Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

The Climate Compression Effect on Hybrid Educational Organizations Nicholas Renaldo; Achmad Tavip Junaedi; Nyoto Nyoto; Suhardjo Suhardjo; Wilda Susanti; Onny Setyawan; Rizaldi Putra; Yenny Wati; Gusrio Tendra; Jahrizal Jahrizal
Reflection: Education and Pedagogical Insights Vol. 4 No. 2 (2026): Reflection: Education and Pedagogical Insights
Publisher : First Ciera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61230/reflection.v4i2.160

Abstract

The transformation of educational organizations into digitally connected and hybrid environments has expanded academic interaction across physical and digital spaces. While hybridization offers greater flexibility and connectivity, it may also reshape how organizational members experience interpersonal and academic climates. This study proposes the Climate Compression Effect (CLC Effect) as a new qualitative conceptual lens for understanding a subtle organizational phenomenon in which the presence or arrival of a particular individual is experienced as narrowing the psychological, interpersonal, and communicative space of other organizational members. The study employs a qualitative exploratory approach and positions CLC as a sensitizing concept rather than a predetermined theoretical model. The conceptual analysis indicates that climate compression may be experienced through increased caution in communication, reduced openness, diminished informal interaction, greater interpersonal formality, selective communication, and withdrawal, even in the absence of overt conflict or formal organizational disruption. The phenomenon is particularly relevant to hybrid educational organizations because interpersonal influence may extend across interconnected physical and digital environments, including classrooms, meetings, messaging platforms, email, learning management systems, and online meetings. The study distinguishes CLC from organizational conflict, psychological safety, and the chilling effect by emphasizing the broader perceived contraction of the organizational space in which members communicate and interact. The CLC Effect is therefore proposed as a sensitizing concept for future qualitative investigation of interpersonal climate dynamics in hybrid educational organizations.
DUAL-LAYER ANTI-SPOOFING UNTUK SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN CONVOLUTIONAL NEURAL NETWORK DAN GEOFENCING HAVERSINE Yermis Duha; Gusrio Tendra; Wilda Susanti; Wahyu Joni Kurniawan; Nicholas Renaldo
JOISIE (Journal Of Information Systems And Informatics Engineering) Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35145/joisie.v10i1.5906

Abstract

Sistem absensi berbasis web menghadapi dua vektor penipuan utama yaitu pemalsuan GPS dan pemalsuan biometrik melalui foto, video replay, atau deepfake berbasis AI. Solusi yang ada umumnya hanya mengatasi satu ancaman, meninggalkan celah keamanan yang kritis. Penelitian ini mengusulkan dan memvalidasi kerangka kerja keamanan dua lapis yang mencegah kedua ancaman secara bersamaan melalui Liveness Detection sisi klien dan geofencing sisi server. Liveness Detection menggunakan Convolutional Neural Network berbasis MobileNetV1 melalui pustaka face-api.js yang berjalan sepenuhnya di browser. Pengguna harus mempertahankan ekspresi senyum dengan probabilitas ?0,70 selama 1,5 detik sebelum absensi diaktifkan. Otentisitas lokasi diverifikasi di sisi server menggunakan Rumus Haversine dengan pengiriman melebihi radius 50 meter ditolak dengan HTTP 403. Sistem dikembangkan menggunakan metodologi Waterfall dengan backend Flask dan basis data SQLite. Evaluasi dilakukan melalui pengujian skenario keamanan terstruktur yang mengukur True Positive Rate (TPR), False Acceptance Rate (FAR), dan akurasi geofencing pada kondisi GPS stabil maupun koordinat yang dimanipulasi. Dari 40 percobaan liveness, sistem menghasilkan TPR 95%, FAR 0% terhadap serangan foto statis, dan akurasi geofencing 100% pada kondisi GPS stabil. Penelitian ini membuktikan secara nyata bahwa geofencing pada sisi klien dapat dilewati melalui Sensor Emulation browser dengan celah yang dieliminasi sepenuhnya oleh validasi sisi server. Kerangka kerja yang diusulkan memberikan ketahanan terhadap serangan presentasi dan penipuan lokasi tanpa instalasi aplikasi native. Temuan ini perlu divalidasi pada partisipan yang lebih besar, mengingat dataset terbatas pada 40 percobaan liveness dan 6 skenario geofencing. Penelitian lanjutan diprioritaskan pada ketahanan terhadap deepfake real-time dan mitigasi degradasi GPS dalam ruangan.