used in the Thieseen polygon formation. This led to the difference in the withdrawal of sea management boundaries in both provinces which resulted in a change in the area of marine management. These two baseline differences will determine the area of marine management. The area of marine management in North Maluku Province using the normal baseline is 88,743.06 km2 while using the archipelagic baseline based on RUU is 152,958.92 km2. This research is expected to be a reference to the affirmation of regional marine Management Authority for local government and authorized agencies and provide an alternative to an affirmation of regional boundaries in North Maluku province.
Analisa Pendangkalan Jalur Pelayaran Menggunakan Pemodelan Hidrodinamika 3D (Studi Kasus : Perairan Pelabuhan PT Petrokimia Gresik) Rohman, Yoga Arif; Pratomo, Danar Guruh; Khomsin, Khomsin
GEOID Vol. 17 No. 1 (2021)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v17i1.1716

Abstract

PT Petrokimia Gresik memiliki fasilitas penunjang produktivitas berupa pelabuhan terminal untuk kepentingan sendiri. Pelabuhan tersebut diharapkan selalu dalam keadaan yang baik dan selalu aman untuk digunakan lalu lintas pelayaran kapal-kapal yang melewati. Namun, kinerja pelabuhan sangat tergantung dari kedalaman alur pelayaran dan kolam labuhnya. Salah satu dari penyebab terjadinya pendangkalan pada pelabuhan adalah adanya sedimentasi yang terjadi secara terusmenerus dan pengendapan di suatu lokasi. Pada saat terjadi surut material akan terkikis, sedangkan pada saat pasang akan terbawa material yang mengendap. Lokasi pelabuhan yang berada di selat dan muara sungai yang mengakibatkan kondisi topografi dengan elevasi yang rendah pada pesisir pantai dan pelabuhan yang dikhawatirkan mempengaruhi kegiatan bersandar kapal. Salah satu langkah yang digunakan untuk mengatasi pendangkalan yaitu dengan dilakukan proses pengerukan terhadap sedimen yang mengendap di daerah tersebut. Oleh sebab itu, agar proses pengerukan berjalan efektif diperlukan pengetahuan tentang hidrodinamika air laut dan transpor sedimen di daerah perairan tersebut. Simulasi model numerik dapat digunakan menjadi cara yang efisien dan ekonomis. Pada vi penelitian ini akan dilakukan pemodelan hidrodinamika secara numerik dengan menunjukkan gambaran tentang pola arus laut dan penyebaran sedimentasi di Perairan Pelabuhan PT Petrokimia Gresik dengan menggunakan perangkat lunak pemodelan hidrodinamika 3D. Berdasarkan hasil pemodelan dihasilkan mengalami pertambahan kedalaman sebesar 0,640 m dengan dominan 0,080 m serta mengalami rata-rata perubahan kedalaman sebesar 0,055 m dan memiliki kecepatan perubahan kedalaman hingga sebesar 0,030 m/hari dengan memiliki rata-rata kecepatan perubahan kedalaman sebesar 0,002 m/hari. Maka, jika diakumuluasikan dalam sebulan mendapatkan kecepatan perubahan kedalaman sebesar 0,060 m.
Co-Authors Achmad Faizuddin Akbar Adi, Fajar Setio Adireta Dwi Witantono Adireta Dwi Witantono, Adireta Dwi ADITYA NUGRAHA Aditya Nugraha Agung Budi Cahyono Akbar , Achmad Faizuddin Akbar Kurniawan Andhika Prastyadi Nugroho Andi Rahmadiansah Andi Rahmadiansah Anggun Aprilia Sari Aninda Nurry Aninda Nurry, Aninda Anjasmara , Ira Mutiara Anjasmara, Ira Mutiara Anwar, Nadjadji Ardi, Muhammad Maulana Arif Rahman Ashar, Muammar Khadafi Atika Sari Bramiasto Fakhruddin Eko Putranto Budisusanto , Yanto Budisusanto, Yanto Busro, Fathoni Cahyadi , Mokhamad Nur Cahyadi, M. Nur Cheri Bhekti Pribadi Dany Okta Dewantara Dewangga Eka Mahardian Dewantara, Dany Okta Dody Pambudhi Eko Artanto Eko Artanto, Eko Fajar Setio Adi Fathoni Busro Fathur Rohman Fauzan Syaikhu Islam Felik Dwi Yoga Fikri Bamahry Guruh Pratomo, Danar Handoko, Eko Yuli Happy Ary Wahyu Marantika I. K. Arimbawa Ira Mutiara Anjasmara Ira Mutiara Anjasmara, Ira Mutiara Irfan Maulana Yusuf Joni Efendi Kamila Akbar Khariz Syaputra Krisma Hutanti Krisna, Trismono Candra Kurniawan, Akbar Latif Yuhana, Rofikoh M Dwiki Amirullah M. Dwiki Amirullah Mahardian , Dewangga Eka Marantika, Happy Ary Wahyu Melisa Ayuningtyas Miftakhul Ulum Mila Widyasari Mohammad Rohmaneo Darminto Mokhamad Nur Cahyadi, Mokhamad Nur Muammar Khadafi Ashar Muammar Khadafi Ashar Muammar Khadafi Ashar, Muammar Khadafi Muhammad Solihin, Muhammad MUHAMMAD TAUFIK Nasution, Annio Indah Lestari Nugroho, Andhika Prastyadi Nur Rahman Nur Rahman, Nur Pambudhi, Dody Pandu Yuri Pratama Prasetyo, Haris Hakim Prasetyo, Haris Hakim Pratama , Pandu Yuri Pratomo , Danar Guruh Pratomo, Danar Guruh Pratomo, Danar Guruh Pribadi , Cherie Bhekti Pribadi, Cheri Bhekti Pribadi, Cherie Bhekti Purwanti , Renita Putra Nur Ariffianto Rafik, Abdul Rafli Maulana Rahimmatussalisa Rahimmatussalisa, Rahimmatussalisa Rahman, Arif Rainhard S. Simatupang Renita Purwanti Ria Widiastuty Ria Widiastuty, Ria Ristanto, Wahyu Rizky Romadhon Rohman, Yoga Arif Sari , Atika Separsa, G Masthry Candhra Simatupang, Rainhard S. Susilo Susilo Talif, Musdiyana Taufik , Muhammad Teguh Fayakun Teguh Fayakun, Teguh Teguh Hariyanto, Teguh Titiarni , Mariska Titiarni, Mariska Torana Arya Gasica Trismono C. Krisna Trismono Candra Krisna Ulum , Miftakhul Wahyu Ristanto Yoga Arif Rohman Yuwono Yuwono Yuwono Yuwono Yuwono Yuwono Zahra, Ayu Isnania