Claim Missing Document
Check
Articles

Menuju Evolusi Ibadah Kristen di Masa Pandemi Covid-19 Fransiskus Irwan Widjaja; Fredik Melkias Boiliu; Didimus SB Prasetya; Haposan Simanjuntak; Vicky BGD Paat
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.87

Abstract

The rapid spread of COVID-19 throughout the world is changing the way everyone lives in socializing; the environment most used for a living has rapidly shrunk into homes. Business, schools, and religious services all move quickly online. No one knows precisely how long these physical and social restrictions will last -or what are the short and long-term impacts on religious life? In standard times, the presence of religious adherents in houses of worship is used by sociologists as a condition of religiosity for every religious devotee. But how can religiosity be measured in a time when people are alone? And in a time when people are not allowed to meet in large groups or even leave their homes.  What will the Religiosity of Religion look like in the future? And how will the coronavirus affect the religious practices of the Nusantara religions? This paper aims to provide a way forward for studying post-pandemic evolutionary religions that are significant in Indonesia. This study uses an evaluation method in a qualitative approach. The exploration into the evolution of human religiosity is often distorted by assumptions made about religion's nature. This review explores developments in the evolution of religion and provides critical evaluations of different theoretical positions. In general, scholars believe that religion is adaptive. In this set of ideas, theologians' evolutionary insight is not a threat but rather an essential clarification of cross-cultural religion's evolution.Penyebaran COVID-19 yang cepat ke seluruh dunia mengubah cara hidup setiap orang dalam bersosialisasi; lingkungan yang paling banyak digunakan untuk hidup telah dengan cepat menyusut menjadi rumah. Bisnis, sekolah, dan layanan keagamaan semuanya bergerak cepat secara online. Tidak ada yang tahu persis berapa lama pembatasan fisik dan sosial ini akan bertahan atau apa dampak jangka pendek dan jangka panjangnya terhadap kehidupan beragama. Pada zaman standar, kehadiran pemeluk agama di rumah ibadah dimanfaatkan para sosiolog sebagai syarat religiusitas setiap pemeluk agama. Tapi bagaimana religiusitas bisa diukur di saat orang sendirian? Dan di saat orang tidak diperbolehkan bertemu dalam kelompok besar atau bahkan meninggalkan rumah. Seperti apa Religiusitas Agama di masa depan? Dan bagaimana virus corona akan mempengaruhi praktik keagamaan agama-agama Nusantara? Makalah ini bertujuan untuk memberikan jalan ke depan untuk mempelajari agama-agama evolusioner pasca-pandemi yang signifikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dan studi literature. Penjelajahan ke dalam evolusi religiusitas manusia sering kali terdistorsi oleh asumsi-asumsi yang dibuat tentang hakikat agama. Ulasan ini mengeksplorasi perkembangan dalam evolusi agama dan memberikan evaluasi kritis tentang posisi teoritis yang berbeda. Secara umum, para sarjana percaya bahwa agama itu adaptif. Dalam kumpulan gagasan ini, wawasan evolusioner para teolog bukanlah ancaman, melainkan klarifikasi esensial dari evolusi agama lintas budaya.
Contextual Mission Construction according to the Jubata Concept in the Kanayatn Dayak Tribe in Introducing the Triune God Ceria Ceria; Yunardi Kristian Zega; Fransiskus Irwan Widjaja; Jamin Tanhidy
International Journal of Indonesian Philosophy & Theology Vol 3, No 2 (2022): December
Publisher : Asosiasi Ahli Filsafat Keilahian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47043/ijipth.v3i2.34

Abstract

The purpose of this research is to describe the contextual mission construction using the concept of Jubata to introducing the concept of the Trinity in a biblical view to Dayak Tanayatn people This study uses a qualitative descriptive approach to identify how the Kanayatn Dayak understand the Jubata figure. The results show that through the adaptative method and using the seven Jubata names in the Kanayatn Dayak language to understanding the concept of the Triune God in biblical view and change the understanding of the survivors' sacrifices to be understood as worldly salvation, not eternal in nature through the image of Jubata (which is equated with the spirit of the ancestors) but is directed to one of God's persons in the Trinity of God the Son (Jesus Christ) as the Savior of mankind. Thus, the contextual mission construction of the Jubata concept in the introduction of the Gospel of the Triune God can be a reference material for carrying out outreach missions to remote tribes and building contextual mission studies that are culturally appropriate to spread the Gospel among  the Kanayatn Dayak tribe in Landak, West Kalimantan.
Dampak Pluralisme terhadap Penyampaian Amanat Agung di Era Digital Yovianus Epan; Sandi Naftali; Yulius Subari Putra; Prananto Prananto; Fransiskus Irwan Widjaja
Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v3i1.293

