Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Hubungan Antara Luas Lesi Foto Toraks dengan Hasil Pemeriksaan Sputum BTA Pasien Tuberculosis Paru Sebelum dan Sesudah Pengobatan di RS Ibnu Sina Makassar dan RS Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Makassar Putra, Muhammad Afief Batara; Latief , Shofiyah; Kidingallo, Yusuf; Syahril, Erlin; Sandy, Pither
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 6 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i6.15770

Abstract

This study aims to find the relationship between the extent of chest X-ray lesions and the results of BTA sputum examinations in tuberculosis patients before and after treatment. This study uses a Cross Sectional approach. The data used to see the relationship between chest X-ray images and BTA sputum examinations were taken from the medical records of TB patients in 2021–2022 at Ibnu Sina Hospital and the Makassar Community Lung Health Center. Data analysis used bivariate analysis. Based on this study, it was concluded that there was a significant relationship between the extent of chest X-ray lesions and BTA sputum examinations before and after treatment at Ibnu Sina Hospital and the Makassar Community Lung Health Center.
TUMOR PARU DENGAN COMMUNITY ACQUIRED PNEUMONIA DAN EFUSI PLEURA Marwah, Sry; Syahril, Erlin; Santoso, Arif
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.54227

Abstract

  Tumor paru merupakan salah satu penyakit dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang sering disertai komplikasi serius, termasuk Community-Acquired Pneumonia (CAP) dan efusi pleura. Kondisi ini menimbulkan tantangan klinis karena gejala yang saling tumpang tindih serta progresivitas penyakit yang dapat memperburuk fungsi pernapasan pasien. CAP pada pasien tumor paru dapat terjadi akibat obstruksi saluran napas, gangguan mekanisme pertahanan mukosilier, serta penurunan imunitas akibat proses neoplastik maupun terapi onkologi. Sementara itu, efusi pleura pada kedua kondisi tersebut dapat terbentuk melalui mekanisme inflamasi, peningkatan permeabilitas kapiler, atau penyebaran sel tumor ke pleura. Penulisan ini bertujuan untuk menggambarkan hubungan antara tumor paru, CAP, dan efusi pleura serta menganalisis implikasi klinisnya terhadap diagnosis dan penatalaksanaan. Dengan menggunakan pendekatan telaah kasus dan studi literatur, penelitian ini menunjukkan bahwa adanya kombinasi tumor paru, pneumonia, dan efusi pleura memperberat kondisi pasien, meningkatkan risiko gagal napas, serta memperumit pemilihan terapi yang optimal. Temuan penelitian menekankan pentingnya pemeriksaan radiologis dan laboratorium yang komprehensif untuk membedakan manifestasi infeksi dari progresivitas tumor. Pasien dengan tumor paru yang disertai CAP dan efusi pleura memerlukan penanganan multidisiplin dengan fokus pada kontrol infeksi, pengelolaan efusi, dan terapi spesifik tumor. Pemahaman lebih mendalam mengenai interaksi ketiga kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan ketepatan diagnosis, efektivitas terapi, dan hasil akhir klinis pasien.
Determinant Factors Causing Postpertum Hemorrhage At Sitti Khadijah Maternal and Child Hospital (RSIA), Makassar City M. Yasir, Putri Anugerah; Syahril, Erlin; Nulanda, Mona; Mappaware, Nasruddin Andi; Pramono, Sigit Dwi
Syifa'Medika Vol 16, No 2 (2026): Syifa Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v16i2.10348

Abstract

Perdarahan post partum (PPH) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor penyebab PPH di RSIA Sitti Khadijah Kota Makassar, dengan fokus pada faktor tonus, faktor trauma, dan retensio plasenta. Data diperoleh dari ibu bersalin yang mengalami PPH pada tahun 2022 dan 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor trauma menjadi penyebab utama PPH (46,7%), diikuti oleh faktor tonus (30%) dan retensio plasenta (23,3%). Temuan ini menyoroti pentingnya deteksi dini faktor trauma dan pengelolaan yang lebih baik terhadap faktor-faktor ini untuk mencegah PPH di rumah sakit. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan protokol pencegahan PPH yang lebih efektif di RSIA Sitti Khadijah dan fasilitas kesehatan lainnya.