Claim Missing Document
Check
Articles

Pastoral Strategy in Developing the Dimension of Understanding Generation Z Joni Manumpak Parulian Gultom; Fransiskus Irwan Widjaja; Martina Novalina; Ester Lina Situmorang; Yohana Natassha
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 6, No 1 (2022): January 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.685 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v6i1.472

Abstract

The research center numbers released the results of the 2021 survey, where generation Z has the smallest spiritual index of 3.50, while the spiritual index of Indonesia is 3.79. The index of understanding dimensions is low, namely 3.13 for self-image and 3.40 for motivation. This paper aims to find a new pastoral strategy in reaching generation Z for self-image restoration and motor development. The next goal is to build synergy with parents in spiritual growth. This study uses a qualitative method with data collection through literature study and observation. The argument is that shepherds play an essential role in developing the understanding dimension of Generation Z. The first step is to restore self-image with the Family Healing Movement with parents. The second thing is that pastors provide spiritual assistance to develop motivation and improve pastoral services on social media through counseling and training guidance. Her contribution; 1) pastors work together with parents to become inspirations and mediators in recovery, 2) spiritual practitioners take a fundamental part in social media, 3) maximize the pioneering of shepherding young people by new shepherds.
YOSUA SANG PEPEMIMPIN: Implementasi Pola Kepemimpinan Yosua Dalam Kehidupan Bergereja Masa Kini Yupe Usiel; Solideo Bole; Suarman Lase; Sylvia Natalia; Fransiskus Irwan Widjaja; Talizaro Tafonao
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol. 3 No. 1 (2022): Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v3i1.82

Abstract

This research aims to understand Joshua’s leadership pattern that can be integrated into the churches today. In this writing, the author will discuss that a Christian leader is a person who has received a salvation from God through Jesus Christ, and he or she believes that God has called him or her with a responsibility, as a Christian leader which has the quality to integrate. The methodology in this research is qualitative. The author examined database using resources from articles, journals, books, and reliable literatures. The findings from this research that the model of Joshua’s leadership is kind, courage, integrated, innovative, and perseverance. Therefore, Joshua’s leadership is able to be implemented in every day’s aspect of life as a Christian as well as in development of education and technology.
The Role of Christian Religious Education as a Strategy in Dating Radicalism of Religion in Indonesia Fredik Melkias Boiliu; Fransiskus Irwan Widjaja; Dewi Lidya Sidabutar
Conference Series Vol. 2 No. 1 (2020): International Conference on Christian and Inter Religious Studies
Publisher : ADI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper is an attempt to include the role of Christian religious education as a strategy in counteracting religious Radicalism in Indonesia. The purpose of Christian religious education is significant in the lives of families, schools, churches, and the midst of plural society. The presence of Christian religious education in plural society becomes essential so that believers can live and apply their faith in daily life. The challenge of Christian religious education today is radicalism. Radicalism is an understanding that requires a change, turnover, and penetrating a community system to the root. Radicalism wants a total change in a condition or all aspects of community life. Radicals assume that the plans used are the ideal plans. The meaning of radicalism in a religious perspective can be interpreted as a theological understanding. That refers to a fundamental spiritual foundation with a very high religious fanaticism, so it is not uncommon for adherents of these understandings/sects to use violence to actualize the spiritual belief held and believed. In this case, there are several characteristics that can be identified from radical attitudes and perceptions, namely, intolerance (not wanting to respect the opinions and beliefs of others), fanatics (always feeling right on their own; think others are wrong), exclusive (assuming their religion is the most correct) and revolutionary (tend to use violent means to achieve goals). Seeing the development of radicalism that is increasingly developing in Indonesia, especially Radicalism in Religion, we try to include Christian religious education as a strategy in counteracting religious radicalism through teaching Christian religious education in families, churches, schools, and even amid plural society.
PLURALITAS DAN TANTANGAN MISI: KERANGKA KONSEPTUAL UNTUK PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK Fransiskus Irwan Widjaja
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 4, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.87 KB) | DOI: 10.46307/rfidei.v4i1.28