Abstract

Dalam dunia pluralis, kekristenan dihadapkan pada tantangan yang serius, pluralis menerapkan keharmonisan dalam keberagaman untuk menciptakan kedamaian. Setiap orang merasa perlu terbuka terhadap agama, suku, dan budaya. Hal ini juga berarti bahwa setiap orang juga bebas menjalankan kebenaran yang diyakininya. Dampaknya setiap orang bebas menjalankan agamanya masing-masing tanpa ada intervensi dari agama maupun kelompok lain, dan ini menyebabkan setiap agama tidak dapat menjalankan ekspansi jiwa-jiwa dengan bebas untuk menjadi pengikutnya meskipun pluralisme memiliki cara untuk membicarakan agama melalui cara berdialog. Hal ini juga berdampak bagi penyampaian amanat agung yang menjadi terbatas sehingga orang percaya tidak termotivasi lagi dalam menyampaiakn kabar baik karena adanya dampak pluralisme. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi informasi dan komunikasi juga memberikan peluang bagi pemberitaan kabar baik di tengah masyarakat pluralis (sosial media). Adapun kebaruan yang ditawaran dalam penelitian ini juga berpangakal dari penelitan sebelumnya, seperti yang dikemukakan oleh Fransiskus Irwan Widjaja menandaskan bahwa kelompok agama perlu melihat kambali tanggung jawabnya agar dapat berkerja sama, dan bertindak sebagai distributor rahmat Tuhan dalam eskalasi keharmonisan dan kedamaian agama-agama. Selaras juga dengan apa yang ditulis oleh Y. Hariprabowo dalam kesimpulan yang paparkan dalam penelitiannya bahwa dialog merupakan unsur dasar dalam misi evangelikal, yang memperkenalkan nilai-nilai dari Injil. Kedua penelitian tersebut sudah mengemukakan dampak pluralisme dan penyampaian amanat agung sehingga penulisan ini menawarkan dampak plurlisme terhadap penyampaian amanat agung era digital. Data-data yang diperoleh diharapkan dapat membantu orang percaya untuk mengambil celah pemberitaan injil di era digital.Kata Kunci: Pluralisme; Amanat Agung; dan Era Digital
Dialog lintas kelompok dalam membangun harmoni kehidupan sebagai tindakan misi: Memaknai ulang narasi Yohanes 4:1-42 Zebua, Peringatan; Tarigan, Johannes; Widjaja, Fransiskus Irwan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.361

Abstract

The church is in a world that is experiencing various upheavals, including conflicts between groups, both groups based on religion, ethnicity, or class. As part of a social group, the church plays a role in developing dialogue which can have an impact on creating a harmonious life. This study aims to show that developing dialogue which has implications for the harmonization of life is part of Christian mission activities, which makes repentance possible. Through a qualitative approach to literature, using an interpretive descriptive analogy method on the narrative of John 4:1-42, it is concluded, the encounter of Jesus and the Samaritan woman is an analogy of a cross-group dialogic encounter in creating a harmonious life, as an act of Christian mission. AbstrakGereja berada dalam dunia yang sedang mengalami berbagai gejolak, di antaranya konflik antarkelompok, baik kelompok dengan basis agama, suku, atau golongan. Sebagai bagian dari kelompok sosial, gereja berperan untuk mengembangkan dialog yang dapat memberikan dampak pada terciptanya kehidupan yang harmonis. Kajian ini bertujuan untuk menunjukkan, bahwa mengembangkan dialog yang berimplikasi pada harmonisasi kehidupan merupakan bagian dari kegiatan misi Kristen, yang memungkinkan terjadinya pertobatan. Melalui pendekatan kualitatif literatur, dengan menggunakan metode analogi deskriptiif interpretatif atas narasi Yohanes 4:1-42, maka disimpulkan, perjumpaan Yesus dan perempuan Samaria merupakan analogi dari perjumpaan dialogis lintas kelompok dalam menciptakan kehidupan yang harmonis, sebagai tindakan misi Kristen.
Membangkitkan Semangat Kepemimpinan Kristen dalam Lingkungan Aras Nasional PGPI dan PGLII di Tanjung Balai Karimun Joni Manumpak Parulian Gultom; Hendrik Bernardus Tetelepta; Jan Lukas; Vicky BGD Paat; Fransiskus Irwan Widjaja; Otieli Harefa; Sang Putra Immanuel Duha; Septerianus Waruwu; Abehud Bawatji; Yusnoveri; Samuel Manaransyah; Rikson Situmorang
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 4 No. 2 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Cv. Utility Project Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v4i2.1016

