Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN PEMIKIRAN REALISME HUKUM OLIVER WENDELL HOLMES, KARL LIESELLYN, DAN JEROME FRANK DALAM KONTEKS HUKUM DI INDONESIA Hendra Setiawan; Sinta Khairani; Azhari Muda; Parningotan Malau
Jurnal Hukum Ius Publicum Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Hukum Ius Publicum
Publisher : LPPM Universitas Doktor Husni Ingratubun Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55551/jip.v6i2.612

Abstract

Kajian ini membahas pemikiran realisme hukum yang dikembangkan oleh Oliver Wendell Holmes, Karl Llewellyn, dan Jerome Frank serta relevansinya terhadap sistem hukum di Indonesia. Realisme hukum lahir sebagai kritik terhadap positivisme hukum yang menempatkan hukum sebatas sistem logis dan terpisah dari realitas sosial. Holmes menekankan bahwa kehidupan hukum dibentuk oleh pengalaman, bukan logika semata. Llewellyn memperluasnya melalui The Law-Job Theory yang menyoroti fungsi sosial hukum, sementara Frank menambahkan dimensi psikologis dengan menilai bahwa kepribadian hakim turut memengaruhi putusan hukum. Ketiga pemikiran tersebut memandang hukum sebagai fenomena empiris yang hidup dan dinamis. Dalam konteks Indonesia, prinsip-prinsip realisme hukum tercermin dalam ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang menegaskan kewajiban hakim menggali nilai-nilai keadilan yang hidup di masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan konseptual dan perundang-undangan melalui studi kepustakaan yang dianalisis secara kualitatif-deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan realisme hukum di Indonesia berperan penting dalam mendorong sistem hukum yang lebih responsif, humanis, dan berkeadilan substantif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hukum seharusnya tidak hanya dilihat dari kepastian normatif, tetapi juga dari efektivitas sosialnya dalam menciptakan keadilan yang nyata. Oleh karena itu, integrasi nilai-nilai realisme hukum ke dalam praktik peradilan dan kebijakan publik menjadi langkah strategis untuk memperkuat pembangunan hukum nasional yang berlandaskan pada nilai kemanusiaan dan Pancasila
KAJIAN FORMULASI KEADILAN HUKUM DALAM PERTIMBANGAN HAKIM PENGADILAN Aura Kalisha; Dony Giatman; Maidir Riwanto; Parningotan Malau
Jurnal Hukum Ius Publicum Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Hukum Ius Publicum
Publisher : LPPM Universitas Doktor Husni Ingratubun Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55551/jip.v6i2.613

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran hakim dalam menyeimbangkan kepastian hukum, keadilan substantif, dan kemanfaatan dalam setiap keputusan yang diambil di pengadilan Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggunakan analisis dokumen terhadap keputusan pengadilan, wawancara dengan hakim, pengacara, serta studi literatur mengenai teori-teori hukum yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kepastian hukum merupakan aspek yang fundamental, keputusan hakim harus mampu mengakomodasi nilai-nilai sosial dan moral yang hidup dalam masyarakat agar tercipta keadilan substantif. Faktor eksternal seperti tekanan publik, kondisi sosial-ekonomi, dan pandangan pribadi hakim turut memengaruhi proses pengambilan keputusan, meskipun independensi hakim harus tetap dijaga untuk memastikan keputusan yang diambil bersifat objektif, adil, dan bermanfaat bagi seluruh pihak. Penelitian ini menyarankan perlunya reformasi dalam pendidikan dan pelatihan hakim untuk memperkuat pemahaman mereka tentang keadilan substantif dan pentingnya fleksibilitas dalam penerapan hukum. Selain itu, diperlukan mekanisme yang lebih kuat untuk menjaga independensi hakim dari pengaruh eksternal yang dapat mengaburkan kualitas keadilan dalam putusan. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan sistem peradilan Indonesia dapat lebih responsif terhadap dinamika sosial dan menciptakan keputusan yang tidak hanya sah menurut hukum, tetapi juga mencerminkan rasa keadilan yang sejalan dengan harapan masyarakat, sehingga memperkuat integritas dan kredibilitas sistem hukum secara keseluruhan
REKONSTRUKSI PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI DANA PUBLIK PASCA UU 19/2019 DAN KUHP BARU Simbolon, Josmangasi; Bea, Yuventus; Malau, Parningotan
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.9191