Abstract

The purpose of this paper is to see plurality and mission as a conceptual framework in Christian religious education. Building pluralism is an appeal to accept pluralism is an order of people who understand each other that in essence they are a unity in diversity. Pluralism is a condition where there are various things. Religious pluralism explain "all religions have the right to exist and live. Socially, we must learn to be tolerant and even respect the faith or beliefs of followers of other religions. Religious communities need to rethink their religious responsibilities to work together, and even in some cases act as agents of God's general grace in promoting peaceful and harmonious coexistence among people of all religions. In this shell of plurality and mission, the concept of pluralistic Christian religious education developed. Abstrak: Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melihat Pluralitas dan misi sebagai kerangka konseptual dalam pendidikan agama Kristen. Membangun pluralisme merupakan imbauan menerima kemajemukan merupakan sebuah tatanan masyarakat yang saling mengerti bahwa pada hakekatnya mereka merupakan kesatuan dalam kepelbagaian. Pluralisme adalah suatu kondisi dimana adanya keberadaan sesuatu yang beragam. Pluralisme agama berarti ”semua agama berhak untuk ada dan hidup”. Secara sosial, kita harus belajar untuk toleran dan bahkan menghormati iman atau kepercayaan dari penganut agama lainnya. Komunitas agama perlu memikirkan kembali tanggung jawab agamanya untuk bekerja sama, dan bahkan dalam beberapa hal bertindak sebagai agen rahmat umum Tuhan dalam mempromosikan hidup berdampingan secara damai dan harmonis di antara orang-orang dari semua agama. Dalam kerang pluralitas dan misi inilah, konsep pendidikan agama Kristen yang majemuk dikembangkan.
Dampak Pluralisme terhadap Penyampaian Amanat Agung di Era Digital Yovianus Epan; Sandi Naftali; Yulius Subari Putra; Prananto Prananto; Fransiskus Irwan Widjaja
Angelion Vol 3, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v3i1.293

Abstract

Dalam dunia pluralis, kekristenan dihadapkan pada tantangan yang serius, pluralis menerapkan keharmonisan dalam keberagaman untuk menciptakan kedamaian. Setiap orang merasa perlu terbuka terhadap agama, suku, dan budaya. Hal ini juga berarti bahwa setiap orang juga bebas menjalankan kebenaran yang diyakininya. Dampaknya setiap orang bebas menjalankan agamanya masing-masing tanpa ada intervensi dari agama maupun kelompok lain, dan ini menyebabkan setiap agama tidak dapat menjalankan ekspansi jiwa-jiwa dengan bebas untuk menjadi pengikutnya meskipun pluralisme memiliki cara untuk membicarakan agama melalui cara berdialog. Hal ini juga berdampak bagi penyampaian amanat agung yang menjadi terbatas sehingga orang percaya tidak termotivasi lagi dalam menyampaiakn kabar baik karena adanya dampak pluralisme. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi informasi dan komunikasi juga memberikan peluang bagi pemberitaan kabar baik di tengah masyarakat pluralis (sosial media). Adapun kebaruan yang ditawaran dalam penelitian ini juga berpangakal dari penelitan sebelumnya, seperti yang dikemukakan oleh Fransiskus Irwan Widjaja menandaskan bahwa kelompok agama perlu melihat kambali tanggung jawabnya agar dapat berkerja sama, dan bertindak sebagai distributor rahmat Tuhan dalam eskalasi keharmonisan dan kedamaian agama-agama. Selaras juga dengan apa yang ditulis oleh Y. Hariprabowo dalam kesimpulan yang paparkan dalam penelitiannya bahwa dialog merupakan unsur dasar dalam misi evangelikal, yang memperkenalkan nilai-nilai dari Injil. Kedua penelitian tersebut sudah mengemukakan dampak pluralisme dan penyampaian amanat agung sehingga penulisan ini menawarkan dampak plurlisme terhadap penyampaian amanat agung era digital. Data-data yang diperoleh diharapkan dapat membantu orang percaya untuk mengambil celah pemberitaan injil di era digital.Kata Kunci: Pluralisme; Amanat Agung; dan Era Digital
Penginjilan Epafras di Jemaat Kolose dan Aplikasinya bagi Misi dan Penginjilan dalam Masyarakat Plural Christian Daniel Raharjo; Rusgiyati Rusgiyati; David Ellyanto; Fransiskus Irwan Widjaja
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari perkembangan gereja masa ke masa, orang-orang Kristen diperhadapkan dengan salah satu isu permasalahan utama yaitu upaya jemaat Tuhan dalam melaksanakan agenda misi dan penginjilan. Terlebih dewasa ini, di mana berkembang pemahaman pluralisme agama. Pemahaman yang mengatakan bahwa kita sedang menyembah pada satu kebenaran yang sama hanya saja dengan cara yang berbeda-beda. Jika gereja Tuhan tidak memiliki pengertian yang benar dan sikap yang bijaksana dalam merespon pemahaman ini maka gereja akan semakin dipojokkan dalam upaya misi penginjilan. Oleh karena itu, melalui artikel ini penulis tertarik untuk meneliti tentang pelayanan dan penginjilan Epafras, sosok yang jarang sekali dibahas oleh gereja. Pemberita Injil yang disebut berhasil mendirikan jemaat Kolose di tengah perbedaan budaya dan ancaman filsafat palsu maupun ajaran sesat. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif-deskriptif guna menganalisa ayat-ayat dan literatur-literatur yang berkaitan dengan subyek penelitian ini. Melalui analisa yang dilakukan, penulis meyakini salah satu faktor penentu keberhasilan pelayanan misi dan penginjilan adalah kualitas pribadi sang penginjil itu sendiri. Kualitas pribadi Epafras yang terbentuk dalam pelayanan dan juga melalui pemuridan rasul Paulus membawa Epafras berhasil mendirikan jemaat Kolose.
Karakteristik Kepemimpinan Pentakostal-Karismatik: Refleksi Daniel 6:4 Phanny Tandy Kakauhe; Fransiskus Irwan Widjaja
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 3, No 2: Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.752 KB) | DOI: 10.53547/diegesis.v3i2.81