Abstract

Kepemimpinan merupakan sarana pencapaian visi dan kesuksesan suatu organisasi, sehingga diperlukan kualifikasi dan semangat kepemimpinan yang baik. Banyak orang sangat ingin menjadi pemimpin untuk dapat masuk dalam status “elit” dari suatu sistem sosial dengan motivasi utama adalah kekuasaan, kehormatan, fasilitas, penampilan, pencitraan dan hak-hak istimewa lainnya (privillege). Mereka kurang menyadari bahwa tugas seorang pemimpin sejati memerlukan lebih banyak pengabdian, tanggungjawab, dan kebenaran. Itulah fenomena yang banyak dijumpai, orang ingin menjadi pemimpin bukan sebagai pengabdian, tetapi untuk mencari keuntungan dan kesenangan bagi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, program studi Doktoral Teologi STT Real Batam melakukan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) untuk membangkitkan semangat kepemimpinan Kristen di lingkungan Aras Nasional PGPI dan PGLII. Kegiatan ini telah diikuti kurang lebih 27 peserta. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah peserta dapat mengembangkan kemampuan dan pengetahuannya mengenai kepemimpinan Kristen, fungsi dan tujuan kepemimpinan Kristen, sikap seorang pemimpin gereja, dan bagaimana cara membangkitkan semangat kepemimpinan Kristen agar tetap berkobar setiap saat. Dengan begitu, setiap peserta memiliki pengetahuan yang memadai tentang kepemimpinan Kristen dalam gereja yang ideal dan sejalan dengan ajaran iman Kristen.
Studi Analek Konfusius Tentang Allah berdasarkan Konsep Wahyu Umum Herman; Fredy Simanjuntak; Fransiskus Irwan Widjaja; Noh Ibrahim Boiliu
APOSTOLOS Vol 1 No 2 (2021): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/a.v1i2.21

Abstract

The wisdom of Confucius as a great teacher of the Chinese nation has proven his hard work in studying nature and ancient scriptures to find values ?? that is valuable for human life. Apart from the fall of man into sin that damaged not only the relationship between man and God, but also with nature. The purpose of this paper is to review the abilities and efforts of Confucius in knowing God through general revelation so that an awareness is obtained that these creatures have an influence on the environment, have needs, and are needed by the environment. The method used is descriptive research with a qualitative approach, namely by describing completely Confucius' understanding of God recorded in the Holy Word (Confucius' Analects). This study concludes that Confucius' understanding of God from God's attributes expressed in general revelation is a gap in the gospel mandate associated with cultural mandates. This connects the pre-sin human image that allows a balance of a relationship between awareness of God, neighbor, and nature.
Konsep Lewi Dalam Estafet Kepemimpinan Gembala: Masihkah Relevan Bagi Gereja Saat Ini? Ruslim, Samuel Kelvin; Ceria, Ceria; Nainggolan, Imayanti; Widjaja, Fransiskus Irwan; Tafonao, Talizaro
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 3, No 1 (2022): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v3i1.84