Abstract

ABSTRACT This article analyzes corporate criminal liability in public fund corruption by examining jurisprudential developments as a basis for evaluating the evolution of anti-corruption regulations in Indonesia. The study is motivated by the increasing involvement of corporations in corrupt practices, particularly in procurement and infrastructure projects, which demonstrate systematic patterns such as bribery, conflicts of interest, budget manipulation, and the use of shell companies. This research aims to assess the effectiveness of corporate criminal liability models following the revision of the Corruption Eradication Commission’s authority under Law Number 19 of 2019, as well as the regulation of corporations in the New Criminal Code, which will be fully implemented in 2026. The study employs a normative juridical method with statutory, case-based, and conceptual approaches, supported by an analysis of corruption court decisions over the past decade. The results indicate key challenges, including fragmented legal instruments, complexities in proving corporate fault, and inconsistencies across regulatory frameworks. These findings reveal a structural gap in the corporate sentencing system. The novelty of this study lies in reconstructing a corporate criminal liability model based on the corporate fault attribution approach, integrated with the framework of the New Criminal Code to better adapt to contemporary corporate crime. The conclusion emphasizes the need to strengthen a more systematic and contextual corporate criminal liability model to enhance the effectiveness of combating public fund corruption. ABSTRAK Artikel ini menganalisis pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pidana korupsi dana publik dengan meninjau dinamika yurisprudensi sebagai dasar evaluasi perkembangan regulasi antikorupsi di Indonesia. Kajian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya keterlibatan korporasi dalam praktik korupsi, khususnya pada sektor pengadaan dan proyek infrastruktur, yang menunjukkan pola sistematis seperti suap, konflik kepentingan, manipulasi anggaran, dan penggunaan perusahaan cangkang. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas model pertanggungjawaban pidana korporasi pasca revisi kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 serta pengaturan korporasi dalam KUHP Baru yang akan berlaku penuh pada tahun 2026. Metode yang digunakan adalah yuridis-normatif dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual, disertai analisis putusan pengadilan tindak pidana korupsi dalam satu dekade terakhir. Hasil menunjukkan adanya kendala utama berupa ketidakterpaduan instrumen hukum, kompleksitas pembuktian kesalahan korporasi, serta ketidaksinkronan antar kerangka regulasi. Temuan ini menegaskan adanya kesenjangan struktural dalam sistem pemidanaan korporasi. Novelty penelitian terletak pada rekonstruksi model pertanggungjawaban pidana korporasi berbasis corporate fault attribution yang diintegrasikan dengan desain KUHP Baru secara lebih adaptif terhadap karakteristik kejahatan korporasi kontemporer. Simpulan menekankan perlunya penguatan model pertanggungjawaban pidana korporasi yang lebih sistematis dan kontekstual guna meningkatkan efektivitas penanggulangan korupsi dana publik.
Kajian Sociological Jurisprudence Eugen Ehrlich dan Roscoe Pound dalam Konteks Hukum di Indonesia: Studi Kasus Konflik Pembangunan Rempang Eco City di Kepulauan Riau Sanusi; Ridwan, Muhammad; Sitorus, Berman; Malau, Parningotan
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.4255

Abstract

Penelitian ini mengkaji relevansi pemikiran Sociological Jurisprudence Eugen Ehrlich dan Roscoe Pound terhadap dinamika hukum di Indonesia melalui studi kasus konflik pembangunan Rempang Eco City di Kepulauan Riau. Kasus ini memperlihatkan pertentangan antara hukum formal sebagai alat pembangunan ekonomi dengan hukum yang hidup di masyarakat (living law) yang berakar pada norma dan adat Melayu Tua. Dengan menggunakan metode yuridis normatif dan pendekatan sosio-legal, penelitian ini menganalisis bagaimana teori living law dan law as a tool of social engineering beroperasi dalam konteks kebijakan pembangunan nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan hukum dalam kasus Rempang belum sepenuhnya mencerminkan keseimbangan antara kepastian hukum dan keadilan sosial sebagaimana ditekankan dalam nilai-nilai Sociological Jurisprudence. Hukum formal lebih menonjolkan aspek rekayasa sosial untuk pembangunan ekonomi, tetapi gagal memahami dimensi sosial budaya masyarakat lokal. Temuan ini menegaskan perlunya paradigma hukum Indonesia yang lebih responsif terhadap realitas sosial dan berlandaskan prinsip keadilan substantif sesuai dengan nilai-nilai Pancasila
Studi Keterkaitan Negara Hukum Dan Kekuasaan Dalam Perspektif Politik Hukum Nickolaz Boy Regawoge; Siti Aminah Mega Putri; Maria Ulfa; Parningotan Malau
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.4394

Abstract

Power is closely related to law because power is not only concerned with the instruments of lawmaking, but also includes law enforcement. The synergistic character of law and power, especially in terms of the legality of power, is explained by Mochtar Kusumaatmadja with one phrase, "Law without power is a dream and power without law is despotism." This synergy between law and power can be seen as the division of power known as the Trias Politica principle. Power consisting of legislative, executive, and judicial institutions is regulated by the 1945 Constitution as the highest source of law in Indonesia. This paper uses a juridical-normative study research method with a literature review in the form of secondary data, namely journals and books resulting from previous research. The results of this study indicate that law and power are closely related. Law and power run side by side and cannot be separated from each other. The essence of power is the ability of a person to impose their will on others. Law exists because of legitimate power. It is legitimate power that creates law. This means that law and power are complementary to each other.
Keterkaitan Antara Negara Hukum Dan Kekuasaan Ujung, Pendi; Hendra Sudarsin; Sopar Usman; Parningotan Malau
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.4418