Abstract

Pentecostal-Charismatic Leadership has often drawn criticism from controversy, and many have negative nuances. However, this leadership has dynamic strength which its character, and it must be realized by many parties. The purpose of the discussion in this article is to show the characteristics of Pentecostal-Charismatic leadership through the modeling shown by Daniel. With a qualitative approach and using a descriptive interpretive analysis method in the passage of Daniel 6: 4, the result is that Daniel's charismatic leadership is indicated by the phrase "extraordinary spirit". In conclusion, Pentecostal-Charismatic leadership must be characterized by the work or manifestation of the Holy Spirit within the leader, so as to make the leader have an extraordinary spirit, as the quality or value of his leadership.AbstrakKepemimpinan Pentakosta-Karismatik seringkali menuai kritik kontroversi, dan tidak sedikit yang bernuansa negatif. Namun demikian kepemimpinan ini memiliki kekuatan yang dinamis yang menjadi karakteristiknya, dan harus disadari oleh banyak pihak. Tujuan pembahasan da-lam artikel ini adalah untuk menunjukkan karakteristik kepemimpinan Pentakosta-Karismatik yang melalui permodelan yang ditunjukkan oleh Daniel. Dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode deskriptif analisis interpretatif pada nas Daniel 6:4, maka diperoleh hasil bahwa kepemimpinan karismatik Daniel ditunjukkan oleh frasa “roh yang luar biasa”. Kesim-pulannya, kepemimpinan Pentakostal-Karismatik haruslah dikarakterisasi oleh pekerjaan atau manifestasi Roh Kudus dalam diri pemimpinnya, sehingga membuat pemimpin tersebut memili-ki roh yang luar biasa, sebagai kualitas atau nilai kepemimpinannya.
Papua dan Panggilan Macedonia di Zaman Milenium Baru Fransiskus Irwan Widjaja
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.51 KB) | DOI: 10.53547/diegesis.v2i1.50

Abstract

Mission is an integral part of Christianity. The activities of the western world mission that have sent 164 years of missionaries to the land of Papua have no impact on Papua. The existence of the church of God in the land of Papua also has no impact and significance for the people of Papua. Papua lost its identity as a gospel land. The high level of Islamization, the low level of education, and the high level of poverty makes it necessary for Papua to be helped. Papua is calling as Macedonia calls in the millennium. AbstrakMisi merupakan bagian yang integral dengan agama Kristen. Kegiatan misi dunia barat yang sudah mengutus misionari 164 tahun ke tanah  Papua, tidak membaw dampak bagi Papua Keberadaan gereja Tuhan di tanah papua juga tidak membawa dampak dan berarti bagi penduduk papua. Papua kehilangan jati diri sebagai tanah injil. Tingginya islamisasi, rendahnya tingkat pendidikan dan tingginya kemiskinan membuat papua perlu di tolong. Papua sedang memanggil seperti Panggilan Macedonia di jaman millennium.
Analisis Kepemimpinan Kristen Berdasarkan Markus 10:43-45 dan Implementasinya Dalam Pertumbuhan Rohani Jemaat Di Masa Pandemi Rismag Dalena Monica Br Manurung Manurung; Jenri Prada Sibarani; Jaya Supan; Fransiskus Irwan Widjaja; Talizaro Tafonao
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 2 No 1 (2022): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.561 KB) | DOI: 10.54170/dp.v2i1.84