Abstract

This study was conducted to explore the concept of Levitical leadership in the Bible. The problem that often occurs is that even if there are leaders who are born genetically because they are inherited, strict rules are still needed so that the next generation of churches can continue the leadership relay well. Given the existence of a church that carries the concept of the Levitical priesthood, the writer is interested in examining whether it is still relevant to the church today and formulating it in a scientific study, namely "The Levitical Concept in the Leadership Relay and Its Relevance to the Church Today". The author uses a descriptive analysis qualitative research method, with a literature and library approach. The church that carries the concept of the Levitical priesthood, indirectly rejects the New Testament priesthood where Jesus continues the line of the Melchizedek priesthood, and not the Levitical priesthood, this is what clarifies the difference between the New Testament priesthood and the Levitical priesthood. So it can be concluded that the Levitical priesthood is no longer relevant in a church that recognizes Jesus as high priest, according to the Melchizedek line.Konsep kepemimpinan di dalam gereja yang seharusnyatelahdipersiapkan sejak lama, serta memerlukanproses pembentukan kepemimpinan dalamwaktu panjang, dantidak muncul secara tiba-tiba,sekalipun ada pemimpin yang lahir secara genetis karena diturunkan, namuntetap di perlukan aturan yang ketat yang menyertainya agar generasi berikutnya dapat melanjutkan estafet kepemimpinan dengan baik dan kuat. Dalam Perjanjian Lama sendiri, estafet kepemimpinan tersebut diberikan kepada suatu satu suku yang telah dipilih oleh Tuhan, namun mengingat adanya gereja yang mengusung konsep keimamatan lewi maka penulis tertarik untuk meneliti apakah hal tersebut masih relevan dengan gerejasaat ini dan merumuskannya dalam suatu penelitian ilmiah yaitu “Konsep Lewi Dalam Estafet Kepemimpinan Dan Relevansinya Bagi Gereja Saat Ini”. Metode penelitianmenggunakan kualitatif analisis deskriptif, Dalam hal teologis, gereja yang mengusung konsep keimamatan lewi, secara tidak langsung menolak keimamatan Perjanjian Baru yang dipaparkan dalam penulis kitab Ibrani. Yesus yang meneruskan garis keimamatan Melkisedek, dan bukan keimamatan lewi, mengukuhkan keimamatan yang baru dalam Perjanjian Baru. Penurunan estafet kepemimpinan yang bersifat intergenerasional tidak memperhatikan kualitas dari sumber daya manusia yang ada seperti konsep estafet berdasarkan kompetensi pemimpin tersebut bertentangan sekali dengan prinsip kepemimpinan yang diajarkan oleh Paulus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keimamatan lewi sudah tidak relevan lagi dalam gereja yang mengakui Yesus sebagai imam Besar, menurut garis Melkisedek.
Pastoral Strategy in Developing the Dimension of Understanding Generation Z Gultom, Joni Manumpak Parulian; Widjaja, Fransiskus Irwan; Novalina, Martina; Situmorang, Ester Lina; Natassha, Yohana
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 6 No 1 (2022): January 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46445/ejti.v6i1.472

Abstract

The research center numbers released the results of the 2021 survey, where generation Z has the smallest spiritual index of 3.50, while the spiritual index of Indonesia is 3.79. The index of understanding dimensions is low, namely 3.13 for self-image and 3.40 for motivation. This paper aims to find a new pastoral strategy in reaching generation Z for self-image restoration and motor development. The next goal is to build synergy with parents in spiritual growth. This study uses a qualitative method with data collection through literature study and observation. The argument is that shepherds play an essential role in developing the understanding dimension of Generation Z. The first step is to restore self-image with the Family Healing Movement with parents. The second thing is that pastors provide spiritual assistance to develop motivation and improve pastoral services on social media through counseling and training guidance. Her contribution; 1) pastors work together with parents to become inspirations and mediators in recovery, 2) spiritual practitioners take a fundamental part in social media, 3) maximize the pioneering of shepherding young people by new shepherds.
Integritas kristiani: Keseimbangan dalam hidup menggereja pada ruang eklesial-sosial Togatorop, Timotius Mangiring Tua; Widjaja, Fransiskus Irwan
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.1053