Abstract

Konsep Rechtsstaat atau negara hukum selalu berkaitan erat dengan distribusi, pembatasan, dan pengendalian kekuasaan politik. Sepanjang sejarah, para ahli hukum memperdebatkan apakah negara hukum berfungsi sekadar sebagai ideal normatif atau sebagai mekanisme operasional yang mampu mengekang kewenangan negara yang sewenang-wenang. Artikel ini mengkaji keterkaitan antara prinsip negara hukum dengan praktik penyelenggaraan kekuasaan dalam sistem ketatanegaraan modern. Dengan menggunakan metode yuridis normatif melalui pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif, tulisan ini menemukan bahwa esensi negara hukum tidak hanya bertumpu pada supremasi hukum, melainkan juga pada desain kelembagaan yang menjamin checks and balances, perlindungan HAM, dan pencegahan konsentrasi kekuasaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hubungan antara negara hukum dan kekuasaan bersifat dialektis: hukum membentuk kekuasaan, dan kekuasaan menopang berjalannya hukum. Tanpa interaksi yang seimbang, negara hukum mudah berubah menjadi konsep yang semu atau bahkan represif.
Analisis Yuridis Program Makanan Bergizi dalam Mendorong Pembangunan Nasional dan Pemenuhan Hak Gizi Anak Indonesia Aura Kalisha; Parningotan Malau
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2026): Mei: CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/cendekia.v6i2.8848

Abstract

The Free Nutritious Meal Program (MBG) is a strategic initiative by the Indonesian government to address the long-standing issues of malnutrition and stunting, which have significantly hindered human resource (HR) development in Indonesia. The program aims to improve children's nutrition and reduce stunting by providing free nutritious meals, particularly in areas with limited access to healthy food. This study aims to analyze the legal framework of MBG, its effectiveness in achieving its goals, and its impact on national development. Using a qualitative approach, the study analyzes the implementation of MBG through document analysis, interviews with relevant stakeholders, and field observations. The findings highlight challenges within the program, including imbalanced food distribution, inadequate infrastructure in remote areas, and suboptimal food quality control, which resulted in several food poisoning incidents in 2025. Nevertheless, the program has a positive economic impact by empowering micro, small, and medium enterprises (MSMEs) involved in food supply. The study suggests strengthening the monitoring system, improving budget management, and better coordination between government sectors and communities to maximize the success of MBG. It also emphasizes the importance of nutrition education campaigns to support the program's goals. Overall, MBG is a crucial step toward creating a healthier and more productive generation, supporting the achievement of Indonesia's Golden Generation by 2045..
Co-Authors , Hendra Sudarsin Adelia Widya Pramesti Alfryni Halawa Alwan Hadiyanto Amren, Amren Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Andika Simamora Andre Wijaya April Yanus Laoly Aris Pebriwadi Sinaga ARTANTO, TRI Aura Kalisha Aura Kalisha Azhari Muda Bea, Yuventus Christina Dian Adiati Ciptono Ciptono Ciptono Ciptono, Ciptono Cut Wahidah Mumtaza Danu Setiawan Eko Wardana Dendy, Alfi Desy Awaliyah Dhenis A. Depari Dian Arianto Dony Giatman Dwi Afni Maileni Edward Muliandino Emy Hajar Abra Ervanny Purba Faisal Rusyuandi Franky, Ramon Hanafi Hanafi Hendra Setiawan Hendra Sudarsin Ibanes, Reivo Ibrahim, Muhamad Sidik Ajib Irene Svinarky Irene Svinarky Jaini, Amren Jawa, Dominikus Johannes Bonatua Marpaung Karjono, Arpandi M. Alichsan Maidir Riwanto Maria Ulfa Melia Lau Melisa Putri Mesri Silalahi Muhammad Ridwan Mumtaza, Cut Wahidah Mustaufiq Mustaufiq, Mustaufiq Nafah Permatasari Natashya Simaremare Ni Putu Priscillia Nickolaz Boy Regawoge Nurul Farida Owen Doly Ambarita Pariadi Pristika Handayani Pusfa Anggraini Rahel Kartika Rahmat A.K Purba Ringo, Desron Siringo River Hutajulu Rosalina, Debi Rosmerry, Rosmerry Sahala Tua Situmorang Salmah Salmah Sanusi Sesung, Rusdiyanto Silitonga, Christopher EF Simbolon, Fifi Pebrys Loerensyahni Simbolon, Josmangasi Sinta Khairani Siti Aminah Mega Putri Sitorus, Berman Situmorang, Sahala Tua Sopar Usman Sugiarto S Sulaiman, Fidyana Sunarto Poniman Suyato Oei Syamsul Bahari Togatorop, Dippos Tri Pancarini Tuti Herningtyas Ujung, Pendi Usman, Sopar Virgo Cahyadi Wardani, Dian Wiris Woro Wibowo, Agung Edy Yosua Kelvin Yulianti, Fanny Aliet