Abstract

This article aims to provide an overview for Christian leaders or servants of God during a pandemic, so that they become leaders who have credibility or divine character and can be useful in ministry, especially by following the developments of the times during the pandemic. Leaders during a pandemic must work hard and learn to keep up with the times. Especially with the condition where the church must follow the protocol in accordance with government directives in conducting online and offline worship. Descriptive qualitative research is a research method in analyzing Christian leadership based on Mark 10:43-45 and its implementation in the spiritual growth of the congregation during a pandemic. The sources used by the author in reviewing this article are journals, books, and other reliable references to support the author's analysis in this article. The results obtained in this study are leaders serve and are sensitive to existing situations as found in the text of Mark 10:43-45. This kind of leadership is very influential on the growth of the church, both in quality and quantity. Thus, the analysis of Christian leadership offered by Mark 10 becomes an important part and must be applied by every Christian leader in serving so that the congregation's spiritual growth during the current pandemic. Artikel ini bertujuan untuk memberi gambaran bagi pemimpin Kristen atau hamba Tuhan di masa pandemi, agar menjadi pemimpin yang punya kredibilitas atau karakter ilahi serta dapat bermanfaat didalam pelayanan terkhusus dengan mengikuti perkembangan zaman di masa pandemi. Pemimpin di masa pandemi haruslah bekerja keras dan belajar dalam mengikuti perkembangan zaman. Terkhususnya dengan kondisi di mana gereja harus mengikuti protokol sesuai dengan arahan pemerintah dalam melakukan ibadah online dan offline. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menganalisis kepemimpinan Kristen berdasarkan Markus 10:43-45 dan implementasinya dalam pertumbuhan rohani jemaat di masa pandemic. Sumber-sumber yang digunakan oleh penulis dalam mengkaji artikel ini adalah jurnal, buku-buku, serta refrensi lainnya yang terpecaya untuk mendukung analisis penulis dalam artikel ini. Hasil yang didapatkan dalam kajian ini adalah pemimpin melayani dan peka terhadap situasi yang ada sebagaiamana temuan dalam teks Markus 10:43-45. Kepempinan seperti ini sangat berpengaruh pada pertumbuhan gereja, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dengan demikian bahwa analisis kepemimpinan Kristen yang ditawarkan Markus 10 menjadi bagian yang penting dan harus diterapkan setiap pemimpin Kristen dalam melayani agar rohani jemaat bertumbuh di masa pandemi saat ini.
Menuju Evolusi Ibadah Kristen di Masa Pandemi Covid-19 Fransiskus Irwan Widjaja; Fredik Melkias Boiliu; Didimus SB Prasetya; Haposan Simanjuntak; Vicky BGD Paat
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.87