Abstract

Christian integrity faces the challenges of church life in social and ecclesial spaces; both reflect one standard. Presence in social spaces, especially in the digital world, presents a dramaturgical lifestyle or, like, playing a role so that it tends to be manipulative. This article aims to build a theological concept of Christian integrity reflected through church life in ecclesial and social spaces. Using a literature study approach, through published research articles, we find that church life must always display the same face of Christ in all spaces or dimensions of life. This means that Christian integrity is the spirit of church life in the ecclesial-social sphere.   Abstrak Integritas kristiani diperhadapkan pada tantangan hidup menggereja pada ruang sosial dan eklesial; apakah keduanya mereleksikan satu standar. Kehadiran pada ruang sosial, khususnya di dunia digital, menghadirkan gaya hidup yang dramaturgis atau seperti bermain peran sehingga cenderung manipulatif. Artikel ini bertujuan untuk membangun konsep teologis tentang integritas kristiani yang tercermin melalui hidup menggereja pada ruang eklesial dan sosial. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka, melalui artikel hasil riset yang dipublikasi, kami mendapatkan bahwa kehidupan gereja harus selalu menampilkan wajah Kristus yang sama di segala ruang atau dimensi kehidupan. Ini berarti, integritas kristiani selalu menjadi spirit dalam hidup menggereja di ruang eklesial-sosial
STRATEGI EFEKTIF INTERNALISASI NILAI KRISTEN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER DAN SPIRITUALITAS REMAJA KRISTEN Lahagu, Ardianto; Widjaja, Fransiskus Irwan
Manna Rafflesia Vol. 11 No. 1 (2024): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v11i1.449

Abstract

This study aims to identify effective strategies for internalizing Christian values in shaping the character and spirituality of Christian youth. This research explores theological literature relevant to Christian spiritual formation strategies using a descriptive qualitative approach and literature analysis. The findings reveal that using Bible stories, reflective discussions, social service, and the active involvement of pastors, families, and church communities are vital components in the internalization process of Christian values. A holistic approach integrating Biblical teaching with practical experience is highly effective in cultivating Christian youth character deeply rooted in solid spirituality. The originality of this research lies in the synergy between spiritual formation and the role of church communities in shaping youth spirituality, a topic that has rarely been explored in depth in contemporary theological literature.
Co-Authors Abehud Bawatji Abraham, Rubin Adi Alfian Paskah Wayoi Allo, Bertha Padang Antonius Natan Ardi Lahagu Ardy Lahagu Ardy Lahagu Benteng M. M Purba Benteng MM Purba Boiliu, Fredik Melkias Boiliu, Noh Ibrahim Ceria Ceria Ceria, Ceria Christian Daniel Raharjo Daniel Ginting Daniel Ginting Daniel Ginting Darianti Darianti David Ellyanto Dewi Lidya S Didimus SB Prasetya Evan Dongoran Ferdinandes Petrus Bunthu Frederik Patar Hutahaean Gultom, Joni Manumpak Parulian Handreas Hartono Harefa, Otieli Harls Evan R. Siahaan Harls Evan R. Siahaan Hendrik Bernardus Tetelepta Herman Hutagalung, Sabar Manahan Jamin Tanhidy Jan Lukas Jaya Supan Jaya Supan Jenri Prada Sibarani Johannes Tarigan Johannis Siahaya Julianus Julianus Juntriman Purba Lahagu, Ardianto Lidya Dewi S Manahan Uji Simanjuntak Manurung, Rismag Dalena Monica Br Manurung Marisi, Candra Gunawan Martina Novalina Munatar Kause Nainggolan, Imayanti Natassha, Yohana Noyita, Efvi Octavianus Nathanael Paat, Vicky BGD Phanny Tandy Kakauhe Prananto Prananto Purba, Benteng Martua Mahuraja Rijaltri Sudarman Sihombing Rikson Situmorang Rini Rini Rini Sumanti Sapalakkai Rismag Dalena Monica Br Manurung Manurung Roi Ganda Panggabean Rusgiyati Rusgiyati Ruslim, Samuel Kelvin Sabar Hutagalung Sabar M Hutagalung Samuel Manaransyah Sandi Naftali Sang Putra Immanuel Duha Sanjaya, Yudhy Shintike Maya Sianipar, Ronald Sibarani, Jenri Prada Sihar Lamhot Simatupang Simanjuntak, Fredy Simanjuntak, Haposan Simanjuntak, Irfan Feriando Situmorang, Ester Lina Solideo Bole Sophia, Selvyen Suarman Lase Sylvia Natalia Tafonao, Talizaro TARIGAN, Johannes Togatorop, T. Mangiring Tua Togatorop, Timotius Mangiring Tua Tri Murni Situmeang Vicky BGD Paat Waruwu, Septerianus Winson Simmamora Winson Simmamora Ya’aman Gulo Yesimieli Laiya Yohana Natassha Yovianus Epan Yulius Subari Putra Yunardi Kristian Zega Yupe Usiel Yusnoveri Zebua, Peringatan Zega, Yunardi Kristian