Abstract

The rapid spread of COVID-19 throughout the world is changing the way everyone lives in socializing; the environment most used for a living has rapidly shrunk into homes. Business, schools, and religious services all move quickly online. No one knows precisely how long these physical and social restrictions will last -or what are the short and long-term impacts on religious life? In standard times, the presence of religious adherents in houses of worship is used by sociologists as a condition of religiosity for every religious devotee. But how can religiosity be measured in a time when people are alone? And in a time when people are not allowed to meet in large groups or even leave their homes.  What will the Religiosity of Religion look like in the future? And how will the coronavirus affect the religious practices of the Nusantara religions? This paper aims to provide a way forward for studying post-pandemic evolutionary religions that are significant in Indonesia. This study uses an evaluation method in a qualitative approach. The exploration into the evolution of human religiosity is often distorted by assumptions made about religion's nature. This review explores developments in the evolution of religion and provides critical evaluations of different theoretical positions. In general, scholars believe that religion is adaptive. In this set of ideas, theologians' evolutionary insight is not a threat but rather an essential clarification of cross-cultural religion's evolution.Penyebaran COVID-19 yang cepat ke seluruh dunia mengubah cara hidup setiap orang dalam bersosialisasi; lingkungan yang paling banyak digunakan untuk hidup telah dengan cepat menyusut menjadi rumah. Bisnis, sekolah, dan layanan keagamaan semuanya bergerak cepat secara online. Tidak ada yang tahu persis berapa lama pembatasan fisik dan sosial ini akan bertahan atau apa dampak jangka pendek dan jangka panjangnya terhadap kehidupan beragama. Pada zaman standar, kehadiran pemeluk agama di rumah ibadah dimanfaatkan para sosiolog sebagai syarat religiusitas setiap pemeluk agama. Tapi bagaimana religiusitas bisa diukur di saat orang sendirian? Dan di saat orang tidak diperbolehkan bertemu dalam kelompok besar atau bahkan meninggalkan rumah. Seperti apa Religiusitas Agama di masa depan? Dan bagaimana virus corona akan mempengaruhi praktik keagamaan agama-agama Nusantara? Makalah ini bertujuan untuk memberikan jalan ke depan untuk mempelajari agama-agama evolusioner pasca-pandemi yang signifikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dan studi literature. Penjelajahan ke dalam evolusi religiusitas manusia sering kali terdistorsi oleh asumsi-asumsi yang dibuat tentang hakikat agama. Ulasan ini mengeksplorasi perkembangan dalam evolusi agama dan memberikan evaluasi kritis tentang posisi teoritis yang berbeda. Secara umum, para sarjana percaya bahwa agama itu adaptif. Dalam kumpulan gagasan ini, wawasan evolusioner para teolog bukanlah ancaman, melainkan klarifikasi esensial dari evolusi agama lintas budaya.
Co-Authors Abehud Bawatji Abraham, Rubin Adi Alfian Paskah Wayoi Allo, Bertha Padang Antonius Natan Ardi Lahagu Ardy Lahagu Ardy Lahagu Benteng M. M Purba Benteng MM Purba Boiliu, Fredik Melkias Boiliu, Noh Ibrahim Ceria Ceria Ceria, Ceria Christian Daniel Raharjo Daniel Ginting Daniel Ginting Daniel Ginting Darianti Darianti David Ellyanto Dewi Lidya S Didimus SB Prasetya Evan Dongoran Ferdinandes Petrus Bunthu Frederik Patar Hutahaean Gultom, Joni Manumpak Parulian Handreas Hartono Harefa, Otieli Harls Evan R. Siahaan Harls Evan R. Siahaan Hendrik Bernardus Tetelepta Herman Hutagalung, Sabar Manahan Jamin Tanhidy Jan Lukas Jaya Supan Jaya Supan Jenri Prada Sibarani Johannes Tarigan Johannis Siahaya Julianus Julianus Juntriman Purba Lahagu, Ardianto Lidya Dewi S Manahan Uji Simanjuntak Manurung, Rismag Dalena Monica Br Manurung Marisi, Candra Gunawan Martina Novalina Munatar Kause Nainggolan, Imayanti Natassha, Yohana Noyita, Efvi Octavianus Nathanael Paat, Vicky BGD Phanny Tandy Kakauhe Prananto Prananto Purba, Benteng Martua Mahuraja Rijaltri Sudarman Sihombing Rikson Situmorang Rini Rini Rini Sumanti Sapalakkai Rismag Dalena Monica Br Manurung Manurung Roi Ganda Panggabean Rusgiyati Rusgiyati Ruslim, Samuel Kelvin Sabar Hutagalung Sabar M Hutagalung Samuel Manaransyah Sandi Naftali Sang Putra Immanuel Duha Sanjaya, Yudhy Shintike Maya Sianipar, Ronald Sibarani, Jenri Prada Sihar Lamhot Simatupang Simanjuntak, Fredy Simanjuntak, Haposan Simanjuntak, Irfan Feriando Situmorang, Ester Lina Solideo Bole Sophia, Selvyen Suarman Lase Sylvia Natalia Tafonao, Talizaro TARIGAN, Johannes Togatorop, T. Mangiring Tua Togatorop, Timotius Mangiring Tua Tri Murni Situmeang Vicky BGD Paat Waruwu, Septerianus Winson Simmamora Winson Simmamora Ya’aman Gulo Yesimieli Laiya Yohana Natassha Yovianus Epan Yulius Subari Putra Yunardi Kristian Zega Yupe Usiel Yusnoveri Zebua, Peringatan Zega, Yunardi Kristian